Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN

1. Topik / masalah : Mobilisasi dan Pencegahan Stroke Berulang


2. Tempat : Pos Rw 19 Srengseng Sawah
3. Hari / Tanggal : Rabu, 5 Februari 2020
4. Waktu : 09.00-10.30 WIB
5. Sasaran : Masyarakat RW 19

A. Latar Belakang

Stroke merupakan penyakit yang terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah otak
atau pecahnya pembuluh darah di otak. Sehingga akibat penyumbatan maupun pecahnya
pembuluh darah tersebut, bagian otak tertentu berkurang bahkan terhenti suplai oksigennya
sehingga menjadi rusak bahkan mati. Akibatnya timbullah berbagai macam gejala sesuai dengan
daerah otak yang terlibat, seperti wajah lumpuh sebelah, bicara pelo (cedal), lumpuh anggota
gerak, bahkan sampai koma dan dapat mengancam jiwa (Mediskus, 2013).

Jumlah penderita stroke di Indonesia kini kian meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini di
Indonesia penyakit stroke merupakan penyebab kematian ketiga setelah penyakit jantung koroner
dan kanker. Depkes RI (2007) melaporkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian yang
utama di rumah sakit disamping itu stroke juga merupakan penyebab utama kecacatan nomor
satu didunia ( Pinzon & Asanti, 2010).

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi terjadinya serangan
berulang atau kekambuhan pada penderita stroke adalah dengan menjalankan perilaku hidup
sehat sejak dini. Pengendalian faktor-faktor resiko secara optimal harus dijalankan, melakukan
kontrol secara rutin, mengkonsumsi makanan yang sehat serta konsumsi obat, tidak merokok,
dan harus mengenali tanda-tanda dini stroke ( Wardhana, 2011).

Untuk mengurangi dan mencegah terjadinya stroke berulang maka pengetahuan keluarga
dan masyarakat perlu ditingkatkan, agar berbagai faktor resiko yang dapat menimbulkan
kejadian stroke berulang dapat dicegah atau dihindari, salah satunya melalui penyuluhan
kesehatan. Sekitar 90 % pasien stroke mengalami kelemahan pada anggota gerak. Pemulihan
pasien stroke dapat dilakukan dengan mobilisasi sedini mungkin dalam rangka mencegah
kekakuan sendi dan mengembalikan kemampuan klien secara fisik. Maka dari itu, kami akan
memberikan penyuluhan tentang “Mobilisasi dan Pencegahan Stroke Berulang “ di Kel.
Srengseng Sawah RW 19”
B. Tujuan

I. Tujuan Instruksional Umum

Setelah dilakukan penyuluhan tentang pencegahan stroke berulang diharapkan


masyarakat dapat memahami dan mengaplikasikan materi penyuluhan dalam kehidupan
sehari-hari tentang konseo mobilisasi pasien stroke dan pencegahannya.

II. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan ini diharapkan peserta didik mampu:


1. Menyebutkan Pengertian Stroke
2. Menyebutkan Penyebab Penyakit Stroke
3. Menyebutkan tanda dan gejala stroke
4. Menyebutkan jenis-jenis Stroke
5. Menyebutkan Cara Pencegahan Stroke Berulang
6. Menyebutkan komplikasi stroke
7. Menjelaskan mobilisasi pada pasien stroke

C. Pokok Bahasan

Mobilisasi dan Pencegahan Stroke Berulang

D. Materi Penyuluhan
1. Pengertian Stroke
2. Penyebab Stroke
3. Mobilisasi pasien stroke
4. Cara Pencegahan Stroke Berulang
5. Komplikasi Stroke

E. Metode

1. Ceramah
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Rol play

F. Media dan Alat


1. Power Point
2. Leaflet
3. LCD
4. Pengeras suara
G. Materi : Terlampir

H. Pengorganisasian

Penanggung jawab : Jelly.M.Boritnaban S.Kep, Helmiyati S.Kep

Moderator : Nur Rohmah Putri S.Kep

Penyaji : Atika Dhian Lestanti S.Kep

Fasilitator : Maryati

Observer : Cindy Novalin Kalahatu S.Kep

Tugas dan tanggung jawab organisasi :

1. Moderator

Membuka acara, bertanggung jawab dalam kelancaran diskusi pada penyuluhan pencegahan
stroke berulang, mengarahkan diskusi pada hal-hal yang terkait pada tujuan diskusi, serta
memicu peserta untuk berperan aktif.

2. Penyaji

Bertanggung jawab dalam memberikan penyuluhan dengan menggunakan bahasa yang mudah
dipahami peserta penyuluhan

3. Fasilitator

Memotivasi peserta untuk aktif berperan serta dalam diskusi, baik dalam mengajukan usulan,
pertanyaan, ataupun memberi jawaban.

4. Observer

Mengamati jalannya kegiatan pertemuan, membuat catatan kecil tentang hal-hal yang penting
dari kegiatan tersebut dan mengevaluasi hasil pelaksanaan penyuluhan.

I. Kegiatan Penyuluhan

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Masyarakat


1. 5 Menit Pembukaan :
a. Mengucapkan salam Menjawab salam
b. Memperkenalkan diri Mendengarkan
c. Menjelaskan Topik dan Tujuan penyuluhan Mendengarkan
d. Membuat kontrak waktu dan meminta kerja Menjawab
sama dengan masyarakat
2. 50 Menit Pelaksanaan :
a. Pre tes
b. Penyampaian materi Mendengarkan dan
c. Role Play memperhatikan
d. Post tes
3. 30 Menit Diskusi dan tanya jawab Bertanya
4. 5 Menit Penutup :
a. Menutup pertemuan dengan Menyimpulkan
kembali materi yang telah disampaikan
b. Memberikan motivasi kepada keluarga agar
selalu optimis dalam merawat anggota
keluarganya yang menderita stroke
c. Memberi salam penutup

J. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Laporan telah dikoordinasi sesuai rencana
b. Mahasiswa berada pada posisi yang sudah direncanakan
c. Tempat dan media serta alat sesuai rencana
d. Mahasiswa dan sasaran menghadiri penyuluhan
2. Evaluasi Proses
a. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan
b. Peran dan tugas mahasiswa sesuai dengan perencanaan
c. Waktu yang direncanakan sesuai pelaksanaan
d. Sasaran penyuluhan dan mahasiswa mengikuti kegiatan penyuluhan sampai
selesai
e. Sasaran penyuluhan dan mahasiswa berperan aktif selama kegiatan berjalan
3. Evaluasi Hasil
Peserta mampu :
a. Menyebutkan pengertian stroke
b. Menyebutkan penyebab penyakit stroke yang dapat dikontrol dan yang tidak
dapat dikontrol
c. Menjelaskan tentang mobilisasi pasien stroke
d. Menyebutkan cara pencegahan stroke berulang
MATERI

PENYULUHAN KESEHATAN STROKE

A. Pengertian Stroke
Menurut kriteria WHO stroke secara klinis didefinisikan sebagai gangguan
fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinis baik fokal
maupun global yang berlangsung lebih dari 24 jam atau dapat menimbulkan kematian
yang disebabkan oleh karena gangguan peredaran darah otak. Stroke adalah kehilangan
fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah dan oksigen ke otak.
Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan,
atau pecahnya pembuluh darah di otak (Smeltzer, 2001).

B. Faktor Penyebab Stroke


1. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol
 Usia
Setiap manusia akan bertambah umurnya, dengan demikian kemungkinan
terjadinya stroke lebih besar. Pada umumnya resiko terjadinya stroke
mulai usia 35 tahun dan meningkat setiap tahunnya.
 Jenis kelamin
Pria memiliki kecenderungan lebih besar terkena serangan stroke
dibanding perempuan.
 Ras/suku bangsa
 Genetik/keturunan
Seseorang yang mempunyai riwayat stroke dalam keluarganya, menjadi
seseorang yang beresiko tinggi terkena serangan stroke.
2. Faktor resiko yang dapat dikontrol atau dikendalikan diantaranya :
 Hipertensi
 Diabetes mellitus
 Penyakit jantung
 Riwayat stroke sebelumnya
 Merokok
 Kolesterol tinggi
 Obesitas
 Minuman Alkohol
C. Tanda dan Gejala Stroke
Gejala stroke cenderung terjadi secara tiba-tiba dan hanya selalu menyerang satu sisi
bagian tubuh. Hal ini semakin memburuk dalam jangka waktu 24-72 jam. Gejala-gejala
umum stroke diantaranya yaitu:
1. Sakit kepala tiba-tiba
2. Kehilangan keseimbangan, bermasalah dengan berjalan
3. Kelelahan
4. Kehilangan kesadaran atau koma
5. Vertigo dan pusing
6. Penglihatan yang buram dan menghitam
7. Kelemahan atau mati rasa pada satu sisi bagian tubuh di wajah, tangan, kaki
8. Adanya masalah dengan berbicara dan pendengaran.

D. Jenis-Jenis Stroke
Terdapat 3 (tiga) jenis stroke diantaranya yaitu:
1. Stroke Iskemik
Stroke iskemik adalah kondisi yang terjadi saat pembuluh darah yang menyuplai
darah ke area otak terhambat bekuan darah. Bekuan darah tersebut sering disebabkan
oleh aterosklerosis, yaitu penumpukan timbunan lemak di lapisan dalam pembuluh darah.

2. Stroke Hemorragik
Stroke hemorragik atau hemoragik adalah jenis stroke yang terjadi saat pembuluh
darah di otak mengalami kebocoran atau pecah. Akibat pembuluh darah pecah sehingga
menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di
otak dan merusaknya. Pendarahan dapat terjadi di seluruh bagian otak seperti caudate
putamen; talamus; hipokampus; frontal, parietal, dan occipital cortex; hipotalamus; area
suprakiasmatik; cerebellum; pons; dan midbrain. Hampir 70% kasus stroke hemoragik
menyerang penderita hipertensi.
Stroke hemorragik terbagi menjadi subtipe intracerebral hemorrhage (ICH),
subarachnoid hemorrhage (SAH), cerebral venous thrombosis, dan spinal cord stroke.
Lebih lanjut, ICH terbagi menjadi parenchymal hemorrhage, hemorrhagic infarction, dan
punctate hemorrhage.

3. Stroke Ringan
Stroke ringan atau transient ischemic attack (TIA) adalah kondisi dimana sistem
saraf kekuarangan darah yang berlangsung singkat, biasanya kurang dari 24 jam atau
bahkan hanya dalam beberapa menit. Kondisi ini terjadi saat bagian otak tidak mendapat
pasokan darah yang cukup.

E. Cara Pencegahan Penyakit Stroke Berulang


Stroke merupakan penyakit pemicu kematian yang serius, namun sebenarnya
dapat dicegah. Perubahan gaya hidup perlu ditingkatkan guna mengurangi risiko stroke.
Berikut beberapa perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan :
a. Konsumsi makanan sehat
Konsumsi makanan dengan tinggi serat. Makanan tinggi serat akan membantu dalam
pencegahan penyakit stroke ini dan juga turut andil mengendalikan lemak dalam
darah. Kurangi kolesterol "jahat" sehingga dapat meningkatkan kesehatan jantung dan
mengurangi risiko stroke.
b. Kurangi konsumsi garam
Mengurangi konsumsi garam dapat menurunkan tekanan darah sehingga mengurangi
risiko stroke.
c. Hindari Kebiasaan buruk seperti : merokok dan minum alcohol
Perokok memiliki risiko stroke dua kali lipat. Merokok dapat merusak pembuluh
darah dan meningkatkan tekanan darah, serta mempercepat penyumbatan di
pembuluh darah. Kebiasaan merokok dapat menyebabkan atherosclerosis (pengerasan
dinding pembuluh darah) dan membuat darah menjadi mudah untuk menggumpal dan
darah menggumpal akan meningkatkan resiko penyakit stroke ini.
d. Hidup aktif dan olahraga yang teratur
Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki risiko yang lebih besar
memiliki kadar kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes, dan stroke. Olahraga dapat
mengurangi berat badan sehingga mengurangi risiko penyakit-penyakit tersebut.
Melakukan aktivitas fisik secara teratur dengan berolahraga termasuk dalam salah
satu tips dan cara dalam membantu menurunkan tensi darah dan menciptakan
keseimbangan lemak yang sehat dalam darah.
e. Perbanyak konsumsi serat dan banyak minum air putih
Para peneliti menemukan risiko stroke bisa berkurang sampai 7 persen untuk setiap 7
gram penambahan serat yang dikonsumsi setiap hari. Dengan kata lain mereka yang
paling rajin mengonsumsi serat risikonya paling rendah terkena stroke.

F. Komplikasi Stroke
Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang muncul akibat stroke:
1. Komplikasi yang Berhubungan dengan Sistem Saraf
Stroke ditandai dengan kematian jaringan otak, sehingga sering kali muncul
komplikasi yang berkaitan dengan sistem saraf. Misalnya saja edema otak, yaitu
pembengkakan otak yang dapat muncul setelah stroke.
Selain itu, komplikasi stroke juga bisa terjadi dalam bentuk kejang epileptik, yaitu
adanya aktivitas listrik abnormal pada otak yang menyebabkan terjadinya kejang
(lebih umum ditemukan pada stroke dengan area besar). Tak hanya itu, setelah
terkena stroke, seseorang dapat kembali terkena serangan stroke berulang.
2. Terjadinya Infeksi
Pasca terkena serangan stroke, seseorang rawan mengalami infeksi, terutama pada
saluran pernapasan dan saluran kemih. Contohnya saja pneumonia yang dapat muncul
karena keterbatasan gerak penderita stroke, atau permasalahan menelan yang
menyebabkan makanan masuk ke saluran pernapasan (pneumonia aspirasi).
Selain itu, dapat juga ditemukan infeksi saluran kemih (ISK), terutama pada
pemakaian kateter kencing akibat tidak dapat mengontrol fungsi berkemih dengan
baik pasca stroke.
3. Adanya Masalah pada Anggota Gerak
Jika terjadi kelemahan atau kelumpuhan lengan pasca stroke, dapat timbul nyeri
pada bahu. Hal ini disebabkan lengan tersebut menggantung, sehingga terjadi tarikan
pada bahu.
Selanjutnya, dapat muncul juga kontraktur, yaitu pemendekan otot pada anggota
gerak karena kurangnya kemampuan bergerak atau kurangnya latihan dan olahraga
pada anggota gerak yang mengalami kelemahan atau kelumpuhan.
4. Komplikasi Akibat Imobilisasi
Setelah terkena serangan stroke, bisa jadi penderita tidak dapat bergerak atau
mengalami keterbatasan gerak (imobilisasi) dan harus tinggal di tempat tidur dalam
jangka waktu lama. Hal ini meningkatkan risiko munculnya deep vein thrombosis
(DVT), yaitu pembentukan darah pada pembuluh vena dalam.
Selain itu, dapat muncul ulkus dekubitus (pressure ulcer), yaitu ulkus yang
muncul akibat tekanan dalam jangka panjang pada bagian tubuh tertentu karena
berbaring sepanjang hari.
5. Kurangnya Nutrisi
Pasca serangan stroke dapat timbul kesulitan menelan pada penderita stroke.
Apalagi, terkadang konsumsi makanan dan minuman melalui mulut tidak aman bagi
penderita stroke, hingga diperlukan pemasangan selang makan. Hal inilah yang
kemudian dapat menyebabkan munculnya potensi penderita mengalami kekurangan
asupan nutrisi
6. Dampak Psiko-sosial
Penderita stroke dapat mengalami disabilitas dalam sekejap, sehingga mereka
yang dahulu aktif kemudian harus bergantung pada orang lain. Sering kali, hal ini
menimbulkan depresi bagi penderita.
Apalagi, bisa jadi penderita stroke adalah tulang punggung keluarga. Namun
setelah terkena stroke malah memerlukan perawatan dari anggota keluarga lainnya.
Kondisi ini yang kemudian dapat memicu terjadinya stres atau depresi.

Demikian beberapa komplikasi yang dapat muncul setelah seseorang terkena stroke.
Penyakit ini amat merugikan karena dapat mengurangi kualitas hidup Anda. Oleh sebab itu,
hindari stroke dengan menerapkan pola hidup sehat, makan bergizi seimbang, serta rutin
berolahraga.

Bila Anda mulai merasakan tanda-tanda kelumpuhan seperti pada penyakit stroke, segera
periksakan diri agar tidak semakin parah yang bisa berujung pada terjadinya komplikasi stroke.
G. Mobilisasi Pada Pasien Stroke
Mobilisasi adalah jalan untuk melatih hampir semua otot tubuh untuk meningkatkan
fleksibilitas sendi atau mencegah terjadinya kekakuan pada sendi.
1. Pelaksanaan mobilisasi dini posisi tidur

Berbaring telentang

 Posisi kepala, leher, dan punggung harus lurus.


 Letakkan bantal dibawah lengan yang lemah/lumpuh secara berhatihati, sehingga
bahu terangkat keatas dengan lengan agak ditinggikan dan memutar kearah luar,
siku dan pergelangan tangan agak ditinggikan.
 Letakkan pula bantal di bawah paha yang lemah/lumpuh, dengan posisi agak
memutar ke arah dalam, dan lutut agak ditekuk.

Miring kesisi yang sehat

 Bahu yang lumpuh harus menghadap kedepan


 Lengan yang lumpuh memeluk bantal dengan siku diluruskan
 Kaki yang lumpuh diletakkan didepan
 Dibawah paha dan tungkai diganjal bantal
 Lutut ditekuk

Miring kesisi yang lumpuh/lemah

 Lengan yang lumpuh menghadap kedepan, pastikan bahu pasien tidak memutar
secara berlebihan
 Tungkai agak ditekuk, tungkai yang sehat menyilang di atas tungkai yang
lumpuh/lemah dengan diganjal bantal.

2. Latihan Gerak Sendi (Range of Motion)


Latihan gerak sendi ini bertujuan untuk mengurangi kekakuan pada sendi dan
kelemahan pada otot yang dapat dilakukan aktif maupun pasif tergantung dengan
keadaan pasien.

Gerakan-Gerakan dalam latihan gerak sendi ini adalah sebagai berikut:

a. Fleksi dan Ekstensi Pergelangan Tangan


Cara :
 Atur posisi lengan pasien dengan menjauhi sisi tubuh dan siku menekuk
dengan lengan.
 Pegang tangan pasien dengan satu tangan dan tangan yang lain memegang
pergelangan tangan pasien.
 Tekuk tangan pasien ke depan sejauh mungkin.
b. Fleksi dan Ekstensi Siku
Cara :
 Atur posisi lengan pasien dengan menjauhi sisi tubuh dengan telapak
mengarah ke tubuhnya.
 Letakkan tangan di atas siku pasien dan pegang tangannya mendekat bahu.
 Lakukan dan kembalikan ke posisi sebelumnya.
c. Pronasi dan Supinasi Lengan Bawah
Cara :
 Atur posisi lengan bawah menjauhi tubuh pasien dengan siku menekuk.
 Letakkan satu tangan perawat pada pergelangan pasien dan pegang tangan
pasien dengan tangan lainnya.
 Putar lengan bawah pasien sehingga telapaknya menjauhinya.
 Kembalikan ke posisi semula.
 Putar lengan bawah pasien sehingga telapak tangannya menghadap ke
arahnya.
 Kembalikan ke posisi semula.
d. Pronasi Fleksi Bahu
Cara :
 Atur posisi tangan pasien disisi tubuhnya.
 Letakkan satu tangan perawat di atas siku pasien dan pegang tangan
pasien dengan tangan lainnya.
 Angkat lengan pasien pada posisi semula.
e. Abduksi dan Adduksi Bahu
Cara :
 Atur posisi lengan pasien di samping badannya.
 Letakkan satu tangan perawat di atas siku pasien dan pegang tangan
pasien dengan tangan lainnya.
 Gerakkan lengan pasien menjauh dari tubuhnya kearah perawat (Abduksi).
 Gerakkan lengan pasien mendekati tubuhnya (Adduksi)
 Kembalikan ke posisi semula.
f. Rotasi Bahu
Cara :
 Atur posisi lengan pasien menjauhi tubuh dengan siku menekuk.
 Letakkan satu tangan perawat di lengan atas pasien dekat siku dan pegang
tangan pasien dengan tangan yang lain.
 Gerakkan lengan bawah ke bawah sampai menyentuh tempat tidur, telapak
tangan menghadap ke bawah.
 Kembalikan posisi lengan ke posisi semula.
 Gerakkan lengan bawah ke belakang sampai menyentuh tempat tidur,
telapak tangan menghadap ke atas.
 Kembalikan lengan ke posisi semula.
g. Fleksi dan Ekstensi Jari-jari
Cara :
 Pegang jari-jari kaki pasien dengan satu tangan, sementara tang lain
memegang kaki.
 Bengkokkan (tekuk) jari-jari kaki ke bawah
 Luruskan jari-jari kemudian dorong ke belakang.
 Kembalikan ke posisi semula.
h. Infersi dan efersi kaki
Cara :
 Pegang separuh bagian atas kaki pasien dengan satu jari dan pegang
pergelangan kaki dengan tangan satunya.
 Putar kaki ke dalam sehingga telapak kaki menghadap ke kaki lainnya.
 Kembalikan ke posisi semula
 Putar kaki keluar sehingga bagian telapak kaki menjauhi kaki yang lain.
 Kembalikan ke posisi semula.
i. Fleksi dan ekstensi pergelangan Kaki
Cara :
 Letakkan satu tangan perawat pada telapak kaki pasien dan satu tangan
yang lain di atas pergelangan kaki. Jaga kaki lurus dan rilek.
 Tekuk pergelangan kaki, arahkan jari-jari kaki ke arah dada pasien.
 Kembalikan ke posisi semula.
 Tekuk pergelangan kaki menjauhi dada pasien.
j. Fleksi dan Ekstensi lutut.
Cara :
 Letakkan satu tangan di bawah lutut pasien dan pegang tumit pasien
dengan tangan yang lain.
 Angkat kaki, tekuk pada lutut dan pangkal paha.
 Lanjutkan menekuk lutut ke arah dada sejauh mungkin.
 Kebawahkan kaki dan luruskan lutut dengan mengangkat kaki keatas.
 Kembal i ke posisi semula.
k. Rotasi pangkal paha
Cara :
 Letakkan satu tangan perawat pada pergelangan kaki dan satu tangan yang
lain di atas lutut.
 Putar kaki menjauhi perawat.
 Putar kaki ke arah perawat.
 Kembalikan ke posisi semula.
l. Abduksi dan Adduksi pangkal paha.
Cara :
 Letakkan satu tangan perawat di bawah lutut pasien dan satu tangan pada
tumit.
 Jaga posisi kaki pasien lurus, angkat kaki kurang lebih 8 cm dari tempat
tidur, gerakkan kaki menjauhi badan pasien.
 Gerakkan kaki mendekati badan pasien.
 Kembalikan ke posisi semula.
DAFTAR PUSTAKA

http://mediskus.com/penyakit/stroke-pengertian-jenis-gejala-stroke. diakses tanggal 20


September 2013

Purwanti dan Arina. 2008. Rehabilitasi Klien Pasca Stroke. Kartasura:FIK UMS

Smeltzer, Suzanne.(2001). Keperawatan Medikal Bedah.. Jakarta : EGC

STIKES Hang Tuah Surabaya. ROM (Range Of Motion). Diakses dari

www.http://stikes-hang-tuah-ROM-range-of-motion tanggal 23 September 2013

Potter, Patricia A dan Anne Griffin Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental

Keperawatan: Konsep, Proses Dan Praktek. Jakarta: EGC