Anda di halaman 1dari 39

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

DISTRES SPIRITUAL

DISUSUN OLEH

NUR HALIMAH

17.20.2780

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN ( STIKES )

CAHAYA BANGSA BANJARMASIN

TAHUN

2018
ASUHAN KEPERAWATAN PADA DISTRES SPIRITUAL

A. PENGERTIAN

 Distres spiritual suatu keadaan ketika individu atau kelompok mengalami atau

beresiko mengalami gangguan dalam kepercayaan atau system nilai yang

memberikannya kekuatan, harapan dan arti kehidupan

 Spirituality berasal dari bahasa latin “spiritus” yang bearti nafas atau udara. Spirit

memberikan hidup,menjiwai seseorang. Spirit memberikan arti penting ke hal apa saja

yang sekiranya menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan seseorang ( Dombeck,

1995 )

 Spirituality adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan,pengalaman

hidup kepercayaan dan nila kehidupan. Spiritualitas mampu menghadirkan

cinta,kepercayaan,dan harapan, melihat arti dari kehidupan dan memelihara hubungan

dengan sesame ( Perry Potter, 2003 )

 Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan

mengintegresikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri,orang

lain,seni,music,literature,alam dan kekuatan yang lebih besar dari dirinya ( Nanda

2005 )

 Defines lain mengatakan bahwa distress spiritual adalah gangguan dalam prinsip hidup

yang meliputi seluruh kehidupan seseorang dan diintegrasikan biologis dan psikososial

( Varcarolls 2000 )

 Dengan kata lain kita dapat katakana bahwa distress spiritual adalah kegagalan

individu dalam menemukan arti kehidupannya


B. PATOSIOLOGI

 Patosiologi distress spiritual tidak bisa dilepaskan dari stress dan struktur serta fungsi

otak

 Stress adalah realitas kehidupan manusia sehari-hari. Setiap orang tidak dapat

mengjindari stres, namun setiap orang diharapkan melakukan penyesuaian terhadap

perubahan akibat stres. Ketika kita mengalami stress, otak kita akan berespon untuk

terjadi. Konsep ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Cannon,W.B. dalam Davis

M, dan kawan kawan (1988) yang menguraikan respon “ Melawan atau Melarikan

diri” sebagai suatu rangkaian perubahan biokimia didalam otak yang menyiapkan

seseorang menghadapi anaman stress

 Stress akan menyebabkan korteks serebri mengirimkan tanda bahaya ke hipotalamus.

Hipotalamus kemudian akan menstimuli saraf simpatis untuk melakukan perubahan.

Sinyal dari hipotalamus ini kemudian ditangkap oleh system limbic dimana salah satu

bagian pentingnya adalah amigdala yang bertanggung jawab terhadap status emosional

seseorang. Gangguan pada system limbic menyebabkan perubahan emosional,

perilaku dan kepribadian. Gejalanya adalah perubahan status mental, masalah ingatan,

kecemasan, dan perubahan kepribadian termasuk halusinasi ( Kaplan et all, 1996 ).

Depresi, nyeri dan lama gangguan ( Blesch et al, 1991 )

 Kegagalan otak untuk melakukan fungsi kompensasi terhadap stressor akan

menyebabkan sesorang mengalami perilaku maldatif dan sering dihubungkan dengan

munculnya gangguan jiwa. Kegagalan fungsi kompensasi dapat ditandai dengan


munculnya gamgguan pada perilaku sehari-hari baik secara fisik, psikologis, social

termasuk spiritual

 Gangguan pada dimensi spiritual atau distress spiritual dapat dihubungkan dengan

timbulnya depresi

 Tidak diketahui secara pasti bagaimana mekanisme patofiologi terjadinya depresi.

Namun ada beberapa factor yang berperan terhadap terjadinya depresi antara lain

factor genetic, lingkungan dan neurobiology

 Perilaku ini yang perkirakan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam

memenuhi kebutuhan spritiualnya sehingga terjadi distress spiritual karena pada kasus

depresi sesorang telah kehilangan motivasi dalam memnuhi kebutuhannya termasuk

kebutuhan spiritual

Karakteristik Distres Spiritual menurut Nanda ( 2005 ) meliputi empat hubungan dasar yaitu :

A. Hubungan dengan diri

1. Lingkungan kekurangan

2. Harapan

3. Arti dan tujuan hidup

4. Perdamaian/ketenangan

5. Penerimaan

6. Cinta

7. Memaafkan diri sendiri

8. Keberanian
9. Marah

10. Kesalahan

11. Koping yang buruk

B. Hubungan dengan orang lain

1. Menolak berhubungan dengan tokoh agama

2. Menolak inteeaksi dengan tujuan dan keluarga

3. Mengungkapkan terpisah dari system pendukung

4. Mengungkapkan pengasingan diri

C. Hubungan dengan seni, music , literature , dan alam

1. Ketidakmampuan untuk mengungkapkan kreativitas ( bernyanyi, megdengarkan

music, menulis )

2. Tidak tertarik dengan alam

3. Tidak tertarik dengan bacaan keagamaan

D. Hubungan dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya

1. Kaetidakmampuan untuk berdoa

2. Ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan

3. Mengungkapkan terbuang oleh atau karena kemarahan Tuhan

4. Meminta untuk bertemu dengan tokoh agama

5. Tiba-tiba berubah praktik agama

6. Ketidakmampuan untuk intropeksi

7. Mengungkapkan hidup tanpa harapan menderita


Penyebab

Menurut Vacarolls ( 2000 ) penyebab distress spiritual adalah sebagai berikut :

1. Pengkajian fisik

2. Pengkajian Psikologis status mental mungkin adanya depresi , marah , kecemasan,

ketakutam , makna nyeri kehilanagan control, harga diri rendah , dan pemikiran yang

bertentangan (Otis-Green 2002)

3. Pengkajian social budaya dukungan social dalam memahami keyakinan klien ( Spencer,

1998)

Pengkajian Spiritual

a. Keyakinan dan makna

 Arti hidup klien

 Sumber arti hidup

 Bagian terpenting dalam hidup

b. Autoritas dan pembimbing

 Sumber kekuatan hidup

 Orang yang menolong saat perlu bantuan

c. Pengalaman dan emosi

 Pengalaman spiritual

 Konsep sehat dan sakit

 Perubahan perasaan dan makna spiritual yang dialami


d. Persahabatan dan komunitas

 Orang terdekat

 Bentuk dukungan orang terdekat

 Ekpresi perasaan orang terdekat

 Tindakan orang terdekat terhadap keluarga

 Menceritakan masalah

 Ekpresi kebutuhan kepada orang terdekat

 Dukungan yang dirasakan

e. Ritual dan ibadah

 Kebiasaan ibadah

 Partisipasi orang terdekat terhadap ibadah

 Frekuensi ibadah

 Dampak masalah terhadap ibadah

 Situasi yang membutuhkan dukungan spiritual

 Kebutuhan spiritual

f. Dorongan dan pertumbuhan

 Perubahan cara pandang keyakinan

 Perubahan ritual ibadah

 Cita-cita atau impian

g. Panggilan dan konsekuensi

 Aktivitas memperngaruhi kebutuhan spiritual


Factor Predisposisi

Factor predisposisi adalah factor risiko yang menjadi sumber terjadinya stress yang mempengaruhi

tipe dan sumber dan individu untuk menghadapi stress baik yang biologis, psikososial, dan

sosialkultural. Secara bersama-sama, factor ini akan memengaruhi sesorang dalam memberikan

arti dalam nilai terhadap stress pengalaman stress yang dialaminya

Factor Presipitasi

Factor presipitasi adalah stimulasi yang mengancam indivdu, factor presipitasi memerlukan

energy yang besar dalam menghadapi stress atau tekanan hidup. Factor presipitasi ini dapat bersifat

biologis, psikologis, dan sosialkultural. Waktu merupaka dimensi yang juga mempengaruhi

terjadinya stress, yaitu berapa lama terpapar dan berapa freskuensi terjadinya stress

Penilaian terhadap stressor

 Respon kognitif dapat terlihat melalui terganggunya proses kognitif individu, seperti

pikiran kacau, menurunnya daya kosentrasi, pikiran berulang,dan pikiran tidak wajar

 Respon afektif adalah membangun perasaan. Dalam penilaian terhadap stressor respon

afektif utama adalah reaksi tidak spesifik atau umumnya merupakan reaksi kecemasan,

yang hal ini diekpresikan dalam bentuk emsoi

 Respon fisiologis dapat ditandai dengan meningkatkan tekanan darah, detak jantung, nadi

dan system pernafasan

 Respon perilaku dapat dibedakan menjadi fight,yaitu melawan situasi yang menekan dan

flight yaitu menghindari situasi yang menekan


 Respon social ini didasarkan ada tiga aktivitas, yaitu mencari arti , atribut social, dan

perbandingan social.

Menurut Safarino ( 2002 ) terdapat lima tipe dasar dukungan spiritual :

 Dukungan emosi yang terdiri atas rasa empati,caring,memfokuskan pada

kepentingan orang lain

 Tipe yang kedua adalah dukungan esteem yang terdiri atas ekpresi positif

thinking,mendorong atau setuju dengan pendapat orang lain

 Dukungan yang ketiga adalah dukungan instrumental yaitu menyediakan pelayanan

langsung yang berkaitan dengan dimensi spiritual

 Tipe keempat adalah dukungan informasi yaitu memberikan nasehat,petunjuk dan

umpan balik bagaimana seseorang harus berperilaku berdasarkan keyakinan

spiritualnya

 Tipe terakhir atau kelima adalah dukungan network menyediakan dukungan

kelompok untuk berbagai tentang aktifitas spiritual. Taylor, dkk(2003)

menambahkan dukungan appraisal yang membantu seseorang untuk meningkatkan

pemahaman terhadap stressor spiritual dalam mencapai keterampilan koping yang

efektif
Menurut ( lazarus dan folkman, 1984 dalam nasir, 2011 ), dalam melakukan koping ada dua

strategi yang bisa dilakukan :

 Problem focused coping

Yaitu usaha mengatasi stress dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi

dan limgkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan. Problem focused

coping di tujukan dengan mengurangi demands dari situasi yang penuh dengan stress atau

memperluas sumber untuk mengatasinya. Seseorang cenderung meggunakan metode

problem focused coping apabila mereka percaya bahwa sumber atau demands dari

situasinya dapat diubah.strategi yang dapat dipakai dalam problem focused coping antara

lain sebagai berikut :

1. Comfrontatif coping : usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan

cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi dan pengambilan resiko

2. Seeking social support : usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan

informasi dari orang lain

3. Planful problem salving : usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan

dengan cara yang hati-hati terhadap, dan analitis

 Emotion focused coping

Yaitu usaha mengatasi stress dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka

menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi

yang dianggap penuh tekanan. Emotion focused coping ditujukan untuk mengontrol

respons emosionalnya melalui pendekatan perilaku dan kognitif. Strategi yang digunakan

dalam emosional focused coping antara lain sebagai berikut :


1. Self-control usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapi situasi yang menekan

2. Distancing usaha untuk tidak terlibat dalam permasalahan seperti menghindar dari

permasalahan seakan tidak terjadi apa-apa atau menciptakan pandangan-pandangan

positif, seperti nenganggap masalah sebagai lelucon

3. Positif reappraisal usaha mencari makna positif dari permasalahan dengan berfokus

pada pengembangan diri, biasanya juga melibatkan hal-hal yang bersifat religious

4. Acceting responsibility usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam

permasalahan yang dihadapinya dan mencoba menerimanya untuk membuat semuanya

menjadi lebih baik. Strategi ini baik, terlebih bila masalah terjadi karena pikiran dan

tindakannya sendiri, namun, strategi ini menjadi tidak baik jika individu tidak

seharusnya bertanggung jawab atau masalah tersebut

5. Escape/avoidance usaha untuk mengatasi masalah situasi menekan dengan lari dari

situasi tersebut atau menghindarinya dengan beralih pada ha; lain seperti

makan,minum,merokok, atau menggunakan obat-obattan

PSIKOFARMAKA

 Psikofarmaka pada distress spiritual tidak dijelaskan secara tersendiri berdasarkan

dengan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguang jiwa ( PPDGJ) di

Indonesia III aspek spiritual tidak digolongkan secara jelas apakah masuk kedalam

aksis satu, dua tiga empat atau lima


Diagnose

 Distress Spiritual

Intervensi

 Sp. 1-P : bina hubungan saling percaya dengan pasien, kaji factor penyebab disstres

spiritual pada pasien, bantu pasien mengungkapkan perasaan dan pikiran terhadap

agama yang diyakininya, bantu klien mengembangkan kemampuan untuk megatasi

perubahan spiritual dalam kehidupan

 Sp. 2-P fasilitas klien dengan alat-alat ibadah sesuai keyakinan klien, fasilitas klien

untuk menjalankan ibadah sendiri atau dengan orang lain, bantu pasien untuk ikut

serta dalam kegiatan keagamaan


RENCANA KEPERAWATAN DISTRES SPIRITUAL

NAMA KLIEN :

RUANG :

NO Diagnosis keperawatan perencanaan Intervensi rasional

tujuan kriteria evaluasi


1 2 3 4 5

1. Bina hubungan
Distress spiritual TUK : klien mampu 1. Ekpresi wajah
saling percaya
menyatakan mencapai bersahabat
dengan
kenyamanan dari pelaksanaan menujukkan rasa
menggunakan
praktik spiritual sebelumnya senang ada kontak
prinsip dan teknik
dan merasa kehidupannya mata,mau berjabat
komunikasi
berarti/bermakna tangan, mau
tarapeutik
meyebutkan nama,
TUK 1 : seterlah dua kali a. Sapa klien
mau menjawab
pertemuan klien dapat dengan ramah
salam, mau duduk
membina hubungan saling baik verbal
berdampingan
percaya maupun non
dengan perawat
verbal
mau mengutarakan
b. Perkenalkan
masalah
diri dengan
dihadapinya
sopan

c. Tanyakan

nama lengkap

klien dan

nama
panggilan

yang disukai

klien

d. Jelaskan

tujuan

pertemuan

e. Jujur dan

menepati janji

f. Tunjukkan

sikap empati

Dan

menerima klie

apa adanya

Beri perhatian

kepada klien

dan

perhatikan

kebutuhan

dasar klien
TUK 2 : 2.1 kilen mampu a. gunakan komuinikasi

terapeutik untuk
Setelah satu kali pertemuan a. mengungkapkan
membina hubungan
klien dapat mengatakan harapan masa depan yang
saling percaya dan
kepada perawat atau positif
menunjukkan empati
pemimpin spiritual tentang
b. mengungkapkan arti
kondisi spiritual konflik b. menggunakan alat
hidup
spiritual dan kegelisahannya unutk memonitor dan

c. mengungkapkan optimis mengevaluasi spiritual

well-being sebagai
d. mengungkapkan
pendekatan
keyakinan dalam diri

c. mendorong individu
e. mengungkapkan
untuk melihat kembali
keyakinan kepada orang
masa lalu dan
lain
memfokuskan kejadian
f. menentukan tujuan
dan hubungan yang
hidup
memberikan kekuatan

dan dukungan spiritual

d. rawat klien dengan

bermanfaat dan hormat

dengan cara menghargai


pendapat dan keyakinan

klien

e. dorong partisipasi

dalam hubungan dengan

anggota

keluarga,teman,dan

orang lain

f. jaga privacy dan

ketenangan untuk

kegiatan spiritual

g. dorong partisipasi

dalam kelompok spiritual

sesuai dengan keyakinan

yang dianut
TUK 3 1. Klien mampu 1 berbagai keyakinan

tentang arti dan tujuan


Setelah atau kali pertemuan a mencintai diri sendiri
dengan perawat
kali dapat mendiskusikan dan orang lain dnegan

dengan perawat hal penting mengungkapkan 2 diskusikan manfaat

yang memberikan makna penerimaan terhadap spiritual

dalam kehidupannya dimasa dirinya sendiri maupun


3 beri kesempatan untuk
yang lalu orang lain
mendiskusikan berbagai

b berdoa menurut hambatan yang dirasakan

keyakinannya masing- dalam menjalankan

masing keyakinan

c melakukan ibadah 4 bersikap terbuka dan

menjadi pengdengar
d berpartisipasi dalam
yang baik terhadap apa
upacara keagamaan
yang dikatakan individu

e berpartisipasi dalam
5 dorongan klien berdoa
pengbatan
secara individu

f berinteraksi dengan

tokoh agama

g berhubungan dengan diri

sendiri
h berhubungan dengan

orang lain

i berinteraksi dengan

orang lain untuk berbagi

perasaan dan keyakinan

TUK 4 1. Klien mampu 1 memndorong klien

untuk menulis dalam


Setelah tiga kali pertemuan a melakukan ADL
daftar kegiatam
klien dapat mempertahankan
b melaksanakan hariannya setiap hari
pemikiran dan perasaannya
keyakinannya sesuai untuk mengekpresikan
tentang spiritual
dengan perannya pemikiran dan saran

refleksi
c mengungkapkan

persaannya terkait dengan 2 menyediakan music,

keyakinannya literature , radio atau

program TV spiritual
d mengontrol aktifitas
secara individu
spiritualnya
e memilih pelayanan 3 terbuka terhadap

spiritual yang diperlukan pernyataan individu

terhadap kesepian dan

kekuatannya

4 dorong menggunakan

sumber-sumber spiritual

seperti tokoh-tokoh

agama,literatur-literatur

atau buku yang sesuai

dengan keyakinan,

tersedianya tempat-

tempat beribadah dan

alat-alat dalam

menjalankan ritual

keyakinannya

5 menyerahkan ke tokoh

agama yang dipilih

6 gunakan teknik

klarifikasi untuk

membantu individu
mengklarifikasi

keyakinan dan nilai

7 mengdengarkan

perasaan individu

8 menunjukkan empati

9 fasilitas individu untuk

meditasi, berdoa , tradisi

religious lainnya dan

ritual

10 dengarkan dengan

hati-hati komunikasi

individu dan

mengembangkan waktu

untuk berdoa atau ritual

keagamaan

11 yakinkan individu

bahwa perawat akan

mendukung individu

pada saat menderita/masa

kulit
12 terbuka kepada

individu tentang sakit

dan kematian

13 bantu individu untuk

mengungkapkan dan

mengurangi kemarahan

STRES MANAGEMENT

Stress :

 Setiap hari dampak dari kehidupan

 Stress bisa baik

 Stress yang berlebihan dapat membahayakan


Hasil stress negative :

 Hilangnya motivasi

 Kurang efektif

 Masalah fisik,mental, dan perilaku

Apa yang menekan pada stress ?

 Uang

 Lalu lintas

 Masalah kesehatan/ medis

 Kekurangan waktu luang

 Hubungan keluarga & teman

 Stress terkait pekerjaan

 Beban kerja

Tanda-tanda stress fisik :

 Peningkatan denyut jantung/preassere darah meningkat

 Mengencangkan pengetatan

 Tangan basah dingin

 Kelelahan

 Pemulihan lebih lami dari cedera

 Perut atau usus kesal

 Sakit kepala

 Ubah kebiasaan makan : kehilangan nafsu makan/makan berlebihan


 Meningkatnya penyakit

Tanda-tanda mental stress :

 Kegelisahan

 Kelupaan

 Depresi

 Apati/kurang tertarik

 Menurunkan harga diri

 Amarah meningkat

 Kekuatan yang berlebihan

 Kuatir

 Kepercayaan diri menurun

Tanda-tanda perilaku untuk stress :

 Permusuhan

 Dibawah/atas makan

 Menurunkan kemampuan berkosentrasi

 Masalah memori/kelupaan

 Sering menggunakan rokok atau alcohol

 Kecanggungan

 Penarikkan aktivitas yang biasa dilakukan

 Penampilan buruk

 Ketidakhadiran
 Kecelakaan tinggi

 Membuat kesalahan

Dampak stress :

 Dampak pada kesehatan seorang individu

 Sakit punggung

 Sakit kepala

 Sakit perut

 Darah tinggi

 Serangan jantung atau stroke

Dampak pada kesehatan suatu organisasi

 Meningkatkan biaya asuransi kesehatan

 Hilang hari kerja

 Stress terakit klaim kompensasi kerja

 Produktivitas lebih rendah

 Lebih dari 75% kecelakaan industry berakar stress

Cara mengelola stress

Teknik mental

 Manajemen waktu

 Mengatur

 Sikap pemecahan masalah


 Berpikir positif

Pengalihan

 Music

 Hobi

 Bermain

 Belajar

 Liburan

Teknik phyrical

 Pemindaian tubuh-rileks-lepaskan

 Bernafas

 Olahraga

 Meditasi

 Nutrisi

 Beristirahat

 Tawa

Keterampilan di tempat kerja

 Melimpahkan

 Mengantisipasi masalah

 Bersikap tegas

 Mengatur

 Seimbangkan kerja dan waktu pribadi


Insiatif manajemen stress oragnisasi

 Inititives organisasi

 Perbaikan dalam lingkungan kerja fisik

 Perubahan dalam desain pekerjaan

 Perubahan dalam beban kerja merupakan tanggal waktu

 Perubahan jadwak kerja

 Jam lebih fleksibel

 Partisipasi karyawan meningkat

 Membangun tim

 Lokakarya manajemen waktu

 Lokakarya kelelahan kerja

 Pelatihan teknik relaksasi

 Konseling karir

MEKANISME KOPING INDIVIDU TIDAK EFEKTIF

Standar asuhan keperawatan mekanisme koping individu tidak efektif

a. Pengertian mekanisme koping individu tidak efektif

1. Ketidakmampuan untuk membentuk penilaian yang benar dari stressor, pemilihan

respon yang tidak adekuat dan atau ketidakmampuan dalam menggunkan sumber-

sumber yang tersedia ( Nanda 2005 )


2. Kerusakan perilaku adatif dan kemampuan menyelesaikan masalah seseorang dalam

menghadapi tuntutan peran dalam kehidupan ( townsmen 1998 )

3. Koping individu tidak efektif terjadi bila seorang individu mengalami atau beresiko

mengalami ketidakmampuan menangani ansietas karena tidak mempunyai kemampuan

secara fisik, perilaku maupun kognitif ( Keliat, et , all , 2006 )

b. Proses keperawatn koping individu tidak efektif

Pengkajian

1. Pengkajian fisik

Berupa keunikkan tekanan darah peningkatan ketengangan otot dileher,bahu,dan

punggung, peningkatan denyut nadi, dan pernafasan telapak tangan,berkeringat,tangan

dan kaki dingin,postur tubuh yang tidak tegap,keletihan,sakit,kepala,gangguan pada

daerah lambung, suara yang bernada tinggi,mual,muntah,diare,perubahan nafsu

makan,perubahan berat badan,perubahan frekuensi,berkemih,gelisah,sulit untuk

terlitur atau sering terbangun saat tidur dan dilatasi pupil

2. Pengkajian psikologis

Yang diperlu dikaji meliputi adanya ansietas , depresi, marah, kecemasan, ketakutan ,

kehilangan control , harga diri rendah , perasaan tidak adekuat, kehilangan, motivasi ,

ketidakmampuaan memenuhi peran yang diharapkan ( mengalami ketenagan peran ,

konflik peran ) mengungkapkan kesulitan kehidupan perilaku destruktif ( merusak diri,

penyalahgunaan zat ) , rasa khawatir kronis, suka berbohong dan menipulasi ( potter &

perry 2005 )
3. Pengkajian spiritual

Berhubungan dengan keyakinan dan pencarian makna hidup individu itu sendiri apakah

keyakinan individu itu berpengaruh terhadap perilaku seseorang pengkajian spiritual

itu berdampak sekali kapada koping seseorang. Ini bisa dirasakan ketika seseorang

mengalami kegagalan perasaan tidak stabil, ketidakmampuan mengontrol diri, dan

merasakan perasaan hampa

c. Diagnosa Keperawatan

Distress Spiritual

d. Intervensi keperawatan

Adapun rencana tindakan keperawatan ini dikembangkan sebagai intervensi generalis dan

spesialis dalam asuhan keperawatan jiwa.

1. Generalisasi :

Rencana asuhan keperawatan jiwa pada tahap generalisasi dtujukan kepada pasien dan

keluarganya sebagai berikut :

Rencana tindakan keperawatan untuk pasien

Tujuan Umum :

Pasien mampu menggunakan kpoing yang konstruktif untuk mengatasi stressnya

Tujuan khusus :

a. Pasien mampus mengenal koping individu tidak efektif

b. Pasien mampu mengatasi koping individu tidak efektif


c. Pasien mampu memperagakan dan menggunakan koping yang konstruktif untuk

mengatasi masalahnya

Tindakan Keperawatan

a. Bina hubungan saling percaya

1. Mengucapkan salam tarapeutik

2. Berjabat tangan

3. Membuat kontrak topic,waktu,dan tempat setiap kali bertemua pasien

b. Kaji status koping yang digunakan klien

1. Tentukan kapan dimulai terjadi perasaan tidak nyaman,gejala,hubungannya dengan

peristiwa dan prubahannya

2. Kaji kemampuan untuk menghubungkan fakta-fakta dengan pengalaman perilaku yang

tidak menyenangkan

3. Dengarkan dengan cermat dan amati ekpresi wajah,gerakan tubuh,kontrak mata,posisi

tubuh,intonasi,dan intensietas suara pasien

4. Tentukan resiko adanya tindakan membahayakan diri sendiri dan berikan tindakan

yang dibutuhkan

c. Berikan dukungan jika klien mengungkapkan persaannya

1. Jelaskan bahwa perasaan-perasaan yang dimilikinya memang sulit untuk dihadapinya

2. Jika individu menjadi pesimis upayakan untuk lebih memberikan harapan dan

pandangan realistis

d. Motivasi untuk melakukan evaluasi perilaku sendiri

1. Apa yang positif pada dirinya ?

2. Apa yang perlu ditingkatkan ?


3. Apa yang dipelajari tentang dirinya dan self reinforcement ?

e. Bantu klien untuk memecahkan masalah dengan cara yang konstruktif

1. Identifikasi masalah yang dirasakan

2. Identifikasi penyebab masalah

3. Gali cara klie menyelesaikan masalah masa lalu

4. Diskusikan beberapa cara menyelesaikan masalah

5. Diskusikan keuntungan dan kerugian dari setiap pilihan

6. Bantu klien memilih cara penyelesaian masalah yang berhasil

f. Ajarkan alternative koping yang konstruktif seperti :

1. Bicara terbuka dengan orang lain untuk kekuatan social

2. Kegiatan fisik untuk pemulihan kekuatan fisik

3. Melakukan cara berfikir yang konstruktif untuk kemampuan kognitif

4. Melakukan aktivitas konstruktif untuk kekuatan psikomotor

Tindakan keperawatn untuk keluarga

a. Tujuan umun

Keluarga mampu menggunakan koping yang konstruktif untuk mengatasinya stress pada

anggota keluarganya

b. Tujuan khusu

1. Keluarga mampu mengenal koping individu tidak efektif pada anggota keluarganya

2. Keluarga mampu memahami proses terjadinya masalah koping tidak efektif pada

anggota keluarganya

3. Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang masalah mengalami koping tidak

efektif
4. Keluarga mampu mempraktekkan cara merawat anggota kelurga dengan masalah

koping individu tidak efektif

5. Keluarga mampu merujuk anggota keluarga yang mengalami koping tidak efektif

Tindakan keperawatan

a. Diskusikan tentang pengertian koping tidak efektif

b. Diskusikan tentang tanda dan gejala koping tidak efektif

c. Diskusikan tentang penyebab koping tidak efektif

d. Diskusikan tentang cara merawat pasien dengan koping tidak efektif

Dengan cara :

1. Membantu pasien mengenal koping yang tidak efektif

2. Mengajarkan pasien menegembangkan koping yang sehat

3. Bicara dengan orang lain

4. Melakukan aktivitas yang konstruktif

5. Olahraga dan aktivitas fisik lainnya

6. Damping keluarga menerapkan cara merawat pasien langsung

7. Diskusikan bagaimana cara merujuk anggota kelurga jika sudah tidak dapat ditangani

dirumah

Terapi spesialis

1. Terapi individu

a. Cognitif behavior therapy : sebagai mekanisme proteksi agar kecemasan dan stress

yang dihadapi individu tidak mengancamkan


b. Gestals therapy : memfokuskanpada peningkatan kesadaran emosi dan perilaku klien

serta meningkatkan kesdaran diri klien untuk mencoba berinteraksi dengan orang lain

c. Anxiety reduction : upaya memperkecil pemahaman, rasa takut , firasat atau

kegelisahan yang berhubungan dengan sumber sumber bahaya yang tidak

terindentifikasi

2. Terapi keluarga

a. Terapi psikoedukasi keluarga

b. Terapi system keluarga

c. Terapi kelompok : psikoterapi kelompok

d. Terapi komunitas : manajemen kasus

MEKANISME KOPING

 Focus pada masalah

 Negosiasi

 Konfrontasi

 Minat nasehat

 Focus pada kognitif

 Banding dengan secara positif

 Abaikan yang negative

 Subtitusi

 Focus pada emosi

 Ego defence
1. Factor predisposisi

a. Biologic

 L.B Genetik

 Kesehatan

 Terpapar racun

b. Psikologik

 IQ

 Moral

 Koping

 Konsep diri

 Kepribadian

 Pengalaman lalu

 Keterampilan verbal

c. SOS BUD

 Umur

 Pendidikan

 Pekerjaan

 Pendapatan

 L.B Bud-Sos

 Agama

 Politik

 HAM, status social

2. Factor presptasi ( stressor )


a. Stressor : stimulus yang dipersepsi sebagai tantangan ancaman,tuntuan,perlu energy

b. Yang penting tentang stressor

 Sifat : bio,psiko,social,bud

 Sumber : internal (individu), eksternal ( luar individu )

 Waktu : kapan , berapa lama , frekuensi

 Jumlah : berapa kali pada kurun waktu tertentu

3. Penilaian primer terhadap stressor evaluasi terhadap kemaknaan dari kejadian terhadap

individu

a. Kognitif

 Pemilihan koping

 Reaksi emosi,fisiologik,dan perilaku

 Penilaian kognitif mediator individu dan lingkungan

 Individu dapat menilai bahaya/potensial

Sesuai dengan :

 Pandangan/pengertian : sikap terbuka berubah peran serta dan control

diri dan lingkungan

 Sumber untuk toleransi

4. Penilaian sekunder

a. Kognitif

 Kemampuan koping

 Efektivitas koping

 Koping yang tersedia


b. Afektif

 Ekspresi emosi : sedih , gembira, takut , marah , menerima , tidak percaya ,

antisipasi, surprise

 Klarifikasi tergantung pada tipe, lama dan intensitas

 Mood : emosi yang berlangsung lama ( suasana hati )

 Sikap ( attitude ) : jika lama

c. Fisiologik : berkaitan dengan hormone

d. Perilaku

Menurut capian 4 fase

 Perilaku yang merubah situasi /lari dari streful

 Perilaku yang memerlukan kemamuan baru

 Perilaku intrapsikik untuk atasi suasana untuk tidak menyenangkan

 Perilaku intrapsikik dengan penyesuaian internal

Social : signification others

 Evaluasi dukungan social

 Isolasi social : meningkatkan gangguan jiwa

System dukungan social

Berkembang sejak lahir : ibu , ortu , ditambah kelompok inti, teman (

sekolah,pekerjaan,masyarakat), perawat dan tim kesehatan

5. Fungsi system dukungan emosional


a. Dukungan emosi ( emotional support )

b. Membantu menyelesaikan masalah

c. Memberi umpan balik dan evaluasi

d. Hubungan social dan integrasi

e. Sumber informasi

6. Penilaian sekunder terhadap sumber koping

Sumber koping

a. Mechanic

 Model ekonomi

 Tekanan koping

 Kemampuan dan keterampilan

 Dukungan social

 Motivasi

b. Lazarus & folkam

 Kesehatan dan tenaga

 Keyakinan positif

 Sumber social dan materi

 Keterampilan social

 Keterampilan penyelesaian masalah


Cari info

a. Indentifikasi masalah

b. Nilai alternative

c. Laksanakan rencana

Antonousky

 Kekuatan ego

 Kosisten

 Stabil

 Budaya

 Agama

 System nilai

 Keyakinan
DAFTAR PUSTAKA

http://mantrigaoll.blogspot.com/2012/02/askep-distres-spiritual.html

AH.Yusuf,Rizky Fitryasari P.K Hanik Endang Nihayati. Buku Ajar

Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta :Salemba Medika, 2015.