Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN AUDIT, JASA ASSURANCE DAN NON ASSURANCE LAINNYA

Auditing II

Dosen Pengampu:

Dr. Wahyudin Nor SE, M.Si, Ak, CA

Disusun oleh :

Kelompok 1
Leonardo William Prawiranata 1710313310041
Mahda Safitri 1710313120023
Indah Purnama Sari 1710313120019
Lia Permata Halim 1710313220056

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah,
Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Tidak lupa kami sampaikan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini sehingga makalah
ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca untuk memahami pembahasan atas Laporan Audit, Jasa Assurance dan non-assurance
Lainnya dalam perkuliahan Auditing II.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan. Oleh kerena itu kami mengharapkan
para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.

Banjarmasin, November 2019

Tim Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setelah menyelesaikan proses audit, auditor akan menyusun sebuah laporan yang dikenal sebagai
laporan audit. Didalam laporan audit terdapat opini yang akan menyatakan tingkat kewajaran
suatu laporan keuangan entitas berdasarkan bukti audit yang ditemukan auditor selama proses
auditing. Terkadang, auditor dihadapkan kepada beberapa kasus spesifik yang mempengaruhi
opini yang akan diterbitkan. Masalah seperti ini akan dibahas dalam makalah ini sesuai dengan
teori auditing yang berlaku umum di dunia auditing.

Selain melakukan audit laporan keuangan, auditor mungkin juga dapat diminta
melakukan jasa-jasa lain yang berhubungan dengan klien seperti review laporan keuangan. Jasa
ini dinamakan jasa assurance dan non-assurance lainnya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka dapat kita dapat membuat rumusan
masalah yang akan menjadi garis besar dalam pembahasan makalah ini, yaitu :

1. Bagaimana bentuk dari laporan audit?


2. Bagaimana opini dalam sebuah laporan audit dibuat?
3. Apa isu-isu yang mampu mempengaruhi kemampuan auditor dalam menerbitkan opini?
4. Apa itu jasa assurance dan non-assurance lainnya?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat, maka tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah:

1. Menjelaskan mengenai laporan audit dan strukturnya


2. Menggambarkan proses pembuatan opini dan pertimbangannya
3. Menampilkan isu-isu yang dihadapi auditor saat menerbitkan opini
4. Menjelaskan mengenai jasa assurance dan non-assurance lainnya

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pelaporan atas Audit Laporan Keuangan: Standar laporan tanpa Pengecualian/
Tidak Dimodifikasi

2.1.1 Standar Laporan Audit Wajar Tanpa Pengecualian untuk Perusahaan publik

Laporan ini berisi delapan elemen: (1)judul laporan, (2)pihak penerima(klien), (3) paragraf
pendahuluan, (4) paragraf lingkup, (5)paragraf opini, (6) paragraf penjelasan yang mengacu pada
audit pengendalian internal atas laporan keuangan, (7) nama auditor, (8) tanggal laporan auditor.

2.1.2 Standar Laporan Audit Wajar tanpa Pengecualian untuk Semua Entitas Selain
Perusahaan Publik

Standar kejelasan ASB memberikan format laporan baru untuk audit perusahaan nonpublik.
Laporan baru ASB sama dengan laporan IAASB, yaitu digunakansecara internasional. Isi dari
laporan ASB dan PCAOB secara esensial sama, tetapi organisasi dan terminologinyaagak
berbeda.

2.2 Bahasa Penjelasan yang Ditambahkan dalam Laporan Audit Wajar Tanpa
Pengecualian/Tidak Dimodifikasi

2.2.1 Susunan Kata yang Dimodifikasi untuk Opini yang Sebagia Berdasarkan Laporan
Auditor Lain

Bahasa penjelasan ditambahkan pada paragraf pendahuluan, lingkup dan opini laporan ketika
opini auditor sebagian berdasarkan laporan auditor lain. Pada beberapa bagian-bagian audit dapat
diselesaikan oleh kantor akuntan public terpisah dan tidak berafiliasi. Contohnya, dalam
pelaporan laporan keuangan konsolidasian, salah satu anak perusahaan klien mungkin terletak di
negara lain yang kantor akuntannya tidak memiliki keberadaanyang kuat, sehingga dapat diaudit
oleh auditor lain.

Auditor utama disinisharus memutuskan apakah mengacu pada auditor lain


dalamlaporannya. Pertama kali, auditor utama mengukur reputasi professional dan independensi
auditor lain. Jika auditor utama puas akan keprofesionalan dan independensi auditor lain dengan
kualitas pekerjaan audit mereka, opini dapat diberikan tanpa mengacu pada hasil kerja auditor
dalam laporan auditor. Dalam melakukannya, auditor menerima tanggung jawab penuh untuk
pekerjaan yang dilakukan dan kesimpulan yang dibuat oleh auditor lain.

2.2.2 Kondisi yang Membutuhkan Bahasa Penjelasan dalam Paragraf Tambahan

Ada empat kondisi yang mnegharuskan auditor untuk menambah paragraf penjelasan untuk
laporan standar wajar tanpa pengecualian (atau tidak dimodifikasi) pada laporan keuangan klien:

 Referensi untuk laporan audit pengendalian internal untuk perusahaan public.

 Kesalahan substansial mengenai kemampuan entitas untuk melanjutkan sebagai


keberlanjutan.

 Kurangnya konsistensi pada aplikasi prinsip akuntansi dikarenakan perubahan akuntansi.

 Kebutuhan akan pelaksanaaan tambahan.

Empat situasi ini semuanya menyebabkan tambahan paragraf penjelas yang mengikuti paragraf
opini. Perhatikanlah bahwa tidak diperlukan adanya modifikasi untuk susunan kata pada paragraf
pengantar, lingkup, atau opini. Laporan audit yang dierbitkan dalam situasi ini dianggap sebagai
opini wajar tanpa pengecualian/tidak dimodifikasi walaupun terdapat penambahan paragraf
penjelasan. Kami telah mendiskusikan kebutuhan laporan audit laporan keuangan untuk
perusahaan public untuk menyertakan sebuah paragraf yang mengacu pada audit ICFR ketika
laporan atas audit ICFR disajikan secara terpisah dari laporan audit laporan keuangan.

Keberlanjutan

Asumsi dasar yang mendasari pelaporan keuangan adalah bahwa entitas akan melanjutkan
sebagai keberlanjutan (yaitu, akan bertahan dalam bisnis), standar auditing menyatakan bahwa
auditor memiliki tanggung jawab untuk mengevaluasi apakah ada keraguan yang beralasan
mengenai kemampuan entitas untuk melanjutkan sebagai keberlanjutan untuk periode waktu
yang logis, tidak melebihi satu tahun setelah tanggal laporan keuangan yang diaudit.

Kurangnya Konsistensi
Prinsip basis akuntansi adalah bahwa akuntansi harus menghasilkan laporan keuangan yang
konsisten dan dapat diperbandingkan antarperiode. Standar laporan audit wajar tanpa
pengecualian menunjukkan bahwa secara material, daya banding laporan keuangan tidak
dipengaruhi oleh penggunaan prinsip akuntansi yang tidak konsisten. FASB ASC. Topic 250 ,
“Perubahan Akuntansi dan Koreksi Kesalahan,” mengatur akuntansi untuk perubahan dalam
prinsip akuntansi. Dari perspektif auditor, perubahan akuntansi dapat dikelompokkan menjadi (1)
perubahan yang memengaruhi daya banding dan konsistensi dalam aplikasi prinsip akuntansi,
dan (2) perubahan yang memengaruhi daya banding tetapi melibatkan inkosistensi pada aplikai
prinsip akuntansi.

Perubahan yang Memengaruhi Konsistensi jika perubahan dalam prinsip akuntansi atau dalam
metode aplikasinya secara material memengaruhi daya banding dan konsistensi laporan
keuangan. Auditor akan menyetujui perubahan itu, auditor harus mendiskusikan perubahan
dalam paragraf penjelas atau penekanan pada permasalahan untuk enyoroti tidak adanya
konsistensi. Standar auditing perubahan akuntansi berikut ini memengaruhi baik daya banding
maupun konsistensi dan menyaratkan paragraf penekanan pada permasalahan:

 Perubahan dalam prinsip akuntansi. Contohnya adalah perubahan metode depresiasi


garis lurus menjadi metode akselerasi untuk mendepresiakan peralatan.

 Perubahan dalam entitas pelaporan. Contohnya adalah konsolidasi laporan keuangan


anak perusahaan besar dengan laporan keuangan perusahaan induk pada tahun
sebelumnya dari akuntansi untuk anak perusahaan pada basis biaya atau ekuitas pada
tahun ini.

 Koreksi kesalahan dalam prinsip. Ini mengacu pada situasi dengan klien yang
menggunakan prinsip akuntansi yang tidak dapat diterima (contohnya biaya penggantian
persediaan) di tahun sebelumnya, tetapi perubahan untuk prinsip akuntansi yang dapat
diterima (seperti FIFO0 pada tahun ini.

Perubahan yang Tidak Memengaruhi konsistensi Perubahan lain bisa memengaruhi daya
banding tetapi bukan konsistensi dalam penggunaan prinsip akuntansi. Ini termasuk :
 Perubahan dalam estimasi akuntansi, Perubahan dalam kelangsungan jasa dari asset
yang dapat didepresiaasikan adalah contoh perubahan dalam estimasi.

 Koreksi kesalahan yang tidak melibatkan prinsip akuntansi, Contohnya adalah


kesalahan matematis dalam laporan keuangan yang dikeluarkan sebelumnya.

 Perubahan dalam klasifikasi dan reklasifikasi.

 Perubahan yang diharapkan memiliki dampak material di masa mendatang. Ini


merupakan perubahan prinsip akuntansi yang memilih dampak material pada tahun-tahun
mendatang.

Penekanan Tambahan

Pada kondisi tertentu auditor mungkin ingin menekankan permasalahan spesifik terkait laporan
keuangan meskipun ia berniat untuk menyampaikan opini wajar tanpa pengecualian atau
dimodifikasi. Informasi tersebut disajikan dalam paragraf penjelas/penekanan permasalahan.

2.3 Penyimpangan dari Laporan Audit Laporan Keuangan Wajar Tanpa


pengecualian/Tidak Dimodifikasi

2.3.1 Kondisi-Kondisi Penyimpangan

 Keterbatasan ruang lingkup. Keterbatasan ruang lingkup disebabkan oleh


ketidakmampuan untuk mengumpulkan bukti kompeten yang memadai,seperti ketika
manajemen atau beberapa kondisi mencegah auditor melakukan prosedur audit yang
dianggap perlu.

 Penyimpangan terhadap PABU. Penyimpanan terhadap PABU terjadi ketika laporan


keuangan dipersiapkan atau disajikan dalam cara yang tidak sesuai dengan PABU, baik
berdasarkan kesalahan maupun kecurangan.

 Kurangnya independensi auditor. Kurangnya independensi muncul ketika auditor dank


lien memiliki beberapa hubungan finansial, bisnis atau personal yang dilarang oleh
standar professional.
2.3.2 Tipe-Tipe Laporan Audit laporan Keuangan Selain wajar tanpa Pengecualian/Tidak
Dimodifikasi

 Wajar dengan pengecualian (qualified). Auditor mengeluarkan opininya ketika


mendapat keterbatasan ruang lingkup atau penyimpangan terhadap PABU, tetapi secara
keseluruhan laporan keuangan disajikan secara secara wajar sesuai dengan PABU.

 Pernyataan tidak mengeluarkan opini (disclaimer). Auditor tidak mengeluarkan opini


untuk laporan keuangan karena tidak mencukupinya bukti yang sesuai untuk membentuk
opini keseluruhan laporan keuangan atau karena kurangnya independensi.

 Tidak wajar (adverse). Auditor mengeluarkan laporan tidak wajar ketika laporan
keuangan tidak disajikan secara wajar dikarenakan adanya penyimpangan PABU yang
secara material memengaruhi laporan keuangan secara kesseluruhan.

2.3.3 Dampak materialitas pada Pelaporan laporan Keuangan

Ketika auditor dihadapkan pada keterbasan ruang lingkup, penilaian prosedur yang hilangkan
harus mencakup sifat dan besarnya potensi dampak dalam area laporan keuangan yang tidak
dapat diuji oleh auditor dan signifikansinya untuk keseluruhan laporan keuangan. Jika potensi
dampak terkait dengan banyak komoenen pada laporan keuangan atau jika pengaruh komponen
tersebut sangat signifikan sehingga laporan keuangan terpengaruh secara keseluruhan.

2.4 Pembahasan Kondisi yang Memerlukan Tipe-tipe Lain Laporan Audit

2.4.1 Keterbatasan Ruang Lingkup

Keterbatasan ruang lingkup atau ketidakmampuan memperoleh bukti audit yang memadai untuk
menyatakan opini wajar tanpa pengecualian dapat disebabkan oleh pembatasan akses dari klien
atau kejadian diluar kuasa klien yang menyebabkan bukti tidak dapat ditemukan, seperti
kebakaran dan bencana alam. Auditor hendaknya berhati-hati ketika klien membatasi ruang
gerak auditor karena mungkin saja ada salah saji yang ingin ditutupi oleh klien dan itu mungkin
bersifat material.

2.4.2 Laporan Tidak Sesuai dengan PABU


Secara singkat, hubungan ketidaksesuaian PABU dalam laporan keuangan dengan opini audit
yang dikeluarkan adalah sebagai berikut:

a) Ada penyimpangan PABU atau ada aplikasi prinsip akuntansi yang tidak berlaku tapi tidak
material, maka opininya adalah wajar dengan pengecualian atau tidak wajar. Sebelum
menyampaikan opini wajar dengan pengecualian, auditor akan menambahkan paragraf
terpisah yang menjelaskan penyimpangan yang terjadi dan dampaknya.
b) Ada penyimpangan yang dampaknya material atau sangat material, maka opininya adalah
tidak wajar. Sama seperti wajar dengan pengecualian, sebelum opini disampaikan, akan ada
paragraf terpisah yang menjelaskan alasan opini tidak wajar dikeluarkan.

2.4.3 Auditor Tidak Independen

Auditor publik diharapkan bergerak independen terhadap klien sehingga opini yang dikeluarkan
bisa dipercaya oleh para pengguna laporan keuangan. Akan tetapi, bila terjadi kasus dimana
auditor tidak mampu menjaga independensinya, maka auditor harus mengeluarkan laporan audit
yang hanya berisi kalimat berikut:

“Kami tidak independen sehubungan dengan <Nama Klien>. Oleh karena itu, kami tidak bisa
memberikan opini untuk laporan posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif, laba ditahan,
dan arus kas terkait untuk tahun yang kemudian berakhir.”

Jika auditor terbukti tidak independen, opini disclaimer harus dikeluarkan. Opini ini tidak boleh
memuat alasan auditor menjadi tidak independen atau alasan lain sehingga auditor tidak bisa
meminimalkan kondisinya atau bahkan lepas dari kesalahannya.

2.5 Isu Pelaporan Khusus

2.5.1 Laporan atas Laporan Keuangan Komparatif


Ada tiga kondisi yang umum terjadi sehubungan laporan keuangan komparatif dalam
mengeluarkan laporan audit, yaitu:

 Laporan yang Berbeda mengenai Laporan Keuangan Komparatif


Laporan audit atas laporan keuangan komparatif dapat berbeda karena ada penyimpangan
pada tahun sebelumnya yang memberikan dampak pada tahun-tahun selanjutnya
 Perubahan Laporan mengenai Laporan Keuangan Periode Sebelumnya
Saat proses audit tahun berjalan berlangsung, auditor mungkin melihat perubahan yang terjadi
sehingga menyebabkan laporan audit periode sebelumnya menjadi tidak sesuai dengan
keadaan sekarang sehingga auditor diperkenankan melakukan perubahan laporan audit
periode sebelumnya.
 Laporan oleh Auditor Sebelumnya
Ketika terjadi perubahan auditor, maka auditor sebelumnya dapat mengeluarkan kembali
laporan audit periode sebelumnya dan menentukan apakah laporan audit tersebut masih
relevan dengan keadaan sekarang. Bila masih sesuai, maka auditor sebelumnya akan
mekaporkan kembali laporan audit sesuai tanggal pelaporannya. Bila sudah tidak sesuai, maka
auditor sebelumnya diperkenankan melakukan penyelidikan dan prosesdur yang diperlukan
untuk merevisi laporan audit. Kemudian, laporan tersebut akan dilaporkan kembali dengan
dua tanggal, yaitu tanggal pelaporan awal dan tanggal pelaporan revisi.

2.5.2 Informasi Lain dalam Dokumen yang Berisi Laporan Keuangan yang Telah Diaudit

Klien diperkenankan mempublikasikan informasi lain dalam dokumen laporan keuangan, auditor
akan mempertimbangkan informasi tersebut sesuai pedoman untuk menentukan konsistensi
informasi tersebut dengan laporan keuangan. Namun, auditor tidak perlu melakukan prosedur
audit dan bertanggung jawab atas informasi tersebut.

2.5.3 Laporan Khusus Terkait Laporan Keuangan

Auditor terkadang diminta melakukan audit terhadap laporan yang ditujukan untuk kalangan
khusus sehingga tidak menggunakan PABU. Standar Audit memberikan pedoman bagi auditor
untuk melaksanakan audit khusus ini, seperti:
 Laporan Keuangan yang Disiapkan Menurut Kerangka Kerja Khusus
Laporan Keuangan jenis ini dibagi oleh Standar Audit menjadi 4 basis yaitu basis
peraturan, pajak, kas, dan kontraktual. Dalam laporan auditnya, paragraf pembuka akan
mengidentifikasi laporan keuangan basis apa yang diaudit, selebihnya isi laporan audit
berbentuk sama dengan laporan audit biasa. Opini akan berisi laporan positif mengenai
kewajaran penyajian sesuai kerangka khusus yang ditentukan.
 Elemen, Akun, atau Komponen Khusus dalam Laporan Keuangan
Secara garis besar auditor sebenarnya tidak mengaudit elemen, akun, atau komponen
khsuus dalam laporan keuangan (kecuali laba bersih karena laba bersih berpengaruh
secara keseluruhan laporan keuangan), tetapi, auditor hanya menerapkan prosedur yang
disetujui atas akun khusus tersebut.
 Laporan Kepatuhan Terkait Laporan Keuangan yang Telah Diaudit
Tanggung jawab auditor dalam audit kepatuhan hanya memastikan bahwa klien telah
menjalankan kewajibannya secara benar dan mematuhi peraturan kontraktual yang
berlaku.

2.6 Jasa Akuntansi Dan Review

Tahun 1977 ada relatif sedikit panduan mengenai bagaimana melakukan atau melaporkan
mengenai perikatan meliputi laporan keuangan yang tidak diaudit. Pada kasus 1136 Tenants yang
melibatkan liabilitas auditor atas laporan keuangan yang tidak diaudit, menghasilkan
pembentukan Accounting and Review Services Committee oleh AICPA. Komite ini ditunjuk oleh
AICPA untuk menerbitkan Statements on Standards for Accounting and Review Services
(SSARS) dalam hubungannya dengan laporan keuangan yang tidak diaudit.

SSARS menyediakan panduan untuk dua tipe jasa, yaitu kompilasi laporan keuangan dan review
laporan keuangan. Pekerjaan yang diselesaikan dalam suatu kompilasi tidak menyediakan
assurance mengenai penyajian wajar dari laporan keuangan. Sedangkan suatu review
menyediakan akuntan dengan dasar yang logis untuk mengungkapkan assurance terbatas bahwa
tidak ada modifikasi material yang seharusnya dibuat pada laporan keuangan.
Perikatan kompilasi dan review yang dilakukan di bawah SSARS secara spesifik teraplikasi pada
perikatan output jasa dalam suatu set laporan keuangan historis. Seorang akuntan dapat
menyediakan tipe jasa lain, seperti menyediakan daftar saldo examination; membantu dalam
menyesuaikan catatan akun; konsultasi mengenai akuntansi, pajak, dan masalah serupa;
penyiapan retur pajak; dan penyediaan beragam jasa pembukuan atau pemrosesan data manual
atau otomatisasi, tanpa harus menaati standar untuk kompilasi dan review

2.6.1 Kompilasi Laporan Keuangan

Kompilasi didefinisi sebagai penyajian, dalam bentuk laporan keuangan, informasi yang
merupakan representasi manajemen atau pemilik tanpa usaha untuk mengungkapkan assurance
apa pun pada laporan keuangan. Dalam melaksanakan suatu kompilasi, akuntan harus memiliki
pengetahuan tentang entitas berikut.

● Prinsip dan praktik akuntansi untuk industri saat entitas beroperasi.

● Suatu pemahaman umum organisasi klien, karakteristik operasinya, dan sifat aset,
liabilitas, pendapatan, dan biaya.

● Suatu pemahaman prinsip dan praktik akuntansi yang digunakan oleh klien.

Akuntan diharuskan membaca laporan keuangan kompilasian untuk menentukan apakah mereka
memiliki format yang sesuai dan bebas dari kekeliruan nyata, seperti kesalahan matematis atau
klerikal atau kesalahan dalam aplikasi prinsip akuntansi. Karena jasa ini sering disediakan untuk
perusahaan kecil yang memiliki sedikit karyawan akuntansi, akuntan normalnya sangat terlibat
dengan penyiapan laporan keuangan.

Ada tiga bentuk laporan kompilasi.

● Kompilasi dengan pengungkapan penuh.


● Kompilasi yang mengabaikan semua pengungkapan substansial.

● Kompilasi ketika akuntans tidak indeoendwn.

Laporan seharusnya diberi tanggal sebagaimana pada tanggal perlengkapan kompilasi. Sebagai
tambahan, tiap halaman laporan keuangan seharusnya ditandai dengan suatu notasi seperti "Lihat
Laporan Kompilasi Akuntan".

 Kompilasi dengan Pengungkapan Penuh Ketika entitas menyajikan seperangkat


laporan keuangan yang berisi semua pengungkapan keuangan yang disyaratkan oleh
prinsip akuntansi berlaku umum atau kerangka kerja laporan keuangan lainnya, akuntan
dapat menerbitkan apa yang dapat dirujuk sebagai laporan kompilasi standar.

 Kompilasi yang Mengabaikan Semua Pengungkapan Substansial Suatu entitas


meminta supaya akuntan mengkompilasi laporan keuangan tanpa menambahkan semua
pengungkapan yang perlu untuk meminimalkan biaya perikatan. Akuntan dapat
mengkompilasi laporan keuangan semacam itu sepanjang hal tersebut diindikasi secara
jelas dalam laporan dan klien tidak bertujuan untuk menyesatkan pengguna.

 Kompilasi Ketika Akuntan Tidak Independen Code of Profesional Conduct


memungkinakn akuntan untuk melakukan suatu perikatan kompilasi meskipun akuntan
tidak independen terhadap entitas. Ketiadaan independent ini harus diungkapkan dalam
laporan. Kalimat berikut ditambahkan sebagai paragraf terakhir laporan ketika akuntan
tidak independen: " Kami tidak independen terhadap Wahweap Medical Services".
Akuntan mungkin mengungkapkan suatu deskripsi mengenai alasan ketiadaan
independensinya dengan memastikan bahwa semua alasan telah secara lengkap dan
akurat dimasukkan dalam deskripsi.

2.6.2 Review Laporan Keuangan

Suatu review didefinisikan sebagai pelaksanaan inquiry dan prosedur analitis untuk memberikan
suatu dasar yang logis bagi akuntan dalam mengungkapkan assurance terbatas bahwa tidak ada
kodifikasi material yang seharusnya dibuat pada laporan keuangan dalam rangka agar mereka
sesuai dengan kerangka kerja laporan keuangan yang berlaku (misalnya PABU).

● Dalam melaksanakan suatu review, pekerjaan akuntan meliputi hal berikut ini.

● Memperoleh pengetahuan mengenai prinsip dan praktik akuntansi dalam industri tempat
entitas beroperasi.

● Memperoleh pemahaman umum atas organisasi entitas, karakteristik operasinya, dan sifat
aset, liabilitas, pendapatan, dan biaya.

● Memperoleh pemahaman prinsip dan praktik akuntansi yang digunakan oleh klien dalam
mengukur, mengakui, merekam, dan mengungkap semua akun dan pengungkapan
signifikan dalam laporan keuangan.

● Bertanya pada karyawan entitas mengenai masalah penting.

● Melakukan prosedur analitis untuk mengidentifikasi hubungan dan item individual yang
tampaknya tidak biasa (proses yang diikuti untuk melaksanakan prosedur analitis serupa
dengan yang digambarkan untuk audit.

● Membaca laporan keuangan untuk menentukan apakah mereka sesuai dengan kerangka
kerja laporan keuangan yang berlaku.

● Memperoleh laporan dari akuntan lain, jika ada, yang telah mengaudit atau melakukan
review laopran keungan ataukomponennyabyang signifiakn.

● Memperoleh surat representasi dari manajemen (umumnya ditandatangani oleh direktur


utama dan direktur keuangan).

Perhatikan bahwa suatu perikatan review tidak mengharuskan akuntan untuk memperoleh suatu
pemahaman atas pengendalian internal, menguji rekaman akuntansi dengan melakukan uji
rincian, atau membenarkan inquiry, sebagaimana normalnya yang dilakukan dalam suatu audit.
Namun, jika saat melaksanakn review , akuntan menyadari informasi yang tidak benar, tidak
lengkap, atau menyesatkan, dia seharusnya melakukan prosedur tambahan yang diperlukan untuk
menyediakan assurance terbatas bahwa tidak ada modifikasi material yang perlu dilakukan atas
laporan keuangan.

2.6.3 Laporan Review

Suatu laporan review standar mengasumsikan bahwa laporan keuangan sesuai dengan prinsip
akuntansi berlaku umum atau kerangka kerja pelaporan keuangan lainnya. Laporan review
seharusnya diberi tanggal pada perlengkapan inquiry dan prosedur analitis akuntan. Selain itu,
tiap halaman laporan keuangan seharusnya mengandung suatu notasi seperti "Lihat Laporan
Review Akuntan".

2.6.4 Kondisi yang Dapat Berujung pada Modifikasi Suatu Laporan Kompilasi atau
Review

Ketika akuntan melaksanakan suatu kompilasi atau review, dia mungkin menyadari situasi yang
mensyaratkan modifikasi pada laporan standar. Dua situasi tertentu (1) penyimpangan prinsip
akuntansi berlaku umum dan (2) ketidakpastian terhadap keberlangsungan (going concern). Jika
ada penyimpangan dari PABU, penyimpangan tersebut seharusnya diungkapkan dalam suatu
paragraf terpisah dalam laporan.

Proses yang diikuti akuntan dalam menentukan apakah suatu entitas adalah suatu going concern
serupa dengan proses yang digunakan untuk menilai masalah going concern selama suatu audit.

2.7 Auditing Internal

Auditing internal bisa menjadi jalan karir yang menantang dan menguntungkan. Banyak akuntan
publik yang bekerja sebagai auditor eksternal akhirnya menjadi auditor internal, dan banyak
auditor internal yang akhirnya menjadi eksekutif dalam organisasinya. Kesempatan ini muncul
karena auditor internal berada dalam posisi unik untuk memahami organisasi dari suatu
perspektif yang luas dan mendalam.

2.7.1 Mendefinisi Auditing Internal


Institute of Internal Auditors (IIA), yang mengawasi dan menetapkan standar untuk auditing
internal secara internasional, mendefinisikan auditing internal sebagai berikut.

Auditing internal adalah suatu aktivitas assurance dan konsultasi yang independen, objektif yang
didesain untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi suatu organisasi. Auditing internal
membantu organisasi mencapai tujuannya dengan membawa pendekatan sistematis, disiplin
untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas proses manajemen risiko, pengendalian, dan
tata kelola. IIA meneebitkan standar rinci dan teliti untuk praktik auditing internal; akan tetapi,
ada sejumlah perbedaan penting antara profesi auditing internal dan eksternal.

2.7.2 Institute for Internal Auditor

Dibentuk pada 1941, IIA adalah asosiasi profesional internasional dengan kantor pusat dunia di
Altamonte Springs, Florida. IIA memiliki lebih dari 170.000 anggota di 116 negara,
berspesialisasi dalam auditing internal, manajemen risiko, tata kelola, pengendalian internal,
audit TI, pendidikan, dan keamanan. Institute ini merupakan otoritas yang diakui, pendidik
utama, dan pemimpin yang diakui dalam sertifikasi, riset, dan panduan teknologi untuk profesi
auditing internal di seluruh dunia. IIA menawarkan tidak hanya sertifikasi Certified Internal
Auditor (CIA) yang umum namun juga sertifikasi khusus dalam area termasuk jasa akuntansi
dan keuangan pemerintah.

2.7.3 Standar IIA

Panduan profesional IIA disusun ke dalam International Professional Practices Framework.


Kerangka kerja ini terdiri atas dua kategori panduan otorisasi.

Panduan perintah

● Definisi auditing internal.

● Kode etik.

● Standar

Panduan yang sangat direkomendasikan

● Paper posisi.
● Saran praktik.

● Panduan praktik.

Area pertama menyediakan panduan mandatory untuk anggota IIA dan terdiri atas Definisi
Auditing Internal, Kode Etik, dan Standar Internasional untuk praktik Profesional Auditing
Internal. Standar I Internasional untuk Praktik Profesional Auditing Internal kemudian dibagi ke
dalam tiga area utama, yaitu standar atribut, standar kinerja, dan standar implementasi.

Standar atribut menunjukkan karakteristik organisasi dan pihak yang melakukan audit
internal, dan standar kinerja mendeskripsikan sifat aktivitas audit internal dan menyediakan
kriteria untuk mengevaluasi jasa auditing internal. Cakupan standar dua bidang tersebut serupa
dengan 19 standar auditing berlaku umum yang diterapkan oleh auditor eksternal. Mengingat
variasi substansial dalam lingkungan audit internal di seluruh dunia, standar atribut dan kinerja
bersifat umum; namun kategori standar ketiga IIA, dikenal sebagai standar implementasi, lebih
rinci, menyediakan panduan yang berlaku pada tipe perikatan yang spesifik.

2.7.4 Kode Etik

Auditor internal harus mengikuti panduan yang mendorong perilaku etis. Kode Etik IIA penting
bagi auditor internal karena keterandalan pekerjaan bergantung pada reputasi objektivitas dan
integritas personal yang tinggi. Kode Etik menspesifikasi empat prinsip utama perilaku etis dan
sejumlah aturan terasosiasi yang mendukung perilaku yang diekspektasi dari anggota IIA, yaitu
integritas, objektivitas, kerahasiaan, dan kompetensi.

Prinsip Definisi

Integritas Membangun kepercayaan dan menyediakan dasar untuk pengandalan pada


pertimbangan mereka.
Objektivitas Membuat penilaian yang berimbang atas semua keadaan yang relevan dan
tidak terlalu dipengaruhi oleh kepentingan pribadi atau oleh orang lain
dalam membentuk pertimbangan.

Kerahasiaan Menghormati nilai dan kepemilikan informasi yang mereka terima dan
tidak mengungkap informasi tanpa otoritas yang tepat kecuali ada
kewajiban hukum atau profesional untuk berlaku seperti itu.

Kompetensi Menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperlukan


dalam kinerja jasa auditing internal.

2.7.5 Peran Auditor Internal

Auditor internal disebut "internal" karena bekerja dalam suatu entitas individual dan melaporkan
hasil pekerjaannya kepada manajemen atau (idealnya) pada komite audit atau dewan direksi
entitas. Fungsi audit internal berbeda pada cara mereka dikelola dan diorganisir. Sejumlah entitas
memiliki fungsi audit internal yang diorganisir secara "in-house", sementara lainnya
"dialihdayakan". Ketika suatu organisasi co-sources fungsi audit internalnya, entitas umumnya
meminta kantor akuntan publik untuk menyediakan jasa audit internal bersama dengan auditor
internal perusahaan sendiri.

Idealnya suatu entitas memiliki kepala eksekutif audit (chief audit executive - CAE), yang
perannya adalah mengawasi fungsi audit internal dan membantu mengoordinasi pekerjaan
auditor internal dan eksternal. Namun, aturan SEC melarang suatu kantor akuntan publik untuk
menyediakan jasa audit internal pada perusahaan publik yang juga merupakan klien audit
eksternal KAP. Peran yang dimainkan oleh auditor internal jatuh pada dua kategori utama - jasa
assurance dan jasa konsultasi.

Jasa assurance melibatkan penilaian objektif auditor internal atas bukti untuk
menyediakan suatu opini atau kesimpulan independen mengenai suatu proses, sistem atau materi
lain. Sifat dan cakupan perikatan assurance ditentukan oleh auditor internal. Umumnya ada tiga
pihak yang terlibat dalam jasa assurance, yaitu (1) orang atau kelompok yang terlibat langsung
dengan entitas, operasi, fungsi, proses, sistem, atau materi lainnya - pemilik proses; (2) orang
atau kelompok membuat penilaian - auditor internal; (3) orang atau kelompok yang
menggunakan penilaian tersebut - pengguna.

Jasa konsultasi yang bersifat nasihat atau saran, dan umumnya dilakukan karena
permintaan spesifik klien perikatan. Sifat dan cakupan perikatan konsultan merupakan inti
kesepakatan dengan klien perikatan. Jasa konsultasi umumnya melibatkan dua pihak, yaitu (1)
orang atau kelompok yang menawarkan nasihat/saran - auditor internal, dan (2) orang atau
kelompok yang mencari dan menerima saran/nasihat - klien perikatan. Ketika melaksanakan jasa
konsultasi, auditor internal harus menjaga objektivitasnya dan tidak memikul tanggung jawab
manajemen.

Secara umum, suatu fungsi audit internal organisasi paling sering disebar oleh
manajemen dan dewan direksi dalam bidang evaluasi risiko, evaluasi kepatuhan, dan
pelaksanaan auditing keuangan dan operasional yang luas. Melalui aktivitas ini, auditor internal
berkontribusi pada tata kelola yang efektif dalam suatu organisasi, yang mencakup semua
kebijakan dan prosedur yang diselenggarakan manajemen untuk mengendalikan risiko dan
mengawasi operasi dalam perusahaan. Memang IIA dan organisasi berpengaruh lain, seperti
NYSE, mengidentifikasi fungsi audit internal sebagai salah satu landasan tata kelola yang efektif.

2.7.6 Evaluasi Risiko dan Pengendalian

Sebagaimana diuraikan oleh Standar 2110 IIA, auditor internal seharusnya terlibat dalam proses
manajemen risiko entitas. Bahkan, standar IIA mensyaratkan auditor internal untuk melakukan
suatu evaluasi atas proses manajemen risiko perusahaan. Walaupun keahlian industrial audotor ij
nternak memjngkjnkannya untuk mengtahui risikk industri secara umum, penfalaman spesifik
dalam organisasinya memungkinkan auditor menaksir risiko secara akurat terkait dengan
integritas informasi keuangan dan operasional, penjagaan aset, dan kepatuhan dengan undang-
undang dan regulasi. Auditor internal sering diminta untuk menentukan sumber resiko dan
kadang dipanggil untuk merekomendasikan pendekatan untuk mengelola risiko yang
teridentifikasi.

Auditor internal telah telah terlibat dalam mengevaluasi dan meningkatkan sistem
organisasi mereka untuk pengendalian internal atas pelaporan keuan g an dan sering memainkan
peran penting dalam memastikan kepatuhan dengan persyaratan baru ini. Dengan menguji dan
menilai pengendalian internal, audit internal juva memfasilitasi kemampuan manajemen senior
untuk menyediakan sertifikasi yang diperlukan oleh Section 302 - Pertanggungjawaban
Perusahaan untuk Laporan Keuangan.

2.7.7 Me-review Kepatuhan

Dalam banyak industri, kepatuhan terhadap undang-undang dan regulasi yang relevan
merupakan usaha yang kompleks dan penting. Banyak badan pemerintah yang menerbitkan
aturan dan regulasi yang harus diikuti oleh bisnis atau organisasi lainnya, misalnya lembaga
Environmental Protection Agency (EPA). Auditor membantu manajemen memastikan bahwa
organisasi menaati undang-undang, aturan, dan regulasi yang berlaku Bagi entitas, sebagaimana
juga memastikan bahwa pegawai mentaati panduan dan aturan organisasi.

2.7.8 Auditing Keuangan

Audit internal berbeda dari audit yang dilakukan oleh auditor eksternal dalam beberapa hal.
Auditor internal umumnya tidak mengaudit laporan keuangan periodik, namun cenderung
berfokus pada masalah keuangan spesifik yang diarahkan oleh manajemen. Laporan audit
internal normalnya disusun secara unik untuk memenuhi persyaratan penugasan tertentu,
berlawanan dengan laporan audit eksternal yang cukup terstandar.

2.7.9 Auditing Operasional

Auditor internal umumnya mencapai suatu pemahaman mendalam mengenai bagaimana


organisasi beroperasi, dan auditor internal mampu menyediakan berbagai tipe jasa untuk
meningkatkan entitas tempat kerja. Audit operasional melayani berbagai tujuan, yaitu untuk
mengidentifikasi penyebab masalah atau untuk meningkatkan efisiensi atau efektivitas operasi.
Auditor internal seringkali hanya menggunakan waktu relatif sedikit dalam melakukan audit
keuangan, istilah auditing internal sering (dengan tidak benar) digunakan secara bergantian
dengan auditing operasional.

2.7.10 Tawaran Produk Audit Internal


Gambar ini mengilustrasikan dua poin penting, pertama, manajemen risiko merupakan fokus
sentral audit internal di DuPont. Manajemen risiko penting karena suatu perusahaan yang sukses
harus dapat berhadapan tidak hanya masalah saat ini namun juga mengantisipasi dan menyiapkan
hambatan potensial lainnya. Kedua, siklus dalam gambar tidak statis, namun mengandung
beberapa proses yang berjalan dan saling bergantung. Suatu fungsi audit internal modern dalam
organisasi besar dan kompleks seperti Du-Pont.

2.7.11 Interaksi antara Auditor Internal dan Eksternal

Tujuan dan tipe pekerjaan yang dilakukan oleh auditor internal dan eksternal cukup berbeda,
namun ada cukup banyak tumpang tindih. Auditor eksternal melakukan pekerjaan mereka
dengan tujuan untuk mengungkapkan suatu opini mengenai apakah laporan keuangan entitas
bebas dari salah saji material. Karena auditor eksternal mengandalkan konsep materialitas,
mereka umumnya tidak terlalu memperhatikan auditing suatu area tertentu secara mendalam -
merawat mengumpulkan bukti hingga memperoleh keyakinan logis bahwa tidak ada salah saji
yang akan dianggap material dalam konteks laporan keuangan secara satu keutuhan kemudian
dilaporkan secara eksternal - di luar organisasi yang diaudit.

Auditor internal membantu manajemen dan dewan direksi dalam mengevaluasi dan
mengelola risiko, penilaian kepatuhan dengan undang-undang dan regulasi, penilaian efisiensi
operasional, dan pelaksanaan audit keuangan terinci atas area yang memerlukan perhatian
tertentu. Karena tujuannya berbeda dengan auditor eksternal, konsep materialitas terkait
umumnya juga cukup berbeda. Sebagai contoh, dalam mengaudit kecurangan pegawai, jumlah
yang terlibat sering cukup jauh dari material dalam konteks laporan keuangan sebagai satu
kesatuan. Namun demikian, auditor internal dapat mengurangi terjadinya kecurangan pegawai,
menyelamatkan uang dan meningkatkan pengendalian dalam prosesnya.

Sejumlah pekerjaan yang dilakukan oleh auditor internal secara langsung relevan bagi
pekerjaan auditor independen. Auditor eksternal terkadang dapat menggunakan pekerjaan
pengujian-pengendalian yang dilakukan oleh auditor internal. Sebelum bergantung pada hasil
kerja auditor internal, auditor eksternal harus mengevaluasi objektivitas dan kompetensi auditor
internal. Jika auditor eksternal memutuskan bahwa sejumlah pengandalan terjustifikasi,
penghematan biaya dalam bentuk pengurangan honor audit eksternal mungkin menjadi
signifikan.

2.8 Jasa Assurance

Jasa Assurance merupakan jasa profesional independen yang meningkatkan mutu atau kualitas
informasi bagi pengambil keputusan. Dari definisi tersebut, terdapat berapa konsep penting.
Pertama, berfokus pada pengambilan keputusan. Membuat keputusan yang baik memerlukan
informasi berkualitas,yang dapat berupa informasi keuangan ataupun non keuangan.

Kedua,terkait dengan meningkatkan kualitas informasi. Perikatan jasa Assurance dapat


meningkatkan kualitas keputusan dengan meningkatkan keyakinan mengenai keandalan dan
relevansi informasi. Konteks dapat ditingkatkan melalui format penyajian informasi.
Ketiga,berfokus pada indenpendensi. Sebagaimana halnya pembahasan terdahulu mengenai audit
laporan keuangan,indenpendensi adalah tanda pengenal bagi profesi.

Keempat adalah jasa profesional,yang mencerminkan penerapan pertimbangan


profesional. Praktisi yang menerapkan pertimbangan profesional pada informasi yang merupakan
subjek dari jasa Assurance. Singkatnya, jasa Assurance dapat memperoleh informasi,
meningkatkan kualitasnya, dan menambah manfaatnya bagi pembuat keputusan.
AICPA melalui Komite Eksekutif Jasa Assurance, menyebutkan dan mengembangkan enam
kategori umum dari jasa Assurance, yaitu :

 Penentuan resiko , bahwa profil resiko bisnis entitas sudah komprehensif serta evaluasi
atas keberadaan sistem yang memadai agar dapat mengelola resiko tersebut dengan
efektif.
 Pengukuran kinerja bisnis , bahwa sistem pengukuran kinerja entitas berisi ukuran-
ukuran yang relevan dan menilai sampai sejauh mana tujuan dan sasaran entitas telah
dicapai dan bagaimana kinerjanya dibandingkan dengan pesaing.

 Perdagangan elektronik , bahwa sistem dan alat-alat yang digunakan dalam e-commerce
memberikan integritas data yang memadai , keamanan , privasi , dan keandalan.

 Keandalan sistem informasi , bahwa sistem informasi internal memberi informasi yang
andal bagi keputusan operasi dan keuangan.

 Pengukuran kinerja perawatan kesehatan , bahwa mengenai efektifitas dari jasa


perawatan kesehatan yang diberikan oleh perusahaan asuransi kesehatan , rumah sakit ,
dokter ,dan pemberi jasa lain.

 PrimePlus , bahwa berbagai tujuan tertentu yang terkait dengan orang lanjut usia telah
dipenuhi oleh para penyedia jasa perawatan.

2.8.1 Perikatan Atestasi

Jasa atestasi terjadi ketika suatu praktisi terikat untuk menerbitkan atau memang menerbitkan
suatu laporan Examination, review, atau prosedur yang disepakati atas suatu materi, atau suatu
asersi mengenai suatu materi, yang merupakan tanggung jawab pihak lain.

Dalam definisi ini, praktisi merujuk pada akuntan publik bersertifikat dalam praktik
akuntan publik. Karena perikatan atestasi bukan merupakan audit, standar atestasi menggunakan
istilah praktisi alih-alih auditor. Materi (subject matter) suatu perikatan atestasi dapat memiliki
beragam bentuk, termasuk informasi kinerja historis ataupun prospektif, analisis (misalnya,
break-even analysis), sistem dan proses (misalnya, pengendalian internal), karakteristik fisik
(misalnya, luas meter persegi suatu fasilitas), peristiwa historis (misalnya, harga dari barang
pasar pada tanggal tertentu), dan perilaku (misalnya, kepatuhan terhadap undang-undang dan
peraturan). Istilah asersi di sini merujuk pada suatu deklarasi, atau kumpulan deklarasi terkait,
mengenai apakah materi didasarkan pada atau sesuai dengan kriteria yang dipilih.

2.8.2 Tipe perikatan Atestasi

Standar atestasi umumnya menyediakan tiga tipe perikatan, yaitu Examination, review, dan
prosedur yang disepakati.Statement on Standards for Attestation Engagements (SSAE) milik
AICPA menyediakan panduan tambahan pada tipe perikatan ini.PCAOB mengadopsi SSAE
bersama dengan standar profesional AICPA lainnya untuk sementara waktu pada April 2003.

 Examination
Dalam suatu Examination, praktisi mengungkapkan suatu opini bahwa (a) materi
didasarkan pada (atau sesuai dengan) kriteria dalam semua hal yang material; atau (b)
asersi disajikan(atau dinyatakan secara wajar), dalam semua hal yang material,
berdasarkan pada kriteria.Opini semacam itu bisa jadi untuk distribusi umum ataupun
terbatas.Jika distribusinya terbatas, opini harus menyatakan keterbatasan pada
penggunaan laporan.

 Review
Dalam suatu perikatan review, praktisi tidak mengungkapkan suatu opini afirmatif namun
alih-alih mengungkapkan Assurancenegatif.Yaitu, akuntan menyatakan bahwa tidak ada
informasi yang sampai pada perhatiannya yang mengindikasi bahwa (a) materi tidak
didasarkan pada (atau sesuai dengan) kriteria dalam semua hal yang material; atau (b)
asersi tidak disajikan (atau dinyatakan secara wajar, dalam semua hal yang material,
berdasarkan pada kriteria. Distribusi suatu laporan review juga dapat bersifat umum atau
terbatas. Suatu perikatan review seharusnya menyediakan bukti yang cukup untuk
membatasi risiko atestasi ke level yang lebih moderat.

 Prosedur yang Disepakati


Suatu perikatan prosedur yang disepakati merupakan satu kondisi ketika praktisi berada
dalam suatu perikatan dengan klien untuk menerbitkan suatu laporan temuan yang
berdasarkan pada prosedur spesifik yang dilakukan atas suatu materi. Level Assurance
yang disediakan oleh perikatan semacam itu bergantung pada sifat dan lingkup prosedur
yang disepakati dengan pihak yang tertentu. Oleh karena itu, risiko atestasi merupakan
fungsi level Assuranceyang dimaksudkan.Distribusi laporan yang didasarkan pada
perikatan semacam itu selalu terbatas bagi pengguna yang ditentukan.Laporan mengenai
prosedur yangdisepakati sekadar merangkum temuan dari aplikasi prosedur yang
disepakati; laporan tersebut tidak memasukkan suatu opini.

2.8.3 Standar Atestasi

Standar Umum

Ada lima standar umum untuk perikatan atestasi. Semua kecuali standar kedua dan ketiga
memiliki imbangannya dalam standar auditing berlaku umum.Standar kedua mensyaratkan
bahwa praktisi harus memiliki pengetahuan yang memadai atas materi.Persyaratan semacam ini
dapat dipenuhi oleh CPA melalui pendidikan dan pengalaman praktis.CPA juga dapat
menggunakan seorang spesialis untuk membantu memenuhi persyaratan pengetahuan ini.

Standar ketiga khususnya penting karena menuntut praktisi melakukan perikatan hanya jika ia
memiliki alasan untuk percaya bahwa materi terkait mampu dievaluasi dengan kriteria yang
cocok dan tersedia bagi pengguna. Kriteria adalah standar atau patokan yang digunakan untuk
mengukur dan menyajikan materi dan yang terhadapnya praktisi mengevaluasi materi.Kriteria
dapat ditetapkan atau dikembangkan oleh klien, pihak yang bertanggung jawab, asosiasi industri,
atau kelompok lain, termasuk mereka yang tidak mengikuti prosedur due process.

Standar Pekerjaan Lapangan

Perbedaan utama dalam standar pekerjaan lapangan antara standar atestasi dan standar auditing
berlaku umum adalah bahwa standar atestasi tidak mensyaratkan suatu pemahaman atas
lingkungan entitas, termasuk pengendalian internalnya. Mengingat sifat beragam dari jasa yang
dapat dilakulkan dibawah standar atestasi, persyaratan semacam itu akan sangat membatasi.
Pendekatan pada pekerjaan lapangan untuk suatu perikatan atestasi seharusnya melibatkan
perencanaan dan supervisi yang baik, dan bukti yang cukup harus dikumpulkan untuk
menyediakan suatu basis yang wajar bagi kesimpulan praktisi mengenai materi atau asersi

Standar Pelaporan

Seperti yang tertulis pada standar pelaporan diatas untuk perikatan atestasi berbeda dalam
sejumlah hal dari standar auditing berlaku umum.Pertama, menimbang luasnya keragaman jasa
yang mungkin dilakukan, standar atestasi tidak membuat rujukan pada aplikasi konsisten dari
PABU atau pengungkapan informatif.Namun, mereka mensyaratkan bahwa laporan harus
mengidentifikasi materi atau asersi dan tipe perikatan yang dilakukan.Standar pelaporan juga
mensyaratkan bahwa praktisi menyatakan reservasi signifikan mengenai perikatan atau
penyajianasersi. Standar keempat pelaporan mencatat empat situasi ketika penggunaan laporan
terbatas untuk pihak tertentu, sebagai contoh, ketika perikatan atestasi melibatkan aplikasi
prosedur yang disepakati.
Standar Atestasi Auditor
2.8.4 Kondisi untuk Melaksanakan Suatu Perikatan

Dalam rangka praktisi memeriksa asersi manajemen mengenai efektivitas pengendalian internal
dalam suatu perikatan atestasi, kondisi berikut harus dipenuhi.

 Manajemen entitas menerima tanggung jawab untuk efektivitas pengendalian internal


entitas
 Pihak yang bertanggung jawab mengevaluasi efektivitas pengendalian internal entitas
menggunakan kriteria yang cocok (dirujuk sebagai kriteria pengendalian).
 Bukti yang sesuai dan cukup ada atau dapat dikembangkan untuk mendukung evaluasi
pihak yang bertanggung jawab.

2.8.5 Perikatan Examination

Tujuan praktisi dalam suatu perikatan untuk memeriksa pengendalian internal entitas adalah
untuk mengungkapkan suatu opini mengenai efektivitas pengendalian internal entitas, dalam
seluruh hal yang material, berdasarkan kriteria pengendalian. Suatu perikatan Examination
dilakukan secara sangat serupa dengan audit pengendalian internal yang disyaratkan untuk
perusahaan public.

Sementara memeriksa pengendalian internal entitas, praktisi mungkin menemui defisiensi


pengendalian.Standar atestasi adalah serupa dengan standar auditing dalam mendefinisi
defisiensi signifikan dan kelemahan material. Kehadiran suatu kelemahan material akan
menghalangi praktisi dari menyimpulkan bahwa entitas memiliki pengendalian internal yang
efektif. Jika praktisi mengidentifikasi defisiensi signifikan, mereka harus berkomunikasi dengan
manajemen dan dengan mereka yang bertanggung jawab atas tata kelola.

Akhirnya, praktisi seharusnya memperoleh representasi tertulis dari manajemen.Jika


manajemen menolak untuk menyediakan representasi tertulis, berarti ada keterbatasan lingkup.

2.8.6 Melaporkan Mengenai Asersi Manajemen tentang Pengendalian Internal


Laporan praktisi seharusnya meliputi:

 Judul yang memasukkan kata independen dalam mendeskripsi praktisi.


 Suatu identifikasi materi (pengendalian internal atas pelaporan keuangan) dan pihak yang
bertanggung jawab.
 Suatu pernyataan bahwa pihak penanggung jawab bertanggung jawab atas pemeliharaan
pengendalian internal yang efektif atas pelaporan keuangan.
 Suatu pernyataan bahwa tanggung jawab praktisi adalah untuk mengungkapkan suatu
opini mengenai keefektifan pengendalian internal entitas berdasarkan Examination-nya.
 Suatu pernyataan bahwa Examination dilakukan sesuai dengan standar atestasi yang
ditetapkan oleh AICPA.
 Suatu pernyataan bahwa praktisi percaya Examinationtersebut menyediakan dasar yang
logis/wajar untuk opininya.
 Suatu paragraf yang menyatakan bahwa, karena keterbatasan bawaan pengendalian
internal apa pun, salah saji karena kekeliruan atau kecurangan mungkin terjadi dan tidak
terdeteksi.
 Opini praktisi mengenai apakah entitas telah memelihara, dalam semua hal yang material,
pengendalian internal yang efektif atas pelaporan keuangan sebagaimana pada tanggal
yang disebutkan, berdasar pada kriteria pengendalian.
 Suatu pernyataan membatasi penggunaan laporan pada pihak yang ditentukan (jika
distribusi laporan adalah terbatas).

2.9 Peramalan dan Proyeksi Keuangan

Auditor sering diminta untuk menyediakan Assurance terkait laporan keuangan prospektif.
Standar atestasi menyediakan panduan untuk praktisi dalam menyediakan jasa semacam itu.
Keterlibatan praktisi mungkin meliputi (1) menyusun atau membantu klien dalam menyusun
laporan keuangan prospektif, atau (2) melaporkan mengenai laporan keuangan prospektif.Dalam
kedua situasi ini, praktisi dapat memasuki suatu perikatan untuk memeriksa, mengaplikasi
prosedur yang disepakati, atau mengompilasi laporan keuangan prospektif.

2.9.1 Tipe Laporan Keuangan Prospektif

Laporan keuangan prospektif berisi informasi keuangan yang terdiri atas, baik ramalan keuangan
maupun proyeksi keuangan.Ramalan keuangan adalah laporan keuangan prospektif yang
menyajikan posisi keuangan, hasil operasi, dan arus kas ekspektasian dari suatu entitas.Mereka
didasarkan pada asumsi yang merefleksi kondisi ketika pihak penanggung jawab berekspektasi
ada dan arah tindakan yang diperkirakan akan diambil. Proyeksi keuangan adalah laporan
keuangan prospektif yang menyajikan, dengan satu atau lebih asumsi hipotetis, posisi keuangan,
hasil operasi, dan arus kas ekspektasian dari suatu entitas.

Laporan keuangan prospektif adalah untuk salah satu penggunaan umum atau
terbatas.Penggunaan umum dari laporan keuangan prospektif mengacu pada penggunaan
laporantersebut oleh orang yang pihak penanggung jawab tidak bernegosiasi langsung
dengannya.

Contohnya antara lain suatu pernyataan penawaran yang memuat laporan keuangan
prospektif untuk sekuritas utang atau ekuitas suatu entitas. Karena pengguna yang dituju bisa jadi
tidak mungkin menanyai pihak penanggung jawab untuk mengklarifikasi asumsi hipotetis yang
dibuat, satu-satunya basis yang sesuai dari penyajian laporan keuangan prospektif untuk
penggunaan-umum adalah hasil ekspektasian.Dengan demikian, hanya ramalan keuangan yang
dapat dibuat tersedia bagi penggunaan umum; proyeksi keuangan tidak untuk dibuat tersedia
bagi penggunaan umum jika melibatkan suatu laporan akuntan.

Penggunaan terbatas laporan keuangan prospektif mengacu pada penggunaan laporan


oleh pihak penanggung jawab saja atau oleh pihak penanggung jawab dan pihak ketiga yang
dengannya pihak penanggung jawab bernegosiasi langsung.Contoh penggunaan terbatas
termasuk negosiasi untuk pinjaman bank, pengajuan pada badan regulator, atau penggunaan
semata-mata dalam entitas.Dalam kasus semacam itu, pihak ketiga dapat bertanya kepada pihak
penanggung jawab mengenai informasi keuangan prospektif dan dapat bertanya, memahami,
atau bahkan bernegosiasi mengenai kondisi yang diasumsikan yang digunakan sebagai dasar
laporan. Oleh karenanya, tipe laporan keuangan prospektif apa pun dapat diterbitkan untuk
penggunaan terbatas.

2.9.2 Examination Laporan Keuangan Prospektif

Suatu Examination laporan keuangan prospektif meliputi empat langkah, yaitu (1) mengevaluasi
penyiapan laporan keuangan prospektif, (2) mengevaluasi pendukung yang mendasari asumsi,
(3) mengevaluasi penyajian laporan keuangan prospektif untuk kesesuaian denganpanduan
penyajian AICPA, dan (4) menerbitkan suatu laporan Examination. Akuntan
seharusnyaindependen, memiliki pelatihan dan kecakapan teknis untuk memeriksa laporan
keuangan prospektif, dan memperoleh bukti memadai untuk menerbitkan suatu laporan
Examination.

2.9.3 Prosedur yang Disepakati untuk Laporan Keuangan Prospektif

Ruang lingkup perikatan prosedur yang disepakati secara signifikan lebih terbatas daripada
Examination.Seorang akuntan mungkin melakukan perikatan atestasi prosedur yang disepakati
untuk laporan keuangan prospektif apabila standar atestasi dipatuhi dengan dan tiap hal berikut
ini berlaku.

 Praktisi bersifat independen.


 Praktisi dan pengguna tertentu sepakat atas prosedur yang dilakukan atau akandilakukan
oleh praktisi.
 Pengguna yang ditentukan bertanggung jawab atas kecukupan prosedur yang disepakati
untuk tujuan mereka.
 Laporan keuangan prospektif meliputi suatu ikhtisar asumsi yang signifikan.
 Laporan keuangan prospektif ketika prosedur tersebut akan diaplikasi merupakan subjek
evaluasi yang secara logis konsisten terhadap kriteria yang cocok dan tersedia bagi pihak
yang dispesifikasi.
 Kriteria yang akan digunakan untuk menentukan temuan telah disepakati antara praktisi
dan pengguna yang ditentukan.
 Prosedur yang akan diaplikasi pada laporan keuangan prospektif diekspektasi untuk
menghasilkan temuan yang secara logis konsisten menggunakan kriteria tersebut.
 Bukti yang relevan diekspektasikan ada untuk menyediakan dasar yang logis bagi laporan
praktisi.
 Praktisi dan pengguna yang ditentukan sepakat dalam batasan materialitas untuk tujuan
pelaporan, ketika berlaku.
 Penggunaan laporan terbatas pada pihak yang telah sepakat dengan praktisi mengenai
prosedur yang akan dilakukan.

Akuntan harus memenuhi persyaratan bahwa pengguna yang ditentukan bertanggung


jawab penuh atas kecukupan prosedur yang akan dilakukan dengan membandingkan prosedur
yang akan diaplikasi pada persyaratan tertulis dari pengguna yang ditentukan, membahas
prosedur yang akan diaplikasikan dengan perwakilan yang sesuai dari pengguna yang ditentukan,
atau melakukan review kontrak yang relevan dengan atau korespondensi dari pengguna yang
ditentukan.

2.9.4 Kompilasi Laporan Keuangan Prospektif

Seorang praktisi dapat melakukan suatu kompilasi informasi keuangan prospektif untuk klien.
Suatu kompilasi laporan keuangan prospektif meliputi

 Penyusunan, hingga tingkat yang diperlukan, laporan keuangan prospektifberdasarkan


asumsi pihak yang bertanggung jawab.
 Melakukan prosedur kompilasi yang disyaratkan, termasuk membaca laporan keuangan
prospektif dengan ikhtisar mereka atas asumsi signifikan dan kebijakan akuntansi dan
mempertimbangkan apakah mereka tampaknya (1) disajikan sesuai dengan standar
atestasi dan (2) tidak secara jelas-jelas tidak sesuai.
 Menerbitkan suatu laporan kompilasi.

2.10 Jasa Akuntansi dan Review

Banyak bisnis nonpublik memilih tindak mengontrak untuk suatu audit laporan keuangan
mereka. Ini umumnya terjadi karena entitas tersebut kecil, pemiliknya terlibat dalam operasi
hari-ke-hari, dan tidak ada perjanjian pinjaman atau regulasi yang mensyaratkan audit. Namun,
entitas yang sama ini sering mempekerjakan CPA untuk membantu dengan penyiapan laporan
keuangan, retur pajak, atau dokumen keuangan lain mereka.

Hingga 1977 ada relatif sedikit panduan mengenai bagaimana melakukan atau
melaporkan mengenai perikatan meliputi laporan keuangan yang tidak diaudit.Sebagaimana
dibahas dalam Bab 20, kasus 1136 Tenants melibatkan liabilitas auditor atas laporan keuangan
yang tidak diaudit.Satu hasil dari kasus ini adalah pembentukan Accounting and Review Services
Committee oleh AICPA.Komite ini ditunjuk oleh AICPA untuk menerbitkan Statements on
Standards for Accounting and Review Services (SSARS) dalam hubungannya dengan laporan
keuangan yang tidak diaudit.
SSARS menyediakan panduan untuk dua tipe jasa, yaitu kompilasi laporan keuangan dan
review laporan keuangan.Suatu kompilasi berbeda secara signifikan dari suatu review.Suatu
review, di lain pihak, menyediakan akuntan dengan dasar yang logis untuk mengungkapkan
Assuranceterbatas bahwa tidak ada modifikasi material yang seharusnya dibuat pada laporan
keuangan.Ini dapat dibandingkan pada suatu audit, pada saat auditor menyediakan suatu opini
eksplisit mengenai apakah laporan keuangan menyajikan posisi keuangan dan hasil operasi
entitas secara wajar.

BAB III

SIMPULAN

Laporan audit adalah hasil akhir dari proses audit yang dilakukan oleh auditor. Laporan audit
terdiri atas 8 elemen, yaitu judul laporan, pihak penerima(klien), paragraf pendahuluan, paragraf
lingkup, paragraf opini, paragraf penjelasan yang mengacu pada audit pengendalian internal atas
laporan keuangan, nama auditor, tanggal laporan auditor. Dalam laporan audit, bagian yang
paling penting adalah paragraf opini yang menggambarkan kewajaran dari laporan keuangan
yang telah diperiksa oleh auditor

Dalam proses audit, kemungkinan auditor akan dihadapkan dengan berbagai isu yang
mempengaruhi kemampuan menerbitkan opini dan independensi auditor, bila auditor mengalami
hal demikian, maka auditor diperkenankan untuk tidak memberika opini atau tidak menerima
perikatan audit sama sekali. Hal ini perlu dilakukan karena opini dibuat dengan menimbang
materialitas salah saji yang terkandung dalam laporan keuangan klien, sehingga independensi
auditor harus dijaga demi hasil opini yang paling kredibel.

Jasa assurance dan non-assurance adalah jasa yang diberikan auditor diluar audit laporan
keuangan. Jasa assurance dan non assurance biasanya tidak menghasilkan opini yang
menggambarkan kewajaran laporan keuangan. Namun, jasa assurance dan non-assurance dapat
menghasilkan laporan keuangan untuk perusahaan (dari jasa kompilasi laporan keuangan),
perbaikan proses akuntansi (dari jasa review akuntansi) bahkan laporan pengendalian internal
(dari audit kepatuhan). Jasa assurance dan non-assurance dapat membantu klien untuk
menghasilkan informasi akuntansi yang lebih baik beserta pengendalian internal yang lebih
terjamin.

DAFTAR PUSTAKA

Messer, William. 2014. Jasa Audit dan Assurance. Jakarta : Salemba Empat.