Anda di halaman 1dari 3

PENTINGNYA NUTRISI BAGI ANAK USIA DINI MENURUT ISLAM

Oleh: Drs. Moh.Mashadi, M.Ag


(Penyuluh Agama Islam Kankemenag Kab. Blitar)

Sesungguhnya Islam memandang penting masalah makanan yang


bergizi. Meskipun hal itu tidak dijelaskan secara rinci oleh al-Qur'an al-Karim,
namun para ulama’ sejak dahulu kala telah menjelaskan syari’at Islam itu
mempunyai lima tujuan pokok, yaitu: memelihara agama, jiwa, akal,
kehormatan dan keturunan. Dan segala usaha yang mendukung tercapainya
salah satu dari lima tujuan tersebut tentu akan didukung oleh agama Islam.
Memelihara tubuh dengan memberinya makanan yang bergizi
merupakan bagian dari memelihara jiwa manusia, agar mereka bisa bertahan
hidup dalam keadaan sehat. Ini merupakan bagian dari kewajiban manusia
terhadap badan/tubuhnya, sebagaimana sabda Nabi SAW:
ِ
‫رواه مسلم‬ َ ‫َو ِِلَ َسد َك َعلَْي‬
‫ك َحقًّا‬
" …dan sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu…." HR Muslim
No.1967
Al-Qur'an juga memerintahkan agar manusia memperhatikan makanannya:
‫نسا ُن إِ ََل طَ َع ِام ِو‬ ِ
َ ‫فَلْيَ ْنظُْر اإل‬
"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya". QS.'Abasa: 24

Perintah makan di dalam al-Qur'an terulang sebanyak 27 kali, satu


diantaranya secara khusus menyuruh agar yang kita makan adalah yang halal
dan thayyib/baik/bergizi:
‫َوُكلُوا ِِمَّا َرَزقَ ُك ْم اللَّوُ َحالالً طَيِّباً َوات َُّقوا اللَّ َو الَّ ِذي أَنْتُ ْم بِِو ُم ْؤِمنُو َن‬
"Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah
rizqikan kepadamu.....". QS. Al-Maidah: 88

Kata "thayyiban" yang bermakna "baik" dilihat dari segi bahasa berarti
"sesuatu yang telah mencapai puncak dalam bidangnya".1
Allah juga mengisyaratkan agar kita selalu memilih makanan yang
nantinya berakibat baik bagi tubuh kita:
ً‫فَ ُكلُوهُ َىنِيئاً َم ِريئا‬
"…maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi
baik akibatnya".QS. Al-Nisa': 4
Ayat ini menunjukkan bahwa makanan yang kita konsumsi hendaknya
adalah yang sedap/lezat dan juga mempunyai akibat baik bagi si
pemakannya.
Perintah makan yang baik tentunya juga merupakan isyarat agar
meninggalkan makan/minum yang berlebihan, karena tujuan dari
mengkonsumsi suatu makanan tidak lain adalah timbulnya kemanfaatan dari
makanan tersebut bagi tubuh kita. Al-Qur'an jauh-jauh hari telah mencela
orang-orang yang modelnya dalam hal makan seperti makannya binatang:
ِ َّ
‫َّار َمثْ ًوى ََلُ ْم‬ ُ ‫ين َك َف ُروا يَتَ َمتَّعُو َن َويَأْ ُكلُو َن َك َما تَأْ ُك ُل األَنْ َع‬
ُ ‫ام َوالن‬ َ ‫َوالذ‬
"….Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan
seperti makannya binatang........". QS.Muhammad: 12
Makan seperti makannya binatang maksudnya ialah makan yang hanya
bertujuan untuk memenuhi perut saja, sehingga tidak dibedakan mana yang
bermanfaat bagi tubuh dan mana yang tidak bermanfaat.

Tidak Ada Yang Bisa Menggantikan ASI


Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang sangat dibutuhkan oleh
bayi agar tumbuh dan berkembang lebih optimal. Bayi yang tidak diberi ASI
memiliki risiko 17,3 % lebih besar untuk terkena penyakit dari pada bayi yang

1
M. Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an, Bandung, Mizan,Cet.II,1992, hal. 287.
diberi ASI. Direktur Bina Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Dr. Ina
Hernawati MPH, mengungkapkan bahwa pemberian ASI kepada anak akan
memberikan banyak manfaat bagi bayi, ibu, dan keluarga. Bagi bayi, ASI
merupakan makanan yang terbaik karena dengan mengkonsumsinya ia bisa
terhindar dari penyakit, khususnya alergi. ''Komposisi dan kandungan ASI
sangat cocok untuk bayi karena berasal dari satu spesies. Demikian juga
halnya dengan air susu sapi, ia lebih cocok untuk bayi/anak sapi. Jika bayi
manusia diberi susu sapi sebelum enam bulan, maka bisa menimbulkan
alergi,'' ungkapnya. Bayi yang mendapat ASI memiliki daya tahan tubuh yang
lebih baik terhadap penyakit infeksi, terutama ISPA dan alergi. Kandungan gizi
di dalam ASI, yaitu protein dan zat gizi mikro, juga sangat bagus bagi
perkembangan fisik, termasuk otak. Karenanya bayi yang diberi ASI memiliki
kecerdasan yang lebih dibandingkan yang tidak diberi ASI.2
ASI juga mengandung zat kekebalan tubuh (immunoglobulin). Zat ini
bisa melindungi bayi dari serangan virus atau penyakit. Karena itulah,
imunisasi campak baru diberikan kepada bayi manakala usianya sudah
sembilan bulan. Sedangkan bayi sejak lahir hingga usia enam bulan tidak
memerlukan imunisasi, karena ia telah memiliki kekebalan di dalam tubuhnya
berkat mengkonsumsi ASI. Sungguh benar firman Allah:
‫اع َة‬
َ‫ض‬ َّ ‫ْي لِ َم ْن أ ََر َاد أَن يُتِ َّم‬
َ ‫الر‬ ِ ْ َ‫ْي َك ِامل‬
ِ ْ َ‫ات يُر ِض ْعن أ َْوالَ َد ُى َّن َحول‬
ْ
ِ
َ ْ ُ ‫َوالْ َوال َد‬
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh,
yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan....”QS. Al-Baqarah: 233

Islam memerintahkan agar seorang ayah memberikan perhatian yang


besar dan terbaik untuk sang bayinya. Bahkan agama ini memerintahkan agar
seorang ayah memberikan imbalan kepada seorang ibu yang mau menyusukan
bayinya. Allah berfirman:
‫ورُى َّن‬
َ ‫ُج‬
ُ ‫وى َّن أ‬ َ ‫فَِإ ْن أ َْر‬
ُ ُ‫ض ْع َن لَ ُك ْم فَآت‬
"…kemudian jika mereka (wanita/ibu) menyusukan (anak-anak)mu untukmu
maka berikanlah kepada mereka upahnya…". QS. Ath-Thalaq: 6
Allah mencela para ibu yang enggan menyusui bayinya dalam firman-Nya:
‫ُخَرى‬ ِ ِ
ْ ‫اس ْرُُْت فَ َستُ ْرض ُع لَوُ أ‬
َ ‫َوإ ْن تَ َع‬
"…dan jika kamu (para suami) menemui kesulitan maka perempuan lain boleh
menyusukan (anak itu) untuknya". QS. Ath-Thalaq: 6
Para ibu yang memberikan ASI pada bayinya akan memperoleh beberapa
manfaat, salah satunya: rahim lebih mudah mengecil. Awalnya, rahim wanita
berukuran sebesar telur, ketika hamil besarnya mengembang menjadi seperti
balon. Saat bayi lahir, rahim menyusut hingga sepertiganya. Dengan
memberikan ASI, rahim akan terus mengecil. Ini juga akan menyenangkan
suaminya, dan Islam memasukkannya sebagai bagian dari ibadah. Pemberian
ASI juga bisa menghindarkan ibu dari kemungkinan terkena kanker payudara.
Manfaat lainnya, akan terbentuk ikatan batin dan emosional yang kuat antara
bayi dan ibu. Memberikan ASI juga membawa pengaruh bagi penghematan
ekonomi keluarga, karena selama pemberian secara eksklusif praktis orang tua
tidak mengeluarkan biaya apapun untuk keperluan makan sang bayi.

Bagaimana kalau ASI tidak keluar?


Keberhasilan ibu dalam menyusui bayinya sangat ditentukan oleh
perilaku dan keyakinan akan dirinya sendiri. Banyak ibu yang tidak percaya
diri ketika menyusui, maka akibatnya ASI bisa tidak keluar. Faktor makanan
juga sangat berpengaruh. Pada saat menyusui, hendaknya ibu mengonsumsi
makanan dengan gizi yang seimbang. Di sinilah pentingnya mengkonsumsi
makanan yang bergizi dan Islam telah lebih dahulu menjelaskannya. Semoga
anak-anak kita menjadi generasi yang sehat dan patuh pada ajaran agamanya.

2 http://www.republika.co.id/Selasa, 17 Juli 2007