Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN POSTNATAL PADA


NY. N 𝑮𝟒 P2A1 UMUR 35 TAHUN, USIA
KEHAMILAN 37 MINGGU DENGAN POST SECTIO
CAESAREA DI RUANG DEWI KUNTI, RSUD
K.R.M.T WONGSONEGORO

Disusun oleh :
DIAH AYU RATNASARI
P1337420919070

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2019
ABSTRAK

ASUHAN KEPERAWATAN POSTNATAL PADA NY. N 𝑮𝟒 P2A1


UMUR 35 TAHUN, USIA KEHAMILAN 37 MINGGU DENGAN POST
SECTIO CAESAREA DI RUANG DEWI KUNTI, RSUD K.R.M.T
WONGSONEGORO

Latar Belakang : Operasi section caesarea dapat menimbulkan dampak yang


kompleks bagi pasien baik secara fisik, sosial, dan spiritual. Dampak tersebut
dapat mempengaruhi satu sama lain. Dampak fisik yang sering muncul pada
pasien post section caesarea adalah nyeri, sebagai akibat adanya perubahan
kontinuitas jaringan, karena adanya insisi pada abdomen terhadap jahitan
kemudian timbulnya gangguan rasa nyaman.
Tujuan : Melaksanakan asuhan keperawatan postnatal pada Ny. N 𝐺4 P1A0
umur 35 tahun, usia kehamilan 37 minggu dengan post sectio caesarea di ruang
Dewi Kunti, RSUD K.R.M.T Wongsonegoro.
Metode : Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan desain studi kasus.
Subjek studi kasus asuhan keperawatan postnatal pada Ny. Ny. N 𝐺4 P1A0
umur 35 tahun, usia kehamilan 37 minggu dengan post sectio caesarea.
Hasil : Evaluasi tindakan yang telah dilakukan oleh perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan, Ny. L mengatakan darah yang keluar sudah tidak banyak, nyeri
luka post operasi berkurang, dan ASI sudah keluar cukup.
Kesimpulan : Resiko perdarahan, nyeri akut, dan ketidakefektifan pemberian
ASI sudah teratasi.
Kata kunci : Postnatal, sectio caesarea

2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
ABSTAK ……………………………………………………………………… 2
DAFTAR ISI…………………………………………………………………… 3
BAB 1 PENDAHULUAN
a. Latar Belakang………………………………………………………….. 4
b. Rumusan Masalah………………………………………………………. 5
c. Tujuan Penulisan………………………………………………………... 5
d. Manfaat Penulisan………………………………………………………. 6
e. Web of Causation……………………………………………………….. 6
BAB II LAPORAN KASUS
a. Pengkajian………………………………………………………………. 7
b. Diagnosa Keperawatan…………………………………………………. 13
c. Intervensi Keperawatan………………………………………………… 14
d. Implementasi…………………………………………………………… 15
e. Evaluasi………………………………………………………………… 19
BAB III PEMBAHASAN
a. Analisa Kasus………………………………………………………….. 20
b. Analisa Intervensi Keperawatan……………………………………….. 20
BAB IV PENUTUP
a. Kesimpulan……………………………………………………………. 22
b. Saran……………………………………………………………………22
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………. 23

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sectio caesarea adalah persalinan yang dilakukan dengan membuat sayatan pada
dinding perut yang biasanya disebut dengan insisi di dinding perut. Pada pasien post
sectio caesarea nyeri terjadi karena ada rangsangan mekanik yang menyebabkan jaringan
terputus. Akibatnya jaringan yang mengalami kerusakan akan melepaskan substansi
biokimia (prostaglandin) yang menimbulkan rangsangan nyeri pada ujung saraf perifer.
Nyeri post operasi termasuk nyeri akut, didefinisikan sebagai nyeri dengan durasi kurang
dari 6 bulan, nyeri tersebut biasanya berasal dari cedera atau pasca operasi yang berfungsi
sebagai alarm karena terjadi kerusakan jaringan (Prasetyo, 2010).
Data dari WHO (2015) rata-rata section caesarea di negara berkembang adalah sekitar
5-15% per 1000 kelahiran. Sedangkan berdasarkan data statistik Riskesdas (2018)
menunjukkan kelahiran bedah sectio caesarea di Indonesia sebesar 9,8% dengan proporsi
tertinggi di DKI Jakarta (19,9%) dan di Jawa Tengah sebesar 10,0%. Hasil survey
BKKBN (2017) terdapat 17,0% persalinan section caesarea yang terjadi di Indonesia
dengan berbagai latar belakang persalinan.
Angka kejadian sectio caesarea yang semakin tinggi disebabkan karena beberapa
faktor diantaranya berkaitan dengan perubahan teknologi dan faktor dari ibu dan janin
yang mempunyai indikasi untuk dilakukan sectio caesarea ataupun permintaan ibu.
Indikasi dilakukan tindakan operasi sectio caesarea antara lain adalah presentasi bokong,
letak lintang, gawat janin, kehamilan kembar, HIV, herpes genital primer pada trimester
ketiga, dan plasenta previa derajat 3 dan 4. Komplikasi post sectio caesarea yang terjadi
pada ibu seperti nyeri pada daerah insisi, nyeri punggung, potensi terjadinya thrombosis,
potensi terjadinya penurunan kemampuan fungsional, penurunan elastisitas otot perut dan
otot dasar panggul, perdarahan, infeksi dan gangguan laktasi (Wahyu, Febriawati, & Lina,
2019).
Ketidakefektifan menyusui adalah keadaan dimana posisi ibu dan bayi yang tidak
benar, perlekatan bayi yang tidak tepat, ketidakefektifan hisapan bayi pada payudara dan
transfer ASI yang tidak maksimal.
Operasi section caesarea dapat menimbulkan dampak yang kompleks bagi pasien baik
secara fisik, sosial, dan spiritual. Dampak tersebut dapat mempengaruhi satu sama lain.
Dampak fisik yang sering muncul pada pasien post section caesarea adalah nyeri, sebagai

4
akibat adanya perubahan kontinuitas jaringan, karena adanya insisi pada abdomen
terhadap jahitan kemudian timbulnya gangguan rasa nyaman (Marmi, 2012).
Dari hasil survey, didapatkan data bahwa jenis persalinan yang berada di ruang Dewi
Kunti RSUD K.R.M.T Wongsonegoro dari bulan Januari - Agustus 2019, untuk
persalinan spontan terdapat 513 orang, persalianan SC ada 431 orang, dan vacum
ekstraksi sejumlah 5 orang.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk menjadikan kasus tersebut sebagai
laporan kasus yang berjudul “Asuhan keperawatan postnatal pada Ny. N 𝐺4 P1A0 umur
35 tahun, usia kehamilan 37 minggu dengan post sectio caesarea di ruang Dewi Kunti,
RSUD K.R.M.T Wongsonegoro”
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan postnatal pada Ny. N 𝐺4 P1A0 umur 35 tahun, usia
kehamilan 37 minggu dengan post sectio caesarea di ruang Dewi Kunti, RSUD K.R.M.T
Wongsonegoro ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Menggambarkan asuhan keperawatan postnatal pada Ny. N 𝐺4 P1A0 umur 35
tahun, usia kehamilan 37 minggu dengan post sectio caesarea di ruang Dewi Kunti,
RSUD K.R.M.T Wongsonegoro.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melaksanakan pengkajian pada Ny. N 𝐺4 P1A0 umur 35 tahun, usia
kehamilan 37 minggu dengan post sectio caesarea.
b. Dapat melaksanakan diagnosis keperawatan pada Ny. N 𝐺4 P1A0 umur 35 tahun,
usia kehamilan 37 minggu dengan post sectio caesarea.
c. Dapat melaksanakan perencanaan keperawatan pada Ny. N 𝐺4 P1A0 umur 35
tahun, usia kehamilan 37 minggu dengan post sectio caesarea.
d. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan pada Ny. N 𝐺4 P1A0 umur 35 tahun,
usia kehamilan 37 minggu dengan post sectio caesarea.
e. Dapat melaksanakan evaluasi masalah keperawatan pada Ny. N 𝐺4 P1A0 umur 35
tahun, usia kehamilan 37 minggu dengan post sectio caesarea.

5
1.4 Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
Hasil penulisan ini diharapkan memberikan sumbangan untuk meningkatkan
pengetahuan terutama dalam pengelolaan klien post sectio caesarea.
2. Manfaat Praktis
a. Peningkatan pelayanan kesehatan
Hasil penulisan ini diharapkan memberikan kontribusi dalam meningkatkan
kualitas pelayanan asuhan keperawatan khususnya bagi klien post sectio caesarea.
b. Peningkatan kesehatan masyarakat
Hasil penulisan ini diharapkan memberikan kontribusi dalam peningkatan
status kesehatan melalui upaya promotif khususnya bagi klien post sectio caesarea.

1.5 Web of Causation

6
FORMAT PENGKAJIAN

ASUHAN KEPERAWATAN POSTNATAL PADA NY. L P1A0 UMUR 23


TAHUN, USIA KEHAMILAN 42 MINGGU DENGAN POST SECTIO CAESAREA
DI RUANG DEWI KUNTI, RSUD K.R.M.T WONGSONEGORO

Tanggal Pengkajian : Senin, 30 Desember 2020

Ruang/ RS : Dewi Kunti/ RSUD K.R.M.T Wongsonegoro

A. DATA UMUM KLIEN


1. Initial Kien : Ny. N
2. Usia : 35 tahun
3. Status Perkawinan : Menikah
4. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
5. Pendidikan Terakhir : SMA
6. Alamat : Penggaron Kidul
7. Initial Suami : Tn. K
8. Usia : 32 tahun
9. Pekerjaan : Ojek Online
10. Pendidikan : SMA
B. RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan Utama
Klien mengatakan nyeri pada luka post operasi section caesarea, dan ASI sulit
keluar
2. Riwayat Kehamilan Sekarang:
a. Berapa kali pemeriksaan : klien mengatakan selama hamil rutin melakukan
periksa kehamilan satu kali dalam satu bulan.
b. Masalah kehamilan : klien mengatakan masalah kehamilan mual-mual pada
trimester pertama, dan pernah mengalami abortus
3. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Yang Lalu

No Tahun Jenis Penolong Jenis Keadaan bayi Masalah


Persalinan Kelamin waktu lahir kehamilan

1 2010 Normal Bidan Laki-laki Menangis spontan Tidak ada


dan tidak ada

7
trauma persalinan

2 2013 Abortus Bidan Perempu Meninggal Pendarahan


an

2015 Normal Bidan Laki-laki Menangis spontan Tidak ada


dan tidak ada
trauma persalinan

2019 SC Dokter Laki-laki Menangis spontan KPD, Pre


dan tidak ada eklamsia
trauma

4. Riwayat Keperawatan Sekarang


Klien mengatakan pada 25 Desember 2019 pukul 06.00 merasakan kontraksi
dan klien merasakan air ketuban sudah rembes sejak pukul 06.30. Kemudian
klien dibawa oleh keluarganya ke bidan setelah itu dirujuk ke IGD RSUD KRMT
Wongsonegoro Semarang pukul 15.00 WIB. Setelah di IGD klien dipindahkan ke
ruang Srikandi dan dianjurkan untuk operasi SC. Kemudian tanggal 29 Desember
2019 klien dibawa ke IBS untuk melaksanakan SC dengan lama persalinan ± 30
menit dan berhasil melahirkan anak dengan keadaan hidup serta sehat pukul
09.00, jenis kelamin laki-laki dan BB 2700 gr, panjang badan 48 cm , lingkar
dada 31 cm, lingkar kepala 34 cm dan APGAR skor 9. Kemudian klien
dipindahkan ke ruang Dewi Kunti untuk mendapatkan tindakan perawatan khusus
ibu nifas.
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Obstetri : 𝐺4 P1A0
2. Keadaan Umum : Baik Kesadaran: Composmentis
3. Tanda Vital : TD : 155/90 mmHg N : 86 x/menit
Suhu : 37oC RR : 20 x/menit
4. Kepala :
a. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar limfa dan kelenjar tiroid
b. Kepala : tidak ada lesi, rambut lurus dan berwarna hitam, tidak ada benjolan
c. Mata : sklera tidak ikterik, konjungtiva anemis.
d. Hidung : tidak ada secret dan tidak ada polip
e. Mulut : mulut bersih, mukosa bibir lembab
f. Telinga : bersih, pendengaran baik

8
5. Dada :
a. Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba pada interkosta 4-5 mid clavikula
Perkusi : pekak, tidak ada pembesaran jantung
Auskultasi : terdengar bunti jantung I dan II
b. Paru :
Inspeksi : kedua paru mengembang simetris, tidak ada retraksi dada
Palpasi : vocal fremitus teraba dengan kekuatan yang sama antara paru kanan
dan kiri
Perkusi : sonor
Auskultasi : suara vesikuler
c. Payudara :
Kebersihan : payudara tampak bersih, tidak ada lesi
Kesimetrisan : simetris antara kanan dan kiri
Puting susu : tidak ada kelainan, keduanya menonjol
Pengeluaran ASI : pengeluaran ASI masih berupa kolostrum
Kemampuan menyusui : klien masih bed rest, sehingga diajarkan teknik
menyusui
6. Abdomen :
a. Involusio Uterus : TFU 2 jari di bawah umbilikus
b. Kandung kemih : tidak ada distensi kandung kemih, terpasang kateter
c. Diatasis rektus abdominalis : tidak dinilai
d. Fungsi pencernaan : Klien sudah flatus
e. Bila dilakukan SC, kondisi luka : terdapat jahitan luka sepanjang ± 10 cm.
7. Perineum dan Genetallia: Kebersihan : terdapat sedikit darah
a. Vagina : integritas kulit baik, tidak ada edema, tidak ada hematoma, keluar
darah nifas (lokhea rubra ± 50 cc).
b. Perineum : utuh, tidak ada robekan dan tidak tanda REEDA
Redness (kemerahan) : tidak ada kemerahan
Edema (bengkak) : tidak terjadi bengkak
Echimosis : tidak ada
Drainage (rembes) : tidak terdapat rembesan
Approximatly (jahitan tidak menyatu) : tidak ada

9
c. Hemoroid : tidak ada
8. Ekstremitas:
a. Ekstremitas atas : tidak ada edema, tangan kanan terpasang infus RL
b. Ekstremitas bawah : tidak ada edema, tidak ada lesi
D. POLA FUNGSIONAL GORDON
1. Pola Manajemen dan Persepsi Kesehatan
Saat hamil klien sadar akan kesehatannya dan calon bayinya sehingga klien rutin
memeriksakan kandungannya ke puskesmas. Setelah melahirkan klien tahu
tentang kondisi kesehatannya dan mampu menyesuaikan.
2. Pola Nutrisi dan metabolisme
Saat hamil klien makan 3x sehari berupa nasi, lauk pauk, sayur dan buah. Mampu
menghabiskan 1 porsi setiap makan. Minum ±10 gelas/hari dengan teh dan air
putih. Setelah melahirkan klien makan makanan dari RS 3x sehari, mampu
menghabiskan ¾ porsi, minum 6 gelas/hari berupa teh hangat dan air putih.
3. Pola eliminasi
Saat hamil klien mengatakan BAB 1 x/hari dengan konsistensi lunak, bau khas
berwarna kuning kecoklatan, BAK 4-5 x/hari warna kuning jernih. Setelah
melahirkan klien mengataakan belum BAB, BAK melalui selang kateter, warna
kuning pekat dengan total ±1000-1500 cc.
4. Pola istirahat dan tidur
Saat hamil klien tidur 6-8 jam per hari, setelah melahirkan klien tidur hanya 4-6
jam perhari tidak menentu karena nyeri luka SC dan menyusui anaknya ketika
menangis, namun klien mengatakan hal itu sudah biasa tidak menjadi masalah.
Kecukupan tidur sudah sangat terpenuhi.
5. Pola aktifitas dan latihan
Saat hamil klien melakukan kegiatan sehari-hari, melakukan pekerjaan rumah
seperti biasa. Setelah melahirkan klien kesulitan bergerak, badan lemas dan
berjalan karena nyeri pada daerah luka post sc.
6. Pola peran dan hubungan
Sebelum hamil klien berperan sebagai istri dan ibu bagi kedua anaknya, dan ingin
memenuhi kebutuhan pertumbuhan anaknya dengan memberikan ASI eksklusif
secara teratur dan mengikuti anjuran dari dokter. Selama masa kehamilan sampai
melahirkan klien selalu mendapat dukungan dari suami dan keluarganya.
7. Pola persepsi kognitif dan sensori

10
Klien mampu berkomunikasi dengan baik dan dengan kesadaran penuh. Persepsi
sensori klien baik karena mampu merasakan nyeri dan mengerti apa yang
disampaikan oleh perawat.
Persepsi : Klien dapat berorientasi dengan benar tentang waktu, tempat, dan
orang-orang yang disekitarnya.
Sensori : klien masih bisa melihat dengan jelas, mendengar dengan jelas, pasien
dapat membedakan bau yang berbeda.

8. Pola persepsi diri/Konsep diri


Gambaran diri : klien menerima kondisi kesehatannya setelah melahirkan
Ideal diri : klien mengatakan ingin cepat kembali sehat
Harga diri : klien mempunyai rasa percaya diri yang baik
Peran diri : klien merasa senang mendapat peran sebagai ibu, dan mampu
melakukan perannya sebagai ibu rumah tangga
Identitas : klien menyadari dirinya sebagai ibu dan istri. Klien juga
mampu menyebutkan identitasnya dengan baik.
9. Pola seksual dan reproduksi
Klien sudah menikah, saat ini klien mempunyai suami dan 3 anak.
10. Pola mekanisme koping
Selama masa kehamilan sampai melahirkan apabila klien sakit atau ada masalah
dengan kesehatannya, klien berkomunikasi dengan suami untuk konsultasi pada
dokter, bidan dan perawat.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Klien beragama Islam. Selama kehamilan tidak ada kendala untuk beribadah ke
tempat ibadah. Setelah melahirkan klien klien belum bisa menjalankan sholat 5
waktu karena masa nifas. Sehingga klien hanya bisa berdoa agar bisa segera
melaksanakan kewajibannya dalam beribadah.

11
E. HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Hasil Laboratorium
Tanggal : 30 Desember 2019 pukul 15.45
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
HEMATOLOGI
Hemoglobin 12,0 g/dL 11,7-15,5
Hematokrit 36,80 % 35-47
Leukosit 12,7 (H) /uL 3,6-11,0
Trombosit 236 /uL 150-400
KIMIA KLINIK
Glukosa Darah Sewaktu L 64 Mg/dl 70-110
IMUNOLOGI
HBsAg Kualitatif negatif Negative

Tanggal : 31 Desember 2019 pukul 17.02


Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
HEMATOLOGI
Hemoglobin 12,8 g/dL 11,7-15,5
Hematokrit 36,80 % 35-47
Leukosit 15.6 (H) /uL 3,6-11,0
Trombosit 243 /uL 150-400

F. TERAPI
Infus RL + oksitosin 10 IU 20 tpm
Domperidon 2 tablet/8 jam
Kalnex 500 mg/8 jam
Cefotaxim 1 gr/12 jam
Ketorolac 30 mg/8 jam

12
I. DAFTAR MASALAH
No Tanggal/jam Data fokus Etiologi Masalah
keperawatan
1. 30 DS : Agen cedera fisik Nyeri akut
Desember Klien mengatakan nyeri pada luka
2019 bekas operasi SC.
DO :
Jam 11.00
P : Nyeri post SC
Q : Nyeri seperti di teriris-iris
R : Nyeri timbul di daerah sekitar
abdomen bekas luka SC
S : Skala nyeri 6
T : Nyeri yang dirasakan terus
menerus

Klien tampak meringis kesakitan


TD : 155/90 mmHg
N : 86 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 37°C

2. 30 DS : Klien mengatakan ASI yang Kurang Ketidakefektifan


Desember keluar sedikit, pasien merasa nyeri pengetahuan pemberian ASI
2019 pada kedua payudara dan belum
mengetahui cara perawatan
Jam 13.00
payudara
DO :
Payudara teraba keras dan penuh
Pasien terlihat sakit saat
payudaranya dipegang
Pengeluaran ASI masih sedikit
Lidah bayi pendek (tongue-tie)

13
II. RENCANA KEPERAWATAN
Tgl/jam Dx Tujuan Intervensi TTD

30 Dx 1 Setelah dilakukan asuhan 1. Lakukan pengkajian nyeri


Desember keperawatan selama 3x24 jam secara komprehensif termasuk
2019 diharapkan pemenuhan kebutuhan lokasi, karakteristik, durasi
pasien tercukupi dengan kriteria frekuensi, kualitas dan faktor
hasil: presipitasi
- Mampu mengontrol nyeri (tahu 2. Observasi reaksi nonverbal dan
penyebab nyeri, mampu ketidaknyamanan
menggunakan tehnik 3. Gunakan teknik komunikasi
nonfarmakologi untuk mengurangi terapeutik untuk mengetahui
nyeri, mencari bantuan) pengalaman nyeri pasien
- Melaporkan bahwa nyeri berkurang 4. Bantu pasien dan keluarga untuk
dengan menggunakan manajemen mencari dan menemukan
nyeri dukungan
- Mampu mengenali nyeri (skala, 5. Ajarkan tentang teknik non
intensitas, frekuensi dan tanda farmakologi (teknik relaksasi
nyeri) otot progresif Jacobson)
- Menyatakan rasa nyaman setelah 6. Berikan analgetik untuk
nyeri berkurang mengurangi nyeri
30 Dx 2 Setelah dilakukan tindakan 1. Pantau pembengkakan payudara
Desember keperawatan selama 3 x 24 jam, yang berhubungan dengan
2019 diharapkan keberhasilan menyusi bayi ketidaknyamanan atau sakit
meningkat dengan kriteria hasil : 2. Lakukan perawatan payudara

- Intake nutrisi cukup adekuat (breast care)


3. Ajarkan klien pijat oksitosin
- Pengeluarana ASI cukup adekuat
untuk memperlancar ASI
4. Ajarakan klien teknik menyusui
yang benar
5. Ajarkan klien mengenai
langkah-langkah perawatan
payudara

14
TINDAKAN KEPERAWATAN
Tanggal/jam Kode Tindakan Keperawatan Respon TTD

30 Dx 1 1. Melakukan pengkajian nyeri secara DS :


Desember komprehensif termasuk lokasi, Klien mengatakan nyeri pada
2019 karakteristik, durasi frekuensi, kualitas luka bekas operasi SC.
dan faktor presipitasi DO :
2. Mengobservasi reaksi nonverbal dan P : Nyeri post SC
ketidaknyamanan Q : Nyeri seperti di teriris-iris
3. Menggunakan teknik komunikasi R : Nyeri timbul di daerah
terapeutik untuk mengetahui pengalaman sekitar abdomen bekas
nyeri pasien luka SC
4. Membantu pasien dan keluarga untuk S : Skala nyeri 6
mencari dan menemukan dukungan T : Nyeri yang dirasakan terus
5. Mengajarkan tentang teknik non menerus
farmakologi (teknik relaksasi otot
Klien tampak meringis
progresif Jacobson)
kesakitan
6. Memberikan analgetik untuk mengurangi
TD : 155/90 mmHg
nyeri
N : 86 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 37°C

30 Dx 2 1. Memantau pembengkakan payudara yang DS : Klien mengatakan ASI


Desember berhubungan dengan ketidaknyamanan yang mulai keluar sedikit,
2019 atau sakit pasien merasa nyeri pada
2. Melakukan perawatan payudara (breast kedua payudara mulai
care) berkurang
3. Mengajarkan klien pijat oksitosin untuk DO :
memperlancar ASI Payudara klien sudah
4. Mengajarakan klien teknik menyusui berkurang nyerinya
yang benar Pengeluaran ASI sudah mulai
5. Mengajarkan klien mengenai langkah- keluar sedikit
langkah perawatan payudara Klien sudah mengetahui cara
6. Melibatkan keluarga untuk membantu perawatan payudara dan pijat

15
dan memberikan dukungan pada ibu oksitosin
Keluarga klien terlihat
memperhatikan dan terlibat
saat diajarkan oleh perawat
31 Dx 1 1. Melakukan pengkajian nyeri secara DS :
Desember komprehensif termasuk lokasi, Klien mengatakan nyeri pada
2019 karakteristik, durasi frekuensi, kualitas luka bekas operasi SC sudah
dan faktor presipitasi sedikit berkurang
2. Mengobservasi reaksi nonverbal dan DO :
ketidaknyamanan P : Nyeri post SC
3. Menggunakan teknik komunikasi Q : Nyeri seperti di teriris-iris
terapeutik untuk mengetahui pengalaman R : Nyeri timbul di daerah
nyeri pasien sekitar abdomen bekas
4. Membantu pasien dan keluarga untuk luka SC
mencari dan menemukan dukungan S : Skala nyeri 4
5. Mengajarkan tentang teknik non T : Nyeri yang dirasakan
farmakologi (teknik relaksasi otot kadang-kadang saat
progresif Jacobson) digerakkan
6. Memberikan analgetik untuk mengurangi TD : 135/80 mmHg
nyeri N : 82 x/menit
RR : 18 x/menit
T : 36.5°C

31 Dx 2 1. Memantau pembengkakan payudara yang DS : Klien mengatakan ASI


Desember berhubungan dengan ketidaknyamanan sudah keluar cukup banyak,
2019 atau sakit pasien merasa nyeri pada
2. Melakukan perawatan payudara (breast kedua payudara mulai
care) berkurang
3. Mengajarkan klien pijat oksitosin untuk DO :
memperlancar ASI Payudara klien sudah
4. Mengajarakan klien teknik menyusui berkurang nyerinya
yang benar Pengeluaran ASI sudah mulai
5. Mengajarkan klien mengenai langkah- banyak
langkah perawatan payudara Klien sudah mengetahui cara

16
6. Melibatkan keluarga untuk membantu perawatan payudara dan pijat
dan memberikan dukungan pada ibu oksitosin
Keluarga klien terlihat
memperhatikan dan terlibat
saat diajarkan oleh perawat
01 Januari Dx 1 1. Melakukan pengkajian nyeri secara DS :
2019 komprehensif termasuk lokasi, Klien mengatakan nyeri
karakteristik, durasi frekuensi, kualitas sudah berkurang
dan faktor presipitasi DO :
2. Mengobservasi reaksi nonverbal dan P : Nyeri post SC
ketidaknyamanan Q : Nyeri seperti di teriris-iris
3. Menggunakan teknik komunikasi R : Nyeri timbul di daerah
terapeutik untuk mengetahui pengalaman sekitar abdomen bekas
nyeri pasien luka SC
4. Membantu pasien dan keluarga untuk S : Skala nyeri 3
mencari dan menemukan dukungan T : Nyeri yang dirasakan
5. Mengajarkan tentang teknik non kadang-kadang saat
farmakologi (teknik relaksasi otot digerakkan
progresif Jacobson)
Klien dapat mempraktikkan
6. Memberikan analgetik untuk mengurangi
teknik relaksasi otot progresif
nyeri
Jacobson
TD : 135/85 mmHg
N : 80 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 36.2°C
01 Januari Dx 2 1. Memantau pembengkakan payudara yang DS : Klien mengatakan ASI
2019 berhubungan dengan ketidaknyamanan sudah keluar cukup banyak,
atau sakit pasien merasa nyeri pada
2. Melakukan perawatan payudara (breast kedua payudara sudah
care) berkurang
3. Mengajarkan klien pijat oksitosin untuk DO :
memperlancar ASI Payudara klien sudah
4. Mengajarakan klien teknik menyusui berkurang nyerinya

17
yang benar Pengeluaran ASI sudah lancar
5. Mengajarkan klien mengenai langkah- Klien sudah mengetahui cara
langkah perawatan payudara perawatan payudara dan pijat
6. Melibatkan keluarga untuk membantu oksitosin
dan memberikan dukungan pada ibu Keluarga klien terlihat
memperhatikan dan terlibat
saat diajarkan oleh perawat

18
CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal/jam Kode diagnosa Subjektif, Obyektif, Assasment, Planning TTD


keperawatan Perawat
SOAP

01 Januari Dx 1 S:
2020 Klien mengatakan nyeri sudah berkurang
O:
P : Nyeri post SC
Q : Nyeri seperti di teriris-iris
R : Nyeri timbul di daerah sekitar abdomen bekas luka SC
S : Skala nyeri 3
T : Nyeri yang dirasakan kadang-kadang saat digerakkan

Klien dapat mempraktikkan teknik relaksasi otot progresif


Jacobson
TD : 135/85 mmHg
N : 80 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 36.2°C
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

01 Januari Dx 2 S : Klien mengatakan ASI sudah keluar cukup banyak,


2020 pasien merasa nyeri pada kedua payudara sudah berkurang
O:
Payudara klien sudah berkurang nyerinya
Pengeluaran ASI sudah lancar
Klien sudah mengetahui cara perawatan payudara dan pijat
oksitosin
Keluarga klien terlihat memperhatikan dan terlibat saat
diajarkan oleh perawat
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

19
BAB III
PEMBAHASAN

Setelah melakukan pengkajian pada Ny. N (𝐺4 P1A0) umur 35 tahun usia kehamilan 37
minggu dengan post sectio caesarea di Ruang Dewi Kunti RS K.R.M.T Wongsonegoro
selama tiga hari, maka pada bab ini akan dibahas kesenjangan antara teori dan kasus yang
diperoleh sebagai hasil pelaksanaan studi kasus, juga menganalisa factor pendukung dan
penghambat selama melaksanakan asuhan keperawatan.
Pengkajian merupakan dasar utama dalam proses keperawatan pengumpulan data yang
akurat dan secara sistematis dalam membantu dan menentukan status kesehatan klien serta
merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan hal tersebut, penulis melakukan pengkajian
pada Ny.N dengan kasus post sectio caesarea yang dirawat di ruang perawatan Dewi Kunti
RS Wongsonegoro pada tanggal 30 Desember – 01 Januari 2020. Terdapat 2 diagnosa
keperawtan yang diambil yaitu :
1. Nyeri akut b.d agen cidera fisik
2. Ketidakefektifan pemberian ASI b.d kurang pengetahuan
Untuk diagnosa pertama yaitu mengenai nyeri akut b.d cidera fisik post operasi sectio
caesarea. Klien mengeluh nyeri pada luka bekas operasi sectio caesarea. P = nyeri post sectio
caesarea, Q = nyeri seperti diiris-iris, R = nyeri timbul di daerah sekitar abdomen bekas luka
sectio caesarea, S = skala nyeri 6, T = nyeri yang dirasakan terus menerus. Nyeri merupakan
hasil sensasi yang penting bagi tubuh yaitu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan. Persepsi nyeri dibentuk oleh kondisi
emosional dan pengalaman masa lalu. Sejumlah faktor yang menyebabkan persepsi nyeri
menjadi pengalaman subjektif. Saat ini, manajemen pengendalian nyeri telah dikembangkan
baik secara farmakologi maupun nonfarmakologi. Manajemen nyeri merupakan upaya yang
dapat dilakukan untuk membantu pasien dalam mengontrol atau menurunkan nyeri yang
dirasakan.

Untuk diagnosa kedua yaitu tentang ketidakefektifan pemberian ASI b.d kurang
pengetahuan. Klien mengeluh ASI yang keluara sedikit, payudara kerasa, nyeri dan penuh
dank lien belum mengetahui cara perawatan payudara. Klien juga belum mengetahui
bagaimana cara menyusui yang benar setelah dilakukan pembedahan sectio caesarea. Menurut
Padila (2014) bahwa tertundanya pengeluaran ASI dapat disebabkan oleh nyeri yang

20
dirasakan akibat luka post sectio caaesarea akan menekan hipofisis anterior dan posterior.
Dari hipofisis anterior akan menstimulasi hormone prolaktin akan mempengaruhi produksi
ASI dan dari hipofisis posterior akan menstimulus hormone oksitosin yang akan
mempengaruhi pengeluaran ASI. Selain itu, menurut Rinata (2016) tertundanya pengeluaran
ASI juga dapat disebabkanoleh bayi yang lahir dengan tindakan sectio caesarea akan
cenderung malas menyusu dan kurang merespon saat disuse, karena masih adanya pengaruh
obat bius yang dimasukkan pada saat persalinan. Bayi yang dilahirkan denan tindakan operasi
sectio caesarea mengakibatkan bayi mengantuk dan kurang responsive dalam menyusu,
sehingga bayi akan lambat untuk melakukan perlekatan pada putting susu dan menghisap.
Lambatnya bayi dalam menghisap putting payudara dapat menurunkan ekskresi oksitosin
sehingga akan mempengaruhi pengeluaran ASI.

21
BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Setelah penulis menguraikan pembahasan kasus di atas maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada pengkajian keperawatan, klien mengatakan masih lemas dan pusing, nyeri pada
luka post operasi, dan ASI yang keluar sedikit, payudara nyeri, keras dan terasa penuh.
2. Diagnosa keperawatan, terdapat 2 diagnosa yaitu : nyeri akut b.d agen cidera fisik, dan
ketidakefektifan pemberian ASI b.d kurang pengetahuan.
3. Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, tindakan yang dilaksanakan pada klien Ny.N
disesuaikan dengan perencanaan yang telah disusun.
4. Setelah melakukan asuhan keperawatan pada Ny.N, semua diagnosa dapat teratasi.
Hal ini dapat dilihat dari data-data yang didapatkan.
4.2 SARAN
1. Untuk Pihak RS
Diharapkan kepada pihak rumah sakit agar dapat meningkatkan dan
mempertahankan pelayanan terhadap klien dengan menyediakan sarana dan fasilitas-
fasilitas yang lebih memadai.
2. Untuk Klien dan Keluarga
Khusus untuk pasien post operasi sectio caesarea dan keluarga diharapkan agar
senantiasa bertanya bila masih ada hal-hal yang belum dipahami. Serta selalu menjaga
pola atau gaya hidup untuk mempertahankan kesehatannya. Dan keluarga mau bekerja
sama dengan petugas kesehatan dan para dokter serta senantiasa memberikan motivasi
dan harapan klien agar merasa tenang dan diperhatikan

22
DAFTAR PUSTAKA

Aziz Ismail, N. I. A., & Elgzar, W. T. I. (2018). The Effect of Progressive Muscle Relaxation
on Post Cesarean Section Pain, Quality of Sleep and Physical Activities Limitation.
International Journal of Studies in Nursing, 3(3), 14.
https://doi.org/10.20849/ijsn.v3i3.461
LeMone, P., Burke, K. M., & Bauldoff, G. (2016). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Marmi. (2012). Intranatal Care Asuhan Kebidanan pada Persalinan. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Prasetyo. (2010). Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Riskesdas. (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan
RI.
Sundram, B., Dahlui, M., & Chinna, K. (2016). Effectiveness of Progressive Muscle
Relaxation Therapy as a Worksite Heakth Promotion Program in the Automobile
Assembly Line. National Institute of Occupational Safety and Helath, 54(3), 204–214.
Syarif, H., & Putra, A. (2014). Pengaruh Progressive Muscle Relaxation Terhadap Penurunan
Kecemasan pada Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi. Idea Nursing Jurnal, 5(3),
1–8.
Wahyu, H., Febriawati, H., & Lina, L. F. (2019). Pengaruh Terapi Kompres Hangat dengan
Aroma Lavender Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Pasien Post Sectio Caesarea
di RS DEtasemen Kesehatan Tentara Bengkulu. Jurnal Keperawatan, 7(1).
WHO. (2015). Establishing Guideline Devolopment Group for WHO Recommendations on
Non-Clinical Interventions to Reduce Unnecessary Caesarean Section.
Yudiyanta, K., & Novitasari, R. (2015). Assesment Nyeri, 42(3), 214–234.

23