Anda di halaman 1dari 10

MENULIS DESEMBER 2019

:Rachardy Andriyanto
SEJENAK DIAM

Jadilah Pertanyaan,
Ketika akal mulai mengutuk waktu,
yang merambat berjalan lambat.

Jadilah Pertanyaan,
Ketika segala perbuatan,
Terasa sangat sulit untuk dipahamkan.

Jadilah Pertanyaan,
Ketika jasad ini,
Mulai tak kenal akan siapa pemiliknya.

Jadilah Pertanyaan,
Ketika ruh yang suci itu,
Perlahan – lahan mulai takut akan tujuan pulang.

Jadilah Pertanyaan,
Ketika sebab lambat laun sadar,
Bahwa penantian itu hanyalah bayang – bayang.

Maka, Sejenak Diam…


Dan ingin hilang.
Sejenak Diam, menghitung hirupan,
Dan sejenak diam,
Kosongkan, gelapkan,
Matikan Cahaya Tipuan.

Jember, 14 Desember 2019


RAGA
Terlihat, Terang dan Jelas,
Teramati, terasa, teraba,
Tersimpulkan, Ternilai dan Terupa,
Menyelinap dalam hati, sisakan suka dan tidak suka.

Tercela, Terbuang menjadi bangkai,


Terangkai indah bagi yang memujanya,
Berhias, bertabur kemilau yang memukau,
Masuk kehati dan akhirnya terlena.

Baik bagi mata, sesal bagi hati,


Indah dipandang, kelu di jiwa,
Kikir atas pikir, lupa atas sementara,
Dan akhirnya terkubur bersama,
Dalam gelap, Dalam hina,
Dalam jerit, dalam siksa.

Itulah RAGA,…
Sadar akan ketakpeduliannya,
Kemanapun jiwa menggerakkannya,
Ketika bertahta, tepikan suka yang sebenarnya.

Itulah RAGA,…
Bagai bulan, hanyalah pancaran jiwa dalam perihal,
Perangat bicara pengisi hati,
Pastikan benar jadi yang utama.

Benar yang berdasar,


Benar dengan merujuk,
Merujuk pada hokum semesta,
Karena DIA-lah yang mencipta.

RAGA…

Jember, 15 desember 2019.


KESAH MALAM
Ini bukanlah hal besar,

Bukan pula hal kecil,

Namun cukup sedang,

Bagi sebagian orang dan sebagian yang lain.

Tapi ingat,…

Masih ada rumpun minoritas,

Tenang, diam, lirih bersuara bisik.

Coba menulis kesah di ujung malam,

Yang biasanya terisi dengan dengung harapan,

Kini, berbeda kemasan.

Sama, serupa dengan yang lain,

Hanya berkutat seputar perspektif,

Tanda akan suatu kebesaran, bahwa akal beda batas,

Dan pikun adalah bukti bahwa pikir mulai meradang.

Gambar ini mulai menjanda,

Tak bertemu teman duduknya,

Sepi dari bayangan, merangkak menjadi sosok,

Bersiap untuk infansi menghujam rohani.


Tersadur catatan sepi,

Hingga berubah menjadi cerita,

Tertulis dengan alat kedangkalan,

Kedangkalan akan DIA yang seharusnya mewibawa atas segalanya.

Namun ini harus tertulis,

Agar semua orang tahu, bahwa kita juga bisa menulis,

Menulis sederhana tanpa berharap,

Menjadi candu bagi setiap orang untuk memuji,

Bukankah setiap ada pemuji pasti ada pendengki ?

Bukan sebuah urusan,

Saat upaya mendekat menjadi kepastian perihal,

Yang ada hanya ketakjuban,

Ketakjuban akan sinar yang tak kan pernah pudar,

Pudar terkekang ikatan zaman,

Pudar akan kegilaan orang sekitar.

Jember, 14 desember 2019


KADANG HUJAN

Berkah itu identik juga dengan turunnya hujan,

Kemarau, selalu mendefinisikan tlah lama tak berhujan,

Antonim itu, terbaca ciri,

Menembus pemahaman manusia yang bahkan tak tau diri,

Menjadi relatif, hinggap di setiap kepala,

Dengan bermacam keluh kesahnya,

Dan semua itu, hanyalah perspekti belaka,

Narasi yang hanya menyisakan sejuta tanda Tanya.

Mungkin ini juga tak benar,

Karna memang produk sudut pandang,

Jawaban hanyalah milik keyakinan,

Keyakinan yang terukur,

yang mengendap sunyi berteman perenungan.

Perenungan yang mencoba berusaha keluar dari nalar,

Karena nalar memang sengaja dicipta,

Sehingga tak pantaslah kita untuk selalu percaya padanya,

Hingga tulisan inipun seterusnya hanya mengenal tanda koma,

Jember, 24 desember 2019


AKU SIAPA ?

Engkau Siapa ?

Sekali lagi ku bertanya,

Engkau Siapa ?

Engkau orang hebat ?

Engkau orang pintar ?

Atau,

Engkau orang suci ?

Atau ingin disucikan ?

Engkau siapa ?

Apakah orang bergelar ?

Apakah orang berilmu ?

Atau ingin dianggap berilmu ?

Tidak … tidak … tidak…

Engkau itu kecil,

Tak sampai seujung jari,

Tak percaya ?

Naikilah gunung itu, kupandang dari sini,

Coba lihat, benar bukan ?

Kamu orang kecil dan kerdil.


Engkau bukan siapa – siapa,

Engkau tercipta hanya sebagai pelengkap saja,

Bagaimana tidak ?

Cukup dengan diberikan harta,

Engkau sudah asik sendiri,

bak bocah yang asik dengan manisannya,

tak peduli kanan kiri, yang penting manisanku adalah segala – galanya,

apa ? engkau ahli ilmu ?

Apa engkau sanggup membuat semut bisa bicara ?

Dimana ilmumu?

ketika kau menjumpa anak yang tak tau,

apa yang harus dilakukan ketika berdiri di persimpangan,

Bertanyakah ? berkeluh kesahkah ? atau jalan ngebut saja sembari menutup mata ?.

Ilmumu adalah ilmu ikan lele,

Ilmu kanibal,

Tak peduli anak sendiripun disantap,

Disantap Apanya ?

Disantap dana – dananya.

Engkau bergelar ? Engkau berpangkat ?

Pangkat dan gelar itu akan jadi berhalamu,


Kau puja dia seolah – olah kau mampu merubah arah angin saja,

Waspada bahaya firaun,

Yang terlalu memuja dirinya, hingga mengaku menjadi tuhan.

Aah, saya kan tidak mengaku tuhan ?

Cukup dengan satu jawaban saja,

Amati dan tanyakan pada hatimu.

Iya…iya…hati memang diatur agar selalu menolak kebenaran,

Tapi ketahuilah,

Itulah orang sakit tapi tak merasa sakit,

Tak tahu bahwa semua kita adalah orang sakit.

Jember, 14 desember 2019