Anda di halaman 1dari 13

Penentuan Jadwal Tanam Jagung Terbaik Di Daerah Tosari ,

kabupaten Pasuruan, Jawa Timur Dengan Aplikasi Cropwat

Praktikum : Teknik Irigasi dan Drainase


Dosen : Dr. Ir. Mohammad Solahudin, M.Si

Anggota Kelompok :
1. Reza Mahardika S. F14170004
2. Rahman Subrata F14170029
3. Faiq Arsambu F14170036
4. F. Rahmadhan F14170086
5. Zirkon F14170115

Departemen Teknik Mesin Dan Biosistem


Institut Pertanian Bogor
2020
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan
pangan nasional, semakin meningkat pula kebutuhan lahan untuk
pengembangan pertanian. Oleh karenaterbatasnya cadangan lahan pertanian
subur, makauntuk memenuhi kebutuhan pangan nasional harus dilakukan
pengoptimalan dalam penanaman pangan. Oleh karena itu, dalam rangka
memenuhi kebutuhan nutrisi yang tepat serta pemilihan waktu yang tepat maka
dilakukan penghitungan dan perencanaan penanaman padi dengan bantuan
perangkat lunak Climwat dan Cropwat.

Menurut Priyonugroho (2014), Cropwat merupakan software yang


berguna dalam perencanaan dan pengaturan irigasi dengan berdasarkan metode
Penman-Monteith. Dalam pengaplikasian software tersebut, cropwat dibantu
dengan software climwat. Climwat merupakan software yang menyediakan
database berbagai stasiun iklim dari negara serta wilayah didunia. Dalam
pertanian di Indonesia, tidak banyak mengaplikasikan software tersebut untuk
menunjang pertanaman, karena dalam penggunaannya harus memahami bahasa
inggris. Petani kurang memahami cara menjalankan aplikasi tersebut maka
dibutuhkan pengetahuan dan pemahaman tentang cara menjalankan aplikasi
Cropwat, sehingga tidak dapat menghitung neraca air serta tidak dapat
memanfaatkan air dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itu, dalam praktikum ini dilakukan perhitungan dan perencanaan
penanaman padi pada daerah Tosari , kabupaten Pasuruan, jawa timur

Tujuan

1. Mahasiswa dapat mengoperasikan perangkat lunak Climwat dan Cropwat .


2. Mahasiswa dapat merancakan penanaman dengan menggnakan perangkat
lunak Climwat dan Cropwat
METODE PRAKTIKUM
` Analisis perencanaan waktu penanaman yang paling tempat dalam
praktikum menggunakan aplikasi climwat dan cropwat. Dilaksanakan pada hari
kamis 31 januari 2020 pada pukul 09.00 sampai 12.00 bertempa di leuwikopo
dengan memilih jagung sebagai tanaman yang ditanam. Memilih stasiun Tosari
sebagai acuan dari data curah yang dipakai. Dilakukan dengan memilih beberapa
masa tanam umtuk jagung.

Hasil curah huajn yang didapat dari stasiun tersebut dilakukan analisis
jadwal dan volume irigasi dari penanaman jagung dengan memilih 1 dekade
jadwal irigasi yakni 10 hari dari masa tanam sehingga diperoleh frekuensi irigasi
yang dibutuhkan dalam masa tanam. Dilakukan beberapa waktu dimulainya masa
tanam untuk meperoleh jadwal tanam yang paling efektif dan menghasilkan
produktivitas yang baik.

HASIL
Tabel 1. Data Cuaca Stasion Tosari, Kab. Pasuruan
Grafik 1. Grafik Evapotranspirasi

Grafik 2 Kelembaban Relatif


Grafik 3 Suhu Maksimal dan Suhu Minimal

Tabel 2 Data Hujan dan Hujan efektif


Grafik 4 Hujan dan Hujan efektif

Gambar 1 Data kondisi tanah

Gambar 2 Karakteristik tanaman Jagung


Tabel 3 Irrigation water requirements perencanaan tanam Ke-1

Grafik 5 Data Evaporasi aktual dengan kebutuhan Irigasi perencanaan taman ke-1
Tabel 4 Irrigation Water Requirements perencanaan taman ke-2

Grafik 6 Data Evaporasi aktual dengan kebutuhan Irigasi perencanaan taman ke-2
Tabel 5 Irrigation Water Requirements perencanaan taman ke-3

Grafik 7 Data Evaporasi aktual dengan kebutuhan Irigasi perencanaan taman ke-2

PEMBAHASAN
Data stasiun cuaca Tosari , kabupaten Pasuruan, Jawa Timur menunjukan
data cuaca berupa suhu maksimal ( °C ), suhu minimal ( °C ), kelembaban relatif (
% ), kecepatan angin(km/day), panjang penyinaran matahari ( hours ), intensitas
radiasi matahari ( MJ/m2/day ), dan Evapotranspirasi potensial (mm/day) seperti
yang ditunjukan oleh tabel 1. Evapotranspirasi adalah proses penguapan atau
kehilangan air yang berasal dari permukaan tanah dan permukaan tumbuhan
(Gambar 1) akibat adanya aktivitas penyinaran matahari. Keduanya bertanggung
jawab terhadap proses kehilangan air tanah di bawah kondisi lapang yang normal.
Sedangkan laju evapotranspirasi lahan basah sangat dipengaruhi oleh kondisi
alam sekelilingnya. Evapotranspirasi potensial (ETP) adalah besarnya
evapotranspirasi pada suatu lahan pertanaman jika air mencukupi dan
pertumbuhan tanaman tidak terganggu atau dengan pengertian lain
evapotranspirasi yang terjadi jika tanah dalam keadaan tidak kurang air dan
seluruh vegetasi diatasnya menutupi seluruh permukaan tanah. Informasi tentang
evapotranspirasi adalah untuk perencanaan sumber daya air, misalnya untuk
penjadwalan irigasi dalam pertanian dan untuk kehutanan (Nuryanto dan Rizal
2013).

Data menunjukan bahwa besar Evapotranspirasi potensial yang paling


tinggi sebesar 3,29 mm / day yang terjadi pada bulan Oktober dan besar
evapotranspirasi yang paling rendar sebesar 2,40 mm/day yang terjadi pada bulan
juni dengan nilai rata-rata evapotranspirasi selama satu tahun sebesar 2,83
mm/day.

Curah hujan efektif yaitu hujan yang langsung dimanfaatkan oleh tanaman
untuk memenuhi kebutuhannya selama masa pertumbuhan (Hidayat dan Empung
2016). Masa hujan efektif untuk suatu lahan persawahan dimulai dari pengolahan
tanah sampai tanaman dipanen, tidak hanya selama masa pertumbuhan
(Pasandaran dan Taylor, 1984). Data hujan yang terjadi pada satu tahun yang
besarnya lebih dari 100 mm terjadi pada bulan januari, februari, maret, april, mei,
november, desember dengan hujan yang terjadi pada maret sebesar 346.0 mm.
Dengan total hujan yang terjadi pada satu tahun sebesar 1983 mm. Hujan efektif
terkecil terjadi pada bulan juni sebesar 9,8 mm dan paling tinggi terjadi pada
bulan maret sebesar 159,6 mm. Penurunan curah hujan terjadi pada bulan maret
,sedangkan kenaikan curah hujan terjadi pada bulan Oktober.

Data cuaca dan curah hujan digunakan dalam analisi perencanaan jadwal
tanam untuk tanaman jagung di Tosari , kabupaten Pasuruan, jawa timur.
Perencanaan tanam pertama pada tanggal 2 Februari 2020, percencanaan tanam
kedua pada 20 desember 2020 dan perencanaan taman ketiga pada 11 juli 2020.
Kondisi tanah yang terdapat pada lokasi tersebut adalah medium (loam). Tanah
medium (loam) adalah berpasir yang memiliki kandungan fraksi 43-85 % pasir,
0-50% debu, dan 0-20% liat. Tanah tersebut memiliki karakteristik diantaranya
total kelembaban tanah yang tersedia sebesar 290 mm/meter , laju infiltrasi
maksimum sebesar 40 mm/ day, maksimum akar dapat menembus tanah sedalam
900 cm, dan air tersedia sebesar 290 mm/meter. Air tersedia adalah air yang
berada di antara kapasitas lapang dengan titik layu permanen.

Penanaman pertama dijadwalkan akan dilakukan pada 2 Februari 2020.


Gambar 2 menunjukan analisi yang dilakukan menggunakan aplikasi Cropwat
diketahui bahwa pemanenan dapat dilakukan pada 6 juni 2020. Informasi yang
ditunjukan oleh Tabel 3 menunjukan data fase tumbuh tanaman jagung dari tahap
inisiasi sampai dengan pemanenan. Besar Kc nilainya berubah-berubah
tergantung dari fase tumbuh tanaman. Perkalian anatara kc dengan ETo
menghasilkan evaportranspirasi potensian (ETc), ETc terbesar terjadi pada fase
tengah musim (mid) yaitu sebesar 32,2 mm / dekade dengan 1 dekade itu 10 hari
dengan total ETc selama penanaman sebesar 260,7 mm/dec . Kebutuhan irigasi
suatu lahan dihilat dari besar hujan efektif dengan Etc, apabila hujan efektif lebih
kecil dari Etc maka irigasi harus dilakukan.

Berdasarkan data pada Tabel 3 yang diperoleh dari pengolahan data cuaca
serta karakteristik tanaman dengan aplikasi Cropwatt diperoleh bahwa kebutuhan
irigasi yang diperlukan untuk penjadwalan tanaman pada 2 februari 2020
dibutuhkan irigasi pada april dekade ke 3 sebesar 0,9 mm/dekade, bulan mei
dekade 1 sebesar 2,9 mm/dekade , bulan mei dekade ke 2 sebesar 3,0 mm/dekade,
serta mei dekade 3 sebesar 1,2 mm/day dengan kebutuhan air irigasi total sebesar
8,1 mm/decade.

Penanaman kedua dijadwalkan akan dilakukan pada 20 Desember 2020.


Tabel 4 menunjukan analisi yang dilakukan menggunakan aplikasi Cropwat
diketahui bahwa pemanenan dapat dilakukan pada 6 April 2021. ETc terbesar
terjadi pada fase Mid yaitu sebesar 33 mm / dekade dengan 1 dekade itu 10 hari
dengan total Etc selama penanaman sebesar 279,6 mm/dec. Berdasarkan data pada
Tabel 4 yang diperoleh dari pengolahan data cuaca serta karakteristik tanaman
dengan aplikasi Cropwatt diperoleh bahwa kebutuhan irigasi yang diperlukan
untuk penjadwalan tanaman pada 20 desember 2020 dibutuhkan irigasi pada
Desember dekade ke 2 sebesar 0,9 mm/dekade kebutuhan air sebesar 0.9
mm/dekade.

Penanaman ketiga dijadwalkan akan dilakukan pada 11 Juli 2020. Tabel 5


menunjukan analisis yang dilakukan menggunakan aplikasi Cropwat diketahui
bahwa pemanenan dapat dilakukan pada 6 November 2020. Informasi yang
ditunjukan oleh Tabel 5 menunjukan data fase tumbuh tanaman jagung dari tahap
inisiasi sampai dengan pemanenan. Besar Kc nilainya berubah-berubah
tergantung dari fase tumbuh tanaman. ETc terbesar terjadi pada fase Mid yaitu
sebesar 36,1 mm / dekade dengan 1 dekade itu 10 hari dengan total Etc selama
penanaman sebesar 294,1 mm/dec. Berdasarkan data pada Tabel 5 yang diperoleh
dari pengolahan data cuaca serta karakteristik tanaman dengan aplikasi Cropwatt
diperoleh bahwa kebutuhan irigasi yang diperlukan untuk penjadwalan tanaman
pada setiap dekade kecuali bulan Oktober dekade 3 dan November dekade 1
dengan kebutuhan air irigasi total sebesar 220,4 mm/dekade.

Data jadwal penanaman memiliki keuntungan maupun kerugian.


Penanaman terbaik untuk tanaman jagung ditentukan oleh parameter kebutuhan
irigasi serta kondisi cuaca saat pemanenan. Semakin sedikit kebuthan irigasi dan
masa panen saat hujan efektif rendah merupakan kodisi yang terbaik. Kondisi
yang terbaik dari ketiga perencanaan waktu tanam pada perencanaan kedua
tanggal 20 Desember 2020. Kondisi perencanaan kedua mimiliki kebutuhan irgasi
sebesar 0,9 mm/dec dan pemanenan saat hujan efektif sebesar 8,4 mm/dec. Hujan
efektif yang rendah membuat pengeringan jagung bisa dilakukan dibawah sinar
matahari langsung, serta kodiisi jagung saat dipanen tidak memiliki kadar air yang
tinggi.

KESIMPULAN

Aplikasi Climwat dan Cropwat dapat melakukan predisi kebuthan irigasi


suatu tanaman dengan informasi data cuaca dari stasiun cuaca. Kebutuhan irigasi
suatu tanaman tergantung dari besarnya evapotranspirasi dan hujan ekfektif.
Perencanaan terbaik untuk menanam jagung di Tosari , kabupaten Pasuruan, jawa
timur pada tanggal 20 Desember 2020. Pada tingkat curah efektif yang relatif
rendah.
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat A.K., Empung. 2016. Analisis Curah Hujan Efektif Dan Curah Hujan
Dengan Berbagai Periode Ulang Untuk Wilayah Kota Tasikmalaya Dan
Kabupaten Garut. Jurnal Siliwangi. 2(2):121-127
Nuryanto DE, Rizal J. 2013. Perbandingan Evapotranspirasi Potensialantara Hasil
Keluaran Model Regcm 4.0 Dengan Perhitungan Data Pengamatan. Jurnal
Meteorologi Dan Geofisika. 14(2):75-85
Pasandaran, E, dan Taylor D.1984. Irigasi Perencanaan dan Pengolahan.Jakarta
[ID] : Gramedia
Priyonugroho, A. 2014. Analisis Kebutuhan Air Irigasi (Studi Kasus Pada Daerah
Irigasi Sungai Air Keban Daerah Kabupaten Empat Lawang). Jurnal Teknik
Sipil dan Lingkungan, 2(3) : 457-470