Anda di halaman 1dari 6

KELUARGA SEJAHTERA TAHAP I

KELOMPOK 1

1. Ida Ayu Putu Anggun Pravita Sari (16C11726)


2. Made Ari Lestari (16C11727)
3. Ni Komang Devi Suastini (16C11744)
4. I Gusti Ayu Dian Rosita Dewi (16C11750)
5. Ni Putu Lina Sukma Dewi (16C11764)
6. Putu Lisa Oktaviani (16C11765)
7. Ni Putu Mas Satryasih (16C11767)
8. Ni Komang Oktaviani Putri (16C11772)
9. Ni Kadek Riana Anggarayani (16C11779)
10. Putu Yulita Anggi Pratiwi (16C11800)

INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI


TAHUN AJARAN 2019/2020
TINJAUAN TEORI

A. PENGETIAN KELUARGA SEJAHTERA


Kesejahteraan adalah hal atau keadaan sejahtera, aman, selamat, dan
tentram”. (Depdiknas dalam BkkBN, 2001:1011).
Keluarga Sejahtera adalah Keluarga yang dibentuk berdasarkan
perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi
yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang /maha Esa, memiliki hubungan
yang selaras, serasi, dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan
masyarakat dan lingkungan”. (Undang-Undang RI No 52 Tahun 2009)
Menurut BKKBN (2011) menyatakan bahwa keluarga sejahtera atau
keluarga yang diatur atau diikat dalam sebuah perkawinan yang sah baik
agama dan hukum, yang memiliki 6 indikator dari 21 indikator keluarga
sejahtera oleh BKKBN dan tidak ada dari kriteria keluarga sejahtera tahap 2
yang dipenuhi.
Kesejahteraan keluarga tidak hanya menyangkut kemakmuran saja,
melainkan juga harus secara keseluruhan sesuai dengan ketentraman yang
berarti dengan kemampuan itulah dapat menuju keselamatan dan ketentraman
hidup.

B. TUJUAN KELUARGA SEJAHTERA


Bertujuan untuk mengembangkan keluarga agar timbul rasa aman,
tentram dan harapan masa depanyang lebih baik merupakan salah satu
pembentuk ketahanan keluarga dalam membangun keluarga sejahtera.
Dalam PP No. 21 Th 1994, pasal 2: pembangunan keluarga sejahtera
diwujudkan melalui pengembangan kualitas keluarga diselenggarakan
secaramenyeluruh, terpadu oleh masyarakat dan keluarga.
Tujuan : Mewujudkan keluarga kecil bahagia, sejahtera bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, produktif, mandiri dan memiliki kemampuan
untuk membangun diri sendiri dan lingkungannya.
C. KELUARGA SEJAHTERA TAHAP 1
Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhnan dasarnya secara
minimal tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologinya seperti
kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi lingkungan tempat tinggal dan
trasportasi. Pada keluarga sejahtera I kebutuhan dasar (a s/d e) telah terpenuhi
namun kebutuhan sosial psikologi belum terpenuhi yaitu:
1. Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.
2. Paling kurang sekali seminggu, keluarga menyadiakan daging, ikan atau
telur.
3. Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang 1 stel pakaian baru
pertahun.
4. Luas lantai rumah paling kurang 8 meter persegi untuk tiap pengguna
rumah.
5. Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam kedaan sehat.
6. Paling kurang satu anggota 15 tahun keatas, penghasilan tetap.
7. Seluruh anggota kelurga yang berumur 10-16 tahun bisa baca tulis huruf
latin.
8. Seluruh anak berusia 5-15 tahun bersekolah pada saat ini.
9. Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga pasang yang usia subur memakai
kontrasepsi (kecuali sedang hamil).

D. INDIKATOR KESEJAHTERAAN

Indikator tahapan keluarga sejahtera.

Enam Indikator tahapan Keluarga Sejahtera I (KS I) atau indikator


”kebutuhan dasar keluarga” (basic needs), dari 21 indikator keluarga
sejahtera yaitu:

1. Pada umumnya anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih.

Pengertian makan adalah makan menurut pengertian dan kebiasaan


masyarakat setempat, seperti makan nasi bagi mereka yang biasa makan
nasi sebagai makanan pokoknya (staple food), atau seperti makan sagu
bagi mereka yang biasa makan sagu dan sebagainya.
2. Anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah,
bekerja/sekolah dan bepergian.

Pengertian pakaian yang berbeda adalah pemilikan pakaian yang tidak


hanya satu pasang, sehingga tidak terpaksa harus memakai pakaian
yang sama dalam kegiatan hidup yang berbeda beda. Misalnya pakaian
untuk di rumah (untuk tidur atau beristirahat di rumah) lain dengan
pakaian untuk ke sekolah atau untuk bekerja (ke sawah, ke kantor,
berjualan dan sebagainya) dan lain pula dengan pakaian untuk
bepergian (seperti menghadiri undangan perkawinan, piknik, ke rumah
ibadah dan sebagainya).

3. Rumah yang ditempati keluarga mempunyai atap, lantai dan


dinding yang baik.

Pengertian Rumah yang ditempati keluarga ini adalah keadaan rumah


tinggal keluarga mempunyai atap, lantai dan dinding dalam kondisi
yang layak ditempati, baik dari segi perlindungan maupun dari segi
kesehatan.

4. Bila ada anggota keluarga sakit dibawa ke sarana kesehatan.

Pengertian sarana kesehatan adalah sarana kesehatan modern, seperti


Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Balai Pengobatan,
Apotek, Posyandu, Poliklinik, Bidan Desa dan sebagainya, yang
memberikan obat obatan yang diproduksi secara modern dan telah
mendapat izin peredaran dari instansi yang berwenang (Departemen
Kesehatan/Badan POM).

5. Bila pasangan usia subur ingin ber KB pergi ke sarana pelayanan


kontrasepsi.

Pengertian Sarana Pelayanan Kontrasepsi adalah sarana atau tempat


pelayanan KB, seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu,
Balai Pengobatan, Apotek, Posyandu, Poliklinik, Dokter Swasta, Bidan
Desa dan sebagainya, yang memberikan pelayanan KB dengan alat
kontrasepsi modern, seperti IUD, MOW, MOP, Kondom, Implan,
Suntikan dan Pil, kepada pasangan usia subur yang membutuhkan.

(Hanya untuk keluarga yang berstatus Pasangan Usia Subur).

6. Semua anak umur 7-15 tahun dalam keluarga bersekolah.

Pengertian Semua anak umur 7-15 tahun adalah semua anak 7-15 tahun
dari keluarga (jika keluarga mempunyai anak 7-15 tahun), yang harus
mengikuti wajib belajar 9 tahun. Bersekolah diartikan anak usia 7-15
tahun di keluarga itu terdaftar dan aktif bersekolah setingkat
SD/sederajat SD atau setingkat SLTP/sederajat SLTP.
Daftar Pustaka

Undang-Undang Republik Indonesia. 2009. UU RI No 52 Tahun 2009.

Badan Kpendudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2011.

Indikator Keluarga Sejahtera. Jakarta.