Anda di halaman 1dari 43

PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANGAN II

DI DESA MEDANGLAYANG KECAMATAN PANUMBANGAN KABUPATEN CIAMIS


PROVINSI JAWA BARAT

Oleh :

Gilang Fajar Firdaus

NIRM 04.1.16.0873

PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTNIAN BERKELANJUTAN


JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN BOGOR
KEMENTERIAN PERTANIAN
2019
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Proposal Praktik Kerja Lapangan Ii Di Desa Medanglayang


Kecamatan Panumbangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat

Nama : Gilang Fajar Firdaus

NIRM : 04.1.16.0873

Program Studi : Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan

Jurusan : Pertanian

Menyetujui :

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Drs. Lukman Effendy, M.Si. Ir. Nazaruddin, MM


NIP. 19580801 198603 1 001 NIP. 19570815 197912 1 001

Mengetahui :
Ketua Jurusan Ketua Program Studi

Rudi Hartono, SST., MP. Ait Maryani, SP., M.Pd.


NIP. 19820307 200604 1 001 NIP. 19591009 198202 2 001

pg. 1
KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT, karena berkat


Rahmatdan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal Praktik
Kerja Lapangan II.

Dalam penyusunan proposal ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan


bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
perkenankanlah penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Dr. Drs. Lukman Effendy, M.Si. selaku dosen pembimbing I yang telah
memberikan bimbingan dan arahan
2. Ir. Nazaruddin, MM selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan
bimbingan dan arahan
3. Rudi Hartono, SST., MP. selaku Ketua Jurusan Pertanian POLBANGTAN Bogor
4. Ait Maryani, SP., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Penyuluhan Pertanian
Berkelajutan
5. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian proposal ini.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan proposal ini jauh dari


sempurna untuk itu penulis berharap semoga proposal ini bermanfaat bagi para
pembaca.

Bogor, 01 Juni 2019

Penulis

pg. 2
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ i

Kata pengantar .............................................................................................. ii

Daftar isi ....................................................................................................... iii

Daftar tabel ................................................................................................... iv

Pendahuluan

A. Latar belakang .................................................................................... 1


B. Tujuan ................................................................................................. 2
C. Manfaat .............................................................................................. 2

Tinjauan pustaka

A. Penyuluhan pertanian ........................................................................ 3


B. Identifikasi potensi wilayah ................................................................ 4
C. Penyusunan Program dan Programa Penyuluhan Pertanian .............. 6
D. Penyusunan Materi Penyuluhan ........................................................ 8
E. Media Penyuluhan Pertanian ........................................................... 13
F. Metode Penyuluhan Pertanian. ....................................................... 15
G. Memetakan Potensi Wilayah Desa .................................................. 17
H. Akses Dan Informasi, Teknologi, Permodalan Dan Pasar................. 19
I. Pendidikan Orang Dewasa dan Pemberdayaan Masyarakat ........... 21
J. Penumbuhan Kelembagaan Petani .................................................. 24
K. Evaluasi Penyuluhan Pertanian ........................................................ 30

Metode pelaksanaan

A. Waktu dan tempat .......................................................................... 33


B. Materi kegiatan ............................................................................... 33
C. Prosedur pelaksanaan ..................................................................... 34

Daftar pustaka ............................................................................................ 37

Lampiran ..................................................................................................... 38

pg. 3
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Jenis media penyuluhan sesuai kelompok sasaran ........................ 18
Tabel 2 Materi PKL, rincian kegiatan, dan output kegiatan ......................... 39

pg. 4
PENDAHULUAN

A. Latar Be;akang
Kegiatan penyuluhan pertanian merupakan kegiatan yang sampai saat
ini dirasa dapat membatu kegiatan para petani dalam menangani masalah
yang terjadi dilapangan, maka dari itu kegiatan penyluhan pertanian
merupakan kegiatan yang sangat penting dalam bidang pertanian. Kegiatan
penyuluhan pertanian ini bertujuan agar terjadi perubahan dalam
pengetahuan, sikap dan keterampilan dari sasaran penyuluhan serta
menciptakan kemandirian. Dalam rangka mencapai tujuan penyuluhan
tersebut perlu adanya peningkatan kualitas dari penyuluh maupun eksistensi
dari organisasi penyuluhan itu sendiri. Upaya Peningkatan kualitas penyuluh
dapat dilakukan mulai saat ini melalui lembaga pendidikan POLBANGTAN.
Polbangtan Bogor sebagai lembaga pendidikan tinggi kedinasan di
Kementerian Pertanian, berperan aktif dalam pembangunan dan
pengembangan di pertanian. Melalui POLBANGTAN Bogor dapat dihasilkan
Sumber Daya Manusia Penyuluh Pertanian yang memiliki integritas moral,
profesional, inovatif, kredibel dan berwawasan global serta memiliki etos
kerja yang tinggi dalam membangun sistem penyuluhan pertanian. Agar profil
lulusan tersebut dapat dicapai, diperlukan suatu proses pembelajaran secara
optimal untuk mendukung pencapaian kompetensi yang dimaksud. Oleh
karena itu diperlukan adanya kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL II) bagi
mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (POLBANGTAN) Bogor agar
bisa menerapkan ilmunya di kehidupan nyata.
Praktik Kerja Lapangan II merupakan kegiatan kurikuler yang wajib
dilakukan mahasiswa program Diploma IV Politeknik Pembangunan Pertanian
(POLBANGTAN) Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan secara terprogram dan
terintegrasi dengan mata kuliah yang sudah dipelajari sebelumnya. Metode
pendekatan pada kegiatan Praktik Kerja Lapangan II adalah pemagangan pada
Balai Penyuluhan Pertanian/ dunia kerja. Dengan kegiatan ini mahasiswa
mampu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan

pg. 5
penyuluhan secara partisipatif untuk pengembangan usaha agribisnis di
pedesaan khususnya komoditas unggulain baik di sektor pertanian maupun
sektor peternakan serta kompeten dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai
seorang Penyuluh Pertanian Lapangan.
Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) II ini akan dilaksanakan selama 2
bulan di Desa Medanglayang Kecamatan Panumbangan Kabupaten Ciamis,
capaian dari kegiatan PKL II ini yaitu mahasiswa mampu merencanakan,
melaksanakan dan mengevaluasi penyuluhan pertanian berkelanjutan
melalui kegiatan pemagangan pada lembaga penyuluhan
B. Tujuan
Tujuan dari Praktik Kerja Lapangan II ini adalah :
1. Mahasiswa mampu menganalisis permasalahan pelaku utama/pelaku
usaha pada kelompoktani/gabungan kelompoktani dan
menyelenggarakan pola penyuluhan secara partisipatif.
2. Mahasiswa mampu meningkatkan kemampuannya dalam
merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan penyuluhan.
3. Mahasiswa mampu meningkatkan proses pemberdayaa dan
pembelajaran bagi pelaku utama pada situasi yang nyata agar dapat
meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan pada kelompok
tani/ gabungan kelompok tani sehingga menjadi dinamis.
C. Manfaat
Manfaat PKL bagi mahasiswa sebagai berikut:
1. terlatih untuk mengerjakan pekerjaan lapangan, dan sekaligus melakukan
serangkaian keterampilan yang sesuai dengan bidang keahliannya,
2. memperoleh kesempatan untuk memantapkan keterampilan dan
pengetahuannya sehingga kepercayaan dan kematangan dirinya akan
semakin meningkat,
3. Dapat mengatasi permasalahan faktual yang dihadapi.
4. Mendapat keterampilan tertentu yang tidak dapat di kampus

pg. 6
TINJAUAN PUSTAKA

A. Penyuluhan Pertanian
Menurut Mardikanto (2009) penyuluhan pertanian adalah suatu proses
perubahan sosial, ekonomi dan politik untuk memberdayakan dan
memperkuat kemampuan masyarakat melalui proses belajar bersama yang
partisipatif, agar terjadi perubahan perilaku pada diri semua stakeholders
(individu, kelompok, kelembagaan) yang terlibat dalam proses pembangunan,
demi terwujudnya kehidupan yang berdaya, mandiri dan partisipatip yang
semakin sejahtera dan berkelanjutan.
Sedangkan menurut Mardikanto (1993) Penyuluhan pertanian adalah
sistem pendidikan luar sekolah bagi orang dewasa guna
menumbuhkembangkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan sikap
petani nelayan sehingga secara mandiri mereka dapat mengelola unit
usahataninya menjadi lebih baik dan menguntungkan sehingga dapat
memperbaiki pola hidup yang lebih layak dan sejahtera bagi keluarganya.
Kegiatan penyuluhan pertanian sebagai proses belajar bagi petani-nelayan
melalui pendekatan kelompok dan diarahkan untuk terwujudnya kemampuan
kerja sama yang lebih efektif sehingga mampu menerapkan inovasi,
mengatasi berbagai resiko kegagalan usaha, menerapkan skala usaha yang
ekonomis untuk memperoleh pendapatan yang layak dan sadar akan peranan
serta tanggungjawabnya sebagai pelaku pembangunan, khususnya
pembangunan pertanian.
Dan dalam UU Nomor 16 Tahun 2006, penyuluhan adalah proses
pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan
mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses
informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnya, sebagai
upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan
kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi
lingkungan hidup.

pg. 7
B. Identifikasi Potensi Wilayah
1. Pengertian
Identifikasi potensi wilayah dilakukan untuk memperoleh data keadaan
wilayah agroekosistem meliputi fisik, keadaan sosial, keadaan ekonomi
dan potensi pendukung dari monografi desa/ kecamatan/ BPP atau dari
sumber- sumber lain yang relevan dengan data primer yang diperoleh
dari lapangan, petani dan dari masyarakat.
2. Tahapan identifikasi potensi wilayah
a. Identifikasi data sekunder dengan cara mengumpul seluruh data
agroekosistem, data monografi desa/ kecamatan/ BPP dan lain- lain.
b. Identifikasi data primer menggunakan teknik agroekosistem, dengan
pendekatan pertisipatif dan wawancara semi terstruktur
menggunakan teknik PRA.
c. Penempatan impar point. Dengan menggunakan analisis masalah dan
pengebab masalah, penetapan prioritas dan menetapkan faktor
penentu.
Hasil identifikasi disusun dalam laporan yang menggambarkan
keadaan, prioritas masalah dan faktor pengebab masalah, faktor
penentu kebutuhan penyesuaian masalah dalam bentuk Rencana
Definitif Kgiatan Kelompok (RDKK) dalam kebutuhan pelayanan/
fasilitasi kelompok. Gambaran tentang keadaan wilayah, kehidupan,
kebiasaan, kecendrungan, kebutuhan, aspirasi, potensi dan masalah
masyarakat suatu desa dikatakan sebagai potensi yang dimiliki. Peta
desa disusun melalui pengalaman belajar bersama yang intesif, singkat
dan interktif. Potensi ekonomi desa merujuk pada komuditas dan
kegiatan ekonomi yang dimiliki nilai srategis yang penting yang
dilakukan penduduk setempat. Sedangkan potensi ekonomi merujuk
pada sasaran ekonomi ( dalam bentuk fisik) yang teridentifikasi disetiap
desa dan kelurahan yang semuanya dapat dirangkum dalam peta
potensi desa ( Wahyuti, 2008).

pg. 8
3. Identifikasi Potensi Wilayah Dengan Metode Partisipatif Menggunakan
Modifikasi Teknik PRA
a. Pengertian PRA
Participatori Rural Appraisal ( PRA) diterjemahkan secara halafia
sebagai penilaian/ pengkajian/ penelitian desa secara partisipatif. Dengan
demikian metode PRA diartikan dengan cara menggunakan dalam
melakukan kajian untuk memahami keadaan atau kondisi desa dengan
melibatkan partisipasi masyarakat. Namun dengan adanya perkembangan
PRA itu sendiri yang sangat pesatdan pentingnya fungsi pembelajaran
mengenai kondisi dan kehidupan pedesaan dari, dan oleh masyarakat desa
sendiri dengan catatan:
1. Pengertian” Belajar” ini luas, meliputi kegiatan menganalisis
perencanan dan bertindak.
2. PRA lebih cocok disebut sekumpulan metode ( jamak) bukan hanya
medoda tunggal
3. PRA memiliki teknik- teknik dan intrumen- intrumen yang bisa kita
pilih. Sifatnya selalu terbuka untuk menerima cara- cara dan metode-
metode yang baru di anggap cocok.
Dengan demikian definisi PRA disepakati sebagai sekumpulan
pendekatan dan metoda- metoda yang mendorong masyarakat perdesaan
untuk turut serta meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka (
masyarakat tersebut) mengenai hidup dan kondisi mereka itu sendiri, agar
mereka dapat membuat rencana dan tindakan untuk memberbaiki
kehidupannya.
b. Tujuan PRA
Metode pendekatan PRA dikembangkan dengan tujuan:
1. Tujuan praktis ( jangka pendek) : menyelenggarakan kegiatan bersama
masyarakat, untuk mengupayahkan penuhan kebutuhan praktis dan
peningkatan kesejatraan masyarakat sekaligus sebagai sarana
pembelajaran.

pg. 9
2. Tujuan strategis (jangka panjang) adalah mebawa visi sebagaimana
dikemukakan itu, yaitu mencapai pemberdayaan masyarakat dengan
menggunakan pendekatan pembelajaran ( Wahyuti, 2008).
C. Penyusunan Program dan Programa Penyuluhan Pertanian
1. Penyusunan Program
Manurut Setiana L (2005), Perencanaan program penyuluhan
adalah sesuatu yang harus dilakukan, karena untuk mencapai
keberhasilan dari program maka fakta-fakta di lapangan perlu diketahui,
dihubung-hubungkan dan ditarik asumsi-asumsi. Perencanaan program
adalah merupakan perumusan, pengembangan dan pelaksanaan program
itu sendiri. Perencanaan program harus merupakan perencanaan tertulis
tentang kegiatan yang akan dikembangkan secara bersama-sama oleh
masyarakat, penyuluh, pembina, spesialis, dan para petugas lapangan
lainnya.
Di dalam perencanaan program penyuluhan, proses penyusunan
perencanaan program harus melalui beberapa tahapan beberapa ahli
menyebutkan bahwa ada beberapa model proses perencanaan program
penyuluhan yang dapat dikembangkan, diantaranya adalah yang
dikemukakan oleh Kelsey dan Hearne (1955), ada tujuh tahap
perencanaan program, yaitu: a) analisis keadaan, b) pengorganisasian
perencanaan, c) proses perumusan program, d) penetapan program, e)
perencanaan kegiatan, f) pelaksanaan kegiatan, dan g) usulan
penyempurnaan.
Perencanaan menurut Roger A. Kaufmann 1972 (Amanah 2003)
merupakan proyeksl tentang apa yang akan dilakukan untuk mencapai
tujuan yang baik, benilai dan memiliki elemen-elemen sebagai berlkut:
1) Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan
2) Memilih kebutuhan berdasarkan prioritas guna pengambilan
keputusan
3) Spesifikasi tentang hasil yang perlu dicapai untuk tiap-tiap kebutuhan

pg. 10
4) Identifikasi keperluan untuk memenuhi kebutuhan yang dipilih guna
menyelesaikan masalah
5) Sebuah urutan rangkaian hasil yang dicapai untuk memenuhi
kebutuhan yang di identifikasi, dan
6) Identifikasi strategis dan taktik altenatif yang mungkin dapat
memenuhi kebutuhan termasuk menguraikan keuntungan dan
kerugian setiap perangkat strategis dan taktik.
2. Penysunan Programa
Menurut Permentan No. 47 Tahun 2016 tentang “Pedoman
Penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian” bahwa programa
penyuluhan pertanian Kecamatan dan desa/kelurahan adalah perpaduan
antara rencana kerja pemerintah dengan aspirasi pelaku utama dan
pelaku usaha, serta pemangku kepentingan lainnya yang disusun secara
sistematis, sebagai alat pengendali pencapaian tujuan penyuluhan.
Sebelum penyusunan programa Penyuluhan Pertanian, dilakukan
Rembugtani Desa atau Mimbar Sarasehan kecamatan, kabupaten/kota,
provinsi dan nasional, guna mengakomodasi aspirasi Pelaku Utama dan
Pelaku Usaha dalam pembangunan pertanian. Hasil analisis keadaan dan
hasil evaluasi programa Penyuluhan Pertanian tahun sebelumnya
digunakan sebagai bahan diskusi dalam pelaksanaan rembugtani atau
Mimbar Sarasehan.
Dalam penyusunan programa penyuluhan pertanian ada beberapa
hal yang harus diperhatikan antara lain prinsip, struktur & susunan
keanggotaan, tugas tim penyusun, unsur, tahapan dan proses.
Prinsip penyusunan programa Penyuluhan Pertanian, sebagai berikut:
1) Partisipatif, melibatkan secara aktif Pelaku Utama, Pelaku Usaha dan
Penyuluh pertanian mulai perencanaan, pelaksanaan, pemantauan
dan evaluasi;
2) Bermanfaat, mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap Pelaku Utama dan Pelaku

pg. 11
Usaha dalam upaya meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan
kesejahteraan;
3) Terpadu, dilaksanakan dengan memperhatikan program
pembangunan pertanian strategis nasional dan daerah, dengan
berdasarkan kebutuhan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha.
4) Sinergi, mempunyai hubungan yang bersifat selaras dan saling
memperkuat.
5) Transparan, dilakukan dengan prinsip keterbukaan, sehingga dapat
menjamin akses dan keterlibatan semua pihak yang berkepentingan;
6) Demokratis, disusun dengan saling memperhatikan dan menyerasikan
program Pemerintah dan pemerintah daerah dengan kebutuhan serta
kepentingan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha lainnya;
7) Bertanggung gugat, dilakukan dengan membandingkan rencana
dengan pelaksanaan programa penyuluhan sebelumnya guna
mengetahui tingkat capaian, rasionalitas, ketepatan waktu dan
permasalahan yang dihadapi.
8) Specific, Measurable, Actionary, Realistic, Time Frame (SMART) yaitu
perumusan tujuan dilakukan dengan memperhatikan kriteria khas,
dapat diukur, dapat dikerjakan/dapat dilakukan, sesuai kemampuan
dan memiliki batasan waktu untuk mencapai tujuan.
9) Audience, Behaviour, Condition, Degree (ABCD) yaitu perumusan
tujuan dilakukan dengan memperhatikan aspek khalayak sasaran,
perubahan Perilaku yang dikehendaki, kondisi yang akan dicapai, dan
derajat kondisi yang akan dicapai.
D. Penyusunan Materi Penyuluhan
1. Materi Penyuluhan
Menurut UU Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian,
Perikanan dan Kehutanan, materi penyuluhan pertanian didefinisikan
sebagai bahan penyuluhan yang akan disampaikan oleh para penyuluh
kepada pelaku utama dan pelaku usaha dalam berbagai bentuk yang

pg. 12
meliputi informasi, teknologi, rekayasa sosial, manajemen, ekonomi,
hukum, dan kelestarian lingkungan (Diamin, 2015).
2. Tujuan Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan pertanian dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan
kepentingan pelaku utama dan pelaku usaha pertanian dengan
memperhatikan pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya pertanian.
3. Penetapan Materi Berdasarkan Programa
a. Rincian Bahan Materi Penyuluhan Pertanian yang akan disampaikan
kepada pelaku utama dan pelaku usaha pertanian meliputi:
 Segala informasi pertanian yang mencakup : 1) pengalaman praktek
para petani yang "lebih" berhasil baik dari wilayah yang
bersangkutan maupun dari luar wilayahnya yang mempunyai
kondisi agroklimat yang (hampir) serupa. 2) hasil-hasil pengujian,
terutama dari pengujian lokal (local verification trials). 3) saran
rekomendasi yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang.
4) keterangan pasar seperti : catatan harga hasil-hasil pertanian,
penawaran dan atau permintaan akan sarana produksi dan hasil-
hasil pertanian, dan lain-lain. 5) berbagai kebijaksanaan dan atau
peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dan
daerah setempat yang berkaitan dengan sektor pertanian seperti
kebijaksanaan harga-dasar, peraturan tentang permohonan dan
pengembalian kredit, dan lain-lain.
 Latihan keterampilan tentang : 1) teknis pertanian seperti
penggunaan alat-alat/mesin pertanian, teknik/cara memupuk,
menggunakan sprayer, dan lain-lain. 2) mengelola usahatani
berupa mengerjakan soal-soal latihan analisa usahatani,
pengumpulan informasi pasar dan lain-lain.
 Dorongan dan atau rangsangan menuju swakarsa, swakarya, dan
swadaya masyarakat berupa : 1) perlunya berusahatani secara
berkelompok, pembentukan organisasi dan atau lembaga-Iembaga

pg. 13
pelayanan seperti koperasi, kios produksi, perkreditan,
transportasi, dan lain-lain. 2) menciptakan berbagai kemudahan
fasilitas yang diperlukan seperti penyediaan alat-alat/mesin
pertanian, perlengkapan rumah-tangga untuk yang punya hajat,
dan lain-lain.
b. Sumber-Sumber Materi Penyuluhan Pertanian.
Mardikanto (1993) dalam Diamin (2015) menyebutkan bahwa sumber
materi penyuluhan pertanian dapat kelompokkan menjadi:
• Sumber resmi dari instansi pemerintah, seperti : Kementerian
/dinas-dinas terkait, Lembaga penelitian dan pengembangan,
Pusat-pusat pengkajian, Pusat-pusat informasi dan Pengujian lokal
yang dilaksanakan oleh penyuluh.
• Sumber resmi dari lembaga-lembaga swasta/lembaga swadaya
masyarakat yang bergerak dibidang penelitian, pengkajian dan
penyebaran informasi.
• Pengalaman petani, baik pengalaman usahataninya sendiri atau
hasil dari petak pengalaman yang dilakukan secara khusus dengan
atau tanpa bimbingan penyuluhnya.
• Sumber lain yang dapat dipercaya, misalnya: informasi pasar dari
para pedagang, perguruan tinggi dan lain-lain.
c. Penyiapan Bahan Materi Penyuluhan Pertanian
Bahan untuk penyusunan materi penyuluhan pada dasarnya harus
relevan dengan kebutuhan sasaran yang teridentifikasi. Berkaitan dengan
itu, syarat-syarat bahan untuk penyusunan materi yang tepat di antaranya
: relevan dengan kebutuhan sasaran, berasal dari sumber yang jelas dan
dapat dipertanggungjawabkan dan dapat diakses dengan baik.
d. Pemilihan Materi Penyuluhan Pertanian
Ragam Materi, Materi penyuluhan apapun yang disampaikan oleh
seorang penyuluh, harus senantiasa mengacu kepada kebutuhan yang
telah dirasakan oleh masyarakat sasarannya. Mardikanto (1993) dalam

pg. 14
Diamin (2015) memberikan acuan agar setiap penyuluh mampu
membeda-bedakan ragam materi penyuluhan yang ingin disampaikan
pada setiap kegiatannya ke dalam :
 Materi Pokok (Vital)
Materi pokok merupakan materi yang benar-benar dibutuhkan dan
harus diketahui oleh sasaran utamanya. Materi pokok sedikitnya
mencakup 50 persen dari seluruh materi yang disampaikan.
 Materi Penting (Important)
Materi penting berisi dasar pemahaman tentang segala sesuatu
yang berkaitan dengan kebutuhan yang dirasakan oleh sasarannya.
Materi ini diberikan sekitar 30 persen dari seluruh materi yang
disampaikan.
 Materi Penunjang (Helpful)
Materi penunjang masih berkaitan dengan kebutuhan yang
dirasakan yang sebaiknya diketahui oleh sasaran untuk memperluas
cakrawala pemahamannya tentang kebutuhan yang dirasakannya itu.
Materi ini maksimal 20 persen dari seluruh materi yang disampaikan.
 Materi Mubazir (Super flous)
Materi ini sebenarnya tidak perlu dan tidak ada kaitannya dengan
kebutuhan yang dirasakanoleh sasaran, karena itu dalam setiap
kegiatan penyuluhan sebaiknya justru dihindari penyampaian materi
seperti ini. Selanjutnya, materi penyuluhan pertanian juga dapat
dikelompokkan berdasarkan jenis usaha tani,kelompok sasaran, dan
tujuan yang ingin dicapai : 1) Materi penyuluhan berdasarkan jenis
usaha tani: pertanian (pangan, hortikultura, perkebunan), peternakan,
atau usaha tani off farmdan on farm, 2) Materi penyuluhan ber
dasarkan kelompok sasaran: pelaku utama dan pelaku usaha, 3)
Materi penyuluhan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, yaitu
materi dikelompokkan berdasarkan tujuan-tujuan yang telah

pg. 15
ditetapkan dalam programa penyuluhan dan rencana kegiatan
penyuluhan.
4. Materi Penyuluhan
Materi Penyuluhan Pertanian diarahkan untuk mengembangkan
kapasitas Pelaku Utama dan Pelaku Usaha dalam mengelola usaha tani
yang menguntungkan dan ramah lingkungan untuk meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan. Materi Penyuluhan Pertanian yang
memuat teknologi dapat mencakup inovasi teknologi yang bersumber dari
pengetahuan tradisional.
1) LPM (Lembar Persiapan Menyuluh)
a. Pengertian LPM
Secara sederhana Lembar Persiapan Menyuluh (LPM) dapat
diartikan sebagai lembar yang memuat hal-hal pokok yang harus
dipersiapkan dan dikerjakan saat berlangsungya penyuluhan.
Sedang bila merujuk pada apa yang dikatakan Dandan H, (2011)
bahwa LPM adalah rencana desain kegiatan penyuluhan yang akan
dilaksanakan untuk setiap kali sesi pertemuan.
b. Tujuan LPM
Adapun tujuan penyusunan LPM adalah : (a) Agar memudahkan
penyuluh dalam penyampaian materi; (b) Agar penyuluhan dapat
berjalan lancar sesuai skenario waktu yang telah ditetapkan; (c)
Memudahkan dalam melakukan evaluasi baik pre-test maupun
post-test; (d) Memudahkan penyuluh dalam mempersiapkan segala
sesuatu yang dibutuhkan pada kegiatan penyuluhan; (e) Sebagai
salah satu bukti pelaksanaan kegiatan penyuluhan.
2) Membuat Sinopsis Materi Penyuluhan
Langkah-langkah membuat sinopsis materi penyuluhan dari materi
lengkap yang telah dibuat menurut Kementan (2013) adalah:
a. Membaca materi dengan seksama dan penuh konsentrasi;
b. Menyediakan waktu khusus untuk membaca;

pg. 16
c. Membaca dalam kondisi rileks – tanpa tekanan;
d. Pahami materi;
e. Pikirkan sinopsis yang akan ditulis siapa pembacanya.
Tulis sinopsis dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh
pembaca.(1) Bagian awal : bagian ini berisi ringkasan latar belakang
masalah “mengapa” sasaran perlu mengetahui materi tersebut. (2)
Bagian utama : bagian utama berisi ringkasan gambaran isi materi
“siapa, apa, mengapa, kapan, dimana, bagaimana” menerapkan
atau melaksanakannya. (3) Bagian akhir : bagian ini berisi ringkasan
implikasi (disugestikan) materi tersebut.
E. Media Penyuluhan Pertanian
Media atau saluran komunikasi adalah alat pembawa pesan yang
disampaikan dari sumber kepada penerima. Media komunikasi penyuluhan
berdasarkan jenisnya dibagi menjadi media perorangan (PPL, petugas), media
forum (ceramah, diskusi), media cetak (koran, poster, leaflet, folder) dan
media dengar pandang (TV, radio, film). Media penyuluhan sangat diperlukan
agar penyuluh memberi manfaat sehingga penetapan bentuk penyuluhan
diharapkan berdasarkan atas pertimbangan waktu, penyampaian, isi, sasaran
dan pengetahuan sasaran (Levis, 1996).
Penyuluhan dalam prakteknya menurut Kartasapoetra (1994), dapat
dilaksanakan dengan menggunakan media penyuluhan langsung dan tidak
langsung. Media penyuluhan langsung, yaitu dimana penyuluh dengan
petani dapat berhadapan untuk mengadakan acara tukar pikiran yang
memungkinkan penyuluh dapat berkomunikasi secara langsung dan
memperoleh respon langsung dari sasaran dalam waktu yang relatif singkat,
sedangkan media penyuluhan tidak langsung, lewat perantara orang lain,
surat kabar atau media lain yang tidak memungkinkan penyuluh dapat
menerima respon dari sasarannya dalam waktu yang relatif singkat. Media
tidak langsung menurut bentuknya dapat dibagi atas : 1). Media elektronik,

pg. 17
yaitu TV, radio, film, slide ; 2). Media cetak, berupa pamflet, leaflet, folder,
brosur, placard, dan poster.
Media penyuluhan adalah suatu alat atau wadah pengantar dari suatu
pihak untuk disampaikan kepada pihak lain. Media penyuluhan dapat
digunakan dalam kegiatan penyuluhan untuk mengubah perilaku tradisional
menjadi perilaku yang modern dan inovatif. Media penyuluhan yang dapat
digunakan antara lain orang atau institusi, media cetak, pertemuan,
elektronik dan kunjungan(Isbandi, 2005).
Alat bantu dalam kegiatan penyuluhan merupakan sesuatu yang dapat
dilihat, didengar, dirasakan oleh panca indera manusia, dan berfungsi sebagai
alat untuk menjelaskan uraian yang disampaikan secara lisan oleh seorang
penyuluh, guna membantu proses belajar, agar materi atau informasi
penyuluhan yang disampaikan lebih mudah diterima dan dipahami
(Mardikanto, 1993).

Tabel 1. Jenis media penyuluhan sesuai kelompok sasaran

No Jenis Media Massal Kelompok Individu


1 Poster -
2 Film layar lebar -
3 Film video -
4 Leaflet - -
5 Peta singkap -
6 Power point -
/presentasi
7 Foto - -
8 Siaran TV,Radio -
Media Penyuluhan juga termasuk sebagai sarana dan alat bantu
kegiatan penyuluhan pertanian. Dengan adanya media akan membantu
kelancaran pelaksanaan penyuluhan. Sebagai contoh, dalam metode
penyuluhan dengan cara pertemuan kelompok akan lebih efektif dengan
adanya leaflet yang dibagikan kepada kelompok tani.

pg. 18
F. Metode Penyuluhan Pertanian.
Metode penyuluhan pertanian berdasarkan permentan No 52 tahun 2009
sebagai berikut :
1. Metode penyuluhan pertanian terdiri atas:
a. Teknik Komunikasi
1) Metode Penyuluhan Langsung
Metode Penyuluhan Langsung dilakukan melalui tatap
muka dan dialog antara penyuluh pertanian dengan pelaku utama
dan pelaku usaha, antara lain: demonstrasi, kursus tani, obrolan
sore.
2) Metode Penyuluhan Tidak Langsung
Metode penyuluhan tidak langsung dilakukan melalui
perantara (media komunikasi), antara lain: pemasangan poster,
penyebaran brosur/leaflet/folder/majalah, siaran radio, televisi,
pemutaran slide dan film.
b. Jumlah Sasaran
1) Pendekatan Perorangan
Penyuluhan Pertanian yang dilakukan secara perorangan, antara
lain: kunjungan rumah/lokasi usaha, surat-menyurat, hubungan
telepon.
2) Pendekatan Kelompok
Penyuluhan Pertanian yang dilakukan secara berkelompok, antara
lain: diskusi, karya wisata, kursus tani, pertemuan kelompok.
3) Pendekatan Massal
Penyuluhan Pertanian yang dilakukan secara massal, antara lain:
siaran radio, siaran televisi, pemasangan poster/spanduk,
kampanye.
c. Indera Penerima dari Sasaran
Indera penerima digunakan oleh sasaran untuk menangkap
rangsangan dalam kegiatan penyuluhan, semakin banyak indera

pg. 19
pemerima yang digunakan maka akan semakin efektif penerimaan
informasi penyuluhan. Metode penyuluhan pertanian berdasarkan
indera penerima dari sasaran terdiri atas:
 Indera Penglihatan
Dalam metode ini materi penyuluhan pertanian diterima sasaran
melalui indera penglihatan, antara lain: penyebaran bahan cetakan,
slide, album foto.
 Indera Pendengaran
Dalam metode ini materi penyuluhan pertanian diterima sasaran
melalui indera pendengaran, antara lain: hubungan telepon,
obrolan sore, pemutaran tape recorder dan siaran pedesaan.
 Kombinasi Indera Penerima
Dalam metode ini materi penyuluhan pertanian diterima oleh
sasaran melalui kombinasi antara indera penglihatan, indera
pendengaran, penciuman serta perabaan, antara lain: demonstrasi
cara/hasil, pemutaran film, pemutaran video dan siaran televisi.
2. Jenis metode penyuluhan pertanian berdasarkan tujuan
1) Pengembangan kreativitas dan inovasi antara lain:
a. Temu Wicara, dialog antara pelaku utama dan pelaku usaha dengan
pejabat pemerintah membicarakan perkembangan dan pemecahan
masalah pembangunan pertanian.
b. Temu Lapang (field day), pertemuan antara pelaku utama dan
pelaku usaha dengan penyuluh pertanian dan/atau peneliti/ahli
pertanian di lapangan untuk mendiskusikan keberhasilan usahatani
dan/atau mempelajari teknologi yang sudah diterapkan.
c. Temu Karya, pertemuan sesama pelaku utama dan pelaku usaha
untuk tukar menukar informasi, pengalaman dan gagasan dalam
kegiatan usahatani.
d. Temu Usaha, pertemuan antar pelaku utama dengan pelaku usaha/

pg. 20
e. pengusaha dibidang agribisnis dan/atau agroindustri agar terjadi
tukar menukar informasi berupa peluang usaha, permodalan,
teknologi produksi, pasca panen, pengolahan hasil, serta
pemasaran hasil, dengan harapan akan terjadi kontrak kerjasama.
2) Pengembangan kerukunan dengan masyarakat antara lain:
a. Temu Akrab, kegiatan pertemuan untuk menjalin keakraban
antara pelaku utama dengan masyarakat setempat/sekitar lokasi
pertemuan.
b. Ceramah, media penyampaian informasi secara lisan kepada
pelaku utama,pelaku usaha dan/atau tokoh masyarakat dalam
suatu pertemuan.
c. Demonstrasi, peragaan suatu teknologi (bahan, alat atau cara) dan
atau hasil penerapannya secara nyata yang dilakukan oleh
demonstrator kepada pelaku utama dan pelaku usaha. Ditinjau
dari materi, demonstrasi dibedakan atas :
 Demonstrasi cara, peragaan cara kerja suatu teknologi, antara
lain: demonstrasi cara pemupukan, demonstrasi cara
penggunaan alat perontok.
 Demonstrasi hasil, peragaan hasil penerapan teknologi, antara
lain: demonstrasi hasil budidaya padi varietas unggul,
demonstrasi hasil penggunaan alat perontok padi.
 Demonstrasi cara dan hasil, gabungan peragaan cara dan hasil
suatu teknologi.

G. Memetakan Potensi Wilayah Desa


Menurut Muhi (2011) secara umum peta adalah gambaran konvesional
permukaan bumi yang diperjecil dan mendeskripsikan kenampakan
permukaan bumi dari atas yang dilengkapi dengan symbol-simbol dan
keterangan lainnya. Dengan kata lain adalah menggambarkan bentuk
permukaan bumi ke atas kertas atau media lainnya dengan cara membut

pg. 21
bentuk yang mirip kondisi dengan riel dalam ukuran yang lebih kecil atau
menggunakan skala tertentu.
Widiyatmoko (2004) dalam Muhi (2011) menyebutkan bahwa fungsi dan
tujuan pembuatan peta adalah: a) Menunjukan posisi atau lokasi (letak suatu
tempat dalam hubungannya dengan tempat lain) di permukaan bumi b)
Memperlihatkan ukuran, karena melalui oeta dapat diukur luas daerah dan
jarak-jarak di atas permukaan bumi c) Memperlihatkan atau menggambarkan
bentul-bentuk permukaan bumi d) Menyajikan data tentang potensi suatu
wilayah/kawasan/daerah e) Komunikasi informasi ruang f) Menyimpan
informasi g) Membantu suatu pekerjaan; h) Membatu dalam pembuatan
suatu desain; i) Analisis data spesial.
Ada beberapa macam peta yang dikenal selama ini ditinjau dari segi teknis,
skala, isi dan tujuannya. Menurut Wardiyatmoko (2004) dalam Muhi (2011)
ada beberapa macam peta ditinjau dari jenis, skala, isi dan tujuannya, yaitu:
a. Peta umum, yaitu peka yang menggambarkan segala sesuatu yang ada
dalam suatu wilayah atau daerah. Dalam peta ini digambarkan sungai,
sawah hutan, tempat pemukiman, jalan raya, jalur rel kereta api dan
sebagainya.
b. Peta tematik (khusus), yaitu peta yang menggambarkan kenampakan-
kenampakan tertentu di permukaan bumi.

Pemetaan potensi dan permasalahan wilayah desa dimaksudkan untuk


menggambarkan dan memudahkan dalam mengenali dan memahami
potensi-potensi dan permasalahan yang ada dalam wilayah desa agar dapat
ditentukan penanganan yang tepat. kegiatan atau aktivias untuk mengetahui
dan menggambarkan posisi serta penyebaran potensi dan permsalahan
dalam suatu wilayah desa inilah yang disebut dengan memetakan potensi
dan permasalahan wilayah desa (Muhi, 2011).

Menurut Muhi (2011) cara memetakan potensi dan permasalahan dalam


wilayah desa adalah sebagai berikut.

pg. 22
1. Buat peta umum wilayah desa.
2. Tentukan simbol-simbol untuk tiap potensi yang ada dalam wilayah desa.
3. Tentukan simbol-simbol untuk tiap permasalahan yang ada dalam
wilayah desa.
4. Pasangkan simbol-simbol potensi yang ada wilayah desa pada peta desa
sesuai dengan posisi yang diyakini keberadaannya berdasarkan hasil
pengamatan di lapangan.
5. Pasangkan simbol-simbol permsalahan yang ada dalam wilayah desa
pada peta desa sesuai dengan posisi yang diyakini keberadaannya
berdasarkan hasil pengamatan di lapangan.
6. Beri keterangan untuk setiap item simbol yang terdapat di dalam peta.

Identifikasi Potensi wilayah dilakukan untuk memperoleh data keadaan


wilayah dan ekosistem dengan menggunakan data primer maupun data
sekunder. Data primer diperoleh di lapangan baik dari petani maupun
masyarakat yang terkait, sedangkan data sekunder diperoleh dari monografi
desa/ kecamatan/BPP dan atau dari sumber-sumber lain yang relevan.
Identifikasi data primer bisa dilakukan melalui pendekatan partisipatif dan
wawancara semi tersetruktur menggunakan teknik PRA, sedangkan
identifikasi data sekunder dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh
data potensi wilayah dan ekosistem dari data monografi
desa/kecamatan/BPP dan sumber lain yang mendukung.

H. Akses Dan Informasi, Teknologi, Permodalan Dan Pasar


a. Akses Informasi
Beberapa informasi yang harus dapat tersedia dan terakses di Balai
Penyuluhan Pertaia dintarnya mengenai informasi teknologi, informasi
modal dan informasi pasar. Berdasarkan UU No. 26 tahun 2006 ruang
lingkup masing-masing informasi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Informasi Teknologi

pg. 23
Informasi teknologi yang diperlukan yakni berkaitan dengan
teknologi budidaya, pasca panen, pengolahan dan pemasaran serta
manejemen usaha tani/usaha perikanan/usaha kehutanan.
b) Informasi Modal
Informasi pembiayaan dapat disebut juga informasi modal.
Informasi yang dimuat terutama menyangkut satuan biaya untuk
melaksanakan suatu usaha agribisnis baik budidaya, panen, pasca
panen, pengolahan dan pemasaran serta sumber-sumber
mendapatkan modal tersebut.
c) Informasi Pasar
Informasi pasar diantaranya harga komoditi, permintaan komoditi
(jumlah, mutu, kapan diperlukan pembeli/konsumen) dan sumber
produksi;
b. Akses Sumber Informasi
Akses teknologi, modal dan pasar dan dilakukan dengan cara
mengakses informasi-informasi mengenai tiga hal tersebut ke sumbernya
masing-masing seperti Litbang, Dinas Perdagangan, Bank, dll. Beberapa
cara yang dapat dilakukan untuk mengakses informasi, antara lain :
a) Internet
Internet memberi informasi kepada para petani dalam
pemeliharaan tanaman dan hewan, pemberian pupuk, irigasi, ramalan
cuaca dan harga pasaran. Manfaat internet menguntungkan para petani
dalam hal kegiatan advokasi dan kooperasi. Internet juga bermanfaat
untuk mengkoordinasikan penanaman agar selalu ada persediaan di
pasar, lebih teratur dan harga jual normal. Aplikasi internet resmi yang
tengah tersedia bagi penyuluh untuk mengakses informasi-informasi
tersebut dari Kementrian Pertanian adalah Cyber extension.
Aplikasi teknologi informasi melalui sarana komputer maupun
telepon seluler (handphone) dalam implementasi cyber extension di
beberapa negara dapat berfungsi untuk memepercepat proses

pg. 24
pembelajaran masyarakat. Melalui proses komunikasi yang konvergen,
cyber extension sangat bermanfaat baik bagi masyarakat pengguna,
peneliti, maupun penyuluh.
b) Kaji Terap
Kaji terap merupakan penerapan rekomendasi teknologi pada lahan
petani untuk menguji kesesuaian spesifik lokasi, meyakinan kecocokan
sebelum disebarluaskan ke petani lain. Berdasarkan Permentan No. 52
Tahun 2009, kaji terap adalah uji coba teknologi yg dilakukan oleh
pelaku utama untuk meyakinkan keunggulan teknologi anjuran
dibandingkan teknologi yg pernah diterapkan, sebelum diterapkan atau
dianjurkan kepada pelaku utama lainnya. Materi teknologi dalam
kegiatan kaji terap diperoleh melalui penyelenggaraan ”Temu Tugas”
yakni pertemuan berkala antara pengemban fungsi penyuluhan,
penelitian, pengaturan dan pelayanan dalam rangka pemberdayaan
petani beserta keluarganya.
c) Kaji Tindak
Kaji terap dilaksanakan pada kondisi petani yang sebenarnya,
dengan bimbingan penyuluh pertanian dari dinas lingkup pertanian
terkait. Kaji tindak adalah bentuk penyuluhan partisipatif,
pengembangan agribisnis yg berbasis teknologi spesifik lokalita/sesuai
kebutuhan petani serta memanfaatkan Balai Penyuluhan Pertanian
sebagai pemberi layanan informasi agribisnis.

I. Pendidikan Orang Dewasa dan Pemberdayaan Masyarakat


Knowles (1970) di dalam bukunya yang berjudul The Modern Practice of
Adult Education menulis antara lain sebagai berikut : Sebagian besar dari apa
yang telah kita ketahui tentang belajar adalah berasal dari hasil penelaahan
cara belajar pada anak-anak dan binatang. Sebagian besar dari apa yang telah
kita ketahui tentang mengajar adalah berasal dari pengalaman mengajar
anak-anak dalam kondisi kehadiran yang diharuskan. Sebagian besar teori

pg. 25
tentang transaksi belajar/mengajar adalah berdasarkan definisi pendidikan
sebagai suatu proses memindahkan atau meneruskan kebudayaan.”
Dari anggapan atau pandangan tersebut di atas maka timbullah istilah
Pedagogi ilmu tentang bagaimana memimpin atau membimbing anak-anak.
Namun, dalam perjalanan sejarah seterusnya kata anak-anak tersebut
menjadi hilang sehingga Pedagogi diartikan sebagai ilmu mengajar. Lalu di
kemudian hari lahirlah istilah Andragogi, yang berasal dari Bahasa Latin andro
yang berarti orang dewasa dan agogos yang berarti memimpin atau
membimbing. Jadi Andragogi adalah ilmu bagaimana memimpin atau
membimbing orang dewasa atau ilmu mengajar orang dewasa.
Pendidikan orang dewasa atau andragogi adalah ilmu bagaimana
memimpin atau membimbing orang dewasa atau ilmu mengajar orang
dewasa. Andragogi menstimulasi orang dewasa agar mampu melakukan
proses pencarian dan penemuan ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan
dalam kehidupan. Andragogi pada hakikatnya berlangsung terus-menerus,
tiada henti-hentinya selama manusia masih hidup. Andragogi adalah identik
dengan konsep life long education atau pendidikan sepanjang hayat.
a. Prinsip-prinsip Pendidikan Orang Dewasa
Dalam menggunakan pembelajaran berbasis andragogi perlu
memperhatikan prinsip-prinsip dan strategi pembelajaran orang dewasa.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
a) Orang dewasa memiliki konsep diri. Perilaku yang terkesan menggurui,
cenderung akan ditanggapi secara negatif oleh orang dewasa.
Kegiatan belajarnya akan berkembang ke arah belajar antisipatif
(berorientasi ke masa depan) dan belajar secara partisipatif (bersama
orang lain) dengan berpikir dan berbuat di dalam dan terhadap dunia
kehidupannya.
b) Orang dewasa memiliki akumulasi pengalaman. Orang dewasa
mempelajari sesuatu yang baru cenderung dimaknai dengan
menggunakan pengalaman lama. Pengenalan dan penerapan konsep-

pg. 26
konsep baru akan lebih mudah apabila berangkat dari pengalaman
yang dimiliki orang dewasa.
c) Orang dewasa memiliki kesiapan belajar. Kesiapan belajar orang
dewasa akan seirama dengan peran yang ia tampilkan baik dalam
masyarakat maupun dalam tugas/pekerjaan. Penyesuaian materi dan
kegiatan belajar perlu direlevansikan dengan kebutuhan belajar dan
tugas/pekerjaan peserta didik orang dewasa.
d) Orang dewasa menginginkan dapat segera memanfaatkan hasil
belajarnya. Pengalaman belajar hendaklah dirancang berdasarkan
kebutuhan dan masalah yang dihadapi orang dewasa, seperti
kebutuhan dan masalah dalam pekerjaan, peranan sosial budaya, dan
ekonomi.
e) Orang dewasa memiliki kemampuan belajar. Implikasi praktisnya,
pendidik perlu mendorong orang dewasa sebagai peserta didik untuk
belajar sesuai dengan kebutuhan belajarnya dan cara belajar yang
diinginkan, dipilih, dan ditetapkan oleh orang dewasa.
f) Orang dewasa dapat belajar efektif apabila melibatkan aktivitas
mental dan fisik. Orang dewasa belajar dengan melibatkan pikiran dan
perbuatan. Implikasi praktisnya, orang dewasa akan belajar secara
efektif dengan melibatkan fungsi otak kiri dan otak kanan,
menggunakan kemampuan intelek dan emosi, serta dengan
memanfaatkan berbagai media, metode, teknik dan pengalaman
belajar.
b. Pemberdayaan Masyarakat
Pada hakikatnya pemberdayaan merupakan penciptaan suasana
atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang
(enabling). Logika ini didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada masyarakat
yang sama sekali tanpa memiliki daya. Oleh karena itu daya harus digali
dan kemudian dikembangkan. Disamping itu hendaknya pemberdayaan
jangan menjebak masyarakat dalam perangkap ketergantungan (charity),

pg. 27
pemberdayaan sebaliknya harus mengantarkan pada proses kemandirian.
(Winari, 1998).
Pemberdayaan memberikan tekanan pada otonom pengambilan
keputusan dari suatu kelompok masyarakat. Penerapan aspek demokrasi
dan partisipasi dengan titik fokus pada lokalitas akan menjadi landasan
bagi upaya penguatan potensi lokal.
Pemberdayaan mementingkan adanya pengakuan subyek akan
kemampuan atau daya (power) yang dimiliki obyek. Secara garis besar,
proses ini melihat pentingnya mengalihfungsikan individu yang tadinya
obyek menjadi subyek (Suparjan dan Hempri, 2003: 44).
J. Penumbuhan Kelembagaan Petani
Kelembagaan adalah keseluruhan pola-pola ideal, organisasi, dan aktivitas
yang berpusat di sekeliling kebutuhan dasar seperti kehidupan keluarga,
negara, agama dan mendapatkan makanan, pakaian, dan kenikmatan serta
tempat perlindungan. Suatu lembaga dibentuk selalu bertujuan untuk
memenuhi berbagai kebutuhan manusia sehingga lembaga mempunyai
fungsi. Selain itu, lembaga merupakan konsep yang berpadu dengan struktur,
artinya tidak saja melibatkan pola aktivitas yang lahir dari segi sosial untuk
memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga pola organisasi untuk
melaksanakannya (Roucek dan Warren, 1984).
Kelembagaan petani yang dimaksud di sini adalah lembaga petani yang
berada pada kawasan lokalitas (local institution), yang berupa organisasi
keanggotaan (membership organization) atau kerjasama (cooperatives) yaitu
petani-petani yang tergabung dalam kelompok kerjasama (Uphoff, 1986
dalam Sandy Cahyono, 2010). Kelembagaan ini meliputi pengertian yang luas,
yaitu selain mencakup pengertian organisasi petani, juga ‘aturan main’ (role
of the game) atau aturan perilaku yang menentukan pola-pola tindakan dan
hubungan sosial, termasuk juga kesatuan sosial-kesatuan sosial yang
merupakan wujud kongkrit dari lembaga itu. Kelembagaan petani dibentuk
pada dasarnya mempunyai beberapa peran, yaitu: (a) tugas dalam organisasi

pg. 28
(interorganizational task) untuk memediasi masyarakat dan negara, (b) tugas
sumberdaya (resource tasks) mencakup mobilisasi sumberdaya lokal (tenaga
kerja, modal, material, informasi) dan pengelolaannya dalam pencapaian
tujuan masyarakat, (c) tugas pelayanan (service tasks) mungkin mencakup
permintaan pelayanan yang menggambarkan tujuan pembangunan atau
koordinasi permintaan masyarakat lokal, dan (d) tugas antar organisasi (extra-
organizational task) memerlukan adanya permintaan lokal terhadap
birokrasi atau organisasi luar masyarakat terhadap campur tangan oleh agen-
agen luar (Esman dan Uphoff dalam Garkovich, 1989 dalam M. Faesal M.,
2013). Kelembagaan merupakan keseluruhan pola-pola ideal, organisasi, dan
aktivitas yang berpusat di sekeliling kebutuhan dasar. Suatu kelembagaan
pertanian dibentuk selalu bertujuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan
petani sehingga lembaga mempunyai fungsi.
a. Definis Kelembagaan Petani
Kelembagaan Petani adalah lembaga yang ditumbuhkembangkan
dari, oleh, dan untuk petani guna memperkuat dan memperjuangkan
kepentingan petani, mencakup Kelompok Tani, Gabungan Kelompok
Tani, Asosiasi Komoditas Pertanian, dan Dewan Komoditas Pertanian
Nasional.
b. Penumbuhan Kelompoktani
Dalam penumbuhan kelompok tani, yang perlu diperhatikan yaitu
kesamaan kepentingan, sumberdaya alam, sosial-ekonomi, keakraban,
saling mempercayai, dan keserasian hubungan antar anggota untuk
kelestarian kehidupan berkelompok, sehingga setiap anggota merasa
memiliki dan menikmati manfaat dari setiap kegiatan.
Pelaksanaan penumbuhan kelompokotani melalui tahapan sebagai
berikut:
 Persiapan Penumbuhan Poktan
1) Penyuluh Pertanian mengidentifikasi melalui pengumpulan data
dan informasi Petani yang belum menjadi anggota Poktan

pg. 29
2) Penyuluh Pertanian menjelaskan kepada tokoh-tokoh Petani dan
aparat desa
3) Penyuluh Pertanian kemudian melakukan pertemuan kelompok-
kelompok atau kelembagaan sosial dan pertemuan di tingkat
RW/dusun dalam satu desa/kelurahan
 Proses Penumbuhan Kelompoktani
1) Penyuluh pertanian melakukan sosialisasi tentang penumbuhan
Poktan kepada tokoh-tokoh Petani setempat dan aparat
desa/kelurahan;
2) Pertemuan atau musyawarah Petani yang dihadiri oleh tokoh
masyarakat, pamong desa/kelurahan, instansi terkait, dengan
didampingi Penyuluh Pertanian;
3) Menyepakati pembentukan Poktan yang dituangkan dalam surat
pernyataan dengan diketahui Penyuluh Pertanian; pengurus Poktan
terdiri atas Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan seksi-seksi sesuai unit
usaha yang dimiliki
4) Setiap Poktan melakukan pertemuan lanjutan dengan dihadiri
seluruh anggota untuk menyusun dan/atau menetapkan rencana
kerja; dan
5) Setiap Poktan harus didaftarkan di satuan kerja yang melaksanakan
tugas penyuluhan di kecamatan dan datanya dimuat dalam Sistem
Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (SIMLUHTAN).
c. Pengembangan Kelompoktani
Pengembangan Poktan diarahkan pada (a) penguatan Poktan
menjadi Kelembagaan Petani yang kuat dan mandiri; (b) peningkatan
kemampuan anggota dalam pengembangan agribisnis; dan (c)
peningkatan kemampuan Poktan dalam menjalankan fungsinya.
Penguatan Poktan menjadi Kelembagaan Petani yang Kuat dan Mandiri,
melalui :
1) Memiliki aturan/norma yang disepakati dan ditaati bersama.

pg. 30
2) Melaksanakan pertemuan secara berkala dan berkesinambungan
(rapat anggota, rapat pengurus, dan rapat lainnya).
3) Menyusun rencana kerja dalam bentuk rencana definitif kelompok
(RDK) dan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) berdasarkan
kesepakatan dan dilakukan evaluasi secara partisipatif memiliki
pengadministrasian kelembagaan petani.
4) Memfasilitasi kegiatan-kegiatan usaha bersama di sektor hulu
sampai dengan hilir.
5) Memfasilitasi usaha tani secara komersial dan berorientasi pasar.
6) Sebagai sumber pelayanan informasi dan teknologi untuk usaha
petani umumnya dan anggota khususnya.
7) Menumbuhkan jejaring kerjasama kemitraan antara poktan dengan
pihak lain.
8) Mengembangkan pemupukan modal usaha, baik iuran anggota
maupun penyisihan hasil kegiatan usaha bersama.
9) Meningkatkan kelas kemampuan poktan yang terdiri atas kelas
pemula, Kelas Lanjut, Kelas Madya, dan Kelas Utama, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Peningkatan Kemampuan Anggota dalam Pengembangan Agribisnis, melalui :

1) Memperlancar proses identifikasi kebutuhan dan masalah dalam


menyusun rencana dan memecahkan masalah dalam usahataninya.
2) Meningkatkan kemampuan anggota dalam menganalisis potensi pasar,
peluang usaha, potensi wilayah dan sumber daya yang dimiliki, untuk
mengembangkan komoditi yang diusahakan guna memberikan
keuntungan yang optimal.
3) Menumbuhkembangkan kreativitas dan prakarsa anggota untuk
memanfaatkan setiap peluang usaha, informasi, dan akses permodalan.
4) Meningkatkan kemampuan anggota dalam mengelola usahatani secara
komersial, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

pg. 31
5) Meningkatkan kemampuan anggota dalam menganalisis potensi usaha
menjadi unit usaha yang dapat memenuhi kebutuhan pasar dari aspek
kuantitas, kualitas dan kontinuitas.
6) Mengembangkan kemampuan anggota dalam menghasilkan teknologi
spesifik lokasi.
7) Mendorong dan mengadvokasi anggota agar mau dan mampu
melaksanakan kegiatan simpan-pinjam guna pengembangan modal
usahatani.

Peningkatan Kemampuan Poktan dalam Menjalankan Fungsinya, melalui :


Pembinaan dilaksanakan secara berkesinambungan dan diarahkan pada upaya
peningkatan kemampuan Poktan dalam melaksanakan fungsinya sebagai (1) kelas
belajar; (2) wahana kerjasama; dan (3) unit produksi, sehingga mampu
mengembangkan Usahatani dan menjadi Kelembagaan Petani yang kuat dan
mandiri.

a) Kelas Belajar
Peningkatan kemampuan Poktan melalui proses belajar mengajar diarahkan
untuk mempunyai kemampuan sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi dan merumuskan kebutuhan belajar.
2) Merencanakan dan mempersiapkan kebutuhan belajar.
3) Menumbuhkan kedisiplinan dan motivasi anggota.
4) Melaksanakan pertemuan dan pembelajaran secara kondusif dan tertib.
5) Menjalin kerjasama dengan sumber-sumber informasi dalam proses
belajar mengajar, baik yang berasal dari sesame anggota, instansi pembina
maupun pihak terkait.
6) Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
7) Aktif dalam proses belajar-mengajar, termasuk mendatangkan dan
berkonsultasi kepada kelembagaan penyuluhan pertanian, dan sumber-
sumber informasi lainnya.
8) Mengemukakan dan memahami keinginan, pendapat dan masalah

pg. 32
anggota;
9) Merumuskan kesepakatan bersama, dalam memecahkan masalah dan
melakukan berbagai kegiatan; dan
10) Merencanakan dan melaksanakan pertemuan berkala, baik internal
maupun dengan instansi terkait.
b) Wahana Kerjasama
Peningkatan kemampuan Poktan sebagai wahana kerjasama, diarahkan
untuk memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) Menciptakan suasana saling kenal, saling percaya mempercayai dan
selalu berkeinginan untuk bekerjasama;
2) Menciptakan suasana keterbukaan dalam menyatakan pendapat
pandangan diantara anggota untuk mencapai tujuan bersama.
3) Mengatur dan melaksanakan pembagian tugas/kerja diantara anggota
sesuai dengan kesepakatan bersama.
4) Mengembangkan kedisiplinan dan rasa tanggungjawab diantara anggota.
5) Merencanakan dan melaksanakan musyawarah agar tercapai
kesepakatan yang bermanfaat bagi anggota.
6) Melaksanakan kerjasama penyediaan sarana dan jasa pertanian;
7) Melaksanakan kegiatan pelestarian lingkungan.
8) Mentaati dan melaksanakan kesepakatan, baik yang dihasilkan secara
internal maupun dengan pihak lain.
9) Menjalin kerjasama dan kemitraan usaha dengan pihak penyedia sarana
produksi, pengolahan, pemasaran hasil dan/atau permodalan.
10) Melakukan pemupukan modal untuk keperluan pengembangan usaha
anggota.
c) Unit Produksi
Peningkatan kemampuan Poktan sebagai unit produksi, diarahkan untuk
memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) Mengambil keputusan dalam menentukan pengembangan produksi yang
menguntungkan berdasarkan informasi yang tersedia dalam bidang

pg. 33
teknologi, sosial, permodalan, sarana produksi dan sumberdaya alam
lainnya.
2) Menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan bersama, serta rencana
kebutuhan poktan atas dasar pertimbangan efisiensi.
3) Memfasilitasi penerapan teknologi usahatani oleh anggota sesuai dengan
rencana kegiatan.
4) Menjalin kerjasama dan kemitraan dengan pihak lain yang terkait dalam
pelaksanaan usahatani.
5) Mentaati dan melaksanakan kesepakatan, baik yang dihasilkan secara
internal maupun dengan pihak lain.
6) Mengevaluasi kegiatan dan rencana kebutuhan bersama, sebagai bahan
pertimbangan dalam merencanakan kegiatan yang akan datang.
7) Meningkatkan kesinambungan produktivitas dan kelestarian sumberdaya
alam.
8) Mengelola administrasi secara baik dan benar.
K. Evaluasi Penyuluhan Pertanian
Evaluasi merupakan upaya penilaian atas hasil suatu kegiatan melalui
pengumpulan dan penganalisaan informasi/data secara sistematik serta
mengikuti prosedur tertentu yang secara ilmu diakui keabsahannya. Evaluasi
bisa dilakukan terhadap perencanaan, pelaksanaan maupun hasil serta
dampak suatu kegiatan (Kementerian Pertanian, 2016).
Menurut H.A. Anderson dan B.J Bond (1966) dalam Nurliana (2017)
menyebutkan bahwa evaluasi adalah suatu kegiatan pengumpulan
keterangan, identifikasi implikasi, penentuan hukum, dan penilaian serta
perumusan keputusan, dalam hubungannya dengan perbaikan atau
penyempurnaaan berikutnya lebih lajut demi tercapainya tujuan yang
diinginkan.
Evaluasi penyuluhan pertanian merupakan suatu proses sistematis untuk
memperoleh informasi yang relevan dan mengetahui sejauh mana perubahan
perilaku petani dan hambatan yang dihadapi petani, sejauh mana efektivitas

pg. 34
rancangan program penyuluhan pertanian dalam merencanakan program
kerja petani (Padmowihardjo, 2009).
Pelaksanaan evaluasi penyuluhan pertanian didasarkan pada Programa
Penyuluhan Pertanian Tingkat Kecamatan kemudian dijabarkan dalam
Rencana Kerja Tahunan Penyuluh (RKTP) yang menjadi pedoman pelaksanaan
kegiatan penyuluhan pertanian selama satu tahun.
Prinsip Menurut Mardikanto (1996) dalam Nurliana (2017), kegiatan
evaluasi harus memperhatikan prinsip-prinsip evaluasi yang terdiri atas :
a. Kegiatan evaluasi harus merupakan bagian integral yang tak
terpisahkan dari kegiatan perencanaan program, artinya bahwa tujuan
evaluasi harus selaras dengan tujuan yang ingin dicapai yang telah
dinyatakan dalam perencanaan programnya.
b. Setiap evaluasi harus memenuhi persyaratan :
1) Obyektif, artinya selalu berdasarkan pada fakta.
2) Menggunakan pedoman tertentu yang telah dibakukan (standardized).
3) Menggunakan metoda pengumpulan data yang tepat dan teliti.
4) Setiap evaluasi, harus menggunakan alat ukur yang berbeda untuk
mengukur tujuan evaluasi yang berbeda pula.
c. Setiap evaluasi harus mengguakanalat ukur yang berbeda untuk
mengukur tujuan evaluasi yang berbeda pula.
d. Evaluasi harus dinyatakan dalam bentuk :
1) Data kuantitatif, agar dengan jelas dapat diketahui tingkat pencapaian
tujuan dan tingkat penyimpangan pelaksanaannya.
2) Uraian kualitatif, agar dapat diketahui faktor-faktor; penentu
keberhasilan, penyebab kegagalan, dan faktor penunjang serta
penghambat keberhasilan tujuan program yang direncanakan.
e. Evaluasi harus efektif dan efisien, artinya :
1) Evaluasi harus menghasilkan temuan-temuan yang dapat dipakai
untuk meningkatkan efektivitas (tercapainya tujuan) program.

pg. 35
2) Evaluasi harus mempertimbangkan ketersediaan sumberdayanya
sehingga tidak terjebak pada kegiatan-kegiatan yang terlalu rinci, tetapi
tidak banyak manfaatnya bagi tercapainya tujuan, melainkan harus
dipusatkan pada kegiatan-kegiatan yang strategis (memiliki dampak
yang luas dan besar bagi tercapainya tujuan program).

pg. 36
METODE PELAKSANAAN

A. Waktu dan Tempat


Waktu : Kegiatan Praktik Kerja Lapangan II akan dilakansanakan selama dua
bulan, terhitung mulai tanggal 24 Juni 2019 sampai 16 Agustus 2019.
Tempat : Kegiatan Praktik Kerja Lapangan II akan dilaksanakan di BPP
kecamatan Panumbangan Kabupaten Ciamis
B. Materi Kegiatan
Materi yang akan dilaksanakan dalam Praktik Kerja Lapangan II adalah
sebagai berikut :
1. Melaksankan identifikasi potensi, permasalahan dan merumuskan
rekomendasi potensi serta membantu pemecahan masalah di wilayah
desa.
2. Menyusun program dan programa penyuluhan pertanian tingkat desa
3. Melaksankan penyusunan materi penyuluhan pertanian sesuai kebutuhan
sasaran
4. Memilih, menetapkan dan mendesain media penyuluhan pertanian.
5. Memilih, menetapkan dan menyusun desain dan strategi metode
penyuluhan pertanian;
6. Menggunakan GIS untuk memetakan potensi wilayah desa.
7. Mengakses dan memanfaatkan informasi, teknologi, permodalan, dan
pasar pada penyuluhan pertanian.
8. Menerapkan prinsip-prinsip Pendidikan Orang Dewasa (POD) dan
pemberdayaan masyarakat pada pelaksanaan penyuluhan pertanian.
9. Melakukan evaluasi pelaksanaan penyuluhan pertanian di kelompok tani
sesuai RKTP.
10. Melaksanakan penyuluhan dalam rangka penumbuhkembangan
kelembagaan petani.

pg. 37
C. Prosedur Pelaksanaan
1. Pra Survey
Pra Survey dilaksanakan selama 1 minggu sebelum pembekalan PKL
yang dilakukan oleh pihak POLBANGTAN Bogor. Pra Survey dilakukan
untuk melihat kondisi lokasi yang akan dijadikan tempat PKL mahasiswa.
2. Pembekalan PKL
Pembekalan diberikan kepada mahasiswa dan dilaksanakan di
kampus POLBANGTAN Bogor. Pembekalan dimaksudkan antara lain untuk
menginformasikan lokasi PKL masing-masing mahasiswa yang sudah
diitetapkan, dan menyamakan persepsi tentang pelaksanaan PKL,
terutama berkaitan materi yang perlu dikuasai dan mekanisme
pelaksanaan tugasnya.
3. Penyusunan Proposal
Proposal disusun oleh mahasiswa yang diarahkan dan dibimbing
oleh dosen pembimbing. Penyusunan proposal dilaksanakan selama 1
minggu, sebelum pelaksanaan PKL.
4. Pelaksanaan PKL
Praktik Kerja Lapangan II dilaksanakan oleh mahasiswa secara
mandiri dengan menggunakan metode magang. Lokasi pelaksanaan PKL II
adalah wilayah desa yang punya potensi untuk pengembangan komoditas
unggulan (pertanian) dan tersedia Balai Penyuluhan Pertanian (BPP)
tingkat kecamatan sebagai basis magang untuk menerapkan kegiatan
sesuai materi dengan mekanisme yang telah dirancang dan disetujui,
seperti yang tertera dalam proposal yang telah disusun. Pembimbing
internal dan ekternal yang telah ditetapkan vertugas memonitor dan
memberikan bimbingan kepada mahasiswa dalam pelaksanaan praktik
kerja lapangan ini selama berada di lapangan.
Mahasiswa wajib melaporkan hasil kegiatan Praktik Kerja
Lapangan sesuai output yang telah ditetapkan. Adapun kegiatan dan
output kegiatan terdapat pada tabel dibawah ini.

pg. 38
Tabel 2 Materi PKL, rincian kegiatan, dan output kegiatan

No Materi Kegiatan Rincian Kegiatan


1. Melaksanakan identifikasi potensi, Melakukan identifikasi potensi dan
permasalahan dan merumuskan permasalahan wilayah melalui PRA
rekomendasi potensi dan pemecahan (wilayah desa)
masalah wilayah melalui pemagangan Merumuskan rekomendasi potensi
pada Lembaga Penyuluhan/Balai dan pemecahan masalah.
Penyuluhan Pertanian (BPP)
2. Melaksanakan kegiatan magang Mengidentifikasi program dan
tentang prosedur penyusunan programa penyuluhan pertanian yang
program dan programa penyuluhan tersedia di BPP setempat
pertanian Mempelajari proses penyusunan
program dan programa penyuluhan
pertanian (program tingkat wilayah
desa, dan programa tingkat
kecamatan)
3. Menyusun materi penyuluhan Menetapkan materi penyuluhan
pertanian berkelanjutan berdasarkan Programa Penyuluhan
Paertanian
Membuat synopsis materi
penyuluhan
Membuat LPM
4. Memilih, menetapkan dan mendesain Membuat LPM
media penyuluhan pertanian Membuat sinopsi
Menyiapkan media grafis/elektronik
5. Memilih, menetapkan dan menyusun Menetapkan dan menerapkan
desain dan strategi metode metode penyuluhan pertanian sesuai
penyuluhan pertanian dengan Permentan 52 Tahun 2010
disesuaikan dengan materi
penyuluhan pertanian

pg. 39
6. Melaksanakan kegiatan magang Mengidentifikasi akses dan informasi
mengenai akses dan informasi, teknologi
teknologi, permodalan, dan pasar Mengidentifikasi akses dan informasi
pada penyuluhan pertanian permodalan
Mengidentifikasi
7. Memetakan potensi wilayah desa Menyusun peta potensi wilayah desa
berdasarkan hasil analisis PRA
8. Melaksanakan penyuluhan dengan Melaksanakan penyuluhan kepada
menerapkan prinsip Pendidikan kelompoktani yang ada didesa
Orang Dewasa dan pemberdayaan sebanyak 4 kali pertemuan dengan
masyarakat menerapkan media dan metode
penyuluhan pertanian yang sudah
dipersiapkan
9. Melaksanakan penumbuhkembangan Melaksanakan penyuluhan kepada
kelembagaan petani kelompoktani yang ada didesa
sebanyak 4 kali pertemuan dengan
menerapkan media dan metode
penyuluhan pertanian yang sudah
dipersiapkan
10. Melaksanakan evaluasi penyuluhan Melaksanakan evaluasi kegiatan
pertanian penyuluhan pertanian

pg. 40
DAFTAR PUSTAKA

Sari D. 2017 “Penyuluhan Pertanian Menurut Para Ahli”


http://jurnalpenyuluhanpertanian.blogspot.com/2017/01/penyuluhan-
pertanian-menurut-para-ahli.html, diaskes pada 30-05-2019
Muhi. 2011.”Pemetaan Potensi Wilyah Desa”.
karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/PWK/article/download/.../pdf . diakses
pada 30-05-2019
Setiana L. 2005.” Perencanaan Program Penyuluhan”.
https://muhammadhairulzai1604.wordpress.com/2017/02/07/perencanaa
n-program-penyuluhan/ diakses pada 01-06-2019
Mardikanto. 1993. dalam Diamin.“ Teknik Menyusun Materi Penyuluhan
Pertanian”. https://www.kompasiana.com/erwindiamin/teknik-menyusun-
materi-penyuluhan-pertanian_5509d74d813311fa63b1e161. diakses pada
01-06-2019.
Muhi. 2011.”Pemetaan Potensi Wilyah Desa”.
karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/PWK/article/download/.../pdf . diakses
pada 03-06-2017
Winari. 1998.” Penangualangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Pasyarakat”
komengpoenya.blogspot.com/.../konsep-pemberdayaan-masyarakat.
diakses pada 03-06-2019
Suparjan dan Hampari. 2003.”Pengembangan Masyarakat”.
https://catalog.hathitrust.org/Record/005564528. diakses pada 03-06-
2019
Roucek dan Waren. 1984. “Peran dan Strategi Pengembangan Kelembagaan
Petani”.www.academia.edu/.../Peran_Kelembagaan_Pertanian_Terhadap_
P. diakses pada 03-06-2019
Grakovick, 1989. ”Kelembagaan dan Menejen Resiko Agribisnis”.
https://www.scribd.com/document/379599650/Buku-Kelembagaan-
Kemitraan-Dan-Manajemen-Resiko-Agribisnis. diakses pada 03-06-2019.

pg. 41
LAMPIRAN

pg. 42