Anda di halaman 1dari 35

Laporan Kasus

IUGR dan Eklamsia

Pembimbing:
dr. Fionna Felicia,Sp.OG

Disusun oleh:
dr. Uria Ricko Tanguhno Handen

PROGRAM INTERSHIP DOKTER PULANG PISAU KALIMANTAN TENGAN


PERIODE 2019-2020
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PULANG PISAU
2020

[Type here]
IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap: Ny. N Jenis kelamin: Perempuan
Umur: 42 tahun Suku bangsa: Indonesia
Status perkawinan: Menikah Agama: Islam
Pekerjaan: IRT Pendidikan: SMA
Alamat: REY 3

Anamnesis
Dilakukan autoanamnesis dan alloanamnesis tanggal 9 januari 2020 Pukul
09.15 WIB

Keluhan utama
Pusing sejak tadi pagi sebelum di bawa ke IGD

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan pusing berputar sejak tadi pagi. Pusing terasa
seperti kapal goyang dan dirasakan terus menerus. Keluhan ini dirasakan baru saja,
sebelumnya tidak pernah ada keluhan seperti ini. Pasien juga mengeluh muntah 2 kali
sejak tadi pagi. Muntah sisa makanan, sebelumnya punya keluhan yang sama tetapi
beberapa buln yang lalu. Pasien juga mengakui berat badan dalam beberapa bulan
terakhir mengalami peningkatan berat badan. Pasien juga mengeluhkan perut tampak
membesar dalam beberapa bulan terakhir. Menurut keluarga pasien, pasien
mengalami kejang-kejang di rumah sebanyak 2 kali. Beberapa saat di IGD pasien
mengalami kejang. Di lakukan pemeriksaan USG pada abdomen terlihat seperti
kepala bayi dan dari USG usia kehamilan 24 minggu. Riwayat menstruasi dan hari
pertama haid terakhir pasien lupa.

Riwayat alergi, hipertensi, kencing manis, jantung, penyakit infeksi, TBC,


dan trauma disangkal. Pasien tidak minum obat-obatan rutin selama kehamilan.
Pasien juga tidak merokok dan tidak minum minuman beralkohol. Riwayat
menstruasi teratur.

[Type here]
Riwayat Kehamilan dan Persalinan:

Pasien tidak pernah melakukan pemeriksaan ANC. Pasien mengandung 3 kali dan
melahirkan sebanyak 2 kali secara normal.

Riwayat Haid
Pasien lupa

Riwayat Perkawinan
Menikah satu kali, suami pertama dan menjadi isteri pertama. Menikah selama kurang
lebih 25 tahun tahun.

Riwayat Keluarga Berencana

Tidak ada.

Riwayat Penyakit Dahulu

(- ) Cacar (-) Malaria (-) Batu Ginjal / Saluran


Kemih
(-) Cacar air (-) Disentri (-) Burut (Hernia)
(-) Difteri (-) Hepatitis (-) Batuk Rejan
(-) Tifus Abdominalis (-) Wasir (-) Campak
(-) Diabetes (-) Sifilis (-) Alergi
(-) Tonsilitis (-) Gonore (-) Tumor
(-) Hipertensi (-) Penyakit Pembuluh (-) Demam Rematik Akut
(-) Ulkus Ventrikuli (-) Perdarahan Otak (-) Pneumonia
(-) Ulkus Duodeni (-) Psikosis (-) Gastritis
(-) Neurosis (-) Tuberkulosis (-) Batu Empedu
Lain-lain : (-) Kecelakaan

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada.

[Type here]
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak sakit berat
Kesadaran : Somnolen
Tekanan darah : 200/150 mmHg
Nadi : 120x/menit
Pernafasan : 28x/menit
Suhu : 36,5oC
Tinggi badan (cm) : 154 cm
Berat badan (kg) : 55 kg

Kulit
Warna sawo matang, kulit hangat, kelembapan lembab, tekstur halus, sianosis (-),
ikterik (-)
Kepala
Normocephali, tidak teraba benjolan, distribusi rambut merata, warna hitam, rambut
tidak mudah dicabut
Mata
Edem palpebra (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pendarahan sub-
conjungtival (-/-), pupil isokor, diameter 3mm/3mm, refleks cahaya langsung (+/+),
refleks cahaya tidak langsung (+/+).
Telinga
Normotia (+/+), nyeri tekan tragus (-/-)
Hidung
Tidak ada tanda-tanda fraktur, septum tidak deviasi, pernafasan cuping hidung (-),
Mulut
Simetris, bibir sianosis (-), bibir kering (-), pucat (-) , perdarahan gusi (-), tonsil T1-
T1 tenang, faring hiperemis (-)
Leher
Pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar thyroid (-)
Thorax

[Type here]
Depan Belakang
Inspeksi Kiri Pergerakan statis dan dinamis, Bentuk punggung simetris,
retraksi sela iga (-), sela iga tidak pergerakan statis dan dinamis
melebar
Kanan Pergerakan statis dan dinamis, Bentuk punggung simetris,
retraksi sela iga (-), sela iga tidak pergerakan statis dan dinamis
melebar
Palpasi Kiri Sela iga tidak melebar, vokal Sela iga tidak melebar, vokal
fremitus (+) fremitus (+)
Kanan Sela iga tidak melebar, vokal Sela iga tidak melebar, vokal
fremitus (+) fremitus (+)
Perkusi Kiri Sonor Sonor
Kanan Sonor Sonor
Auskultasi Kiri Suara nafas vesikuler, ronkhi (+), Suara nafas vesikuler, ronkhi
wheezing (-) (+), wheezing (-)
Kanan Suara nafas vesikuler, ronkhi (-), Suara nafas vesikuler, ronkhi
wheezing (-) (-), wheezing (-)

Jantung (Cor)
- Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : ictus cordis teraba pada sela iga V, 2 cm medial dari linea
midclavicularis sinistra
- Perkusi :
 Batas atas : pada sela iga II garis parasternal kiri
 Batas kiri : pada sela iga V, 2 cm medial dari garis
midclavicularis sinistra
 Batas kanan : pada sela iga V, pada garis parasternal kanan
- Auskultasi
Bunyi jantung I-II reguler, tidak terdengar murmur dan gallop pada ke 4 katup
jantung

[Type here]
Abdomen
Inspeksi : Tampak membuncit sesuai massa kehamilan, tampak memanjang,
bekas operasi (-), tampak linea nigra, dan striae gravidarum.
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani (+), nyeri ketok CVA (-)
Auskultasi : Bising usus (+), normoperistaltik.
Genitalia : Lihat status obstetrikus
Ekstremitas : Akral teraba hangat, edema extremitas inferior (+), deformitas (-)

Pemeriksaan Obstetri
Inspeksi
Wajah : Chloasma gravidarum (-)
Payudara : Pembesaran payudara (+), hiperpigmentasi areola mammae
(+), putting susu menonjol (+), pengeluaran ASI (-)
Abdomen :
- Inspeksi : Tampak membuncit sesuai masa kehamilan, memanjang,
bekas operasi (-), linea nigra (+), striae gravidarum (+)
- Auskultasi : BU (+) normal
- Palpasi : nyeri tekan (-)
- Perkusi : (-)
Palpasi
Leopold belum dilakukan.

Denyut jantung janin (+):


140x/menit

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium 9 januari 2020 jam 10.00 WIB
1. Hematologi
Golongan darah O
Hemoglobin 10,2g/dl
Hematokrit 34 Vol %
Leukosit 17800/uL

[Type here]
Trombosit 227000/Ul

2. Kimia Darah
Glukosa sewaktu 104mg/dl
Ureum 40 mg/dl
Creatinine 1,4 mg/dl
Albumin 3,2g/dl
3. Urinalisa
Warna Kuning muda
Kejernihan Jernih
PH 7
Glukosa Negatif
Bilirubin Negatif
Keton Negatif
Darah +
Protein +++
Leukosit esterase Negatif

Ringkasan/Resume
Seorang perempuan usia 47 datang dengan keluhan pusing berputar sejak tadi
pagi. Pusing terasa seperti kapal goyang dan dirasakan terus menerus. Keluhan ini
dirasakan baru saja, sebelumnya tidak pernah ada keluhan seperti ini. Pasien juga
mengeluh muntah 2 kali sejak tadi pagi. Muntah sisa makanan, sebelumnya punya
keluhan yang sama tetapi beberapa buln yang lalu. Pasien juga mengakui berat badan
dalam beberapa bulan terakhir mengalami peningkatan berat badan. Pasien juga
mengeluhkan perut tampak membesar dalam beberapa bulan terakhir. Menurut
keluarga pasien, pasien mengalami kejang-kejang di rumah sebanyak 2 kali. Beberapa
saat di IGD pasien mengalami kejang. Di lakukan pemeriksaan USG pada abdomen
terlihat seperti kepala bayi. Riwayat menstruasi dan hari pertama haid terakhir pasien
lupa.

Pada pemeriksaan TTV, didapatkan tekanan darah meningkat (200/150 mmHg),


takikardi (nadi 120x/menit), dan takipneu (28x/menit). Pada pemeriksaan darah

[Type here]
lengkap didapatkan leukositosis (17800/Ul). Pada pemeriksaan urin didapatkan
adanya protein (+++).

Daftar Masalah

Diagnosis

G3P2A0 24 minggu, IUGR, Eklamsia

Pengelolaan

Non medikamentosa

 Bantuan lahir secara spontan

Medikamentosa

 Pasang 2 IV line
 Stabilisasi KU
 O2 nasal kanul 6 lpm
 Protap MGSo4
 Per oral saat pasien sadar nifedipine 2 x10 mg dan metildopa 3 x 200 mg

Prognosis

Ad vitam : Dubia ad bonam

Ad functionam : Dubia ad malam

Ad sanationam : Dubia ad malam

[Type here]
TINJAUAN PUSTAKA

IUGR

A. DEFINISI
Menurut WHO (1969), janin yang mengalami pertumbuhan yang terhambat
adalah janin yang mengalami kegagalan dalam mencapai berat standard atau ukuran
standard yang sesuai dengan usia kehamilannya.

IUGR (intrauterine growth restriction) adalah gangguan pertumbuhan pada


janin dan bayi baru lahir yang meliputi semua parameter (lingkar kepala, berat badan,
panjang badan), yang beratnya dibawah 10 persentil untuk usia gestasionalnya. Bayi-
bayi antara persentil 10 dan 90 diklasifikasikan sebagai kelompok dengan berat sesuai
usia gestasional.

Pertumbuhan Janin Terhambat atau Intra Uterine Growth Restriction adalah


suatu keadaan dimana terjadi gangguan nutrisi dan pertumbuhan janin yang
mengakibatkan berat badan lahir dibawah batasan tertentu dari usia kehamilannya.

Pertumbuhan Janin Terhambat (Intrauterine growth restriction) diartikan


sebagai suatu kondisi dimana janin berukuran lebih kecil dari standar ukuran biometri
normal pada usia kehamilan. Kadang pula istilah Pertumbuhan Janin Terhambat
sering diartikan sebagai kecil untuk masa kehamilan-KMK (small for gestational age).
Umumnya janin dengan Pertumbuhan Janin Terhambat memiliki taksiran berat
dibawah persentil ke-10. Artinya janin memiliki berat kurang dari 90 % dari
keseluruhan janin dalam usia kehamilan yang sama. Janin dengan Pertumbuhan Janin
Terhambat pada umumnya akan lahir prematur (<37 minggu) atau dapat pula lahir
cukup bulan (aterm, >37 minggu). Bila berada di bawah presentil ke-7 maka disebut
small for gestational age, di mana bayi mempunyai berat badan kecil yang tidak
menimbulkan kematian perinatal.

[Type here]
Gambar 1. Bayi dengan IUGR (kiri) dan bayi dengan pertumbuhan normal sesuai
usia gestasi

Gambar 2. Persentil Berat Badan Janin sesuai dengan Usia Kehamilan

Jadi ada dua komponen penting pada Pertumbuhan Janin Terhambat yaitu:

1. Berat badan lahir di bawah presentil ke-10


2. Adanya faktor patologis yang menyebabkan gangguan pertumbuhan.
Sedangkan pada Small for Gestational Age ada dua komponen yang berpengaruh
yaitu:

[Type here]
1. Berat badan lahir di bawah presentil ke-7
2. Tidak adanya proses patologis.
Ada dua bentuk Pertumbuhan Janin Terhambat menurut Renfield (1975) yaitu:

1. Proportionate Fetal Growth Restriction: Janin yang menderita distress yang


lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai
berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan lingkar kepala
dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih di bawah
gestasi yang sebenarnya.
2. Disproportionate Fetal Growth Restriction: Terjadi akibat distress subakut.
Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir.
Pada keadaan ini panjang dan lingkar kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai
dengan masa gestasi. Bayi tampak waste dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan
lemak di bawah kulit, kulit kering keriput dan mudah diangkat, bayi kelihatan
kurus dan lebih panjang.
Pada bayi Pertumbuhan Janin Terhambat perubahan tidak hanya terhadap
ukuran panjang, berat dan lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam
badanpun mengalami perubahan, misalnya Drillen (1975) menemukan berat otak,
jantung, paru dan ginjal bertambah sedangkan berat hati, limpa, kelenjar adrenal dan
thimus berkurang dibandingkan bayi prematur dengan berat yang sama.
Perkembangan dari otak, ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya.

B. PERTUMBUHAN NORMAL INTRAUTERIN


Pada masa kehamilan janin mengalami pertumbuhan tiga tahap di dalam
kandungan, yaitu:

1. Hiperplasia, yaitu: Pada 4-20 minggu kehamilan terjadi mitosis yang sangat
cepat dan peningkatan jumlah DNA.
2. Hiperplasia dan hipertrofi, yaitu: Pada 20-28 minggu aktifitas mitosis
menurun, tetapi peningkatan ukuran sel bertambah.
3. Hipertrofi, yaitu: Pada 28-40 minggu pertumbuhan sel menjadi maksimal
terutama pada minggu ke 33, penambahan jumlah lemak, otot dan jaringan
ikat tubuh.
C. PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT
INTRAUTERIN

[Type here]
Peningkatan rasio berat plasenta terhadap berat lahir ditimbulkan oleh kondisi
diet rendah nutrisi terutama protein
1. Kondisi kekurangan nutrisi pada awal kehamilan
Pada kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas
dipengaruhi oleh makanan. Studi pada binatang menunjukkan bahwa kondisi
kekurangan nutrisi sebelum implantasi bisa menghambat pertumbuhan dan
perkembangan. Kekurangan nutrisi pada awal kehamilan dapat mengakibatkan
janin berat lahir rendah yang simetris. Hal sebaiknya terjadi kondisi
percepatan pertumbuhan pada kondisi hiperglikemia pada kehamilan lanjut
2. Kondisi kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan
Defisiensi makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta,
tapi bisa juga terjadi peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai kompensasi.
Didapati ukuran plasenta yang luas.
3. Kondisi kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan
Terjadi pertumbuhan janin yang lambat yang mempengaruhi interaksi
antara janin dengan plasenta. Efek kekurangan makan tergantung pada
lamanya kekurangan. Pada kondisi akut terjadi perlambatan pertumbuhan dan
kembali meningkat jika nutrisi yang diberikan membaik. Pada kondisi kronis
mungkin telah terjadi proses perlambatan pertumbuhan yang irreversibel.

D. KLASIFIKASI
Antara Pertumbuhan Janin Terhambat dan Small For Gestational Age banyak
terjadi salah pengertian karena definisi keduanya hampir mirip. Tetapi pada Small For
Gestational Age tidak terjadi gangguan pertumbuhan, bayi hanya mempunyai ukuran
tubuh yang kecil. Sedangkan pada IUGR terjadi suatu proses patologis sehingga berat
badan janin tersebut kecil untuk masa kehamilannya.

Berdasarkan gejala klinis dan USG janin kecil dibedakan atas:

1. Janin kecil tapi sehat. Berat lahir di bawah presentil ke-10 untuk masa
kehamilannya. Mempunyai ponderal index dan jaringan lemak yang normal.
Ponderal index = BB(gram) x 100

PB(cm)

[Type here]
2. Janin dengan gangguan pertumbuhan karena proses patologis, inilah yang
disebut true fetal growth restriction. Berdasarkan ukuran kepala, perut, dan
panjang lengan dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Simetris (20%), gangguan terjadi pada fase Hiperplasia, di mana total
jumlah sel kurang, ini biasanya disebabkan oleh gangguan kromosom
atau infeksi kongenital misalnya TORCH. Proses patologis berada di
organ dalam sampai kepala.
2. Asimetris (80%), gangguan terjadi pada fase Hipertrofi, di mana
jumlah total sel normal tetapi ukurannya lebih kecil. Biasanya
gangguan ini disebabkan oleh faktor maternal atau faktor plasenta.

Simetris Asimetris

Semua bagian tubuh kecil Kepala lebih besar dari perut

Ponderal index normal Meningkat

Perbandingan kepala, perut dan panjang Meningkat


tangan normal

Etiologi: faktor genetik dan infeksi Insufisiensi plasenta kronik

Jumlah sel-lebih kecil Normal

Ukuran sel normal Kecil

Bayi dengan komplikasi prognosisnya Biasanya tanpa komplikasi baik


buruk prognosisnya

Tabel 1. Perbandingan IUGR Simetris dan Asimetris

[Type here]
Gambar 3. Size comparison between an IUGR baby (left) and a normal

E. ETIOLOGI
Pertumbuhan Janin Terhambat merupakan hasil dari suatu kondisi ketika ada
masalah atau abnormalitas yang mencegah sel dan jaringan untuk tumbuh atau
menyebabkan ukuran sel menurun. Hal tersebut mungkin terjadi ketika janin tidak
cukup mendapat nutrisi dan oksigen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan organ dan jaringan, atau karena infeksi. Meskipun beberapa bayi kecil
karena genetik (orang tuanya kecil), kebanyakan Pertumbuhan Janin Terhambat
disebabkan oleh sebab lain.

Penyebab dari Pertumbuhan Janin Terhambat dapat dibedakan menjadi tiga faktor,
yaitu:

1. Maternal
 Tekanan darah tinggi
 Penyakit ginjal kronik
 Diabetes Melitus
 Penyakit jantung dan pernapasan
 Malnutrisi dan anemia
 Infeksi
 Pecandu alkohol dan obat tertentu
 Perokok

[Type here]
2. Uterus dan Plasenta
 Penurunan aliran darah di uterus dan plasenta
 Plasenta abruption, plasenta praevia, infark plasenta (kematian sel pada
plasenta), korioangioma.
 Infeksi di jaringan ikat sekitar uterus
 Twin-to-twin transfusion syndrome
3. Janin
 Janin kembar
 Penyakit infeksi (Infeksi bakteri, virus, protozoa dapat menyebabkan
Pertumbuhan Janin Terhambat. Rubela dan cytomegalovirus (CMV)
adalah infeksi yang sering menyebabkan Pertumbuhan Janin Terhambat.
 Kelainan kongenital
 Kelainan kromosom (Kelainan kromosom seperti trisomi atau triploidi dan
kelainan jantung bawaan yang berat sering berkaitan dengan Pertumbuhan
Janin Terhambat. Trisomi 18 berkaitan dengan Pertumbuhan Janin
Terhambat simetris serta polihidramnion (cairan ketuban berlebih).
Trisomi 13 dan sindroma Turner juga berkaitan dengan Pertumbuhan Janin
Terhambat.
 Pajanan teratogen (zat yang berbahaya bagi pertumbuhan janin). Berbagai
macam zat yang bersifat teratogen seperti obat anti kejang, rokok,
narkotik, dan alkohol dapat menyebabkan Pertumbuhan Janin Terhambat.
(1,2,4,5,6)

Penyebab dari Pertumbuhan Janin Terhambat menurut kategori retardasi


pertumbuhan simetris dan asimetris dibedakan menjadi:

1. Simetris: Memiliki kejadian lebih awal dari gangguan pertumbuhan janin


yang tidak simetris, semua organ mengecil secara proporsional. Faktor yang
berkaitan dengan hal ini adalah kelainan kromosom, kelainan organ (terutama
jantung), infeksi TORCH (Toxoplasmosis, Other Agents <Coxsackie virus,
Listeria), Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex/Hepatitis B/HIV,
Syphilis), kekurangan nutrisi berat pada ibu hamil, dan wanita hamil yang
merokok. Faktor-faktor lainnya:

[Type here]
a. Pertambahan berat maternal yang jelek
b. Infeksi janin
c. Malformasi kongenital
d. Kelainan kromosom
e. Sindrom Dwarf
2. Asimetris: Gangguan pertumbuhan janin asimetris memiliki waktu kejadian
lebih lama dibandingkan gangguan pertumbuhan janin simetris. Beberapa
organ lebih terpengaruh dibandingkan yang lain, lingkar perut adalah bagian
tubuh yang terganggu untuk pertama kali, kelainan panjang tulang paha
umumnya terpengaruhi belakangan, lingkar kepala dan diameter biparietal
juga berkurang. Faktor yang mempengaruhi adalah insufisiensi (tidak
efisiennya) plasenta yang terjadi karena gangguan kondisi ibu termasuk
diantaranya tekanan darah tinggi dan diabetes dalam kehamilan dalam
kehamilan(8). Faktor-faktor lainnya:

a. Penyakit vaskuler

b. Penyakit ginjal kronis

c. Hipoksia kronis

d. Anemia maternal

e. Abnormalitas plasenta dan tali pusat

f. Janin multipel

g. Kehamilan postterm

h. Kehamilan ekstrauteri

3. Kombinasi Simetris dan Asimetris (Intermediate):

a. Obat-obat teratogenik: Narkotika, tembakau, alkohol, beberapa preparat


antikonvulsan.

b. Malnutrisi berat

[Type here]
F. INSIDEN
Di negara berkembang angka Pertumbuhan Janin Terhambat kejadian berkisar
antara 2%-8% pada bayi dismature, pada bayi mature 5% dan pada postmature 15%.
Sedangkan angka kejadian untuk Small For Gestational Age adalah 7% dan 10%-15%
adalah janin dengan Pertumbuhan Janin Terhambat.

Pada 1977, Campbell dan Thoms memperkenalkan ide pertumbuhan simetrik


dan pertumbuhan asimetrik. Janin yang kecil secara simetrik diperkirakan mempunyai
beberapa sebab awal yang global (seperti infeksi virus, fetal alcohol syndrome). Janin
yang kecil secara asimetrik diperkirakan lebih kearah kecil yang sekunder karena
pengaruh restriksi gizi dan pertukaran gas. Dashe dkk mempelajari hal tersebut
diantara 1364 bayi Pertumbuhan Janin Terhambat (20% pertumbuhan asimetris, 80%
pertumbuhan simetris) dan 3873 bayi dalam presentil 25-75 (cukup untuk usia
kehamilan). Tabel memperlihatkan daftar statistik yang signifikan pada kejadian dan
hasil perinatal diantara kelompok tersebut.

Kejadian PERTUMBUHAN PERTUMBUHAN Sesuai


JANIN JANIN usia
TERHAMBAT TERHAMBAT gestasi

Asimetris Simetris

Anomalies 14% 4% 3%

Morbiditas tidak 86% 95% 95%


serius

Induksi persalinan 12% 8% 5%


(<36 wk)

Tekanan darah 7% 2% 1%
tinggi dalam
kehamilan (<32 wk)

[Type here]
Intubasi dalam VK 6% 4% 3%

Neonatal ICU 18% 9% 7%

Respiratory distress 9% 4% 3%
syndrome

Perdarahan 2% <1% <1%


intraventrikular

(grade III atau IV)

Kematian Neonatal 2% 1% 1%

Usia gestasi saat 36.6 mgg ± 3.5 37.8 mgg ±2.9 mgg 37.1
persalinan mgg mgg ±
3.3
mgg

Kelahiran preterm 14% 6% 11%


<32 mgg

Tabel 2. Kejadian dan Hasil Perinatal

G. MANIFESTASI KLINIS
Bayi-bayi yang dilahirkan dengan Pertumbuhan Janin Terhambat biasanya
tampak kurus, pucat, dan berkulit keriput. Tali pusat umumnya tampak rapuh dan layu
dibanding pada bayi normal yang tampak tebal dan kuat. Pertumbuhan Janin
Terhambat muncul sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan jaringan atau sel. Hal
ini terjadi saat janin tidak mendapatkan nutrisi dan oksigenasi yang cukup untuk
perkembangan dan pertumbuhan organ dan jaringan, atau karena infeksi. Meski pada
sejumlah janin, ukuran kecil untuk masa kehamilan bisa diakibatkan karena faktor
genetik (kedua orangtua kecil), kebanyakan kasus Pertumbuhan Janin Terhambat atau
Kecil Masa Kehamilan (KMK) dikarenakan karena faktor-faktor lain. Beberapa
diantaranya sbb:
Pertumbuhan Janin Terhambat dapat terjadi kapanpun dalam kehamilan.
Pertumbuhan Janin Terhambat yang muncul sangat dini sering berhubungan dengan

[Type here]
kelainan kromosom dan penyakit ibu. Sementara, Pertumbuhan Janin Terhambat yang
muncul terlambat (>32 minggu) biasanya berhubungan dengan problem lain. Pada
kasus Pertumbuhan Janin Terhambat, pertumbuhan seluruh tubuh dan organ janin
menjadi terbatas. Ketika aliran darah ke plasenta tidak cukup, janin akan menerima
hanya sejumlah kecil oksigen, ini dapat berakibat denyut jantung janin menjadi
abnormal, dan janin berisiko tinggi mengalami kematian. Bayi-bayi yang dilahirkan
dengan Pertumbuhan Janin Terhambat akan mengalami keadaan berikut :

 Penurunan level oksigenasi


 Nilai APGAR rendah (suatu penilaian untuk menolong identifikasi adaptasi
bayi segera setelah lahir)
 Aspirasi mekonium (tertelannya faeces/tinja bayi pertama di dalam
kandungan) yang dapat berakibat sindrom gawat nafas
 Hipoglikemi (kadar gula rendah)
 Kesulitan mempertahankan suhu tubuh janin
 Polisitemia (kebanyakan sel darah merah)

H. MORBIDITAS DAN MORTALITAS


Pada kasus Pertumbuhan Janin Terhambat bayi lahir dengan asphyxia,
meconium aspiration, hipoglikemi, hipotermi, polisitemi yang semua hal ini
menyebabkan kelainan neurologi baik pada bayi cukup bulan atau kurang bulan.

Resiko kematian pada kehamilan kurang bulan akibat Pertumbuhan Janin Terhambat
lebih tinggi daripada kehamilan cukup bulan. Kematian terutama diakibatkan oleh
infeksi virus, kelainan kromosom, penyakit ibu, insufisiensi plasenta, atau akibat
faktor lingkungan dan sosial ekonomi.

I. DIAGNOSIS
1. Faktor Ibu

Ibu hamil dengan penyakit hipertensi, penyakit ginjal, kardiopulmonal dan


pada kehamilan ganda.

[Type here]
2. Tinggi Fundus Uteri

cara ini sangat mudah, murah, aman, dan baik untuk diagnosa pada kehamilan
kecil. Caranya dengan menggunakan pita pengukur yang di letakkan dari simpisis
pubis sampai bagian teratas fundus uteri. Bila pada pengukuran di dapat panjang
fundus uteri 2 (dua) atau 3 (tiga) sentimeter di bawah ukuran normal untuk masa
kehamilan itu maka kita dapat mencurigai bahwa janin tersebut mengalami hambatan
pertumbuhan.

Cara ini tidak dapat diterapkan pada kehamilan multipel, hidramnion, janin
letak lintang.

3. USG Fetomaternal

Pada USG yang diukur adalah diameter biparietal atau cephalometry angka
kebenarannya mencapai 43-100%. Bila pada USG ditemukan cephalometry yang
tidak normal maka dapat kita sebut sebagai asimetris Pertumbuhan Janin Terhambat.
Selain itu dengan lingkar perut kita dapat mendeteksi apakah ada pembesaran organ
intra abdomen atau tidak, khususnya pembesaran hati.

Tetapi yang terpenting pada USG ini adalah perbandingan antara ukuran
lingkar kepala dengan lingkar perut (HC/AC) untuk mendeteksi adanya asimetris
Pertumbuhan Janin Terhambat.

Pada USG kita juga dapat mengetahui volume cairan amnion, oligohidramnion
biasanya sangat spesifik pada asimetris Pertumbuhan Janin Terhambat dan biasanya
ini menunjukkan adanya penurunan aliran darah ke ginjal.(6)

Setiap ibu hamil memiliki patokan kenaikan berat badan. Misalnya, bagi ibu
yang memiliki berta badan normal, kenaikannya sampai usia kehamilan 9 bulan
adalah antara 12,5 kg-18 kg, sedangkan bagi yang tergolong kurus, kenaikan
sebaiknya antara 16 kg-20 kg. Sementara, jika Anda termasuk gemuk, maka
pertambahannya antara 6 kg–11,5 kg. Bagi ibu hamil yang tergolong obesitas, maka
kenaikan bobotnya sebaiknya kurang dari 6 kg. Untuk memantau berat badan,
terdapat parameter yang disebut dengan indeks massa tubuh (IMT). Patokannya, bila :

IMT 20 – 24 = normal IMT 25 – 29 = kegemukan (overweight) IMT lebih dari 30 =


obesitas IMT kurang dari 18 = terlalu keras

[Type here]
Jadi, jika IMT Anda 20-24, maka kenaikan bobot tubuh selama kehamilan
antara 12,5 kg-18 kg, dan seterusnya. Umumnya, kenaikan pada trimester awal sekitar
1 kg/bulan. Sedangkan, pada trimester akhir pertambahan bobot bisa sekitar 2
kg/bulan(9).

4. Doppler Velocimetry

Dengan menggunakan Doppler kita dapat mengetahui adanya bunyi end-


diastolik yang tidak normal pada arteri umbilicalis, ini menandakan bahwa adanya
Pertumbuhan Janin Terhambat.

5. Pemeriksaan Laboratorium

1. Pemeriksaan gula darah, bila ada indikasi diabetes mellitus


2. Screening penyakit infeksi, waspada infeksi TORCH, Syphilis
3. Pengukuran kadar enzim transaminase, waspada Hepatitis B dan C

J. DIAGNOSIS BANDING
Janin kecil pada ibu yang ukuran tubuhnya kecil pula. Wanita yang tubuhnya
kecil secara khas akan memiliki bayi yang berukuran kecil pula. Jika wanita itu
memulai kehamilannya dengan berat badan kurang dari 100 pound (<50 kg). Resiko
melahirkan bayi yang kecil menurut usia gestasionalnya akan meningkat paling tidak
dengan sebanyak dua kali lipat (Eastman dan Jackson,1986; Simpson dkk.,1975).
Pada wanita yang kecil dengan ukuran panggul yang kecil, kelahiran bayi yang kecil
dengan berat lahir yang secara genetik dibawah berat lahir rata-rata untuk masyarakat
umum, tidak selalu merupakan kejadian yang tidak dikehendaki.

K. KOMPLIKASI PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT


Pertumbuhan Janin Terhambat yang tidak segera diberi tindakan penanganan
dokter dapat menyebabkan bahaya bagi janin hingga menyebabkan kematian. Kondisi
ini disebabkan karena terjadinya kondisi asupan nutrisi dan oksigenasi yang tidak
lancar pada janin. Jika ternyata hambatan tersebut masih bisa di tangani kehamilan
bisa dilanjutkan dengan pantauan dokter, sebaliknya jika sudah tidak bisa ditangani

[Type here]
maka dokter akan mengambil tindakan dengan memaksa bayi untuk dilahirkan
melalui operasi meski belum pada waktunya.

Komplikasi pada Pertumbuhan Janin Terhambat dapat terjadi pada janin dan ibu :

1. Janin
Antenatal : gagal nafas dan kematian janin

Intranatal : hipoksia dan asidosis

Setelah lahir :

a. Langsung:

 Asfiksia
 Hipoglikemi
 Aspirasi mekonium
 DIC
 Hipotermi
 Perdarahan pada paru
 Polisitemia
 Hiperviskositas sindrom
 Gangguan gastrointestinal
b. Tidak langsung

Pada simetris Pertumbuhan Janin Terhambat keterlambatan


perkembangan dimulai dari lambat dari sejak kelahiran, sedangkan
asimetris Pertumbuhan Janin Terhambat dimulai sejak bayi lahir di
mana terdapat kegagalan neurologi dan intelektualitas. Tapi prognosis
terburuk ialah Pertumbuhan Janin Terhambat yang disebabkan oleh
infeksi kongenital dan kelainan kromosom.

2. Ibu

 Preeklampsi
 Penyakit jantung
 Malnutrisi

[Type here]
L. PENATALAKSANAAN
Langkah pertama dalam menangani Pertumbuhan Janin Terhambat adalah
mengenali pasien-pasien yang mempunyai resiko tinggi untuk mengandung janin
kecil. Langkah kedua adalah membedakan janin Pertumbuhan Janin Terhambat atau
malnutrisi dengan janin yang kecil tetapi sehat. Langkah ketiga adalah menciptakan
metode adekuat untuk pengawasan janin pada pasien-pasien Pertumbuhan Janin
Terhambat dan melakukan persalinan di bawah kondisi optimal.

Untuk mengenali pasien-pasien dengan resiko tinggi untuk mengandung janin


kecil, diperlukan riwayat obstetrik yang terinci seperti hipertensi kronik, penyakit
ginjal ibu dan riwayat mengandung bayi kecil pada kehamilan sebelumnya. Selain itu
diperlukan pemeriksaan USG. Pada USG harus dilakukan taksiran usia gestasi untuk
menegakkan taksiran usia gestasi secara klinis. Kemudian ukuran-ukuran yang
didapatkan pada pemeriksaan tersebut disesuaikan dengan usia gestasinya.
Pertumbuhan janin yang suboptimal menunjukkan bahwa pasien tersebut
mengandung janin Pertumbuhan Janin Terhambat.

Tatalaksana kehamilan dengan Pertumbuhan Janin Terhambat ditujukan


karena tidak ada terapi yang paling efektif sejauh ini, yaitu untuk melahirkan bayi
yang sudah cukup usia dalam kondisi terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu.
Tatalaksana yang harus dilakukan adalah :

1. Pada Pertumbuhan Janin Terhambat pada saat dekat waktu melahirkan, yang
harus dilakukan adalah segera dilahirkan
2. Pada Pertumbuhan Janin Terhambat jauh sebelum waktu melahirkan, kelainan
organ harus dicari pada janin ini, dan bila kelainan kromosom dicurigai maka
amniosintesis (pemeriksaan cairan ketuban) atau pengambilan sampel
plasenta, dan pemeriksaan darah janin dianjurkan
a. Tatalaksana umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan
kromosom serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus
dibatasi disertai dengan nutrisi yang baik. Tirah baring dengan posisi
miring ke kiri, Perbaiki nutrisi dengan menambah 300 kal perhari, Ibu
dianjurkan untuk berhenti merokok dan mengkonsumsi alkohol,
Menggunakan aspirin dalam jumlah kecil dapat membantu dalam beberapa
kasus IUGR Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan maka harus

[Type here]
segera dirawat di rumah sakit. Pengawasan pada janin termasuk
diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta pertumbuhan janin
menggunakan USG setiap 3-4minggu

b. Tatalaksana khusus : pada Pertumbuhan Janin Terhambat yang terjadi jauh


sebelum waktunya dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan.
Apabila penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat maka nutrisi
harus diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat, penggunaan narkotik
dan alkohol, maka semuanya harus dihentikan

c. Proses melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin prematur.


Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk mencegah
komplikasi setelah melahirkan. Operasi caesar dilakukan apabila terjadi
distress janin serta perawatan intensif neonatal care segera setelah
dilahirkan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan kejadian distress janin
selama melahirkan meningkat pada Pertumbuhan Janin Terhambat karena
umumnya Pertumbuhan Janin Terhambat banyak disebabkan oleh
insufisiensi plasenta yang diperparah dengan proses melahirkan

3. Kondisi bayi.
Janin dengan Pertumbuhan Janin Terhambat memiliki risiko untuk
hipoksia perinatal (kekurangan oksigen setelah melahirkan) dan aspirasi
mekonium (terhisap cairan mekonium). Pertumbuhan Janin Terhambat yang
parah dapat mengakibatkan hipotermia (suhu tubuh turun) dan hipoglikemia
(gula darah berkurang). Pada umumnya Pertumbuhan Janin Terhambat
simetris dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan pertumbuhan bayi
yang terlambat setelah dilahirkan, dimana janin dengan Pertumbuhan Janin
Terhambat asimetris lebih dapat “catch-up” pertumbuhan setelah dilahirkan.

M. PENCEGAHAN
Beberapa penyebab dari Pertumbuhan Janin Terhambat tidak dapat dicegah.
Bagaimanapun juga, faktor seperti diet, istirahat, dan olahraga rutin dapat dikontrol.
Untuk mencegah komplikasi yang serius selama kehamilan, sebaiknya seorang ibu
hamil mengikuti nasihat dari dokternya; makan makanan yang bergizi tinggi; tidak

[Type here]
merokok, minum alkohol dan menggunakan narkotik; mengurangi stress; berolahraga
teratur; serta istirahat dan tidur yang cukup. Suplementasi dari protein, vitamin,
mineral, serta minyak ikan juga baik dikonsumsi. Selain itu pencegahan dari anemia
serta pencegahan dan tatalaksana dari penyakit kronik pada ibu maupun infeksi yang
terjadi harus baik.

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk Mencegah Pertumbuhan Janin


Terhambat pada janin untuk setiap ibu hamil sebagai berikut :

1. Usahakan hidup sehat

Konsumsilah makanan bergizi seimbang. Untuk kuantitas, makanlah seperti


biasa ditambah ekstra 300 kalori/hari.

2. Hindari stress selama kehamilan

Stress merupakan salah satu faktor pencetus hipertensi.

3. Hindari makanan obat-obatan yang tidak dianjurkan selama kehamilan

Setiap akan mengkonsumsi obat, pastikan sepengetahuan/resep dokter


kandungan.

4. Olah raga teratur

Olah raga (senam hamil) dapat membuat tubuh bugar, dan mampu
memberi keseimbangan oksigenasi, maupun berat badan.

5. Hindari alkohol, rokok, dan narkoba

6. Periksakan kehamilan secara rutin

Pada saat kehamilan, pemeriksaan rutin sangat penting dilakukan agar kondisi
ibu dan janin dapat selalu terpantau. Termasuk, jika ada kondisi Pertumbuhan Janin
Terhambat, dapat diketahui sedini mungkin. Setiap ibu hamil dianjurkan melakukan
pemeriksaan setiap 4 minggu sampai dengan usia kehamilan 28 minggu. Kemudian,
dari minggu ke 28-36, pemeriksaan dilakukan setidaknya setiap 2 minggu sekali.
Selanjutnya, lakukan pemeriksaan setiap 1 minggu sampai dengan usia kelahiran atau
40 minggu. Semakin besar usia kehamilan, semakin mungkin pula terjadi hambatan

[Type here]
atau gangguan. Jadi, pemeriksaan harus dilakukan lebih sering seiring dengan
bertambahnya usia kehamilan.

N. PROGNOSIS
Pada kasus-kasus Pertumbuhan Janin Terhambat yang sangat parah dapat
berakibat janin lahir mati (stillbirth) atau jika bertahan hidup dapat memiliki efek
buruk jangka panjang dalam masa kanak-kanak nantinya. Kasus-kasus Pertumbuhan
Janin Terhambat dapat muncul, sekalipun Sang ibu dalam kondisi sehat, meskipun,
faktor-faktor kekurangan nutrisi dan perokok adalah yang paling sering. Menghindari
cara hidup berisiko tinggi, makan makanan bergizi, dan lakukan kontrol kehamilan
(prenatal care) secara teratur dapat menekan risiko munculnya Pertumbuhan Janin
Terhambat. Perkiraan saat ini mengindikasikan bahwa sekitar 65% wanita pada
negara sedang berkembang paling sedikit memiliki kontrol 1 kali selama kehamilan
pada tenaga kesehatan, baik bidan maupun dokter.

EKLAMPSIA

DEFINISI
Preeklampsia dan eklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang
disebabkan langsung oleh kehamilan itu sendiri. Keduanya merupakan penyulit
kehamilan yang akut dan dapat terjadi ante, intra, dan post partum.
Preeklampsia adalah suatu sindroma spesifik kehamilan yang ditandai dengan
onset baru hipertensi disertai onset baru proteinuria.1,2 Meskipun kedua kriteria ini
dianggap sebagai definisi klasik preeklamsia, beberapa wanita dapat menunjukan
hipertensi tanpa proteinuria, namun disertai dengan gejala multisistemik yang
biasanya menunjukkan tingkat keparahan penyakit ini.
Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai dengan kejang tonik klonik disusul
dengan koma. Eklampsi sering didahului dengan gejala prodromal, seperti sakit
kepala hebat dan hiperrefleks, tetapi eklampsi juga dapat terjadi tanpa disertai gejala
tersebut.1

[Type here]
ETIOLOGI

Etiologi preeklampsi dan eklampsia sampai sekarang belum diketahui


dengan pasti. Banyak teori dikemukakan, tetapi belum ada yang mampu memberi
jawaban yang memuaskan, diantaranya dikaitkan dengan predisposisi genetic,
imunologi, endokrin, nutrisi, invasi trofoblas abnormal, abnormalitas koagulasi,
kerusakan endotel vascular, maladaptasi kardiovaskular, defisiensi atau kelebihan
diet dan infeksi dan produksi prostanoid dan peningkatan antiphospolipid plasma
juga berimplikasi pada terjadinya eclampsia.3
Sedikitnya terdapat empat hipotesis mengenai etiologi preeklampsia hingga
saat ini, yaitu:2

1. Iskemia plasenta, yaitu invasi trofoblas yang tidak normal terhadap arteri
spiralis sehingga menyebabkan berkurangnya sirkulasi uteroplasenta yang
dapat berkembang menjadi iskemia plasenta.4
2. Maladaptasi maternal terhadap perubahan kardiovaskular atau inflamatori dari
kehamilan normal.

3. Maladaptasi imunologi antara maternal, paternal (plasenta), dan jaringan


fetus. Maladaptasi ini menyebabkan gangguan invasi arteri spiralis oleh sel-
sel sinsitiotrofoblas dan disfungsi sel endotel yang diperantarai oleh
peningkatan pelepasan sitokin, enzim proteolitik dan radikal bebas.
4. Genetik.
Teori yang paling diterima saat ini adalah teori iskemia plasenta.
Namun, banyak faktor yang menyebabkan preeklampsia dan di antara faktor-
faktor yang ditemukan tersebut seringkali sukar ditentukan apakah faktor
penyebab atau merupakan akibat.

[Type here]
Gambar 1. Etiologi preeklampsia menurut teori iskemik plasenta
Implantasi plasenta pada kehamilan normal dan PE. Implantasi plasenta normal yang
memperlihatkan proliferasi trofoblas ekstravilus membentuk satu kolom di bawah
vilus penambat. Trofoblas ekstravilus menginvasi desidua dan berjalan sepanjang
bagian dalam arteriol spiralis. Hal ini menyebabkan endotel dan dinding pembuluh
vaskular diganti diikuti oleh pembesaran pembuluh darah.

FAKTOR RESIKO
Faktor risiko preeklampsia dan eklampsi lain di antaranya adalah5

1. nullipara
2. kehamilan ganda, mola hidatidosa, hydrops fetalis, primigravida
3. obesitas
4. riwayat keluarga dengan preeklampsia atau eklampsia
5. riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
6. abnormalitas uterus yang diperoleh pada Doppler pada usia kandungan
18 dan 24 minggu
7. diabetes melitus gestasional
8. trombofillia antiphospolipid antibody syndrome
9. hipertensi atau penyakit ginjal

[Type here]
10. defisiensi antithrombin
11. Systemic lupus erythematous

Klasifikasi

Menurut saat timbulnya, eklampsia dibagi atas:6


1. eklampsia antepartum (eklampsia gravidarum), yaitu eklampsia yang
terjadi sebelum masa persalinan 4-50%

2. eklampsia intrapartum (eklampsia parturientum), yaitu eklampsia yang


terjadi pada saat persalinan 4-40%

3. eklampsia postpartum (eklampsia puerperium), yaitu eklampsia yang


terjadi setelah persalinan 4-10%

Epidemiologi
Insidens preeklampsia sebesar 4–5 kasus per 10.000 kelahiran hidup pada
negara maju.6 Di negara berkembang insidensnya bervariasi antara 6–10 kasus per
10.000 kelahiran hidup. 7
Frekuensi eklampsia bervariasi antara satu negara dengan negara yang lain.
Frekuensi rendah pada umumnya merupakan petunjuk tentang adanya pengawasan
antenatal yang baik, penyediaan tempat tidur antenatal yang cukup, dan penanganan
preeklampsia yang sempurna. Di negara-negara berkembang frekuensi eklampsia
berkisar antara 0,3% - 0,7%, sedangkan di negara-negara maju angka tersebut lebih
kecil, yaitu 0,05% - 0,1%. .

GEJALA DAN TANDA


Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya preeklampsia dan
terjadinya gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal, gangguan penglihatan, mual
yang hebat, nyeri epigastrium, dan hiperreflexia. Bila keadaan ini tidak dikenal dan tidak
segera diobati, akan timbul kejang. 2,3,7
Konvulsi eklampsia dibagi dalam 4 tingkat, yakni :

1. Stadium Invasi (tingkat awal atau aura)

Mula-mula gerakan kejang dimulai pada daerah sekitar mulut dan


gerakan-gerakan kecil pada wajah. Mata penderita terbuka tanpa

[Type here]
melihat, kelopak -mata dan tangan bergetar. Setelah beberapa detik
seluruh tubuh menegang dan kepala berputar ke kanan dan ke kiri. Hal ini
berlangsung selama sekitar 30 detik.
2.Stadium kejang tonik

Seluruh otot badan menjadi kaku, wajah kaku, tangan menggenggam dan
kaki membengkok ke dalam, pernafasan berhenti, muka mulai kelihatan
sianosis, dan lidah dapat tergigit. Stadium ini berlangsung kira-kira 20 -
30 detik.
3. Stadium kejang klonik

Spasmus tonik menghilang. Semua otot berkontraksi berulang-ulang


dalam tempo yang cepat. Mulut terbuka dan menutup, keluar ludah
berbusa, lidah dapat tergigit, mata melotot, muka kelihatan kongesti, dan
sianotik. Kejang klonik ini dapat demikian hebatnya hingga penderita
dapat terjatuh dari tempat tidurnya. Setelah berlangsung selama 1 - 2
menit, kejang klonik berhenti dan penderita tidak sadar, menarik nafas
seperti mendengkur.
4. Stadium koma

Koma berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam. Secara


perlahan-lahan penderita mulai sadar kembali. Kadang-kadang antara
kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya penderita tetap dalam
keadaan koma

Diagnosis

Diagnosis eklampsia umumnya tidak mengalami kesukaran. Dengan


adanya tanda dan gejala preeklampsia yang disusul oleh serangan kejang
seperti telah diuraikan, diagnosis eklampsia sudah tidak diragukan.
Walaupun demikian, eklampsia harus dibedakan dari :2,3,7
1. Epilepsi

Pada anamnesis pasien epilepsi akan didapatkan episode serangan sejak


sebelum hamil atau pada hamil muda tanpa tanda preeklampsia.
2. Kejang karena obat anestesi

Apabila obat anestesi lokal disuntikkanke dalam vena, kejang baru timbul.

[Type here]
3. Koma karena sebab lain, seperti diabetes melitus, perdarahan otak,
meningitis, ensefalitis, dan lain-lain.

2.2.1 Prognosis

Kriteria Eden adalah kriteria untuk menentukan prognosis eklampsia. Kriteria


Eden antara lain:
1. koma yang lama (prolonged coma)
2. nadi diatas 120
3. suhu 39,4°C atau lebih
4. tekanan darah di atas 200 mmHg
5. konvulsi lebih dari 10 kali
6. proteinuria 10 g atau lebih
7. tidak ada edema, edemamenghilang

Bila tidak ada atau hanya satu kriteria di atas, eklampsia masuk ke kelas
ringan; bila dijumpai 2 atau lebih masuk ke kelas berat dan prognosis
akan lebih buruk.
Tingginya kematian ibu dan bayi di negara-negara berkembang
disebabkan oleh kurang sempurnanya pengawasan masa antenatal dan
natal. Penderita eklampsia sering datang terlambat sehingga terlambat
memperoleh pengobatan yang tepat dan cepat. Biasanya preeklampsia
dan eklampsia murni tidak menyebabkan hipertensi menahun.

PENATALAKSANAAN1,6,7

Penanganan preeklampsia berat dan eklampsia sama, kecuali bahwa persalinan harus
berlangsung dalam 6 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsia.

Pengelolaan kejang:

▪ Beri obat anti kejang (anti konvulsan)


▪ Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, penghisap lendir, masker
oksigen, oksigen)
▪ Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
▪ Aspirasi mulut dan tenggorokan

[Type here]
▪ Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi Trendelenburg untuk mengurangi risiko
aspirasi

▪ Berikan O2 4-6 liter/menit

Pengelolaan umum

▪ Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan
diastolik antara 90-100 mmHg
▪ Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar no.16 atau lebih
▪ Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload
▪ Kateterisasi urin untuk pengukuran volume dan pemeriksaan proteinuria
▪ Infus cairan dipertahankan 1.5 - 2 liter/24 jam
▪ Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat
mengakibatkan kematian ibu dan janin
▪ Observasi tanda vital, refleks dan denyut jantung janin setiap 1 jam
▪ Auskultasi paru untuk mencari tanda edema paru. Adanya krepitasi
merupakan tanda adanya edema paru. Jika ada edema paru, hentikan
pemberian cairan dan berikan diuretik (mis. Furosemide 40 mg IV)
▪ Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan. Jika pembekuan tidak terjadi
setelah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati

Anti konvulsan

Magnesium sulfat merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi


kejang pada preeklampsia dan eklampsia. Alternatif lain adalah Diasepam,
dengan risiko terjadinya depresi neonatal.

MAGNESIUM SULFAT UNTUK PREEKLAMPSIA DAN EKLAMPSIA

Alternatif I Dosis awal MgSO4 4 g IV sebagai larutan 40% selama 5 menit

Segera dilanjutkan dengan 15 ml MgSO4 (40%) 6 g dalam


larutan Ringer Asetat / Ringer Laktat selama 6 jam

Jika kejang berulang setelah 15 menit, berikan MgSO4


(40%) 2 g IV selama 5 menit
Dosis Pemeliharaan
MgSO4 1 g / jam melalui infus Ringer Asetat / Ringer

[Type here]
Laktat yang diberikan sampai 24 jam postpartum

Alternatif II Dosis MgSO4 4 g IV sebagai larutan 40% selama 5 menit


awal Dosis Diikuti dengan MgSO4 (40%) 5 g IM dengan 1 ml
pemeliharaan Lignokain (dalam semprit yang sama)
Pasien akan merasa agak panas pada saat pemberian MgSO4
Frekuensi pernafasan minimal 16 kali/menit
Sebelum pemberian
Refleks patella (+)
MgSO4 ulangan, lakukan
Urin minimal 30 ml/jam dalam 4 jam
pemeriksaan:
terakhir Frekuensi pernafasan < 16
Hentikan pemberian kali/menit
MgSO4, jika:
Refleks patella (-), bradipnea (<16 kali/menit)
Siapkan antidotum

Jika terjadi henti nafas:


Bantu pernafasan dengan ventilator
Berikan Kalsium glukonas 1 g (20 ml dalam larutan 10%)
IV perlahan-lahan sampai pernafasan mulai lagi

DIASEPAM UNTUK PREEKLAMPSIA DAN EKLAMPSIA

Dosis awal Diasepam 10 mg IV pelan-pelan selama 2 menit


Jika kejang berulang, ulangi pemberian sesuai dosis awal
Dosis pemeliharaan Diasepam 40 mg dalam 500 ml larutan Ringer laktat melalui
infus Depresi pernafasan ibu baru mungkin akan terjadi bila
dosis > 30 mg/jam
Jangan berikan melebihi 100 mg/jam

Anti hipertensi

▪ Obat pilihan adalah Nifedipin, yang diberikan 5-10 mg oral yang dapat
diulang sampai 8 kali/24 jam

[Type here]
▪ Jika respons tidak membaik setelah 10 menit, berikan tambahan 5 mg
Nifedipin sublingual.
▪ Labetolol 10 mg oral. Jika respons tidak membaik setelah 10 menit, berikan
lagi Labetolol 20 mg oral.

Persalinan

▪ Pada preeklampsia berat, persalinan harus terjadi dalam 24 jam, sedangkan


pada eklampsia dalam 6 jam sejak gejala eklampsia timbul
▪ Jika terjadi gawat janin atau persalinan tidak dapat terjadi dalam 12 jam
(pada eklampsia), lakukan bedah Caesar
▪ Jika bedah Caesar akan dilakukan, perhatikan bahwa:
- Tidak terdapat koagulopati. (koagulopati merupakan kontra indikasi anestesi
spinal).
- Anestesia yang aman / terpilih adalah anestesia umum untuk eklampsia
dan spinal untuk PEB. Dilakukan anestesia lokal, bila risiko anestesi
terlalu tinggi.
▪ Jika serviks telah mengalami pematangan, lakukan induksi dengan
Oksitosin 2-5 IU dalam 500 ml Dekstrose 10 tetes/menit atau dengan cara
pemberian prostaglandin / misoprostol

Perawatan post partum

▪ Anti konvulsan diteruskan sampai 24 jam postpartum atau kejang yang terakhir
▪ Teruskan terapi hipertensi jika tekanan diastolik masih > 90 mmHg
▪ Lakukan pemantauan jumlah urin

Rujukan

▪ Rujuk ke fasilitas yang lebih lengkap, jika:


- Terdapat oliguria (< 400 ml/24 jam)
- Terdapat sindroma HELLP
- Koma berlanjut lebih dari 24 jam setelah kejang

[Type here]
DAFTAR PUSTAKA

1. Alkalay A, 2008. IUGR. http://pdfcontact.com/ebook/pengertian_iugr.html


2. Chatelain F, 2010. Children Born With IUGR.
http//www.sav.sk/journals/endo/full/er0100f.pdf.
3. Cunninghan FG, Gant NF, Leveno KJ, et al, 2005. Obstetri Williams Vol
1/Edisi 21. EGC. Jakarta.
4. Harper T, 2008. Fetal Growth Restriction. http://www.emedicine.com.
5. JamesWD, 2009. IUGR.http://freedownloadbooks.net/-IUGR-pdf.html
6. Rockville P and Bethesda, 2010. IUGR.
http://idmgarut.wordpress.com/2009/01/26/intra-uterine-growth-retardation-
iugr/
7. Sasongko W, 2009. Pertumbuhan Janin Terhambat. http://www.botefilia.com.
8. Sharoon C, 2010. Intrauterine Growth Restriction.
http//www.imagingpathways.health.wa.gov.au/includes/pdf/iugr.pdf-
9. American College of Obstetricians and Gynecologist. Hypertension in
Pregnancy. ACOG Practice Bulletin no.29. Washington, DC: American
College of Obstetricians and Gynecologist, 2013.
10. Cunningham F.G, Lveno K.J, Bloom S.L, Spong C.Y, Dashe J.S, Hoffman
B.L et al. Williams obstetrics. 24th Edition. Mc Graw Hill; USA: 2014.116-9

11. Gabbe. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. Hypertension. 5th ed.
Churchill Livingstone, An Imprint of Elsevier; 2007.
12. Warrington JP. Placental ischemia increases seizure susceptibility and
cerebrospinal fluid cytokines. Physiol Rep. 2015 Nov. 3 (11)
13. Mattar F, Sibai BM. Eclampsia. VIII. Risk factors for maternal morbidity. Am
J Obstet Gynecol. 2000 Feb. 182(2):307-12.
14. Saifudin AB. Ilmu kebidanan sarwono prawirohardjo. Jakarta: Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2016. H.533-41.
15. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku saku pelayanan kesehatan
ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan. Jakarta: Bakti Husada; 2013.
H.112-7.
16. Sibai BM, Sarinoglu C, Mercer BM. Eclampsia. VII. Pregnancy outcome after
eclampsia and long-term prognosis. Am J Obstet Gynecol. 1992 Jun. 166(6 Pt
1):1757-61; discussion 1761-3.

[Type here]