Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN

PRAKTIKUM KIMIA KLINIK


(PEMERIKSAAN KADAR ASAM URAT PADA SERUM)

OLEH
KELOMPOK 5 :

1) Ni Komang Ayu Widyantari (P07134018 064)


2) Ni Kadek Diah Tri Yunita Dewi (P07134018 078)
3) I Kadek Arimerta Wibawa (P07134018 082)
4) Luh Gede Meilia Ayu Suari Putri (P07134018 087)
5) Ni Kadek Ayu Swandewi (P07134018 096)
6) Komang Wahyu Junyatmika (P07134018 101)
7) Desak Made Dwi Pitriawati (P07134018 105)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
2020
I. TUJUAN
1. Tujuan Umum
a. Mahasiswa mampu mengetahui prinsip pemeriksaan asam urat pada sampel
serum
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan asam urat pada sampel serum.
b. Mahasiswa mampu menginterpretasikan hasil dari pemeriksaan casam urat
pada sampel serum.

II. METODE

Enzymatic-Calorimetric

III. PRINSIP

𝑈𝑟𝑖𝑐𝑎𝑠𝑒
Uric acid + 2H2O + O2 → Allantoine + CO2 + H2O2

𝑃𝑒𝑟𝑜𝑥𝑖𝑑𝑎𝑠𝑒
H2O2 + EHSPT + 4-AAP → Quinoneimine + 4H2O

4-AAP : amino-4-Antipyrine

EHSPT : N-Ethyl-N-(2(Hydroxy-3-Sulfopropyl)-m-Toludine

IV. DASAR TEORI

Darah adalah sejenis jaringan ikat yang sel-selnya (elemen pembentuk)


tertahan dan dibawah oleh matriks cairan (plasma). Darah lebih berat dibandingkan
air dan lebih kental. Cairan ini memiliki rasa dan bau yang khas, serta pH 7,4.(7,35 –
7,45). Warna darah berfariasi dari merah terang sampai merah tua kebiruan
bergantung pada kadar oksigen yang dibawah oleh sel darah merah. Volume darah
total sekitar 5 liter pada laki-laki dewasa berukuran rata-rata dan kurang sedikit padda
perempuan dewasa. Volume ini bervariasi sesuai ukuran tubuh dan berbanding
terbalik dengan jumlah jaringan adiposa dalam tubuh. Volume ini juga bervariasi
sesuai perubahan cairan darah dan konsentrasi elektrolitnya (Sloane:2003).
Susunan darah terdiri dari serum darah atau plasma yang terdiri dari air (90%),
protein (80% terdiri dari albumin, globulin, protrombin dan fibrinogen), mineral
(0,9% terdiri dari natrium klorida, natrium bikarbonat, garam dan kalsium, fosfor,
magnesium, dan besi), Gas (oksigen dan karbondioksida), hormon-hormon, enzim
dan antigen (Alwy, 2004).
Serum merupakan cairan darah yang berwarna kuning. Didalam serum terdapat
dua protein yaitu albumin dan globullin. Antibodi berada di dalam serum dikarenakan
Antibodi golongan darah merupakan protein globulin, yang bertanggung jawab
sebagai kekebalan tubuh alamiah untuk melawan antigen asing. Komposisi serum
sama dengan plasma yaitu 91% air, 8% protein, dan 0,9% mineral. Akan tetapi
didalam serum tidak ada faktor pembekuan (fibrinogen). Dikarenakan serum tidak
diberi anti koagulan, fibrinogen dapat diubah menjadi benang-benang fibrin sehingga
terjadi pembekuan darah. Dimana antikoagulan ini mengikat kalsium sebagai faktor
pembekuan sehingga fibrinogen tidak di ubah menjadi benang-benang fibrin (Oktari,
2016).
Asam urat merupakan hasil metabolisme akhir dari purin yaitu salah satu
komponen asam nukleat yang terdapat dalam inti sel tubuh. Peningkatan kadar asam
urat dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh manusia seperti perasaan linu-linu di
daerah persendian dan sering disertai timbulnya rasa nyeri yang teramat sangat bagi
penderitannya. Penyakit ini sering disebut penyakit gout atau lebih dikenal dengan
penyakit asam urat (Andry, 2009).
Asam urat adalah hasil metabolisme purin dalam tubuh. Zat asam urat ini
biasanya akan dikeluarkan oleh ginjal melalui urine dalam kondisi normal. Namun
dalam kondisi tertentu, ginjal tidak mampu mengeluarkan zat asam urat secara
seimbang, sehingga terjadi kelebihan dalam darah. Kelebihan zat asam urat ini
akhirnya menumpuk dan tertimbun pada persendian-persendian dan tempat lainnya
termasuk di ginjal itu sendiri dalam bentuk kristal-kristal. Asam urat terutama
disintesis dalam hati yang dikatalisis oleh enzim xantin oksidase. Asam urat diangkut
ke ginjal oleh darah untuk filtrasi, direabsorbsi sebagian, dan diekskresi sebagian
sebelum akhirnya diekskresikan melalui urine. Peningkatan kadar asam urat dalam
urine dan serum bergantung pada fungsi ginjal, kecepatan metabolisme purin, dan
asupan diet makanan yang mengandung purin. (Syamsuhidayat dan Wim de Jong,
2004)
Asam urat terutama disintesis dalam hati yang dikatalisis oleh enzim xantin
oksidase. Asam urat diangkut ke ginjal oleh darah untuk filtrasi, direabsorbsi
sebagian, dan diekskresi sebagian sebelum akhirnya diekskresikan melalui urin.
Peningkatan kadar asam urat dalam urin dan serum bergantung pada fungsi ginjal,
kecepatan metabolisme purin, dan asupan diet makanan yang mengandung purin
(Hamdani, 2012).
Kadar asam urat dapat diketahui melalui hasil pemeriksaan darah dan urin.
Nilai rujukan kadar darah asam urat normal pada laki-laki yaitu 3.6 - 8.2 mg/dl
sedangkan pada perempuan yaitu 2.3 - 6.1 mg/dl (Martsiningsih, 2016).
Dalam beberapa keadaan, misalnya konsumsi makanan yang mengandung
purin tinggi, atau karena ginjal kurang mampu mengeluarkannya dalam tubuh, maka
kadar asam urat dalam darah akan meningkat. Kadar asam urat dalam darah adalah
laki - laki 3,4-7,7 mg/dL, perempuan 2,5-5,5 mg/dL dan anak-anak 2,0-2,5
mg/dL.Peningkatan kadar asam urat dalam darah disebut juga hiperurisemia. Keadaan
ini dapat menyebabkan penumpukan kristal asam urat di persendian dan
menimbulkan peradangan di daerah tersebut. Kondisi menetapnya hiperurisemia
menjadi predisposisi (faktor pendukung) seseorang mengalami radang sendi akibat
asam urat (gout arthritis), batu ginjal akibat asam urat ataupun gangguan ginjal.
(Misnadiarly, 2009)
Jenis-jenis asam urat yaitu (Ahmad,2011) :
a. Gout primer
Pada gout primer, 99 persen penyebabnya belum diketahui (idiopatik).
Diduga berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan factor hormonal yang
menyebabkan gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan meningkatnya
produksi asam urat atau bisa juga diakibatkan karena berkurangnya pengeluaran
asam urat dari tubuh.
b. Gout sekunder
Pada gout sekunder disebabkan antara antara lain karena meningkatnya
produksi asam urat karena nutrisi, yaitu mengonsumsi makanan dengan kadar
purin tinggi. Purin adalah salah satu senyawa basa organik yang menyusun asam
nukleat (asam inti dari sel) dan termasuk asam amino, unsur pembentuk protein.
Produksi asam urat juga akan meningkat apabila adanya penyakit darah (penyakit
sumsum tulang, polisetemia), mengonsumsi alkohol, dan penyebab lainnya adalah
faktor obesitas (kegemukan), penyakit kulit (psoriasis), kadar trigiserin yang
tinggi.
Penyebab asam urat yaitu (Ahmad, 2011) :
a. Faktor dari luar
Penyebab asam urat yang paling utama adalah makanan atau factor dari
luar. Asam urat dapat meningkat dengan cepat antara lain disebabkan karena
nutrisi dan konsumsi makanan dengan kadar purin tinggi.
b. Faktor dari dalam
Adapun faktor dari dalam adalah terjadinya proses penyimpangan
metabolisme yang umumnya berkaitan dengan faktor usia, dimana usia diatas 40
tahun atau manula beresiko besar terkena asam urat. Selain itu, asam urat bisa
disebabkan oleh penyakit darah, penyakit sumsum tulang dan polisitemia,
konsumsi obat – obatan, alkohol, obesitas, diabetes mellitus juga bisa
menyebabkan asam urat.
Pemeriksaan kadar asam urat dilakukan untuk menegakkan diagnosis,
pemantauan terapi, menilai komplikasi maupun sebagai salah satu pemeriksaan
kesehatan yang rutin dilakukan. Pemeriksaan metode spektrofotometri adalah metode
yang paling sering digunakan dan merupakan pemeriksaan baku emas, tetapi
pemeriksaan dengan metode ini mengharuskan penderita harus pergi ke laboratorium
untuk pengambilan darah vena yang pengambilannya memerlukan tenaga ahli
sehingga pemeriksaan ini dirasa kurang praktis. Sebagai alternatif pemeriksaan kadar
asam urat didapatkan pemeriksaan dengan metode electrode-based biosensor yang
menggunakan bahan pemeriksaan darah kapiler sehingga pemeriksaan ini lebih
praktis karena dapat dikerjakan sendiri di rumah dan lebih ekonomis (Malhotra,
2003).
Uraian Sampel
1. Darah
Komposisi Darah (Evelyn 2013)
Air : 91,0%
Protein : 8,0% (albumin, globulin, protromblin dan fibrinogen).
Mineral : 0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam
kalsium, fosfor, magnesium, besi dan seterusnya).
Bahan Organik : Glukosa, lemak, urea, asam urat, kreatinin, kolesterol
dan asam amino.
Uraian Bahan
1. Aquadest (Dirjen POM, 1979 : 96)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Air suling
RM : H2O
RS : H—O—H
BM : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau.
Kelarutan : Larut dalam etanol gliser
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Zat tambahan, pelarut

2. Komposisi Reagen (R) :


Buffer fosfat pH 7,0 100 mmol/L
EHSPT 0,72 mmol/L
Ferosianida 0,03 mmol/L
Amino-4-antipirin 0,37 mmol/L
Uricase ≥ 150 U/L
Peroksidase ≥ 12000 U/L
STANDAR :
Asam urat 6mg/dL
357ol/L

V. ALAT DAN BAHAN


- Alat
1. Mikropipet + tip
2. Spektrofotometer
3. Tabung serologi
4. Rak Tabung
5. Beaker Glass
6. Centrifuge

- Bahan, Reagen merk Elitech


 Reagen ( R )
o Phosfat buffer, pH 7,0 100 mmol/L
o EHSPT 0,72 mmol/L
o Ferrocyanide 0,03 mmol/L
o Amino-4-Antipyrine 0,37 mmol/L
o Uricase ≥ 150 U/L
o Peroxidase ≥ 12.000 U/L
o Sodium azide < 0.1 %
 Standar (lihat pada kemasan luar botol standar)
 Sampel serum darah

VI. CARA KERJA DAN INTERPRETASI HASIL


CARA KERJA (ERBA)
1. Reagen 1 dan 2 dicampurkan dengan perbandingan 4 : 1 (contoh : 1000 uL R1
dengan 250 uL R2) homogenkan → WR (working reagen)
2. Setelah disiapkan WR maka dilanjutkan dengan prosedur dalam tabel :
Blank Standar Sampel
Reagen (R) 500 µl 500µl 500µl
Destilate water 12 µl
Standar 12 µl
Sampel 5µl
Homogenkan, inkubasi 4 menit, 30 detik dibaca dengan panjang gelombang 546
nm.
INTERPRETASI HASIL
Ureum serum/plasma
3.5 – 7.2 mg/dl
Laki – laki
208 - 428 µmol/L
2.6 – 6.0 mg/dl
Perempuan
155 - 375 µmol/L

VII. HASIL PENGAMATAN


HASIL ASAM URAT

No Keterangan Dokumentasi
1 Pembuatan blanko (500 µL reagen +
12 µL destilate water)
Hasil pengukuran = 0,0134 mg/dL
2 Pembuatan standar (500 µL reagen +
12 µL standar)
Hasil pengukuran = 0,1562 mg/dL
3 Pembuatan sampel uji mahasiswa (500
µL reagen + 12 µL sampel serum
mahasiswa) dan hasil pengukurannya
pada alat
Hasil pengukuran = 3,62 mg/dL
4 Pembuatan sampel uji patologis (500
µL reagen + 12 µL sampel serum
patologis) dan hasil pengukurannya
pada alat
Hasil pengukuran = 5,59 mg/dL
Hasil pemeriksaan

1. Serum darah mahasiswa


Nama : Luh Gede Meilia Ayu Suari Putri
Umur : 19 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pada pemeriksaan asam urat dengan alat Spektrofotometer merk Erba
didapatkan hasil kadar asam urat mahasiswa sebesar 3,62 mg/dL.

2. Serum darah patologis


Nama : Jonas Floriano Guteres Correla (161S)
Umur : 33 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pada pemeriksaan asam urat dengan alat Spektrofotometer merk Erba
didapatkan hasil kadar asam urat sampel patologis sebesar 5,59 mg/dL.
Sedangkan pada hasil yang dapatkan dari form pemeriksaan RSUP Sanglah
didapatkan hasil kadar asam urat patologis adalah sebesar 6,3 mg/dL.

(sampel patologis) (sampel mahasiswa)

VIII. PEMBAHASAN

Asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang merupakan


hasil akhir dari metabolisme purin (bentuk turunan nukleoprotein), yaitu salah
satu komponen asam nukleat yang terdapat pada inti sel-sel tubuh. Asam urat
merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh, yang kadarnya tidak boleh berlebih
(Syukri. 2007).

Metode yang digunakan dalam pemeriksaan ini metode Enzymatic-


Colorimetric Tiden end point. Adapun prinsip dari pemeriksaan asam urat ini
yaitu Asam urat dioksidasi oleh enzim uricase membentuk allanton, CO 2 dan
perioksida, dengan bantuan enzim peroksida, peroksida yang terbentuk akan
bereaksi dengan 4- amino antipyrine dan 3,5 dicloro sulphonate membentuk
senyawa yang berwarna merah muda. Nilai rujukan yang digunakan dalam
analisis kuantitatif asam urat, yaitu untuk laki – laki 3,5 – 7,2 mg/dl, perempuan
2,6 – 6,0 mg/dl, saat dalam kondisi panik > 12 mg/dl, dan untuk anak – anak 2,5
– 5,5 mg/dl, serta lansia 3,5 – 8,0 mg/dl (Syukri. 2007).

Kolorimetri merupakan metode untuk mengukur konsentrasi komponen


biokimia menggunakan sinar putih yang dilewatkan melalui larutan berwarna, lalu
diukur beberapa panjang gelombang yang diabsorpsi lebih dari yang lain.
Beberapa komponen yang tidak berwarna direaksikan dengan pereaksi yang
sesuai, sehingga dapat menyerap cahaya pada daerah sinar tampak. Reaksi
tersebut seringkali sangat spesifik dan pada banyak kasus ternyata sangat sensitif,
sehingga jumlah materi pada konsentrasi mmol/L dapat diukur (Bintang, 2010).

Jumlah asam urat dalam tubuh dicerminkan oleh kadar natrim urat dalam
serum darah. Bila kadar natrium urat dalam serum melampaui daya larutnya maka
serum menjadi sangat jenuh (keadaan ini dinamakan hiperusemia) dan dapat
menstimulir terbentuknya kristal natrium urat yang mengendap. Daya larut
natrium urat dalam serum pada suhu 37°C adalah 7 mg/dL, bila melebihi angka
ini, keadaanya disebut hiperusemia. Pada suhu yang lebih rendah, kelarutan asam
urat dalam serum semakin rendah ( Krisnatuti, 2008).

Asam urat (gout) disebabkan oleh deposit kristal asam urat di dalam sendi.
Penambahan asam urat di dalam darah dapat menyebabkan timbulnya Kristal-
kristal diberbagai bagian tubuh, termasuk kulit dan ginjal, tetapi sendilah yang
terutama dan paling mudah dihinggapi. Begitu kristal-kristal tersebut ada, mereka
dapat tersebar ke dalam rongga sendi, dan mencetuskan suatu peradangan akut
dengan kata lain suatu serangan gout. Gout merupakan konsekuensi kekurangan
enzim uric acid oxidase atau uricase yang dapat mengoksidasi asam urat menjadi
senyawa yang sangat larut air. Hiperusemia merupakan akibat peningkatan
produksi asam urat, penurunan ekskresi asam urat atau kombinasi keduanya.
Sebagian besar disebabkan oleh penurunan ekskresi asam urat (Setyohadi, 2009).
Peningkatan kadar asam urat dalam serum dapat disebabkan oleh
meningkatnya produksi asam urat atau menurunnya pengeluaran asam urat.
Apabila produksi asam urat meningkat, akan terjadi peningkatan pool asam urat,
hiperurisemia, dan pengeluaran asam urat melalui urin meningkat. Peningkatan
produksi asam urat dapat disebabkan oleh tingginya konsumsi bahan pangan yang
mengandung purin atau meningkatnya sintesa purin dalam tubuh, misalnya
terserang penyakit inborn errors of metabolisme purin pada tumor. Terjadinya
penurunan pengeluaran asam urat biasanya disebabkan adanya gangguan ginjal
atau pengaruh pemberian obat atau pengaruh beberapa jenis zat gizi yang dapat
menghambat pengeluaran asam urat (Krisnatuti, 2008).

Jalur kompleks pembentukan asam urat dimulai dari ribose 5-phosphate,


suatu pentose yang berasal dari glycidic metabolism, dirubah menjadi PRPP
(phosphoribosyl pyrophosphate) dan kemudian phosphoribosilamine, lalu
ditransformasi menjadi inosine monophosphate (IMP). Dari senyawa perantara
yang berasal dari adenosine monophosphate (AMP) dan guanosine monophosphate
(GMP), purinic nucleotides digunakan untuk sintesis DNA dan RNA, serta inosine
yang kemudian akan mengalami degradasi menjadi hypoxanthine, xanthine dan
akhirnya menjadi uric acid.

Pemeriksaan asam urat dapat dilakukan dengan menggunakan serum atau


plasma heparin, maupun urine. Spesimen berupa serum darah dengan antikoagulan
EDTA diambil 3 – 4 ml darah yang berasal dari pembuluh vena, Sebelum dilakukan
pengujian dilakukan terlebih dahulu darah disentrifuge selama 15 menit dengan
kecepatan 3000 rpm, hal ini dilakukan untuk memisahkan antara serum dan plasma
darah. Pada percobaan ini yang diambil adalah serumnya setelah darah disentrifuge,
alasan pengambilan serum karena di bagian serum itu terdapat asam urat dan apa
bila bagian yang mengendapnya diambil sulit untuk dibaca oleh alat spektrofometer.

Adapun cara kerjanya yaitu disiapkan 4 buah tabung serologi, dipipet reagen
R sebanyak 500 µL kedalam masing-masing tabung. Pertama pembuatan larutan
blanko dengan menambahkan 12 µL destilate water kedalam tabung serologi 1 yang
berisi reagen R. Kedua pembuatan standar, dipipet larutan standar sebanyak 12 µL
masukan kedalam tabung serologi 2 yang telah berisi reagen R kemudian terakhir
pembuatan sampel, adapun sampel yang kami gunakan yaitu sampel mahasiswa dan
sampel kilnis, masing-masing sampel dipipet sebanyak 12 µL kemudian masukan
kedalam tabung serologi 3 dan 4 yang telah berisis reagen R. Masing-masing tabung
diinkubasi selama 4 menit pada suhu 37o laliu diukur absorban pada
spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm.
Alasan penggunaan reagen R karena reagen R merupakan reagen yang spesifik
untuk pengukuran asam urat dan alasan dilakukan inkubasi pada suhu ruangan
selama beberapa menit, hal ini dimaksudkan agar reagen dan sampel dapat
bercampur dengan baik. Penggunaan blangko bertujuan untuk menghilangkan
pengaruh pelarut, sehingga hasil yang didapat adalah hasil yang sebenarnya, tidak
ada pengaruh dari pelarut yang digunakan. Sementara pengukuran standar
dilakukan untuk membandingkan hasil supaya yang terukur benar-benar senyawa
yang dituju.
Adapun hasil pengamatan dari pemeriksaan kadar asam urat didalam serum
darah pasien atas nama Luh Gede Meilia Ayu Swari Putri, berumur 19 tahun, jenis
kelamin perempuan kadar asam urat pasien 3,62 mg/dL sedangkan pada pasien
(klinis) atas nama Jonas Fluriano, berumur 33 tahun, jenis kelamin laki-laki
didapatkan hasil pengukuran kadar asam urat pasien 5,59 mg/dL. Dari pemeriksaan
tersebut hasil pengukuran asam urat kedua pasien normal.
Adapun factor-faktor kesalahan yang dapat terjadi yaitu :
1. Cara memipet yang kurang tepat. Pemipetan yang tidak benar dapat
memengaruhi hasil karena banyak atau sedikitnya larutan yang dimasukkan
sangat berpengaruh terhadap hasil.
2. Waktu inkubasi Waktu inkubasi yang tidak tepat juga sangat memengaruhi
hasil pemeriksaan.

3. Kondisi alat yag diguakan

Alat yang digunakan, harus dalam keadaan baik dan terkalibrasi dengan
baik supaya hasil yang didapat merupakan hasil yang sebenarnya.
4. Cara membawa tabung Membawa tabung dari meja praktikum ke meja
spektrofotometer pun harus dilakukan dengan prosedur yang sesuai. Karena
apabila cara membawa tabung dengan cara digenggam oleh tangan, maka
aka dipengaruhi oleh suhu tubuh (tidak hanya oleh suhu ruang), maka hasil
yang didapat pun akan berbeda

XI. SIMPULAN

Asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang merupakan


hasil akhir dari metabolisme purin (bentuk turunan nukleoprotein), yaitu salah
satu komponen asam nukleat yang terdapat pada inti sel-sel tubuh. Asam urat
merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh, yang kadarnya tidak boleh berlebih
(Syukri. 2007).

hasil pengamatan dari pemeriksaan kadar asam urat didalam serum darah
pasien atas nama Luh Gede Meilia Ayu Swari Putri, berumur 19 tahun, jenis
kelamin perempuan kadar asam urat pasien 3,62 mg/dL sedangkan pada pasien
(klinis) atas nama Jonas Fluriano, berumur 33 tahun, jenis kelamin laki-laki
didapatkan hasil pengukuran kadar asam urat pasien 5,59 mg/dL. Dari pemeriksaan
tersebut hasil pengukuran asam urat kedua pasien normal.
DAFTAR PUSTAKA

Bintang, M. (2010). Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta. Penerbit Erlangga. Halaman


175, 178

Bustami, Z. (2001). Obat untuk Kaum Lansia. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 99-100.

Dieppe, P. A. (1998). Penyakit Radang Sendi. Penerbit Arcan. Halaman 95, 103, 104.

Krisnatuti, D., Yenrina, R., dan Uripi, V. (2008). Perencanaan Menu untuk Penderita
Gangguan Asam Urat. Jakarta: Penebar Swadaya. Halaman 6,7,8,9, 12, 13.

Setyohadi, B., dan Kasjmir, Y. I. (2009). Kumpulan Makalah Temu Ilmiah Reumatologi
2009. Jakarta. Halaman 25.

Syukri, M. (2007). Asam Urat dan Hiperusemia. Banda Aceh: Fakultas Kedokteran
Unsyiah. Halaman 95, 103, 104.

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/sainmed/article/viewFile/4182/4546

http://www.jikm.unsri.ac.id/index.php/jikm/article/download/623/pdf

Alwy, MK 2004, Buku Ajar Biomedik, Universitas Muslim Indonesia, Makassar

Ahmad, Nablory 2011, Cara mencegah dan mengobati asam urat dan hipertensi, Rineka
cipta : Jakarta.

Andry, Saryono dan Arif, SU 2009, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kadar
Asam Urat Pada Pekerja Kantor di Desa Karang Turi, Kecamatan Bumiayu,
Kabupaten Brebes, Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of
Nurshing).

Ditjen, POM, 1979, Farmakope indonesia edisi III, Menkes RI:Jakarta.

Hamdani, S 2012, Diktat Praktikum Kimia Analisis, Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia :
Bandung.

Malhotra, B. D., & Chaubey, A. 2003, Biosensors for clinical diagnostics industry,
Sensors and Actuators B : Chemical.

Martsiningsih, M. Atik , Dermawan O 2016, Gambaran Kadar Asam Urat Darah Metode
Basah (Uricase-PAP) Pada Sampel Serum Dan Plasma EDTA, Jurnal Teknologi
Laboratorium ISSN: 2338 – 5634, Poltekkes Kemenkes : Yogyakarta.
Misnadiarly. 2009. Rematik, Asam Urat, dan Arthritis Gout. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.

Oktari, Anita., Nida Daeninur Silvia 2016., Pemeriksaan Golongan Darah Sistem ABO
Metode Slide, Jurnal Teknologi Laboratorium., Vol. 5, No.2, pp. 49 ~ 54 ISSN:
2338 – 5634 : Bandung, pp 49.

Syamsu hidayat dan Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. EGC:Jakarta.

Sloane, E 2003, Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula,EGC:Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai