Anda di halaman 1dari 17

Tahapan Penyelesaian Audit

Tahap ini dilakukan setelah pelaksaan audit atas berbagai siklus yang telah
dibahas sebelumnya. Tahap ini sangat penting. Tahap penyelesaian audit sangat
penting. Tahap penyelesaian audit sangat mempengaruhi keberhasilan hasil audit.
Keputusan yang diambilauditor selama tahap penyelesaian ini untuk mencapai
hasil audit yang optimal. Berbagaiprosedur yang diterapkan dalam tahap ini
dapat menghasilkan bukti tambahan yang dapatmempengaruhi kesimpulan audit.
Pengaruh tersebut meliputi kesimpulan akhir atas saldo setiaprekening yang akan
dicantumkan dalam laporan keuangan, dan pendapat auditor atas laporankeuangan
secara keseluruhan.

Prosedur-prosedur yang diterapkan pada tahap penyelesaian auditmempunyai


beberapa karakteristik khusus, yaitu:
a. Prosedur-prosedur tersebut tidak mengacu ke siklus transaksi
maupun saldo rekeningtertentu.
b. Prosedur-prosedur tersebut dilaksanakan setelah tanggal neraca.
c. Prosedur-prosedur tersebut sangat memerlukan pertimbangan subyektif
auditor.
d. Prosedur-prosedur tersebut biasanya dilaksanakan oleh manajer audit atau
akuntan senioryang berpengalaman.

Pada tahap penyelesaian audit, auditor bekerja dengan keterbatasan waktu.


Hal inidiakibatkan oleh keinginan klien untuk memperoleh laporan audit secepat
mungkin. Meskipunwaktu tidak mendukung auditor, auditor harus
menggunakan waktu yang tersedia untukmembuat pertimbangan professional
dan menyatakan pendapat sesuai keadaan yang sebenarnya.
1.1 Penyelesaian Pekerjaan Lapangan

Dalam menyelesaikan atau melengkapi pekerjaan lapangan, auditor


melaksanakan beberapa prosedur audit untuk menghimpun tambahan bahan
bukti audit. Ada lima prosedur yang dapat dilakukan oleh auditor yaitu:

a. Melakukan penelaahan peristiwa kemudian (subsequent event review).


b. Membaca notulen rapat
c. Mengajukan pertanyaan atau melakukan konfirmasi dengan penasehat
hukum klien. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk menghimpun bahan
bukti tentang tuntutan hukum, klaim, dan keputusan pengadilan yang sudah
dan akan mempengaruhi perusahaan klien.
d. Menghimpun surat representasi klien.
e. Melaksanakan prosedur analitis komprehensif.

Kelima prosedur tersebut belum pernah dilaksanakan pada tahap audit per
siklus transaksi sebagaimana telah dibahas pada bab-bab sebelumnya. Prosedur
kedua dan kelima diatas memang mirip dengan prosedur yang sama yang telah
dibahas pada pembahasan berbagai siklus transaksi sebelumnya. Meskipun
demikian ada perbedaan yang signifikan yaitu perbedaan lingkup dan sifat
pemeriksaan.

1.2 Penelaahan Peristiwa Kemudian

Laporan audit pada umumnya diterbitkan sehubungan dengan laporan


keuangan historis yang menyajikan posisi keuangan pada tanggal tertentu, dan
hasil usaha serta arus kas untuk periode yang berakhir pada tanggal tersebut.
Ada beberapa peristiwa atau transaksi yang mungkin terjadi setelah tanggal
tersebut, tetapi sebelum dipublikasikannya laporan keuangan auditan dan
laporan audit. Peristiwa tersebut mungkin mempunyai pengaruh material
terhadap laporang keuangan sehingga memerlukan penyesuaian dan
pengungkapan yang memadai dalam berbagai laporan keuangan tersebut.
Periode peristiwa kemudian adalah periode yang dihitung sejak tanggal
neraca sampai dengan tanggal berakhirnya pekerjaan lapangan (tanggal laporan
audit). Jadi, Bukan sampai dengan tanggal dipublikasikannya atau
diserahkannya laporan audit. Dalam periode tersebut, auditor disyaratkan untuk
menemukan terjadinya peristiwa kemudian. Sedangkan terhadap peristiwa
setelah tanggal berakhirnya pekerjaan lapangan, auditor tidak bertanggung
jawab untuk menemukan peristiwa kemudian. Standar audit mewajibkan
prosedur audit untuk memverifikasi peristiwa yang terjadi setelah tanggal
neraca untuk menentukan apakah transaksi atau peristiwa tersebut
mempengaruhi kewajaran penyajian atau pengungkapan laporan keuangan atau
tidak. Prosedur audit tersebut disebut review atas subsequent events atau post-
balance-sheet-review. Terdapat dua jenis peristiwa kemudian yang mewajibkan
pertimbangan oleh manajemen dan evaluasi oleh auditor.

Jenis Peristiwa Kemudian


Ada dua jenis peristiwa kemudian, yaitu:
a. Tipe peristiwa kemudian I
b. Tipe peristiwa kemudian II

Tgl. Selesai Tgl. Publikasi


Pekerjaan Lap. Keuangan/
Lapangan Audit
Tgl. Neraca
(1/2/20x2 (15/2/20x2
(31/12/20x1)

Peristiwa Kemudian

Periode Peristiwa
Kemudian

Gambar Grafis Subsequent Event


Tipe peristiwa kemudian I meliputi peristiwa yang memberikan tambahan
bukti yang berhubungan dengan kondisi yang ada pada tanggal neraca dan
berdampak terhadap taksiran yang melekat dalam proses penyusunan laporan
keuangan. Semua informasi yang tersedia sebelum laporan keuangan
diterbitkan, harus digunakan manajemen dan mengevaluasinya kondisi yang
digunakan sebagai dasar estimasi keuangan. Auditor harus meminta klien untuk
menyesuaikan laporan keuangan untuk setiap perubahan estimasi sebagai akibat
dari penemuan dan penggunaan suatu bukti yang relevan.

Beberapa peristiwa kemudian tipe pertama kadang hanya memerlukan


reklasifikasi rekening dan bukan penyesuaian. Sebagai contoh utang jangka
panjang yang harus dibayar kurang dari setahun berikutnya harus dipindahkan
ke utang jangka pendek. Contoh peristiwa yang dikelompokkan ke dalam tipe
pertama, yang memerlukan penyesuauan dan pengungkapan dalam laporan
keuangan, adalah:

a. Kerugian akibat piutang tak tertagih yang disebabkan adanya pelanggan


yang mengalami kesulitan keuangan dan menuju kepailitan sesudah tanggal
neraca, merupakan indikasi keadaan yang ada pada tanggal neraca.
b. Penyelesaian tuntutan hukum baik yang dilakukan klien maupun yang
ditujukan pada klien, yang jumlahnya berbeda dengan jumlah utang atau
piutang yang dicatat, membutuhkan penyesuaian laporan keuangan jika
peristiwa yang menimbulkan tuntutan tersebut telah terjadi atau ada sebelum
tanggal neraca.
c. Penghentian operasi perusahaan cabang dengan rugi terestimasi yang di
akibatkan oleh kondisi yang ada sebelum tanggal neraca.
d. Pelepasan (disposal) peralatan yang tidak digunakan dalam aktivitas operasi
pada harga di bawah nilai buku sekarang
e. Penjualan investasi pada harga di bawah cost tercatat.
Tipe peristiwa kemudian II meliputi peristiwa-peristiwa yang
memberikan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi yang tidak ada
pada tanggal neraca yang dilaporkan, tetapi kondisi tersebut ada sesudah
tanggal neraca. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak memerlukan penyesuaian
laporan keuangan. Akan tetapi, beberapa peristiwa mungkin memerlukan
pengungkapan untuk mencegah diterbitkannya laporan keuangan yang dapat
menyesatkan pemakainya. Pengungkapan tersebut dapat diungkapkan secara
memadai melalui footnotes, namun terkadang jika sangat signifikan maka wajib
diungkapkan pada laporan keuangan tambahan (supplemental financial
statements). Contoh peristiwa yang dikelompokkan ke dalam tipe kedua, yang
tidak memerlukan penyesuaian, tetapi memerlukan pengungkapan dalam
laporan keuangan, adalah:

a. Penjualan obligasi maupun penerbitan saham baru.


b. Akuisisi pada perusahaan lain.
c. Tidak diasuransikan kerugian aktiva tetap yang disebabkan kebakaran yang
terjadi setelah tanggal neraca.
d. Businesscombination misalnya perusahaan klie akan merger dengan sebuah
perusahaan lain.
e. Perubahaan struktur modal.
f. Pengumuman dividen saham ataupun dividen kas yang lain dari biasanya.
g. Penurunan nilai pasar sekuritas terjadi karena investasi sementara atau
penjualan kembali.
h. Penurunan niai pasar persediaan sebagai konsekuensi dari kebijakan
pemerintah untuk membatasi penjualan dimasa depan dari suatu produk.

Prosedur audit yang dapat dilakukan auditorberkaitan dengan peristiwa


kemudian, antara lain:
a. Membaca dan menganalis laporan keuangan interim terbaru setelah tanggal
neraca serta membandingkannya dengan laporan keuangan tahunan.
b. Mengajukan pertanyaan kepada manajer atau eksekutif perusahaan mengenai
apakah laporan keuangan interim telah disajikan dengan dasar yang sama
dengan penyusunan laporan keuangan tahunan.
c. Mengajukan pertanyaan kepada pejabat atau eksekutif yang bertanggung
jawab atas masalah keuangan dan akuntansi. Pertanyaan yang dapat diajukan
antara lain:
 Apakah ada kewajipan bersyarat atau komitmen lain yang ada pada
tanggal neraca.
 Apakah ada perubahan signifikan dalam modal saham, utang jangka
panjang atau modal kerja pada saat pengajuan pertanyaan tersebut.
 Apakah ada perubahan signifikan dalam estimasi yang telah disajikan
dan diungkapkan dalam laporan keuangan.
 Apakah ada penyesuaian luar biasa yang dibuat selama periode setelah
tanggal neraca.
d. Membaca notulen rapat para pemegang saham, direktur, komite resmi
lainnya.
e. Mengajukan pertanyaan kepada konsultan hukum Klien mengenai adanya
tuntutan hukum, klaim, dan keputusan pengadilan.
f. Mendapatkan surat representasi dari manajer yang berwenang mengenai
peristiwa kemudian yang perlu penyesuaian dan pengungkapan, yang
bertanggal sama dengan tanggal laporan audit.
g. Mengajukan pertanyaan tambahan.
h. Melaksanakan beberapa prosedur yang dipertimbangkan perlu dan
semestinya dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan
yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan prosedur, pengajuan
pertanyaan, dan pembicaraan yang telah dilaksanakan.

Pengaruh peristiwa kemudian terhadap laporan audit ialah kegagalan


mengungkapkan peristiwa kemudian dalam laporan keuangan akan
menyebabkan penyimpangan dari laporan audit bentuk standar.
Auditor dapat mengeluarkan laporan audit sebagai berikut (tergantung
materialitas peristiwa kemudian):

a. Pendapat tidak wajar apabila peristiwa kemudian sangat material.


b. Pendapat menolak memberikan pendapat.

1.3 Menelaah Notulen Rapat

Notulen rapat para pemegang saham, direktur, komite resmi lainnya


(komite keuangan dan komite audit), dapat berisi hal-hal yang secara signifikan
berkaitan erat dengan audit yang dilaksanakan, misalnya:

a. Otorisasi pengeluaran obligasi


b. Otorisasi pengeluaran saham baru
c. Otorisasi pembelian kembali saham sendiri
d. Otorisasi pembayaran dividen
e. Otorisasi penghentian jenis produk tertentu

Kelima hal tersebut di atas berpengaruh pada asersi-asersi manajemen


dalam laporan keuangan. Informasi yang diperoleh dari penelaahan tersebut
dapat menyebabkan auditor:

a. Melakukan pengujian substantif tambahan


b. Meminta klien mengungkapkan peristiwa kemudian dalam laporan
keuangan.

Pemahaman auditor atas notulen rapat harus didokumentasikan dalam kertas


kerja.

1.4 Mengajukan Pertanyaan atau Konfirmasi kepada Penasihat Hukum Klien

Pengajuan pertanyaan atau konfirmasi dilakukan untuk memperoleh bukti


mengenai keberadaan tuntutan hokum, klaim, dan keputusan pengadilan yang
mempengaruhi usaha dan keuangan klien di masa datang. Kadang kejadian
ekonomi lebih mempengaruhi posisi keuangan daripada suatu transaksi kas atau
transaksi lainnya. Sebagai contoh adalah kewajiban kontinjensi.

Kontinjensi adalah keadaan, situasi, atau kondisi yang meliputi


ketidakpastian yang mungkin melibatkan keuntungan atau kerugian di masa
datang. Tiga kondisi disyaratkan dalam kewajiban kontinjensi yaitu:

a. Terdapat pembayaran masa depan yang potensial pada pihak luar atau
penilaian kembali (impairment) aset akibat kondisi yang telah terjadi.

b. Terdapat ketidakpastian atas jumlah pembayaran masa depan atau penilaian


kembali (impairment)

c. Hasil hanya dapat dipastikan oleh peristiwa masa depan.

Ketidakpastian pembayaran masa depan dapat menimbulkan berbagai


kemungkinan. Standar akuntansi mendeskripsikan tiga jenis kemungkinan
kejadian dan perlakuan akuntansi untuk masing-masing kemungkinan tersebut,
yaitu:

a. Kemungkinan kejadian kecil (remote)sehingga tidak diperlukan adanya


pengungkapan.
b. Kemungkinan kejadian logis (reasonably possible) sehingga diperlukan
adanya pengungkapan pada footnotes.
c. Kemungkinan kejadian besar atau cenderung terjadi (probable). Pada jenis
kejadian ini, terdapat 2 alternatif perlakuan akuntansi. Jika jumlah kewajiban
dapat diestimasi secara logis maka dicatat sebagai kewajiban bersyarat yang
disesuaikan dalam lapoan keuangan. Jika jumlah kewajiban tidak dapat
diestimasi secara logis maka diperlukan pengungkapan pada footnotes.

Auditor dapat dan harus melaksanakan prosedur pengauditan untuk


mncari kewajiban bersyarat selama pelaksanaan audit (pekerjaan lapangan).
Pada tahap setelah audit (post audit), auditor harus menghimpun bahan bukti
tentang tuntutan hokum, klaim, dan keputusan pengadilan. Dalam hal ini,
auditor harus menghimpun bahan bukti mengenai:

a. Keberadaan keadaan, situasi, atau kondisi yang meliputi ketidakpastian yang


mungkin mengakibatkan kerugian pada perusahaan sebagai akibat adanya
tuntutan hokum, klaim, dan keputusan pengadilan.
b. Periode atau waktu terjadinya kejadian yang menyebabkan tindakan hukum
tersebut.
c. Tingkat kemungkinan hasil yang tidak menguntungkan
d. Jumlah kerugian potensial

Prosedur yang dapat dilaksanakan auditor untuk itu, adalah:

a. Mengajukan pertanyaan kepada dan diskusi dengan manajemen.


b. Membaca notulen rapat dewan komisaris.
c. Menelaah perjanjian kontrak atau pinjaman.
d. Konfirmasi dengan bank mengenai adanya jaminna (agunan) pinjaman.
e. Auditor meminta manajemen perusahaan membuat letter of inquiry yang
isinya meminta penasihat hukum klien menerangkan secara langsung
mengenai masalah hukum klien kepada auditor.

Tujuan utama auditor memverifikasi kewajiban kontinjensi adalah:

a. Mengevaluasi perlakuan akuntansi dari kewajiban kontigensi untuk


menentukan apakah manajemen telah mengklasifikasikan kontigensi secara
layak (klasifikasi penyajian dan pengungkapan).

b. Mengidentifikasi derajat kontigensi yang belum teridentifikasi oleh


manajemen (kelengkapan penyajian dan pengungkapan).
1.5 Menghimpun Surat Representasi Klien

Auditor disyaratkan untuk memperoleh representasi tertulis dari


manajemen sebagai bagian dari audit yang dilaksanakan sesuai dengan standar
pengauditan. Auditor mengandalkan representasi klien untuk:

a. Mengonfirmasikan pernyataan lisan yang disampaikan pada auditor.


b. Mendokumentasikan ketepatan representasi yang kontinu.
c. Menurunkan kesalahpahaman mengenai representasi manajemen.

Representasi klien melengkapi dan mendukung prosedur audit lainnya. Isi


representasi klien meliputi:
a. Pengakuan manajemen mengenai tanggung jawabnya untuk menyajikan
laporan keuangan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berterima umum.
b. Tersedianya catatan keuangan dan data yang berkaitan.
c. Kelengkapan dan tersedianya semua notulen rapat.
d. Tidak terdapat kesalahan dalam laporan keuangan dan transaksi yang tidak
tercatat.
e. Informasi mengenai transaksi antar pihak yang memiliki hubungan istimewa.
f. Ketidakpatuhan dengan berbagai isi perjanjian kontrak yang mungkin
berdampak pada laporan keuangan.
g. Informasi mengenai peristiwa kemudian.
h. Ketidakberesan yang melibatkan karyawan dan manajemen.
i. Komunikasi dari instansi pemerintah mengenai ketidakpatuhan terhadap atau
kelemahan dalam praktik pelaporan keuangan.
j. Rencana atau maksud yang mungkin akan mempengaruhi, dan lain
sebagainya.

Apabila auditor dapat memperoleh representasi klien, maka laporan audit


bentuk standar dapat dikeluarkan. Apabila ada pembatasan lingkup, maka perlu
dipertimbangkan dahulu materialitasnya.
1.6 Melaksanakan Prosedur Analitis Komprehensif

Prosedur analitis mencakup penggunaan rasio dan teknik pembandingan


lainnya. Prosedur analitis juga digunakan dalam tahap penyelesaian audit
sebagai alat penelaahan menyeluruh atau penelahaan akhir atas laporan
keuangan. Prosedur analitis ini bertujuan untuk membantu auditor dalam
mengambil kesimpulan mengenai audit, dan dalam mengevaluasi penyajian
laporan keuangan secara keseluruhan.

Dalam melakukan penelaahan menyeluruh, auditor membaca dan


menganalisis laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan, dan
mempertimbangkan kecukupan bukti yang dihimpun untuk mengatasi adanya
saldo yang jumlahnya tidak wajar atau tidak seperti yang diharapkan. Prosedur
analitis kemudian diterapkan pada laporan keuangan untuk menentukan apakah
ada hubungan yang tidak wajar yang masih ada. Apabila ternyata masih ada,
maka auditor perlu melaksanakan prosedur audit tambahan.

Data perusahaan dapat dibandingkan dengan:


a. Hasil perusahaan yang diharapkan misalnya seperti yang tercantum dalam
anggaran.
b. Data industri.
c. Data non keuangan yang relevan seperti jumlah produksi, atau jumlah tenaga
kerja.

1.7 Pengevaluasian Temuan

Auditor melaksanakan pengevaluasian atas temuan dengan tujuan:


a. Untuk menentukan jenis pendapatan yang akan diberikan.
b. Untuk menentukan apakah standar pengauditan telah dilaksanakan dengan
baik dalam audit.
Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor melaksanakan beberapa langkah
berikut:
1. Membuat penetapan akhir mengenai materialitas dan risiko audit.
2. Melakukan penelaahan teknis mengenai laporan keuangan.
3. Merumuskan pendapat dan membuat draft laporan audit.
4. Melakukan penelaahan akhir atas kertas kerja.

1.8 Membuat Penetapan Akhir Mengenai Materialitas dan Risiko Audit.

Tahap ini perlu dilakukan sebelum memutuskan pendapat yang akan


diberikan atas laporan keuangan klien. Titik awal proses ini adalah
menjumlahkan seluruh salah saji yang ditemukan dalam pemeriksaan atas
seluruh akun yang tidak dikoreksi oleh klien. Berkaitan dengan hal ini, ada dua
kasus yang mungkin ditemui auditor, yaitu:

a. Salah saji yang tidak atau belum dikoreksi mungkin secara individual tidak
material sehingga auditor tidak meminta pembetulan atau koreksi.
b. Klien tidak mau melakukan koreksi sesuai dengan yang diminta oleh auditor.

Langkah selanjutnya dalam proses ini adalah menentukan pengaruh


jumlah seluruh salah saji pada laba bersih dan elemen laporan keuangan lain
yang terkait dengan salah saji, seperti aktiva lancar dan utang lancar. Penentuan
salah saji oleh auditor dalam suatu akun meliputi beberapa komponen berikut:

a. Salah saji yang tidak dikoreksi yang terdeteksi melalui pengujian substantif
(known misstatement).
b. Proyeksi salah saji yang tidak dikoreksi, yang diperkirakan melalui teknik
sampling audit.
c. Estimasi salah saji yang dideteksi melalui prosedur analitis, dan yang
dikuantifikasikan dengan prosedur audit lainnya.
Jumlah ketiga komponen tersebut untuk suatu akun sering disebut dengan
likely misstatement.Jumlah seluruh likely misstatementdalam suatu akun disebut
dengan aggregate likely misstatement. Penetapan aggregate likely
misstatementdapat meliputi pengaruh setiap likely misstatementyang belum
dikoreksi pada periode sebelumnya, terhadap laporan keuangan periode
berjalan.

1.9 Melakukan Penelaahan Teknis Mengenai Laporan Keuangan

Banyak Kantor Akuntan Publik (KAP) yang mempunyai checklist(daftar


pengecek) rincian laporan keuangan. Daftar ini diisi oleh auditor yang
melakukan penelaahan. Daftar yang sudah lengkap, ditelaah lagi oleh manajer
atau partner. Checklist meliputi hal-hal yang berhubungan dengan bentuk dan
isi setiap laporan, dan hal-hal lain yang harus diungkapkan. Checklist yang
telah lengkap, dan temuan yang diperoleh melalui penelaahan, harus
dimasukkan dalam kertas kerja.

1.10 Merumuskan Pendapat dan Membuat Draft Laporan Audit

Selama pelaksanaan audit, berbagai pengujian audit telah dilaksanakan


auditor. Pelaksanaan pengujian audit dapat dilaksanakan oleh beberapa auditor
yang menangani beberapa area yang berbeda. Pada setiap selesai
dilaksanakannya prosedur pengujian audit, staf yang melaksanakan prosedur
tersebut diharapkan meringkas temuannya.

Sebelum mencapai keputusan pendapat yang final, auditor perlu


berdiskusi dengan klien. Auditor dapat meminta klien (manajer perusahaan)
untuk melakukan penyesuaian atau pengungkapan tambahan. Manajer
perusahaan dapat menyanggahnya dan mempertahankan posisinya. Apabila
diskusi tersebut menghasilkan kesepakatan bersama, auditor dapat memberikan
pendapat wajar tanpa pengecualian. Tetapi apabila diskusi tersebut tidak dapat
menghasilkan kesepakatan bersama, auditor dapat memberikan pendapat selain
pendapat wajar tanpa pengecualian.

1.11 Berkomunikasi dengan Klien


Komunikasi oleh auditor dapat dilaksanakan dengan :
a. Komite audit
b. Manajemen
Konumikasi yang dapat dilakukan auditor dengan komite audit adalah
komunikasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan struktur pengendalian
intern klien, atau mengenal pelaksanaan audit. Komunikasi manajemen dapat
dilaksanakan melalui management letter (surat pernyataan manajemen)

1.12 Menyusun Management Letter


Selama melaksanakan audit, auditor mengamati berbagai operasi dan
organisasi bisnis klien. Management letter berisi rekomendasi-rekomendasi
yang tidak di syaratkan untuk dikomunikasikan dengan komite audit.
Rekomendasi tersebut biasanya berkaitan erat dengan usaha peningkatan
efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan klien. Oleh karena itu, management
letter menunjukkan pelayanan yang diberikan auditor agar klien puas.
Pelayanan ini menunjukkan adanya perhatian auditor terhadap kesejahteraan
dan masa depan klien. Beberapa auditor mengombinasikan management letter
dengan sebuah dokumen pendukung tentang kekurangan signifikan dan
kelemahan material. Pada lingkup audit yang lebih kecil umumnya auditor
mengomunikasikan saran perbaikan operasional secara lisan daripada
menggunakan managemen letter.
Management letter dapat mencakup komentar atas:
a. Struktur pengendalian intern yang bukan termasuk reportable condition.
b. Sumber daya manajemen seperti kas, persediaan dan investasi.
c. Masalah perpajakan.
1.13 Tanggung Jawab setelah Audit
Tanggung jawab setelah audit meliputi pertimbangan :
a. Peristiwa kemudian yang terjadi antara tanggal laporan audit dan tanggal di
publikasikannya laporan audit
b. Penemuan fakta-fakta baru yang di temukan mungkin mempengaruhi
penyajian laporan keuangan yang akan berakibat menyesatkan para
pengguna laporan keuangan.
c. Penemuan adanya prosedur yang tidak dilaksanakan. Prosedur yang belum
dilaksanakan akan mempengaruhi tingkat efektivitas audit. Bila efektivitas
audit lemah ada kemungkinan auditor tidak dapat mencapai tingkat risiko
deteksi yang direncanakan.

1.14 Peristiwa Kemudian Antara Tanggal Laporan Audit dan Tanggal Publikasi
Laporan Audit
Sebenarnya audit tidak bertanggung jawab untuk menemukan hal-hal
yang mempengaruhi laporan keuangan auditan setelah tanggal laporan audit.
Meskipun demikian, apabila kejadian tersebut timbul auditor perlu
mempertimbangkan apakah perlu ada pengungkapan atau penyesuaian laporan
keuangan. Bila auditor menetapkan perlunya penyesuaian atau perlengkapan
dan manajemen setuju, maka auditor dapat mengeluarkan laporan audit bentuk
baku sebagai alternatif auditor dapat menggunakan penggalan ganda (dua
dating).

1.15 Penemuan Fakta Baru


Auditor sebenarnya tidak bertanggung jawab (setelah audit selesai) untuk
menemukan fakta-fakta yang ada tetapi tidak diketahui, pada tanggal laopran
audit meskipun demikian, auditor seharusnya memastikan keandalan informasi
jika auditor menemukan fakta yang mempengaruhi laporan yang dikeluarkan.
Apabila penyelidikan auditor menunjukkan adanya fakta tersebut dan auditor
yakin bahwa informasi tersebut penting bagi keandalan laporan keuangan
auditor harus mengambil langkah-langkah untuk mencegah pengandalan
(pemanfaatan) di masa datang atas laporan audit . langkah-langkah tersebut
meliputi :
a. Memberitahu (tertulis) klien bahwa laporan audit tidak dapat lagi dikaitkan
dengan laporan keuangan.
b. Memberitahu (tertulis) badan yang berwenang seperti BAPEPAM bahwa
laporan audit tidak dapat diandalkan lagi.
c. Memberitahu (tertulis) melalui badan berwenang (BAPEPAM) kepada setiap
individu yang diketahui mengandalkan laporan keuangan bahwa laopran
audit tidak dapat di andalkan lagi.

1.16 Penemuan Prosedur yang tidak dilaksanakan


Setelah tanggal laporan audit ada kemungkinan auditor menyimpulkan
bahwa satu atau lebih prosedur audit yang di anggap perlu sesuai keadaan tidak
dilaksanakan selama pelaksanaan audit. Standar pengauditan tidak
mensyaratkan auditor untuk melaksanakan penelaahan pos audit (setelah audit
berakhir) atas pekerjaan lapangan meskipun demikian penemuan adanya
prosedur audit yang tidak dilaksanakan dapat diketahui melalui :
a. Pelaksanaan program pengendalian kualitas kantor akuntan public
b. Pelaksanaan per review
Seperti telah dijelaskan, auditor tidak berkewajiban melaksanakan
prosedur audit setelah laporan audit dikeluarkan. Meskipun demikian karena
ada potensi kewajiban dan masalah hokum auditor perlu melakukan konsultasi
dengan pihak berwenang utuk menentukan tindakan yang tepat.
Pada banyak kasus auditor akan menetapkan atau menilai penting
tidaknya prosedur yang tidak dilaksanakan tersebut atas laporan keuangan
secara keseluruhan. Penetapan tersebut dilakukan dengan menelaah kertas kerja
dan mendiskusikan dengan staf auditor. Berdasarkan informasi tersebut, auditor
dapat mngevaluasi kembali lingkup audit secara keseluruhan jadi, auditor akan
menentukan apakah lingkup audit masih memadai meski ada prosedur
pengujian yang tidak dilakukan.
Sebagai contoh auditor tidak melaksanakan penelaahan notulen rapat dan
verifikasi kesesuaian saldo. Meskipun demikian auditor dapat menyimpulkan
bahwa konfirmasi jangka panjang adalah memadai untuk memperoleh bukti
asersi keberadaan atau keterjadian, hak dan keajiban serta penilaian atau
pengalokasian utang jangka panjang. Apabila kesimpulan yang diambil adalah
negatif auditor harus mengambil langkah-langkah untuk mencegah
pengandalan (pemanfaatan) di masa datang atas laporan audit. Langkah tersebut
sama dengan langkah yang dilakukan pada kejadian adanya penemuan fakta-
fakta baru.