Anda di halaman 1dari 29

GOLD 2019

Penatalaksanaan PPOK
Eksaserbasi Akut

dr. Ni Made Restiawati, SpP


Curriculum Vitae
Nama : dr. Ni Made Restiawati, Sp.P
Tempat / tanggal lahir : Sumerta, 25 Agustus 1974
No. Hp : +6281219697269
E-mail : mdrestiasuarjana@yahoo.com

Pendidikan :
• Pendidikan (S1) Dokter dari FK Universitas Udayana (2000)
• Pendidikan (S2) Dokter Spesialis Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. (2013)

Pekerjaan :
• PNS RSPAD Gatot Soebroto (2006)
• Dokter Spesialis Departemen Paru RSPAD Gatot Soebroto (2013)

Praktek : RS. Royal Progress, RSUD Kemayoran


1

Pendahuluan
PPOK Eksaserbasi akut
Definisi PPOK
u Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) à
Penyakit paru yang dapat dicegah dan
diobati ditandai dengan adanya
keterbatasan aliran udara yang persisten dan
umumnya bersifat progresif, berhubungan
dengan respons inflamasi kronik yang
berlebihan pada saluran napas dan parenkim
paru akibat gas atau partikel berbahaya
Definisi PPOK Eksaserbasi Akut

• Kondisi perburukan gejala saluran napas


yang terjadi secara akut dibandingkan
dengan kondisi sebelumnya dan
membutuhkan terapi tambahan
Gejala Eksaserbasi
• Sesak bertambah
• Produksi sputum meningkat
• Perubahan warna sputum menjadi purulen

Eksaserbasi akut à Anthonisen 1987


• Tipe I (eksaserbasi berat) à 3 gejala
• Tipe II (eksaserbasi sedang) à 2 gejala
• Tipe III (eksaserbasi berat) à 1 gejala ditambah
ISPA lebih dari 5 hari, demam tanpa sebab lain,
peningkatan batuk, peningkatan mengi, RR
meningkat > 20% dari nilai normal atau frekwensi
nadi > 20% dari nilai normal
Penatalaksanaan eksaserbasi dibagi menjadi :
• Eksaserbasi ringan
u meningkatkan pemakaian bronkodilator (dapat
dilakukan di rumah atau poliklinik)

• Eksaserbasi sedang
u Bronkodilator + antibiotik atau kortikosteroid oral atau
keduanya (dapat dilakukan di puskesmas, poliklinik
atau praktek dokter)

• Eksaserbasi berat
u Perawatan IGD à berhubungan dengan gagal nafas
akut
2

Penatalaksanaan
PPOK Eksaserbasi Akut
Target Pengobatan

Meminimalisir dampak
negatif pada
eksaserbasi selanjutnya

Mencegah kejadian
eksaserbasi susulan
Indikasi Rawat Inap
Eksaserbasi sedang berat, penurunan saturasi O2,
mengantuk, kebingungan (confusion)

Gagal Nafas Akut

Onset gejala klinis baru ec. Cyanosis, peripheral


edema

Tidak respon dengan terapi awal

Komorbid serius : gagal jantung, aritmia

Terapi dirumah kurang memadai


Klasifikasi Pasien yang dirawat
di RS
Tanpa Gagal • RR > 20 – 30 x/menit
• Otot bantu napas (-)
Napas • Kesadaran Baik
• Hipoksemia perbaikan
• PaCO2 normal

Gagal Napas Akut • RR > 30 x/menit


• Otot bantu napas (+)
Tidak Mengancam • Kesadaran Baik
Jiwa • Hipoksemia perbaikan
• PaCO2 50 – 60 mmHg

• RR > 30 x/menit
Gagal Napas Akut • Otot bantu napas (+)
à Mengancam • Kesadaran menurun
• Hipoksemia tidak membaik
Jiwa • PaCO2 > 60 mmHg atau
asidosis pH ≤ 7,25
Faktor Risiko Prognosis Buruk
● Usia tua
● IMT rendah
● Komorbid (penyakit jantung, kanker paru)
● Riwayat rawat inap sebelumnya
● Derajat berat secara klinis
● Kebutuhan LTOT saat rawat jalan
● Fungsi & kapasitas paru buruk/menurun
● Densitas paru menurun
● Penebalan dinding bronkus pada CT scan
Kunci Utama
SABA
• Dengan/tanpa S A M A sebagai bronkodilator awal C

• ↑ VEP1, oksigenasi dan ↓ waktu pemulihan & rawat inap


Steroid • Durasi 5-7 hari A
Sistemik

• Sesuai indikasi
AB
• Dapat ↓ waktu pemulihan, ↓ relaps, kegagalan terapi & durasi rawat inap B
• Durasi 5-7 hari

Xanthine
• Tidak direkomendasikan karena efek samping B

• Moda ventilasi utama pada pasien PPOK dgn gagal napas akut tanpa
kontraindikasi
• Memperbaiki pertukaran gas, ↓ usaha napas dan intubasi, ↓ masa A
NIV rawat inap dan ↑ angka tahan hidup
3

Terapi
Eksaserbasi PPOK
Terapi Farmakologi

Bronkodilator

Steroid

Antibiotik
Bronkodilator

Saba à Terapi Inisial Tidak disarankan


IDT vs Nebulizer
nebulisasi

Mulai bronkodilator IV metilxanthine tidak


jangka panjang dianjurkan
Steroid Sistemik

Inhalasi steroid dosis


Prednison 40mg/hari Oral vs Injeksi
tunggal

ICS+LABA
Antibiotik
• Peningkatan sesak
• Peningkatan jumlah sputum
• Perubahan purulensi sputum Gejala infeksi bakteri

Pemilihan AB harus sesuai resistensi


bakteria setempat atau terapi
empiris:
• Amoxicillin + as klavulanat
• Makrolid
• Tetrasiklin CRP vs PCT

Rute pemberian (oral vs IV):


bergantung pada napsu makan
pasien. Lebih baikOral

Sputum M O
Terapi Non- Farmakologi
Terapi oksigen
• Target saturasi 88-92%
• Cek AGD berkala
• Venturi mask lebih disarankan
High-flow oxygen therapy by nasal cannule (HFNC)
• Alternatif pada pasien gagal napas akut
• Me↓ kebutuhan intubasi & mortalitas
• Me↓ hiperkapnia & kualitas hidup pasien dari segi medis
Ventilator

Non-invasive Mechanical Ventilation(NIV)


Indikasi ICU
● Sesak berat atau respon inadekuat terhadap
terapi emergensi awal
● Penurunan kesadaran
● Hipoksemia persisten / memberat (PaO2 <
40mmHg) dan/atau perburukan asidosis (pH <
7,25) setelah pemberian terapioksigen
● Kebutuhan ventilasi mekanis
● Hemodinamik tidak stabil

21
Indikasi NIV
● Asidosis respiratorik (PaCO2 ≥ 45 mmHg dan pH
≤ 7,35)
● Sesak berat
○ Otot bantu pernapasan (+)
○ Usaha pernapasan ↑
○ Pergerakan paradoksikal ototperut
○ Retraksi sela iga
● Hipoksemia persisten setelah pemberian terapi
oksigen

22
Indikasi Ventilator
● Tidak membaik dengan NIV
● Gagal napas
● Gagal napas dengan penurunan kesadaran
● Riwayat henti napas atau henti jantung
● Penurunan kesadaran, gelisah/agitasi
● Aspirasi masif atau muntah berulang
● Retensi sputum persisten
● Hemodinamik tidak stabil yg tidak respon
dengan terapi vasoaktif
● Aritmia berat
● Hipoksemia yang mengancam jiwa
23
3

Rawat Jalan & FollowUp


PPOK Eksaserbasi Akut
Indikasi Rawat Jalan
● Perbaikan dari segi klinis maupun laboratoris

● Konfirmasi pemahaman pasien akan terapi


rumatan

● Penilaian ulang cara penggunaan alat


inhalasi

25
Indikasi Rawat Jalan
● Menilai kebutuhan terapi oksigen
berkelanjutan
● Rencanakan penatalaksanaan komorbid &
follow up
● Follow up awal < 4 m g g dan follow up
lanjutan <12 m g g
● Pastikan seluruh kelainan klinis telah di
identifikasi

26
Follow up 1- 4 mgg

Adaptasi Paduan terapi

Terapi
Inhaler
oksigen

Aktivitas fisis CAT/mMRC

27
Follow up 12-16 mgg

Adaptasi Paduan terapi

Inhaler Terapi oksigen

Aktivitas fisis CAT/m M RC

Spirometri Komorbid

28
Intervensi
Klasifikasi Intervensi

Bronkodilator LABA
L A MA
LABA +L A MA
Steroid LABA +ICS
LABA + L A MA + ICS
Anti inflamasi Roflumilast

Anti infeksi Vaksin


Makrolid jangka panjang
Mukoregulator N -asetilsistein
Mukosistein
Lain-lain Berhenti merokok
Rehabilitasi medik
Menurunkan fungsi paru
29
Terima Kasih
30