Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peningkatan pertumbuhan penduduk di Indonesia saaat ini mengakibatkan
persaingan dalam dunia kerja semakin ketat, sehingga berdampak pada
banyaknya pengangguran. Berdasarkan data dari badan pusat statistik (2013),
tingkat pengangguran setiap bulan adalah sekita 5,92% dari jumlah angkatan
kerja di Indonesia yang mencapai 121,2 juta orang. Banyaknya pengangguran
tersebut menyebabkan beberapa dari mereka menghalalkan segala cara untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan yang harus dipenuhi salah
satunya adalah kebutuhan dasar yang dipenuhi dalam kehidupan sehari-hari,
salah satunya yaitu kebutuhan untuk makan. Seseorang dengan tingkat
ekonomi menengah kebawah akan mengalami kesulitan untuk memenuhi
kebutuhan makan mereka sehari-hari. Tingkat ekonomi menengah kebawah
tersebut merupakan suatu hal yang mendasari perbuatan seseorang
untukmemenuhi dorongan social yang memerlukan dukungan finansial
sehingga berpengaruh pada kebutuhan hidup sehari-hari
Untuk bisa memenuhi kebutuhan dasarnya demi meneruskan kebutuhan
hidup, maka mereka menghalalkan segala cara, seperti pencurian,
pengeroyokan, dan pembunuhan. Pelaku kejahatan pasti akan dijatuhi
hukuman yang sesuai dengan berat atau ringannya suatu pelanggaran yang
dilakukan. Pelaku kejahatan yang telah menjalani persidangan dan divonis
hukuman pidana disebut dengan narapidana.
Harsono ( Siahaan, 2008 ) mengatakan bahwa narapidana adalah
seseorang yang telah dijatuhi vonis bersalah oleh hokum dan harus menjalani
hukuman atau sanksi, yang kemudian akan ditempatkan di dalam sebuah
bangunan yang disebut rutan, penjara atau lembaga pemasyarakatan.
Narapidana yang sedang menjalani hukuman pidana tidak hanya akan
mengalami hukuman secara fisik, tetapi juga mengalami hukuman secara
psikologis seperti kehilangan kebebasan dan kasih sayang dari pasangan,
anak, maupun orang tuanya. Frank ( Siahaan, 2008 ) menambhakan bahwa
dampak fisik dan psikologis yang dialami narapidana dapat membuat
narapidana merasakan perasaan tidak bermakna yang ditandai dengan
perasaan hampa, gersang, bosan dan penuh dengan keputusasaan.
Rahmawati ( Shofia, 2009 ) melalui penelitiannya tentang kepercayaan diri
narapidana pasca hukuman pidana menyatakan bahwa pada dasarnya mantan
narapidana memiliki harga diri rendah dan konsep diri yang negative. Secara
garis besar hal ini disebabkan karena masyarakat cenderung menolak
kehadiran mereka dalam kehidupan yang normal. Penolakan masyarakat
terhadap narapidana dianggap sebagai masalah yang harus diwaspadai.
1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Mahasiswa bisa menguraikan asuhan keperawatan jiwa pada narapidana
b. Tujuan Khusus
a) Mengetahui defenisi dari narapidana
b) Mengetahui penyebab dari narapidana
c) Mengetahui tanda dan gejala dari masalah yang terjadi pada
narapidana
d) Mengetahui rentang respon dari masalah yang terjadi pada narapidana
e) Mengetahui bagaimana pohon masalah dari masalah yang terjadi pada
narapidan tersebut
f) Mengetahui diagnosa, kriteria hasil dan intervensi dari masalah
keperawatan jiwa yang terjadi pada narapidana
3.1 Manfaat
a. Untuk masyarakat
Sebagai bahan informasi untuk menambah pengetahuan kesehatan jiwa
pada narapidana
b. Untuk mahasiswa
Sebagai bahan pembelajaran yang dapat bermanfaat sebagai bahan
pembanding tugas serupa
c. Untuk tenaga kesehatan
Bisa dijadikan bahan acuan untuk melakukan tindakan asuhan
keperawatan kesehatan jiwa pada kasus narapidana
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Narapidana adalah orang-orang sedang menjalani saksi kurungan atau
saksi lainnya, menurut perundang-undangan.Pengertian narapidana menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang hukuman (orang yang sedang
menjalani hukuman karena tindak pidana) atau terhukum. Menurut Pasal 1
Undang-Undang Nomor : 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan,
narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di
Lembaga Permasyarakatan.
Karena terkucilkan dari masyarakat umum, berbagai masalah kejiwaan
narapidana kemungkinan akan muncul, diantaranya :
1. Harga diri rendah dan Konsep diri yang negative
2. Risiko bunuh diri

2.2 Penyebab Gejala


Harga diri rendah sering disebabkan karena adanya koping individu yang
tidak efektif akibat adanya kurang umpan balik positif, kurangnya system
pendukung kemunduran perkembangan ego, pengulangan umpan balik yang
negatif, difungsi system keluarga serta terfiksasi pada tahap perkembangan
awal.
Menurut Carpenito, L.J koping individu tidak efektif adalah keadaan
dimana seorang individu mengalami atau beresiko mengalami suatu
ketidakmampuan dalam mengalami stessor internal atau lingkungan dengan
adekuat karena ketidakkuatan sumber-sumber (fisik, psikologi, perilaku atau
kognitif).
Sedangkan menurut Townsend, M.C koping individu tidak efektif
merupakan kelainan perilaku adaptif dan kemampuan memecahkan masalah
seseorang dalam memenuhi tuntutan kehidupan dan peran. Adapun Penyebab
Gangguan Konsep Diri Harga Diri Rendah, yaitu :
a. Faktor Presdisposisi
Faktor predisposisi terjadinya harga diri rendah adalah penolakan
orangtua, penolakan orangtua yang tidak realistis, kegagalan yang
berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang tidak realistis.
b. Faktor Presipitasi
Faktor Presipitasi Terjadinya harga diri rendah biasanya adalah
kehillangan bagian tubuh, perubahan penampilan/bentuk tubuh, kegagalan
atau produktifitas yang menurun. Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah :
a) Mengejek dan mengkritik diri
b) Merasa bersalah dan khawatir, menghukum dan menolak diri sendiri
c) Mengalami gejala fisik, misal : tekanan darah tinggi
d) Menunda keputusan
e) Sulit bergaul
f) Menghindari kesenangan yang dapat meberi rasa puas
g) Menarik diri dari realitas, cemas, panic, cemburu, curiga, halusinasi
h) Merusak diri : harga diri rendah menyokong pasien untuk mengakhiri
hidupnya
i) Merusak/melukai orang lain
j) Perasaan tidak mampu
k) Pandangan hidup yang pesimistis
l) Tidak menerima pujian
m) Penurunan produktivitas
n) Penolakan terhadap kemampuan diri
o) Kurang memerhatikan perawatan diri
p) Berpakaian tidak rapih
q) Berkurang selera makan
r) Tidak berani menatap lawan bicara
s) Lebih banyak menunduk
t) Bicara lambat dengan nada suara lemah
2.3 Tanda Dan Gejala
Menurut mustika Sari tanda dan gejala klien dengan isolasi sosial yaitu :
a. Kurang spontan;
b. Apatis (kurang acuh terhadap lingkungan);
c. Ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih);
d. Afek tumpul;
e. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri;
f. Komunikasi verbal menurun atau tidak ada Klien tidak bercakap-cakap
dengan klien lain atau perawat;
g. Mengisolasi/menyendir;
h. Klien tampak memisahkan diri dari orang lain;
i. Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitar;
j. Pemasukan makanan dan minuman terganggu;
k. Aktivitas menurun, kurang energi (tenaga);
l. Harga diri rendah;
m. Menolak hubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan
atau pergi jika diajak bercakap-cakap.

2.4 Rentang Respon


Berdasarkan bukukeperawatan jiwa dari Stuart menyatakan bahwa manusia
adalah mahluk sosisal, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan, mereka
harus membina hubungan interpersonal positif. Individu juga harus membina
saling tergantung yang merupakan keseimbangan antara ketergantungan dan
kemandirian dalam suatu hubungan.

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Menyendiri Kesepian Manipulasi


Otonomi Menarik Diri Impulsif
Kebersamaan Ketergantungan Narkisisme
Saling Ketergantungan
a. Menyendiri (Solitude)
Merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang
telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri
untuk menentukan langkah selanjutnya. Solitude umumnya dilakukan
setelah melakukan kegiatan.
b. Otonomi
Merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-
ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
c. Kebersamaan (Mutualisme)
Mutualisme adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal di mana
individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima.
d. Saling ketergantungan (Intedependen)
Intedependen merupakan kondisi saling ketergantungan antar individu dengan
orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
e. Kesepian
Merupakan kondisi di mana individu merasa sendiri dan terasing dari
lingkungannya.
f. Isolasi Sosial
Merupakan suatu keadaan di mana seseorang menemukan kesulitan dalam
membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
g. Ketergantungan (Dependen)
Dependen terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri
atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses. Pada gangguan
hubungan sosial jenis ini orang lain diperlakukan sebagai objek,
hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang lain, dan individu
cenderung berorientasi pada diri sendiri atau tujuan, bukan pada orang
lain.
h. Manipulasi
Merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang
menganggap orang lain sebagai objek. Individu tersebut tidak dapat
membina hubungan sosial secara mendalam.
i. Impulsif
Individu impulsif tidak mampu merencakan sesuatu, tidak mampu belajar
dari pengalaman, tidak dapat diandalkan, dan penilaian yang buruk.
j. Narkikisme
Pada individu narsisme terdapat harga diri yang rapuh, secara terus
menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, sikap
egosentrik, pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung.

2.5 Pohon Masalah

Resiko Gangguan Persepsi


Sensori Halusinasi

Effect

Isolasi Sosial

CoreProblem

Harga Diri Rendah

Causa
NO DIAGNOSA PERENCANAAN
TGL DX KEPERAWATAN TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL
1 2 3 4 5 6 7
Isolasi sosial 1. Klien dapat 1.1 ekspresi wajah bersahabat 1 1.1.1 bina hubungan saling Hubungan saling
membina menunjukan rasa senang ada kontak percaya dengan percaya
hubungan mata, mau berjabat tangan, mau mengngkapkan prinsip merupakan dasar
saling menjawab salam, klien mau duduk komunikasi terapeutik. untuk kelancaran
percaya berdampingan dengan perawat, mau a. Sapa klien dengan hubungan
mengutarakan masalah yang dihadapi ramah baik verbal interaksi
maupun non verbal . selanjutnya.
b. Perkenalkan diri
dengan sopan.
c. Tanyakan nama
lengkap klien dan
nama panggilan yang
disukai klien.
d. Jelaskan tujuan
pertemuan
e. Jujur dan menepati
janji
f. Tunjukan sifat empati
dari menerima klien
apa adanya.
g. Beri perhatian kepada
klien dan perhatikan
kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat 2.1 klien dapat menyebutkan 2.1.1 kaji pengetahuan klien Diketahuinya
menyebutka penyebab menarik diri yang tentang perilaku penyebab akan
n penyebab berasal dari: menarik diri dan dapat
menarik diri - diri sendiri tanda-tandanya . dihubungkan
- orang lain 2.1.2 beri kesempatan dengan faktor
- lingkungan kepada klien untuk resipitasi yang
mengungkapkan dialami klien.
perasaan penyebab
menarik diri atau tidak
mau bergaul
2.1.3 diskusikan bersama
klien tetang perilaku
menarik diri dan
tanda-tanda serta
penyabab yang muncul
2.1.4 berikn pujian terhadap
kemampuan klien
dalam menggunakan
perasaannya.
3. Klien dapat 3.1 klien dapat 3.1.1 kaji pengetahuan klien Klien harus
menyebutka menyebutkan tentang manfaat dan dicoba
n keuntungan keuntungan berinteraksi
keuntungan berhubungan dengan berhubungan dengan secara bertahap
berhubungan orang lain. orang lain. agar terbiasa
dengan 3.1.2 beri kesempatan membina
orang lain dengan klien untuk hubungan yang
dan kerugian mengungkapkan sehat dengan
tidak perasaan tentang orang lain
berhubungan keuntungan
dengan berhubungan dengan
orang lain orang lain.
3.1.3 diskusikan bersma
klien tentang
keuntungan
berhubungan dengan
orang lain.
3.1.4 beri reinforcement
positif terhadap
3.2 klien dapat kemampuan
menyebutkan kerugian pengungkapan
tidak berhubungan perasaan tentang
dengan orang lain. keuntungan
berhubungan dengan
orang lain.
3.2.1 kaji pengetahuan klien
tentang manfaat dan Mengevaluasi
kerugian tidak manfaat yang
berhubungan dengan dirasakan klien
orang lain. sehingga timbul
3.2.2 Beri kesempatan motivasi untuk
kepada klien untuk berinteraksi
mengungkapkan
perasaan tentang
kerugian tidak
berhubungan dengan
orang lain.
3.2.3 Diskusikan bersama
klien tentang kerugian
tidak berhubungan
dengan orang lain.
3.2.4 Beri reinforcement
positif terhadap
kemampuan
pengungkapan
perasaan tentang
kerugian tidak
berhubungan dengan
orang lain.
4. Klien dapat 4.1 klien dapat 4.1.1 kaji kemampuan klien
melaksanaka mendemonstrasikan membina hubungam
n hubungan hubungan sosial scara dengan orang lain.
sosial scara bertahap, antara: 4.1.2 dorong dan bantu klien
bertahap. K-P untuk berhubungan
K-P-K dengan orang lain
K-P-K-Kel melalui tahap :
K-P-K-Klp K-p
K-P-P Lain
K-P-P lain – K lain
K-P-Kel/Klp/Masy
4.1.3 beri reinforcement
terhadap keberhasilan
yang dicapai.
4.1.4 Bantu klien untuk
mengevaluasi manfaat
berhubungan
4.1.5 Diskusikan jadwal
harian yang dapat
dilakukan bersama
klien dalam mengisi
waktu
4.1.6 Motivasi klien untuk
mengikuti kegiatan
ruangan.
4.1.7 Beri reinforcement
atas kegiatan klien
dalam ruangan.
5. Klien dapat 5.1 klien dapat 5.1.1 dorong klien untuk
mengungkap mengungkapkan mengungkapkan
kan perasaannya setelah perasaannya bila
perasaannya berhubungan dengan berhubungan dengan
setelah orang lain : orang lain.
berhubungan - diri sendiri 5.1.2 Deskusikan dengan
dengan - orang lain klien tentang manfaat
orange lain. berhubungan dengan
orang lain
5.1.3 Beri reinforcement
positif atas
kemampuan klien
mengungkapkan klien
manfaat berhubungan
dengan orang lain
6. Klien dapat 6.1 keluarga dapat: 6.1.1 bisa berhubungan saling Keterlibatan
memberdaya - menjelaskan perasaannya percaya dengan keluarga sangat
kan system - menjelaskan cara merawat keluarga : mendukung
pendukung klien manarik diri. - salam, perkenalkan diri terhadap proses
atau - Mendemonstrasikan cara - sampaikan tujuan perubahan
keluarga perawatan klien menarik - buat kontrak perilaku klien.
mampu diri - eksplorasi perasaan
mengemban - Berpartisipasi dalam keluarga
gkan perawatan klien menarik 6.1.2 diskusikan dengan
kemampuan diri. anggota keluarga
klien untuk tentang :
berhubungan - perilaku menarik diri
dengan - penyebab perilaku
orang lain. manrik diri
- akibat yang akan terjadi
jika perilaku manrik diri
tidak ditanggapi
- cara keluarga
menghadapi klien
menarik diri
6.1.3 dorong anggota
keluarga untuk
memberikan dukungan
kepada klien untuk
berkomunikasi dengan
orang lain.
6.1.4 Anjurkan anggota
keluarga secara rutin
dan bergantian
menjenguk klien
minimal satu minggu
sekali
6.1.5 Beri reinforcement atas
hal-hal yang telah
dicapai oleh keluarga
Harga diri rendah 1. Klien dapat 1.1 ekspresi wajah bersahabat 1.1.1 1 bina hubungan saling Hubungan saling
kronik membina menunjukan rasa senang, ada kontak percaya dengan percaya
hubunga mata, mau berjabat tangan,mau mengngkapkan prinsip merupakan dasar
saling menjawab salam, klien mau duduk komunikasi terapeutik. untuk interaksi
percaya berdampingan dengan perawat, mau a. Sapa klien dengan selanjutnya
mengutarakan masalah yang dihadapi. ramah baik verbal
maupun non verbal .
b. Perkenalkan diri
dengan sopan.
c. Tanyakan nama
lengkap klien dan
nama panggilan yang
disukai klien.
d. Jelaskan tujuan
pertemuan
e. Jujur dan menepati
janji
f. Tunjukan sifat empati
dari menerima klien
apa adanya.
g. Beri perhatian kepada
klien dan perhatikan
kebutuhan dasar klien
2. Klen dapat 2.1 klien mengidentofokasi 2.1.1 diskusikan Diskusikan
mengidentifi kemampuan dan aspek kemampuan dan tingkat
kasi positif yang dimiliki: aspek positif yang kemampuan klen
kemampuan dimiliki klien. seperti menilai
- kemampuan yang dimiiki
dan aspek realitas, kontrol
klien 2.1.2 Setiap bertemu
positif yang diri atau integritas
klien hindarkan
dimliki. - aspek positif keluarga ego sebagai dasar
dari member nilai
asuha
- aspek positif lingkungan negative
keperawatan.
yang dimiliki klien
2.1.3 Utamakan
Reinforcement
member pujian
positif akan
yang realistik meningkatkan
harga diri.

Pujian yang
realistis tidak
menyebabkan
melakukan
kegiatan hanya
karna ingin
mendapat pujian.

3. Klie dapat 3.1 klien menilai kemampuan 3.1.1 diskusikan dega Keterbukaan dan
menilai yang digunakan. klien kemampua pengertian tentang
kemampuan yang masih dapat kemampuan yang
yang digunakan selama dimiliki adalah
digunakan sakit. prasarat untuk
berubah.
3.1.2 Diskusikan
kemampuan yang Pengertian tentan
dapat dilanjutkan kemampuan yang
penggunaan dimiliki diri
motivasi untuk
tetap
mempertahankan
penggunaanya.

4. Klien dapat 4.1 klien membuat rencana kegiatan 4.1.1 rencanakan bersama Klien adalah
(menetapkan harian. klien aktivitas yang dapat individu ang
kegiatan dilakukan setiap hari sesuai bertanggung
sesuai kemampuan : jawab terhadap
dengan dirinya sendiri.
 Kegiatan mandiri
kemampuan
Klien perlu
yang  Kegiatan dengan
bertindak secara
dimiliki bantuan sebagian
realistis dalam
 Kegiatan yang
membutuhkan bantuan kehidupannya.
total
Contoh peran
4.1.2 tingkatkan kegiatan yang dilihat klien
yang sesuai dengan toleransi akan memotivasi
kondisi klien klien utuk
melaksanakan
4.1.3 beri contih cara
kegiatan.
pelaksanaan kegiatan yang
boleh klien lakukan.

5. Klien dapat 5.1 klien melakukan kegiatan 5.1.1 beri kesempatan Memberikan
melakukan sesuia kondisi sakit dan kepada klien kesempatan
kegiatan kemampuannya. untuk mencoba kepada klien
sesuia kegiatan yang mandiri dirumah.
kondisi telah
Reinforcement
sakit. direncanakan.
positif akan
5.1.2 Beri pujian atas meingkatkan
keberhasilan klien harga diri.
Memberikan
5.1.3 Diskusikan kesempatan
kemungkinan kepada klien
pelaksanaan untuk tetap
dirumah melakukan
kegiatan yang
biasa dilakukan.

6. Klien dapat 6.1 klien memanfaatkan system 6.1.1 beri pendidikan Mendorong
memanfaatk pendukung yang ada kesehatan pada keluarga untuk
an system dikelurga keluarga tetang mampu merawat
pendukung cara merawat klien mandiri
yang ada klien dengan dirumah
harga dirirendah
Support system
kronik.
keluarga akan
6.1.2 Bantu keluarga sangan
memberikan berpengaruh
dukungan selama dalam
klien dirawat. mempercepat
proses
6.1.3 Bantu keluarga
penyembuhan.
menyiapkan
lingkungan Meningkatkan
dirumah. peran serta
keluarga dlam
merawat klien
dirumah

1 Gangguan persepsi 1. Klien dapat 1.1 ekspresi wajah bersahabat 1.1 1 bina hubungan saling Hubungan saling
sensori : Halusinasi embina menunjukan rasa senang ada kontak percaya dengan percaya
hubungan mata, mau berjabat tangan, mau mengngkapkan prinsip merupakan dasar
saling menjawab salam, klien mau duduk komunikasi terapeutik. untuk kelancaran
percaya berdampingan dengan perawat, mau a. Sapa klien dengan hubungan
mengutarakan masalah yang dihadapi ramah baik verbal interaksi
maupun non verbal . selanjutnya.
b. Perkenalkan diri
dengan sopan.
c. Tanyakan nama
lengkap klien dan
nama panggilan yang
disukai klien.
d. Jelaskan tujuan
pertemuan
e. Jujur dan menepati
janji
f. Tunjukan sifat empati
dari menerima klien
apa adanya.
g. Beri perhatian kepada
klien dan perhatikan
kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat 2.1 klien dapat menyebitkan waktu 2.1.1 adakan kotak serig dan Kontak sering tapi
mengenali isi frekuensi timbulnya singkat secara bertahap singkat selain
halusinasiny halusinasi. membina
Observasi tingkah laku klien
a hubungan saling
2.2 Klien dapat mengungkapkan terkait dengan halusinasinya;
percaya juga
perasaan terhadap halusinasi bicara dan tertawa tanpa
dapat
stimulus, memandang ke kiri memutuskan
atau ke kanan seolah- olah halusinasi.
adateman bicara
Mengenal
2.1.3 bantu klien mengenali perilaku pada saat
halusinasinya . halusinasi timbul
memudahkan
a. Jika menemukan yag
perawat dalam
sedang halusinasi,
melakukan
tanyakan apakah ada
intervensi
suara yang didengar
Mengenal
b. Jika klien menjawab
halusinasi
ada, lanjutkan: apa
memungkinkan
yang dikatakan
klien untuk
c. Katakana bahwa mengindarka
perawat percaya klien faktor pencetus
mendengar suara itu, timbulnya
namun perawat sendiri halusinasi.
tidak mendengarnya
(dengan nada
bersahabat tanpa
menuduh atau
menghakimi).

d. Katakana bahwa klien


ada juga yang seperti
klien.

2.1.4 diskusikan dengan klien

a. Situasi yang
menimbulkan
halusinasi.

b. Waktu dan frekuensi


Dengan
terjadinya halusinasi.
mengetahui
2.1.5 dsikusikan dengan klien waktu, isi, dan
apa yang dirasakan jika frekuensi
terjadi halusinasi ( marah atau munculnya
takut, sedih, senang) beri halusinasi
kesempatan mengungkapkan memermudah
perasaannya. tindakan
keperawtan klien
yang akan
dilakukan
perawat.

Untik
mengidentifikasi
pengaruh
halusinasi klien

3. Klien dapat 3.1 klien dapat menyebutkan 3.1.1 identifikasi bersama Upaya untuk
mengontrol tindakan yang biasa dilakukan klien cara tindakan yang memutuskan
halusinasiny untuk mengendalikan dilakukan jika terjadi siklus halusinasi
a halusinasinya. halusinasi ( tidur, marah, sehingga
menyibukan diri dll) halusinasi tidak
3.2 Klien dapat menyebutkan cara
berlanjut
baru 3.1.2 diskusikan manfaat cara
3.3 Klien dapat memilih cara yang dilakukan klien, jika Reinforcement
mengatasi halusinasi seperti bermanfaat beri pujian. positif akan
yang telah didiskusikan dengan meningkatkan
3.1.3 diskusikan cara baru
klien. harga diri klien
untuk memutus atau
mengontrol halusinasi : Memberikan
alternative pilihan
a. Katakana “ saya tidak
bag klien untuk
mau dengar kamu”
mengontrol
(pada saat halusinasi
halusinasi
terjadi)

b. Menemui orang lain


(perawat/teman/anggo
ta keluarga) untik
bercakap-cakap atau
mengatakan halusinasi
yang terdengar.

c. Membuat jadwal
kegiatan sehari-hari
agar halusinaai tidak
muncul.

d. Minta
keluarga/teman/peraw
at jika Nampak bicara
sendiri
Memotovasi dapat
3.1.4 bantu klien memilih dan meningkatkan
melatih cara memutus kegiatan klien
halusinasi secara bertahap untuk mencoba
memilih salah
satu cara
mengendalikan
halusinasi dan
dapat
meningkatkan
harga diri klien
4. klien dapat 4.1 Klien dapat membina 4.1.1 anjurkan klien untuk Untuk
dukungan hubungan saling percaya member tahu keluarga jika mendapatkan
dari keluarga dengan perawat mengalami halusinasi. bantuan keluarga
dalam mengontrol
4.2 Keluarga dapat menyebutkan 4.1.2 diskusikan dengan
mengontrol halusinasi
pengertian, tanda dan kegiatan keluarga ( pada saat
halusinasi
untuk mengendalikan berkunjung/pada saat Untuk mengetahu
halusinasi kunjungan rumah): pengetahuani
keluarga dan
a. Gejala halusinasi yang
meningkatkan
dialami klien
kemampuan
b. Cara yang dapat pengetahuan
dilakukan klien dan tentang halusinasi
keluarga untuk
memutus halusinasi.

c. Cara merawat anggota


keluarga untuk
memutus halusinasi
dirumah, beri
kegiatan, jangan
biarkan sendiri, makan
bersama, berpergian
bersama.

d. Beri informasi waktu


follow up atau kapan
perlu mendapat
bantuan: halusinasi
terkontrol dan risiko
mencederai orang lain.

5. Klien dapat 5.1 klien dan keluarga dapat 5.1.1 diskusikan dengan klien Dengan
memanfaatk menyebutkan manfaat , dosis dan keluarga tentang dosis, menyebutkan
an bat dan efek samping obat. frekuensi manfaat obat dosis,frekuensi
dengan baik. dan manfaat obat.
5.2 Klien dapat 5.1.2 anjurkan klien minta
mendemonstrasikan sendiri abat pada perawat dan Diharapkan klien
pengguanaan obat secara benar merasakan manfaatnya melaksanakan
program
5.3 Klien dapat informasi tentang
efek samping obat pengobatan.
Menilai
5.4 Klien dapat memahami akibat 5.1.3 anjurkan klien bicaa
kemampuan klien
berhenti minum obat . dengan dokter tentang
dalam
manfaat dan efek samping
5.5 Klien dapat menyebutkan pengobatannya
obat yang dirasakan
prinsip 5 benar penggunaan sendiri
obat 5.1.4 diskusikan akibat
Dengan
berhenti minum obat tanpa
mengetahui efek
konsultasi
samping obat
klien akan tahu
apa yang harus
dilakukan setelah
5.1.5 bantu klien minum obat
menggunakan obat dengan
Program
prinsip benar.
pengobatan dapat
berjalan sesuai
rencana
Dengan
mengetahui
prinsip
penggunaan obat,
maka kemandirian
klien unruk
pengobatan dapat
ditingkatkan
secara bertahap.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Article 1

3.2 Article 2

3.3 Artikel 3

3.4 Artikel 4

3.5 Artikel 5
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran