Anda di halaman 1dari 49

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. K DENGAN


TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) DI RUANG ICU
RSUD dr. LOEKMONO HADI KUDUS

Di susun guna memenuhi tugas Program Profesi Ners


Stase Keperawatan Gawat Darurat

Oleh :
1. Illya Ika Putri (62019040028)
2. Dewi Laila H (62019040015)
3. Fittia Oktaviani (62019040023)
4. Lailis Safittri (62019040032)

PROGRAM PROFESI NERS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di era globalisasi seperti sekarang ini derajat kesehatan masyarakat semakin baik.
Banyak kasus penyakit menular yang segera teratasi. Media sosial menjadi ujung tombak
promosi kesehatan. Masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi perhatian di
Indonesia adalah penyakit menular dan penyakit akibat lingkungan tidak sehat. Salah
satu penyakit menular yang sering menjadi masalah adalah penyakit Tuberkulosis.
Penyakit Tuberkulosis atau yang sering disebut TB Paru adalah penyakit infeksi menular
yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini merupakan
bakteri basil tahan asam yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu yang lama untuk
mengobatinya (Kemenkes, 2011).
Tuberkulosis merupakan salah satu penyebab tertinggi angka morbiditas dan
mortalitas, dan merupakan masalah yang tidak hanya timbul di negara berkembang, akan
tetapi juga di negara maju. Jumlah penderita tuberkulosis selalu meningkat setiap
tahunnya. Melihat tingginya angka kematian karena TB paru maka WHO menepakan
strategi yaitu Milenium Development Goals (MDGs). Dampak dari penerapan MDG
Angka kematian turun sampai 41% (WHO, 2012).
World Health Organization (WHO) pada tahun 2014, terdapat 6,1 juta kasus TB
Paru. Dari jumlah kasus tersebut 5,7 juta adalah orang-orang yang baru di diagnosis dan
0,4 juta lainnya sudah dalam pengobatan. Dilaporkan terdapat 6.216.513 TB paru kasus
baru, dan 2.621.308 merupakan BTA positif. Kasus terbanyak TB paru antara umur 15-
44 tahun, didapatkan 734.908 kasus (World Health Organization, 2015).
Berdasarkan data Global Report TB 2013, Indonesia termasuk kedalam 5 besar
diantara 22 high burden countries dan berada pada peringkat ke-4 setelah India, Cina,
dan Afrika Selatan. Penderita TB di Indonesia diperkirakan setiap tahunnya terdapat
460.000 kasus baru dengan jumlah kematian sebesar 62.246 orang. Insidensi kasus TB
bacil tahan asam (BTA) positif sekitar 297 per 100.000 penduduk. Diperkirakan terdapat
3,7% dari kasus baru dan 20% kasus lama yang telah ditangani telah mengalami multi
drug resistant tuberculosis. Diperkirakan terdapat 539.000 kasus baru dan kematian
101.000 orang setiap tahunnya. Jumlah kejadian TB paru di Indonesia yang ditandai
dengan adanya Basil Tahan Asam (BTA) positif pada pasien adalah 110 per 100.000
penduduk (Riskesdas, 2013).
Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR) kasus baru BTA positif
di Jawa Tengah tahun 2017 sebesar 60,91 per 100.000 penduduk, hal ini menunjukkan
bahwa penemuan kasus Tuberkulosis di Jawa Tengah mengalami penurunan
dibandingkan tahun 2016 yaitu 115,36 per 100.000 penduduk. Prevalensi di Kabupaten
Kudus tahun 2017 adalah sebesar 96,1 per 100.000 penduduk (Dinkes Prov Jateng,
2017).
Penderita TB paru sepanjang perjalanan penyakit akan mengalami beberapa
gejala yang mengganggu kehidupannya. Gejala utama TB yaitu batuk dalam jangka
waktu yang lama. Selain itu, penderita TB juga mengalami demam yang tidak terlalu
tinggi, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, lemah, serta rasa tidak enak
(malaise). Bukan hanya itu, apabila terdapat sumbatan di bronkus akibat pembesaran
kelenjar getah bening di sekitarnya, penderita akan mengeluhkan nafas yang lemah
hingga sesak. Apabila terdapat cairan di rongga pleura, dapat disertai dengan keluhan
sakit dada. Berbagai gejala klinis tersebut akan sangat mengganggu penderita TB
sehingga mengganggu kualitas hidupnya. Kualitas hidup mengalami peningkatan sejalan
dengan penurunan gejala fisik pasien TB (Soemantri, Bisara, & Philipus, 2014).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penulis mendapatkan pengalaman dalam peranan asuhan keperawatan pada
pasien Tuberkulosis Paru.
2. Tujuan Khusus
Penulis mengetahui dan mampu:
a. Melakukan pengkajian keperawatan pada pasien Tuberkulosis Paru.
b. Merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien Tuberkulosis Paru.
c. Menyusun rencana asuhan keperawatan pada pasien Tuberkulosis Paru.
d. Melakukan implementasi keperawatan pada pasien Tuberkulosis Paru.
e. Melakukan evaluasi keperawatan pada pasien Tuberkulosis Paru..
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang menular disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Kuman tuberkulosis banyak menyerang organ paru
meskipun dapat menyerang organ yang lain sehingga penyakit ini dikenal dengan nama
tuberkulosis paru (TB paru), sedangkan yang menyerang organ lain selain paru
dinamakan tuberkulosis ekstra paru. Bakteri tuberkulosis mempunyai keistimewaan, yaitu
tahan terhadap pencucian warna dengan asam dan alkohol, oleh karena itu disebut basil
tahan asam (Widoyono, 2011).
Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium Tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam
sehingga dikenal juga sebagai basil tahan asam (BTA) (Sandina, 2011).

B. Klasifikasi TB Paru
Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, (2013), klasifikasi TB Paru dibedakan atas:
1) Berdasarkan organ yang terinvasi
a. TB Paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura
(selaput paru). Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2,
yaitu :
1. TB Paru BTA Positif
Disebut TB Paru BTA (+) apabila sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak
SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu) hasilnya positif, atau 1 spesimen dahak SPS positif
disertai pemeriksaan radiologi paru menunjukan gambaran TB aktif.
2. TB Paru BTA Negatif
Apabila dalam 3 pemeriksaan spesimen dahak SPS BTA negatif dan pemeriksaan
radiologi dada menunjukan gambaran TB aktif. TB Paru dengan BTA (-) dan
gambaran radiologi positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan, bila
menunjukan keparahan yakni kerusakan luas dianggap berat.
b. TB ekstra paru yaitu tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru,
misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing dan alat kelamin. TB ekstra paru
dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya yaitu :
1. TB ekstra paru ringan yang menyerang kelenjar limfe, pleura, tulang (kecuali
tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal
2. TB ekstra paru berat seperti meningitis, pericarditis, peritonitis, TB tulang
belakang, TB saluran kencing dan alat kelamin.
2) Berdasarkan tipe penderita
Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada beberapa
tipe penderita :
a) Kasus baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah
pernah menelan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) kurang dari satu bulan.
b) Kambuh (relaps) adalah penderita TB yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali berobat dengan hasil
pemeriksaan BTA positif.
c) Pindahan (transfer in) yaitu penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu
kabupaten lain kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita pindahan
tersebut harus membawa surat rujukan/pindah.
d) Kasus berobat setelah lalai (default/drop out) adalah penderita yang sudah berobat
paling kurang 1 bulan atau lebih dan berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang
kembali berobat.

C. Etiologi
Penyakit TB Paru disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Kuman
ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan,
Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati
dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang
gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama
beberapa tahun.
Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang terinfeksi oleh Mycobacterium
tuberculosis :
1. Herediter: resistensi seseorang terhadap infeksi kemungkinan diturunkan secara
genetik.
2. Jenis kelamin: pada akhir masa kanak-kanak dan remaja, angka kematian dan
kesakitan lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
3. Usia : pada masa bayi kemungkinan terinfeksi sangat tinggi.
4. Pada masa puber dan remaja dimana masa pertumbuhan yang cepat, kemungkinan
infeksi cukup tingggi karena diit yang tidak adekuat.
5. Keadaan stress: situasi yang penuh stress (injury atau penyakit, kurang nutrisi, stress
emosional, kelelahan yang kronik)
6. Meningkatnya sekresi steroid adrenal yang menekan reaksi inflamasi dan memudahkan
untuk penyebarluasan infeksi.
7. Anak yang mendapat terapi kortikosteroid kemungkinan terinfeksi lebih mudah.
8. Nutrisi ; status nutrisi kurang
9. Infeksi berulang : HIV, Measles, pertusis.
10. Tidak mematuhi aturan pengobatan.

D. Manifestasi Klinis
Diagnosa TB berdasarkan gejala/manifestasi klinis dibagi menjadi 3, diantaranya:
1. Gejala respiratorik, meliputi:
a) Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering
dikeluhkan. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan
bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan.
b) Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau
bercak-bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat
banyak. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya
batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.
c) Sesak nafas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-
hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
d) Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul
apabila sistem persarafan di pleura terkena.
2. Gejala sistemik meliputi:
a) Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari
mirip demam influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya
sedang masa bebas serangan makin pendek.
b) Gejala sistemik lain :
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta
malaise. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan, akan
tetapi penampilan akut dengan batuk, panas, sesak napas walaupun jarang dapat
juga timbul menyerupai gejala pneumonia.
3. Gejala Tuberkulosis ekstra Paru
Tergantung pada organ yang terkena, misalnya : limfedanitis tuberkulosa. Meningitsis
tuberkulosa, dan pleuritis tuberkulosa.

E. Patofisiologi
Ketika seorang klien TB paru batuk, bersin, atau berbicara, maka secara tak sengaja
keluarlah droplet nuklei dan jatuh ke tanah, lantai, atau tempat lainnya. Akibat terkena
sinar matahari atau suhu udara yang panas, droplet nuklei tadi menguap. Menguapnya
droplet bakteri ke udara dibantu dengan pergerakan angin akan membuat bakteri
tuberkolosis yang terkandung dalam droplet nuklei terbang ke udara. Apabila bakteri ini
terhirup oleh orang sehat, maka orang itu berpotensi terkena infeksi bakteri tuberkolosis.
Penularan bakteri lewat udara disebut dengan air-borne infection. Bakteri yang terisap
akan melewati pertahanan mukosilier saluran pernapasan dan masuk hingga alveoli. Pada
titik lokasi di mana terjadi implantasi bakteri, bakteri akan menggandakan diri
(multiplying). Bakteri tuberkolosis dan fokus ini disebut fokus primer atau lesi primer
(fokus Ghon). Reaksi juga terjadi pada jaringan limfe regional, yang bersama dengan
fokus primer disebut sebagai kompleks primer. Dalam waktu 3-6 minggu, inang yang
baru terkena infeksi akan menjadi sensitif terhadap tes tuberkulin atau tes Mantoux.
Berpangkal dari kompleks primer, infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui
berbagai jalan, yaitu:
1) Percabangan bronkhus
Dapat mengenai area paru atau melalui sputum menyebar ke laring (menyebabkan
ulserasi laring), maupun ke saluran pencernaan.
2) Sistem saluran limfe
Menyebabkan adanya regional limfadenopati atau akhirnya secara tak langsung
mengakibatkan penyebaran lewat darah melalui duktus limfatikus dan menimbulkan
tuberkulosis milier.
a. Aliran darah
Aliran vena pulmonalis yang melewati lesi paru dapat membawa atau
mengangkut material yang mengandung bakteri tuberkulosis dan bakteri ini dapat
mencapai berbagai organ melalui aliran darah, yaitu tulang, ginjal, kelenjar adrenal,
otak, dan meningen.
Rektifasi infeksi primer (infeksi pasca-primer)
Jika pertahanan tubuh (inang) kuat, maka infeksi primer tidak berkembang lebih
jauh dan bakteri tuberkulosis tak dapat berkembang biak lebih lanjut dan menjadi
dorman atau tidur. Ketika suatu saat kondisi inang melemah akibat sakit lama/keras
atau memakai obat yang melemahkan daya tahan tubuh terlalu lama, maka bakteri
tuberkulosis yang dorman dapat aktif kembali. Inilah yang disebut reaktifasi infeksi
primer atau infeksi pasca-primer. Infeksi ini dapat terjadi bertahun-tahun setelah
infeksi primer terjadi. Selain itu, infeksi pasca-primer juga dapat diakibatkan oleh
bakteri tuberkulosis yang baru masuk ke tubuh (infeksi baru), bukan bakteri dorman
yang aktif kembali. Biasanya organ paru tempat timbulnya infeksi pasca-primer
terutama berada di daerah apeks paru.
b. Infeksi Primer
Tuberkulosis primer adalah infeksi bakteri TB dari penderita yang belum
mempunyai reaksi spesifik terhadap bakteri TB. Infeksi primer terjadi saat
seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat
kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus,
dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai
saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru,
yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran limfe akan membawa
kuman TB ke kelenjar limfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks
primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer
adalah 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan
reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Kelanjutan setelah infeksi primer
tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas
seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan
perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap
sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh
tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa
bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi,
yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan
sekitar 6 bulan.
c. Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB)
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun
sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi
HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah
kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.
Perjalanan Alamiah TB yang Tidak Diobati
Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50 % dari penderita TB akan meninggal, 25
% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25 % sebagai kasus
kronik yang tetap menular (WHO 1996).
d. Pengaruh Infeksi HIV
Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler
(Cellular Immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis,
maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian.
Bila jumlah horang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah penderita TB akan
meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.
F. PATHWAYS
Faktor toksik Terpapar Lingkungan Sosial ekonomi Gizi buruk Daya tahan
(rokok, alkohol) penderita TBC yang buruk lemah tubuh menurun

Microbacterium tuberkulosis
aktif menjadi kuman patogen

Infeksi paru-paru
(tuberkulsis paru)

Infeksi paru-paru
(tuberkulsis paru)

Perandangan pada membran Pembentukan tuberkel oleh Menghasilkan sekret


parenkim paru makrofag (sarang primer)

Terganggunya Tidak bisa batuk efektif


thermoregulasi tubuh
Sarang primer
Limfangitis lokalt
Hipertermia Penumpukan sekret meningkat

Komplek primer Bersihan jalan nafas tdk efektif

Sembuh dengan Penyebaran ke organ lain


sarang gohn

Infeksi endogen oleh Saluran Pleura Jantung Tulang Otak


kuman dormant Pencernaan

Infeksi post primer Pleuritis Perikarditis TB Meningitis


Lambung Tulang
Membentuk kavitas
TIK
HCl meningkat Nyeri Nyeri meningkat
Mengganggu perfusi dada pada
dan difusi O2 Tulang
Mual Nyeri
Suplai O2 menurun muntah Kepala
Anoreksia Nyeri Akut
Sesak nafas
Ketidakseimbangan
Gangguan nutrisi kurang dari
Pertukaran gas kebutuhan
G. Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan Rontgen Thoraks sangat berguna untuk mengevaluasi hasil pengobatan
dan ini tergantung pada tipe keterlibatan dan kerentanan bakteri tuberkel terhadap
OAT, apakah sama baiknya dengan respon dari klien. Penyembuhan yang
lengkap sering kali yang terjadi di beberapa area dan ini adalah observasi yang
dapat terjadi pada penyembuhan yang lengkap.
2) CT scan atau MRI memperlihatkan adanya gangguan meluasnya kerusakan paru.
3) Radiologis TB Paru Milier
4) Pemeriksaan Laboratorium. Diagnostic terbaik dari penyakit TB diperoleh dengan
pemeriksaan mikrobiologi melalui isolasi bakteri. Bahan pemeriksaan untuk isolasi
Mycobacterium Tuberculosis berupa :
 Sputum, diambil pada pagi hari / sputum yang baru keluar.
 Urine. Urine pertama di pagi hari
 Cairan kumbah lambung. Pemeriksaan ini digunakan jika klien tidak dapat
mengeluarkan sputum.
 Bahan-bahan lain, misalnya pus

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tuberkulosis antara lain :
1. Pencegahan Tuberkulosis Paru
 Pemeriksaan kontak, yaitu pemeriksaan terhadap individu yang bergaul erat
dengan penderita tuberkulosis paru BTA positif. Pemeriksaan meliputi tes
tuberkulin, klinis, dan radiologis. Bila tes tuberkulin positif, maka pemeriksaan
radiologis foto thorax diulang pada 6 dan 12 bulan mendatang. Bila masih negatif,
diberikan BCG vaksinasi. Bila positif, berarti terjadi konversi hasil tes tuberkulin
dan diberikan kemoprofilaksis.
 Mass chest X-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok-kelompok
populasi tertentu misalnya: karyawan rumah sakit/Puskesmas/balai pengobatan,
penghuni rumah tahanan, dan siswa-siswi pesantren.
o Vaksinasi BCG
o Kemoprofilaksis dengan menggunakan INH 5 mg/kgBB selama 6-12 bulan
dengan tujuan menghancurkan atau mengurangi populasi bakteri yang masih
sedikit. Indikasi kemoprofilaksis primer atau utama ialah bayi yang menyusu
pada ibu dengan BTA positif, sedangkan kemoprofilaksis sekunder diperlukan
bagi kelompok berikut: bayi di bawah lima tahun dengan hasil tes tuberkulin
positif karena resiko timbulnya TB milier dan meningitis TB, anak dan remaja
di bawah 20 tahun dengan hasil tes tuberkulin positif yang bergaul erat dengan
penderita TB yang menular, individu yang menunjukkan konversi hasil tes
tuberkulin dari negatif menjadi positif, penderita yang menerima pengobatan
steroid atau obat imunosupresif jangka panjang, penderita diabetes mellitus.
o Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang penyakit tuberkulosis
kepada masyarakat di tingkat Puskesmas maupun di tingkat rumah sakit oleh
petugas pemerintah maupun petugas LSM (misalnya Perkumpulan
Pemberantasan Tuberkulosis Paru Indonesia – PPTI).
2. Pengobatan Tuberkulosis Paru
Mekanisme kerja obat anti-tuberkulosis (OAT) :
a. Aktivitas bakterisidal, untuk bakteri yang membelah cepat
b. Aktivitas sterilisasi, terhadap the pesisters (bakteri semidormant)
c. Aktivitas bakteriostatis, obat-obatan yang mempunyai aktivitas bakteriostatis
terhadap bakteri tahan asam.
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi dua fase yaitu
1. Fase intensif (2-3 bulan) :
Tujuan tahapan awal adalah membunuh kuman yang aktif membelah sebanyak-
banyaknya dan secepat-cepatnya dengan obat yang bersifat bakterisidal. Selama
fase intensif yang biasanya terdiri dari 4 obat, terjadi pengurangan jumlah kuman
disertai perbaikan klinis. Pasien yang infeksi menjadi noninfeksi dalam waktu 2
minggu. Sebagian besar pasien dengan sputum BTA positif akan menjadi negatif
dalam waktu 2 bulan. Menurut The Joint Tuberculosis Committee of the British
Thoracic Society, fase awal diberikan selama 2 bulan yaitu INH 5 mg/kgBB,
Rifampisin 10 mg/kgBB, Pirazinamid 35 mg/kgBB dan Etambutol 15 mg/kgBB.
2. Fase lanjutan (4-7 bulan).
Selama fase lanjutan diperlukan lebih sedikit obat, tapi dalam waktu yang lebih
panjang. Penggunaan 4 obat selama fase awal dan 2 obat selama fase lanjutan
akan mengurangi resiko terjadinya resistensi selektif. Menurut The Joint
Tuberculosis Committee of the British Thoracic Society fase lanjutan selama 4
bulan dengan INH dan Rifampisin untuk tuberkulosis paru dan ekstra paru.
Etambutol dapat diberikan pada pasien dengan resistensi terhadap INH.
Pada pasien yang pernah diobati ada resiko terjadinya resistensi. Paduan
pengobatan ulang terdiri dari 5 obat untuk fase awal dan 3 obat untuk fase
lanjutan. Selama fase awal sekurang-kurangnya 2 di antara obat yang diberikan
haruslah yang masih efektif.
Untuk program nasional pemberantasan TB paru, WHO menganjurkan panduan obat
sesuai dengan kategori penyakit. Kategori didasarkan pada urutan kebutuhan pengobatan
dalam program. Untuk itu, penderita dibagi dalam empat kategori sebagai berikut:
1. Kategori I (2HRZE/4H3R3)
Kategori I adalah kasus baru dengan sputum positif dan penderita dengan keadaan
yang berat seperti meningitis, TB milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis massif atau
bilateral, spondiolitis dengan gangguan neurologis, dan penderita dengan sputum
negatif tetapi kelainan parunya luas, TB usus, TB saluran perkemihan, dan
sebagainya. Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol
setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin
tiga kali dalam seminggu ( tahap lanjutan ).
2. Kategori II ( HRZE/5H3R3E3 )
Kategori II adalah kasus kambuh atau gagal dengan sputum tetap positif diberikan
kepada :
a. Penderita kambuh
b. Penderita gagal terapi
c. Penderita dengan pengobatan setelah lalai minun obat
3. Kategori III ( 2HRZ/4H3R3 )
Kategori III adalah kasus sputum negatif tetapi kelainan parunya tidak luas dan kasus
TB di luar paru selain yang disebut dalam kategori I.
4. Kategori IV
Kategori IV adalah tuberkulosis kronis. Prioritas pengobatan rendah karena
kemungkinan keberhasilan rendah sekali.

I. Pengkajian
Pengkajian dengan TB Paru pada klien dewasa, meliputi :
1. Identitas
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama,
pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, dan
penanggung biaya.
2. Riwayat Sakit dan Kesehatan
a. Keluhan utama
Keluhan yang sering menyebabkan klien dengan TB paru meminta pertolongan
dari tim kesehatan dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu:
1) Keluhan respiratoris, meliputi:
- Batuk, nonproduktif/ produktif atau sputum bercampur darah
- Batuk darah, seberapa banyak darah yang keluar atau hanya berupa blood
streak, berupa garis, atau bercak-bercak darah
- Sesak napas
- Nyeri dada
b. Riwayat penyakit saat ini
Pengkajian ringkas dengan PQRST dapat lebih memudahkan perawat dalam
melengkapi pengkajian.
Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor penyebab sesak
napas, apakah sesak napas berkurang apabila beristirahat?
Quality of Pain: seperti apa rasa sesak napas yang dirasakan atau digambarkan
klien, apakah rasa sesaknya seperti tercekik atau susah dalam melakukan
inspirasi atau kesulitan dalam mencari posisi yang enak dalam melakukan
pernapasan?
Region: di mana rasa berat dalam melakukan pernapasan?
Severity of Pain: seberapa jauh rasa sesak yang dirasakan klien?
Time: berapa lama rasa nyeri berlangsung, kapan, bertambah buruk pada malam
hari atau siang hari, apakah gejala timbul mendadak, perlahan-lahan atau
seketika itu juga, apakah timbul gejala secara terus-menerus atau hilang timbul
(intermitten), apa yang sedang dilakukan klien saat gejala timbul, lama
timbulnya (durasi), kapan gejala tersebut pertama kali timbul (onset).
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang mendukung adalah dengan mengkaji apakah sebelumnya
klien pernah menderita TB paru, keluhan batuk lama pada masa kecil,
tuberkulosis dari organ lain, pembesaran getah bening, dan penyakit lain yang
memperberat TB paru seperti diabetes mellitus. Tanyakan mengenai obat-obat
yang biasa diminum oleh klien pada masa lalu yang relevan, obat-obat ini
meliputi obat OAT dan antitusif. Catat adanya efek samping yang terjai di masa
lalu. Kaji lebih dalam tentang seberapa jauh penurunan berat badan (BB) dalam
enam bulan terakhir. Penurunan BB pada klien dengan TB paru berhubungan erat
dengan proses penyembuhan penyakit serta adanya anoreksia dan mual yang
sering disebabkan karena meminum OAT.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Secara patologi TB paru tidak diturunkan, tetapi perawat perlu menanyakan
apakah penyakit ini pernah dialami oleh anggota keluarga lainnya sebagai faktor
predisposisi di dalam rumah.
e. Pengkajian Psiko-sosio-spiritual
Pengkajian psikologis klien meliputi beberapa dimensi yang memungkinkan
perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi, kognitif,
dan perilaku klien. Perawat mengumpulkan data hasil pemeriksaan awal klien
tentang kapasitas fisik dan intelektual saat ini. Data ini penting untuk
menentukan tingkat perlunya pengkajian psiko-sosio-spiritual yang seksama.
Pada kondisi, klien dengan TB paru sering mengalami kecemasan bertingkat
sesuiai dengan keluhan yang dialaminya.
f. Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )
Pemeriksaan fisik pada klien dengan TB paru meliputi pemerikasaan fisik
umum per system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital,
B1 (breathing), B2 (Blood), B3 (Brain), B4 (Bladder), B5 (Bowel), dan B6
(Bone) serta pemeriksaan yang focus pada B2 dengan pemeriksaan menyeluruh
system pernapasan.
 Pengkajian Primer
1. Airways
- Sumbatan atau penumpukan secret
- Wheezing atau krekles
2. Breathing
- Sesak dengan aktifitas ringan atau istirahat
- RR lebih dari 24 kali/menit, irama ireguler dangkal
- Ronchi, krekles
- Ekspansi dada tidak penuh
- Penggunaan otot bantu nafas
3. Circulation
- Nadi lemah , tidak teratur
- Takikardi
- TD meningkat / menurun
- Edema
- Gelisah
- Akral dingin
- Kulit pucat, sianosis
- Output urine menurun
 Pengkajian Sekunder
1. Aktifitas
Gejala :
- Kelemahan
- Kelelahan
- Tidak dapat tidur
- Pola hidup menetap
- Jadwal olah raga tidak teratur
Tanda :
- Takikardi
- Dispnea pada istirahat atau aaktifitas
2. Sirkulasi
Gejala : riwayat IMA sebelumnya, penyakit arteri koroner, masalah tekanan darah,
diabetes mellitus.
Tanda :
- Tekanan darah
Dapat normal / naik / turun
Perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk atau berdiri
- Nadi
Dapat normal , penuh atau tidak kuat atau lemah / kuat kualitasnya dengan
pengisian kapiler lambat, tidak teratus (disritmia)
- Bunyi jantung
Bunyi jantung ekstra : S3 atau S4 mungkin menunjukkan gagal jantung atau
penurunan kontraktilits atau komplain ventrikel
- Murmur
Bila ada menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot jantung
- Friksi ; dicurigai Perikarditis
- Irama jantung dapat teratur atau tidak teratur
- Edema
Distensi vena juguler, edema dependent , perifer, edema umum,krekles mungkin
ada dengan gagal jantung atau ventrikel
- Warna
Pucat atau sianosis, kuku datar , pada membran mukossa atau bibir
3. Integritas ego
Gejala : menyangkal gejala penting atau adanya kondisi takut mati, perasaan ajal
sudah dekat, marah pada penyakit atau perawatan, khawatir tentang
keuangan , kerja , keluarga
Tanda : menoleh, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah, marah, perilaku
menyerang, focus pada diri sendiri, koma nyeri
4. Eliminasi
Tanda : normal, bunyi usus menurun.
5. Makanan atau cairan
Gejala : mual, anoreksia, bersendawa, nyeri ulu hati atau terbakar
Tanda : penurunan turgor kulit, kulit kering, berkeringat, muntah, perubahan berat
badan
6. Hygiene
Gejala atau tanda : lesulitan melakukan tugas perawatan
7. Neurosensori
Gejala : pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk atau istrahat )
Tanda : perubahan mental, kelemahan
8. Nyeri atau ketidaknyamanan
Gejala :
- Nyeri dada yang timbulnya mendadak (dapat atau tidak berhubungan dengan
aktifitas ), tidak hilang dengan istirahat atau nitrogliserin (meskipun kebanyakan
nyeri dalam dan viseral)
- Lokasi :
Tipikal pada dada anterior, substernal , prekordial, dapat menyebar ke tangan,
ranhang, wajah. Tidak tertentu lokasinya seperti epigastrium, siku, rahang,
abdomen, punggung, leher.
- Kualitas :
“Crushing ”, menyempit, berat, menetap, tertekan, seperti dapat dilihat .
- Intensitas :
Biasanya 10(pada skala 1 -10), mungkin pengalaman nyeri paling buruk yang
pernah dialami.
- Catatan : nyeri mungkin tidak ada pada pasien pasca operasi, diabetes mellitus ,
hipertensi, lansia
9. Pernafasan:
Gejala :
- dispnea tanpa atau dengan kerja
- dispnea nocturnal
- batuk dengan atau tanpa produksi sputum
- riwayat merokok, penyakit pernafasan kronis.
Tanda :
- peningkatan frekuensi pernafasan
- nafas sesak / kuat
- pucat, sianosis
- bunyi nafas ( bersih, krekles, mengi ), sputum
10. Interkasi social
Gejala :
- Stress
- Kesulitan koping dengan stressor yang ada missal : penyakit, perawatan di RS
Tanda :
- Kesulitan istirahat dengan tenang
- Respon terlalu emosi ( marah terus-menerus, takut )
- Menarik diri
Penatalaksanaan
Prinsip : Menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung dan meningkatkan persediaan
oksigen
 Pertolongan dasar (Basic Life Support) :
A : Airway control (jalan udara).
Tujuan
Agar jalan nafas bebas dan bersih serta udara bisa mengalir ke paru.
B : Breathing support (pernafasan).
Tujuan
Memberikan bantuan pernafasan ventilasi buatan dan pemberian oksigenisasi.
Intervensi
Meskipun khasiatnya belum diakui untuk infark miokardium tanpa komplikasi,
oksigen sebaiknya diberikan dengan kecepatan 2 – 4 L / menit lewat kanula
hidung.
C : Circulation support (sirkulasi).
Tujuan
Untuk memmbantu sirkulasi kompresi jantung luar.
Intervensi
Dengan cara melihat ada tidaknya dednyut nadi, bila tridak ada bisa dilakukan
RKP (resusitasi Kardio Pulmoner) yaitu dengan kompresi :
- Setiap kompresi dihitung keras-keras.
- Waktu pemberian ventilasi dilakukan secara cepat 5 – 6 detik tanpa ekhalasi.
- Penekanan lebih menggunakan penekanan berat daripada lengan dan bahu.
- Dilakukan harus teratur, berirama, dan menyentak atau mendadak. Fase
kompresi dan relaksasi mempunyai jangka waktu yang lama.
- Telapak tangan tidak boleh lepas dari sternum.
- Periksa arteri karotis setiap 4x siklus (± 1 menit).
- Jika arteri karotis teraba, hentikan kompresi selama 5 detik.
Kompresi dada Ratio
Kriteria Jumlah Rate kompresi
Kompresi Kedalaman
pasien penolong ventilasi Rate berbanding
dengan (cm)
ventilasi
80 x/menit
Dewasa 2 x/10
1 2 tangan (15 x/10 4–5 15 : 2
(>4 thn) detik
detik)

 Pertolongan Lanjut (Advanced Life Support) :


D : Drug and fluid (pemberian cairan dan obat-obatan).
Tujuan
Untuk mengurangi rasa nyeri dada, vasodilator untuk meningkatkan aliran darah
koroner.
Intervensi
Sedative seperti diazepam 3-4x 2-5 mg peroral pada insomnia dapat ditambah
flurazepam 15-30 mg. analgesic seperti morfin 2,5-5 mg IV atau petidin 25-50 mg
IM, lain-lain seperti nitrat, antagonis kalsium dan beta bloker. Nitrogliserin 0,4-
1,2 mg (sublingual) atau 1 – 2 mg (pasta topikal). Antikoagulan seperti heparin
20000-40000 U/24 jam IV tiap 4-6 jam atau drip IV dilakukan atas indikasi,
diteruskan dengan asetakumarol atau warfarin. Infuse dextrose 5% atau NaCl
0,9%.
E : Electrocardiography (EKG).
Tujuan
Untuk mengantisipasi timbulnya aritmia.
Intervensi
Monitor EKG secara serial.
F : Fibrillation treatmen
Tujuan
Menentukan kerusakan otak dan resusitasi serebral.
Intervensi
Untuk mengobati fibrilasi ventrikel dilakukan DC – shock. Defibrilasi dilakukan 3
Joule / kg BB. Dosis ulangan tertinggi adalah 5 Joule / kg BB dengan maksimal
400 Joule (Wsec).
Gelombang fibrilasi dapat halus (fine) atau kasar (coarse). Gelombang yang halus
biasanya kurang berespons dengan DC – shock. Pemberian epinefrin dapat
meningkatkan amplitude gelombang fibilasi dan membuat jantung lebih peka
terhadap DC – shock. Epinefrin diberikan Intravena sebanyak 0,5 – 1 ml
(konsentrasi 1 : 1000). Pijat Jantung Luar (PJL) dan ventilasi tetap diberikan
selama 1 – 2 menit, agar epinefrin dapat dialirkan dari jantung. Kalsium – klorid
10 ml yang diberikan Intravena mempunyai efek yang sama dengan epinefrin.
Bila setelah DC – shock 400 Joule diulangi fibrilasi ventrikel tetap ada , dapat
diberi lagi epinefrin Intravena , yang dapat diulangi setiap 3 – 5 menit. Selama itu
PJL dan ventilasi tetap dilakukan. Dapat pula diberikan lidokain bolus Intravena
75 mg; ini akan meningkatkan respons jantung terhadap DC – shock. Pemberian
lidokain dapat diulangi setiap 5 menit, tetapi dosis maksimal tidak boleh melebihi
200 – 300 mg. Bila DC – shock dan lidoakain belum berhasil mengembalikan
irama sinus, dapat diberikan propranolol 1 mg Intravena, kemudian diikuti dengan
DC – shock berikutnya.
Biasanya pasien sudah memberi respos dengan 2 – 3 kali DC – shock, tetapi
kadang-kadang diperlukan 9 kali atau lebih. Bila dengan DC – shock ketiga belum
ada respons, dianjurkan untuk memakai defiblirator lain.
 Pertolongan Jangka Panjang (Prolonged Life Support) :
G : Gauging (penilaian)
Tujuan
Memonitor dan mengevaluasi Resusitasi Kardio Pulmoner (RKP), pemeriksaan
dan penentuan penyebab dasar serta penilaian dapat tidaknya pasien diselamatkan
dan diteruskan pengobatan.
Intervensi
H : Human mentation
Tujuan
Menentukan fungsi otak apakah normal / dapat pulih kembali.
Intervensi
I : Intensive care
Tujuan
Untuk perawatan intensive jangka panjang. Mempertahankan homeostatis ekstra –
kranial dan homeostatis intra – kranial, antara lain dengan mengusahakan agar
fungsi pernafasan, kardiovaskuler, metabolik, fungsi ginjal dan fungsi hati
menjkadi maksimal. Memastikan apakah pasien dapat sembuh kembali atau
adanya kematian serebral.
J. Diagnosa & Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Keperawatan Tujaun/KH Intervensi
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d
Jalan napas bersih dan efektif Independen
- Sekret kental atau mengandung setelah ….hari perawatan 1. Mengkaji fungsi respirasi antara lain suara, jumlah,
darah KH : irama, dan kedalaman napas serta catatan pula mengenai
- Fatigue  Pasien menyatakan bahwa penggunaan otot napas tambahan.
- Kemampuan batuk kurang batuk berkurang, tidak ada 2. Mencatat kemampuan untuk mengeluarkann secret/batuk
- Edema trakea / faring sesak dan secret berkurang. secara efektif.
 Suara napa 3. Mengatur posisi tidur semi atau high fowler. Membantu
normal (vesikuler) pasien untuk berlatih batuk secara efektif dan menarik
 Frekuensi napas 16-20 kali napas dalam
permenit (dewasa) 4. Membersihkan secret dari dalam mulut dan trachea,
 Tidak ada dispnea suction jika memungkinkan.
5. Memberikan minum kurang lebih 2.500 ml/hari,
menganjurkan untuk minum dalam kondisi hangat jika
tidak ada kontra indikasi.
Kolaborasi
1. Memberikan O2 udara inspirasi yang lembap.
2. Memberikan pengobatan atas indikasi :
a. Agen mukolitik, misal: Acetilcystein (mucomyst)
b. Bronkodilator misal: Theophyline, Oxtriphyline
c. Kortikosteroid (prednisone), misal: Dexamethason.
3. Memberikan agen anti infeksi , misal :
a. Obat primer : Isoniazid (INH), Ethambutol (EMB),
Rifampisin (RMP).
b. Pyrazinamide (PZA), Para Amino Slicilic (PAS),
Streptomycin.
c. Monitor pemeriksaan Laboratorium (sputum)
2. Gangguan pertukaran gas b/d Tujuan : dalam waktu 2x24 Mandiri
penurunan jaringan efektif paru, jam setelah diberikan gangguan 1. Kaji dispnea, takipnea, bunyi napas, peningkatan upaya
atelektasis, kerusakan membrane pertukaran gas tidak terjadi. pernapasan, ekspansi thoraks, dan kelemahan.
alveolar-kapiler, dan edema KH : 2. .Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat sianosis,
bronchial.  Melaporkan penurunan dan perubahan warna kulit, termasuk membrane mukosa
dispnea. dan kuku.
 Klien menunjukkan tidak 3. Tunjukkan dan dukung pernapasan bibir selama
ada gejala distres ekspirasi khusunya untuk klien dengan fibrosis dan
pernapasan. kerusakan parenkim paru.
 Menunjukkan perbaikan 4. Tingkatkan tirah baring, batasi aktivitas, dan bantu
ventilasi dan kadar oksigen kebutuhan perawatan diri sehari-hari sesuai keadaan
jaringan adekuat gas darah klien.
arteri dalam rentang normal. Kolaborasi
1. Pemeriksaan AGD
2. Pemberian oksigen sesuai kebutuhan tambahan.
3. Kortikosteroid.
3. Ketidakseimbangan nutrisi, kurang Tujuan : keseimbangan nutrisi Independen
dari kebutuhan tubuh b/d perasaan terjaga setelah….. hari 1. Mendokumentasikan status nutrisi pasien, serta mencatat
mual, batuk produktif. perawatan dengan turgor kulit, berat badan saat ini, tingkat kehilangan
KH : berat badan, integritas mukosa mulut, tonus perut, dan
 Perasaan mual riwayat nausea atau diare. Memonitor intake-output dan
hilang/berkurang. berat badan secara maksimal.
 Pasien mengatakan nafsu 2. Memberikan oral care sebelum dan sesudah
makan meningkat. penatalaksanaan respiratory.
 Berat badan pasien tidak 3. Menganjurkan makan sedikit, tapi sering dengan diet
mengalami penurunan TKTP.
drastic dan cenderung 4. Menganjurkan keluarga untuk membawa makanan
stabil. dddari rumah terutama yang disukai pasien dan
 Pasien terlihat dapat kemudian makan dengan pasien jika tidak ada
menghabiskan porsi makan kontraindikasi.
yang disediakan. Kolaborasi
 Hasil analisis laboratorium 1. Mengajukan kepada ahli gizi untuk menentukan
menyatakan protein darah / komposisi diet.
albumin darah dalam 2. Memonitor pemeriksan laboratorium, misal : BUN,
rentang normal. serum protein, dan albumin.
3. Memberikan vitamin sesuai indikasi.
4. Hipertemia berhubungan dengan Tujuan : suhu tubuh klien 1. Pantau suhu klien
proses inflamasi menurun setelah….. hari 2. Berikan kompres hangat
perawatan dengan 3. Anjurkan pada keluarga untuk memberi minum sesuai
KH : kebutuhan
 Suhu tubuh dalam rentang 4. Kolaborasi pemberian antipiretik
normal (36,5-37,5oC),
 Badan tidak terasa panas
 Tidak ada benda dan gejala
hipertermi seperti takikardi,
kulit kemerahan.
5. Nyeri Akut berhubungan dengan Tujuan : Nyeri dapat 1. Evaluasi keluhan nyeri atau ketidaknyamanan,
nyeri dada pleuritis berkurang atau hilang perhatikan lokasi, karakteristik nyeri dan kaji tingkat
Kriteria hasil : nyeri dengan standar PQRST
 Pasien mengatakan nyeri 2. Monitor tanda-tanda vital, observasi kondisi umum
berkurang atau hilang, pasien dan keluhan pasien
 menunjukkan tindakan 3. Atur posisi yang nyaman dan aman
santai, dapat beraktivitas, 4.
tidur, istirahat, 5. Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah
 menunjukkan penggunaan sehubungan dengan cidera.
keterampilan relaksasi dan 6. Kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai indikasi.
aktivitas terapeutik sesuai
indikasi
BAB III
STUDI KASUS

A. PENGKAJIAN
1. IDENTITAS
a. Identitas Pasien
Nama : Tn. K
Umur : 63 Thnh
Jenis Kelamin : Laki - laki
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tidak bekerja
Tanggal Masuk : 15 November 2019
No.RM : 815xxx
Diagnosa Medis : TB Paru
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. S
Umur : 35 th
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan
Hubungan : Anak
2. RIWAYAT KESEHATAN
a. Keluhan Utama : -
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Keluarga mengatakan sejak ± 3 hari SMRS pasien mengeluh sesak napas,
kemudian mulai tadi pagi pasien mengalami penurunan kesadaran, akhirnya pada
tanggal 15/11/2019 jam 11.35 pasien langsung dibawa keluarga ke RSUD dr.
Loekmono Hadi Kudus. Di IGD pasien diperiksa TTV : TD: 160/100 mmHg, N:
78 x/mnt, RR: 30x/mnt, S: 38,0 C, Spo2: 95%, GDS : 124 mg/dl dan diberikan
cairan parenteral infuse RL + aminopilin 24 mg/ml (20 tpm), inj ceftriaxone
1gr/12 jam, Inj. Paracetamol 1g/8jam. Kemudian pasien langsung dipindahkan ke
ruang perawatan A II untuk perawatan lebih lanjut. Pasien masih mengalami
sesak nafas dan sudah tidak batuk darah lagi. Pemeriksaan TTV : TD = 120/70
mmHg, RR = 28x/m, N = 90x/m, S = 37 dan diberikan cairan parenteral infus RL
20 tetes/menit, Inj Ceftriaxone 2 gr/24 jam, Inj Kalnex 500mg,Inj. Omeprazole 40
mg/12 jam, PO Codein 1 tab/8 jam. Namun dengan kondisi yang semakin
memburuk pasien akhirnya di rawat intensif di ruang ICU pada tanggal 19/11/19
jam 10.00. Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 25 November 2019 pasien
dalam keadaan koma dengan nilai GCS 5, E2M2V: ET Pemeriksaan TTV : TD:
92/67 mmHg N : 100 x/menit, RR: 27 x/menit, S: 36,2 C SPO2: 99%.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien memiliki penyakit TB Paru terdiagnosa 1 tahun yang lalu
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Dari hasil anamnesa dengan keluarga pasien, di keluarganya tidak pernah ada
yang sakit seperti pasien.
e. Riwayat Alergi
Pasien mengatakan tidak mempunyai riwayat alergi makanan atau obat
f. Genogram
PENGKAJIAN PRIMER
1. Airway
Pasien terpasang ETT terdapat lendir berwarna coklat kental di pipa. Pada jalan
nafas terdapat sekret. Terdapat suara gurgling
2. Breathing
Nafas tidak adekuat dengan support ventilator dengan mode (PCV, FI02 : 60%, RR
10 PS 10, PEEP 4, TV 399) frekuensi nafas 27x/menit, Spo2 99%, pengembangan
dada simetri, terdapat retraksi otot dada, irama teratur, kedalaman dangkal, tidak
terdapat batuk, tidak terdapat luka pada dada, pasien berbaring di bed dengan posisi
semifowler.
3. Circulation
Nadi 100 x/menit, sklera tidak anemis, irama teratur, denyut kuat, TD 92/67 mmHg,
akral hangat, pengisian kapiler <3 detik, turgot <3 detik, mukosa kering, tidak
terdapat edema.
4. Disability
Tingkat kesadaran pasien (soporokoma) dengan nilei GCS : E: 2, membuka mata
saat di panggil nama atau dirangsang nyeri, verbal pasien dipengaruhi pemasangan
ET, motoric : 2 ekstensi abnormal, pupil isokor, reaksi terhadap cahaya (+) skor
kekuatan otot 1.
1 1
1 1
5. Eksposure
Terpasang infuse pada tangan sebelah kiri, dan ETT (+), DC (+).

PENGKAJIAN SEKUNDER
1. POLA FUNGSIONAL
a. Pola Persepsi Kesehatan
Menurut penuturan keluarga pasien memiliki anggapan menjaga kesehatan
adalah hal yang penting untuk diperhatikan agar kemudian hari tidak terjadi
kondisi sakit yang berat terutama diusia yang sudah lanjut.
b. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Observasi saat sakit
1) Saat sakit : diit cairan susu 3x sehari 1gelas air putih (250ml)
2) Pola kebutuhan nutrisi dan cairan per 7jam pemeriksaan
Intake makanan: diit cairan
Intake cairan: Pasien minum 1 gelas susu 1 gelas air putih.
Balance cairan :
Input cairan :
Makan+minum : 500
Infus Nacl : 20 tpm/mnt x 7jam : 420cc
Syrg. Pum 1 : 2 cc
Syrg. Pum 2 :26 cc
Injeksi : 20 cc
Jumlah : 968 cc
Output cairan :
Urine : 400 cc/7jam
Fases :-
Muntah :-
Jumlah : 400 cc
IWL = (15 x BB)x7
jam
= (15 x 45)x7
24 jam
= 196 cc
Balance cairan = 968 cc – 596 cc
= + 372 cc
IMT Tn.K : BB : TB x TB
= 45 : 1,6 x 1,6
= 17,57 (berat badan kurang)
A(Antropometri) → Tinggi Badan 160 cm; Berat badan 45 kg.
B (Biochemical) →Kadar Hb 11,5 g/dl
C (Clinical Sign) → kesadaran koma GCS: E : 2 M : 2 V: ET
D (Diet Intake) → diit cairan susu teratur 3 x sehari
c. Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi
1) BAK
- Selama dirumah sakit : pasien BAK dibantu dengan double kateter
dengan 1.500 ml/24jam, warna kuning jernih, dan bau yang khas.
3) BAB :
- Selama dirumah sakit : pasien BAB di pempers, BAB lembek dengan
warna coklat kehitaman
d. Pemenuhan Kebutuhan Istirahat dan Tidur.
- Selama sakit, kesadaran pasien stuporokoma, bangun hanya jika dipanggil
namnya atau dengan rangsangan nyeri.
e. Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas dan Latihan
Aktivitas Saat sakit
No
0 1 2 3 4
1 Makan minum 
2 Mandi 
3 Toiletting 
4 Berpakaian 
Mobilitas di 
5
tempat tidur
6 ROM 

Keterangan:
0: mandiri
1: alat bantu
2: dibantu orang lain
3: dibantu orang lain dan alat
4: tergantung total
f. Pola Hubungan dan Peran
Tidak dilakukan pengkajian
g. Pola Sensori dan Kognitif
Dengan kondisi kesadaran pasien yang menurun dengan nilai GCS 6 pasien
hanya tidur berbaring dibed pasien mampu membuka matanya saat di panggil
namanya atau dirangsang nyeri, pasien tidak mampu berkomunikasi dikarenakan
terpasang ET ventilator PSIMV.
h. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Tidak dilakukan pengkajian.
i. Pola Seksual dan Reproduksi
Tidak dilakukan pengkajian
j. Pola Penanggulangan Stress dan Koping
Tidak dilakukan pengkajian
k. Pemenuhan Kebutuhan Spiritu
Pasien dan keluarga beragama islam. keluarga sering membaca dzikir dan doa
agar pasien bisa segera sadar dan sembuh kembali.
2. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum : Buruk
b. Kesadaran : Koma GCS: E : 2 M : 2 V: ET
c. TTV : TD: 92/67 mmHg RR: 27 x/menit
S : 36,2°C N : 100 x/menit
d. Kepala : inspeksi : bentuk kepala mesosephal, rambut hitam beruban
Palpasi : tidak terdapat kerontokan rambut, tidak hematom
e. Wajah : inspeksi : bentuk wajah oval, tidak terdapat devisiasi wajah.
f. Mata : inspeksi : tidak bengkak pada kelopak mata, sklera putih,
konjungtiva tidak anemis, transparan reaksi pupil OD/OS (+)/(+).
g. Hidung : inspeksi hidung simetris, terdapat akumulasi sekret, terpasang
NGT
h. Mulut : terpasang ET, ventilator PC V, dan OPA keluar lender dari
OPA
i. Telinga : inspeksi : telinga simetris, tidak terdapat impaksi, tidak ada
tanda peradangan. Tidak mengalami tinitus,
j. Leher : palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, Tidak ada
pembesaran kelenjar. tidak terdapat deviasi trakea.
k. Dada :
Paru
Inspeksi : bentuk dada simetris, retraksi dada derajat 1
Perkusi : Sonor disebagian besar lapang paru
Palpasi : vokal fremitus disemua lapang paru anterior sama
Auskultasi: suara napas ronkhi di lapang paru dextra
Jantung,
Inspeksi : bentuk dada simetris.
Perkusi : redup dada IC ke III parasternum dekstra di IC ke IV linea
midclavicula sinistra
Palpasi : iktus cordis teraba pada IC III mid clavicula sinistra
Auskultasi : S1 dan S2 secara regular tanpa bunyi tambahan
Abdomen,
Inspeksi : tidak terdapat ascites, tidak terdapat caput medulla,
Auskultasi : bising usus 3 kali permenit jelas pada kuadran II
Perkusi : timpani pada sebagian besar kuadran, hipertimpani pada region
epigastrik
Palpasi : terasa lembek, tidak terdapat hepatomegaly, tidak didapatkan nyeri
tekan disemua kuadran
l. Genetalia : terpasang kateter
m. Ekstremitas :
Ekstremitas atas : tidak ada edema, tangan kiri terpasang infus RL 20
tetes/menit.
Ekstremitas bawah : tidak ada edema

3. DATA PENUNJANG
a. Pemeriksaan Laborat
Tanggal 19/11/19 17.24
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai
Rujukan
Leukosit 4,69 10^3/uL 4,0 – 12,0
Eritrosit 3,96 10^3/uL 4.0 – 5,1
Hemoglobin 11,5 g/Dl 12.0 – 15.0
Hematokrit 34,1 % 36 – 47
Trombosit 248 10^3/uL 150 – 400
SGOT 49 U/L37C s/d 37
SGPT 18 U/L37C s/d40
Ureum 17,7 mg% 10 - 50
Creatinin 0,8 mg/dl 0,7 – 1,2
Uric Acid 3 mg% 2–6
Natrium 139,9 mmol/L 135-155
Kalium I Potasium 4,72 mmol/L 3,5-5,5
Clorida 106,9 mmol/L 95-105
Calsium 9,0 mg% 8,1 - -10,4
Magnesium 2,11 mmol/L 1,9 – 2,5

b. BGA (19/11/2019 12:33)


Hasil pemeriksaan BGA (PH 7.367) (PCO2 46.5) (PO2, 104.5) (BE LECF
14.1 mmo1/L)(BE B, 0.9 mmo1/L).

c. TCM : MTB Detected Medium


Rif Resistence Detected

d. EKG
Irama sinus, Axis kanan, HR: 114x/m, gel P normal, PR interval 0,2 detik,
kompleks QRS 0,08 detik, R/S di V1 < 1, S V1 + R V5/V6 < 35 mm.
Kesan: RAD (Right axis deviation).

e. Terapi Medis
- infus RL 20 tetes/menit
- Inj. Asam tranexamat 500mg/8jam,
- Inj. Omeprazole 40 mg/12 jam,
- Inj. Meropenem 1gr/8jam
- Inj. Citycolin 250mg/8jam
- Inj. Mecobalamin 500 mg/24jam
- Aminopilin 2,5 mg /20 ml & NS (sryg. pum)

B. ANALISA DATA

No Hari,tgl jam Data Fokus Problem Etiologi


1. Senin, 25 DS : - Ketidakefektifan Akumulasi sekret.
November 2019 DO : bersihan jalan
Jam 09.00 - Pasien terpasang nafas.
ETT terdapat lendir
berwarna coklat
kental di pipa
- Terdapat suara
gurgling.
- RR : 27 x / mnt, N :
100 x / mnt
2 Senin, 25 DS : - . Gangguan Perubahan
November 2019 DO : Pertukaran Gas membran kapiler
Jam 09.00 - Retraksi otot dada
Pernafasan cepat,
dangkal disertai
dengan otot perut
- RR : 27x mnt
Spo2 : 100%
N : 100x/mnt
Hasil pemeriksaan
BGA (PH 7.367)
(PCO2 46.5)
(PO2, 104.5) (BE
LECF 14.1
mmo1/L)(BE B,
0.9 mmo1/L).
- TCM : MTB
Detected Medium
Rif Resistence
Detected

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d Akumulasi sekret
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler
D. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Masalah / Dx Tujuan & KH Intervensi


1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor TD, nadi, suhu, dan
bersihan jalan nafas keperawatan 1x3 hari, jalan RR
b.d Akumulasi nafas pasien bersih dengan 2. Buka jalan nafas, guanakan
sekret KH: teknik chin lift atau jaw
1.Menunjukkan jalan nafas thrust bila perlu
yang paten (klien tidak 3. Posisikan pasien untuk
merasa tercekik, irama nafas, memaksimalkan ventilasi
frekuensi pernafasan dalam 4. Keluarkan sekret dengan
rentang normal, tidak ada batuk atau suction
suara nafas abnormal) 5. Observasi kembali setelah
2.Tanda Tanda vital dalam section
rentang normal (tekanan 6. Kolaburasi : berikan
darah, nadi, pernafasan) oksigen tambahan melalui
kanula/ masker sesuai
dengan indikasi
2 Gangguan Setelah dilakukan asuhan 1. Buka jalan nafas,gunakan
pertukaran gas keperawatan keperawatan 1x7 teknik chin lift atau jaw
berhubungan Jam pada gangguan pertukaran thrust bila perlu.
dengan perubahan gas diharapkan dapat teratasi 2. Posisikan pasien untuk
membran kapiler. dengan KH: memaksimalkan ventilasi
1. Mendemonstrasikan 3. Identifikasi pasien
peningkatan ventilasi perlunya
dan oksigenasi yang 4. Pemasangan alat jalan
adekuat nafas buatan
2. Memelihara kebersihan 5. Pasang mayo bila perlu
paru paru dan bebas 6. Lakukan fisioterapi dada
dari tanda sidtress jika perlu
pernafasan . 7. Keluarkan sekret dengan
3. Mendemonstrasikan batuk atau suction
batuk efektif dan suara 8. Auskultasi suara
nafas yang bersih , nafas,catat adanya suara
tidak ada sianosis dan tambahan
dyspneu (mampu 9. Lakukan suction pada
mengeluarkan sputum, mayo
mampu bernafas 10. Berikan bronkodilator bila
dengan mudah ,tidak perlu
ada pursed lips) 11. Berikan pelembab udara
4. Tanda tanda vital 12. Atur intake untuk cairan
dalam rentang normal mengoptimalkan
keseimbangan.
13. Monitor respirasi dan
status O2
E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Hari/Tgl/ Dx. Implementasi Respon TTD


Jam Kep
Senin, 25 DX. 1 Melakukan DS : tidak terkaji
November 1,2 pemeriksaan KU,TTV, DO :
2019 Jam dan GCS a. KU : lemah
09.00 b. Kesadaran :
GCS: E : 2 M : 2 V:
ET (soporokoma)
Pupil : +/+ simetris, 2mm
c. TTV :
TD : 92/67 mmHg
S : 36,2°C
RR : 27 x/menit
N : 100 x/menit
Spo2 : 100%

9.15 2 Mengobservasi pola DS : tidak terkaji


dan suara nafas dan DO :
suara nafas tambahan - Terpasang ET&OPA
- terdapat produksi lender di
OPA
- terdapat suara rhonki dan
gargling saat auskultasi

10.00 1,2 3 Mengkolaborasikan DS : tidak terkaji


pemberian terapi medis DO : obat lancar masuk
- Asam tranexamat melalui IV tidak terjadi ruam
500mg merah atau elergi
- Omz 40mg
- Meropenem 1gr
- Citycolin 250mg
- Mecobalamin 500 mg
10.40 4 Mengkolaborasikan DS : tidak terkaji
pemberian terapi DO : uap dpat keluar dan
nebulizer fentolin & dihirup pasien melalui
pulmicort 2x/hr ventilator dan ET

11.20 1 5 Melakukan section DS : tidak terkaji


DO :
- Auskultasi terdengar suara
rhonki dikedua paru dan
gargling
- Saat melakukan section
keluar lender dengan
warna coklat kental.
- Setelah section dilakukan
pemeriksaan suara rhonki
dan gargling berkurang,
RR: 20 x/menit, SPO2
98%

11.30 1 6 Melakukan oral higine DS : tidak terkaji


DO :
- mukosa kering, pecah-
pecah
- terdapat sedikit lender

12.00 7 Mengkolaborasikan DS : tidak terkaji


pemberikan diit cair DO :
Susu 250 ml masuk
melalui NGT dan dibilas
dengan air putih 10 cc

13.30 1 Mengobservasi vital DS : tidak terkaji


sign DO :
KU : lemah
Kesadaran :
GCS: E : 2 M : 2 V:
ET (soporokoma)
Pupil : +/+ simetris, 2mm
TTV :
TD : 127/70 mmHg
S : 36,5°C
RR : 20 x/menit
N : 100 x/menit
Spo2 : 100%

14.00 8 Menghitung balance DS : tidak terkaji


cairan DO :
Balance cairan :
Input cairan :
Makan+minum :
500
Infus Nacl :
20 tpm/mnt x 7jam : 420cc
Syrg. Pum 1 : 2 cc
Syrg. Pum 2 :26 cc
Injeksi : 20 cc
Jumlah : 968 cc
Output cairan :
Urine : 400 cc/7jam
Fases :-
Muntah :-
Jumlah : 400 cc
IWL = (15 x BB)x7
jam
= (15 x 45)x7
24 jam
= 196 cc
Balance cairan = 968 cc – 596
cc = + 372 cc
Selasa,26 1,2 1 Melakukan DS : tidak terkaji
November pemeriksaan KU,TTV, DO :
2019 Jam dan GCS a. KU : lemah
09.00 b. Kesadaran :
GCS: E : 2 M : 2 V:
ET (soporokoma)
Pupil : +/+ simetris, 2mm
c. TTV :
TD : 125/67 mmHg
S : 36,5°C
RR : 20 x/menit
N : 98 x/menit
Spo2 : 100%

9.10 2 Mengobservasi pola DS : tidak terkaji


dan suara nafas dan DO :
suara nafas tambahan - Terpasang ET&OPA
- terdapat produksi lender di
OPA
- terdapat suara rhonki dan
gargling saat auskultasi

9.15 1,2 3 Mengkolaborasikan DS : tidak terkaji


pemberian terapi medis DO : obat lancar masuk
- Asam tranexamat melalui IV tidak terjadi ruam
500mg merah atau elergi
- Omz 40mg
- Meropenem 1gr
- Citycolin 250mg
- Mecobalamin 500 mg
10.00 1 4 Mengkolaborasikan DS : tidak terkaji
pemberian terapi DO : uap dpat keluar dan
nebulizer fentolin & dihirup pasien melalui
pulmicort 2x/hr ventilator dan ET

10.30 1 5 Melakukan section DS : tidak terkaji


DO :
- Auskultasi terdengar suara
rhonki dikedua paru dan
gargling
- Saat melakukan section
keluar lender dengan
warna coklat kental.
- Setelah section dilakukan
pemeriksaan suara rhonki
dan gargling berkurang,
RR: 20 x/menit, SPO2
95%

11.20 1 6 Melakukan oral higine DS : tidak terkaji


DO :
- mukosa kering, pecah-
pecah
- terdapat sedikit lender

11.30 7 Mengkolaborasikan DS : tidak terkaji


pemberikan diit cair DO :
Susu 250 ml masuk
melalui NGT dan dibilas
dengan air putih 10 cc

DS : tidak terkaji
13.30 1,2 8 Mengobservasi vital DO :
sign
KU : lemah
Kesadaran :
GCS: E : 2 M : 2 V:
ET (soporokoma)
Pupil : +/+ simetris, 2mm
TTV :
TD : 127/70 mmHg
S : 36,5°C
RR : 20 x/menit
N : 100 x/menit
Spo2 : 100%

14.00 9 Menghitung balance DS : tidak terkaji


cairan DO :
Balance cairan :
Input cairan :
Makan+minum :
500
Infus Nacl :
20 tpm/mnt x 7jam : 420cc
Syrg. Pum 1 : 2 cc
Syrg. Pum 2 :26 cc
Injeksi : 20 cc
Jumlah : 968 cc
Output cairan :
Urine : 500 cc/7jam
Fases :-
Muntah :-
Jumlah : 500 cc
IWL = (15 x BB)x7
jam

= (15 x 45)x7
24 jam
= 196 cc
Balance cairan = 968 cc – 696
cc = + 272 cc

Rabu, 27 1 Melakukan DS : tidak terkaji


November pemeriksaan KU,TTV, DO :
2019 Jam dan GCS a. KU : lemah
09.00 b. Kesadaran :
GCS: E : 2 M : 2 V:
ET (soporokoma)
Pupil : +/+ simetris, 2mm
c. TTV :
TD : 132/77 mmHg
S : 36,6°C
RR : 27 x/menit
N : 100 x/menit
Spo2 : 100%

9.10 1,2 2 Mengobservasi pola DS : tidak terkaji


dan suara nafas dan DO :
suara nafas tambahan - Terpasang ET&OPA
- terdapat produksi lender di
OPA
- terdapat suara rhonki dan
gargling saat auskultasi

9.15 3 Mengkolaborasikan DS : tidak terkaji


pemberian terapi medis DO : obat lancar masuk
- Asam tranexamat melalui IV tidak terjadi ruam
500mg merah atau elergi
- Omz 40mg
- Meropenem 1gr
- Citycolin 250mg
- Mecobalamin 500 mg
10.00 1 4 Mengkolaborasikan DS : tidak terkaji
pemberian terapi DO : uap dpat keluar dan
nebulizer fentolin & dihirup pasien melalui
pulmicort 2x/hr ventilator dan ET

10.20 1 5 Melakukan section DS : tidak terkaji


DO :
- Auskultasi terdengar suara
rhonki dikedua paru dan
gargling
- Saat melakukan section
keluar lender dengan
warna coklat kental.
- Setelah section dilakukan
pemeriksaan suara rhonki
dan gargling berkurang,
RR: 20 x/menit, SPO2
98%

10.50 1 6 Melakukan oral higine DS : tidak terkaji


DO :
- mukosa kering, pecah-
pecah
- terdapat sedikit lender

11.30 7 Mengkolaborasikan DS : tidak terkaji


pemberikan diit cair DO :
Susu 250 ml masuk
melalui NGT dan dibilas
dengan air putih 10 cc

13.30 1,2 8 Mengobservasi vital DS : tidak terkaji


sign
DO :
KU : lemah
Kesadaran :
GCS: E : 2 M : 2 V:
ET (soporokoma)
Pupil : +/+ simetris, 2mm
TTV :
TD : 127/70 mmHg
S : 36,5°C
RR : 20 x/menit
N : 100 x/menit
Spo2 : 100%

14.00 9 Menghitung balance DS : tidak terkaji


cairan DO :
Balance cairan :
Input cairan :
Makan+minum :
500
Infus Nacl :
20 tpm/mnt x 7jam : 420cc
Syrg. Pum 1 : 2 cc
Syrg. Pum 2 :26 cc
Injeksi : 20 cc
Jumlah : 968 cc
Output cairan :
Urine : 700 cc/7jam
Fases :-
Muntah :-
Jumlah : 700 cc
IWL = (15 x BB)x7
jam
= (15 x 45)x7
24 jam
= 196 cc
Balance cairan = 968 cc – 896
cc = + 172 cc

F. EVALUASI KEPERAWATAN

No Hari/Tanggal D Evaluasi/Respon Paraf


X
1. Senin, 25 1 S : tidak terkaji
November 2019 O : Auskultasi terdengar suara rhonki
Jam 14.00 dikedua paru dan gargling
Saat melakukan section keluar lender
dengan warna coklat kental.
a) KU : lemah Kesadaran : GCS: E:2
M : 2 V: ET (soporokoma)
b) TTV :
TD : 127/70 mmHg
S : 36,5°C
RR : 20 x/menit
N : 100 x/menit
Spo2 : 100%
A : masalah teratasi
P : pertahankan intervensi dan kolaaborasi
pantau KU& TTV

2 S : tidak terkaji
O:.
c) KU : lemah Kesadaran : GCS: E:2
M : 2 V: ET (soporokoma)
d) TTV :
- TD : 127/70 mmHg
- S : 36,5°C
- RR : 20 x/menit
- N : 100 x
- Spo2 : 100%
- Terpasang ventilator dengan mode PC
V
A : masalah teratasi sebagian
P : pertahankan intervensi dan kolaaborasi
pantau KU& TTV dan tanda gagal nafas
berulang kembali
2. Selasa, 26 1 S : tidak terkaji
November 2019 O : Auskultasi terdengar suara rhonki
Jam 14.00 dikedua paru dan gargling
Saat melakukan section keluar lender
dengan warna coklat kental.
Setelah section dilakukan pemeriksaan
suara rhonki dan gargling berkurang, RR:
20 x/menit, SPO2 95%
KU : lemah Kesadaran : GCS: E:2 M
: 2 V: ET (soporokoma)
TTV :
TD : 127/70 mmHg
S : 36,5°C
RR : 20 x/menit
N : 100 x/menit
Spo2 : 100%
A : masalah teratasi
P : pertahankan intervensi dan kolaaborasi
pantau KU& TTV

2 S : tidak terkaji
O:.
a) KU : lemah Kesadaran : GCS: E:2
M : 2 V: ET (soporokoma)
b) TTV :
- TD : 127/70 mmHg
- S : 36,5°C
- RR : 20 x/menit
- N : 100 x
- Spo2 : 100%
- Terpasang ventilator dengan mode PC
V
A : masalah teratasi sebagian
P : pertahankan intervensi dan kolaaborasi
pantau KU& TTV dan tanda gagal nafas
berulang kembali
3. Rabu, 27 1 S : tidak terkaji
November 2019 O : lendir berkurang setelah dilakukan
Jam 14.00 nebulizer section, suara nafas rhonki
berkurang, tidak terdapat gargling.
a) KU : lemah Kesadaran : GCS: E:2
M : 2 V: ET (soporokoma)
b) TTV :
- TD : 127/70 mmHg
- S : 36,5°C
- RR : 20 x/menit
- N : 100 x
- Spo2 : 100%
A : masalah teratasi
P : pertahankan intervensi dan kolaaborasi
pantau KU& TTV

2 S : tidak terkaji
O:.
a) KU : lemah Kesadaran : GCS: E:2
M : 2 V: ET (soporokoma)
b) TTV :
- TD : 127/70 mmHg
- S : 36,5°C
- RR : 20 x/menit
- N : 100 x
- Spo2 : 100%
- Terpasang ventilator dengan mode PC
V
A : masalah teratasi sebagian
P : pertahankan intervensi dan kolaaborasi
pantau KU& TTV dan tanda gagal nafas
berulang kembali
DAFTAR PUSTAKA

Donna D, Marilyn. V, Medical Sugical Nursing, WB Sounders, Philadelpia 1991.


Muttaqin, Arif, 2008. “Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Pernapasan.” Jakarta : Salemba Medika.
Smeltzer, S.C., 2008. “Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth, edisi
12”. Jakarta : EGC,
Somantri, Irman, 2008. “Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan.” Jakarta: Salemba MedikaSoeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I,
Edisi Kedua, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987.
Sudoyo, Aruw. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 2 Edisi IV. Jakarta: Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Soeparman & Sarwono Waspadji. 1990. Ilmu Penyakit Dalam jilid 2. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.
Wilkinson Judith M, Ahern Nancy R, 2011. “ Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi
9,Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC.” Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai