Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Sabun


Sabun adalah salah satu karbon yang sangat komersial baik dari sisi
penggunaan dalam kehidupan sehari-hari maupun persaingan harga produk yang
memberikan pengembangan yang cukup baik. Sabun merupakan surfaktan yang
digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Sabun biasanya
berbentuk padatan yang tercetak seperti batangan. Sabun merupakan merupakan
suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari reaksi saponifikasi.
Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran,
sabun, dan air. Kotoran yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa
lemak. Untuk mempermudah penjelasan, mari kita tinjau minyak goreng sebagai
contoh. Minyak goreng mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam
lemak jenuh yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari asam
miristat, asam palmitat, asam laurat, dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh
dalam minyak goreng adalah asam oleat, asam linoleat, dan asam linolena. Asam
lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi
(rantai C lebih dari 6). Pada molekul sabun terdapat bagian ekor yang tidak suka
air. Bagian inilah yang mengikat minyak dan dapat larut dalam zat organik.
Bagian sisi lain dari melekul sabun adalah kepalay yang suka air.
Seperti yang kita ketahui, air adalah substansi kimia asam laurat, dan asam kaprat
dengan rumus kimia H2O, yaitu molekul yang tersusun atas dua atom hidrogen
yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna,
tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1
bar) and temperatur 273,15 K (0°C). Air sering disebut sebagai pelarut
universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Kelarutan suatu zat dalam air
ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-
menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air.
Bagian kepala pada yang suka air ini akan membentuk busa jika bersentuhan
dengan air. Minyak atau kotaran yang melekat pada bagian ekor molekul sabun
akan terbawa oleh aliran air. Jadi kotoran atau minyak yang menempel pada tubuh

3
4

2.2. Sejarah Sabun


Sebuah legenda menceritakan tentang asal mula sabun, dimana kata
sabun soap diambil dari nama sebuah gunung Mount Sapo dimana orang-orang
Romawi kuno mempersembahkan kurban hewan. Hujan mengalirkan sisa-sisa
lemak dari tubuh hewan ke daratan di bawah gunung menuju suatu sungai Tiber.
Wanita-wanita disana mengatakan bahwa pakaian yang mereka cuci di sungai
tersebut menjadi lebih bersih.
Pengetahuan tentang sabun, pembuatan serta penggunaannya telah
dimulai sejak zaman Babilonia sekitar 2800 SM, dimana sebuah formula
pembuatan sabun ditulis dalam lempengan tanah liat di sekitar tahun 2200 SM.
Orang-orang Mesir kuno di tahun 1550 SM mandi secara teratur dengan suatu
substansi dari campuran minyak tumbuhan dengan asam alkali. Sedangkan
menurut Julius Caesar, suku bangsa Jerman pada waktu itu membuat sabun
dengan menggunakan lemak babi atau sapi dan abu kayu yang banyak
mengandung garam alkali.
Perusahaan pertama pembuatan sabun sederhana berbentuk batangan
ditemukan di Mesir pada zaman Pompeii (79 AD). Produksi sabun khususnya
sabun batangan, pertama dimulai secara besar-besaran di abad ke-19.
Pengembangannya dengan bantuan periklanan, menambah popularitasnya di
kawasan Amerika dan Eropa, mengingat hubungannya dengan kebersihan dan
kesehatan. Di tahun 1950, sabun berhasil menggalang kesepakatan publik sebagai
alat kebersihan personal sehari-hari.

2.3. Jenis sabun


Jenis-jenis sabun yang sering ditemui ada dua, yaitu sabun keras dan
sabun lunak. Sabun keras dan sabun lunak berbeda dalam hal kandungan logam
dimana sabun keras mengandung logam natrium sedang sabun lunak adalah
kalium.
1) Sabun keras adalah reaksi antara asam alkanoat suhu tinggi dengan NaOH
yang menghasilkan garam natrium.Sabun keras ini biasanya digunakan
sebagai sabun cuci, disebabkan karena sabun keras memiliki ikatan rantai
5

atom yang bercabang melingkar sehingga lebih mampu membersihkan


kotoran. Contoh: Na-stearat dan Na-palmiat.
2) Sabun lunak adalah sabun yang mengandung logam kalium yang merupakan
hasil reaksi antara asam alkanoat dengan KOH yang menghasilkan garam
kalium. Sabun lunak ini biasanya digunakan sebagai sabun mandi, karena
sabun lunak memiliki ikatan rantai atom yang lurus yang lebih mudah
diuraikan oleh mikroorganisme air. Contoh: Ka-palmitat dan Ka-stearat.

2.4. Sabun dan Deterjen


Sabun adalah garam logam alkali (biasanya logam natrium) dari asam-
asam lemak. Sabun mengandung terutama garam C16 dan C18, juga dapat
mengandung karboksilat dengan bobot yang lebih rendah. Sabun adalah surfaktan
yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan, sabun biasanya
juga berbentuk padatan tercetak yang disebut batang. Penggunaan sabun cair juga
telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada suatu
permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah
dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah banyak
digunakan sebagai pengganti sabun cuci.
Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari
asam lemak yang diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan
logam alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida). Lemak tersebut akan
terhidrolisis oleh basa menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Maka secara
tradisional alkali yang digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari pembakaran
tumbuhan atau dari arang kayu. Sabun dapat dibuat pula dari minyak tumbuhan,
seperti minyak zaitun.
Trigliserida merupakan penyusun utama minyak nabati dan lemak
hewani. Rumus kimia trigliserida yaitu CH2COOR-CHCOOR'-CH2-COOR",
dimana R, R' dan R" masing-masing adalah sebuah rantai alkil yang memiliki
rantai asam lemak panjang. Ketiga asam lemak RCOOH, R'COOH dan R"COOH
bisa jadi semuanya sama, semuanya berbeda ataupun hanya dua diantaranya yang
sama. Panjang rantai asam lemak pada trigliserida yang terdapat secara alami
dapat bervariasi, namun panjang yang paling umum adalah 16, 18, atau 20
6

atom karbon. Asam lemak alami yang ditemukan pada tumbuhan dan hewan
biasanya terdiri dari jumlah atom karbon yang genap disebabkan cara asam lemak
dibiosintesis dari asetil-KoA.
Istilah agen permukaan aktif (surface active agent) adalah meliputi soap
(sabun) dan detergent, wetting agent (agen basah) dan penetrants. Masing-masing
mempunyai aktivitas dan sifat khusus yang berbeda pada kontak dua fase. Surface
active agent merupakan gabungan antara water attracting (gaya tarikair) atau
hydropilic group (kelompok hidrofilik) terhadap suatu molekul lainnya.
Detergentsecara umum dapat diartikan sebagai pembersih. Untuk memulai
pengertian tentang detergen, dapat dimulai dari sabun. Dimana sabun adalah
merupakan produk dari kaustik soda dan lemak. Lemak merupakan campuran dari
gliserida yang mempunyai komposisinya berbeda-beda sesuai dengan sumbernya.
Trygliceral asetat adalah ester-ester yang terjadi bila gliserol alkohol terhidrat
digabungkan dengan asam lemak yang mempunyai sifat khusus tetapi natural fat
(lemak alami).
Angka penyabunan adalah suatu bilangan yang menunjukkan jumlah
miligram dari potasium hidroksida yang diperlukan untuk menyabunkan satu
gram dari berat minyak per lemak. Minyak atau lemak terdiri dari asam-asam
lemak yang merupakan berat molekul rendah melalui proses saponifikasi menjadi
berat molekul tinggi dari asam lemak pada gliserida. Di samping angka
penyabunan di dalam proses pembuatan sabun, masih ada beberapa bilangan
lainnya yang erat sekali hubungannya dengan proses pembuatan sabun. Bilangan
tersebut adalah:
1) Acid Value adalah jumlah miligram KOH (potasium hidroksida) yang
diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas di dalam satu gram minyak
atau lemak.
2) Henner Value adalah bilangan yang menyatakan persentase asam-asam lemak
yang tidak larut di dalam minyak atau lemak.
Deterjen adalah campuran berbagai bahan yang digunakan untuk
membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak.
Dibandingkan dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain
7

mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air.
Deterjen memiliki fungsi dan mekanisme kerja yang sama dengan sabun, tetapi
memiliki struktur yang berbeda. Deterjen dibuat dengan bahan baku asam
benzene sulfonat (ABS) sehingga memiliki rumusan struktur AB-Na (natrium
alkil benzen sulfonat) sebagai garamnya. Limbah dari deterjen dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan terutaman pencemaran air. Hal ini
dikarenakan asam benzen sulfonat merupakan bahan kimia sintesis yang sukar
diuraikan oleh mikroorganisme.
Di zaman modern sekarang ini, penggunaan sabun menjadi umum di
kalangan industri dan rumah tangga, yaitu sebagai pembersih untuk menciptakan
lingkungan yang lebih bersih dan menjauhkan kita dari kuman penyakit. Tetapi
sabun saja tidak cukup untuk membersihkan semua kotoran, karena semua sabun
kini mempunyai kekurangan yakni akan bergabung dengan mineral-mineral yang
terlarut dalam air membentuk senyawa yang sering disebut lime soap atau sabun
kapur, yang membentuk bercak kekuningan di kain atau mesin pencuci. Reaksi
pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai produk utama
dan gliserin sebagai produk samping. Gliserin sebagai produk samping juga
memiliki nilai jual. Sabun merupakan garam yang terbentuk dari asam lemak dan
alkali. Sabun dengan berat molekul rendah akan lebih mudah larut dan memiliki
struktur sabun yang lebih keras.
NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun.
Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang
terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras struktur sabun. NaCl yang
digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau padatan (kristal). NaCl
digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin tidak
mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi, sedangkan
sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan magnesium agar
diperoleh sabun yang berkualitas.
Sabun memiliki kelarutan yang tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut
menjadi partikel yang lebih kecil, melainkan larut dalam bentuk ion. Sabun pada
umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun cair dan sabun padat. Perbedaan utama
8

dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang digunakan dalam reaksi pembuatan
sabun. Sabun padat menggunakan natrium hidroksida atau soda kaustik (NaOH),
sedangkan sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali.
Selain itu, jenis minyak yang digunakan juga mempengaruhi wujud sabun.
Sifat-sifat fisik sabun yang perlu diketahui oleh design engineer dan
kimiawi adalah sebagai berikut:
1) Viskositas
Setelah minyak atau lemak disaponifikasi dengan alkali, maka akan dihasilkan
sabun yang memiliki viskositas yang lebih besar dari pada minyak atau alkali.
Pada suhu di atas 75oC viskositas sabun tidak dapat meningkat secara
signifikan, tapi di bawah suhu 75oC viskositasnya dapat meningkatkan secara
cepat. Viskositas sabun tergantung pada temperatur sabun dan komposisi
lemak atau minyak yang dicampurkan.
2) Panas Jenis
Panas jenis sabun adalah 0,56 Kal/g.
3) Densitas
Densitas sabun murni berada pada range 0,96g/ml – 0,99g/ml.
Saponifikasi merupakan reaksi ekstern yang menghasilkan padan sekitar
65 kalori per kilogram minyak yang disaponifikasi. Struktur gliserida tergantung
pada komposisi minyak. Perbandingan dalam pencampuran minyak dengan
beberapa gliserida ditentukan oleh kadar asam lemak pada lemak atau minyak
tersebut. Reaksi saponifikasi dihasilkan dari pendidihan lemak dengan alkali
dengan menggunakan steam terbuka.

2.5. Pengertian Saponifikasi


Saponifikasi adalah proses hidrolisis ester dari alkali pada lemak yang
disengaja, biasanya dilakukan dengan penambahan basa kuat (kaustik soda)
membentuk alkohol dan garam dan sisanya asam. Persamaan reaksi yang
terbentuk:
Lemak + NaOH Sabun + Gliserol (1)
(gliserida) (basa kuat) (garam) (alkohol)
9

Atau secara singkat saponifikasi merupakan suatu reaksi yang terjadi


antara lemak dan kaustik soda atau peristiwa hidrolisa dari ester-ester. Dalam
sejarah pembuatan sabun, masing-masing negara memiliki sejarah sendiri-sendiri
serta teknik pembuatannya. Dapat diambil satu contoh penemuan sabun yang
ditemukan oleh bangsa Romawi Kuno. Kata saponifikasi atau saponify berarti
membuat sabun (dalam bahasa Latin, sapon adalah sabun dan fy adalah akhiran
yang berarti membuat). Bangsa Romawi Kuno mulai membuat sabun sejak 2300
tahun yang lalu dengan memanaskan campuran lemak hewan dengan abu kayu.
Pada abad ke-16 dan ke-17 di Eropa, sabun hanya digunakan dalam bidang
pengobatan. Pada abad ke-19 penggunaan sabun meluas.
Pada umumnya, alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun hanya
NaOH dan KOH namun kadang juga menggunakan NH4OH. Sabun yang dibuat
dengan NaOH lebih lambat larut dalam air dibandingkan dengan sabun yang
dibuat dengan KOH. Sabun yang terbuat dari alkali kuat (NaOH dan KOH)
mempunyai nilai pH antara 9 sampai 10,8 sedangkan sabun yang terbuat dari
alkali lemah (NH4OH) akan mempunyai nilai pH yang lebih rendah yaitu 8
sampai 9,5. Secara umum laju reaksi esterifikasi mempunyai sifat sebagai berikut:
1) Alkohol primer bereaksi paling cepat, alkohol sekunder dan alkohol tersier.
2) Ikatan rangkap memperlambat reaksi.
3) Makin panjang rantai alkohol, cenderung mempercepat reaksi atau tidak
terlalu berpengaruh terhadap laju reaksi.
4) Asam aromatik (benzoat dan p-toluat) bereaksi lambat

2.6. Minyak dan Lemak


Minyak dan lemak merupakan campuran ester-ester gliseril dari asam
fatty (lemak) atau triglyserides (trigliserida). Ada bermacam-macam sumber
aslinya yang berbeda dan tergantung dari sifat-sifat fisis dan kimia dari campuran
ester. Ester-ester tersebut dapat berbentuk solid (padatan), liquid (cairan), volatile
saturated (uap jenuh yang mudah menguap) dan sebagian senyawanya yang
unsaturated (tidak jenuh).Komposisi trigliserida terdiri dari ester 5% glyceride
dan 95% fatty acid (asam lemak) yang merupakan gabungan dari ester-ester.
Formula dari gliserides yaitu:
10

H
H - C - OOCR
H - C - OOCR’ (2)
H - C - OOCR”
H
Gugus tersebut di atas adalah merupakan ester-ester dari lemak atau
gliserida. Lemak-lemak adalah ester dari gliserol atau asam palmitat atau asam
stearat. Gugus alkil (R), untuk masing-masing R, R’, R’’ bisa sama di dalam
ikatan molekulnya dan juga R = R’ = R’’ tergantung dari ikatan molekul asam
lemak itu sendiri. Ester-ester lemak suku tinggi dari asam lemak jenuh lebih
stabil. Pada rumus kimia diatas, R dapat berupa rantai yang sama maupun
berbeda-beda dan biasanya dinyatakan dengan R1, R2, R3. Rantai R dapat berasal
dari asam laurat, asam palmitat, asam stearat, atau asam lainnya.
Karena sumber fatty acid (asam lemak) merupakan bagian yang penting
dari molekul-molekul gliserida dan merupakan bagian yang aktif maka sifat-sifat
fisis dan kimia dari lemak sebagian besar tergantung dari sifat-sifat fisis dan kimia
setiap komponen fatty acid (asam lemak). Hasil dari hidrolisa lemak akan
diperoleh gliserol dan fatty acid. Bila ditambahkan kaustik soda ke dalam larutan
tersebut akan diperoleh sabun dari asam-asam lemak. Reaksinya:
C17H35COO - CH2 CH2 - OH
C17H35COO –CH + 3 NaOH  3 C17H35COONa + CH - OH (3)
C17H35COO - CH2 CH2 - OH
Gliseril tristearat Sodium tristearat Gliserol
Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan
sabun harus disterilkan karena berbagai alasan, seperti adanya kelayakan
ekonomi, spesifikasi produk (sabun tidak boleh teroksidasi, mudah berbusa dan
mudah larut), dan lain-lain. Jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai.
2.6.1. Tallow
Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri
pengolalahan daging sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan dari
warna, titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak), kandungan FFA, bilangan
11

saponifikasi dan bilangan iodin. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan
dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan
dalam pembuatan sabun cuci. Asam oleat dan asam stearat adalah asam lemak
yang paling banyak terdapat dalam tallow. Jumlah FFA dari tallow berkisar antara
(0,75%-7,0%). Titer pada tallow umumnya di atas 40oC dikenal dengan nama
grease.
2.6.2. Lard
Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam
lemak tak jenuh seperti oleat (60%-65%) dan asam lemak jenuh seperti stearat.
Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi parsial lebih
dahulu untuk mengurangi ketidak jenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard
berwarna putih dan mudah berbusa.
2.6.3. Palm Oil (minyak kelapa sawit)
Minyak kelapa sawit umumnya digunakan sebagai pengganti tallow.
Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat
warna karotenoid.
2.6.4. Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit)
Minyak inti kelapa sawit diperoleh dari biji kelapa sawit. Minyak inti
sawit memiliki kanduingan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa.

2.7. Bahan Baku pembuatan Deterjen


Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang
mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak).
Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat
melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Secara garis besar,
terdapat empat kategori surfaktan yaitu:
1) Anionik:
a) Alkyl Benzene Sulfonate (ABS)
b) Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS)
c) Alpha Olein Sulfonate (AOS)
2) Kationik: Garam Ammonium
3) Non ionik: Nonyl phenol polyethoxyle
12

4) Amphoterik: Acyl Ethylenediamines


Detergen adalah campuran berbagai bahan yang digunakan untuk
membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi.
Dibandingkan dengan sabun, detergen mempunyai keunggulan antara lain
mempunyai daya cuci yang lebih baik darip pada sabun serta tidak terpengaruh
oleh kesadahan air. Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke
dalam sabun yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga
menarik konsumen.Bahan-bahan aditif tersebut antara lain: builders, fillers inert,
anti oksidan, pewarna, dan parfum. Pada umumnya, detergen mengandung bahan-
bahan berikut:
1) Builder
Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari
surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.
a) Fosfat: Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)
b) Asetat: Nitril Tri Acetate (NTA) dan Ethylene Diamine TetraAcetate
(EDTA)
c) Silikat: Zeolit
d) Sitrat: Asam Sitratsunting
2) Filler
Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai
kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh:
Sodium Sulfat.
3) Aditif
Aditif adalah bahan pembantu untuk membuat produk lebih menarik
misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dan tidak berhubungan langsung
dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih dimaksudkan untuk
komersialisasi produk. Contoh : Enzim, Boraks, Sodium Klorida, Carboxy Methyl
Cellulose (CMC).