Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Konsep Tumbuh Kembang


1. Definisi
Pertumbuhan (growth) adalah merupakan peningkatan jumlah
dan besar sel di seluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut
membelah diri dan mensintesis protein-protein baru, menghasilkan
penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau sebagian.
Dalam pertumbuhan manusia juga terjadi perubahan ukuran, berat
badan, tinggi badan, ukuran tulang dan gigi, serta perubahan secara
kuantitatif dan perubahan fisik pada diri manusia itu. Dalam
pertumbuhan manusia terdapat peristiwa percepatan dan
perlambatan. Peristiwa ini merupakan kejadian yang ada dalam
setiap organ tubuh.
Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada
individu,yaitu secara bertahap,berat dan tinggi anak semakin
bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan untuk
berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual
(Supartini, 2000).
Perkembangan (development) adalah perubahan secara
berangsur-angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh,
meningkatkan dan meluasnya kapasitas seseorang melalui
pertumbuhan, kematangan atau kedewasaan (maturation), dan
pembelajaran (learning). Perkembangan manusia berjalan secara
progresif, sistematis dan berkesinambungan dengan perkembangan
di waktu yang lalu. Perkembangan terjadi perubahan dalam bentuk
dan fungsi kematangan organ mulai dari aspek fisik, intelektual, dan
emosional. Perkembangan secara fisik yang terjadi adalah dengan
bertambahnya sempurna fungsi organ. Perkembangan intelektual
ditunjukan dengan kemampuan secara simbol maupun abstrak
seperti berbicara, bermain, berhitung. Perkembangan emosional
dapat dilihat dari perilaku sosial lingkungan anak.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan mempunyai
dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan
dengan pematangan fungsi organ individu.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang


Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan
yang berbeda-beda antara satu dengan manusia lainnya, bisa
dengan cepat bahkan lambat, tergantung pada individu dan
lingkungannya. Proses tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-
faktor di antaranya :
a. Faktor heriditer/ genetik
Faktor heriditer pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang
terjadi pada individu, yaitu secara bertahap, berat dan tinggi anak
semakin bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan
untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual (
Supartini, 2000) merupakan faktor keturunan secara genetik dari
orang tua kepada anaknya. Faktor ini tidak dapat berubah
sepanjang hidup manusia, dapat menentukan beberapa
karkteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata,
pertumbuhan fisik, dan beberapa keunikan sifat dan sikap tubuh
seperti temperamen. Faktor ini dapat ditentukan dengan adanya
intensitas dan kecepatan dalam pembelahan sel telur, tingkat
sensitifitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas, dan
berhentinya pertumbuhan tulang. Potensi genetik yang berkualitas
hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan yang positif
agar memperoleh hasil yang optimal.
b. Faktor Lingkungan/ eksternal
Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi individu setiap
hari mulai lahir sampai akhir hayatnya, dan sangat mempengaruhi
tercapinya atau tidak potensi yang sudah ada dalam diri manusia
tersebut sesuai dengan genetiknya. Faktor lingkungan ini secara
garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Lingkungan prenatal (faktor lingkungan ketika masih dalam
kandungan)
Faktor prenatal yang berpengaruh antara lain gizi ibu pada
waktu hamil, faktor mekanis, toksin atau zat kimia, endokrin,
radiasi, infeksi, stress, imunitas, dan anoksia embrio.
2) Lingkungan postnatal ( lingkungan setelah kelahiran)
Lingkungan postnatal dapat di golongkan menjadi :
a) Lingkungan biologis, meliputi ras, jenis kelamin, gizi,
perawatan kesehatan, penyakit kronis, dan fungsi
metabolisme.
b) Lingkungan fisik, meliputi sanitasi, cuaca, keadaan rumah,
dan radiasi.
c) Lingkungan psikososial, meliputi stimulasi, motivasi belajar,
teman sebaya, stress, sekolah, cinta kasih, interaksi anak
dengan orang tua.
d) Lingkungan keluarga dan adat istiadat, meliputi pekerjaan
atau pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, stabilitas
rumah tangga, kepribadian orang tua.
c. Faktor Status Sosial ekonomi
Status sosial ekonomi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang
anak. Anak yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan status
sosial yang tinggi cenderung lebih dapat tercukupi kebutuhan
gizinya dibandingkan dengan anak yang lahir dan dibesarkan
dalam status ekonomi yang rendah.
d. Faktor Nutrisi
Nutrisi adalah salah satu komponen penting dalam menunjang
kelangsungan proses tumbuh kembang. Selama masa tumbuh
kembang, anak sangat membutuhkan zat gizi seperti protein,
karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air. Apabila kebutuhan
tersebut tidak di penuhi maka proses tumbuh kembang
selanjutnya dapat terhambat.
e. Faktor kesehatan
Status kesehatan dapat berpengaruh pada pencapaian tumbuh
kembang. Pada anak dengan kondisi tubuh yang sehat,
percepatan untuk tumbuh kembang sangat mudah. Namun
sebaliknya, apabila kondisi status kesehatan kurang baik, akan
terjadi perlambatan.

3. Ciri-ciri Tumbuh kembang


Menurut Soetjiningsih, tumbuh kembang anak dimulai dari masa
konsepsi sampai dewasa memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu :
a. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi
sampai maturitas (dewasa) yang dipengaruhi oleh faktor bawaan
daan lingkungan.
b. Dalam periode tertentu terdapat percepatan dan perlambatan
dalam proses tumbuh kembang pada setiap organ tubuh berbeda.
c. Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya
berbeda antara anak satu dengan lainnya.
d. Aktivitas seluruh tubuh diganti dengan respon tubuh yang khas
oleh setiap organ.
Secara garis besar menurut Markum (1994) tumbuh kembang
dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Tumbuh kembang fisis
Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam ukuran besar
dan fungsi organisme atau individu. Perubahan ini bervariasi dari
fungsi tingkat molekuler yang sederhana seperti aktifasi enzim
terhadap diferensi sel, sampai kepada proses metabolisme yang
kompleks dan perubahan bentuk fisik di masa pubertas.

b. Tumbuh kembang intelektual


Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian
berkomunikasi dan kemampuan menangani materi yang bersifat
abstrak dan simbolik, seperti bermain, berbicara, berhitung, atau
membaca.
c. Tumbuh kembang emosional
Proses tumbuh kembang emosional bergantung pada
kemampuan bayi umtuk membentuk ikatan batin, kemampuan
untuk bercinta kasih.

4. Tahap-tahap Tumbuh Kembang Anak


a. Masa Pranatal
1) Masa embrio : konsepsi – 8 minggu
2) Masa janin/fetus : 9 minggu – lahir
b. Masa bayi : usia 0-1 tahun
c. Masa neonates : 0 – 28 hari
1) Masa neonates dini : 0 – 7 hari
2) Masa neonates lanjut : 8 – 28 hari
d. Masa pasca neonates : 29 hari – 1 tahun
e. Masa pra sekolah : usia 1 tahun – 6 tahun
f. Masa sekolah : usia 6 – 18 tahun
1) Masa pra remaja : usia 6 – 10 tahun
2) Masa remaja
a) Masa remaja dini
Wanita : usia 8-13 tahun
Pria : usia 10-15 tahun
b) Masa remaja lanjut
Wanita : 13-18 tahun
Pria : 15-20 tahun

5. Pertumbuhan Fisik
a. Berat Badan
Berat Badan pada bayi yang lahir cukup bulan berat badan
akan menjadi 2 kali berat badan waktu lahir pada bayi umur 5
bulan.Berat badan bayi 0-6 bulan setiap minggunya berat badan
akan bertambah 140-200 gr. Sedangkan panjangnya setiap
bulannya akan bertambah 2,5 cm/bln.
1) Perkiraan berat badan dalam kilogram :
a) Lahir : 3,25 kg
b) 3-12 bulan :umur (bulan) + 9
2
c) 1 – 6 tahun : umur ( tahun ) x 2 + 8
d) 6 -12 tahun : umur (tahun ) x 7 – 5
2
e) Menghitung berat badan ideal
(1) Berat badan ideal (BBI) bayi ( umur 0 – 12 bulan)
BBI = Umur ( bulan) + 4
2
(2) BBI anak = ( umur1 – 10 tahun )
BBI = ( umur(tahun) x 2) + 8
(3) Remaja dan dewasa
BBI = ( TB-100 ) – ( TB-100 ) X 10%
Atau BBI = ( TB-100 ) 90%
(4) Berat badan normal
Berat badan normal diperoleh dengan cara
menambah dan mengurangi 10% dari BBI.
(5) Body massa indeks
BMI = BB
(TB)2
Keterangan:
BMI < 18.5 : Berat Badan Kurang
BMI 18.5 – 24 : Normal
BMI 25 – 29 : Kelebihan Berat badan
BMI > 31 : Obesitas

b. Tinggi Badan
Tinggi badan rata-rata lahir adalah 50 cm. secara garis
besar, tinggi badan anak dapat diperkirakan sebagai berikut :
1) Lahir : 50 cm
2) 1 tahun : 75 cm
3) 2 – 12 tahun : umur ( tahun ) x 6 + 77

c. Lingkar Kepala
Lingkar kepala pada waktu lahir rata-rata 34 cm
1) Usia 0 dan 6 bulan bertambah 1,32 cm / bulan
2) Usia 6 dan 12 tahun bertambah 0,44 cm / bulan
3) Umur 6 bulan lingkar kepala rata-rata adalah 44 cm
4) Umur 1 tahun 47 cm, umur 2 tahun 49 cm, dewasa 54 cm.

d. Lingkar Dada
Ukuran normal lingkar dada sekitar 2 cm lebih keil lingkar kepala

B. Konsep Terapi Bermain


1. Definisi
Bermain adalah satu kegiatan menyenangkan bagi anak yang
dilakukan setiap hari secara sukarela untuk memperoleh kepuasan
dan merupakan media yang baik bagi anak-anak untuk belajar
komunikasi, mengenal lingkungan, dan untuk meningkatkan
kesejahteraan mental dan sosial anak.
Bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan
anak secara optimal. Anak bebas mengekspresikan perasaan takut,
cemas, gembira atau perasaan lainnya sehingga hal tersebut
memberikan kebebasan bermain untuk anak sehingga orang tua
dapat mengetahui suasana hati si anak. Oleh karena itu dalam
memilih alat bermain hendaknya disesuaikan dengan jenis kelamin
dan usia anak sehingga dapat merangsang perkembangan anak
secara optimal. Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit,
aktifitas bermain ini tetap perlu dilaksanakan disesuaikan dengan
kondisi anak.
Bermain juga menjadi media terapi yang baik bagi anak-anak
bermasalah selain berguna untuk mengembangkan potensi anak.
Menurut Nasution (cit Martin, 2008), bermain adalah pekerjaan atau
aktivitas anak yang sangat penting. Melalui bermain akan semakin
mengembangkan kemampuan dan keterampilan motorik anak,
kemampuan kognitifnya, melalui kontak dengan dunia nyata, menjadi
eksis di lingkungannya, menjadi percaya diri, dan masih banyak lagi
manfaat lainnya (Martin, 2008). Bermain adalah cerminan
kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan bermain
merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain,
anak akan berkata-kata, belajar memnyesuaikan diri dengan
lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukan, dan mengenal
waktu, jarak, serta suara (Wong, 2000). Bermain adalah kegiatan
yang dilakukan sesuai dengan keinginanya sendiri dan memperoleh
kesenangan. (Foster, 1989).
Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas
bermain ini tetap dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan
kondisi anak. Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan
mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan,
seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut
merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena
menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah sakit.
Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari
ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan
permainan anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada
permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya
melakukan permainan.

2. Kategori Bermain
Dua kategori bermain adalah sebagai berikut
a. Bermain bebas
Bermain bebas berarti anak bermain tanpa aturan dan tuntutan.
Anak bisa mempertahankan minatnya dan mengembangkan
sendiri kegiatannya.
b. Bermain terstruktur
Bermain terstruktur direncanakan dan dipandu oleh orang
dewasa. Kategori ini mambatasi dan meminimalkan daya cipta
anak.
Kedua kategori bermain ini sama pentingnya dan bila dilakukan
secara seimbang akan memberikan kontribusi untuk
mencerdaskan anak.

3. Klasifikasi bermain
a. Menurut isinya
1) Social affective play
Anak belajar memberi respon terhadap respon yang
diberikan oleh lingkungan dalam bentuk permainan, misalnya
orang tua berbicara memanjakan anak tertawa senang,
dengan bermain anak diharapkan dapat bersosialisasi dengan
lingkungan.
2) Sense of pleasure play
Anak memperoleh kesenangan dari satu obyek yang ada di
sekitarnya, dengan bermain anak dapat merangsang perabaan
alat, misalnya bermain air atau pasir.
3) Skill play
Memberikan kesempatan bagi anak untuk memperoleh
ketrampilan tertentu dan anak akan melakukan secara
berulang-ulang misalnya mengendarai sepeda.
4) Dramatika play role play
Anak berfantasi menjalankan peran tertentu misalnya
menjadi ayah atau ibu.

b. Menurut karakteristik sosial


1) Solitary play
Jenis permainan dimana anak bermain sendiri walaupun
ada beberapa orang lain yang bermain disekitarnya. Biasa
dilakukan oleh anak balita Toddler.
2) Paralel play
Permaianan sejenis dilakukan oleh suatu kelompok anak
masing-masing mempunyai mainan yang sama tetapi yang
satu dengan yang lainnya tidak ada interaksi dan tidak saling
tergantung, biasanya dilakukan oleh anak pre school.
Contoh : bermain balok
3) Asosiatif play
Permainan dimana anak bermain dalam keluarga dengan
aktivitas yang sama tetapi belum terorganisasi dengan baik,
belum ada pembagian tugas, anak bermain sesukanya.
4) Cooperatif play
Anak bermain bersama dengan sejenisnya permainan
yang terorganisasi dan terencana dan ada aturan tertentu.
Biasanya dilakukan oleh anak usia sekolah Adolesen.

4. Fungsi bermain secara umum


Anak dapat melangsungkan perkembanganya antara lain
a. Perkembangan sensori motorik
Membantu perkembangan gerak dengan memainkan obyek
tertentu.
b. Perkembangan kognitif
Membantu mengenal benda sekitar (warna, bentuk dan
kegunaan)
c. Kreatifitas
Mengembangkan kreatifitas, mencoba ide baru.
d. Perkembangn sosial
Diperoleh dengan belajat berinteraksi dengan orang lain dan
mempelajari bagaimana belajar dalam kelompok.
e. Kesadaran diri (self awareness)
Bermain belajar memahami kemampuan diri, kelemahan, dan
tingkah laku terhadap orang lain.
f. Perkembangan moral
Interkasi dengan orang lain, bertingkah laku sesuai harapan
teman, menyesuaikan dengan aturan kelompok. Contoh: dapat
menerapkan kejujuran.

g. Terapi
Bermain merupakan kesempatan pada anak untuk
mengekspresikan perasaan yang tidak enak, misalnya: marah,
takut, dan benci.
h. Komunikasi
Bermain adalah salah satu alat komunikasi bagi anak yang belum
dapat mengatakan secara verbal, misalnya: menggambar,
melukis, dan bermain peran.

5. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aktivitas bermain


a. Energi ekstra atau tambahan
Bermain memerlukan energi tambahan, anak yang sedang sakit
ringan mempunyai keinginan untuk bermain, namun apabila anak
mulai lelah atau bosan maka anak akan menghentiklan
permainannya.
b. Waktu
Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain,
c. Alat permainan
Untuk bermain diperlukan alat permainan yang sesuai dengan
umur dan taraf perkembangan anak.
d. Ruangan atau tempat untuk bermain
Ruangan tidak usah terlalu besar, anak juga bisa bermain
dihalaman atau ditempat tidur.
e. Pengetahuaan cara bermain
Anak belajar bermain melalui mencoba-coba sendiri, meniru
teman-temannya, atau diberi tahu caranya.
f. Terapi bermain
Anak harus yakin bahwa anak mempunyai teman bermain. Kalau
anak bermain sendiri, maka anak anak kehilangan kesempatan
belajar dari teman-temanya. Akan tetapi kalau anak terlalu banyak
bermain dengan anak yang lain, maka anak tidak mempunyai
kesempatan yang cukup untuk menghibur diri sendiri dan
menemukan kebutuhanya sendiri.
g. Reward
Berikan semangat dan pujian atau hadiah pada anak bila berhasil
melakukan sebuah permainan.

Namun terkadang keseimbangan dalam bermain kadang tidak


dapat dicapai, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini:
a. Kesehatan anak menurun
Anak yang sakit tidak mempunyai energi untuk aktif bermain.
b. Tidak ada variasi dari alat permainan
c. Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya
Meskipun banyak alat permainan, tetapi tidak banyak
manfaatnta kalau anak tidak tahu bagaimana cara
menggunakannya.
d. Tidak mempunyai teman bermain
Kalau anak tidak mempunyai teman bermain, maka aktivitas
bermain yang dapat dikerjakan sendiri akan terbatas.
BAB II
DESKRIPSI KASUS

PROPOSAL TERAPI BERMAIN


Topik : Terapi Bermain
Sub Topik : permainan anak usia 0 – 28 hari (neonatus)
Tempat : ruang perawatan anak
Waktu : ± 15 menit
Identitas Anak
Nama Anak :
Umur :
Tanggal Pelaksanaan :
A. Latar Belakang
Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai
kebutuhan sesuai dengan tahap perkembangan, bukan ordes mini, juga
bukan merupakan harta atau kekayaan orang tua yang dapat dinilai
secara sosial ekonomi, melainkan masa depan bangsa yang berhak atas
pelayanan kesehatan secara individual. Anak membutuhkan lingkungan
yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan
untuk belajar mandiri. Anak sebagai orang atau manusia yang
mempunyai pikiran, sikap, perasaan dan minat yang berbeda dengan
orang dewasa dengan segala keterbatasan.
Bagi anak bermain merupakan seluruh aktivitas anak termasuk
bekerja, kesenangannya dan merupakan metode bagaimana mereka
mengenal dunia. Bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi
merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta
kasih, dll. Bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak
baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas dan sosial.
Beberapa ahli mengatakan bahwa bermain pada anak merupakan
sarana untuk belajar. Bermain dan belajar untuk anak merupakan suatu
kesatuan dan suatu proses yang terus menerus terjadi dalam
kehidupannya. Bermain merupakan tahap awal dari proses belajar pada
anak yang dialami hampir semua orang. Melalui kegiatan bermain yang
menyenangkan, seorang anak berusaha untuk menyelidiki dan
mendapatkan pengalaman yang banyak. Baik pengalaman dengan
dirinya sendiri, orang lain maupun dengan lingkungan di sekitarnya.
Melalui bermain anak dapat mengorganisasikan berbagai pengalaman
dan kemampuan kognitifnya dalam upaya menyusun kembali gagasan
yang cemerlang. Bermain adalah pekerjaan anak. Dalam bermain anak
mempraktekkan secara kontinu proses hidup yang rumit dan penuh
stress,komunikasi, dan mencapai hubungan yang memuaskan dengan
orang lain. Di situlah mereka belajar tentang diri mereka sendiri dan
dunia mereka. Anak mempuyai kesulitan dalam pemahaman mengapa
mereka sakit, tidak bisa bermain dengan temannya, mengapa mereka
terluka dan nyeri sehingga membuat mereka harus pergi ke rumah sakit
dan harus mengalami hospitalisasi. Reaksi anak tentang hukuman yang
diterimanya dapat bersifat passive, cooperative, membantu atau anak
mencoba menghindar dari orang tua, anak menjadi marah.
Dengan ini, untuk mengurangi dampak hospitalisasi terhadap
anak kita bermaksud untuk melaksanakan terapi bermain yang bertujuan
untuk membantu anak terhindar dari stress, stressor dan dampak
hospitalisasi yang mengancam pertumbuhan dan perkembangan anak.

B. Fungsi bermain di rumah sakit


1. Memfasilitasi anak untuk beradaptasi dengan lingkungan yang asing.
2. Memberi kesempatan untuk membuat keputusan dan kontrol.
3. Membantu mengurangi stress terhadap perpisahan
4. Memberikan kesempatan untuk mempelajari tentang bagian-bagian
tubuh, fungsinya dan penyakit.
5. Memperbaiki konsep-konsep yang salah tentang penggunaan dan
tujuan peralatan serta prosedur medis.
6. Member peralihan (distraksi) dan relaksasi
7. Membantu anak untuk merasa lebih aman dalam lingkungan yang
asing.
8. Memberi cara untuk mengurangi tekanan dan untuk
mengksplorasikan perasaan.
9. Menganjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap
yang positif terhadap orang lain.
10. Member cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minat.
11. Memberi cara untuk mencapai tujuan theraupetik

C. Perkembangan Anak Usia 0 - 28 hari (neonatal)


1. Usia 0 – 4 minggu
a. Perkembangan motorik
1) Tangan dan kaki menekuk dan agak kaku
2) Kepala berpaling ke kiri dank e kanan
b. Perkembangan penglihatan
1) Mampu memandangi wajah
2) Fokus penglihatan berjarak 20-30 cm
c. Perkembangan pendengara
Belum bereaksi terhadap suara
d. Perkembangan social
Memberi respon jika digendong atau ditimang
2. Usia 4 minggu
a. Perkembangan motorik
1) Kaki sudah lebih lurus, lebih lentur dan rileks
2) Kepala sudah bisa lurus ke depan
b. Perkembangan penglihatan
Mengikuti benda yang bergerak
c. Perkembangan pendengaran
Berkedip, terkejut, mengerutkan dahi, atau terbangun ketika
mendengar suara berisik

d. Perkembangan sosial
Mulai tersenyum spontan

D. Jenis Permainan
Mengamati mainan
1. Persiapan :
a. Tempat tidur
b. Boneka atau kain berwarna cerah
2. Cara bermain :
a. Tidurkan bayi dengan posisi telentang
b. Pegang boneka/mainan/kain di depan bayi dengan jarak 20-30
cm
c. Pastikan bayi melihat mainan
d. Gerakkan mainan kea rah samping agar bayi mengikuti
dengan pandangan ke kiri dan ke kanan. Lakukan 2-3 kali
e. Ulangi langkah “b” dan “c”, kemudian gerakkan mainan
dengan arah gerak turun naik agar bayi berlatih fokus
penglihatan jauh-dekat.

E. Manfaat Bermain
1. Belajar memusatkan penglihatan pada objek sejauh 20-30 cm di
depannya
2. Menguatkan otot mata dan keserasian gerak kedua mata

F. Pelaksanaan
Waktu : ± 15 menit
Tempat :
Peserta
1. Pelaksana : Perawat (Mahasiswa)
2. Observer : 1 orang (Pembimbing)
3. Fasilitator : Orang Tua
4. Anak (Pasien) : 1 orang

G. Karakteristik peserta
 Bayi usia 0-28 hari
 Keadaan umum anak mulai membaik

H. Metode : Demonstrasi

I. Setting

Keterangan:

: observer

: peserta
: pasilitator
: tempat tidur

: pelaksana

J. STRATEGI PELAKSANAAN
1. Fase Prainteraksi: 5 Menit
a. Melakukan kontrak waktu dan ruangan
b. Mengecek kesiapan bayi
c. Menyiapkan alat
2. Fase Orientasi : 5 menit
a. Memberi salam dan perkenalan antara petugas dengan
keluarga
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
3. Fase Kerja: 15 menit
a. Bayi ditidurkan di tempat tidur dengan posisi telentang
b. Petugas memegang boneka/mainan/kain di depan bayi
dengan jarak 20-30 cm
c. Petugas memastikan bayi melihat mainan
d. Petugas menggerakkan mainan ke arah samping agar bayi
mengikuti dengan pandangan ke kiri dan ke kanan. Petugas
melakukan 2-3 kali
e. Petugas mengulangi langkah “b” dan “c”, kemudian petugas
menggerakkan mainan dengan arah gerak turun naik agar bayi
berlatih fokus penglihatan jauh-dekat.
4. Fase Terminasi Penutup: 3 Menit
a. Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan
b. Menjelaskan hasil kesimpulan pada keluarga
c. Berpamitan dengan keluarga
d. Membereskan dan kembalikan alat pada tempat semula
e. Mencuci tangan

K. EVALUASI YANG DIHARAPKAN


1. Bayi dapat memusatkan penglihatan pada objek sejauh 20-30 cm
di depannya
2. Bayi dapat mengikuti gerakan benda yang didekatkan padanya
dan ada keserasian antara gerak kedua mata.