Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pendidikan merupakan modal yang sangat penting dalam proses
pembangunan. Melalui dunia pendidikan kualitas yang dimiliki oleh seseorang
tentunya akan lebih meningkat tidak hanya dari segi intelektual saja tetapi juga
melatih emosional dan spiritual. Secara tidak langsung seseorang yang memiliki
pendidikan yang tinggi dengan sendirinya akan mengangkat drajat orang tersebut
di dalam lapisan masyarakat. Begitu pentingnya dunia pendidikan ini di berbagai
kalangan masyarakat luas, khususnya Indonesia.Indonesia adalah negara yang
berhasil merdeka karena salah satu faktornya yakni pendidikan. Pendidikan
mampu membawa bangsa ini lepas dari belenggu penjajahan yang bertahan
ratusan tahun lamanya. Pendidikan di Indonesia memang mengalami situasi yang
terus berkembang. Hal ini dapat kita lihat melalui perkembangan kurikulum yang
berlaku di Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga saat ini.
Johnson dan Rising (1972) dalam bukunya mengatakan bahwa
Matematika adalah pola pikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik,
Matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan
dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih
berupa bahasa simbol mengenai ide dari pada mengenai bunyi. Sementara Reys,
dkk. (1984) mengatakan bahwa Matematika adalah telaah tentang pola dan
hubungan, suatu jalan atau pola pikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat.
Berdasarkan pendapat di atas, maka disimpulkan bahwa ciri yang sangat penting
dalam Matematika adalah disiplin berpikir yang didasarkan pada berpikir logis,
konsisten, inovatif dan kreatif.
Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung,
mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus Matematika yang diperlukan
dalam kehidupan sehari-hari melalui pengukuran dan geometri, aljabar, peluang
dan statistik, kalkulus dan trigonometri. Matematika juga berfungsi
mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model

1
Matematika yang dapat berupa kalimat Matematika dan persamaan Matematika,
diagram, grafik atau tabel.
Dalam proses pembelajaran matematika menunjukkan bahwa kegiatan
belajar mengajar matematika yang dilakukan oleh peserta didik tidak selalu
berjalan sukses dan lancar. Adapun permasalahan yang sering muncul dalam
pembelajaran matematika yaitu: (1) siswa terkadang masih belum siap saat
mengikuti pelajaran, yakni sebagian siswa masih ada yang kurang memperhatikan
penjelasan dari guru sehingga siswa tidak bisa menjawab saat diberikan
pertanyaan oleh guru; (2) siswa yang belum paham mengenai materi yang
diajarkan terkadang hanya diam, dan tidak mau bertanya pada guru maupun teman
lainnya; (3) kebanyakan siswa juga masih kurang antusias untuk mengulas
kembali materi-materi yang telah diberikan jika tidak ada tugas rumah dari guru.
Hal ini berakibat pada situasi yang tidak proposional, guru sangat aktif tetapi
sebaliknya siswa menjadi sangat pasif dan tidak kreatif. Bahkan masih ada
anggapan yang keliru, yang memandang guru sebagai sumber ilmu satu-satunya
dan siswa sebagai objek sehingga siswa kurang dapat mengembangkan
potensinya.
Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan peneliti di SMK
Muhammadiyah 6 Medan, ditemukan beberapa masalah yang terkait dengan
proses pembelajaran diantaranya adalah: kurangnya kemampuan awal matematika
siswa yang dilihat dari nilai UN Matematika SMP 75% dibawah 5,0; siswa tidak
fokus mendengarkan guru ketika menjelaskan materi melainkan bermain atau
berbicara dengan temannya, berjalan-jalan didalam kelas disaat guru sedang
memberikan materi; ada beberapa siswa yang cenderung menunggu hasil
pekerjaan temannya untuk disalin sebagai jawaban; rata-rata ulangan harian masih
rendah; guru hanya mengandalkan buku paket sebagai sumber belajar;
pembelajaran dikelas belum menggunakan pembelajaran kooperatif, pembelajaran
masih disampaikan secara informatif dan prosedural; penggunaan LKPD dalam
pembelajaran masih kurang, dan interaksi yang terjadi dalam kelas masih
didominasi oleh siswa yang mempunyai kemampuan lebih; kurangnya
penggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalama pembelajaran
matematika.

2
Setelah dicoba dengan berbagai metode ternyata kemampuan siswa dalam
memahami konsep Matematika tidak seperti yang diharapkan. Berdasarkan
kondisi yang demikian maka perlu dikembangkan model pembelajaran yang dapat
meningkatkan hasil belajar mereka, mengerti, berpartisipasi aktif, bekerja
memecahkan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya dan saling
mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya serta dapat membantu teman-
teman yang rendah prestasinya. Hal ini dapat diwujudkan secara intensif dengan
menerapkan suatu model pembelajaran yang tepat, yaitu dengan diterapkan model
pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stay (TSTS).
Model TSTS “Dua tinggal dua tamu” dikembangkan oleh Spencer Kagan
1992 dan biasa digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered
Heads). Struktur TSTS yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi
kepada kelompok lain. Kelebihan dalam model TSTS kecenderungan belajar siswa
menjadi lebih bermakna, lebih berorientasi pada keaktifan, siswa akan berani
mengungkapkan pendapatnya, menambah kekompakan dan rasa percaya diri
siswa. Oleh karena itu penulis tertarik meneliti dengan judul “Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) Siswa Kelas X SMK
Muhammadiyah 6 Medan Tahun Pelajaran 2018/2019”.

2. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas maka


identifikasi dalam penelitian ini adalah:
1. Guru masih sering menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran
matematika
2. Pembelajaran masih terpusat pada guru
3. Kemampuan siswa dalam memahami dan memaknai matematika masih
rendah
4. Kemampuan awal matematika siswa rendah
5. Pembelajaran matematika masih terkonsentrasi pada hal-hal yang
prosedural dan mekanistik.
6. kemampuan siswa dalam memahami konsep Matematika masih rendah

3
7. Pembelajaran cooperative learning masih kurang digunakan guru
matematika dalam pembelajaran disekolah
8. Kurangnya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam
pembelajaran matematika

3. Pembatasan Masalah
Untuk lebih terfokusnya penelitian sesuai dengan topik yang diangkat,
maka dari beberapa masalah yang telah diidentifikasikan tersebut diatas perlu
dilakukan pembatasan masalah agar tidak terjadi pembiasan. Penelitian ini
difokuskan pada implementasi cooperative learning tipe TSTS untuk
meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif siswa kelas X SMK
Muhammadiyah 6 Medan tahun pelajaran 2018/2019, atau dengan kata lain untuk
mengatasi masalah yang terdapat pada poin (6) (7) dan (8) untuk siswa kelas X
SMK Muhammadiyah 6 Medan tahun pelajaran 2018/2019.

4. Rumusan Masalah
Berdasarkan Identifikasi di atas, maka dirumuskan masalah dalam
penelitian ini yaitu, “bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif
Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dalam meningkatkan hasil belajar Matematika
siswa kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 6 Medan ?”.

5. Tujuan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan
hasil belajar Matematika siswa kelas X SMK Muhammadiyah 6 Medan dengan
diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS).

6. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:
a. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan untuk
meningkatkan proses pembelajaran di SMK Muhammadiyah 6 Medan .
b. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam
melakukan penelitian yang sejenis.

4
c. Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam
membuat kebijakan tentang peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah,
melalui pelatihan bagi guru tentang media pembelajaran untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran.
d. Bagi siswa, penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan keaktifan dalam
proses pembelajaran dengan mempergunakan media pembelajaran benda
asli, karena suasana pembelajaran menyenangkan, motivasi belajar siswa
meningkat, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar
siswa.

5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

1. Kajian Teori
1.1. Tinjauan Tentang Belajar
Dalam proses pembelajaran terjadi dua peristiwa yaitu belajar dan
mengajar. Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Belajar mengarah pada apa yang harus
dilakukan siswa sebagai subjek yang menerina pelajaran, sedangkan
mengajar mengarah pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai
pengajar.
Belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan
perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungan, sebagaimana
dikemukakan oleh Hamalik (2004:20) bahwa “Belajar adalah suatu proses
perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”.
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan
proses perubahan tingkah laku yang bersifat internal (datang dari dalam
diri) sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya, guna
untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik fisik maupun mental spiritual.
Proses perubahan perilaku itu ada yang disengaja, direncanakan dan ada
yang terjadi karena proses kematangan. Proses yang disengaja dan
direncanakan itulah yang disebut dengan proses belajra. Perubahan-
perubahan tingkah laku tersebut dapat dilihat dari perubahan-perubahan
pengetahuan, keterampilan, kecakapan, kebiasaan sikap dan perilaku.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses membuat orang
belajar, dari tidak mengenal sesuatu menjadikan orang itu mengenal.
Tujuannya adalah membantu orang belajar, atau manipulasi lingkungan
sehingga member kemudahan bagi orang yang belajar. Menurut Depdiknas
(2004:6), bahwa “Pembelajaran juga didefenisikan sebagai suatu
rangkaian kejadian, peristiwa, kondisi yang secara sengaja dirancang
untuk mempengaruhi pelajar, sehingga proses belajarnya dapat
berlangsung dengan mudah”.

6
Disini siswa dianggap sebagai subjek yang berkembang melalui
pengalaman belajar, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator dan
motivator belajar siswa, artinya guru dianggap sebagai penggerak proses
belajar yang bersifat eksternal (pengaruh dari luar diri siswa). Untuk dapat
melaksanakan tugas mengajar dengan baik, guru diharapkan memiliki
kemampuan professional seperti mengelola kelas, memotivasi siswa dalam
proses pembelajaran, dan pemilihan model pembelajaran yang tepat
sehingga menjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran yang sedang
berlangsung.

1.2. Hakikat Pembelajaran Matematika


Mengetahui Matematika adalah melakukan Matematika. Dalam
belajar Matematika perlu untuk menciptakan situasi-situasi di mana siswa
dapat aktif, kreatif dan responsif secara fisik pada sekitar. Untuk belajar
Matematika siswa harus membangunnya untuk diri mereka. hanya dapat
dilakukan dengan eksplorasi, membenarkan, menggambarkan,
mendiskusikan, menguraikan, menyelidiki, dan pemecahan masalah
(Countryman, 1992: 2). Selanjutnya Goldin (Sri Wardhani, 2004: 6)
Matematika dan dibangun oleh manusia, sehingga dalam pembelajaran
Matematika, pengetahuan Matematika harus dibangun oleh siswa.
Pembelajaran Matematika menjadi lebih efektif jika guru memfasilitasi
siswa menemukan dan memecahkan masalah dengan menerapkan
pembelajaran bermakna.
Dalam pembelajaran Matematika, konsep yang akan dikonstruksi
siswa sebaiknya dikaitkan dengan konteks nyata yang dikenal siswa dan
konsep yang dikonstruksi siswa ditemukan sendiri oleh siswa. Menurut
Freudental (Gravemeijer, 1994: 20) Matematika merupakan aktivitas
insani (human activities) dan pembelajaran Matematika merupakan proses
penemuan kembali. Ditambahkan oleh de Lange (Sutarto Hadi, 2005: 19)
proses penemuan kembali tersebut harus dikembangkan melalui
penjelajahan berbagai persoalan dunia real. Masalah konteks nyata
(Gravemeijer,1994: 123) merupakan bagian inti dan dijadikan starting
point dalam pembelajaran Matematika. Konstruksi pengetahuan

7
Matematika oleh siswa dengan memperhatikan konteks itu berlangsung
dalam proses yang oleh Freudenthal dinamakan reinvensi terbimbing
(guided reinvention).
Pembelajaran Matematika sebaik dimulai dari masalah yang
kontekstual. Sutarto Hadi (2005: 10) menyatakan bahwa masalah
kontekstual dapat digali dari: (1) situasi personal siswa, yaitu yang
berkenaan dengan kehidupan sehari-hari siswa, (2) situasi
sekolah/akademik, yaitu berkaitan dengan kehidupan akademik di sekolah
dan kegiatan-kegiatan dalam proses pembelajaran siswa, (3) situasi
masyarakat, yaitu yang berkaitan dengan kehidupan dan aktivitas
masyarakat sekitar siswa tinggal, dan (4) situasi saintifik/matematik, yaitu
yang berkenaan dengan sains atau Matematika itu sendiri.
Terkait dengan aktivitas matematisasi dalam belajar Matematika,
Van den Heuvel (1996: 11) menyebutkan dua jenis matematisasi, yaitu
matematisasi horizontal dan vertikal dengan penjelasan sebagai
berikut “Horizontal mathematization involves going from the world of life
into the world of symbol, while vertical mathematization means moving
within the world of symbol”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa
matematisasi horizontal meliputi proses transformasi masalah
nyata/sehari-hari ke dalam bentuk simbol, sedangkan matematisasi vertikal
merupakan proses yang terjadi dalam lingkup simbol Matematika itu
sendiri.
Gravemeijer (1994: 93) mengemukakan bahwa dalam proses
matematisasi horizontal, siswa belajar mematematisasi masalah-masalah
kontekstual. Pada mulanya siswa akan memecahkan masalah secara
informal (menggunakan bahasa mereka sendiri). Kemudian setelah
beberapa waktu dengan proses pemecahan masalah yang serupa (melalui
simplifikasi dan formalisasi), siswa akan menggunakan bahasa yang lebih
formal dan diakhiri dengan proses siswa akan menemukan suatu
algoritma. Proses yang dilalui siswa sampai menemukan algoritma disebut
matematisasi vertikal.

8
Menurut Sutarto Hadi (2005: 21) dalam matematisasi horizontal,
siswa mulai dari masalah-masalah kontekstual mencoba menguraikan
dengan bahasa dan simbol yang dibuat sendiri oleh siswa, kemudian
menyelesaikan masalah kontekstual tersebut. Dalam proses ini, setiap
siswa dapat menggunakan cara mereka sendiri yang mungkin berbeda
dengan siswa yang lain, sedangkan dalam matematisasi vertikal, siswa
juga mulai dari masalah-masalah kontekstual, tetapi dalam jangka panjang
siswa dapat menyusun prosedur tertentu yang dapat digunakan untuk
meyelesaiakan masalah-masalah sejenis secara langsung, tanpa
menggunakan bantuan konteks. Contoh matematisasi horizontal adalah
pengidentifikasian, perumusan, dan pemvisualisasian masalah dengan
cara-cara yang berbeda oleh siswa. Contoh matematisasi vertikal adalah
presentasi hubungan-hubungan dalam rumus, menghaluskan dan
menyesuaikan model Matematika, penggunaan model-model yang
berbeda, perumusan model Matematika dan penggeneralisasian.
Zulkardi (2006: 6) menyatakan pembelajaran seharusnya tidak
diawali dengan sistem formal, melainkan diawali dengan fenomena di
mana konsep tersebut muncul dalam kenyataan sebagai sumber formasi
konsep. Menurut de Lange (1987: 2) proses pengembangan konsep-konsep
dan ide-ide Matematika berawal dari dunia nyata dan pada akhirnya
merefleksikan hasil-hasil yang diperoleh dalam Matematika kembali ke
dunia nyata.
Berdasarkan uraian di atas maka secara umum Hakekat
Pembelajaran Matematika sebagai berikut:
 Matematika pelajaran tentang suatu pola/ susunan dan hubungan
 Matematika adalah cara berfikir
 Matematika adalah bahasa
 Matematika adalah suatu alat
 Matematika adalah suatu seni

9
1.3. Hasil Belajar Matematika
Belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu yang
belajar. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang
kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan
pengalaman yang dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses
belajar di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991: 768), Hasil belajar
adalah hasil yang dicapai (dilakukan, dikerjakan), dalam hal ini Hasil
belajar merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang
diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang membutuhkan
pikiran.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa hasil belajar yang
dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya
setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar
tersebut dapat diketahui dengan megadakan penilaian tes hasil belajar.
Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah berhasil
mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat
mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar
di sekolah.
Sejalan dengan hasil belajar, maka dapat diartikan bahwa hasil
belajar Matematika adalah nilai yang dipreoleh siswa setelah melibatkan
secara langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif
(pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam proses
belajar mengajar Matematika .

1.4. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)


Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model
pembelajaran yang menekankan kerja sama antara siswa dalam kelompok,
dengan saling mendiskusikan suatu konsep antara siswa dengan temannya
akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep tersebut.
Pembelajaran kooperatif bercirikan siswa belajar dalam kelompok-
kelompok kecil yang heterogen berdasarkan perbedaan kemampuan

10
akedemik, jenis kelamin dan etnis dengan jumlah anggota kelompok
dalam satu kelompok terdiri atas empat sampai enam orang.
Ciri pembelajaran kooperatif adalah siswa belajar dalam
kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda,
dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap anggota kelompok saling
bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu materi pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif mengajak siswa untuk belajar saling menghargai
antar dan sesama, mencoba untuk saling memberi pengetahuan, mencoba
mendapatkan sendiri hasil dari demonstrasi dan diskusinya.
Johnson dalam Nur Asma (2008:8) mengemukakan lima unsur
dasar yang terdapat dalam struktur pembelajaran kooperatif, yaitu : ”1)
saling ketergantungan positif, 2) tanggung jawab perorangan, 3) tatap
muka, 4) komunikasi antar anggota, dan 5) evaluasi proses kelompok”.
Pembagian siswa dalam pengajaran kelompok kecil menurut Joice
dalam Dimyati dan Mudjiono (2002:166), ada beberapa manfaatnya yaitu :
a. Memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk
mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara
rasional.
b. Mengembangkan sikap sosial dan semangat gotong royong
dalam kehidupan.
c. Mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga
tipa kelompok merasa diri sebagai bagian kelompok yang
bertanggung jawab.
d. Mengembangkan kemampuan, kepemimpinan,
keterampilan pada tiap anggota kelompok dalam
pemecahan kelompok.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, namun siswa juga harus
mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan
kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan
hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan
mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan peranan

11
tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama
kegiatan berlangsung.
Dengan demikian melalui pembelajaran kooperatif siswa dapat
memperoleh keterampilan berlatih disiplin, tanggung jawab dan saling
menghormati, serta dengan sendirinya siswa akan aktif dalam proses
pembelajaran. Pembelajaran kooperatif ini banyak jenisnya dan
diharapkan kepada guru untuk dapat memilih tipe atau model yang cocok
pada bidang studi yang akan di ajarkan kepada siswa.
Ada beberapa variasi model pembelajaran kooperatif menurut
Lufri (2006:51) yaitu : ”1) Student Teams Achievement Division (STAD),
2) Jigsaw, 3) Group Investigation (GI), 4) Think-Pair-Share dan 5)
Numbered-Head-Together 6) Two Stay Two Stray (TSTS).
Pemilihan model pembelajaran yang tepat sangat penting dalam
proses pembelajaran karena tidak semua materi pelajaran cocok pada satu
model pembelajaran. Penulis tertarik memilih model pembelajaran
Kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS). Selain merupakan salah satu
model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, juga model TSTS
ini cocok untuk mata pelajaran Matematika mulai dari tingkat dasar
sampai perguruan tinggi, seperti yang dikemukan oleh Nur (2008:53)
bahwa ”TSTS telah digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran dari
Matematika, Bahasa dan Ilmu-Imu Sosial mulai dari Sekolah Dasar
sampai Perguruan Tinggi”.

1.5. Model Two Stay Two Stray (TSTS)


1.5.1. Pengertian Model Two Stay Two Stray
Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray
dikembangkan pertama kali oleh Spencer Kagan (1990). Dengan struktur
kelompok kooperatif seperti Two Stay Two Stray ini dapat memberikan
kesempatan kepada tiap kelompok untuk saling berbagi informasi dengan
kelompok-kelompok lain.
Adapaun struktur kelompok model pembelajaran kooperatif tipe
Two Stay Two Stray adalah sebagai berikut:

12
 Heterogen
Setiap kelompok terdiri dari siswa dengan latar belakang beragam,
baik kemampuan akademis, jenis kelamin, maupun status sosial.
 Jumlah Siswa
Jumlah siswa di dalam sebuah kelompok koperatif tipe ini terdiri
atas 4 – 5 orang siswa
 Siapa Tinggal, Siapa Berpencar?
Di dalam kelompok siswa akan menentukan siapa yang akan
tinggal (stay) dan siapa yang akan berpencar (Stray)

1.5.2. Langkah-langkah Two Stay Two Stray


Adapun langkah-langkah pelaksanaan / implementasi Model
Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray adalah sebagai berikut:
1. Pembagian kelompok. Pada langkah ini guru membagi siswa dalam
kelompok-kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 4 sampai 5
siswa.
2. Pemberian tugas. Di langkah kedua ini guru memberikan sub pokok
bahasan tertentu atau tugas-tugas tertentu kepada setiap kelompok
untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompoknya masing-
masing.
3. Diskusi: Siswa mengerjakan tugas. Pada kegiatan ini siswa-siswa di
dalam setiap kelompok bekerja sama untuk menyelesaikan tugas yang
diberikan oleh guru.
4. Tinggal atau berpencar? Setelah setiap kelompok selesai
mengerjakan tugas yang diberikan maka setiap kelompok menentukan
2 anggota yang akan stay (tinggal) dan 2 anggota yang akan Stray
(berpencar) ke kelompok lain.

13
Struktur kelompok model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray

5. Berbagi. Pada langkah kelima ini, semua siswa saling berbagi apa
yang telah mereka kerjakan untuk menyelesaikan tugas dari guru
(catatan: siswa pada langkah ini saling menjelaskan, presentasi,
bertanya, dan melakukan konfirmasi, lalu mencatat apa-apa yang
didapatnya dari kelompok lain). Dua anggota kelompok yang tinggal
di dalam kelompok bertugas membagi informasi dan hasil kerja
mereka kepada 2 orang tamu dari kelompok lain yang akan berkunjung
ke kelompok mereka.
6. Diskusi kelompok. Tahap selanjutnya adalah semua anggota
kelompok kembali ke kelompok yang semula dan melaporkan apa
yang mereka temukan dari kelompok lain.
7. Diskusi kelas. Setiap kelompok kemudian membandingkan dan
membahas hasil pekerjaan mereka semua dalam sebuah diskusi kelas
dengan fasilitasi oleh guru.
1.5.3. Kelebihan dan Kelemahan Two Stay Two Stray
Adapun kelebihan-kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif tipe
Two Stay Two Stray adalah sebagai berikut:

14
 Implementasi
Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat
diimplementasikan untuk berbagai kelas atau tingkatan usia.
 Belajar Bermakna
Kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna
memberikan kesempatan terhadap siswa untuk membentuk konsep
secara mandiri dengan cara-cara mereka sendiri dan melalui metode-
metode pemecahan masalah.
 Siswa Aktif
Implementasi model pembelajaran kooperatif ini tentu saja
dapat membuat siswa aktif. Bila siswa belum terbiasa, memang
pembelajaran serasa macet, tetapi bila telah beberapa kali dilaksanakan
maka jalannya akan lebih mulus, karena setiap siswa mempunyai hasil
dan tanggung jawab masing-masing untuk kelompoknya.
 Meningkatkan Motivasi Belajar
Dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Two
Stay Two Stray ini guru dapat meningkatkan motivasi belajar siswa,
karena setiap siswa mempunyai tanggung jawab belajar, baik untuk
dirinya sendiri maupun kelompoknya. Hal ini tampak sekali pada saat
mereka saling bertukar informasi.
 Bertukar Informasi
Saat siswa berpencar, maka setiap anggota kelompok akan
saling bertukar informasi dengan kelompok lain. Setiap kelompok
akan mendapatkan informasi sekaligus dari dua kelompok yang
berbeda (karena dua orang yang berpencar pergi ke kelompok yang
berbeda), begitupun bagi siswa yang tinggal, juga akan mendapatkan
informasi dari 2 tamu yang datang dari 2 kelompok yang berbeda.
(Perhatikan gambar skema struktur kelompok model pembelajaran
kooperatif tipe Two Stay Two Stray di atas agar pertukaran informasi
terbentuk dari banyak arah).

 Hasil Belajar dan Daya Ingat


Karena semua siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, dan
semua anggota kelompok diharuskan melaporkan hasil-hasil
kunjungannya ke kelompok lain (bagi siswa yang berpencar/ Stray)

15
dan hasil-hasil yang diperoleh saat kunjungan tamu di kelompok
mereka (bagi siswa yang tinggal / stay), maka dapat memberikan efek
peningkatan hasil belajar dan daya ingat.
 Kreativitas
Siswa yang tinggal di dalam kelompok (stay) mempunyai
kesempatan untuk meningkatkan kreativitas, misalnya berkaitan
dengan bagaimana cara mereke menyajikan hasil kerja kelompok
mereka kepada tamu (anggota kelompok lain) yang berkunjung ke
kelompoknya.
 Melatih Berpikir Kritis
Dengan membandingkan hasil pekerjaan kelompoknya dengan
pekerjaan kelompok lain, guru berarti telah memberikan kesempatan
kepada siswa untuk meningkatkan kemapuan berpikir kritis, di mana
mereka akan mencoba mencermati pekerjaan orang lain dan pekerjaan
kelompoknya.
 Memudahkan Guru
Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat
membantu guru dalam pencapaian pembelajaran, karena langkah
pembelajaran kooperatif mudah diterapkan di sekolah dan dengan
bantuan siswa-siswa guru mendapat tambahan tenaga berupa tutor
sebaya saat seorang anggota kelompok bertukar informasi,
mengkonfirmasi, presentasi, dan bertanya kepada anggota kelompok
lainnya.
Sedangkan kekurangan dari model TSTS adalah:
a. Membutuhkan waktu yang lama
b. Siswa cenderung tidak mau belajar dalam kelompok
c. Bagi guru, membutuhkan banyak persiapan (materi, dana dan
tenaga)
d. Guru cenderung kesulitan dalam pengelolaan kelas.
Untuk mengatasi kekurangan pembelajaran kooperatif model
TSTS, maka sebelum pembelajaran guru terlebih dahulu mempersiapkan
dan membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen ditinjau dari
segi jenis kelamin dan kemampuan akademis. Berdasarkan sisi jenis
kelamin, dalam satu kelompk harus ada siswa laki-laki dan perempuannya.
Jika berdasarkan kemampuan akademis maka dalam satu kelompok terdiri

16
dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan
kemampuan sedang dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis
kurang. Pembentukan kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk
saling mengajar dan saling mendukung sehingga memudahkan
pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan
akademis tinggi yang diharapkan bisa membantu anggota kelompok yang
lain.

2. Kerangka Berpikir
Pengaruh pemberian tindakan kelas melalui pembelajran kooperatif tipe
TSTS terhadap hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika dapat dilihat
pada bagan kerangka konseptual berikut ini :

PBM

Sebelum diberi tindakan melalui


pembelajaran kooperatif tipe Two
Stay Two Stray hasil belajar siswa
rendah

Diberi tindakan melalui


pembelajaran
Kooperatif tipe Stay two Stray
Hasil belajar siswa meningkat

Skema 2.1 Kerangka Berpikir


3. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini bahwa penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dapat meningkatkan
hasil belajar Matematika siswa kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 6 Medan .

17
BAB III
METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas (PTK)
atau disebut juga dengan Clasroom Action Research. Menurut Santyasa
(2007:5) PTK merupakan “Prosedur penelitian di kelas yang dirancang untuk
menanggulangi masalah nyata yang dialami guru berkaitan dengan siswa di
kelas itu”.

2. Setting Penelitian
2.1. Tempat Dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di Kelas X TKJ SMK
Muhammadiyah 6 Medan , yaitu pada semester Ganjil tahun pelajaran
2018/2019 selama 1 bulan yaitu pada Okotber tahun 2018.

2.2. Subjek penelitian


Subjek penelitian yaitu siswa kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 6
Medan yang berjumlah 25 siswa. Pihak yang terlibat yaitu penulis
sebagai guru kelas yang mengajar di kelas X pada mata pelajaran
Matematika pada pokok bahasan Program Linear

3. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam satu (1) siklus yang terdiri dari 4 kali
pertemuan. Siklus dilakukan langkah-langakah kegiatan mulai dari
perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation) dan
diakhiri dengan refleksi (reflection).
3.1. Perencanaan
1) Menentukan jadwal penelitian
2) Menetapkan materi yang akan disampaikan kepada siswa dengan
menggunakan pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS
3) Mempersiapkan perangkat pembelajaran yaitu Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP)
4) Mempersiapkan pembagian kelompok siswa
5) Mempersiapkan tes formatif hasil belajar siswa’
6) Mempersiapkan Media Pembelajaran (LKPD, Slide Power Point dan
Video Pembelajaran)
7) Mempersiapkan alat dan bahan Pembelajaran

18
3.2. Tindakan
1) Pendahuluan
1. Guru Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan
berdoa untuk memulai pembelajaran
2. Guru mengecek kehadiran siswa
3. Guru memotivasi agar siswa berminat belajar
4. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
5. Guru menjelaskan materi pelajaran
6. Menyampaikan teknik penilaian yang akan digunakan
7. Menyampaikan metode pembelajaran yang akan digunakan
2) Kegiatan inti
1. Pembagian kelompok. Pada langkah ini guru membagi siswa
dalam kelompok-kelompok yang setiap kelompoknya terdiri
dari 4 siswa.
2. Pemberian tugas. Di langkah kedua ini guru memberikan sub
pokok bahasan tertentu atau tugas-tugas tertentu kepada setiap
kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota
kelompoknya masing-masing.
3. Diskusi: Siswa mengerjakan tugas. Pada kegiatan ini siswa-
siswa di dalam setiap kelompok bekerja sama untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
4. Tinggal atau berpencar? Setelah setiap kelompok selesai
mengerjakan tugas yang diberikan maka setiap kelompok
menentukan 2 anggota yang akan stay (tinggal) dan 2 anggota
yang akan Stray (berpencar) ke kelompok lain.
5. Berbagi. Pada langkah kelima ini, semua siswa saling berbagi
apa yang telah mereka kerjakan untuk menyelesaikan tugas dari
guru (catatan: siswa pada langkah ini saling menjelaskan,
presentasi, bertanya, dan melakukan konfirmasi, lalu mencatat
apa-apa yang didapatnya dari kelompok lain). Dua anggota
kelompok yang tinggal di dalam kelompok bertugas membagi
informasi dan hasil kerja mereka kepada 2 orang tamu dari
kelompok lain yang akan berkunjung ke kelompok mereka.

19
6. Diskusi kelompok. Tahap selanjutnya adalah semua anggota
kelompok kembali ke kelompok yang semula dan melaporkan
apa yang mereka temukan dari kelompok lain.
7. Diskusi kelas. Setiap kelompok kemudian membandingkan dan
membahas hasil pekerjaan mereka semua dalam sebuah diskusi
kelas dengan fasilitasi oleh guru secara bersama-sama.
3) Penutup
1. Guru dan siswa untuk menyimpulkan kegiatan pembelajaran
2. Guru memberikan konfirmasi dan penguatan terhadap
kesimpulan dari hasil pembelajaran.
3. Guru memberikan evaluasi (kuis) dan menyuruh siswa secara
individu untuk mengerjakannya.
4. Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan
pada siswa untuk mempelajari materi berikutnya.
5. Guru menyuruh salah satu siswa untuk memimpin doa penutup

3.3. Observasi
Observasi terhadap proses pembelajaran berlangsung dilakukan
oleh peneliti.

3.4. Refleksi
Tahap ini merupakan suatu upaya untuk mengkaji apa yang telah
terjadi, yang telah dihasilkan, apa yang belum dihasilkan, dan apa yang
belum tuntas dari langkah atau upaya yang telah dilakukan. Dengan kata
lain, refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan
pencapaian tujuan, yang kemudian dilakukan perenungan. Hasil
perenungan tersebut dijadikan acuan dalam pelaksanaan siklus II.
Penelitian yang dilakukan dikatakan berhasil apabila aktivitas yang
diamati menunjukkan peningkatan.

4. Alat Pengumpul Data


Untuk mengumpulkan data yang diperlukan maka digunakan alat
pengumpul data sebagai berikut :
1. Lembaran observasi
Lembaran observasi digunakan untuk mencatat segala bentuk perilaku
siswa pada saat tindakan diberikan.
2. Tes hasil belajar
Tes dilaksanakan antara lain dalam bentuk :

20
- Pre test, yaitu tes yang dilaksanakan sebelum diberikan perlakuan
terhadap siswa dalam proses pembelajaran.
- Kuis, yaitu tes yang dilaksanakan pada akhir setiap proses
pembelajaran.
- Ulangan harian, yaitu tes yang digunakan setelah seluruh proses
pembelajaran selesai dilaksanakan pada siklus tersebut.

5. Teknik Analisis Data


Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan
pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan
teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat
menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh
dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga
untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta
aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan
siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara
memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:
1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang
selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut
sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

X 
X
N
Dengan :X = Nilai rata-rata
ΣX = Jumlah semua nilai siswa
ΣN = Jumlah siswa

2. Untuk ketuntasan belajar


Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan
secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar di
kelas X SMK Muhammadiyah 6 Medan, yaitu seorang siswa telah tuntas
belajar bila telah mencapai skor 68% atau nilai 68, dan kelas disebut tuntas

21
belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap
lebih dari atau sama dengan 68%. Untuk menghitung persentase
ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

P
 Siswa. yang.tuntas.belajar x100%
 Siswa

22
DAFTAR PUSTAKA

Countryman, J. (1992). Writing to learn Mathematics. Strategi that work K-12.


Potsmouth : Heinemann Education Books, Inc.

Depdiknas, (2004), Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta

De Lange, J. (1987). Mathematics, Insight, and Meaning, Utrecht : OW & Co.


Gravemeijer, K.(1994). Developing Realistic Mathematics Education,
:onwikkelen van relistich reken/wiskundeonderwijs (met een
samenvatting in het nederlands). Nederland : Universiteit Utrechte

Dimyati dan Mudjiono. (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
dan Depdikbud.

Gravemeijer. (1994). Developing Realistic Mathematics Education. Utrecht:


Freudenthal Institute.

Hamalik, Oemar. (2004). Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta

Hadi, Sutarto. (2005). Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya.


Banjarmasin: Penerbit Tulip.

Johnson dan Rising. (1972). Math on Call : A Mathematics Hanbook, Great


Source Education Group, Inc./Houghton Mifflin Co.

Kagan, Spencer. (1990). Cooperative Learning Resource for Teacher. [Online].


Tersedia : www.ascd.org/ASCD/pdf/journals/ed_lead/el_198912_kagan .
[24 September 2018].

Lufri. (2007). Strategi Pembelajaran Biologi Teori, Praktek dan Penelitian.


Padang : UNP Press.

Nur Asma. (2008). Model Pembelajaran Kooperatif. Padang : Universitas Negeri


Padang,

23
Santyasa, Wayan I. (2007). Metodologi Penelitian Tindakan Kelas. Singaraja :
Universitas Pendidikan Ganesha

Sri Wardhani, (2004). ”Pembelajaran Matematika Kontektual”. Yogyakarta :


Dirjen Dikdas Men.PPPG Mat.

Van den Heuvel-Panhuisen, Marja. (1996). Assessment and Realistic Mathematics


Education.
Utrecht : CD-Press

W.J.S, Poerwadarminta (1991), Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka :


Jakarta.

Zulkardi. (2006) . “RME suatu Inovasi dalam Pendidikan Matematika di


Indonesia”. Makalah Refleksi dari Pelaksanaan Konferensi Matematika
17-20 Juli di ITB (http://www.geocities.com/ratuilma/rme.html). Diakses
24 September 2018

24