Anda di halaman 1dari 17

WRAP UP SKENARIO

BLOK

“Mekanisme Penyakit 1”

Kelompok : A-9
Ketua : Dafa Zenobia (1102019051)
Sekretaris : Hasyajogi Tiara Harahap (1102019093)
Anggota : 1. Alaric Casta Rafi (1102019009)
2. Annisa Amelia (1102019129)
3. Avia Nurul Azzahra (1102019037)
4. Dwi Wisnu Prasetyo (1102019065)
5. Fetricia Catherina (1102019079)
6. Khaura Tsabitha Baraba (1102019107)
7. Maygel Nahren (1102019121)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2018/2019
Jalan. Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510
Telp.62.21.4244574 Fax. 62.21.424457
Daftar Isi Commented [1]: Semua sub judul seperti ini pake
heading 1 dan ganti ke font times New Roman
SKENARIO 3
Commented [2]: Simpan file ini dengan file nama yang
KATA SULIT 4 berbeda untuk menghindari merubah format awal
dokumen ini
PERTANYAAN 5
JAWABAN 6
HIPOTESIS 7
SASARAN BELAJAR 8
LO 1: Memahami dan Menjelaskan Keracunan Insektisida 8
LO 2: Memahami dan Menjelaskan Cara Pemberian Obat 9
LO 3: Memahami dan Menjelaskan Farmakokinetik Obat 9
LO 4: Memahami dan Menjelaskan Farmakodinamik Obat 9
Daftar Pustaka 10 Commented [3]: Klik kanan dan pilih update untuk
menambahkan/menghapus sub judul dan
menyesuaikan nomor halaman
Commented [4]: Pencet resolve untuk menghapus
tanda comment
Commented [5]:
Commented [6]:
Commented [7]: Subjudul akan bertambah jika format
Subjudul menjadi heading 1. Tanpa heading 1, daftar
isi tidak bisa mendetek ada nya Subjudul baru

2
SKENARIO
Seorang perempuan berusia 20 tahun datang ke IGD RS YARSI dibawa orang tuanya dalam
keadaan kesadaran menurun, badan kaku, mulut berbusa dan tubuh basah oleh keringat.
Menurut orang tuanya pasien ditemukan di kamarnya dalam keadaan tergeletak, kaku, muntah-
muntah, sesak napas, dan di samping pasien ditemukan botol obat nyamuk baygon dalam
keadaan kosong dan tumpahan isinya di lantai. Dokter segera memeriksa dan memberikan
pertolongan keselamatan. Dokter menyimpulkan pasien mengalami keracunan insektisida,
kemudian memberikan antidotum atropin 2 mg dengan cara injeksi intravena (intravenous, IV)
yang diulang setiap 15 menit sampai terjadi atropinisasi.

3
KATA SULIT
1. Keracunan : Terkena racun atau zat yang menyebabkan sakit atau kematian
2. Insektisida : Senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh serangga
3. Kesadaran menurun : Suatu keadaan tidak bangun secara utuh atau tidak bisa
memberikan respon yang kuat pada sekelilingnya
4. Sesak napas : Perasaan yang dirasakan seseorang karena kesulitan dalam
bernapas
5. Farmakokinetik : Perjalanan obat didalam tubuh dimulai dari diminum hingga
diekspresikan
6. Farmakodinamik : Pengaruh obat pada tubuh atau respon biologi tubuh terhadap
obat
7. Antidotum : Penawar racun
8. Atropin : Obat yang digunakan untuk menangani melambatnya denyut
jantung dan gejala keracunan insektisida
9. Injeksi intravena : Pemberian obat dengan cara memasukkan obat dengan spuit ke
dalam pembuluh darah vena
10. Atropinisasi : Keadaan dimana pupil melebar, muka kemerah-merahan dan
panas (KBBI)

4
PERTANYAAN
1. Apa saja kandungan dalam insektisida yang menyebabkan keracunan?
2. Apa dampak dari keracunan insektisida?
3. Apa gejala dari atropinisasi?
4. Apa saja macam-macam insektisida?
5. Apakah faktor umur dapat mempengaruhi keracunan?
6. Bagaimana efek obat pada atropin?
7. Bagaimana cara kerja atropin dalam tubuh?
8. Bagaimana mekanisme yang terjadi dalam tubuh saat keracunan insektisida?
9. Mengapa memasukkan obat dengan cara injeksi intravena?
10. Mengapa pemberian obat diulang setiap 15 menit?
11. Bagaimana cara mendiagnosis pasien yang keracunan yang keracunan insektisida?
12. Bagaimana proses farmakokinetiknya?
13. Faktor apa saja yang mempengaruhi keracunan insektisida?
14. Bagaimana penanganan pada keracunan insektisida?
15. Bagaimana pencegahan pada keracunan insektisida?

5
JAWABAN
1. Terdapat kandungan karbomat yang dapat menghambat kerja enzim kolin esterase dan
juga racun utama yaitu, propoxur dan transfluthrin. Kandungan lainnya ialah
organophospate dan paradichlorobenzene.
2. Kehilangan kesadaran, kerusakan pada organ dan saraf.
3. Dilatasi pupil, denyut nadi meningkat, muka memerah, dan mulut kering.
4. Insektisida pyrethrin, insektisida DEET, insektisida organophospate, insektisida
hidrokarbonkhlorin.
5. Iya, karena semakin bertambahnya umur sistem metabolisme tubuh akan menurun
sehingga mengakibatkan menurunnya aktivitas enzim kolin esterase.
6. Timbulnya gejala atropinisasi.
7. Tubuh akan mengaktifkan enzim kolin esterase untuk mempercepat denyut nadi.
8. Saat insektisida masuk ke dalam tubuh insektisida akan bekerja sebagai asetil kolin
esterase yang akan menghambat kerja enzim kolin esterase.
9. Agar obatnya langsung masuk ke dalam pembuluh darah sehingga akan bekerja lebih
cepat dan efektif.
10. Untuk melihat ketidak adaan tanda sekresi pada saluran dan memastikan hingga
frekuensi nafas hingga normal.
11. Menganamnesis pasien jika pasien masih sadar, lalu memastikan diagnosis dengan
melihat tanda vital dan dilanjutkan dengan menjalankan pemeriksaan lanjutan.
12. 1) Absorbsi : Proses masuknya obat ke dalam darah
2) Distribusi : Penyebaran obat ke seluruh tubuh
3) Metabolisme : Transformasi struktur obat dengan jalan oksidasi, reduksi,
hidrolisis, konjugasi.
4) Ekskresi : Pengeluaran obat dari dalam tubuh
13. Umur, status gizi, jenis keracunan, kondisi tubuh.
14. Pemberian obat, pemberian cairan infus dan pemasangan alat bantu pernafasan.
15. Menggunakan masker, selalu mencuci tangan, menjauhkan insektisida dari makanan,
mengurangi frekuensi penyemprotan.

6
HIPOTESIS
Kandungan dalam insektisida dapat menyebabkan keracunan. Keracunan ini dapat diatasi
dengan pemberian obat antidotum atropin melalui injeksi intravena agar obat dapat langsung
masuk ke dalam pembuluh darah dan pemberian obat ini diberikan setiap 15 menit untuk
menjaga bioavailibilitas. Diberikannya obat ini sampai timbul gejala atropinisasi yang dapat
dilihat gejalanya seperti wajah memerah, dilatasi pupil, mulut kering dan denyut nadi
meningkat.

7
SASARAN BELAJAR
LO 1: Memahami dan Menjelaskan Keracunan Insektisida
1.1. Definisi Keracunan Insektisida
Keracunan insektisida adalah kondisi yang terjadi ketika racun serangga tertelan,
terhirup, atau terserap ke dalam kulit dalam jumlah banyak. Kondisi ini tergolong
berbahaya, dan harus segera mendapat penanganan medis. Insektisida merupakan salah
satu jenis pestisida yang khusus diperuntukkan sebagai pembasmi serangga. Senyawa ini
dapat ditemukan di produk rumah tangga, seperti pengharum toilet dan obat pengusir
serangga. Di bidang pertanian, insektisida juga digunakan sebagai pembasmi
hama.Terdapat beberapa tipe insektisida yang dapat menyebabkan keracunan, antara lain
organofosfat, paradichlorobenzene, dan karbamat.

1.2. Gejala Keracunan Insektisida


a. Gejala ringan
- Lelah
- Sakit kepala
- Parestisia pada lidah, bibir, muka
- Gelisah
b. Gejala berat
- Pusing
- Gangguan keseimbangan
- Bingung
- Tremor
- Mual, muntah
- Fasikulasi
- Midriasis
- Koma.

1.3. Penanganan Keracunan Insektisida


Bila mendapati seseorang keracunan insektisida, segera hubungi petugas medis. Sebagai
pertolongan pertama, jangan berusaha membuat korban muntah, kecuali bila petugas medis
meminta melakukan hal demikian.
Bila racun serangga mengenai kulit atau mata korban, segera bilas dengan air,
setidaknya selama 15 menit. Lepaskan pakaian korban bila terkena racun serangga. Jika
tidak sengaja menghirup racun serangga dalam bentuk gas, segera bawa korban ke area
terbuka agar menghirup udara segar.
Sebelum menghubungi petugas medis, upayakan untuk mencari tahu kandungan dari
produk insektisida yang memicu keracunan. Bila keracunan terjadi karena menelan,
ketahui kapan kejadian bermula dan berapa banyak racun yang tertelan. Hal tersebut dapat
membantu petugas medis dalam melakukan penanganan lanjutan.
Untuk penanganan keracunan insektisida di rumah sakit, dokter akan melakukan beberapa
langkah, seperti:
1. Pemberian obat melalui suntikan di pembuluh darah vena, antara lain atropin. Atropin
berguna untuk menjaga kestabilan pernapasan dan fungsi jantung. Jenis obat lain yang
dapat digunakan adalah benzodiazepine, yang berfungsi untuk mencegah atau
menghentikan kejang.

8
2. Pemberian cairan infus melalui pembuluh darah vena. Cairan yang diberikan dapat
berupa elektrolit, gula, atau obat yang jenisnya tergantung kondisi pasien.
3. Pemberian karbon aktif, untuk mencegah racun terserap oleh tubuh.
4. Pemasangan alat bantu pernapasan, yang tersambung ke mesin pompa oksigen
(ventilator).

1.4. Pencegahan Keracunan Insektisida

LO 2: Memahami dan Menjelaskan Cara Pemberian Obat


Cara atau letak pemberian obat terutama ditentukan oleh sifat dan tujuan dari penggunaan
obat sehingga dapat memberikan efek terapi yang tepat.

PEMBERIAN OBAT PER ORAL


Cara ini merupakan cara pemberian obat yang paling umum dilakukan karena mudah,
aman, dan murah. Kerugiannya ialah banyak faktor dapat mempengaruhi
bioavailabilitasnya, obat dapat mengiritasi saluran cerna, dan perlu kerja sama dengan
penderita; tidak bisa dilakukan bila pasien koma.
Absorpsi obat melalui saluran cerna pada umumnya terjadi secara difusi pasif, karena
itu absorpsi mudah terjadi bila obat dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak.
Absorpsi obat di usus halus selalu jauh lebih cepat dibandingkan di lambung karena
permukaan epitel usus halus jauh lebih luas dibandingkan dengan epitel lambung. Selain
itu, epitel lambung tertutup lapisan mukus yang tebal dan mempunyai tahanan listrik yang
tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kecepatan pengosongan lambung biasanya akan
meningkatkan kecepalan absorpsi obat, dan sebaliknya. Akan tetapi, perubahan dalam
kecepatan pengosongan lambung atau motilitas saluran cerna biasanya tidak
mempengaruhi jumlah obat yang diabsorpsi atau yang mencapai sirkulasi sistemik, kecuali
pada tiga hal berikut ini.
(1) Obat yang absorpsinya lambat karena sukar larut dalam cairan usus (misalnya digoksin,
difenilhidantoin, prednison) memerlukan waktu transit dalam saluran cerna yang cukup
panjang untuk kelengkapan absorpsinya.
(2) Sediaan salut enterik atau sediaan lepas lambat yang absorpsinya biasanya kurang baik
atau inkonsisten akibat perbedaan pelepasan obat di lingkungan berbeda, memerlukan
waktu transit yang lama dalam usus untuk meningkatkan jumlah yang diserap.
(3) Pada obat-obat yang mengalami metabolisme di saluran cerna, misalnya penisilin G
dan eritromisin oleh asam lambung, levodopa dan klorpromazin oleh enzim dalam dinding
saluran cerna, pengosongan lambung dan transit gastrointestinal yang lambat akan
mengurangi jumlah obat yang diserap untuk mencapai sirkulasi sistemik. Untuk obat yang
waktu paruh eliminasinya pendek misalnya prokainamid, perlambatan absorpsi akan
menyebabkan kadar terapi tidak dapat dicapai, meskipun jumlah absorpsinya tidak
berkurang.

PEMBERIAN SECARA SUNTIKAN


Keuntungan pemberian obat secara suntikan (parenteral) ialah:
(1) efeknya timbul lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian per oral;
(2) dapat diberikan pada penderita yang tidak ko- operatif, tidak sadar, atau muntah-
muntah;

9
(3) sangat berguna dalam keadaan darurat. Kerugian- nya ialah dibutuhkan cara asepsis,
menyebabkan rasa nyeri, ada bahaya penularan hepatitis serum, sukar dilakukan sendiri
oleh penderita, dan tidak ekonomis.

Pemberian intravena (lV) tidak mengalami tahap absorpsi, maka kadar obat dalam darah
diperoleh secara cepat, tepat, dan dapat disesuaikan langsung dengan respons penderita.
Larutan tertentu yang iritatif hanya dapat diberikan dengan cara ini karena dinding
pembuluh darah relatif tidak sensitif dan bila disuntikkan perlahan-lahan, obat segera
diencerkan oleh darah. Kerugiannya ialah efek tokslk mudah terjadi karena kadar obat yang
tinggi segera mencapai darah dan jaringan. Di samping itu, obat yang disuntikan lV tidak
dapat ditarik kembali. Obat dalam larutan minyak yang mengendapkan konstituen darah,
dan yang menyebabkan hemolisis, tidak boleh diberikan dengan cara ini, Penyuntikan lV
harusdllakukan perlahan-lahan sambil terus mengawasi respons penderita.

Suntikan subkutan (SK) hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan
iritasi jaringan, Absorpsi biasanya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya
bertahan lama. Obat dalam bentuk suspensi diserap lebih lambat daripada dalam bentuk
larutan. Pencampuran obat dengan vasokonstriktor juga akan memperlambat absorpsi obat
tersebut. Obat dalam bentuk padat yang ditanamkan di bawah kulit dapat dlabsorpsi selama
beberapa minggu atau beberapa bulan.

Pada suntikan intramuskular (lM), kelarutan obat dalam air menentukan kecepatan dan
kelengkapan absorpsi. Obat yang sukar larut dalam air pada pH fisiologik misalnya
digoksin, lenitoin, dan diazepam akan mengendap di tempat suntikan sehingga absorpsinya
berjalan lambat, tidak lengkap, dan tidak teratur. Obat yang larut dalam air diserap cukup
cepat, tergantung dari aliran darah di tempat suntikan. Absorpsi lebih cepat di deltoid atau
vastus lateralis daripada di gluteus maksimus. Obat- obat dalam larutan minyak atau bentuk
suspensi akan diabsorpsi dengan sangat lambat dan konstan (sun- tikan depot), misalnya
penisilin. Obat yang terlalu iritatil untuk disuntikkan secara SK kadang-kadang dapat
diberikan secara lM.

Suntikan intratekal, yakni suntikan langsung ke dalam ruang subaraknoid spinal,


dilakukan bila diinginkan elek obat yang cepat dan setempat pada selaput otak atau sumbu
serebrospinal, seperti pada anestesia spinal atau pengobatan infeksi SSP yang akut.

Suntikan intraperitoneal tidak dilakukan pada manusia karena bahaya infeksi dan adesi
terlalu besar.

PEMBERIAN MELALUI PARU-PARU


Cara inhalasi ini hanya dapat dilakukan untuk obat yang berbentuk gas atau cairan yang
mudah menguap misalnya anestesi umum, dan untuk obat lain yang dapat diberikan dalam
bentuk aerosol. Absorpsi lerjadi melalui epitel paru dan mukosa saluran napas.
Keuntungannya, absorpsi terjadi secara cepat karena permukaan absorpsinya luas,
terhindar dari eliminasi lintas pertama di hati, dan pada penyakit paru-paru misalnya asma
bronkial, obat dapat diberikan langsung pada bronkus, Sayangnya pada cara pemberian ini
diperlukan alat dan metoda khusus yang agak sulit dikerjakan, sukar mengatur dosis, dan
sering obatnya mengiritasi epitel paru.

PEMBEBIAN TOPIKAL

10
Pemberian topikal pada kulit, Tidak banyak obat yang dapat menembus kulit utuh.
Jumlah obat yang diserap bergantung pada luas permukaan kulit serta kelarutan obat dalam
lemak karena epidermis bertindak sebagai sawar lemak. Dermis permeabel terhadap
banyak zat sehingga absorpsi terjadi jauh lebih mudah bila kulit terkelupas atau terbakar.
Beberapa zat kimia yang sangat larut lemak, misalnya insektisida organolosfat,dapat
menimbulkan elek toksik akibat absorpsi melalui kulit ini. lnflamasi dan keadaan lain yang
mening- katkan aliran darah kulit juga akan memacu absorpsi melalui kulit. Absorpsi dapat
ditingkatkan dengan membuat suspensi obat dalam minyak dan menggosokkannya ke kulit,
atau dengan menggunakan penutup di atas kulit yang terpajan. Obat yang banyak
digunakan untuk penyakit kulit sebagai salep kulit ialah antibiotik, kortikosteroid, anti
histamin, dan lungisid, tetapi beberapa obat sistemik dibuat juga sebagai sediaan topikal,
misalnya nitrogliserin dan skopolamin.
Pemberian topikal pada mata, Cara ini terutama dimaksudkan untuk mendapatkan efek
lokal pada mata, yang biasanya memerlukan absorpsi obat melalui kornea. Absorpsi terjadi
lebih cepat bila kornea mengalami infeksi atau trauma. Absorpsi sistemik melalui saluran
nasolakrimal sebenarnya tidak diinginkan; absorpsi di sini dapat menyebabkan efek
sistemik karena obat tidak mengalami metabolisme lintas pertama di hati, maka B-
blokeryang diberikan sebagai tetes mata misalnya pada glaukoma dapat menimbulkan
toksisitas sistemik.

LO 3: Memahami dan Menjelaskan Farmakokinetik Obat


3.1. Definisi
Nasib obat dalam tubuh atau efek tubuh terhadap obat (Farmakologi UI, 2016)

3.2. Absorbsi
Merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut kelengkapan
dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan dinyatakan dalam persen dari jumlah obat
yang diberikan. Tetapi secara klinik, yang lebih penting ialah bioavailabilitas. lstilah ini
menyatakan jumlah obat, dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi sistemik
dalam bentuk utuh/aktif. Ini terjadi karena, untuk obat-obat tertentu, tidak semua yang
diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian akan
dimetabolisme oleh enzim di dinding usus pada pemberian oral dan/atau di hati pada
lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut. Metabolisme ini disebut metabolisme
atau eliminasi lintas pertama atau eliminasi prasistemik. Jadi istilah bioavailabilitas
menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme obat sebelum
mencapai sirkulasi sistemik. Eliminasi lintas pertama ini dapat dihindari atau dikurangi
dengan cara pemberian parenteral (misalnya lidokain), sublingual (misalnya nitrogliserin),
rektal, atau mernberikannya bersama makanan.

Absorpsi secara transport aktif terjadi terutama di usus halus untuk zat-zat makanan :
glukosa dan gula lain, asam amino, basa purin dan pirimidin, mineral, dan beberapa
vitamin. Cara ini juga terjadi untuk obat-obat yang struktur kimianya mirip struktur zat
makanan tersebut, misalnya levodopa, metildopa, 6-merkaptopurin, dan 5-fluorourasil.
Kecepatan absorpsi obat bentuk padat ditentukan oleh kecepatan disintegrasi dan
disolusinya sehingga tablet yang dibuat oleh pabrik yang berbeda dapat berbeda pula
bioavailabilitasnya. Ada kalanya sengaja dibuat sediaan yang waktu disolusinya lebih lama
untuk memperpanjang masa absorpsi sehingga obat dapat diberikan dengan interval lebih
lama. Sediaan ini disebut sediaan lepas lambat (sustained-release). Obat yang dirusak oleh

11
asam lambung atau yang menyebabkan iritasi lambung sengaja dibuat tidak terdisintegrasi
di lambung yaitu sebagai sediaan salut enterik (enteric-coated).
Absorpsi dapat pula terjadi di mukosa mulut dan rektum walaupun permukaan
absorpsinya tidak terlalu luas. Nitrogliserin ialah obat yang sangat poten dan larut baik
dalam lemak maka pemberian sublingual atau perkutan sudah cukup untuk menimbulkan
efek. Selain itu, obat terhindar dari metabolisme lintas pertama di hati karena aliran darah
dari mulut tidak melalui hati melainkan langsung ke vena kava superior. Pemberian per
rektal sering diperlukan pada penderita yang muntah-muntah, tidak sadar, dan pascabedah.
Metabolisme lintas pertama di hati lebih sedikit dibandingkan dengan pemberian per oral
karena hanya sekitar 50% obat yang diabsorpsi dari rektum akan melalui sirkulasi portal.
Namun banyak obat mengiritasi mukosa rektum, dan absorpsi di sana sering tidak lengkap
dan tidak teratur.

3.3. Distribusi
Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi
darah.Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat fisik
kimianya. Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya didalam tubuh.
Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya
sangat baik misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak. Selanjutnya, distribusi fase kedua jauh
lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organdi atas misalnya otot,
visera, kulit, dan jaringan lemak. Distribusi ini baru mencapaikeseimbangan setelah waktu
yang lebih lama. Difusi ke ruang interstisial jaringan terjadi karena celah antarsel endotel
kapiler mampu melewatkan semua molekul obat bebas, kecuali di otak. Obat yang mudah
larut dalam lemak akan melintasi membran sel dan terdistribusi ke dalam otak, sedangkan
obat yang tidak larut dalam lemak akansulit menembus membran sel sehingga distribusinya
terbatas terutama di cairan ekstrasel. Distribusi juga dibatasi oleh ikatan obat pada protein
plasma,hanya obat bebas yang dapat berdifusi dan mencapai keseimbangan. Derajat ikatan
obat dengan protein plasma ditentukan oleh afinitas obat terhadap protein, kadar obat, dan
kadar proteinnya sendiri. Pengikatan obat oleh protein akan berkurang pada malnutrisi
berat karena adanya defisiensi protein.

3.4. Metabolisme
Metabolisme obat terjadi di hati tepatnya RE dan sitosol. Tujuannya untuk mengubah obat
yang non polar menjadi polar agar dapat diekskresikan. Pada metabolisme terjadi melalui
dua fase yaitu,
a. Fase 1, non sintetik
Terdiri dari oksidasi, reduksi dan hidrolisis yang mengubah obat menjadi lebih polar
dengan akibat menjadi aktif, inaktif atau kurang aktif. Enzim yang bekerja pada fase
ini ialah enzim sitokrom P450 (CypP450) yang berfungsi sebagai katalis oksidator
metabolisme asam lemak, xenobiotik dan juga obat.
b. Fase 2, sintetik
Realisi konjugasi dengan substrat endogen : asam glukoranat, asam sulfat, asam asetat
atau asam amino yang hasilnya sangat polar atau menghasilkan senyawa tidak aktif.
Metabolisme obat akan terganggu apabila pasien memiliki penyakit hati seperti sirosis
hati, kanker hati, dll. Enzim yang bekerja pada fase ini ialah UDP-
glucoronosyltransferases (UGT), sulfotransferases, methyltransferases (MT).

3.5. Ekskresi

12
Obat diekskresi melalui berbagai cara yaitu, melalui paru-paru (sistem pernafasan),
keringat (kulit), feses (empedu) dan organ terpenting yang melakukan ekskresi ialah ginjal.
Ekskresi melalui ginjal ini melewati tiga proses yaitu,
1. Filtrasi glomerulus
Proses ini menghasilkan ultrafiltrat, yakni plasma minus protein. Semua obat bebas
akan keluar dalam ultrafiltrat sedangkan yang terikat dengan protein tetap tinggal
dalam darah. Obat yang akan bereaksi ialah obat yang tidak berikatan dengan protein.
2. Sekresi aktif
Dari dalam darah ke lumen tubulus proksimal terjadi melalui transporter membran.
3. Reabsorbsi pasif
Terjadi sepanjang tubulus untuk bentuk non ion obat yang larut lemak. Organ
terpenting kedua adalah empedu ke dalam usus keluar bersama feses.
Faktor terpenting pada proses ekskresi ialah pH urin yang nantinya dikeluarkan.

LO 4: Memahami dan Menjelaskan Farmakodinamik Obat


4.1. Definisi
Farmakodinamik adalah bagian dari ilmu farmakologi yang mempelajari tentang
bagaimana suatu obat (bahan aktif) bekerja sehingga menghasilkan efek biologis. Dengan
kata lain bahwa farmakodinamik adalah cabang dari ilmu farmakologi yang mempelajari
apa yang dilakukan obat terhadap tubuh.

4.2. Mekanisme Kerja Obat


Efek suatu obat dapat terjadi jika molekul obat berikatan dengan suatu molekul spesifiknya,
sehingga menyebabkan reaksi biokimiawi dan menghasilkan efek biologis.
Molekul spesifik tersebut merupakan binding site yang biasa disebut target obat. Interaksi
antara molekul obat dan sel mendasari penjelasan molekuler interaksi obat dengan
reseptornya. Paul Ehrlich menyatakan ‘Corpora non agunt nisi fixata’, yang berarti bahwa
suatu obat tidak akan bekerja sampai dia berikatan (Rang, et al., 2011).
Pemahaman tentang mekanisme kerja obat merupakan dasar penentuan terapi rasional
suatu obat dan desain obat baru serta unggulan dari suatu agen terapi (Brunton, et al., 2008).

Terdapat 3 jenis obat berdasarkan efeknya terhadap reseptor :


1. Agonis : efeknya seperti endogen yang mampu berikatan ke reseptor fisiologis
2. Antagonis : merupakan inhibitor agonis
3. Invers agonis : efeknya menuju negatif (berlawanan dengan agonis) dan tidak memiliki
efek intrinsik.

Mekanisme kerja obat secara umum dapat digolongkan menjadi 4 macam:


1. Obat yang bekerja tidak melalui target spesifik. Contoh : antasida, anestesi umum,
osmotik diuretik.
2. Obat yang bekerja dengan cara mengubah sistem transport. Contoh : kalsium
antagonis, kardiak glikosida, obat anestesi local.
3. Mengubah fungsi enzim. Contoh : COX inhibitor, MAO inhibitor, AChE inhibitor
4. Obat yang bekerja pada reseptor. Contoh: hormon, neurotransmiter.

4.3. Reseptor Obat


Reseptor adalah komponen makro molekul dari sel yang dapat mengenali dan
berinteraksi dengan substansi endogen untuk menghasilkan respon biologis.

13
Sedangkan obat atau substansi eksogen lainnya akan berikatan dengan ‘drug target’ nya
untuk dapat memberikan respon biologis. Drug target atau reseptor ini umumnya berupa
protein (Rang & Dale, 2011; Katzung, et al., 2015).
Molekul yang dapat berperan sebagai reseptor :
1. Enzim (golongan tirosin kinase)
2. Membran protein (glikoprotein, lipoprotein)
3. Asam nukleat (reseptor antibiotik)
4. Kompleks polisakarida

Karakteristik dari Reseptor, reseptor memiliki spesifisitas


Reseptor tertentu hanya akan berikatan dengan reseptor tertentu saja atau lebih dikenal
dengan mekanisme ‘Lock and key’.

4.4. Interaksi Obat dengan Reseptor


Hubungan obat dengan reseptor sama seperti kunci dan gembok yaitu :
a. Suatu reseptor dapat berikatan dengan sekelompok senyawa kimia yang sejenis (a
family of chemicals of hormones)
b. Setiap senyawa tadi akan menunjukkan afinitas yang berbeda terhadap reseptor (ikatan
kuat atau lemah)
c. Setiap senyawa akan menghasilkan efikasi yang berbeda

Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat dengan enzim, biasanya
merupakan ikatan lemah (ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der waals), dan jarang
berupa ikatan kovalen. Jika atau lebih obat diberikan dalam waktu yang lama maka dapat
terjadi interaksi berupa :
1. Addictive effect : jika respon dari obat obat tersebut mengikuti rumus
penjumlahan.
2. Synergystic effect : jika respon dari obat-obat tersebut lebih besar dari efek
tunggalnya, tetapi lebih kecil dari efek penambahannya.
3. Antagonistic effect : jika respon obat saling menghambat atau berlawanan.

4.5. Transmisi Sinyal


Penghantaran sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan suatu substansi
ekstraseluler (extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler
lisiologis yang spesifik. Sistem hantaran ini dimulai dengan pendudukan reseptor yang
terdapat di membran sel atau di dalam sitoplasma oleh transmitor. Kebanyakan messenger
ini bersifat polar. Contoh transmitor untuk reseptor yang terdapat di membran sel ialah
katekolamin, TRFtr, LH; sedangkan untuk reseptor yang terdapat dalam sitoplasma ialah
steroid (adrenal dan gonadal), tiroksin, vit D. Reseptor di membran sel bekerja dengan cara
mengikat ligand yang sesuai kemudian menerus- kan sinyalnya ke sel target itu, baik secara
langsung ke intrasel atau dengan cara memproduksi molekul pengatur lainnya (second
messenger) di intrasel. Suatu reseptor mungkin memerlukan suatu protein seluler tertentu
untuk dapat ber{ungsi (sistem reseptor-efektor) misalnya adenilat siklase. Pada sistem ini,
reseptor mengatur aktivitas adenilat siklase, dan efektor mensintesis siklik-AMP yang
merupakan second messenger. Reseptor yang terdapat dalam sitoplasma, merupakan
protein terlarut pengikat DNA (so/uble DNA-binding protein) yang mengatur transkripsi
gen-gen tertentu. Pendudukan reseptor oleh hormon yang sesuai akan meningkatkan
sintesis protein tertentu.

14
Reseptor hormon peptida yang mengatur pertumbuhan, diferensiasi, dan perkembangan
(dan dalam keadaan akut juga aktivitas metabolik) umumnya ialah suatu protein kinase
yang meng- katalisis losforilasi protein target pada residu tirosin. Kelompok reseptor ini
meliputi reseptor untuk insulin, epidermal growth factor, platelet-derived growth factor,
dan limtokin tertentu. Feseptor hormon peptida yang terdapat di membran plasma
berhubungan dengan bagian katalitiknya yang berupa protein kinase intrasel, melalui suatu
rantai pendek asam amino hidrofobik yang menembus membran plasma.
Pada reseptor untuk atrial natriuretic peptide, bagian kompleks intrasel ini bukan protein
kinase, melainkan guanilat siklase yang mensintesis siklik-GMP.

Sejumlah reseptor untuk neurotransmitor tertentu membentuk kanal ion selektif di


membran plasma dan menyampaikan sinyal biologisnya dengan cara mengubah potensial
membran atau komposisi ion. Contoh kelompok ini ialah reseplor nikotinik, gamma-
aminobutirat tipe A, glutamat, aspartat, dan glisin. Reseptor ini merupakan protein multi-
subunit yang rantainya menembus membran beberapa kali membentuk kanal ion.
Mekanisme terikatnya suatu transmitor dengan kanal yang terdapat di bagian ekstrasel
sehingga kanal meinjadi terbuka, belum diketahui.
Sejumlah besar reseptor di membran plasma bekerja mengatur protein efektor tertentu
dengan perantaraan sekelompok GTP binding protein yang dikenal sebagai protein G.
Yang termasuk kelompok ini ialah reseptor untuk amin biogenik, eikosanoid, dan hormon
peptida lainnya. Reseptor ini bekerja dengan memacu terikatnya GTP pada protein G
spesifik yang selanjutnya mengatur aktivitas efektor- efektor spesilik seperti adenilat
siklase, tosfolipase 42 dan C, kanal Qa2, K atau Na, dan beberapa protein yang berfungsi
dalam transportasi. Suatu sel dapat mempunyai 5 atau lebih protein G yang masing-masing
dapat memberikan respons terhadap beberapa reseptor yang berbeda, dan mengatur
beberapa efektor yang berbeda pula.

Second messenger sitoplasma. Penghantaran sinyal biologis dalam sitoplasma


dilangsungkan dengan kerja second messenger antara lain berupa cAMP, ion Caz, dan yang
akhir-akhir ini sudah diterima ialah 1,4,5 inositol trisphosphate (lP3) dan diasilgliserol
(DAG). Substansi ini memenuhi kriteria sebagai second rnessenger yaitu diproduksi
dengan sangat cepat, bekerja pada kadar yang sangat rendah, dan setelah sinyal
eksternalnya lidak ada mengalami penyingkiran secara spesifik.

Siklik-AMP ialah second messenger yang pertama kali ditemukan. Substansi ini
dihasilkan melalui stimulasi adenilat siklase sebagai respons terhadap aktivasi bermacam-
macam reseptor (mis. reseptor adrenergik). Stimulasi adenilat siklase dilangsungkan lewat
protein Gs dan inhibisinya lewat protein Gi. Adenilat siklase juga dapat distimulasi oleh
ion Ca (terutama pada neuron), toksin kolera, atau ion fluorida.
Siklik-AMP berfungsi mengaktifkan cAMP-dependent protein kinase (protein kinase
A) yang mengatur protein intrasel dengan cara foslorilasi. Siklik-AMP didegradasi dengan
cara hidrolisis yang dikatalisis oleh foslodiesterase menjadi 5-AMP yang bukan suatu
secondmessenger. Foslodiesterase diaktilkan oleh ion Ca dan kalmodulin atau cAMP,
Siklik-AMP juga dikeluarkan dari dalam sel melalui transport aktif.
Ca sitoplasma merupakan second messenger lain yang berfungsi dalam aktivasi beberapa
jenis enzim (mis. fosfolipase), menggiatkan aparat kontraktil sel otot, mencetuskan
penglepasan histamin, dan sebagainya. Kadar Ca sitoplasma diatur oleh kanal ion Ca, dan
ATP-ase yang terdapat di membran plasma dan depot Ca intrasel (misalnya retikulum
sarkoplasmik). Kanal ion Ca di membran sel dapat diatur oleh depolarisasi, interaksi
dengan Gs, losforilasi oleh cAMP-dependenf protein kF nase, atau oleh ion K dan Ca2.

15
lnositol trisphosphate (lPs) dan diasilgliserol (DAG), merupakan second messenger pada
transmisi sinyal di reseptor vasopresin, asetilkolin, histamin, platelet-derived growth
factor-dsb.

4.6. Antagonisme Farmakodinamik


Secara farmakodinamik dapat dibedakan 2 jenis antagonisme farmakodinamik,yakni:
1. Antagonisme fisiologik
Yaitu antagonisme pada sistem fisiologik yang sama,tetapi pada sistem reseptor
yang berlainan. Misalnya, efek histamin dan autakoid lainnya yang di lepaskan
tubuh sewaktu terjadi syok anafilaktik dapat diantagonisasi dengan pemberian
adrenalin
2. Antagonisme pada reseptor
Yaitu antagonisme melalui sistem reseptor yang sama(antagonisme anatara agonis
dengan antagonisnya). Misalnya, efek histamin yang dilepaskan dalam reaksi alergi
dapat dicegah dengan pemberian antihistamin,yang menduduki reseptor yang sama.

Pembahasan selanjutnya dibatasi pada antagonisme pada reseptor,yang dapat


diuantifikasi berdasarkan interaksi obat – obatan.Telah disebutkan bahwa agonis adalah
obat yang jika menduduki reseptornya mampu secara intrinsik menimbulkan efek
farmakologik,sedangkan antagonis adalah obat yang menduduki reseptor yang sama tapi
tidak mampu secara intrinsik menimbulkan efek farmakologik.Dengan demikian antagonis
menghalangi ikatan reseptor dengan agonisnya sehingga terjadi hambatan kerja
agonis.Oleh karena itu,antagonis sering kali juga disebut receptor blocker atau blocker
saja.Jadi,bloker tidak menimbulkan efek langsung,tetapi efek tidak langsung akibat
hambatan kerja agonisnya.

Antagonisme pada reseptor dapat bersifat kompetitif atau nonkompetitif. Dalam hal ini,
antagonis mengikat reseptor di tempat ikatan agonis (receptor site atau active site) secara
reversibel sehingga dapat digeser oleh agonis kadar tinggi. Dengan demikian hambatan
efek agonis dapat diatasi dengan meningkatkan kadar agonis sampai akhirnya dicapai efek
maksimal yang sama. Sehingga diperlukan kadar agonis yang lebih tinggi untuk
memperoleh efek yang sama. Ini berarti afinitas agonis terhadap reseptornya menurun.
Contoh antagonis kompetitif adalah ß-bloker dan antihistamin. Antagonis kompetitif (Ak)
menyebabkan Log DEC agonis (D) bergeser sejajar ke kanan (D+ Ak). Efek maksimal
yang dicapai agonis sama (=Emax), tetapi afinitas agonis terhadap reseptornya menurun
(K’D>KD).
Kadang-kadang suatu antagonis mengikat reseptor di tempat lain dari reseptor site
agonis dan menyebabkan perubahan konformasi reseptor sedemikian sehingga afinitas
terhadap agonisnya menurun. Jika penurunan afinitas agonis ini dapat diatasi dengan
meningkatkan dosis agonis, maka keadaan ini tidak disebut antagonisme kompetitif
(meskipun gambar kurvanya sama) tetapi disebut kooperativitas negatif.

16
Daftar Pustaka
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/11/Farmakologi_bab_1-
3.pdf

https://id.scribd.com/document/372035761/Antagonisme-Farmakodinamik

http://repositori.kemdikbud.go.id/10435/1/DASAR-DASAR%20FARMAKOLOGI%201.pdf

17