Anda di halaman 1dari 24

PERATURAN INTERNAL STAF MEDIS (MEDICAL STAFF BY LAWS – MSBL)

RSU. “WILLIAM BOOTH” SEMARANG

PENDAHULUAN

Rumah Sakit Umum William Booth (RSUWB) adalah sebuah rumah sakit swasta kelas
Madya atau kelas C milik Yayasan Pelayanan Kesehatan Bala Keselamatan (YPKBK)
yang didirikan dengan tujuan mewujudkan kasih Kristus bagi manusia melalui
pelayanan yang holistik, bermutu tinggi dan berfokus pada keselamatan pasien
sesuai perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran dan keperawatan.
1. Visi RSU William Booth.
Visi RSUWB tahun 2016-2020 adalah “Terciptanya suatu pelayanan kesehatan
yang optimal untuk meningkatkan derajad kesehatan bagi setiap orang
berdasarkan kasih tanpa diskriminasi”.
Visi tersebut memiliki makna sebagai berikut:
1) Pelayanan Kesehatan Yang Optimal artinya semua kegiatan pelayanan yang
dilakukan di RSUWB harus sesuai dengan regulasi perumah sakitan yang
berlaku dan sesuai standar nasional rumah sakit yang ditetapkan serta
sesuai dengan harapan masyarakat penggunanya.
2) Meningkatkan Derajat Kesehatan artinya dalam pelayanannya RSUWB tidak
hanya melakukan kegiatan kuratif dan rehabilitatif saja tetapi juga ikut
berperan aktif dalam upaya promotif, preventif dan edukatif bagi
masyarakat yang menggunakan jasa pelayanan RSUWB maupun yang tidak.
3) Setiap Orang artinya adalah masyarakat kota Semarang dan sekitarnya yang
menggunakan jasa pelayanan kesehatan RSUWB maupun masyarakat luas
yang memerlukan upaya peningkatan kesehatan.
4) Berdasarkan Kasih artinya semua kegiatan yang dilakukan di RSUWB
merupakan wujud ungkapan syukur atas kasih Tuhan Yesus Kristus yang
telah mengaruniakan keselamatan bagi umat manusia. Ungkapan Kasih
Tuhan Yesus tersebut harus terwujud dalam sikap, perilaku dan tindakan
yang dilakukan oleh setiap petugas di RSUWB.
5) Tanpa Diskriminasi artinya RSUWB tidak membedakan status sosial dari
setiap orang yang menggunakan jasa pelayanan di RSUWB, baik suku,
agama, ras dan antar golongan. Semua orang yang datang di RSUWB wajib
dilayani dengan standar layanan yang sama.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 1 | 24
2. Misi RSU William Booth
Adapun Misi dari RSUWB ada 7 yaitu:
1) Mengutamakan Keselamatan Pasien
2) Mengupayakan Kualitas Pelayanan sesuai Standar
3) Melayani dengan profesional sesuai kompetensi
4) Menggenggam Nurani luhur penuh bakti
5) Menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan
6) Menaati aturan dan prosedur
7) Mengandalkan doa dan usaha

3. Motto RSU William Booth


RSUWB menetapkan motto “Melayani dengan Kasih” yang merupakan
perwujudan visi yang harus menyemangati seluruh civitas RSUWB dalam
melakukan pekerjaan pelayanan kepada setiap orang.
4. Nilai Dasar yang dikembangkan
Selain Motto RSUWB juga menetapkan Nilai Dasar yang harus menjadi dasar
perilaku dan karakter organisasi dan karakter seluruh SDM yang ada di RSUWB.
Nilai dasar ini terus dikembangkan dan merupakan buah yang dipersembahkan
untuk Tuhan dan sesama.
Nilai dasar tersebut adalah:
1) Kasih
2) Sukacita
3) Kedisplinan
4) Kejujuran
5) Kekompakan
6) Kerjasama
7) Kerja keras, kerja cerdas
8) Kerendahan hati
9) Kesediaan Melayani
10) Kontrol Diri (penguasaan diri)
5. Tujuan:
1) Tercapainya pelayanan yang bermutu tinggi yang berorientasi pada
keselamatan pasien dan kepuasan pelanggan.
2) Pelayanan kesehatan RSUWB terus meningkat dan berkembang.
3) Tercapainya peningkatan produktifitas pelayanan RSUWB
4) Terbentuknya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi,
integritas, komitmen yang kuat terhadap organisasi melalui upaya
pendidikan dan pelatihan, serta upaya peningkatan kesejahteraan yang adil
dan manusiawi.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 2 | 24
BAB 1
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam peraturan internal staf medis ini yang dimaksud dengan:
1) YAYASAN adalah Yayasan Pelayanan Kristen Bala Keselamatan yang selanjutnya
disebut YPKBK.
2) PENGURUS adalah Pengurus YPKBK.
3) RUMAH SAKIT adalah Rumah Sakit Umum William Booth Semarang.
4) DIREKTUR adalah Direktur Rumah sakit Umum William Booth Semarang
5) PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT (hospital bylaws) adalah aturan dasar yang
mengatur tata cara penyelenggaraan rumah sakit meliputi peraturan internal
korporasi dan peraturan internal staf medis.
6) PERATURAN INTERNAL KORPORASI (corporate bylaws) adalah aturan yang mengatur
agar tata kelola korporasi (corporate governance) terselenggara dengan baik melalui
pengaturan hubungan antara pemilik, pengelola, dan komite medik di rumah sakit.
7) PERATURAN INTERNAL STAF MEDIS (medical staff bylaws) adalah peraturan yang
mengatur tentang peran, tanggungjawab, tugas dan kewajiban, kewenangan dan
hak staf medis rumah sakit serta hubungannya dengan Direktur.
8) PENGAWAS adalah suatu organ YPKBK yang melakukan pengawasan operasional
rumah sakit, dibentuk oleh Pembina YPKBK.
9) JABATAN STRUKTURAL adalah jabatan yang secara nyata dan tegas diatur dalam
struktur organisasi rumah sakit.
10) JABATAN FUNGSIONAL adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung
jawab, kewenangan dan hak seseorang karyawan dalam satuan organisasi yang
dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan atau ketrampilan
tertentu serta bersifat mandiri.
11) PROFESIONAL KESEHATAN adalah mereka yang dalam tugasnya telah mendapat
pendidikan formal dan melaksanakan fungsi pelayanan kesehatan.
12) PELAYANAN KESEHATAN adalah setiap kegiatan pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada perseorangan; terdiri atas upaya kesehatan promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif.
13) PELAYANAN MEDIS UMUM adalah Pelayanan Medis Dasar, Pelayanan Medis Gigi
Mulut.
14) PELAYANAN MEDIS SPESIALIS DASAR adalah pelayanan medis spesialis penyakit
dalam, kesehatan anak, bedah, dan kebidanan dan penyakit kandungan,.
15) PELAYANAN SPESIALIS PENUNJANG MEDIS adalah pelayanan medis spesialis
Anestesiologi, Radiologi, dan Patologi Klinik.
16) PELAYANAN MEDIS SPESIALIS LAIN adalah pelayanan medis spesialis Mata, Telinga
Hidung Tenggorokan, Saraf, Kulit dan Kelamin.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 3 | 24
17) KOMITE MEDIK adalah adalah perangkat rumah sakit untuk menerapkan tatakelola
klinis (clininal governance) agar staf medis di rumah sakit terjaga
profesionalismenya melalui mekanisme kredensial, penjagaan mutu profesi medis,
dan pemeliharaan etika dan disiplin profesi medis.
18) STAF MEDIS adalah dokter atau dokter gigi yang telah terikat perjanjian dengan
rumah sakit maupun yang ditetapkan berdasarkan surat keputusan penempatan di
rumah sakit dari pejabat yang berwenang dan memiliki kewenangan untuk
melakukan tindakan Medis di Rumah Sakit Umum William Booth Semarang,
termasuk tindakan medis diagnostik maupun terapetik.
19) STAF MEDIS PENUH WAKTU adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi,dokter gigi
spesialis yang telah ditetapkan oleh pengurus YPKBK, melalui direktur rumah sakit
dan hanya memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan medis di rumah sakit.
20) STAF MEDIS PARUH WAKTU (mitra) adalah dokter atau dokter gigi yang telah terikat
perjanjian dengan Rumah Sakit Umum William Booth Semarang dan hanya memiliki
kewenangan untuk melakukan tindakan Medis di rumah sakit.
21) KELOMPOK STAF MEDIS FUNGSIONAL (SMF) BEDAH adalah SMF yang anggotanya
terdiri dari dokter spesialis bedah, obsgyn, bedah mulut, THT dan Anaestesi.
22) KELOMPOK STAF MEDIS FUNGSIONAL (SMF) NON BEDAH adalah SMF yang
anggotanya terdiri dokter spesialis penyakit dalam, anak, saraf, paru, kulit kelamin,
rehabilitasi medik, radiologi, patologi klinik,
23) KELOMPOK STAF MEDIS FUNGSIONAL (SMF) MATA adalah SMF yang anggotanya
terdiri dari dokter spesialis mata.
24) KELOMPOK STAF MEDIS FUNGSIONAL (SMF) UMUM adalah SMF yang anggotanya
terdiri dari dokter umum dan dokter gigi
25) KEWENANGAN KLINIS (CLINICAL PRIVILEGE) adalah hak khusus seorang staf medis
untuk melakukan sekelompok pelayanan medis tertentu dalam rumah sakit untuk
suatu periode tertentu yang dilaksanakan berdasarkan penugasan klinis (clinical
appointment).
26) PENUGASAN KLINIS (CLINICAL APPOINTMENT) adalah penugasan direktur kepada
seorang staf medis untuk melakukan sekelompok pelayanan medis di rumah sakit
berdasarkan daftar kewenangan klinis yang telah ditetapkan baginya.
27) KREDENSIAL adalah proses evaluasi terhadap staf medis untuk menentukan
kelayakan diberikannya kewenangan klinis (clinical privilege).
28) AUDIT MEDIS adalah upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu pelayanan
medis yang diberikan kepada pasien dengan menggunakan rekam medis yang
dilaksanakan oleh profesi medis.
29) TENAGA ADMINISTRASI adalah orang atau sekelompok orang yang bertugas
melaksanakan administrasi perkantoran guna menunjang pelaksanaan tugas-tugas
staf medis, Komite Medik, dan sub komite khususnya yang terkait dengan etik dan
mutu medis.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 4 | 24
BAB II
TUJUAN

Pasal 2

Tujuan peraturan internal staf medis (medical staf bylaws) adalah agar komite medik
dapat menyelenggarakan tata kelola klinis yang baik (good clinical governance) melalui
mekanisme kredensial, peningkatan mutu profesi, dan penegakan disiplin profesi. Selain
itu peraturan internal staf medis juga bertujuan untuk memberikan dasar hukum bagi
mitra bestari (peer group) dalam pengambilan keputusan profesi melalui komite medik.
Putusan itu dilandasi semangat bahwa hanya staf medis yang kompeten dan berperilaku
profesional sajalah yang boleh melakukan pelayanan medis dirumah sakit.

BAB III
KEWENANGAN KLINIS
(CLINICAL PRIVILEGE)

Pasal 3
(1) Semua pelayanan medis di RSU William Booth Semarang hanya boleh dilakukan
oleh staf medis yang telah mendapatkan kewenangan klinis.
(2) Setiap staf medis rumah sakit diberikan Kewenangan klinis (clinical privilege) oleh
Direktur setelah memperhatikan rekomendasi dari Komite Medik dibantu Sub
Komite Kredensial.
(3) Penentuan Kewenangan klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas
kompetensi, lisensi dan pengalaman yang dimiliki staf medis.
(4) Dalam hal kesulitan menentukan jenis Kewenangan klinis maka Komite Medik dapat
meminta masukan dari Kolegium terkait mengenai jenis-jenis kewenangan
klinisnya sehubungan dengan sertifikat tambahan yang dimiliki oleh staf medis.
(5) Pemberian Kewenangan klinis ditetapkan dengan Keputusan Direktur dan
disampaikan kepada staf medis yang bersangkutan.

Pasal 4
Kewenangan klinis sementara dapat diberikan kepada Dokter Tamu atau Dokter
Pengganti dengan memperhatikan rekomendasi dari Komite Medik dibantu Sub Komite
Kredensial.

Pasal 5
Dalam keadaan emergensi maka semua staf medis rumah sakit diberikan Kewenangan
klinis untuk melakukan tindakan penyelamatan (emergency care) tanpa melihat status

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 5 | 24
maupun Kewenangan klinis reguler yang diberikan kepadanya, sepanjang yang
bersangkutan memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan emergensi.

Pasal 6
(1) Dalam hal staf medis menghendaki agar Kewenangan klinisnya diperluas maka
yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan kepada Direktur dengan
mengajukan alasan serta melampirkan bukti-bukti berupa sertifikat pendidikan
atau latihan tambahan yang dapat mendukung permohonannya.
(2) Komite Medik akan mengkaji permohonan staf medis tersebut dan membuat
rekomendasi kepada Direktur.
(3) Dikabulkan atau ditolaknya permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan Keputusan Direktur dan disampaikan kepada staf medis yang
bersangkutan.

Pasal 7
Kewenangan klinis tiap-tiap staf medis akan dievaluasi secara terus menerus oleh Komite
Medik dibantu Sub Komite Kredensial untuk ditentukan apakah Kewenangan klinis yang
telah diberikan dapat dipertahankan, diperluas, dikurangi atau bahkan dicabut.

Pasal 8
(1) Rekomendasi pengurangan atau pencabutan kewenangan klinik staf medis oleh
Komite Medik harus didasarkan pada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
(2) Pengurangan dan pencabutan Kewenangan klinis ditetapkan dengan Keputusan
Direktur dan disampaikan kepada staf medis yang bersangkutan.
(3) Keputusan pengurangan atau pencabutan Kewenangan klinis staf medis
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat final.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 6 | 24
MEKANISME KREDENSIAL DAN PEMBERIAN KEWENANGAN KLINIS
BAGI STAF MEDIS DI RUMAH SAKIT

PEMBERIAN KEWENANGAN KLINIS

Pasal 9

1) Tahapan pemberian kewenangan klinis diatur sebagai berikut:


a. Staf medis mengajukan permohonan kewenangan klinis kepada direktur
rumah sakit dengan mengisi formulir daftar rincian kewenangan klinis yang
telah disediakan rumah sakit dengan dilengkapi bahan-bahan pendukung.
b. Berkas permohonan staf medis yang telah lengkap dan telah diisi
disampaikan oleh direktur rumah sakit kepada komite medik.
c. Komite medik (subkomite kredensial) melakukan kajian terhadap formulir
daftar rincian kewenangan klinis yang telah diisi oleh pemohon.
d. Dalam melakukan kajian subkomite kredensial dapat membentuk panel atau
panitia ad-hoc dengan melibatkan mitra bestari dari disiplin yang sesuai
dengan kewenangan klinis yang diminta berdasarkan buku putih (white
paper).
e. Subkomite kredensial melakukan seleksi terhadap anggota panel atau panitia
add-hoc dengan mempertimbangkan reputasi, adanya konflik kepentingan,
bidang disiplin, dan kompetensi yang bersangkutan.
f. Pengkajian oleh subkomite kredensial meliputi elemen:
(1) kompetensi:
a) berbagai area kompetensi sesuai standar kompetensi yang
disahkan oleh lembaga pemerintah yang berwenang untuk itu;
b) kognitif;
c) afektif;
d) psikomotor.
(2) kompetensi fisik;
(3) kompetensi mental/ perilaku;
(4) perilaku etis (ethical standing).
g. Kewenangan klinis yang diberikan mencakup derajat kompetensi dan cakupan
praktik.
(1) Daftar rincian kewenangan klinis (delineation of clinical privilege)
diperoleh dengan cara:
a) menyusun daftar kewenangan klinis dilakukan dengan meminta
masukan dari setiap Kelompok Staf Medis.
b) mengkaji kewenangan klinis bagi Pemohon dengan menggunakan
daftar rincian kewenangan klinis (delineation of clinical privilege).

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 7 | 24
c) mengkaji ulang daftar rincian kewenangan klinis bagi staf medis
dilakukan secara periodik.
(2) Rekomendasi pemberian kewenangan klinis dilakukan oleh komite medik
berdasarkan masukan dari subkomite kredensial.
(3) Subkomite kredensial melakukan rekredensial bagi setiap staf medis
yang mengajukan permohonan pada saat berakhirnya masa berlaku
surat penugasan klinis (clinical appointment), dengan rekomendasi
berupa:
a) kewenangan klinis yang bersangkutan dilanjutkan;
b) kewenangan klinis yang bersangkutan ditambah;
c) kewenangan klinis yang bersangkutan dikurangi;
d) kewenangan klinis yang bersangkutan dibekukan untuk waktu
tertentu;
e) kewenangan klinis yang bersangkutan diubah/ dimodifikasi;
f) kewenangan klinis yang bersangkutan diakhiri.
(4) Bagi staf medis yang ingin memulihkan kewenangan klinis yang dikurangi
atau menambah kewenangan klinis yang dimiliki harus mengajukan
permohonan kepada komite medik melalui direktur rumah sakit.
Selanjutnya, komite medik menyelenggarakan pembinaan profesi antara
lain melalui mekanisme pendampingan (proctoring).

2) Kriteria yang harus dipertimbangkan dalam memberikan rekomendasi


kewenangan klinis:
a. pendidikan:
(1) lulus dari sekolah kedokteran yang terakreditasi, atau dari sekolah
kedokteran luar negeri dan sudah diregistrasi;
(2) menyelesaikan program pendidikan konsultan.
b. perizinan (lisensi):
(1) memiliki surat tanda registrasi yang sesuai dengan bidang profesi;
(2) memiliki izin praktek dari dinas kesehatan setempat yang masih berlaku.
c. kegiatan penjagaan mutu profesi:
(1) menjadi anggota organisasi yang melakukan penilaian kompetensi bagi
anggotanya;
(2) berpartisipasi aktif dalam proses evaluasi mutu klinis.
d. kualifikasi personal:
(1) riwayat disiplin dan etik profesi;
(2) keanggotaan dalam perhimpunan profesi yang diakui;
(3) keadaan sehat jasmani dan mental, termasuk tidak terlibat penggunaan
obat terlarang dan alkohol, yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan
terhadap pasien;
(4) riwayat keterlibatan dalam tindakan kekerasan;

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 8 | 24
(5) memiliki asuransi proteksi profesi (professional indemnity Insurance).

e. pengalaman dibidang keprofesian:


(1) riwayat tempat pelaksanaan praktik profesi;
(2) riwayat tuntutan medis atau klaim oleh pasien selama menjalankan profesi.

ALUR PEMBERIAN KEWENANGAN KLINIS :

Mengajukan usulan
kewenangan klinik kepada Formulir daftar
Staf Medis Direktur Kewenangan klinis

Meneruskan kepada Komite Formulir daftar


Direktur Medik Kewenangan klinis

Menugaskan Sub Komite Formulir daftar


Komite Medik Kredensial untuk melakukan Kewenangan klinis
pengkajian

Sub Komite Kredensial Melakukan pengkajian dan Hasil Pengkajian dan


mengusulkan kewenangan Usulan Kewenangan
klinik kepada Komite Medik Klinis

Merekomendasikan Rincian Kewenangan


Komite Medik
kewenangan Klinik kepada Klinis
Direktur

Direktur SK Kewenangan
Klinik

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 9 | 24
Pasal 10
BERAKHIRNYA KEWENANGAN KLINIS

(1) Kewenangan klinis akan berakhir bila surat penugasan klinis (clinical appointment)
habis masa berlakunya atau dicabut oleh direktur rumah sakit.
(2) Surat penugasan klinis untuk setiap staf medis memiliki masa berlaku untuk
periode tertentu, misalnya dua tahun.
(3) Pada akhir masa berlakunya surat penugasan tersebut rumah sakit harus
melakukan rekredensial terhadap staf medis yang bersangkutan.

Pasal 11

PENCABUTAN, PERUBAHAN/ MODIFIKASI, PEMBERIAN KEMBALI


KEWENANGAN KLINIS.

(1) Pertimbangan pencabutan kewenangan klinis tertentu oleh direktur rumah sakit
didasarkan pada kinerja profesi dilapangan, misalnya staf medis yang bersangkutan
terganggu kesehatannya, baik fisik maupun mental.
(2) Pencabutan kewenangan klinis juga dapat dilakukan bila terjadi kecelakaan medis
yang diduga karena inkompetensi atau karena tindakan disiplin dari komite medik.
(3) Kewenangan klinis yang dicabut tersebut dapat diberikan kembali bila staf medis
tersebut dianggap telah pulih kompetensinya.
(4) Dalam hal kewenangan klinis tertentu seorang staf medis diakhiri, komite medik
akan meminta subkomite mutu profesi untuk melakukan berbagai upaya
pembinaan agar kompetensi yang bersangkutan pulih kembali.
(5) Komite medik dapat merekomendasikan kepada direktur rumah sakit pemberian
kembali kewenangan klinis tertentu setelah melalui proses pembinaan.

BAB IV
Bagian Kesatu
PENUGASAN KLINIS (CLINICAL APPOINMENT)

Pasal 12

(1) Untuk mewujudkan tata kelola klinis (clinical governance) yang baik, semua
pelayanan medis yang dilakukan oleh setiap staf medis di rumah sakit dilakukan
atas dasar penugasan klinis yang ditetapkan oleh direktur rumah sakit.
(2) Penugasan klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa pemberian
kewenangan klinis (clinical privilege) oleh direktur rumah sakit melalui penerbitan
surat penugasan klinis (clinical appointment) kepada staf medis yang

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 10 | 24
bersangkutan, berdasarkan rincian kewenangan klinis setiap staf medis
(delineation of clinical privilege) yang direkomendasikan komite medik
(3) Surat penugasan klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan oleh
direktur rumah sakit setelah mendapat rekomendasi dari komite medik.
(4) Dalam keadaan darurat direktur rumah sakit dapat memberikan surat penugasan
klinis (clinical appointment) tanpa rekomendasi komite medik.
(5) Rekomendasi komite medik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan
setelah dilakukan kredensial.

Bagian Kedua
ORGANISASI STAF MEDIS DAN TANGGUNGJAWAB

Pasal 13
(1) Organisasi staf medis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan
Rumah Sakit.
(2) Organisasi staf medis RSU William Booth Semarang bertanggungjawab
dan berwenang menyelenggarakan pelayanan kesehatan di RSU William Booth
Semarang dalam rangka membantu pencapaian tujuan pemerintah di bidang
kesehatan.

Bagian Ketiga
PENGANGKATAN DAN PENGANGKATAN KEMBALI STAF MEDIS

Pasal 14

(1) Keanggotaan staf medis rumah sakit merupakan hak istimewa (privilege) yang
diberikan kepada setiap dokter dan dokter gigi, yang secara terus menerus mampu
memenuhi kualifikasi, standar dan persyaratan yang ditentukan.
(2) Keanggotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan tanpa membedakan
ras, agama, warna kulit, jenis kelamin, keturunan, status sosial dan pandangan
politis.

Pasal 15

Agar dapat bergabung dengan rumah sakit sebagai staf medis maka dokter dan dokter
gigi yang bersangkutan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. memiliki kompetensi professional yang dibuktikan dengan melampirkan Surat Tanda
Registrasi (STR);
b. memiliki Surat Izin Praktik (SIP) di Rumah Sakit;
c. memiliki Surat Kewenangan Klinis

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 11 | 24
d. memiliki kesehatan yang laik (fit) untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya
sebagai staf medis; dan
e. memiliki perilaku yang baik.

Pasal 16

(1) Tatalaksana pengangkatan dan pengangkatan kembali menjadi staf medis Rumah
Sakit adalah dengan mengajukan lamaran kepada Direktur dengan disertai
persyaratan yang dibutuhkan, dan selanjutnya Direktur berdasarkan pertimbangan
rekomendasi dari Komite Medik dibantu Sub Komite Kredensial dapat
mengabulkan atau menolak permohonan tersebut.
(2) Pengangkatan dan pengangkatan kembali staf medis rumah sakit dilakukan
dengan Keputusan Direktur dan disampaikan kepada pelamar yang bersangkutan.

Pasal 17

Masa kerja sebagai staf medis di rumah sakit adalah:


a. untuk staf medis purna waktu yang berstatus sebagai karyawan rumah sakit; sampai
memasuki masa pensiun sesuai peraturan Rumah Sakit;
b. untuk staf medis mitra; selama masa kontrak.
c. masa kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah selama 1 (satu) tahun
untuk ditinjau kembali.

Pasal 18
(1) Dalam hal staf medis purnawaktu yang telah memasuki masa pensiun maka yang
bersangkutan dapat melamar untuk tetap bergabung dengan Rumah Sakit sebagai
staf medis mitra sepanjang masih memenuhi persyaratan.
(2) Dalam hal staf medis mitra telah menyelesaikan masa kontraknya dapat
memperbarui kontrak berikutnya sepanjang masih memenuhi persyaratan.

Bagian Keempat
KATAGORI STAF MEDIS

Pasal 19
Staf medis yang bergabung dengan Rumah Sakit dikelompokkan ke dalam katagori:
a. Staf Medis purna waktu yaitu berstatus sebagai karyawan rumah sakit,
berkedudukan sebagai sub-ordinat Rumah Sakit sehingga tanggunggugatnya dapat
dialihkan kepada Rumah Sakit;

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 12 | 24
b. Staf Medis Mitra; berkedudukan sebagai partner Rumah Sakit sehingga
tanggunggugatnya ditanggung bersama dengan proporsi sesuai Peraturan Rumah
Sakit atau sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam bentuk perjanjian
tersendiri;

c. Staf Medis Tamu; berkedudukan sebagai dokter tamu (visiting doctor) atau
pinjaman (borrowed doctor) sehingga tanggunggugatnya dialihkan kepada Rumah
Sakit sebagai pihak pengundang atau peminjam (borrower); atau

d. Staf Medis Relawan; berkedudukan disamakan dengan sub-ordinat Rumah Sakit


sehingga tanggunggugatnya dapat dialihkan kepada Rumah Sakit.

Bagian Kelima
KELOMPOK STAF MEDIS FUNGSIONAL (KSM)

Pasal 20
Semua dokter yang melaksanakan praktik kedokteran di rumah sakit, termasuk unit-unit
pelayanan yang melakukan kerjasama operasional dengan Rumah Sakit, wajib menjadi
anggota Kelompok Staf Medis Fungsional.

Pasal 21
(1) Dalam melaksanakan tugasnya, staf medis fungsional dikelompokkan menjadi 4
SMF, yaitu SMF Bedah, SMF non bedah, SMF mata dan SMF umum
(2) SMF Bedah adalah SMF yang anggotanya terdiri dari dokter spesialis bedah,
obsgyn, bedah mulut, THT dan Anaestesi.
(3) SMF Non Bedah adalah SMF yang anggotanya terdiri dokter spesialis penyakit
dalam, anak, saraf, paru, kulit kelamin, rehabilitasi medik, radiologi, patologi klinik
(4) SMF Mata adalah SMF yang terdiri dari dokter spesialis mata
(5) SMF Umum adalah SMF yang anggotanya terdiri dari dokter umum dan dokter gigi

Fungsi, Tugas, Kewajiban dan Tanggungjawab


Pasal 22
Kelompok Staf Medis Fungsional Rumah Sakit mempunyai fungsi sebagai pelaksana
pelayanan medis, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan di
bidang pelayanan medis.

Pasal 23
Kelompok Staf Medis Fungsional Rumah Sakit mempunyai tugas:
a. melaksanakan kegiatan profesi yang komprehensif; meliputi upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif;

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 13 | 24
b. membuat rekam medis sesuai fakta, akurat, dan tepat waktu;
c. meningkatkan profesionalisme melalui program pendidikan atau pelatihan
berkelanjutan;
d. menjaga agar kualitas pelayanan sesuai standar profesi, standar pelayanan medis,
etika kedokteran, etika profesi dan hukum; dan
e. menyusun, mengumpulkan, menganalisa dan membuat laporan pemantauan
indikator mutu klinik.

Pasal 24
Kelompok Staf Medis Fungsional Rumah Sakit mempunyai kewajiban:
a. menyusun standar prosedur operasional (SPO) atau prosedur tetap (Protap)
pelayanan medis, meliputi bidang administrasi, manajerial dan bidang pelayanan
medis.
b. menyusun indikator mutu klinis.
c. menyusun uraian tugas dan kewenangan untuk masing-masing anggotanya.

Pasal 25
Kelompok Staf Medis Fungsional Rumah Sakit bertanggungjawab:
a. memberikan rekomendasi melalui Ketua Komite Medik kepada Direktur terhadap
permohonan penempatan dokter baru di rumah sakit untuk mendapatkan Surat
Keputusan.
b. melakukan evaluasi atas tampilan kinerja praktik dokter berdasarkan data yang
komprehensif.
c. melaksanakan audit kasus (individual case audit) dan audit medis (medical audit);
d. memberikan rekomendasi melalui Ketua Komite Medik kepada Direktur terhadap
permohonan penempatan ulang dokter di rumah sakit untuk mendapatkan Surat
Keputusan Direktur.
e. memberikan motivasi kepada para dokter untuk mengikuti pendidikan kedokteran
berkelanjutan.
f. memberikan masukan melalui Ketua Komite Medik kepada Direktur mengenai hal-
hal yang berkaitan dengan praktik kedokteran.
g. memberikan laporan secara teratur minimal sekali setiap tahun melalui Ketua
Komite Medik kepada Direktur atau Wakil Direktur Pelayanan tentang hasil
pemantauan indikator mutu klinik, evaluasi kinerja praktik klinis, pelaksanaan
program pengembangan staf, dan lain-lain yang dianggap perlu.
h. melakukan perbaikan standar prosedur operasional (SPO) atau prosedur tetap
(Protap) serta dokumen-dokumen yang terkait.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 14 | 24
BAB V
KOMITE MEDIK

Pasal 26
Guna membantu rumah sakit dalam mengawal layanan kesehatan berbasis mutu dan
keselamatan pasien maka dibentuk Komite Medik, yang merupakan satu-satunya wadah
professional di rumah sakit yang memiliki otoritas tertinggi dalam organisasi staf medis.

Pasal 27
(1) Komite Medik pembentukannya ditetapkan dengan Keputusan Direktur,
berkedudukan dibawah serta bertanggungjawab kepada Direktur.
(2) Masa kerja Komite Medik Rumah Sakit adalah selama 3 (tiga) tahun.

Pasal 28
Susunan Organisasi Komite Medik Rumah Sakit terdiri atas:
a. Ketua komite medik, ditetapkan oleh direktur rumah sakit;
b. Sekretaris komite medik, diusulkan oleh Ketua Komite Medik dan ditetapkan oleh
direktur rumah sakit;
c. Anggota komite medik, diusulkan oleh Ketua Komite Medik dan ditetapkan oleh
direktur rumah sakit;
d. Jumlah personalia komite medik yang efektif berkisar sekitar 5 (lima) sampai 9
(sembilan) termasuk ketua dan sekretaris.

Pasal 29
Komite Medik dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sub Komite, yang terdiri dari:
a. Sub Komite Kredensial;
b. Sub Komite Peningkatan Mutu Profesi; dan
c. Sub Komite Etika dan Disiplin Profesi;

Pasal 30
Sub Komite pembentukannya ditetapkan dengan Keputusan Direktur dengan masa kerja
3 (tiga) tahun atas usulan Ketua Komite Medik setelah memperoleh kesepakatan dalam
rapat pleno Komite Medik.

Pasal 31
Susunan organisasi tiap-tiap Sub Komite dari Komite Medik Rumah Sakit terdiri dari:
a. Ketua;
b. Sekretaris; dan
c. Anggota.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 15 | 24
Pasal 32
Sub Komite mempunyai kegiatan sebagai berikut:
a. menyusun kebijakan, program dan prosedur kerja/ prosedur tetap;
b. membuat laporan berkala dan laporan akhir tahun yang berisi evaluasi kerja
selama setahun yang baru saja dilalui disertai rekomendasi untuk tahun anggaran
berikutnya.

FUNGSI KOMITE MEDIK DAN SUB-KOMITE MEDIK

Pasal 33

Komite Medik mempunyai fungsi sebagai pengarah (steering) dalam pemberian


pelayanan medis di Rumah Sakit, yang rinciannya sebagai berikut:
a. memberikan saran kepada Direktur;
b. mengkoordinasikan atau mengarahkan kegiatan pelayanan medis;
c. menangani hal-hal berkaitan dengan kinerja etik (ethical performance) dan kinerja
profesional (professional performance); dan
d. menyusun kebijakan pelayanan medis sebagai standar yang harus dipatuhi dan
dilaksanakan oleh staf medis.

Pasal 34
Sub-Komite Medik mempunyai fungsi membantu melaksanakan kebijakan yang dibuat
oleh Komite Medik menyangkut berbagai bidang yang menjadi tugas dan tanggungjawab
badan tersebut.

TUGAS KOMITE MEDIK DAN SUB-KOMITE MEDIK

Pasal 35
Komite Medik mempunyai tugas:
a. membantu Direktur menyusun standar pelayanan medis dan memantau
pelaksanaannya;
b. membina etika profesi, disiplin profesi dan mutu profesi;
c. mengatur kewenangan klinik masing-masing kelompok staf medis;
d. membantu Direktur menyusun Peraturan Internal Staf Medis serta memantau
pelaksanaannya;
e. membantu Direktur menyusun kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan
medikolegal;
f. melakukan koordinasi dengan Wakil Direktur Pelayanan dalam melaksanakan
pemantauan dan pembinaan pelaksanaan tugas kelompok staf medis;

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 16 | 24
g. meningkatkan program pelayanan, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan
pengembangan dalam bidang medis.
h. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap mutu pelayanan medis;
i. memberikan laporan kegiatan kepada Direktur.

TANGGUNGJAWAB KOMITE MEDIK

Pasal 36
Komite Medik bertanggung jawab kepada Direktur mengenai hal-hal sebagai berikut:
a. mutu pelayanan medis;
b. pembinaan etik kedokteran;
c. pengembangan profesi medis.

Pasal 37
Sub Komite bertanggung-jawab kepada Komite Medik mengenai pelaksanaan tugas dan
kewajiban yang dibebankan kepadanya.

KEWENANGAN KOMITE MEDIK DAN SUB-KOMITE MEDIK

Pasal 38
Komite Medik dalam melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya diberi kewenangan
sebagai berikut:
a. memberikan usulan rencana kebutuhan dan peningkatan kualitas tenaga medis;
b. memberikan pertimbangan rencana pengadaan, penggunaan dan pemeliharaan
alat medis dan penunjang medis serta pengembangan pelayanan;
c. monitoring dan evaluasi mutu pelayanan medis;
d. monitoring dan evaluasi efisiensi dan efektifitas penggunaan alat kedokteran;
e. membina etika dan membantu mengatur kewenangan klinis;
f. membentuk Tim Klinis lintas profesi;
g. memberikan rekomendasi kerjasama antar institusi.

Pasal 39
(1) Sub Komite Peningkatan Mutu Profesi Medis diberi kewenangan melaksanakan
kegiatan upaya peningkatan mutu pelayanan medis secara lintas sektoral dan
lintas fungsi.
(2) Sub Komite Kredensial diberi kewenangan melaksanakan kegiatan kredensial
secara adil, jujur dan terbuka secara lintas sektoral dan lintas fungsi.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 17 | 24
(3) Sub Komite Etika dan Disiplin Profesi diberi kewenangan melakukan pemantauan
dan penanganan masalah etika profesi kedokteran dan disiplin profesi dengan
melibatkan lintas sektoral dan lintas fungsi.

KEWAJIBAN KOMITE MEDIK DAN SUB-KOMITE MEDIK

Pasal 40
Komite Medik berkewajiban:
a. menyusun rancangan Peraturan Internal Staf Medis;
b. membuat standarisasi format untuk standar pelayanan medis, standar prosedur
operasional di bidang manajerial dan administrasi serta bidang keilmuan, profesi,
standar profesi dan standar kompetensi;
c. membuat standarisasi format untuk standar pelayanan medis, standar prosedur
operasional dibidang manajerial dan administrasi serta bidang keilmuan, profesi,
standar profesi dan standar kompetensi;
d. membuat standarisasi format pengumpulan, pemantauan dan pelaporan indikator
mutu klinik; dan
e. melakukan pemantauan mutu klinik, etika kedokteran dan pelaksanaan
pengembangan pengembangan profesi medis.

Pasal 41
Sub-Komite Medik berkewajiban membantu Komite Medik dalam:
a. menyusun rancangan Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws);
b. membuat standarisasi format untuk standar pelayanan medis, standar prosedur
operasional dibidang manajerial dan administrasi serta bidang keilmuan, profesi,
standar profesi dan standar kompetensi;
c. membuat standarisasi format pengumpulan, pemantauan dan pelaporan
indikator mutu klinik; dan
d. melakukan pemantauan mutu klinik, etika kedokteran dan pelaksanaan
pengembangan profesi medis

BAB VI
RAPAT

Pasal 42
1) Rapat komite Medik terdiri atas Rapat Rutin, Rapat Khusus, dan Rapat Pleno.
2) Setiap rapat Komite Medik dinyatakan sah hanya bila undangan telah disampaikan
secara pantas kecuali seluruh anggota Komite Medik yang berhak memberikan
suara menolak undangan tersebut.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 18 | 24
3) Komite Medik menyelenggarakan rapat rutin 3 bulan sekali pada waktu dan tempat
yang ditetapkan oleh Komite Medik.
4) Rapat khusus diadakan sesuai dengan permintaan direktur karena ada masalah yang
harus segera diselesaikan.
5) Rapat pleno diadakan setiap tahun ( 1x/tahun ) dengan mengundang dokter yang
praktek di rumah sakit.
BAB VII
SUBKOMITE KREDENSIAL

1) Sub komite kredensial mengatur tentang peranan komite medik dalam melakukan
mekanisme kredensial dan rekredensial bagi seluruh staf medis di rumah sakit.
Pedoman pengorganisasian dan tata kerja subkomite kredensial di rumah sakit
mengacu pada lampiran Peraturan Menteri Kesehatan ini.
2) Keanggotaannya terdiri dari: ketua, sekretaris dan anggota

Pasal 43
Sub Komite Kredensial mempunyai tugas:
a. melakukan kredensial terhadap permohonan menjadi anggota staf
medis;
b. melakukan rekredensial terhadap staf medis;
c. membuat rekomendasi hasil kredensial dan atau rekredensial terhadap
staf medis kepada Komite Medik;
d. membuat dan melaksanakan rencana kerja;
e. menyusun tatalaksana dan instrumen kredensial;
f. melaksanakan kredensial dengan melibatkan lintas fungsi;
g. membuat laporan berkala kepada Komite Medik.

BAB VIII
SUBKOMITE MUTU PROFESI
Subkomite mutu profesi berperan dalam menjaga mutu profesi medis dengan tujuan:
a. memberikan perlindungan terhadap pasien agar senantiasa ditangani oleh staf
medis yang bermutu, kompeten, etis, dan profesional;
b. memberikan asas keadilan bagi staf medis untuk memperoleh kesempatan
memelihara kompetensi (maintaining competence) dan kewenangan klinis ;
c. mencegah terjadinya kejadian yang tak diharapkan (medical mishaps);
d. memastikan kualitas asuhan medis yang diberikan oleh staf medis melalui upaya
pemberdayaan, evaluasi kinerja profesi yang berkesinambungan (on-going
professional practice evaluation), maupun evaluasi kinerja profesi yang terfokus
(focused professional practice evaluation).
e. keanggotaan terdiri dari: ketua , sekretaris dan anggota

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 19 | 24
Pasal 44
Sub Komite Peningkatan Mutu Profesi Medis mempunyai tugas:
a. membuat rencana atau program kerja;
b. melaksanakan rencana atau jadual kegiatan;
c. membuat panduan mutu pelayanan medis;
d. melakukan pantauan dan pengawasan mutu
pelayanan medis;
e. menyusun indikator mutu klinik, meliputi
indikator input, output proses, dan outcome;
f. memantau kualiiitas dengan morning report,
kasus sulit, ronde ruangan , kasus kematian dan audit medis
g. menindaklanjuti temuan kualitas dengan
pelatihan singkat, pendidikan berkelanjutan dan pendidikan kewenangan
tambahan.
h. melakukan koordinasi dengan Sub Komite
Peningkatan Mutu Rumah Sakit;
melakukan pencatatan dan pelaporan secara berkala.

Pasal 45
Mekanisme kerja
1) Audit medis adalah kegiatan evaluasi profesi secara sistemik yang melibatkan mitra
bestari yang terdiri dari kegiatan peer-review, surveillance dan assessment terhadap
pelayanan medis di rumah sakit.
Secara umum, pelaksanaan audit medis harus dapat memenuhi 4 (empat) peran
penting, yaitu :
a. sebagai sarana untuk melakukan penilaian terhadap kompetensi masing-
masing staf medis pemberi pelayanan di rumah sakit;
b. sebagai dasar untuk pemberian kewenangan klinis sesuai kompetensi yang
dimiliki;
c. sebagai dasar bagi komite medik dalam merekomendasikan pencabutan atau
penangguhan kewenangan klinis .
d. sebagai dasar bagi komite medik dalam merekomendasikan perubahan/
modifikasi rincian kewenangan klinis seorang staf medis.

2) Merekomendasikan Pendidikan Berkelanjutan Bagi Staf Medis.


a. subkomite mutu profesi menentukan pertemuan-pertemuan ilmiah yang harus
dilaksanakan oleh masing-masing kelompok staf medis dengan pengaturan-
pengaturan waktu yang disesuaikan.
b. Pertemuan tersebut dapat pula berupa pembahasan kasus tersebut antara lain
meliputi kasus kematian (death case), kasus sulit, maupun kasus langka.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 20 | 24
c. setiap kali pertemuan ilmiah harus disertai notulensi, kesimpulan dan daftar
hadir peserta yang akan dijadikan pertimbangan dalam penilaian disiplin
profesi.
d. notulensi beserta daftar hadir menjadi dokumen/arsip dari subkomite mutu
profesi.
e. Subkomite mutu profesi bersama-sama dengan kelompok staf medis
menentukan kegiatan-kegiatan ilmiah yang akan dibuat oleh subkomite mutu
profesi yang melibatkan staf medis rumah sakit sebagai narasumber dan
peserta aktif.
f. Setiap staf medis wajib mengikuti kegiatan ilmiah sesuai profesinya minimal
2x/th .
g. Subkomite mutu profesi bersama dengan bagian pendidikan & penelitian
rumah sakit memfasilitasi kegiatan tersebut dan dengan mengusahakan satuan
angka kredit dari ikatan profesi.
h. Subkomite mutu profesi menentukan kegiatan-kegiatan ilmiah yang dapat
diikuti oleh masing-masing staf medis setiap tahun dan tidak mengurangi hari
cuti tahunannya.
i. Subkomite mutu profesi memberikan persetujuan terhadap permintaan staf
medis sebagai asupan kepada direksi.

3) Memfasilitasi Proses Pendampingan bagi Staf Medis yang membutuhkan.


a. Subkomite mutu profesi menentukan nama staf medis yang akan mendampingi
staf medis yang sedang mengalami sanksi disiplin/mendapatkan pengurangan
clinical privilege.
b. Komite medik berkoordinasi dengan direktur rumah sakit untuk memfasilitasi
semua sumber daya yang dibutuhkan untuk proses pendampingan tersebut.

BAB IX
SUBKOMITE ETIKA DAN DISIPLIN PROFESI

Subkomite etika dan disiplin profesi pada komite medik di rumah sakit dibentuk dengan
tujuan:
a. melindungi pasien dari pelayanan staf medis yang tidak memenuhi syarat
(unqualified) dan tidak layak (unfit/unproper) untuk melakukan asuhan klinis
(clinical care).
b. memelihara dan meningkatkan mutu profesionalisme staf medis di rumah sakit.

Pasal 46
1) Komite Medik bertanggungjawab untuk upaya pendisiplinan staf medis yang
dilakukan oleh Sub Komite Etika dan Disiplin profesi.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 21 | 24
2) Upaya pendisiplinan staf medis dapat dilakukan melalui peringatan tertulis sampai
penangguhan kewenangan klinis staf medis yang dinilai melanggar disiplin profesi,
baik seluruhnya maupun sebagian.
3) Dengan ditangguhkannya kewenangan klinis maka staf medis tersebut tidak
diperkenankan melakukan pelayanan medis di rumah sakit.
4) Perubahan kewenangan klinis akibat tindakan disiplin profesi tersebut di atas
ditetapkan dengan surat keputusan direktur rumah sakit atas rekomendasi komite
medik.
5) Keanggotaan sub komite etika dan disiplin profesi adalah: ketua, sekretaris dan 2
anggota

Pasal 47
Sub Komite Etika dan Disiplin Profesi mempunyai tugas:
a. membuat dan melaksanakan rencana kerja;
b. menyusun tatalaksana pemantauan dan penanganan masalah etika dan disiplin
profesi;
c. mengusulkan kebijakan terkait bioetika;
d. melakukan koordinasi dengan Komite Etik dan Hukum Rumah Sakit;
e. melakukan pencatatan dan pelaporan secara berkala.

BAB X
PERATURAN PELAKSANAAN TATA KELOLA KLINIS

(1) Untuk melaksanakan tata kelola klinis (clinical governance) maka Komite Medik
perlu menyusun aturan-aturan profesi bagi staf medis (medical staff rules and
regulations) secara tersendiri diluar medical staff bylaws.
(2) Aturan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas, antara lain adalah:
a. pemberian pelayanan medis dengan standar profesi, standar pelayanan, dan
standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
b. kewajiban melakukan konsultasi dan/atau merujuk pasien kepada dokter,
dokter spesialis, dokter gigi, atau dokter gigi spesialis lain dengan disiplin
yang sesuai;
c. kewajiban melakukan pemeriksaan patologi anatomi terhadap semua
jaringan yang dikeluarkan dari tubuh dengan pengecualiannya.

KERAHASIAAN DAN INFORMASI MEDIS

Pasal 48
(1) Semua informasi medis mengenai pasien wajib diperlakukan sebagai rahasia
kedokteran yang harus dijunjung tinggi.

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 22 | 24
(2) Rahasia kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh
disebarluaskan ataupun disampaikan kepada pihak ketiga, baik perorangan
maupun lembaga, tanpa izin tertulis (written consent) dari pasien yang
bersangkutan.
(3) Tatalaksana mengenai penyampaian informasi medis kepada pihak ketiga, baik
perorangan maupun lembaga, diatur dengan Peraturan Direktur.

PENGAWASAN

Pasal 49
Staf medis dalam melaksanakan pelayanan klinik di rumah sakit harus menunjukkan
kinerja profesional (clinical performance) dan kinerja etik (ethical performance) sesuai
standar profesional dan standar etik yang tinggi.

Pasal 50
(1) Dalam hal staf medis menunjukkan kinerja profesional dan kinerja etik dibawah
standar maka kepadanya dapat dilakukan pembinaan.
(2) Apabila staf medis setelah pembinaan tetap memperlihatkan kinerja profesional
dan kinerja etik dibawah standar maka hak klinik yang bersangkutan dapat
diusulkan oleh Komite Medik kepada Direktur untuk dicabut.

BAB XI
TATA CARA REVIEW DAN PERBAIKAN PERATURAN INTERNAL STAF MEDIS

Pasal 51

(1) Peraturan internal staf medis (medical staf bylaws) dapat direview minimal sekali
dalam 3 (tiga) tahun.
(2) Usulan untuk merubah peraturan internal staf medis (medical staf bylaws) harus
disampaikan dalam rapat Komite Medik.
(3) Pembicaraan perubahan peraturan internal staf medis (medical staf bylaws) ini
hanya dapat dilaksanakan melalui rapat khusus yang diselenggarakan untuk
keperluan tersebut.
(4) Sebelum ditetapkan direktur, perubahan peraturan internal staf medis (medical
staf bylaws) harus sudah disepakati dalam rapat khusus sebagaimana dimaksud
pada ayat (3).

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 23 | 24
BAB XII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 52

Pola Tata Kelola staf medis (medical staff bylaws) RSU William Booth Semarang ini
berlaku sejak tanggal disahkan oleh direktur RSU. “William Booth” Semarang.

Semarang, 6 Februari 2019


RSU. “William Booth” Semarang

Dr. Bambang Sugeng, Sp.B Dr. Sri Kadarsih, MM


Ketua Komite Medik Direktur

Peraturan Internal Staf Medis (MSBL) RSU. “William Booth” Semarang tahun 2019 24 | 24