Anda di halaman 1dari 4

MAGNETIC POLARITY

TUGAS KE -2
Mata Kuliah Geologi Struktur Indonesia

Oleh :
Muhammad Harits Abyan
1019101
No. Absen : 11

TEKNIK GEOLOGI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINERAL INDONESIA

BANDUNG

2019
Magnetic Polarity |Geologi Struktur Indonesia

PENELITIAN PALEOMAGNETISME-MAGNETOSTRATIGRAFI

Penelitian di bidang paleomagnetisme-magnetostratigrafi tersebut, telah memberikan


pengaruh yang begitu besar pada perkembangan ilmu kebumian pada 40 tahun terakhir. Pada
awal masa perkembangannya, studi pada berbagai mandala kontinen yang berbeda turut
berkontribusi pada rejuvenasi hipotesa/teori apungan benua (continental drift), dan pada masa
awal perkembangan teori tektonik lempeng (plate tectonic).

Pada perkembangan berikutnya, paleomagnetisme berperan memunculkan suatu jenis


baru dari stratigrafi yang didasarkan atas fenomena pembalikan non-periodik polaritas medan
magnet bumi (polarity reversal of the geomagnetic field), yang pada masa kini kemudian
dikenal dengan nama stratigraphy polaritas magnet (magnetostratigraphy, magnetic polarity
stratigraphy). Stratigrafi polaritas magnet (magnetostratigrafi) adalah suatu interval susunan
batuan beku atau stratifikasi batuan sedimen yang dicirikan oleh arah kemagnetan batuan, baik
dalam arah kemagnetan geomagnet saat ini (normal polarity) atau berarah 180° dari arah
medan magnet bumi saat ini (reverse polarity). Fenomena pembalikan non-periodik polaritas
medan magnet bumi tersebut bersifat global, maka dapat dijadikan dasar yang potensial bagi
korelasi geologi.

Gambar 1. GSA Geology Time Scale

1
Muhammad Harits Abyan | 1019101
Magnetic Polarity |Geologi Struktur Indonesia

Cara dan alat stratigrafi yang baru ini sungguh sangat mempengaruhi wacana mengenai
tektonik lempeng dengan memberikan suatu “kronologi” dalam penafsiran anomali magnetik
di lempeng oseanik. Dalam 40 tahun terakhir, skala waktu polaritas geomagnet (geomagnetic
polarity time scale) telah menjadi salah satu pokok bagi pengalibrasian waktu geologi. Suatu
jembatan korelatif antara biozonasi dan umur absolut serta interpolasi antar umur absolut, telah
sukses diperlihatkan untuk masa Kenozoikum dan Akhir Mesozoikum melalui GPTS ini. Pada
masa paling akhir dari skala waktu Jura-Kuarter, profil anomali magnetik dari cekungan
oseanik dengan laju pemekaran yang relatif konstan dijadikan sebagai standar komparatif
GPTS tersebut.

Stratigrafi polaritas magnet pada daratan maupun yang diperoleh dari batuan inti kerak
samudra menjadi “penghubung” antara GPTS dan biozonasi (dalam hal ini, juga batas-batas
stage geologi). Umur-umur absolut yang didapat dari pentarikhan radiometri berkorelasi baik
langsung ataupun tidak langsung dengan skala waktu polaritas geomagnet dalam kolom
magnetostratigrafi, atau secara tidak langsung berkorelasi dengan biozonasi. Dipandang dari
sisi kepetingannya dalam kalibrasi waktu geologi, untuk memahami laju proses-proses geologi,
maka kontribusi stratigrafi polaritas magnet terhadap ilmu kebumian menjadi jelas.

Sifat berpasangan dalam arah yang berlawanan (dipole) dari medan magnet bumi
memiliki arti bahwa kejadian pembalikan polaritas (polarity reversal) terjadi dalam waktu yang
bersamaan secara global (globally synchronous), sementara proses pembalikannya sendiri
terjadi dalam kisaran kurun waktu 103-104 tahun.

Stratigrafi polaritas magnet menyediakan suatu “time lines” stratigrafi yang berlaku
global dalam tingkat resolusi waktu yang sedemikian tinggi, dengan demikian penetapan
kronostratigrafi tersebut juga dapat diterapkan di Indonesia.

Hingga sekitar 30-35 tahun lalu, para ahli paleomagnetik dan ahli magnetik batuan
berkonsentrasi terutama dalam meng-karakterisasi sifat-sifat magnetik dari hanya sejumlah
kecil species mineral magnetik. Yang diteliti secara intensif adalah mineral magnetit yang
mengandung substitusi titanium, yang terbentuk pada temperatur tinggi berasosiasi dengan
batuan beku dan stabil terpreservasi dalam temperatur yang rendah. Mineral ini berperan
penting dalam studi paleomagnetik di batuan kerak kontinen dan pada perkembangan hipotesis
pemekaran kerak samudra.

Selain mineral-mineral magnetit yang terbentuk pada temperatur tinggi, mineral-


mineral magnetik yang terbentuk dalam temperatur rendah turut pula diselidiki, terutama yang

2
Muhammad Harits Abyan | 1019101
Magnetic Polarity |Geologi Struktur Indonesia

berasosiasi dengan sedimen-sedimen berwarna kemerahan seperti pada umumya sedimen


terestrial, yang didominasi oleh hematit.

Perkembangan penelitian magnetisme yang terkait dengan aspek lingkungan, yang


berfokus pada sedimen dan penerapannya pada beragam lingkungan Kuarter, telah turut
merangsang penelitian yang berorientasi pada pengenalan dan identifikasi pembentukan
mineral-mineral magnetik dan proses magnetisme yang membentuknya. Rangkaian perubahan
yang dramatis dari iklim bumi dan biosfere ini seringkali terekam jejak alamiahnya sebagai
fenomena variasi fisis, kimia, dan isotopik dalam sedimen atau es. Rekaman jejak tersebut,
bila dapat dimunculkan dan dibaca memungkinkan kita untuk dapat diantaranya
mengidentifikasi waktu, laju dan mekanisme perubahan iklim dan lingkungan dimasa lampau.

Penelitian detail paleomagnetisme sangat penting dilakukan terutama dalam kaitannya


dengan ekplorasi sumberdaya energi, perubahan iklim secara global, lingkungan, navigasi,
serta komunikasi yang diakibatkan oleh terdapatnya pembalikan polaritas kutub magnet.
Terdapat hubungan yang erat dimana selama pembalikan polaritas kutub magnet (decreased
field intensity), aliran sinar kosmis akan bertambah, sehingga terjadi pengionan dalam atmosfer
yang mengakibatkan ‘parasol effect’.

3
Muhammad Harits Abyan | 1019101