Anda di halaman 1dari 4

Carbonate Compentasion Depth

TUGAS KE - 4

Mata Kuliah Geologi Struktur Indonesia

Oleh :

Muhammad Harits Abyan


1019101
No. Absen : 13

TEKNIK GEOLOGI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINERAL INDONESIA

BANDUNG

2019
Carbonate Compensation Depth |Geologi Struktur Indonesia

Carbonate Compensation Depth atau yang biasa dikenal sebagai zona CCD, adalah
suatu tempat di kedalaman lautan dimana mineral-mineral kalsium karbonat mengalami
pelarutan lebih cepat daripada kecepatan pengendapannya.
Pada bagian bawah lautan umumnya terdiri atas akumulasi sedimen yang berukuran
halus dengan berbagai macam jenis sedimen. Bahkan kita juga bisa menemukan partikel-
partikel sedimen yang berasal dari daratan hingga luar angkasa, partikel dari sistem hidrotermal
seperti "black smokers" dan beberapa sisa organisme yang pernah hidup seperti plankton.
Plankton merupakan jenis hewan atau tanaman yang sangat kecil (mikroskopik) yang pada saat
hidup dia akan melayang di lautan dan mengendap di bawah laut ketika mati.

Sayatan tipis dari Batugamping Nummulites. Objek yang tampak besar adalah jenis foraminifera besar yang
bernama Nummulites. ASIEKA / Getty Images

Banyak dari spesies plankton yang membangun cangkangnya sendiri menggunakan


material mineral yang ada di lautan dengan melakukan ekstraksi kimia seperti kalsium karbonat
(CaCO3) maupun silika (SiO2), dari air laut. Carbonate compensation depth sangat terkait
dengan kandungan kalsium karbonat di lautan.
Ketika cangkang yang mengandung CaCO3 suatu organisme mati, maka cangkang
tersebut akan tenggelam ke arah bawah lautan. Hal ini akan menciptakan material yang disebut
calcareous ooze, yang tersedimentasi dan dapat membentuk lapisan batugamping atau
batukapur dan juga chalk. Namun sayangnya tidak semua cangkang CaCO3 yang tenggelam
dapat mencapai permukaan bawah lautan, disebabkan karena sifat kimiawi dari air laut yang
berubah seiring bertambahnya kedalaman.
Air di permukaan laut, dimana plankton hidup, adalah tempat yang aman untuk
cangkang yang mengandung kalsium karbonat (CaCO3) yang umumnya membentuk kristal
mineral kalsit atau aragonit. Kedua mineral pembentuk cangkang tersebut tidak akan terlarut
di permukaan air laut. Tetapi kondisi di bawah laut akan sangat berbeda dikarenakan semakin

1
Muhammad Harits Abyan | 1019101
Carbonate Compensation Depth |Geologi Struktur Indonesia

dalam lautan maka suhu lautan akan semakin dingin dan tekanan di bawah laut juga semakin
membesar, kedua faktor fisika tersebut yang menyebabkan air laut mengalami peningkatan
kemampuan untuk melarutkan CaCO3. Yang lebih penting lagi selain kedua faktor fisika
tersebut dalah faktor kimiawi, yaitu kandungan karbon dioksida (CO2) di air. Air laut di
kedalaman secara tidak langsung merupakan penampung karbon dioksida yang berasal dari
sisa respirasi hewan-hewan laut dan tanaman di laut maupun bakteri dan ikan. Kandungan CO2
yang tinggi menyebabkan air laut menjadi semakin asam.
Kedalaman lautan dimana efek fisika dan kimia tersebut mulai terlihat, CaCO3 mulai
larut secara cepat, disebut sebagai zona lisoklin (lysocline). Kedalaman setelahnya akan mulai
kehilangan kandungan CaCO3, hingga lantai samudera kita tidak akan menjumpai akumulasi
sedimen yang mengandung CaCO3, atau mungkin masih dapat kita jumpai tetapi dalam
kandungan yang amat sedikit. Kedalaman dimana kandungan CaCO3 benar-benar hilang atau
tidak ada sama sekali, dan kecepatan sedimentasi CaCO3 sama dengan kecepatan pelarutannya,
disebut sebagai zona Carbonate Compensation Depth (CCD).
Detailnya sebagai berikut: mineral kalsit memiliki ketahanan terlarut yang lebih baik
daripada mineral aragonit, sehingga compensation depth antara kedua mineral tersebut
tentunya berbeda meski sama-sama mineral karbonat. Sepanjang sejarah ilmu geologi, bila kita
menemukan istilah CCD maka yang dimaksud carbonat disini adalah kalsit atau bisa juga
disebut sebagai Calcite Compensation Depth (CCD).
"CCD" dapat diartikan sebagai "carbonat compensation depth" atau bisa juga "calcium
carbonat compensation depth" atau bisa juga "calcite compensation depth". Beberapa
penelitian yang fokus kepada mineral aragonit, umumnya akan memakai istilah ACD atau
"aragonite compensation depth".
Kondisi lautan saat ini, batas zona CCD berkisar antara 4-5 kilometer di kedalaman
lautan. Batas CCD akan lebih dalam apabila ada suplai air dari daratan yang menyebabkan
kandungan CO2 di lautan menjadi tidak jenuh, sedangkan batas CCD akan menjadi lebih
dangkal apabila terdapat kematian dalam jumlah besar plankton yang secara tidak langsung
menarik perhatian hewan-hewan laut lain pemakan plankton di kedalaman tersebut dan
menyebabkan kandungan CO2 hasil respirasinya semakin besar. Dalam geologi, sedikit
banyaknya kandungan CaCO3 pada batuan, biasa kita sebut sebagai batugamping, dapat
menceritakan banyak hal tentang sejarah sedimentasi dan juga sejarah dari kondisi lautan pada
saat batuan tersebut terbentuk sehingga kita dapat mempelajari perubahan kondisi lautan dari
masa ke masa.

2
Muhammad Harits Abyan | 1019101
Carbonate Compensation Depth |Geologi Struktur Indonesia

Selain kalsium karbonat, plankton juga dapat membentuk cangkangnya dari siliki.
Tidak ada zona compensation depth untuk silika, meskipun silika juga dapat larut dalam
kondisi tertentu di kedalaman lautan. Silika yang mencapai bawah laut dan mengendap dalam
jumlah melimpah akan membentuk batuan yang bernama chert. Ada juga plankton yang
membentuk cangkangnya dari material celestite atau stronsium sulfat (SrSO4), namun sangat
jarang dan langka. Mineral celestite ini akan langsung mengalami pelarutan begitu organisme
ini mati.

Daftar Pustaka :
Alden, Andrew. "Carbonate Compensation Depth (CCD)." ThoughtCo, Sep. 24, 2018.

3
Muhammad Harits Abyan | 1019101