Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rambut adalah sesuatu yang keluar dari dalam kulit dan kulit kepala,

tidak mempunyai syaraf perasa, sehingga tidak terasa sakit kalau dipangkas.

Fungsi rambut, selain sebagai mahkota, juga sebagai pelindung kepala dari

panas terik matahari dan cuaca dingin. Rambut membutuhkan penataan dan

perawatan secara teratur supaya tetap sehat, indah, dan berkilau (Wibowo,

2008).

Dewasa ini ada banyak permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan

kondisi rambut antara lain kerontokan rambut yang mengakibatkan kebotakan.

Kebotakan merupakan salah satu masalah umum yang terjadi pada rambut.

Masalah ini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor misalnya ; usia, hormon,

keturunan, stress, sakit, kurang tidur, kurang nutrisi dan ketombe

(Wasitaatmadja, 2006).

Mengatasi kerontokan rambut dapat dilakukan dengan menggunakan

hair tonik yakni kosmetika yang digunakan untuk melebatkan pertumbuhan

dan merangsang pertumbuhan rambut pada kebotakan atau rambut rontok.

Selain dalam bentuk kosmetika, cara pencegahan kerontokan rambut dapat

dilakukan secara alami karena lebih aman dan tidak mengandung bahan kimia

berbahaya. Selain itu, bahan alami mudah untuk didapatkan karena Indonesia

merupakan negara agraris yang subur.

1
Randu atau pohon kapok (Ceiba pentanda Gaertn) adalah pohon yang

banyak tumbuh di daerah rendah sampai 400 meter dari permukaan laut, di

kebun, di tepi jalan, dan di tempat lain yang berhawa panas. Tumbuhan randu

mengandung polifenol, saponin, damar yang pahit, hidrat arang pada daunnya.

Pemanfaatan di bidang pengobatan antara lain sari daun yang masih muda

dipergunakan untuk membantu pertumbuhan rambut dengan cara digosokkan

pada kulit kepala kemudian dipijit-pijit (Anonim, 2008).

Telah dilakukan penelitian oleh Marchaban dan Kumarawati tentang

aktivitas sari segar daun randu (Ceiba pentandra Gaertn) sebagai bahan

penumbuh rambut. Aktivitas sebagai penumbuh rambut dilakukan terhadap

rambut kelinci. Penelitian dilakukan dengan cara membuat sari segar daun

randu baik yang muda maupun yang tua dalam air dengan konsentrasi 2%, 3%

dan 5% kemudian diperiksa kandungan dan kemampuannya sebagai penumbuh

rambut. Kemampuan sebagai penumbuh rambut kemungkinan disebabkan

karena daun randu mengandung senyawa saponin, fenol dan flavonoid. Sari

daun randu dapat mempercepat pertumbuhan rambut, tetapi tidak ada

perbedaan bermakna antara sari daun muda dan daun tua dalam mempercepat

pertumbuhan rambut (Marchaban dan Kumarawati, 2006).

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka peneliti tertarik melakukan

penelitian dengan judul Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Randu (ceiba

pentandra gaertn.) Terhadap Kecepatan Pertumbuhan Rambut Kelinci.

2
B. Rumusan Masalah

Apakah ekstrak etanol daun randu memiliki aktivitas mempercepat

pertumbuhan rambut kelinci?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui apakah ekstrak etanol daun randu memiliki

aktivitas mempercepat pertumbuhan rambut kelinci.

2. Tujuan khusus

a. Mengukur rata-rata panjang rambut perhari (AGD) yang tumbuh pada

kelinci.

b. Menentukan konsentrasi ekstrak etanol daun randu yang paling cepat

mempengaruhi proses pertumbuhan rambut kelinci.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti

Mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di Jurusan Farmasi

Kupang dan menambah pengetahuan penulis tentang khasiat dari daun

randu.

2. Bagi institusi

Menambah bahan pustaka bagi jurusan Farmasi dan sebagai bahan

referensi bagi peneliti selanjutnya.

3. Bagi masyarakat

Memberikan informasi kepada masyarakat tentang khasiat dari daun

randu sebagai penumbuh rambut.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Rambut

Rambut atau sering disebut bulu adalah organ seperti benang yang

tumbuh di kulit hewan dan manusia, terutama mamalia. Rambut muncul dari

epidermis (kulit luar) walaupun berasal dari folikel rambut yang berada jauh di

bawah dermis (Chitrawati, 2006).

Rambut mempunyai beberapa fungsi umum, yaitu :

1. Perlindungan mekanis

Rambut / bulu badan berguna untuk menahan tumbukan. Permukaan

rambut seluas 1 cm2 dapat menahan gaya tekan sebesar 23 gram. Rambut di

sekitar lubang–lubang alami tubuh melindungi struktur yang disekelilingnya

terhadap pengaruh – pengaruh buruk dari luar.

2. Pengaturan suhu badan

Bulu / rambut pada hewan merupakan penyekat yang baik karena zat

tanduk memang bersifat sebagai konduktor / penghantar panas yang buruk.

Dengan demikian lapisan rambut pada badan dapat berfungsi untuk

menyimpan panas badan.

3. Pengeluaran keringat dan air

Rambut pada badan memiliki luas permukaan yang amat besar

sehingga dapat membantu penguapan keringat dan air dari kulit.

4
4. Penarik jenis kelamin yang lain

Pada hewan, bulu dan warna bulu mempunyai daya tarik terhadap

hewan berjenis kelamin lain.

5. Pengutaraan emosi

Pada hewan, rasa takut kemarahan dan sebagainya dinyatakan

dengan berdirinya bulu badan yang disebut pilomotion.

6. Sebagai alat perasa

Rambut memperbesar efek rangsang sentuhan terhadap kulit.

Sentuhan terhadap bulu mata menimbulkan refleks menutup kelopak mata.

Kepekaan kulit terhadap sentuhan berbanding lurus dengan kelebatan

pertumbuhan rambut 312/cm2 sangat peka terhadap sentuhan (Wibowo,

2008).

B. Kelinci (Oryotolagus cuniculus)

Kelinci sebenarnya sudah sejak lama dikenal oleh masyarakat

Indonesia, terutama di daerah pegunungan sebagai penghasil pupuk kandang

dan pemenuhan gizi atau daging keluarga. Sedangkan di kota-kota sebagai

ternak hias dan hewan peliharaan.

Menurut sistem binomial, bangsa kelinci diklasifikasikan sebagai

berikut:

Kingdom : Mamalia

Superfilum : Chordata

Filum : Vertebrata

Kelas : Mamalia

5
Ordo : Lagomorpha

Family : Leporidae

Subfamili : Leporine

Genus : Lepus, Orictolagus

Spesies : lepus spp., Orictolagus spp,

Kelinci adalah hewan mamalia dari famili Leporidae yang dapat

ditemukan di banyak bagian bumi (Anonim, 2011).

Menurut rasnya, kelinci terbagi menjadi beberapa jenis, diantaranya :

1. New Zealand white

Sesuai namanya kelinci ini berasal dari Selandia Baru (New

Zealand) serta berkembang di Amerika Selatan dan Australia. Ras ini

merupakan kelinci albino karena tidak mempunyai bulu yang mengandung

pigmen. Bulunya putih, mulus, padat, dan agak kasar kalau di raba. Mata

merah telinga tegak. Di negara kanguru New Zealand white menjadi buruan

karena populasinya sangat besar sehingga dianggap sebagai hama. Kelinci

ini cepat tumbuh besar, maka kelinci ini juga dapat dijadikan kelinci potong.

Berat dewasa 4,5-5 kg. Anaknya dapat mencapai 10-12 ekor. Tipe kelinci

ini adalah pedaging. Puncak produksinya sekitar 3 tahun.

2. Angora

Angora dewasa (jantan dan betina) memiliki bobot 2,7 kg.

Pertumbuhan bulu pada kelinci ras ini sangat cepat.

3. Lyon

Hasil persilangan luar antara kelinci ras angora dengan ras lainnya.

6
4. American Chinchilla

Kelinci ras ini diternakkan untuk diambil dagingnya dan produksi

fur. Kelinci ini dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu :

a. Standar (bobot dewasa 2.5-3 kg)

b. Besar (bobot dewasa 4.5-5 kg)

c. Giant (bobot dewasa 6-7 kg)

5. Dutch

Ras Dutch berasal dari Belanda. Memiliki bobot antara 1,5 - 2,5 kg.

Warna bulunya khas, melingkar menyerupai pelana berwarna putih dari

punggung hingga leher dan kaki depan bagian belakang. Kepala

hitam,cokelat atau abu-abu. Memiliki moncong dan dahi yang berwarna

putih, kaki depan seluruhnya putih, kaki belakang hitam atau warna lain

dengan ujung kaki putih.

6. English spot

Kelinci ras ini berwarna putih dengan bintik berwarna hitam. Di

sepanjang punggung terdapat garis berwarna hitam. Telinga berwarna hitam,

disekitar mata dan hidung diliputi bulu hitam.

7. Himalayan

Kelinci ras ini memiliki warna hitam pada kaki, hidung dan telinga

yang mulai muncul saat berumur 3 – 4 minggu (Anonim, 2011).

C. Daun Randu (Ceiba pentandra Gaertn.)

Kapuk/randu adalah pohon tropis yang tergolong ordo Malvaceae

berasal dari bagian utara Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia. Kata

7
‘kapuk’ juga digunakan untuk menyebut serat yang dihasilkan dari bijinya.

Pohon ini juga dikenal sebagai Kapas Jawa atau Kapok Jawa, dapat tumbuh

setinggi 60-70 meter dan dapat memiliki diameter batang pohon sampai dengan

3 meter.

Klasifikasi tanaman randu/kapuk:

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas : Dilleniidae

Ordo : Malvales

Famili : Bombacaceae

Genus : Ceiba

Spesies : Ceiba pentandra L. Gaertn. (Anonim, 2000)

Daun Randu memiliki khasiat menyuburkan rambut, caranya: 15 helai

daun randu direbus dengan air bersih hingga mendidih, biarkan hingga dingin.

Pemakaiannya; sebelum keramas, basahi rambut dengan air rebusan tadi sambil

memijat-mijat kulit kepala anda. Biarkan selama setengah jam,setelah itu bilas

dengan shampoo seperti biasa. Lakukan ini sebanyak 2 kali dalam seminggu

(Anonim, 2008).

8
Adapun kandungan kimia dari daun randu:

1. Saponin

Mempunyai kemampuan membersihkan kulit dari kotoran serta

sifatnya sebagai konteriritan, akibatnya terjadi peningkatan sirkulasi darah

perifer sehingga meningkatkan pertumbuhan rambut.

2. Fenol

Mempunyai aktivitas keratolitik, desinfektan (Harborne, 1987).

3. Flavonoid

Mempunyai aktivitas sebagai bakterisid dan anti virus yang dapat

menekan pertumbuhan bakteri dan virus, sehingga dapat mempercepat

pertumbuhan rambut dan mencegah kerontokan (Achmad, dkk., 1990).

Berdasarkan penelitian tentang uji zat aktif yang terkandung dalam

daun randu, flavonoid dibuktikan dengan menggunakan selulosa karena

banyak terdapat dalam glikosida. Hasil yang diperoleh berupa dua bercak

berwarna kuning setelah diuapi dengan amoniak, dan tidak berfluoresensi

terhadap sinar UV. Berdasarkan hasil pemeriksaan diatas dan bila

disesuaikan dengan golongan flavonoid maka dapat disimpulkan bahwa di

dalam daun kapuk terdapat flavonoid golongan flavonol.

9
Adapun rumus strukturnya:

OH

Flavonol

Karena mempunyai gugus hidroksil maka flavonoid larut dalam

senyawa polar seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dimetilsulfoksida,

dimetilformamida , air dan lain-lain ( Achmad dkk, 1990).

D. Hair Tonic

Penumbuh rambut (hair tonic) adalah sediaan yang mengandung bahan

bahan yang diperlukan oleh rambut, akar rambut, dan kulit kepala. Penggunaan

bahan-bahan yang berfungsi sebagai penumbuh rambut (misalnya counter

irritant) dalam konsentrasi rendah akan menyebabkan kemerahan pada kulit

dan rasa hangat sehingga meningkatkan aliran darah pada kapiler kulit

(Tranggono, 2004)

E. Penyarian

1. Pengertian

Penyarian adalah kegiatan penarikan zat yang dapat larut dari bahan

yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang disari,

mengandung zat aktif yang dapat larut dan zat yang tidak dapat larut seperti

serat, karbohidrat, protein dan lain-lain (Anonim, 1986).

10
2. Simplisia

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat

yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan

lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibedakan 3 macam,

pertama simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh,

bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan. Kedua, simplisia hewani adalah

simplisia berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat yang berguna yang

dihasilkan oleh hewan atau belum berupa zat-zat kimia murni. Ketiga,

simplisia pelikan (mineral) yang belum diolah dengan cara-cara sederhana

dan belum berupa zat kimia murni (Anonim, 1977).

3. Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan

menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar

pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus

menjadi serbuk (Anonim, 1979). Pada ekstrak tumbuhan jika bahan

pengekstaraksinya sebagian atau seluruhnya diuapkan, maka diperoleh

ekstrak yang dikelompokkan menurut sifat-sifatnya menjadi ekstrak encer

(extractum tenue), ekstrak kental (extractum spissum), ekstrak kering

(extractum siccum), ekstrak cair (extractum fluidum) (Voight, 1994).

4. Maserasi

Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi

dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.

Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel

11
yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya

perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di

luar sel, maka larutan yang terpekat didesak ke luar. Peristiwa tersebut

berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar

sel dan di dalam sel. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang

mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak

mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak

mengandung benzoin, sitrak dan lain-lain. Maserasi pada umumnya

dilakukan dengan cara: 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok

dimasukan ke dalam bejana, kemudian dituang dengan 75 bagian cairan

penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya, sambil

berulang-ulang diaduk. Setelah 5 hari diserkai, ampas diperas. Ampas

ditambah cairan penyari secukupnya diaduk dan deserkai, sehingga

diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian. Bejana ditutup, dibiarkan di

tempat sejuk, terlindung dari cahaya, selama 2 hari. Kemudian endapan

dipisahkan (Anonim, 1986).

5. Cairan penyari

Pemilihan cairan penyari harus mempertimbangkan banyak faktor.

Penyarian di farmakope Indonesia menetapkan bahwa sebagai cairan

penyari adalah air, etanol, campuran air-etanol atau eter. Air memiliki

keuntungan yakni lebih murah dan mudah diperoleh, stabil, tidak mudah

menguap dan tidak mudah terbakar, tidak beracun dan alamiah.

Keburukannya adalah air merupakan tempat tumbuh bagi kuman, kapang

12
dan khamir. Etanol dipertimbangkan sebagai penyari karena lebih selektif.

Kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol 20 % ke atas, tidak beracun,

netral, absorpsinya baik, etanol dapat bercampur dengan air pada segala

perbandingan, panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit

(Anonim, 1986).

6. Menguapkan cairan pengekstraksi

Untuk menguapkan digunakan alat-alat dengan sebuah wadah

penyulingan dibawah tekanan hampa pada suatu penangas air paling tinggi

50°C yang memiliki dasar rata sehingga ekstrak yang akan dikentalkan

mudah diambil (Voight, 1994). Pada penguapan rotasi-hampa udara suatu

film halus dari cairan yang diuapkan terbentuk melalui putaran labu dalam

sebuah pemanasan pada dinding labu. Melalui pembesaran permukaan

penguapan maka penguapan berlangsung lebih singkat. Melalui pengaturan

dalamnya pencelupan ke dalam penangas air, suhu penangas, hampa udara

dan suhu pendingin maka kondisi optimal setiap saat terpenuhi (Voight,

1994).

13
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian adalah di Laboratorium Farmakognosi dan Farmakologi

Jurusan farmasi Kupang.

2. Waktu Penelitian adalah pada bulan Juni-Juli Tahun 2012.

C. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas : Ekstrak etanol daun randu konsentrasi 100%,

75%, dan 50%

2. Variabel terikat : Kecepatan pertumbuhan rambut kelinci

3. Variabel pengganggu : 1. Pembuatan ekstrak daun randu

2. kondisi fisik kelinci

Variabel Bebas Variabel Terikat

Ekstrak daun randu Kecepatan pertumbuhan rambut


100%, 75%, 50% kelinci

Variabel Pengganggu

1. Pembuatan ekstrak daun randu


2. Kondisi fisik kelinci

Gambar 1. Hubungan antar variabel

Keterangan :
Variabel yang diteliti
Variabel yang tidak diteliti

14
D. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitan ini adalah kelinci jantan New Zealand white

berjumlah 3 ekor, berjenis kelamin jantan, umur 2 – 3 bulan dengan berat

badan 1,3-2 kg.

E. Defenisi Operasional

1. Daun randu adalah daun randu muda yang diambil dari kelurahan Liliba,

dikeringkan dengan cara diangin-anginkan dan dibuat serbuk simplisia

dengan menggunakan ayakan nomor 36.

2. Ekstrak etanol daun randu adalah ekstrak kental yang diperoleh dari daun

randu muda dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70%

kemudian diuapkan di rotavapor sampai menjadi ekstrak kental dan bebas

dari etanol.

3. Kecepatan pertumbuhan rambut kelinci adalah proses bertumbuhnya rambut

kelinci akibat diolesi ekstrak daun randu dan diukur menggunakan jangka

sorong setiap 3 hari sekali selama 18 hari.

4. Kelinci yang digunakan yaitu kelinci jantan jenis New Zealand white

5. Kelinci New Zealand White adalah hewan mamalia dari family Leporidae

dengan berat badannya antara 1,3-2 kg yang dapat digunakan sebagai hewan

percobaan.

F. Alat dan Bahan

1. Alat

a. Rotavapor (Eyela N-1000)

b. Orbital shaker SO1 (Stuart Scientific)

15
c. Timbangan (Murakami Model US-80)

d. Ayakan no.100

e. Kain flanel

f. Lumpang dan alu

g. Pinset

h. Solotip

i. Gunting

j. Alat alat gelas (pirex )

k. Disposible injection tanpa jarum

l. Jangka sorong (Vernier Calipers)

2. Bahan

a. Daun randu muda dari kelurahan Liliba

b. Etanol 70%

c. Aquadest

d. Aluminium foil

e. Neril (kontrol positif )

G. Prosedur Penelitian

1. Pembuatan ekstrak etanol daun randu

Daun randu muda yang akan digunakan diambil dari kelurahan

Liliba lalu dikeringkan terlebih dahulu dengan cara diangin-anginkan.

Setelah betul-betul kering, kemudian diserbukkan dengan ayakan no.36.

Ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 70%. Sebanyak

kurang lebih 200 gram serbuk daun randu muda direndam dengan 1500 ml

16
etanol 70%, ditutup lalu disimpan di ruang gelap dan diaduk berulang

selama 5 hari. Setelah itu, disaring menggunakan kain flanel dan filtrat yang

diperoleh disimpan (filtrat A ). Ampas direndam kembali dengan 500 ml

etanol selama 1 hari sambil sering diaduk dan disaring menggunakan kain

flanel hingga diperoleh filtrat B dan endapan. Filtrat B dicampur dengan

filtrat A lalu didiamkan selama semalam dan dipekatkan dengan

menggunakan rotavapor pada suhu ± 50° C dan dilanjutkan dengan uji

bebas etanol. Ekstrak pekat ini ditimbang untuk mendapatkan nilai

rendemennya (Purwantini, 2010)

Cara untuk mengetahui sediaan ekstrak etanol daun randu bebas etanol :

Ekstrak diuji bebas etanol 70 % dengan penambahan asam asetat dan

asam sulfat pekat dibantu dengan pemanasan. Ekstrak dinyatakan bebas

etanol bila tidak ada bau ester yang khas dari etanol yakni bau etil asetat

(Pujilestari cit. Praeparandi 1979).

Cara membuat ekstrak etanol daun randu dengan konsentrasi tertentu :

75%
a. Konsentrasi 75% sebanyak 25 mL :100% x 25 mL =18.75 mL ekstrak

daun randu 100%, ditambahkan aquadest hingga 25 mL

50%
b. Konsentrasi 50% sebanyak 25 mL : x 25 mL = 12,5 mL ekstrak
100%

daun randu 100%, ditambahkan aquadest hingga 25 mL

Cara menghitung nilai rendemen :

𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘
Perhitungan nilai rendemen :𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 x 100 %
𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎

𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎 ℎ 𝑑𝑖𝑢𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛


Perhitungan rendemen :𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 x 100%
𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑑𝑖 𝑢𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛

17
2. Perlakuan terhadap kelinci

Kelinci yang digunakan sebanyak 3 ekor, berjenis kelamin jantan,

kondisi sehat, umur 1-3 bulan, berat badan antara 1,3-2 kg serta dilakukan

masa adaptasi lingkungan selama satu minggu untuk mencegah stres pada

kelinci. Metode pengerjaan dan perlakuan pada kelinci adalah dengan

mengadopsi metode tanaka et al yang dimodifikasi oleh Julaiha dan

Purwantini, dengan modifikasi perlakuan berupa pengolesan secara acak

untuk memaksimalkan hasil percobaan. Rambut pada punggung kelinci

dicukur sampai bersih, dibagi menjadi 5 bagian/kotak persegi dengan sisi 2

cm. Jarak antara setiap kotak adalah 1 cm (Julaiha, 2003).

Dioleskan bahan uji (kontrol negatif, kontrol positif, ekstrak etanol

daun randu konsentrasi 100%, 75%, 50% ) 1 kali sehari pada sore hari

selama 18 hari. Pengolesan sebanyak 0,5 ml menggunakan cotton buds.

Setelah pencukuran dan sebelum dilakukan pengolesan, punggung kelinci

yang telah dibuat dalam bentuk kotak persegi dioles dengan etanol 70%

sebagai antiseptik. Pengolesan dengan etanol 70% ini hanya dilakukan pada

awal pengujian saja.

18
Punggung kiri

5 4

Ekor kepala
3 2 1
Punggung kanan

Gambar 2. Pembuatan kotak pada punggung kelinci

Keterangan: 1 : ekstrak etanol daun randu konsentrasi 100%

2 : ekstrak etanol daun randu konsentrasi 75%

3 : ekstrak etanol daun randu konsentrasi 50%

4 : kontrol positif (Neril)

5 : kontrol negatif(tanpa perlakuan)

H. Pengamatan.

Hari pertama pengolesan dianggap hari ke 0. Pengamatan dilakukan

setiap 3 hari selama 18 hari. Pengamatan dilakukan dengan cara mencabut

sebanyak lebih kurang 20 helai rambut kelinci, kemudian dipilih rambut yang

terpanjang untuk diukur. Pengukuran dilakukan setiap 3 hari sekali, dihitung

pada hari ketiga, keenam, kesembilan, keduabelas, kelimabelas, dan

kedelapanbelas. Rambut yang telah diambil dengan cara dicabut, diluruskan,

ditempelkan pada selotip atau isolasi, kemudian diukur dengan menggunakan

jangka sorong dengan bantuan kaca pembesar. Dari data pengukuran panjang

rambut yang didapat kemudian dimasukan dalam tabel pengamatan.

Harga AGD (Average Growth Daily-Gain) atau pertumbuhan rata-rata

rambut di dapat dari panjang rambut hari ke-18 dikurangi hari ke-3 dibagi 15

(selisih hari dilakukan pengamatan). Uji menggunakan Anova satu arah dengan

19
taraf kepercayaan 5% serta Uji SNK (Student Newman Keuls) (purwantini,

2010 ).

Tabel 1. Lembar pengamatan observasi

Hari Tanpa Neril 100% 75% 50%


perlakuan (+)
(-)
Ke-3
Ke-6
Ke-9
Ke-12
Ke-15
Ke-18
AGD

I. Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan secara analisa statistik dengan Anova

satu arah dan Uji SNK (Sugiyono, 2011).

20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitan tentang Uji Aktivitas Ekstrak etanol Daun Randu (Ceiba

Pentandra Gaertn) terhadap kecepatan pertumbuhan rambut kelinci telah

dilakukan melalui tiga tahap utama, yaitu pembuatan simplisia daun randu,

pembuatan ekstrak etanol daun randu dan pengujian pertumbuhan rambut pada

hewan uji kelinci.

Pada pembuatan simplisia, daun randu muda dipetik pada pagi hari dari

kelurahan Liliba kemudian dilakukan sortasi basah, pencucian, diangin-anginkan

hingga betul-betul kering, dilanjutkan dengan sortasi kering dan diserbukkan

dengan menggunakan pengayak nomor 36.

Simplisia daun randu yang sudah diserbukkan ditimbang sebanyak 200

gram kemudian dimasukan dalam erlen meyer 2L lalu direndam dengan 1500 mL

pelarut etanol 70 % selama lima hari sambil di aduk. Setelah itu filtrat diambil

kemudian residu dari ekstrak pertama ditambahkan dengan etanol 70%,lalu

diperas sampai volume seluruh ekstrak 2000 mL. Diendapkan selama dua hari dan

maserasi diakhiri. Filtrat ekstrak daun randu yang diperoleh dilakukan pemekatan

dengan menggunakan rotavapor pada suhu 500C, kemudian dilanjutkan ke

penangas air dengan suhu 50% selama tiga jam, dilakukan uji bebas etanol.

Ekstrak etanol daun randu yang diperoleh sebanyak 102 mL berwarna hijau

kehitaman dengan bau khas ekstrak yang kemudian dihitung nilai rendemennya

dan diperoleh nilai rendemennya sebesar 51%.

21
Sebelum dilakukan pengujian kelinci dilakukan masa adaptasi lingkungan

selama satu minggu untuk mencegah stress pada kelinci, selanjutnya punggung

kelinci dicukur sampai bersih dan dibuat 5 kotak persegi dengan sisi 2 cm dan

jarak antara kotak 1 cm. Dioleskan bahan uji (kontrol negatif (tanpa perlakuan),

kontrol positif (neril), ekstrak etanol daun randu konsentrasi 100%, 75%, 50% )

satu kali sehari pada sore hari selama 18 hari. Pengolesan sebanyak 0,5 ml

menggunakan cotton buds. Setelah pencukuran dan sebelum dilakukan

pengolesan, punggung kelinci yang telah dibuat dalam bentuk kotak persegi dioles

dengan etanol 70% sebagai antiseptik.

Pengukuran rambut kelinci dilakukan pada hari ketiga, keenam,

kesembilan, kedua belas, kelima belas, dan kedelapan belas. Pengukuran

dilakukan dengan cara mencabut lebih kurang dua puluh helai rambut kelinci,

tetapi pada pengukuran yang pertama dan kedua ada kotak yang sebagian

ditumbuhi rambut dan sebagiannya tidak ditumbuhi rambut jadi pada kotak

tersebut pencabutannya kurang dari 20 helai rambut sedangkan pada pengukuran

ketiga sampai keenam pencabutannya kurang lebih dua puluh helai rambut

kelinci, kemudian dipilih rambut terpanjang untuk diukur. Hasil pengukuran

panjang rambut yang didapat kemudian dimasukan dalam tabel pengamatan.

22
30

25
panjang rambut (mm) 20
100%
15 75%
10 50%
kontrol (+)
5
kontrol (-)
0
3 6 9 12 15 18
pengukuran rambut hari ke

Gambar 3. Grafik pengukuran panjang rambut ketiga kelinci (mm) selama


18 hari

Berdasarkan hasil pengukuran panjang rambut pada hari ketiga diperoleh

pertumbuhan rambut ketiga kelinci jantan yang menggunakan ekstrak etanol daun

randu konsentrasi 100% sebesar 4 mm, ekstrak etanol daun randu konsentrasi

75% sebesar 3,9 mm, ekstrak etanol daun randu konsentrasi 50% sebesar 3,7 mm,

kontrol positif (neril) sebesar 3,8 mm dan kontrol negatif (tanpa perlakuan)

sebesar 3,6 mm. Pertumbuhan rambut kelinci semakin hari semakin bertambah

sehingga pada hari kedelapan belas diperoleh panjang rambut ketiga kelinci jantan

yang menggunakan ekstrak etanol daun randu konsentrasi 100% sebesar 26,9 mm,

ekstrak etanol daun randu konsentrasi 75% sebesar 26,5 mm, ekstrak etanol daun

randu konsentrasi 50% sebesar 25,23 mm, kontrol positif sebesar 26,3 mm,

kontrol negatif sebesar 19,9 mm..

Dari data pengukuran panjang rambut ketiga kelinci tersebut dibuat

AGD(Average Growth Daily-Gain) atau rata-rata pertumbuhan rambut ketiga

kelinci.

23
Tabel 2.Data pertumbuhan rambut rata-rata perhari (AGD) ketiga kelinci

Rata-rata pertumbuhan panjang rambut perhari


Kelinci 100% 75% 50% Kontrol + Kontrol -

1 1.51 1.47 1.36 1.46 1.07


2 1.61 1.61 1.57 1.61 1.1
3 1.46 1.44 1.35 1.43 1.09
∑𝑥 4.58 4.52 4.28 4.5 3.26
𝑋 1.53 1.51 1.42 1.5 1.08
∑𝑛 3 3 3 3 3
∑𝑥 2 7,0038 6,8266 6,137 6,7686 3,543
(Sumber : Data primer, 2012)

Berdasarkan data pada tabel diatas dapat dilihat bahwa harga AGD

(Average Growth Daily-Gain) atau rata-rata pertumbuhan rambut perhari ketiga

kelinci jantan dengan menggunakan eksrak etanol daun randu konsentrasi 100%

sebesar 1,53 mm, ekstrak etanol daun randu konsentrasi 75% sebesar 1,51 mm,

ekstrak etanol daun randu konsentrasi 50% sebesar 1,43 mm, kontrol positif

(neril) sebesar 1,5 mm, kontrol negatif sebesar 1,09 mm. Rambut kelinci jantan

mengalami pertumbuhan rata-rata paling cepat dan panjang akibat dipengaruhi

oleh ekstrak etanol daun randu konsentrasi 100% dibandingkan dengan kontrol

positif (neril) dan konsentrasi daun randu lainnya. Hal ini disebabkan karena

didalam daun randu mengandung saponin, flavonoid, dan fenol yang ketiganya

memiliki aktivitas mempercepat pertumbuhan rambut. Panjang normal rambut

kelinci satu sebelum dicukur sebesar 39,5 mm, kelinci 2 sebesar 41,2 mm, kelinci

3 sebesar 39,8 mm. Jadi rata-rata panjang rambut normal ketiga kelinci sebelum

dicukur sebesar 40,17 mm.

Hasil yang didapat selanjutnya dilakukan dengan analisa statistik dengan

uji F dan diperoleh harga F hitung sebesar 12,8987 lebih besar dari harga F tabel

sebesar 3,48 untuk tingkat kesalahan 5%, maka hipotesis alternatif yang

24
ditetapkan diterima. Jadi ada aktifitas kecepatan pertumbuhan rambut kelinci

jantan akibat penggunaan ekstrak etanol daun randu konsentrasi 100%, 75%, 50%,

neril(kontrol positif). Penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Marchaban, C.J.

Soegihardjo,dkk dengan menggunakan sari segar daun randu juga memberikan

hasil yang positif terhadap kecepatan pertumbuhan rambut kelinci.

Pengujian selanjutnya dilakukan dengan uji SNK. Uji SNK dilakukan

untuk melihat lebih jelas perbedaan antara larutan uji, kontrol positif dan kontrol

negatif. Pada uji SNK, digunakan tabel Q. Diperoleh hasil bahwa ada perbedaan

yang bermakna antara kontrol negatif dengan ekstrak etanol daun randu

konsentrasi 100%, 75% dan 50% dalam mempercepat pertumbuhan rambut,

Antara kontrol positif (neril) dengan ekstrak etanol daun randu konsentrasi 50%

juga ada perbedaan yang bermakna dalam mempercepat pertumbuhan rambut,

sedangkan antara kontrol positif (neril) dengan ekstrak etanol daun randu

konsentrasi 100%, 75% kecepatan pertumbuhan rambutnya hampir sama atau

tidak ada perbedaan yang bermakna.

25
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil pengukuran dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun

randu memiliki aktivitas mempercepat pertumbuhan rambut kelinci.

2. Rata-rata pertumbuhan panjang rambut perhari pada ketiga kelinci dengan

menggunakan ekstrak etanol daun randu konsentrasi 100% sebesar 1,53

mm, ekstrak etanol daun randu konsentrasi 75% sebesar 1,51 mm, ekstrak

etanol daun randu konsentrasi 50% sebesar 1,43 mm.

3. Berdasarkan hasil rata-rata pertumbuhan rambut ketiga kelinci jantan dapat

disimpulkan bahwa Konsentrasi dari daun randu yang paling cepat untuk

menumbuhkan rambut kelinci adalah ekstrak etanol daun randu dengan

konsentrasi 100%.

B. Saran

1. Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan menggunakan tanaman lain yang

mempunyai khasiat mempercepat pertumbuhan rambut

2. Masyarakat dapat menggunakan bahan alami berupa daun randu sebagai

pilihan aman dalam mengatasi masalah kebotakan serta perawatan rambut.

26
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, A.S., Hakim, E.H., dan Makmur, L.. 1990. Flavonoid dan Fitomedika,
Kegunaan dan Prospek.. Jakarta: Phyto-Medika.

Anonim . 2011. Pemeliharaan Kelinci Cetakan ke-29. Yogyakarta: Kanisius.

--------. 1977. Materia Madika Indonesia Jilid I. Jakarta: Depkes RI

--------. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Depkes RI.

--------. 1986. Sediaan Galenika. Jakarta: Depkes RI.

--------. 2000. Inventaris Tanaman Obat Indonesia (1) jilid I. Jakarta: Bakti
husada.

--------. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agromedia pustaka.

Chitrawati S.. 2006. Dasar Dasar Trampil Tata Rias Rambut. Jakarta: Karya
Utama.

Harborne, J.B.. 1987. Metode Fitokimia. Bandung: Penerbit ITB

Julaiha, S.. 2003. Pengaruh Fraksi Pe Ekstrak Etanolik Biji Kemiri Terhadap
Kecepatan Pertumbuhan Rambut Kelinci. Skripsi. Fakultas Farmasi
UGM.Yogyakarta.

Marchaban, C.J. Soegihardjo, dan F.E. Kumarawati. 2006. Aktivitas Ekstrak


Etanolik Daun Randu Terhadap Kecepatan Pertumbuhan Rambut Kelinci
Jantan.Penelitian. Fakultas Farmasi UGM.

Pujilestari, Rini. 2007. Efek Penyembuhan Luka Bakar Krim Ekstrak Etanolik
Daun Nanas (Ananas Comosus Merr) Pada Kulit Punggung Kelinci
Jantan New Zealand. Surakarta:
http://etd.eprints.ums.ac.id/15166/3/bab_1.pdf (14 Mei 2012).

Purwantini, indah .2010. Kombinasi Daun Teh Dan Mangkokan Sebagai


Penumbuh Rambut. Jurnal Penelitian. Fakultas Farmasi UGM.
Yogyakarta.

Sugiyono, DR.. 2011. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : ALFABETA.

Tranggono, S.R.. 2004. Kiat-kiat Apik Tampil Sehat dan Cantik.Jakarta: Wiley
Interscience Division of John Wiley and Son Inc.

27
Voight, Rudolf. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Edisi ke-5. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.

Wasitaatmadja, Sjarif M.. 2006. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI-
Press.

Wibowo,Daniel S.. 2008. Anatomi Tubuh Manusia Cetakan ke-8. Jakarta: PT


Gramedia.

28
Lampiran 1. Gambar-gambar penelitian

Gambar 4. Daun randu sebelum dihaluskan

Gambar 5. Daun randu sesudah dihaluskan

29
Gambar 6. Proses maserasi

Gambar 7. Ekstrak etanol daun randu diuapkan dirotavapor

30
Gambar 8. Hasil ekstraksi daun randu

Gambar 9. Sampel berbagai konsentrasi dan kontrol yang digunakan

31
Gambar 10. punggung kelinci dibuat kotak persegi

Gambar 11. pengolesan bahan uji

32
Gambar 12. pencabutan rambut kelinci

Gambar 13. pengamatan( pengukuran menggunakan jangka sorong)

33
Lampiran 2. Skema kerja pembuatan simplisia daun randu

Daun randu muda dipetik bagian ke 2 dan 3 dari


pucuk

Sortasi basah

Pencucian

Pengeringan

Sortasi kering

Penyerbukan

34
Lampiran 3. Skema kerja pembuatan ekstrak etanol daun randu

Daun randu muda yang telah dihaluskan

Ditimbang sebanyak 200 gram

Direndam dengan pelarut etanol 70% sebanyak


1500 ml selama 5 hari sambil diaduk

disaring menggunakan kain flanel dan filtrat yang


diperoleh disimpan (filtrat A )

Ampas direndam kembali dengan 500 ml etanol


selama 1 hari sambil sering diaduk

disaring menggunakan kain flanel hingga diperoleh


filtrat B dan endapan

Filtrat B dicampur dengan filtrat A lalu didiamkan


selama semalam

Filtrat yang didapat di rotavapor pada suhu ±400c


sampai menjadi ekstrak kental

35
Lampiran 4.pembuatan ekstrak etanol daun randu dengan konsentrasi tertentu

A. Cara membuat ekstrak etanol daun randu dengan konsentrasi tertentu


75%
1. Konsentrasi 75% sebanyak 25 mL :100% x 25 mL =18.75 mL ekstrak daun

randu 100%, ditambahkan aquadest hingga 25 mL

50%
2. Konsentrasi 50% sebanyak 25 mL : x 25 mL = 12,5 mL ekstrak daun
100%

randu 100%, ditambahkan aquadest hingga 25 mL

B. Cara untuk mengetahui sediaan ekstrak etanol daun randu bebas etanol

Ekstrak diuji bebas etanol 70 % dengan penambahan asam asetat dan asam

sulfat pekat dibantu dengan pemanasan. Ekstrak dinyatakan bebas etanol bila

tidak ada bau ester yang khas dari etanol (Pujilestari cit. Praeparandi 1979).

C. perhitungan rendeman
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘
Perhitungan nilai rendemen :𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 x 100 %
𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎

102
: 200 x 100% = 51 %

𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎 ℎ 𝑑𝑖𝑢𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛


Perhitungan rendemen :𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 x 100%
𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑑𝑖 𝑢𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛

102
:2000 x 100% = 5,1%

36
Lampiran 5. Skema Kerja pengujian pertumbuhan rambut

Kelinci digunakan sebanyak 3 ekor

Rambut pada punggung kelinci di cukur


sampai bersih

Dibagi menjadi 5 kotak persegi dengan sisi


2 cm

Dibuat konsentrasi daun randu 100%,


75%, 50%

Dioleskan konsentrasi 100%, 75%, 50%,


kontrol (-) dan kontrol (+) satu kali sehari
pada kelinci

Pengolesan sebanyak 0,5 ml menggunakan


cotton buds

Observasi atau pengamatan (pengukuran


kecepatan pertumbuhan rambut dengan
jangka sorong setiap 3 hari selama 18 hari)

Analisa serta pengelolahan data

37
Lampiran 6. Lembar hasil pengukuran panjang rambut kelinci 1, 2 dan 3

Tabel 3. Lembar hasil pengukuran panjang rambut kelinci 1 (mm)

Hari Tanpa perlakuan Neril 100% 75% 50%


(-) (+)
Ke-3 3,4 3,6 3,7 4 3,7
Ke-6 5,1 6,6 7,8 7,8 6,4
Ke-9 8,4 11,9 12,8 12,2 11,9
Ke-12 12,2 17,1 17,3 17,3 16,7
Ke-15 16,8 20,5 21,7 21 19,3
Ke-18 19,4 25,5 26,4 26 24,1
AGD 1,07 1,46 1,51 1,47 1,36
(Sumber : Data primer,2012)

Tabel 4. Lembar hasil pengukuran panjang rambut kelinci 2 (mm)


Tanpa perlakuan Neril 100% 75% 50%
Hari (-) (+)
Ke-3 4 4,2 4,4 4 4
Ke-6 6,1 7,8 7,8 7,2 7
Ke-9 9,7 14,1 14,7 13,9 11,6
Ke-12 13,4 17,4 17,8 17,6 17,3
Ke-15 16,9 24 24,1 21 20,5
Ke-18 20,5 28,3 28,6 28,2 27,9
AGD 1,1 1,61 1,61 1,61 1,57
(Sumber : Data primer, 2012)

Tabel 5. Lembar hasil pengukuran panjang rambut kelinci 3 (mm)


Tanpa perlakuan Neril 100% 75% 50%
Hari (-) (+)
Ke-3 3,4 3,7 3,9 3,7 3,5
Ke-6 6,1 7,3 7,8 7,8 7,4
Ke-9 9,5 13,4 13,7 13,4 13,1
Ke-12 12,8 17,1 17,4 16,9 16,6
Ke-15 16,1 20,2 21,2 20,1 19,4
Ke-18 19,8 25,1 25,8 25,3 23,7
AGD 1,09 1,43 1,46 1,44 1,35
(Sumber : Data primer, 2012)

38
Lampiran 7. Data AGD ketiga kelinci

Tabel 2. Data pertumbuhan rambut rata-rata perhari (AGD) ketiga kelinci

Rata-rata pertumbuhan panjang rambut perhari


Kelinci 100% 75% 50% Kontrol + Kontrol -

1 1.51 1.47 1.36 1.46 1.07


2 1.61 1.61 1.57 1.61 1.1
3 1.46 1.44 1.35 1.43 1.09
∑𝑥 4.58 4.52 4.28 4.5 3.26
𝑋 1.53 1.51 1.42 1.5 1.08
∑𝑛 3 3 3 3 3
∑𝑥 2 7,0038 6,8266 6,137 6,7686 3,543

(Sumber : Data primer, 2012)

( Xtotal)2
JKtotal = ∑X2total -
ntotal

(21.14)2
= 30,279 -
15

= 0,486

( X(-) )2 ( Xneril)2 ( X100%)2 ( X75%)2 ( X50%)2


JKperlakuan = + + + + -
n n n n n
( Xtotal)2
ntotal

(3,26)2 (4,5)2 (4,58)2 (4,52)2 (4,28)2 (21,14)2


= + + + + -
3 3 3 3 3 15

= 30,2008 – 29,7933

= 0,4075

JKgalat = JKtotal – JKperlakuan

= 0,486 – 0,4075

= 0,0785

39
Lampiran 8. Analisa Anova Satu Arah

Tabel 6. Perhitungan Anova Satu Arah

Sumber variasi JK dK Kr FTabel F hitung


Perlakuan 0,4075 4 0,1019 3,48 12,8987
Galat (eror) 0,0785 10 0.0079
Total 0,486 14 0.03471
Krperlakuan
Fhitung =
Krgalat

0.1019
=
0,0079

= 12,8987

Kesimpulan = FHitung > FTabel

= 12,8987 > 3,48

Perhitungan Uji SNK

δӾ = Krgalat
n
= 0,0079
5
= 0,0178

Tabel 7. Tabel Q pada α = 0,05

K 2 3 4 5
A 3,15 3,88 4,33 4.65
δ.a 0,0561 0,0690 0,0770 0,0828

𝑋100% - 𝑋75% = 1,53 – 1,51 = 0,02 < 0,0561 ≠ beda

𝑋100% - 𝑋neril = 1,53 – 1,5 = 0,03 < 0,0690 ≠ beda

𝑋100% - 𝑋50% = 1,53 – 1,42 = 0,11 > 0,0770 beda

𝑋100% - 𝑋tanpa perlakuan = 1,53 – 1,08 = 0,45 > 0,0828 beda

𝑋75% - 𝑋neril = 1,51 – 1,5 = 0,01 < 0,0561 ≠ beda

40
𝑋75% - 𝑋50% = 1,51 – 1,42 = 0,09 > 0,0690 beda

𝑋75% - 𝑋tanpa perlakuan = 1,51– 1,08 = 0,43 > 0,0770 beda

𝑋neril - 𝑋50% = 1,5 – 1,42 = 0,08 > 0,0561 beda

𝑋neril - 𝑋tanpa perlakuan = 1,5 – 1,08 = 0,42 > 0,0690 beda

𝑋50% - 𝑋tanpa perlakuan = 1,42 – 1,08 = 0,34 > 0,0561 beda

41
Lampiran 9. Perhitungan Spss

ONEWAY rata_rata_pertumbuhan_rambut_perhari BY dosis /STATISTICS

DESCRIPTIVES HOMOGENEITY /MISSING ANALYSIS /POSTHOC=SNK

ALPHA(0.05).

Oneway

Tabel 8. Descriptives
rata_rata_pertumbuhan_rambut_perhari

95% Confidence Interval for Mean


Std. Std.
N Mean Deviation Error Lower Bound Upper Bound
100% 3 1.52667 .076376 .0440 1.33694 1.71640
96
75% 3 1.50667 .090738 .0523 1.28126 1.73207
87
50% 3 1.42667 .124231 .0717 1.11806 1.73527
25
kontrol positif 3 1.50000 .096437 .0556 1.26044 1.73956
78
kontrol negative 3 1.08667 .015275 .0088 1.04872 1.12461
19
Total 15 1.40933 .186259 .0480 1.30619 1.51248
92

Descriptives
rata_rata_pertumbuhan_rambut_perhari

Minimum Maximum
100% 1.460 1.610
75% 1.440 1.610
50% 1.350 1.570
kontrol positif 1.430 1.610
kontrol negative 1.070 1.100
Total 1.070 1.610

Test of Homogeneity of Variances

rata_rata_pertumbuhan_rambut_perhari

Levene Statistic df1 df2 Sig.

2.759 4 10 .088

42
Tabel 9. ANOVA
rata_rata_pertumbuhan_rambut_perhari

Sum of Squares Df Mean Square F Sig.


Between Groups .408 4 .102 13.054 .001
Within Groups .078 10 .008
Total .486 14

Post Hoc Tests

Homogeneous Subsets

Tabel 10. SNK


rata_rata_pertumbuhan_rambut_perhari
a
Student-Newman-Keuls

Subset for alpha = 0.05

Dosis N 1 2
kontrol negative 3 1.08667
50% 3 1.42667
kontrol positif 3 1.50000
75% 3 1.50667
100% 3 1.52667
Sig. 1.000 .535

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.

43
Lampiran 10. Nilai-Nilai untuk Distribusi F

44
Lampiran 11. tabel Q

45