Anda di halaman 1dari 13

PROPOSAL PENELITIAN

PENANAMAN BAHASA INDONESIA DI KOMUNITAS USAHA


DESA MANDIRANCAN

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Politik Bahasa Nasional


Dosen Pengampu: Dra. Noorliana, M.Pd.

oleh :

Kelompok 3
1. Elsera Trika W. (1501040059)
2. Tami Dewi Purwasih (1501040064)
3. Wening Wulandari (1501040075)
4. Aufatulissa Aisyah Bella (1501040081)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PERWOKERTO
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Bahasa merupakan salah satu unsur budaya dan simbol bagi manusia
dalam berkomunikasi. Melalui bahasa, manusia dapat menyampaikan atau
menerima berbagai pesan, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Bahasa
dalam lingkup yang luas tidak hanya tertuju pada bahasa lisan atau tertulis. Secara
sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai suatu sistem lambang terorganisasi
yang disepakati secara umum dan merupakan hasil belajar yang digunakan untuk
menyajikan pengalaman-pengalaman dalam suatu komunitas. Bahasa merupakan
alat utama penyaluran kepercayaan, nilai, dan norma, termasuk seni dan religi.
Bahasa adalah alat untuk berinteraksi dengan orang lain dan sebagai alat bantu
berpikir.
Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi dengan orang lain dalam
kehidupan kita sehari-hari. Bahasa sangat penting peranannya dalam kehidupan
manusia sebagai bagian dalam masyarakat. Tanpa bahasa, kita tidak dapat
berkomunikasi dengan orang lain karena bahasa ini adalah komponen utama
dalam berkomunikasi antar manusia. Bahasa itu sangat diperlukan karena bahasa
tidak dapat terlepas begitu saja dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, berbagai
permasalahan mengenai bahasa yang saat ini mulai muncul dan terus berkembang
di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia, harus segera diatasi
agar tidak semakin meluas dan tidak mengubah tata bahasa Indonesia yang sudah
ada dan ditetapkan sejak lama.
Seperti yang kita ketahui, banyak sekali bahasa daerah digunakan sebagai
bahasa berkomunikasi setiap harinya di masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan
tidak semua masyarakat memahami penggunaan bahasa Indonesia yang baku.
Selain itu masyarakat merasa canggung menggunakan bahasa Indonesia yang
baku di luar acara formal atau resmi. Oleh karena itu, masyarakat lebih cenderung
menggunakan bahasa Indonesia yang telah terafiliasi oleh bahasa daerah, baik
secara pengucapaan maupun arti bahasa tersebut. Kebiasaan penggunaan bahasa

2
daerah ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap penggunaan bahasa
Indonesia yang merupakan bahasa resmi negara Indonesia.
Dengan demikian peneliti melakukan sebuah upaya untuk
mengembangkan dan memberikan pengetahuan bagi masyarakat tertentu akan
pentingnya bahasa Indonesia. Peneliti mengangkat topik dengan judul Penanaman
Bahasa Indonesia di Komunitas Usaha Desa Mandirancan. Penggunaan bahasa
Indonesia di kalangan ibu-ibu komunitas ini masih kurang karena masih
mencampuradukan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa. Bahasa daerah
di Desa Mandirancan khususnya di komunitas usaha masih sangat berpengaruh
terhadap penggunanya.

3
BAB II
GAMBARAN UMUM
A. Jumlah
Kelompok sasaran pengabdian masyarakat yaitu komunitas usaha di
Desa Mandirancan yang berjumlah 11 orang dengan dikoordinasi oleh Ibu
Maemunah sebagai ketua komunitas usaha dan Ibu Eningtyas sebagai wakil
ketua komunitas usaha di Desa Mandirancan.
B. Profil
Komunitas usaha Desa Mandirancan didirikan pada tanggal 7 November
2017 oleh Eningtyas sebagai koordinator pertama. Komunitas ini berjumlah
11 orang yaitu Ibu Maemunah, Ibu Eningtyas, Ibu Ira, Ibu Rus, Ibu
Purwatiningsih, Ibu Eko, Ibu Yuli, Ibu Sofi, Ibu Yuli Astuti, Ibu Yuni, dan
Ibu Novi. Komunitas usaha Desa Mandirancan terletak di RT 04/RW 03.
Komunitas usaha ini memiliki berbagai jenis kegiatan seperti pembuatan tas
dari talikur, pembuatan tas dari tutup aqua gelas, pembuatan hiasan di toples,
pembuatan kerupuk, pembuatan jamur kriuk, pembuatan lele krispi,
pembuatan bolu singkong.
C. Kondisi Sosial Ekonomi
Ibu-ibu di komunitas usaha Desa Mandirancan mayoritas merupakan
ibu-ibu rumah tangga yang mengganggur. Mereka mengisi waktu luangnya
dengan membuat inovasi baru dari berbagai produk makanan atau barang-
barang dari sampah anorganik. Selain ibu rumah tangga, ada pula yang
bekerja sebagai pedagang dan bekerja di salah satu PT di Baturaden.
D. Pendidikan
Ibu-ibu di komunitas usaha Desa Mandirancan kebanyakan lulusan SMP
dan SMA. Namun mereka memiliki kreatifitas dalam bidang kerajinan tangan
dan inovasi makanan.

4
BAB III
METODE PELAKSANAAN
Penanaman Bahasa Indonesia di Lingkungan Komunitas Usaha Desa
Mandirancan dapat dilakukan melalui kegiatan memberikan pemahaman kepada
ibu-ibu komunitas usaha di Desa Mandirancan mengenai pentingnya penggunaan
bahasa Indonesia dalam berinteraksi sehari-hari. Dengan menggunakan bahasa
Indonesia dapat mempermudah penyampaian informasi dan diterima dengan baik
oleh lawan tutur. Maka dari itu penanaman bahasa Indonesia ini, diharapkan dapat
menumbukan cinta berbahasa Indonesia pada ibu-ibu komunitas usaha di Desa
Mandirancan.
1. Kegiatan untuk memberikan pemahaman kepada ibu-ibu komunitas usaha
yaitu menjelaskan materi mengenai Kebijakan Bahasa Nasional, ejaan-ejaan
Bahasa Indonesia, dan pentingnya penguasaan terhadap Bahasa Indonesia.
2. Langkah-langkah yang digunakan untuk memberikan pemahaman kepada
ibu-ibu komunitas usaha yaitu menjelaskan materi mengenai Kebijakan
Bahasa Nasional, ejaan-ejaan Bahasa Indonesia, dan pentingnya penguasaan
terhadap Bahasa Indonesia. Kemudian memberikan contoh kepada ibu-ibu
komunitas usaha tentang cara-cara menggunakan Bahasa Indonesia yang baik
dan benar. Lalu mempraktikan langsung dalam hal diskusi inovasi produk
baru atau diskusi umum. Langkah yang terakhir yaitu mengevaluasi setelah
praktik langsung, apakah ibu-ibu komunitas usaha Desa Mandirancan sudah
mampu menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar atau belum.
3. Media yang digunakan saat melakukan kegiatan ini yaitu pelantang suara,
pengeras suara, PPT, LCD proyektor, hard copy materi tentang Kebijakan
Bahasa Nasional, ejaan-ejaan Bahasa Indonesia, dan pentingnya penguasaan
terhadap Bahasa Indonesia.

5
MATERI
A. Kebijakan Bahasa Nasional
Kebijaksanaan itu dapat diartikan sebagai suatu pertimbangan
konseptual dan politis yang dimaksudkan untuk dapat memberikan
perencanaan, pengarahan, dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai
sebagai dasar bagi pengolahan keseluruhan masalah kebahasaan yang
dihadapi oleh suatu bangsa secara nasional.
Berbicara mengenai kebijakan bahasa, pertama dipersoalkan: (a)
mengapa perwujudan bahasa perlu direncanakan, (b) apa yang
direncanakan, (c) siapa yang merencanakan, dan (d) bagaimana
merencanakannya. Jawaban dari persoalan diatas akan menjadi dasar
pengambilan kebijaksanaan bahasa yang bersifat menyeluruh.
Kebijaksanaan bahasa yang dihubungkan dengan sosiolinguistik lebih
banyak berisi tentang:
a. Usaha agar tidak terjadi konflik bahasa
b. Usaha agar bahasa dipergunakan sesuai dengan fungsinya
c. Bahasa sebagai alat komunikasi sosial yang berkembang menurut
sistemnya.
B. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
EYD adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur
penggunaan Bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari huruf kapital dan
huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD di sini diartikan sebagai
tata bahasa yang disempurnakan. EYD sekarang sudah diganti menjadi
PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Perubahan ini
dilakukan sebagai dampak meluasnya ranah pemakaian bahasa seiring
kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, dan seni. Sejak 30 November
2015, Permendiknas Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku lagi. Permendiknas tersebut digantikan oleh
Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia (PUEBI). Dengan demikian, kaidah dalam Bahasa
Indonesia yang berlaku saat ini adalah PUEBI, bukan EYD.
PUEBI merupakan akronim dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia adalah upaya Kemdikbud untuk tetap terus melestarikan dan
menumbuhkembangkan Bahasa Indonesia. Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia (PUEBI) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang
mengatur penggunaan Bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari
pemakaian huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, serta
penggunaan tanda baca (Murtiani, 2016). Dalam menulis berbagai karya
ilmiah, diperlukan aturan tata bahasa yang menyempurnakannya sebab
karya tersebut memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail. Karya
ilmiah tersebut dapat berupa artikel, resensi, profil, karya sastra, jurnal,
skripsi, tesis, disertasi, dan sebagainya, sehingga PUEBI dapat diartikan
sebagai suatu ketentuan dasar secara menyeluruh yang berisi acuan
penggunaan Bahasa Indonesia secara baik dan benar.
Ada tiga hal perubahan yang terjadi pada PUEBI. Perubahan
tersebut meliputi penambahan huruf diftong, penggunaan huruf tebal,
serta penggunaan huruf kapital.
1. Huruf Diftong
Huruf diftong yang ditambahkan ke PUEBI adalah “ei”.
Penambahan ini, menurut Kepala Bidang Pemasyarakatan Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia, Drs Mustakim,
M.Hum, terjadi karena bahasa Indonesia banyak menyerap istilah dari
bahasa asing, sehingga kini ada empat diftong dalam Bahasa
Indonesia yakni ai, au, ei, dan oi. Diftong “ei” ditambahkan karena
bahasa Indonesia menyerap kosa kata dari berbagai bahasa asing dan
banyak istilah asing tersebut yang pakai “ei”, seperti pada kata
“survei”.
2. Huruf Tebal
Selain diftong, perubahan juga terjadi pada penggunaan huruf
tebal. Penggunaan huruf tebal ini belum diatur pada ejaan Bahasa

7
Indonesia sebelumnya. Pada PUEBI, huruf tebal ini dipakai untuk
menegaskan bagian tulisan yang ditulis miring serta untuk
menegaskan bagian-bagian karangan, seperti judul buku, bab, atau
subbab pada sebuah teks dan digunakan untuk menegaskan pada
sebuah tulisan atau istilah yang telah dimiringkan.
3. Huruf Kapital
Perbedaan PUEBI dengan EYD yang terakhir terletak pada huruf
kapital. Pada ejaan Bahasa Indonesia sebelumnya tidak diatur bahwa
unsure julukan ditulis dengan awal huruf kapital. Kini, aturan tersebut
terdapat pada PUEBI.
Selain tiga perubahan di atas, adapula beberapa perubahan yang
perlu diperhatikan dalam penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan
benar sesuai PUEBI, yaitu :
1. Contact person : Narahubung
2. Microfon : Pelantang
3. Copy paste : Salin rekat
4. Offline : Luring
5. Hisap : Isap
6. Online : Daring
7. Preview : Pratayang
8. Nasehat : Nasihat
9. Server : Peladen
10. Resiko : Risiko
11. Babysitter : Pramusiwi
12. Gadget : Gawai
13. e-KTP : KTP-el
14. Selfie : Swafoto
15. Website : Laman
16. Kaos : Kaus
17. Email : Pos-el
18. Sirup : Sirop

8
19. Mouse : Tetikus
20. Seksama : Saksama
21. Netizen : Warganet

Apa yang kita mengerti dan pahami tentang PUEBI, sekiranya dapat
kita praktikkan dalam penulisan karya ilmiah agar bahasa kita ini tidak
tercampur dengan kata-kata asing. Berbahasa Indonesia itu tidak perlu
menjadi kaku. Kita bias menyesuaikan dengan lingkungan. Kalau boleh
mengutip salah satu ucapan dari Ivan Lanin, "Utamakan Bahasa Indonesia,
Pelihara Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing". Mari mulai sekarang kita
berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kini kita bias mengaju pada
PUEBI untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

C. Pentingnya Berbahasa Indonesia


Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, dengan bahasa
Indonesia kita dapat menyatukan berbagai ragam suku yang ada di
Indonesia, bayangkan saja jika tidak ada bahasa Indonesia, mungkin kita
tidak akan memahami perkataan yang disampaikan dari suku yang
berbeda, misalnya sumatera dan sulawesi, jadi bahasa Indonesia adalah
bahasa yang sangat penting bagi kita namun dengan tidak meninggalkan
bahasa daerah masing-masing, sebagai ciri khas suatu daerah.
Pentingnya bahasa Indonesia dalam kehidupan jika dilihat dari
fungsi bahasanya sendiri itu bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa
sebagai alat komunikasi, jika kita tidak mengerti bahasa Indonesia,
bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang terbiasa
menggunakan bahasa Indonesia. Apalagi menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).
Tidaklah sulit untuk menggunakan bahasa dengan EYD, hanya saja
sedikit perlu teliti dalam penggunaannya. Bahasa Indonesia EYD pun
sangatlah sopan jika kita pakai sehari-hari. Berbeda dengan kita
menggunakan bahsa gaul. Hanya saja kita akan merasa baku untuk

9
mengucapnya dan mendengarnya. Karena kita terbiasa dengan bahasa gaul
dan bahasa daerah yang setiap saat kita dengar.
Dengan kita berbahasa Indonesia EYD, kita bisa dengan mudah
berkomunikasi dengan orang-orang yang mungkin terbiasa dengan bahasa
Indonesia EYD tersebut. Kita bisa menjadi lebih sopan, dan kita akan
lebih di hargai oleh orang tersebut. Tidak bosan-bosannya kita bertemu
pelajaran bahasa Indonesia yang sejak SD telah kita pelajari.
D. Penanaman Sikap Positif terhadap Bahasa Indonesia
Sikap positif berbahasa Indonesia adalah sikap berbahasa
Indonesia yang diwujudkan dengan: (1) kesetian berbahasa, yaitu suatu
upaya agar si pengguna bahasa tetap berpegang teguh memelihara dan
menggunakan bahasa nasional, bahasa kebangsaan, bahasa Indonesia, dan
apabila perlu, mencegah adanya pengaruh asing; (2) kebanggaan
berbahasa, yaitu suatu upaya agar si pengguna bahasa lebih
mengutamakan bahasanya sendiri dan menggu-nakannya sebagai lambang
identitas bangsanya; dan kesadaran akan adanya norma atau kaidah
berbahasa, suatu upaya agar si pengguna bahasa dapat menggunakan
bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah dan tata aturan yang berlaku dalam
berbahasa Indonesia.
1. Setia Berbahasa Indonesia
Setia berbahasa Indonesia adalah suatu sikap positip berbahasa
yang tetap berpegang teguh untuk memelihara, menjaga, dan
menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar serta berusaha
membina dan mengembangkan bahasa Indonesia dalam menghadapi
berbagai tantangan global dan mencegah pengaruh asing yang
berlebihan.
Contoh:
a. Kita memasak menggunakan ricecooker.
b. Kita menulis menggunakan computer.
c. Kita berpergian menggunakan scooter.
d. Kita tidur dengan menggunakan bedcaver.

10
e. Kita nonton pertunjukan di gedung theater.
f. I sama you ayo pulang naik panther.
Penggunaan bahasa Indonesia yang demikian sebaiknya dihindari
dengan cara mencoba mencari padanan katanya dalam bahasa
Indonesia. Hal ini mengingat bunyi Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2009 yang berbunyi sebagai berikut.
“Bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai nama geografi di
Indonesia, nama bangunan atau gedung, nama jalan, apartemen atau
permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang,
lembaga usaha, lembaga pendidikan, dan organisasi yang didirikan
atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum
Indonesia” (Pasal 36 UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa,
dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan).
2. Bangga Berbahasa Indonesia
Bangga berbahasa Indonesia adalah suatu sikap positif berbahasa
yang menganggap bahwa tiada cela berbahasa Indo-nesia, merasa
berbesar hati dan gagah dengan lebih mengutamakan bahasa Indonesia
daripada bahasa lainnya, menjunjung bahasa persatuan ialah bahasa
Indonesia, dan menggunakan bahasa Indonesia penuh kebangaan dan
kesadaran sebagai jatidiri bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, dan
berdaulat.
Contoh:
a. Welcome ---> Selamat Datang
b. Exit ---> Keluar
c. Rumah saya di apartemen Garden City.
Penggunaan bahasa Indonesia yang demikian sebaiknya dihindari
dengan cara mencoba mencari padanan katanya dalam bahasa
Indonesia. Hal ini mengingat bunyi Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2009 yang berbunyi sebagai berikut.
“Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi Presiden,
Wakil Presiden, dan pejabat negera yang lain yang disampaikan di

11
dalam atau di luar negeri” (Pasal 28 UU No. 24 Tahun 2009 tentang
Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan).
3. Sadar kaidah bahasa Indonesia
Sadar kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama
patuh menggunakan kaidah bahasa Indonesia untuk ragam tulis dan
baku, tidak sebarangan mengguna-kan bahasa Indonesia, dan dapat
mengangkat harga diri sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat,
seperti terukir dalam ungkapan berikut.
“Bahasa Cermin Bangsa”
“Bahasa Jati diri Bangsa”
“Bahasa Menunjukkan Bangsa”
Contoh:
a. Selamat Dirgahayu HUT RI ke-65 tahun.
Seharusnya: Dirgahayu Republik Indonesia.
Atau: Selamat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.
b. Kita akan segera tinggal landas.
Seharusnya: Kita akan segara lepas landas.
Bukankah ada ungkapan: tinggal kelas
yang artinya tidak naik ke kelas berikutnya.
c. Ayolah kita segara mengejar ketertingalan.
Seharusnya: Ayolah kita segara mengejar kemajuan.
d. Untuk menyingkat waktu rapat segara dimulai.
Seharusnya:Untuk memanfaatkan waktu rapat segera dimulai.
e. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya.
Seharusnya: Atas perhatian Bapak/Ibu/Saudara, saya mengucapkan
terima kasih yang setulus-tulusnya.
f. Kepada Bapak Pimpinan Sidang, tempat dan waktu kami
persilahkan.
Seharusnya: Kepada Pemimpin Sidang kami persilakan.

12
PEMBAGIAN TUGAS
1. Elsera Trika Widyastuti (1501040059)
Mengerjakan bab 2, bab 3
2. Tami Dewi Purwasih (1501040064)
Mengerjakan bab 3, mencari materi
3. Wening Wulandari (1501040075)
Mengerjakan bab 1, mencari materi
4. Aufatulissa Aisyah Bella (1501040081)
Mengerjakan bab 1, mencari materi