Anda di halaman 1dari 3

2.

4 Proses Pembuatan Sabun


Reaksi penyabunan (saponifikasi) merupakan reaksi trigliserida dengan
menggunakan alkali seperti NaOH atau KOH yang menghasilkan sabun dan
gliserol. Secara umum proses pembuatan sabun dimulai dari gliserida atau lemak
dalam boiler yang dipanasi dengan pipa uap dan ditambahkan larutan NaOH
sehingga akan terjadi reaksi penyabunan. Sabun yang terbentuk (Na-asetat) dapat
diambil pada lapisan teratas dari campuran sabun, gliserol, dan sisa basa. Sabun
akan mengendap dan dipisahkan dengan cara penyaringan. NaCl juga akan
ditambahkan ke dalam campuran pembuatan sabun tersebut.
Gliserol murni dapat diperoleh dengan cara penyulingan. Sabun yang
mengandung kandungan impurities dapat dimurnikan dengan cara diendapkan
secara beberapa kali (reprisipitasi). Sabun yang telah terpisah dari kandungan
impurities ditambahkan parfum agar sabun memiliki bau yang dapat menarik
perhatian konsumen. Sabun umumnya dibuat dari saponifikasi lemak tallow. Fatty
acids terdiri dari rantai hidrokarbon yang panjang (C12-C18) yang berikatan dan
membentuk gugus karboksil. Asam lemak yang memiliki rantai pendek jarang
digunakan dalam proses pembuatan sabun karena menghasilkan sedikit busa. Sabun
dapat dibuat melalui proses batch ataupun kontinu (Widyasanti dkk., 2016).
2.4.1. Proses Pembuatan Sabun secara Batch
Menurut Ismanto dkk. (2016), pembuatan sabun dengan proses batch
dilakukan dengan proses pemanasan minyak dengan alkali basa berupa NaOH
ataupun KOH yang berlebih. Proses awal pembuatan sabun secara batch akan
dilakukan dalam suatu alat operasi berupa boiler. Garam-garam yang ditambahkan
berfungsi mempercepat proses pengendapan sabun. Lapisan air yang mengandung
garam, gliserol, dan alkali berlebih akan dikeluarkan dan pemurnian gliserol dapat
dilakukan dengan proses penyulingan. Endapan sabun yang bercampur dengan
garam, alkali, dan gliserol dimurnikan dengan menggunakan air dan diendapkan
dengan garam. Endapan sabun akan dipanaskan dengan air.
Pemanasan dilakukan untuk mendapatkan campuran halus kemudian
membentuk lapisan yang homogen. Produk sabun tersebut dapat dijual secara
langsung tanpa adanya proses pengolahan yang lebih lanjut, yaitu sebagai sabun
industri yang harganya relatif lebih murah. Beberapa bahan pengisi yang
ditambahkan seperti pasir atau batu apung umumnya digunakan dalam pembuatan
sabun gosok. Melarutkan udara dalam proses pembuatan sabun merupakan
perlakuan diperlukan untuk mengubah sabun gubal menjadi sabun mandi, sabun
bubuk, sabun cuci, sabun cair dan sabun apung.
2.4.2 Proses Pembuatan Sabun secara Kontinu
Menurut Silsia dkk. (2017), pembuatan sabun dengan proses kontinu
dilakukan dengan hidrolisis lemak atau minyak dengan air pada temperatur dan
tekanan yang cukup tinggi, dibantu dengan katalis seperti sabun seng. Lemak atau
minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu ujung reaktor. Asam lemak dan
gliserol yang terbentuk akan dikeluarkan dari ujung yang berlawanan dengan cara
penyulingan. Asam-asam kemudian dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun.
Alkali yang umumnya digunakan dalam pembuatan sabun adalah NaOH dan KOH,
namun kadang-kadang NH4OH juga digunakan. Sabun yang dibuat dengan NaOH
akan lebih sukar larut dalam air dibandingkan dengan sabun yang dibuat dengan
KOH. Sabun yang terbuat dari alkali basa kuat seperti NaOH dan KOH mempunyai
nilai pH yang lebih tinggi, yaitu 9-10,8. Sabun dari alkali basa lemah yaitu NH4OH
memiliki nilai pH lebih rendah, yaitu 8-9,5.
DAFTAR PUSTAKA

Ismanto, S. D., Neswati, dan Amanda, S. 2016. Pembuatan Sabun Padat


Aromaterapi dari Minyak Kelapa Sawit Murni (Virgin Coconut Oil) dengan
Penambahan Minyak Gubal Gaharu (Aquilaria malaccensis). Jurnal
Teknologi Pertanian Andalas. Vol. 20(2): 1410-1412.
Silsia, D., Susanti, L., dan Apriantonedi, R. 2017. Pengaruh Konsentrasi KOH
Terhadap Karakteristik Sabun Cair Beraroma Jeruk Kalamansi dari Minyak
Goreng Bekas. Jurnal Agroindustri. Vol.7(1): 11-19.
Widyasanti, A., Farddani, C. L., dan Rohdiana, D. 2016. Pembuatan Sabun Padat
Transparan menggunakan Minyak Kelapa Sawit (Palm Oil) dengan
Penambahan Bahan Aktif Ekstrak Teh Putih (Camellia sinesis). Jurnal
Teknik Pertanian Lampung. Vol.5(3): 125-136.