Anda di halaman 1dari 12

MORFOLOGI, ULTRASTRUKTUR KUMAN DAN

PEWARNAAN SEL
Mata Kuliah Microbiologi

Disusun oleh :

Muhammad Ibrahim

P21345118050

Kelas :

I D3 B

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA 2


Jln. Hang Jebat III/F3 Kebayoran Baru Jakarta 12120
Telp. 021.7397641, 7397643 Fax. 021.7397769
E-mail : info@poltekkesjkt2.ac.id
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada dasarnya dalam kehidupan sehari-hari kita selalu melakukan kontak atau
hubungan secara langsung dengan jasad-jasad mikro atau yang dikenal dengan
sebutan mikroba. Di dalam perut kita misalnya, jasad-jasad mikro berperan baik
secara positif maupun negatif dalam proses dan sistem metabolism yang
berlangsung di dalam tubuh.

Morfologi cabang biologi mempelajari tentang bentuk organisme, Berupa


hewan, tumbuhan,dan mikroorganisme yang mencakup seluruh bagian-bagiannya.

Mikroorganisme dapat dilihat dengan mikroskop biasa, tanpa diwarnai.


Pengamatan yang demikian (tanpa pewarnaan) lebih sulit dan tidak dapat dipakai
untuk melihat bagian - bagian sel secara seksama. Mikroorganisme yang tidak
diwarnai tampak transparan bila diamati dengan mikroskop cahaya biasa. Kontras
antara sel dan latar belakangnya dapat diperjelas dengan cara mewarnai sel - sel
mikroba tersebut dengan zat - zat warna.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian Morfologi Dan Anatomi Sel?

2. Bagaimanakah pembagian Morfologi Dan Struktur mikroorganisme?

3. Apa sajakah Jenis-jenis pewarnaan dalam identifikasi mikroorganisme?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pengertian Morfologi dan Anatomi sel

2. Mengetahui pembagian Morfologi dan Struktur mikroorganisme


3. Mengetahui apa saja jenis - jenis pewarnaan dalam identifikasi
mikroorganisme

BAB II

ISI

2.1 Pengertian Morfologi dan Anatomi sel

Pengertian Morfologi

Morfologi dipakai oleh berbagai cabang ilmu. Secara harafiah, morfologi


berasal dari kata morphos yang bearti bentuk dan logos yang berarti ilmu. Jadi
morfologi berarti ilmu yang mempelajari tentang bentuk atau pengetahuan tentang
bentuk.

Anatomi

Anatomi (berasal dari bahasa Yunani anatomia, dari anatemnein, yang berarti
memotong) Anatomi sendiri berarti cabang dari biologi yang berhubungan dengan
struktur dan organisasi dari makhluk hidup dan sel

2.2 Struktur bakteri

Bakteri termasuk dalam golongan prokariota, yang strukturnya lebih


sederhana dari eukariota, kecuali bahwa struktur dinding sel prokariota lebih
kompleks dari eukariota.

2.2.1 Inti/ Nukleus

Dengan pewarnaan Feulgen, inti sel prokariota dapat dilihat dengan hanya
menggunakan mikroskop cahaya biasa. pewarnaan Feulgen sebetulnya mewarnai
molekul DNA.
2.2.2 Struktur sitoplasma

Sel prokariota tidak mempunyai mitokondria atau kloroplast; sehingga enzim-


enzim untuk transpor elektron tidak bekerja di membran sel; tetapi pada lamellae
yang berada di bawah membran sel.

Bakteri menyimpan pula cadangan makanannya dalam bentuk granula


sitoplasma. Granula bekerja sebagai sumber karbon, tetapi bila sumber protein
berkurang, karbon dalam granula ini dapat dikonversi menjadi sumber nitrogen.

Granula sitoplasma pada beberapa jenis bakteri menyimpan pula sulfur, fosfat
inorganik dan granula pada jenis kuman korinebakteria disebut granula
metakromatik, karenagranula tersebut bila diwarnai dengan zat warna biru tua tidak
berwarna biru, tapi berwarna merah. pada sitoplasma prokariota tidak ddapatkan
struktur Mikrotubulus seperti yang ada pada eukariota.

2.2.3 Membran sitoplasma

1. Struktur

Membran sitoplasma disebut juga membran sel;yang komposisinya terdiri


dari fosfolipid dan protein. Membran sel dari semua jenis prokariota tidak
mengandung sterol, kecuali Genus Mycoplasma. Ditempat-tempat tertentu pada
membran sitoplasma terdapat cekungan/ lekukan ke dalam (convoluted
invagination) yang disebut mesosom.

Ada dua jenis mesosom:

1. Septal mesosom: Berfungsi dalam pembelahan sel.

2. Lateral mesosom: Kromosom bakteri (DNA) melekat pada septal mesosom.

2. Fungsi

Fungsi utama membran sitoplasma adalah:


- Menjadi tempat transport bahan makanan secara selektif

- Pada spesies kuman aerob merupakan tempat transport elektron dan oksidasi-
fosforilasi

- Tempat ekskresi bagi eksoenzim yang hidrolitik

- Mengandung enzim dam molekul-mlekul yang berfungsi pada biosintesa DNA,


polimerisasi dinding sel dan lipid membran = fungsi biosintetik.

- Mengandung reseptor dan protein untuk sistem kemotaktik.

2.2.4 Dinding sel

Tekanan osmotik di dalam bakteri berkisar antara 5-20 atmosfir, karena


adanya transport aktif yang menyebabkan, tingginya konsentrasi larutan di dalam
sel. Dengan adanya dinding sel yang relatif sangat kuat, meskipun tekanan
osmotiknya tinggi, sel tidak pecah. dinding sel ini terdiri dari lapisan peptidoglikan,
yang disebut juga mukopeptida.

Fungsi lain dari dinding sel selain menjaga tekanan osmotik adalah:

1. Dinding sel memegang peranan penting dalam proses pembelahan sel.

2. Dinding sel melaksanakan sendiri biosintesa untuk membentuk dinding sel.

3. Berbagai lapisan tertentu pada dinding sel merupakan determinan dari antigen
permukaan bakteri.

4. Pada Bakteri Gram negatif, salah satu lapisan dinding sel mempunyai aktivitas
endotoksin yang tidak spesifik, yaitu lipopolisakarida (LPS). LPS ini pada beberapa
binatang bersifat toksik.

Enzim lissim dan beberapa obat yang menggangu biosintesi peptidoglikan


dapat menyebabkan sel bakteri kehilangan struktur dinding sel. Bila cairan
disekitarnya memproteksi tekanan osmotik dalam sel maka terjadilah sel tanpa
dinding yang disebut protoplas pada bakteri positif Gram dan sferoplas pada
bakteri negati Gram. Bila sel protoplas dan sferoplas ini masih mampu
berkembang biak, maka disebut sebagai kuman L form.

2.2.5 Kapsul

Banyak spesies bakteri mensintesa polimer ekstrasel (pada umumnya


polisarida) yang berkondensasi dan membentuk lapisan di sekeliling sel dan
disebut kapsul. Pada medium agar, koloni bakteri berkapsul tampak koloni
berlendir. Umumnya bakteri berkapsul lebih tahan terhadap efek fagositosis dari
daya pertahanan badan. Sejenis kapsul pada Streptococcus mutans misalnya,
dapat melekat erat pada permukaan gigi, membentuk lapisan plaque pada gigi dan
mengeluarkan produk asam yang menyebabkan karies gigi.

2.2.6 Flagel

Flagel adalah bagian bakteri yang berbentuk seperti benang, yang umumnya
terdiri dari protein dengan diameter 12-30 nanometer. Flagel adalah alat
pergerakan.

Ada 4 jenis flagel:

1. Monotrikh: flagel tunggal dan terdapat di bagian ujung bakteri.

2. Lofotrikh: lebih dari satu flagel di satu bagian polar kuman

3. Amfitrikh: flagel terdapat satu atau lebih di kedua polar dari kuma

4. Peritrikh: flagel tersebar merata di sekeliling badan kuman.

2.2.7 Endospora

Beberapa genus bakteri dapat membentuk endospora. Yang paling sering


membentuk spora adalah bakteri yang ber-Gram positif Bacillus genus dan
Clostridium. Kuman-kuman ini mengadakan diferensiasi membentuk spora jika
keadaan lingkungannya menjadi jelek, misalnya bila medium disekitarnya
kekurangan nutrisi. Masing-masing sel akan membentuk spora, sedangkan sel
induknya akan mengalami otolisis. Spora adalah bakteri dalam bentuk istirahat.
Spora bersifat sangat resisten terhadap panas, kekeringan dan zat kimiawi. Bila
kondisi lingkungan telah baik kembali spora dapat kembali melakukan germinasi
dan memproduksi sel vegetatif. Secara morfologis, proses sporulasi terjadi dengan
cara isolasi badan inti yang diikuti dengan melipatnya membran sel ke arah dalam.

Spora terdiri dari:

1. Core: adalah sitoplasma dari spora. di dalamnya terkandung semua unsur


untuk kehidupan bakteri seperti kromosom yang komplit, komponen-komponen
untuk sintesis protein dan lain sebagainya.

2. Dinding spora: lapisan paling dalam dari spora, terdiri dari dinding
peptidoglikan dan akan menjadi dinding sel bila spora kembali ke bentuk vegetatif

3. Korteks: adalah lapisan yang tebal dari spora envelope. Juga terdiri dari
lapisan peptidoglikan tapi dalam bentuk yang istimewa.

4. Coat: terdiri dari zat semacam keratin, dan keratin inilah yang
menyebabkan spora relatif tahan terhadap pengaruh luar.

5. Eksosporium: adalah lipoprotein membran yang terdapat paling luar.

2.3 Morfologi Kuman

Morfologi kuman dapat dibagi dalam tiga bentuk utama, yaitu: kokus, batang dan
spiral.

2.3.1 Kokus
Bakteri berbentuk bulat dapat tersusun, sbb:

• Mikrokokus, tersendiri (Single)

• Diplokokus, berpasangan dua-dua

•Pneumokokus adalah diplokokus yang berbentuk lanset, gonokokus adalah

diplokokus yang bebentuk biji kopi.

• Tetrade, tersusun rapi dalam kelompok empat sel.

• Sarsina, kelompok delapan sel yang tersusun rapi dalam bentuk kubus.

• Streptokokus, tersusun seperti rantai.

• Staphylococcus, bergerombol tak teratur seperti untaian buah anggur.

2.3.2 Basilus

Bakteri bebentuk batang dengan panjang bervariasi dari 2-10 kali diameter
bakteri tersebut:

• Kokobasilus, batang yang sangat pendek menyerupai kokus.

• Fusiformis, dengan kedua ujung batang meruncing

• Streptobacilus, sel-sel bergandengan membentuk suatu filamen.

2.3.3 Spiral

• Vibrio, berbentuk batang bengkok.


• Spirilum, berbentuk spiral kasar dan kaku, tidak fleksibel dan dapat

bergerak dengan flagel.

• Spirokhaeta, berbentuk spiral halus, elastis dan fleksibel, dapat bergerak

dengan aksial filamen. Contoh:

• Borrelia, berbentuk gelombang

• Treponema, berbentuk spiral halus dan teratur

• Leptospira, berbentuk spiral dengan kaitan pada satu atau kedua ujungnya.

2.4 Pewarnaan Bakteri

Untuk mempelajari morfologi, struktur, sifat-sifat bakteri untuk membantu


identifikasinya, bakteri perlu diwarnai. Agar memperoleh hasil pewarnaan yang
baik diperhatikan faktor-faktor berikut:

• Umur biakan: 18-24 jam, kecuali bakteri tahan asam M. tuberculosis yang

tumbuhnya sangat lambat. Bakteri mengalami perubahan dalam morfologi dan


strukturnya, sehingga hasil yang diperoleh kurang tepat, bila dipakai biakan
berumur lebih dari 24 jam.
• Kualitas zat warna. Ada zat warna yang harus dibuat sesaat sebelum dipakai dan

ada yang hanya dapat disimpan dalam beberapa waktu.

• Tebal tipisnya sediaan. Bila sediaan terlalu tebal atau tidak rata, maka penetrasi

zat warna akan berbeda-beda.

2.4.1 Cara membuat sediaan

Suspensi bakteri, yaitu satu tetes air garam fisiologis di atas gelas objek
ditambah biakan bakteri, disebar setipis mungkin sehingga membentuk lingkaran
dengan diameter kira-kira 1 cm. Sediaan dibiarkan mengering di udara atau
dapat dipercepat pengeringannya dengan menghangatkan di atas api, kemudian
direkat/difiksasi dengan melewatkan di atas api 3 kali dan siap untuk diwarnai.

Jenis-jenis pewarnaan bakteri yang dikenal adalah:

1. Pewarnaan negatif (back ground staining)

2. Pewarnaan sederhana

3. Pewarnaan diferensial

4. Pewarnaan khusus

2.4.2 Pewarnaan negatif

Suspensi bakteri dibuat dalam zat warna negrosin/ tinta bak dan disebar-
ratakan dengan gelas objek lain (sediaan hapus). Disini bakteri tidak diwarnai dan
tampak sebagai benda-benda terang dengan latar belakang hitam. Pewarnaan ini
dipakai untuk kuman yang sukar diwarnai, misalkan Spirochaeta (Treponema,
Leptospira dan Borrelia).
2.4.3 Pewarnaan sederhana

Pewarnaan ini hanya menggunakan satu macam zat warna. Misalkan biru
metilen, air fuchsin atau ungu kristal selama 1-2 menit. Zat warna anilin mudah
diserap oleh bakteri.

2.4.4 Pewarnaan diferensial

Pewarnaan diferensial menggunakan lebih dari satu macam zat warna

1. Pewarnaan Gram adalah pewarnaan diferensial yang sangat penting.


Ditemukan oleh Christian Gram pada tahun 1884.

2. Pewarnaan tahan asam. Misalkan pewarnaan Ziehl Neelsen dan Kinyoun


Gabbet untuk membedakan bakteri yang tahan asam dari yang tidak tahan asam.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sel-sel bakteri secara khas berbentuk bola (kokus), batang (basil), dan spiral
(curve). Kokus adalah bakteri yang serupa bola-bola kecil. Kokus ada yang
bergandeng dua-dua yang disebut diplokokus, ada yang mengelompok berempat
yang disebut tetrakokus. Basil merupakan bakteri panjang berbentuk batang, yang
bergandengan panjang disebut streptobasil dan yang bergandeng dua-dua disebut
diplobasil. Spiral adalah bakteri yang bengkok menyerupai spiral.

Perbedaan sel Gram positif dan sel Gram negatif yaitu sel Gram positif
merupakan sel yang memiliki dinding tebal dan membran selapis. Pewarnaan sel
Gram positif dapat dibuktikan dengan menunjukkan warna violet pada sel.
Sedangkan sel gram negatif merupakan sel yang memiliki dinding tipis dan
membran berlapis. Pewarnaan sel negatif dapat dibuktikan dengan menunjukkan
warna merah pada sel. Perbedaan keduanya didasarkan pada perbedaan struktur
dinding sel yang berbeda dan dapat dinyatakan oleh prosedur pewarnaan gram.

B. Saran

Pelaksanan cara kerja praktikum harus sesuai dengan prosedur yang ada
sehingga percobaan dapat dilaksanakan dengan baik. Teliti dalam menjalankan
setiap percobaan sehingga hasil yang didapatkan akurat. Setelah melakukan
percobaan, bersihkan kembali alat-alat praktikum dan diletakkan ke tempatnya.