Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Biopestisida
Biopestisida merupakan salah satu komponen dalam pengelolaan hama
dan penyakit. Biopestisida didefinisikan sebagai bahan yang berasal dari mahluk
hidup (tanaman, hewan atau mikroorganisme) yang menghambat pertumbuhan
dan perkembangan suatu penyakit tanaman. Biopestisida juga dapat didefiniskan
sebagai senyawa organik yang mengandung mikrobia antagonis. Mikrobia ini,
dapat menghambat ataupun membunuh organisme penganggu tanaman (OPT).
Biopestisida mengandung senyawa organik yang mudah terdegradasi di
alam, sehingga tidak akan mencemari lingkungan. Penggunaan akan biopestisida
kurang disukai petani karena efektivitasnya relatif tidak secepat pestisida yang
berbahan kimia. Biopestisida akan lebih disarankan untuk pencegahan sebelum
terjadinya serangan dari OPT dan terjangkitnya penyakit pada tanaman. Tanaman
yang mengandung senyawa tertentu dapat dimanfaatkan sebagai antimikrobia,
seperti kangkung, cengkeh, mimba, lengkuas, dan bawang merah. Beberapa
mikroba yang diketahui dapat berperan antagonistik terhadap patogen, yaitu
Trichoderma, Pseudomonas fluorescens, dan Bacillus. Efektivitas penggunaan
bahan baku biopestisida baik nabati ataupun hayati akan bergantung terhadap
jenis penyakit yang akan dicegah serta faktor lingkungan (Sumartini, 2016).
Biopestisida mengandung mikroorganisme seperti bakteri patogen, virus
dan jamur. Pestisida biologi yang saat ini banyak dipakai adalah jenis insektisida
biologi, yaitu pestisida yang digunakan sebagai pengendali OPT berupa serangga.
Jenis pestisida biologi lainnya yang sering digunakan, yaitu biopestisida fungisida
biologi yang dapat digunakan sebagai pengendali OPT berupa jamur. Jenis-jenis
biopestisida lainnya, yaitu bakterisida, nematisida dan herbisida biologi.
2.1.1. Bioherbisida
Bioherbisida merupakan golongan biopestisida herbisida yang digunakan
sebagai pengendalian gulma. Bioherbisida termasuk ke dalam kelompok pestisida
hayati. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan memanfaatkan penyakit yang
akan ditimbulkan oleh bahan baku pestisida seperti bakteri, jamur, ataupun virus.

3
4

Morrenia odorata merupakan salah satu jenis mikroba yang dapat mengendalikan
pertumbuhan gulma pada pembudidayaan jeruk. Colletotrichum gloeosporioides
merupakan jenis mikroba yand dapat digunakan pada tanaman padi dan kedelai.
Gangguan terhadap pertumbuhan tanaman umumnya disebabkan karena
adanya faktor kompetisi terhadap kebutuhan organisme untuk dapat bertahan
hidup. Kebutuhan yang dimaksudkan yaitu makanan OPT yang terkandung di
dalam tanaman budidaya. Gulma umumnya dapat bertahan hidup dalam kondisi
lingkungan yang kritis dan dapat dengan cepat berkembang pada habitat yang
subur. Gulma tersebut dapat menghasilkan cairan yang dapat mematikan tanaman,
sehingga pertumbuhan tanaman akan terhenti. Keberadaan gulma pada usaha
budidaya di Indonesia belum menjadi masalah yang serius. Keberadaan gulma
dalam usaha perkebunan dapat menjadi suatu masalah. Gulam dapat menurunkan
produktivitas tanaman sehingga diperlukan suatu pengendalian. Kerugian akibat
gulma pada budidaya pertanian dapat mencapai 16-85% (Suwahyono, 2013).
2.1.2. Bioinsektisida
Bioinsektisida merupakan golongan biopestisida yang digunakan sebagai
pengendalian insektisida. Bioinsektisida dapat memanfaatkan semua golongan
bahan baku baik nabati ataupun hayati. Cara pengendalian dengan bionsektisida
ini dipandang lebih ramah lingkungan dan tepat sasaran serta tidak menumbulkan
residu layaknya pestisida kimia. Bioinsektisida ini menggunakan bahan alami
atau metabolit sekunder yang dihasilkan oleh makhluk hidup, seperti jamur,
bakteri, virus, maupun tumbuhan. Bahan alami ini bersifat racun bagi organisme
tertentu. Sistem kerja bioinsektisida akan bekerja tepat terhadap sasaran, sehingga
bioinsektisida ini akan bersifat aman terhadap organisme non-target, manusia, dan
lingkungan. Bioinsektisida memiliki banyak keuntungan, antara lain:
1) Tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan dan keracunan
manusia ataupun ternak.
2) Tidak menyebabkan resistensi hama.
3) Dapat bekerja secara terhadap inangnya atau mangsanya.
4) Bersifat permanen untuk jangka waktu panjang dalam jangka waktu yang
panjang.
5

Biopestisida saat ini lebih dikenal dengan mikrobial insektisida yang


berbahan aktif jamur. Bioinsektisida berasal dari mikroba yang digunakan sebagai
insektisida. Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada serangga tidak
dapat menimbulkan gangguan terhadap hewan-hewan lainnya maupun tumbuhan.
Jenis mikroba yang akan digunakan sebagai insektisida harus mempunyai sifat
yang spesifik. Sifat spesifik mempunyai arti, yaitu mikroba tersebut harus dapat
menyerang serangga yang menjadi sasaran dan tidak pada jenis lainnya. Mikroba
patogen yang telah sukses dan berpotensi sebagai insektisida biologi salah satunya
adalah Bacillusthuringiensis. Jenis insektisida biologi yang lainnya yang berasal
dari protozoa adalah Nosema locustae yang telah dikembangkan untuk membasmi
belalang dan jangkrik. Neoplectana carpocapsae juga merupakan salah satu
mikroorganisme yang dimanfaatkan untuk membunuh rayap (Yuningsih, 2016).
2.1.3. Biofungisida
Biofungisida merupakan jenis biopestisida hayati yang memanfaatkan
semua jenis organisme hidup untuk mengendalikan jamur yang berperan sebagai
hama atau penyebab penyakit pada tanaman, hewan, dan manusia. Penyakit yang
dominan pada tanaman budidaya umunya disebabkan oleh jamur. Penyakit ini
dapat menyebabkan busuk pada akar atau pangkal batang tanaman. Trichoderma
koningii dan spesies Trichoderma lainnya merupakan jamur tular tanah, yang
dapat menetap didalam tanah. Pengendalian dengan memanfaatkan penggunaan
jamur Trichoderma tergolong sebagai pengendalian dalam jangka waktu panjang.
Tahapan-tahapan dalam memperoleh isolat Trichoderma adalah persiapan
media kultur, isolasi, pemurnian, pembiakan jamur. Keseluruhan kegiatan tersebut
harus dilakukan pada lingkungan yang aseptik dan umunya dilakukan pada air
yang mengalir. Tahapan dalam pembuatan biofungisida cukup mudah. Berbagai
media yang digunakan sebagai media tumbuh dan pembawa Trichoderma sudah
banyak berkembang di dalam tumbuhan yaitu seperti pada jagung, menir, beras.
Berbeda dengan bioinsektisida yang dikembangkan oleh beberapa ahli
dalam bidang serangga ataupun entomologi. Pengembangan biofungisida lebih
banyak dilakukan oleh para ahli di bidang penyakit tanaman atau fitopatologi.
Cara mengatasi jamur patogen dengan menggunakan jamur parasit yang diketahui
6

dengan memanfaatkan biofungisida atau mikroba fungisida yang berbahan aktif


jamur. Jenis mikroba tersebut lebih menguntungkan dalam proses pengendalian
hayati jamur patogen sehingga telah disukai sejak tahun 1930 (Amaria dkk, 2016).

2.2. Sumber Biopestisida


Berdasarkan pemanfaatan bahan bakunya, biopestisida dapat dibedakan
menjadi dua kelompok, yaitu pestisida nabati dan pestisida hayati. Pestisida nabati
merupakan pestisida yang memanfaatkan hasil ekstraksi dari tanaman baik dari
daun, buah, biji, batang, ataupun akar. Kandungan dari bagian tanaman tersebut
akan bersifat racun terhadap hama dan penyakit tanaman tertentu. Pestisida nabati
pada umumnya digunakan untuk mengendalikan hama yang bersifat insektisidal
maupun penyakit yang bersifat bakterisidal. Pestisida hayati merupakan pestisida
yang memanfaatkan mikroorganisme tertentu baik berupa jamur, bakteri, maupun
virus. Mikroorganisme tersebut akan bersifat antagonis terhadap mikroba lainnya
(penyebab penyakit tanaman) atau menghasilkan senyawa tertentu yang bersifat
racun bagi serangga maupun nematoda sebagai penyebab dari penyakit tanaman.
Penggunaan pestisida kimia yang berbahan baku kimia banyak dikurangi.
Pengurangan penggunaan pestisida kimia berkaitan dengan dampak negatif yang
akan ditimbulkan. Dampak tersebut dapat berakibat fatal terhadap manusia dan
juga lingkungan. Biopestisida diperkenalkan sebagai salah satu alternatif atau cara
baru dalam menangani hama yang lebih ekologis, murah, serta dapat diterima oleh
para petani, serta tidak memiliki dampak negatif seperti pestisida kimia.
Pembuatan pestisida sebagai pengganti pestisida kimia, banyak membutuhkan
ilmu bioteknologi. Ilmu bioteknologi dapat mengembangkan jenis bahan baku
yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan pestisida, seperti dari mikroba,
biokontrol, penggunaan feromon dan atraktan dalam pengontrolan hama.
2.2.1. Efektivitas Biopestisida Nabati
Pestisida dari tanaman merupakan pestisida yang berasal dari ekstrak
tumbuhan. Pestisida jenis ini hanya dapat membunuh beberapa jenis hama, seperti
belalang, kutu daun dan ulat. Terdapat batasan penggunaan dari pestisida ini
karena tidak dapat bekerja secara cepat dalam membasmi organisme panganggu
tanaman. Kekurangan dari biopestisida nabati ini membuat banyak petani yang
7

mencampurkannya dengan pestisida kimia. Pencampuran kedua jenis pestisida


tersebut akan mengurangi kelebihan dari penggunaan pestisida organik.
Penggunan ekstrak tumbuhan sebagai pestisida banyak dilakukan tetapi di lain
pihak masih terdapat kekurangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan
tumbuhan tersebut. Produksi biopestisida dengan memanfaatkan tumbuhan
sebagai bahan bakunya akan menyebabkan penurunan produktivitas tumbuhan.
Pestisida nabati merupakan pestisida yang bahan dasarnya berasal dari
tumbuhan. Pestisida nabati mempunyai kandungan bahan aktif yang dapat
dimanfaatkan untuk mengendalikan serangga hama. Penggunaan pestisida nabati
sudah dilakukan sejak tiga abad yang lalu. Penggunaan pestisida nabati memiliki
keuntungan, yaitu selain dapat mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan,
pestisida ini lebih murah dibandingkan dengan pestisida kimia (Raharjo, 2010).
Tumbuhan mengandung bahan kimia dalam bentuk senyawa metabolit
sekunder yang fungsinya dalam proses metabolisme tumbuhan masih belum
diketahui. Kelompok senyawa tersebur dapat berperan penting dalam proses
interaksi atau kompetisi antara hama. Senyawa yang terkandung pada tumbuhan
ini dapat melindungi tumbuhan tesebut dari gangguan pesaingnya yaitu organisme
penggangu tanaman. Produk metabolit sekunder dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku atau bahan aktif pestisida nabati dan juga dapat digunakan oleh
tumbuhan sebagai sumber pertahanan dari serangan organisme pengganggu.
Keunggulan dalam menggunakan pestisida dari tumbuhan yaitu, teknologi
pembuatannya terbilang mudah dan murah sehingga dapat dibuat dalam skala
rumah tangga. Tidak menimbulkan efek negatif bagi lingkungan maupun makhluk
hidup. Relatif aman untuk digunakan dan tidak berisiko menimbulkan keracunan
pada tanaman sehingga tanaman lebih sehat dan aman dari cemaran zat kimia.
2.2.2. Efektivitas Biopestisida Hayati
Bioepestisida hayati merupakan pestisida yang bahan utamanya bersumber
dari bahan hayati yang berupa makhluk hidup seperti mikroorganisme, bakteri,
cendawan, nematoda ataupun virus. Biopestisida digunakan untuk mengendalikan
hama dan penyakit yang menganggu dalam proses pembudidayaan tanaman.
Biopestisida tidak mengandung zat racun yang berbahaya bagi kesehatan manusia
8

dan lingkungan. Mikroba yang umunya digunakan dalam pembuatan pestisida


hayati adalah cendawan, bakteri, virus, dan protozoa yang mampu membunuh
penyakit spesifik. Penyakit spesifik tersebut dapat disebabkan oleh pertumbuhan
mikroba, nematoda, hama, ataupun serangga. Penggunaan pestisida hayati juga
dapat meningkatkan pertumbuhan dari tanaman itu sendiri (Suhartini dkk, 2017).
Pemanfaatan pestisida hayati dapat dikatakan sebagai salah satu metode
untuk terwujudnya pertanian yang ramah lingkungan. Entomopatogenik virus,
bakteria, fungi dan protozoans banyak digunakan untuk melawan hama
lepidopteran. Mikroba yang dapat digunakan yaitu berupa viral patogen, bakteri
Bacillus thuringiensis dan cendawan. Pengendalian hayati merupakan salah satu
taktik pengelolaan hama yang dilakukan secara sengaja dengan memanipulasikan
musuh alami tanaman. Pengendalian hayati pada dasarnya merupakan suatu usaha
yang dapat dilakukan masyarakat untuk memanfaatkan ataupun menggunakan
musuh alami tanaman sebagai pengendali populasi hama yang merugikan.
Pengendalian hayati sangat dilatarbelakangi oleh berbagai pengetahuan
dasar dalam ilmu ekologi, terutama teori tentang pengaturan populasi terhadap
pengendali alami yang dapat berdampak pada keseimbangan ekosistem. Musuh
alami dalam fungsinya adalah sebagai pengendali hama, sehingga keefektifannya
penggunaannya ditentukan oleh kehidupan dan perkembangan dari hama yang
akan dikendalikan. Ketersediaan akan lingkungan yang cocok bagi perkembangan
musuh alami merupakan prasarat terhadap keberhasilan pengendalian hayati.

2.3. Manfaat dan Resiko Penggunaan Biopestisida


Penggunaan biopestisida dapat dikatakan menguntungkan karena memiliki
banyak manfaat. Ditinjau dari aspek sosial ekonomi, pengendalian hama dan
penyakit tanaman merupakan salah satu runutan pada proses produksi pertanian.
Penelitian dampak sosial ekonomi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT)
pada tanaman pangan di Indonesia memang relatif sangat sedikit. Pengendalian
organisme pengganggu tanaman tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan
biopestisida. Pelatihan serta adanya penyuluhan mengenai PHT dilakukan untuk
memberikan informasi kepada petani bahwa dengan menggunakan PHT hasil
panen dan keuntungan lebih tinggi serta pemakaian pestisida kimia lebih sedikit.
9

Ditinjau berdasarkan aspek budidaya pertanian, kelebihan biopestisida


jenis biofungisida adalah untuk mengendalikan jamur busuk akar. Pestisida kimia
umumnya bekerja pada tenggang waktu yang relatif singkat. Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor seperti mudah terlarut dengan air saat penyiraman tanaman
dan terjadi peluruhan terhadap bahan aktifnya. Berbeda dengan fungisida hayati
(biofungisida) yang sekarang banyak dipasarkan yaitu bersifat melindungi sistem
akar, menempel pada tanah dan akar, serta tidak larut oleh air. Kelebihan lainnya,
mikroba yang digunakan mengeluarkan bahan aktif seperti hormon pertumbuhan
yang dapat memacu pertumbuhan akar tanaman sehingga sistem perakaran lebih
sempurna yang akan berpengaruh pada produksi dari tanaman (Novizan, 2002).
Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (US-EPA),
dampak yang ditimbulkan dari penggunaan biopestisida terhadap lingkungan
relatif kecil jika dibandingkan dengan bahan kimia sintesis. Hal ini disebabkan
oleh bahan penyusun yang digunakan pada biopestisida sebagian besar adalah
bahan alami. Kerugian penggunaan biopestisida adalah terdapat jenis mikroba
tertentu yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada hewan dan manusia.
Jenis jamur patogen yang dapat digunakan untuk mengendalikan serangga
seperti Beauveria sp dan Metarhizium sp diduga dapat menyebabkan infeksi pada
manusia. Jenis jamur Beauveria sp yang menginfeksi jaringan dalam tubuh akan
menimbulkan gejala gatal, korengan, dan kulit melepuh. Demikian pula dengan
tanaman transgenik. Penggunaan biopestisida dapat dikatakan sukses, tetapi
hingga saat ini masih terjadi perdebatan antara para pakar dan para ahli memgenai
dampak yang akan dihasilkan dalam jangka waktu panjang dan potensi bahaya
terhadap lingkungan. Kekhawatiran tersebut dengan alasan terjadinya persilangan
dan penyisipan faktor keturunan pada tanaman non target. Alasan lainnya yaitu
tanaman transgenik cenderung mendominasi populasi dalam kawasan tertentu.

2.4. Teknik Pembuatan Biopestisida


Pembuatan pestisida nabati dapat dilakukan secara sederhana dan secara
laboratorium. Cara sederhana dilakukan untuk jangka waktu yang pendek, dan
dilakukan oleh petani. Penggunaan ekstrak umumnya dilakukan sesegera mungkin
setelah proses pembuatan ekstrak. Pembuatan dari biopestisida secara sederhana
10

berorientasi kepada penerapan usaha tani yang berinput rendah. Cara laboratorium
dilakukan untuk jangka waktu yang panjang dan biasanya dilakukan oleh tenaga
ahli yang sudah terlatih. Hasil kemasan dari proses tersebut memungkinkan untuk
disimpan relatif lama. Pembuatan cara laboratorium berorientasi pada industri.
Pembuatan pestisida nabati secara laboratorium membutuhkan biaya yang
cukup mahal, sehingga produk pestisida nabati biasanya memiliki nilai jual yang
tinggi. Pembuatan pestisida nabati bahkan kadang kala lebih mahal daripada
pestisida sintetis. Penggunaan pestisida nabati dianjurkan dan diarahkan dengan
cara sederhana, terutama untuk luasan terbatas dan jangka waktu penyimpanan
yang terbatas. Pembuatan pestisida nabati dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
1) Penumbukan, pengabuan, pengepresan.
2) Perendaman untuk produk ekstrak.
3) Ekstraksi dengan menggunakan bahan kimia pelarut disertai perlakuan
khusus oleh tenaga yang terampil dan dengan peralatan yang khusus.
Teknik pengepresan biasanya dilakukan untuk menghasilkan minyak dari
tumbuhan. Tumbuhan yang biasanya dipres adalah tumbuhan yang mengandung
cairan seperti minyak, misalnya biji mimba, jarak kepyar, dan jarak pagar. Teknik
penumbukan biasanya dilakukan untuk menghasilkan tepung yang dapat
digunakan untuk mengendalikan hama, khususnya hama gudang seperti kumbang
kopra, dan kumbang beras. Tumbuhan yang digunakan adalah bunga piretrum.
Teknik pengabuan biasanya dilakukan untuk menghasilkan abu yang
digunakan untuk mengendalikan hama, khususnya hama gudang. Tanaman yang
biasanya digunakan dalam teknik pengabuan adalah tumbuhan yang mengandung
aroma yang menyengat ataupun mengandung bahan yang dapat menyebabkan
iritasi. Abu pembakaran dari bahan baku berupa serai wangi yang mengandung
silika yang tinggi, sehingga dapat melukai serangga dan mengakibatkan desikasi.
Teknik ekstraksi dapat dilakukan dengan dua metode. Ekstraksi secara
sederhana dilakukan dengan pelarut berupa air (Aquous extraction). Metode ini
dilakukan untuk mendapatkan pestisida yang dapat langsung dapat dimanfaatkan
sesaat setelah selesainya proses pembuatan. Hal tersebut dapat dilakukan karena
apabila biopestisida tersebut akan disimpan, maka tidak akan dapat bertahan lama.
11

Proses pembuatan ekstraksi akar tuba dengan air untuk mengendalikan hama.
Metode ini dapat langsung dipakai tanpa perendaman bahan terlebih dahulu
(maserasi), perendaman dilakukan selama beberapa waktu dan kemudian disaring.
Ekstraksi dapat dilakukan dengan bantuan pelarut (bahan kimia) seperti
alkohol, heksana, dan aseton. Proses ini akan dilanjutkan dengan proses evaporasi
pelarut (menghilangkan pelarut dari formula), sehingga yang tersisa hanya
konsentrat dari bahan pestisida dari tumbuhan. Ekstraksi yang dilakukan dapat
digunakan dengan biji sirsak (Annona muricata), Azadirachta indica, ataupun
srikaya (Annona squamosa). Formula ini dapat bertahan lama jika dibandingkan
dengan ekstraksi tumbuhan yang mengandung banyak air (Budiharto, 2012).
Teknik ekstraksi memang lebih banyak digunakan dengan bahan baku
berupa daun pepaya dan belimbing wuluh. Bahan baku yang telah didapatkan
akan dicuci menggunakan air sampai bahan baku tersebut bersih. Proses lanjutan
yaitu dikeringkan di bawah sinar matahari sampai kering. Setelah bahan kering
lalu diblender kemudian diayak. Pelarut yang digunakan adalah etanol 70%.
Ekstrasi maserasi dilakukan dengan cara mencampurkan bahan dengan
pelarut dengan rasio 1:4 (100 gram bahan baku dan 400 ml pelarut etanol 70%).
Proses ini dilakukan di dalam suatu wadah yang ditutup dengan rapat dalam
waktu variasi ekstraksi maserasi selama 1 hari, 3 hari, 5 hari, 7 hari, dan 9 hari.
Proses ekstraksi dilengkapi dengan pengadukan dengan cara mengaduk wadah
yang berisi campuran pelarut dan bahan baku. Penutupan wadah tersebut
bertujuan untuk menghambat proses penguapan pelarut sebelum proses dilakukan
penyaringan, dan pengadukan ini bertujuan membuat bahan tercampur sempurna.
Setelah bahan baku direndam menggunakan pelarut, selanjutnya dilakukan
penyaringan menggunakan kertas saring, setelah disaring didapatkan ekstrak
encer. Penyaringan bertujuan untuk menghilangkan bahan yang berukuran besar
dari larutan sehingga didapatkan filtrat yang bebas dari bahan yang sebelumnya
dihaluskan. Setelah dilakukan penyaringan ekstrak dilanjutkan dengan proses
destilasi dengan temperatur 80°C dengan waktu kurang lebih 50 menit yang
ditandai dengan menetesnya alkohol pada erlemeyer (tempat penampung alkohol).
Pemisahan dengan destilasi di lakukan untuk menghasilkan larutan yang bebas
12

dari alkohol berdasarkan perbedaan titik didih sehingga pelarut yang volatil akan
berpindah dari larutan yang homogen ke tempat yang telah disediakan untuk
menampung pelarut yang digunakan untuk tahap maserasi (Ariyanti dkk, 2017).

2.5. Faktor yang mempengaruhi Pembuatan Biopestisida


Penggunaan pestisida nabati cukup mendukung untuk mengatasi masalah
gangguan dari serangan hama tanaman komersial. Pestisida nabati juga dapat
menjamin keamanan ekosistem. Dengan pestisida nabati, hama akan terusir dari
tanaman petani. Selain itu penggunaan pestisida nabati dapat mencegah lahan
pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida kimia.
Metode penggunaan pestisida nabati harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan
kesabaran serta ketelitian. Jumlah dari pestisida nabati yang akan disemprotkan ke
tanaman harus disesuaikan dengan jenis hama. Waktu penyemprotan juga harus
diperhatikan oleh pengguna sesuai dengan siklus perkembangan hama yang ada.
Efektivitas dari bahan-bahan alami yang digunakan sebagai pestisida
nabati sangat tergantung pada jenis tumbuhan yang digunakan. Penggunaan jenis
tumbuhan yang sama tetapi berasal dari daerah yang berbeda dapat menghasilkan
efek yang berbeda juga. Sifat bioaktif atau sifat racun dari bahan sangat
tergantung pada kondisi tumbuhan, umur tanaman, dan varietas tumbuhan.
Pestisida nabati yang digunakan dapat membunuh atau menggangu serangan
hama dan penyakit melalu perpaduan dari berbagai cara atau secara tunggal.
Metode yang digunakan pestisida nabati sangat spesifik yaitu sebagai berikut:
1) Menghambat reproduksi serangga betina
2) Memblokir kemampuan makan serangga
3) Menghambat perkembangan patogen penyakit
4) Mengganggu komunikasi serangga
Tingkat keefektifan dosis yang digunakan perlu di ukur, pengukuran ini
dapat dilakukan melalui eksperimen sehingga dosis yang dibutuhkan akan sesuai
dengan hasil yang diharapkan. Peningkatan dosis diperlukan apabila dosis tidak
memberikan pengaruh terhadap hama atau penyakit. Penggunaan dari pestisida
nabati dapat dinyatakan aman, sehingga penggunaan pestisida nabati juga dapat
dikatakan aman apabila digunakan dalam jumlah dosis yang tinggi (Glio, 2015).
13

DAFTAR PUSTAKA

Amaria, W., Soesanthy, F., dan Ferry, Y. 2016. Keefektifan Biofungisida


(Trihoderma sp.) dengan Tiga Jenis Bahan Pembawa terhadap Jamur Akar
Putih (Rigidoporus micropus). Jurnal Balai Penelitian Tanaman Industri
dan Penyegar. Vol.3(1): 38.
Ariyanti, R., Yenie, E., dan Elystia, S. 2017. Pembuatan Pestisida Nabati dengan
Cara Ekstraksi Daun Pepaya Dan Belimbing Wuluh. Jurnal Jom
FTEKNIK. Vol.4(2): 1-9.
Budiharto, A. 2012. Pestisida Nabati. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perkebunan.
Glio, T. 2015. Pupuk Organik dan Pestisida Nabati. Jakarta: Agro Media Pustaka.
Natawigena, H. 1993. Dasar- Perlindungan Tanaman. Bandung: Trigenda Karya.
Novizan. 2002. Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan.
Jakarta: Agro Media Pustaka.
Raharjo, A. 2010. Petunjuk Praktis membuat Pestisida Organik. Jakarta: Agro
Media Pustaka.
Rimijuna, I., Yenie, E., Elystia, S. 2017. Pembuatan Pestisida Nabati
menggunakan Metode Ekstraksi dari Kulit Jengkol Dan Umbi Bawang
Putih. Jurnal Jom FTEKNIK. Vol.4(1): 1-6.
Saenong, M. S. 2016. Tumbuhan Indonesia Potensial sebagai Insektisida Nabati
untuk Mengendalikan Hama Kumbang Bubuk Jagung (Sitophilus spp.).
Jurnal Litbang Pertanian. Vol.35(3): 131-133.
Suhartini, Suryadarma, dan Budiwari. 2017. Pemanfaatan Pestisida Nabati pada
Pengendalian Hama Plutella Xylostella Tanaman Sawit (Brassica juncae
L.) menuju Pertanian Ramah Lingkungan. Jurnal Sains Dasar. Vol.6(1):
37.
Sumartini. 2016. Biopestisida untuk pengendalian hama dan penyakit Tanaman
aneka kacang dan Umbi. Jurnal IPTEK Tanaman Pangan. Vol.11(2): 160-
162.
Suwahyono, U. 2013. Membuat Biopestisida. Jakarta: Penebar Swadaya.
14

Yuningsih, 2016. Bioinsektisida sebagai Upaya Re-Harmonism Ekosistem.


Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.