Anda di halaman 1dari 2

Asas Corporate Separate Legal Personality

Asas ini dikenal dalam Perseroan Terbatas, yang esensinya bahwa suatu perusahaan, dalam
hal ini Perseroan Terbatas, mempunyai personalitas atau kepribadian yang berbeda dari orang yang
menciptakannya. Bagi perseroan yang berbentuk badan hukum seperti perseroan terbatas, koperasi,
dan lain-lain, maka secara hukum pada prinsipnya, harta benda badan hukum tersebut terpisah dari
harta benda pendirinya/pemiliknya. Karena itu, tanggung jawab secara hukum juga dipisahkan dari
harta benda pribadi pemilik perusahaan yang berbentuk badan hukum tersebut. Jadi, misalnya
suatu perseroan terbatas melakukan suatu perbuatan dengan pihak lain, yang bertanggungjawab
adalah perseroan tersebut dan tanggungjawabnya sebatas harta benda yang dimiliki oleh perseroan
tersebut. Harta benda pribadi pemilik perseroan/pemegang sahamnya tidak dapat disita atau
digugat untuk dibebankan tanggung jawab perseroan tersebut. Ini adalah prinsip yang berlaku
umum dalam keadaan normal.1

Berbicara mengenai Asas ini, penerapannya dapat dilihat pada ketentuan Pasal 3 Ayat (1)
UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dimana dinyatakan bahwa Pemegang saham
perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama Perseroan
dan tidak bertanggung jawab atas kerugian Perseroan melebihi saham yang dimiliki. Selain itu
mengenai istilah Perseroan Terbatas, kata ‘terbatas’ disebabkan berlakunya tanggung jawab
pemegang saham dari suatu perseroan. Dengan demikian, yang terbatas bukan besarnya modal
atau kegiatan usahanya tetapi menunjukkan adanya tanggung jawab terbatas dari pemegang saham.
Tanggung jawab terbatas dari pemegang saham ini merupakan ciri khas dari suatu Perseroan
Terbatas, seperti halnya pada Persekutuan Firma yaitu adanya tanggung jawab renteng atau
tanggung menanggung atau bertanggung jawab secara pribadi dan untuk sepenuhnya (Pasal 18
WvK) dair para sekutu persekutuan tersebut.

Tentang tanggung jawab terbatas pemegang saham menurut Pasal 3 ayat (1) UU PT
tersebut, terdapat penerobosannya yang diatur dalam Pasal 3 ayat (2) UU PT yang pada prinsipnya
sama dengan yang diatur pada UU PT yang lama. Menurut kedua ketentuan tersebut bahwa
pemegang saham tidak bertanggungjawab secara pribadi tidak berlaku apabila:

a. Persyaratan Perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi

1
Munir Fuady, Doktrin-doktrin Modern dalam Corporate Law dan Eksistensinya dalam Hukum Indonesia,
(Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2002), Hlm 2-3
b. Pemegang saham bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung dengan iktikad
buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi
c. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang
dilakukan oleh perseroan; atau
d. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara
melawan hukum menggunakan kekayaan Perseroan, yang mengakibatkan kekayaan
perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan.2

Dalam keadaan di atas, berarti pemegang saham bertanggung jawab tidak terbatas atau
bertanggung jawab secara pribadi untuk sepenuhnya. Melihat dari hal itu, bisa diketahui bahwa
ada suatu tabir (veil) pemisah antara perseroan sebagai suatu Legal Entity dengan para pemegang
saham dari perseroan tersebut.

2
H. Man S. Sastrawidjaja dan Rai Mantili, Perseroan Terbatas Menurut Tiga Undang-Undang, (Bandung: Alumni,
2002), Hlm 26-29