Anda di halaman 1dari 3

2. .

Bahan Baku Saponifikasi


Proses pembuatan sabun dikenal dengan istilah saponifikasi. Saponifikasi
adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah atau kuat (Sukeksi dkk,
2017). Bahan penyusun sabun terdiri atas bahan utama dan bahan pendukung.
Bahan utama berupa berbagai jenis minyak nabati atau lemak hewan. Bahan
pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun antara lain yaitu,
pewangi, pewarna, natrium klorida, natrium karbonat, dan natrium fosfat. Lemak
minyak yang digunakan dapat berupa lemak hewani, minyak nabati, lilin, ataupun
minyak ikan laut. Kandungan zat-zat yang terdapat pada sabun juga bervariasi
sesuai dengan sifat dan jenis sabun. Larutan alkali yang digunakan dalam
pembuatan sabun bergantung pada jenis sabun tersebut. Larutan alkali yang biasa
yang digunakan pada sabun keras adalah NaOH dan alkali yang biasa digunakan
pada sabun lunak adalah KOH (Naomi dkk, 2013).
Minyak kelapa sawit merupakan minyak yang mengandung asam palmitat
(𝐶16 𝐻32 𝑂2) yang cukup tinggi, yaitu sebesar 44,3%. Fungsi dari asam palmitat ini
dalam pembuatan sabun adalah untuk kekerasan sabun dan menghasilkan busa yang
stabil. Konsumen beranggapan bahwa sabun dengan busa yang sangat melimpah
mempunyai kemampuan membersihkan kotoran dengan baik. Asam lemak yang
terkandung dalam sabun padat transparan yang dihasilkan berasal dari asam stearat
dan asam palmitat yang terkandung pada minyak kelapa sawit yang digunakan
sebagai bahan baku pembuatan sabun padat transparan. Asam lemak jenuh yang
terdapat dalam minyak kelapa sawit adalah asam palmitat yang dapat berfungsi
untuk kekerasan dan stabilitas busa pada sabun (Widyasanti dkk, 2016).
Minyak jarak (Castor Oil) dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuat
sabun selain dari minyak kelapa murni. Minyak jarak telah lama dikenal sebagai
bahan baku dalam berbagai industri khususnya industri farmasi dan kosmetik.
Minyak jarak memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang tinggi yaitu asam
lemak risinoleat yang kadarnya dapat mencapai 80-90%. Secara alami risinoleat
adalah dalam bentuk trigliserida (gliserida) dengan tiga gugus fungsi utama yang
dapat ditransformasikan menjadi berbagai senyawa lain yang lebih bermanfaat.
Salah satunya adalah sabun karena trigliserida merupakan salah satu bahan baku
dalam proses pembuatan sabun yaitu saponifikasi. Minyak jarak (Castor Oil)
merupakan bahan baku yang dapat dipilih karena memiliki beberapa keunggulan
untuk dijadikan sabun mandi cair (Widyasanti dkk, 2017).
Limbah padat industri kulit dari proses fleshing berupa koyoran (lemak)
yang dimanfaatkan sebagai bahan alternatif pada proses pembuatan sabun. Proses
fleshing merupakan proses pembersihan sisa-sisa gajih atau daging pada kulit
dilakukan dengan mesin pembuang. Buangan padat proses fleshing yang berupa
koyoran biasanya dimasukkan ke drum plastic dan segera dibuang ke tempat
pembuangan akhir agar tidak menimbulkan bau. Pembuatan sabun cuci dari limbah
padat industri kulit yang berupa koyoran atau lemak dipengaruhi oleh penambahan
basa KOH dan adsorben bleaching clay. Sabun cuci yang dihasilkan dengan
menggunakan limbah kulit memenuhi standart SNI (Perwitasari, 2011).
Sabun berbahan baku lemak dalam bentuk tallow sebenarnya sudah ada
sejak awal penemuan sabun. Produksi sabun tallow lebih berkembang di wilayah-
wilayah yang tinggi dalam mengonsumsi daging, seperti Amerika dan Eropa.
Ketersediaan tallow di Indonesia memang tidak sebanyak minyak kelapa sawit
yang umumnya lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku sabun. Produksi
tallow di Indonesia masih sangat memungkinkan untuk menjadi bahan baku sabun.
Keuntungan dari penggunaan tallow sebagai bahan baku sabun dibanding lemak
nabati adalah kandungan asam lemak jenuhnya yang tinggi. Asam lemak palmitat
salah satunya yang dapat membentuk sabun batang dengan sifat busa yang sangat
baik dan diinginkan para konsumen sabun. Tallow yang digunakan diperoleh dari
lemak ginjal sapi, dengan metode Kamikaze (Rasidah dan Sumarna, 2018).
Virgin Coconut Oil (VCO) digunakan sebagai bahan dasar pembuatan sabun
karena VCO adalah minyak yang paling banyak mengandung asam lemak yang
baik untuk kulit, dan warna VCO yang putih jernih dan mudah larut dalam air.
Asam lemak yang paling dominan dalam VCO adalah asam laurat (𝐻𝐶12 𝐻23 𝑂2)
yang kandungannya 46%. Asam laurat sangat diperlukan dalam pembuatan sabun
karena mampu memberikan sifat pembusaan yang sangat baik dan lembut untuk
produk sabun. asam laurat merupakan asam lemak jenuh rantai sedang yang bersifat
antimikroba yaitu antivirus, antibakteri, dan antijamur (Widyasanti dkk, 2017).
DAFTAR PUSTAKA

Naomi, P., Gaol, A. M. L., dan Toha, M. Y. 2013. Pembuatan Sabun Lunak dari
Minyak Goreng Bekas ditinjau dari Kinetika Reaksi Kimia. Jurnal Teknik
Kimia. Vol. 19(2): 42-48.
Perwitasari, D. S. 2011. Pemanfaatan Limbah Industri Kulit sebagai Bahan Dasar
Pembuatan Sabun. Jurnal Teknik Kimia. Vol. 5(2): 425-428.
Rasidah, dan Sumarna, D. 2018. Studi Formulasi Beberapa Minyak Nabati pada
Pembuatan Sabun Mandi Padat. Jurnal Teknologi Pertanian. Vol. 13(1): 1-
6.
Sukeksi, L., Sidabutar, A. J., dan Sitorus, C. 2017. Pembuatan Sabun dengan
Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra) sebagai Sumber Alkali.
Jurnal Teknik Kimia USU. Vol. 6(3): 8-12.
Widyasanti, A., Farddani, C. L., dan Rohdiana, D. 2016. Pembuatan Sabun Padat
Transparan Menggunakan Minyak Kelapa Sawit (Palm Oil) dengan
Penambahan Bahan Aktif Ekstrak Teh Putih (Camellia Sinensis). Jurnal
Teknik Pertanian Lampung. Vol. 5(3): 125-136.
Widyasanti, A., Rahayu, A. Y., dan Zain, S. 2017. Pembuatan Sabun Cair Berbasis
Virgin Coconut Oil (VCO) dengan Penambahan Minyak Melati (Jasminum
Sambac) sebagai Essential Oil. Jurnal Teknotan. Vol. 11(2): 1-9.