Anda di halaman 1dari 9

Pengendalian Infeksi dengan Cuci Tangan 6 Langkah Sejak Usia Dini

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kajian Teori

a. Cuci Tangan 6 langkah

Menurut WHO (2009) cuci tangan adalah suatu prosedur/ tindakan


membersihkan tangan dengan menggunakan sabun dan air yang mengalir atau
Hand rub dengan antiseptik (berbasis alkohol). Sedangkan menurut James (2008),
mencuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan
dan pengontrolan infeksi. Tangan tenaga pemberi layanan kesehatan seperti
perawat merupakan sarana yang paling lazim dalam penularan infeksi
nosokomial, untuk itu salah satu tujuan primer cuci tangan adalah mencegah
terjadinya infeksi nosokomial (Pruss, 2005) serta mengurangi transmisi
mikroorganisme (Suratun, 2008).

b. Indikasi Cuci Tangan

Indikasi cuci tangan atau lebih dikenal dengan five moments (lima
waktu) cuci tangan menurut SPO gizi adalah: a) Sebelum masuk ke dalam area
produksi dan distribusi, b) Setelah memegang bahan mentah/ kotor, c) Setelah
memegang anggota tubuh, d) Sebelum dan setelah memporsikan makanan di
plato/ alat saji pasien, e) Setelah keluar dari kamar mandi/ toilet.

c. Cuci Tangan 6 Langkah dengan Hand wash dan Hand rub

 Cuci Tangan Hand-Wash


Teknik mencuci tangan biasa adalah membersihkan tangan dengan
sabun dan air bersih yang mengalir. Peralatan yang dibutuhkan untuk
mencuci tangan biasa adalah setiap wastafel dilengkapi dengan peralatan
cuci tangan sesuai sesuai standar rumah sakit (misalnya kran air
bertangkai panjang untuk mengalirkan air bersih, tempat sampah injak
tertutup yang dilapisi kantung sampah medis atau kantung plastik
berwarna kuning untuk sampah yang terkontaminasi atau terinfeksi, alat
pengering seperti tisu, lap tangan (hand towel), sabun cair atau cairan
pembersih tangan yang berfungsi sebagai antiseptik, lotion tangan, serta
dibawah wastafel terdapat alas kaki dari bahan handuk. Oleh karena itu
sarana serta prasarana juga harus memadai untuk mendukung cuci tangan
supaya dapat dilakukan dengan maksimal.
Prosedur Hand-wash sebagai berikut:
a) melepaskan semua benda yang melekat pada daerah tangan, seperti
cincin atau jam tangan.
b) membuka kran air dan membasahi tangan.
c) menuangkan sabun cair ke telapak tangan secukupnya.
d) melakukan gerakan tangan, mulai dari meratakan sabun dengan kedua
telapak tangan.
e) kedua punggung telapak tangan saling menumpuk secara bergantian.
f) bersihkan telapak tangan dan sela-sela jari seperti gerakan menyilang.
g) membersihkan ujung-ujung kuku bergantian pada telapak tangan.
h) membersihkan ibu jari secara bergantian.
i) posisikan jari-jari tangan mengerucut dan putar kedalam beralaskan
telapak tangan secara bergantian.
j) bilas tangan dengan air yang mengalir.
k) keringkan tangan dengan tisu sekali pakai.
l) menutup kran air menggunakan siku atau siku, bukan dengan jari
karena jari yang telah selesai kita cuci pada prinsipnya bersih. Lakukan
semua prosedur diatas selama 40 – 60 detik.

 Cuci Tangan Hand-Rub


Teknik mencuci tangan biasa adalah membersihkan tangan dengan
cairan berbasis alkohol, dilakukan sesuai lima waktu. Peralatan yang
dibutuhkan untuk mencuci tangan Hand-rub hanya cairan berbasis alkohol
sebanyak 2 – 3 cc. Prosedur cuci tangan Hand-rub sebagai berikut:
a) melepaskan semua benda yang melekat pada daerah tangan, seperti
cincin atau jam tangan.
b) cairan berbasis alkohol ke telapak tangan 2 – 3 cc.
c) melakukan gerakan tangan, mulai dari meratakan sabun dengan kedua
telapak tangan.
d) kedua punggung telapak tangan saling menumpuk secara bergantian.
e) bersihkan telapak tangan dan sela-sela jari seperti gerakan menyilang.
f) membersihkan ujung-ujung kuku bergantian pada telapak tangan. g)
membersihkan ibu jari secara bergantian.
h) posisikan jari-jari tangan mengerucut dan putar kedalam beralaskan
telapak tangan secara bergantian. Lakukan semua prosedur diatas selama
20 – 30 detik.

2.2 Metedologi

a. Pengendalian Infeksi dengan Pengenalan Program Cuci Tangan 6 Langkah


Pengenalan Program cuci tangan 6 lagkah, terdiri dari tiga tahap.
Tahap pertama, peneliti bertemu dengan Kepala Sekolah TK di Singosari,
Malang. Tahap ini meliputi perkenalan kepada pihak sekolah serta memaparkan
program cuci tangan 6 langkah. Berkaitan pula dengan pemaparan input dan
output kegiatan program cuci tangan 6 langkah Tahap kedua peneliti bertemu
dengan para guru TK disana. Pertemuandengan guru-guru dimaksudkan yaitu
pertama untuk memperkenalkan peneliti (keakraban) serta menggali informasi
lebih jauh tentang karakteristik siswa TK tersebut. Tahap ketiga peneliti langsung
bertemu dengan siswa TK serta membawa alat pendukung berupa buku panduan
cuci tangan 6 langkah yang dapat digunakan sebagai buku mewarnai berisi sketsa
gambar polos untuk menarik sekaligus menambah daya ingat siswa untuk
melakukan gerakan cuci tangan 6 langkah. Peneliti akan langsung melakukan
kegiatan pengenalan / sosialisasi tentang pengendalian infeksi dengan cara
gerakan cuci tangan 6 langkah kepada siswa TK dengan memanfaatkan buku
panduan yang berisi gambar polos, kemudian peneliti akan memberikan
kesempatan siswa untuk berkreasi dengan cara mewarnai buku tersebut.
Sepanjang kegiatan tersebut peneliti akan melaksanakan interaksi kepada siswa
TK tentang pemahaman terhadap gerakan cuci tangan ini. Setelah selesai kegiatan
tersebut, peneliti langsung memandu siswa TK beserta guru untuk mempraktikkan
langsung gerakan cuci tangan menggunakan soap pen dan air. Soap pean
merupakan inovasi sabun yang menarik minat anak untuk mencuci tangan dengan
teknik menggambar di telapak tangan mereka sehingga, sabun yang mereka
gunakan mampu membersihkan secara maksimal. Setelah itu kegiatan sosialisasi
dilanjutkan dengan topik yang membahas tentang gerakan preventif.

b. Cara Mengenalkan Cuci Tangan 6 langkah


 Buku Cuci Tangan 6 Langkah
Buku Cuci Tangan 6 Langkah berisi buku panduan yang memuat
gambar polos dan penjelasan singkat mengenai pengendalian infeksi
dengan cara gerakan cuci tangan 6 langkah. Tujuan pembuatan buku ini
selain untuk memandu siswa TK, yakni dapat menjadi media untuk
mengekspresikan kreatifitas siswa TK serta sebagai sarana untuk
mempermudah siswa TK dalam mengingat gerakan tersebut. Kemudian
setelah kegiatan mewarnai tersebut, siswa TK mampu mengidentifikasi
ketika tangan tampak kotor, mereka akan langsung termotivasi untuk
mencuci tangannya sesuai dengan metode yang dipaparkan melalui buku.
 Soap Pen
Soap pen merupakan produk inovasi sabun yang tujuan nya untuk
menarik minat anak untuk mencuci tangan dengan teknik menggambar di
telapak tangan sehingga sabunakan keluar banyak kemudian ditunjang lagi
dengan melakukan metode mencuci tangan 6 langkah yang benar dan tepat
oleh karena itu mampu membersihkan secara maksimal. Desain soap pen
ini berupa botol roll on yang masing-masing botolnya mengeluarkan
warna merah, kuning, hijau. Sehingga menarik dan mudah untuk
digunakan anak-anak.
 Tindakan Preventif Dari Mahasiswa / Peniliti
Tindakan ini dilakukan dengan cara sosialisasi tentang dampak
yang akan terjadi ketika lalai dalam menjaga kebersihan (tidak mencuci
tangan). Dalam metode ini, kami melibatkan peran guru dan orang tua
siswa TK. Tujuan dari pelibatan orang tua siswa TK ini untuk
menciptakan upaya guru dan orang tua yang berkaitan dengan peran orang
tua sebagai pelindung. Upaya ini dilakukan agar orang tua dapat
memahami dan memberikan perlindungan bagi anaknya.
 Sosialisasi Dari Perawat Akademisi
Sosialisasi ini disampaikan oleh perawat akademisi yang paham
atas konsep mengenai pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Kegiatan ini
dilaksanakan di akhir minggu (pertemuan terakhir) dengan mitra dimana
kami mengambil hari sabtu yang dapat diikuti oleh guru, siswa sekaligus
orang tua siswa.
 Quisoner
Quisioner yaitu media yang kami gunakan untuk dapat melihat
adanya perkembangan dan adanya perubahan yang terjadi setelah tim
PKM melaksanakan Ferolids ini. Quisioner berisi pertanyaan mengenai
kondisi kesehatan anak serta tingkat kepedulian anak dalam melakukan
cuci tangan pada saat sebelum dan sesudah tim PKM berkunjung.
Quisioner ini ditujukan kepada orang tua siswa TK pada saat hari Ferolids
diadakan dan pada saat tindakan sosialisasi oleh perawat akademisi.

c. Monitoring Program Cuci Tangan 6 Langkah


Analisa data yang digunakan pada program cuci tangan 6 langkah
disebut monitoring bertujuan untuk melihat dan mengevalusi ketika
program berjalan. Hal ini dilakukan secara berkala yangbertujuan untuk
mengetahui perkembangan potensi kemandirian siswa TK setelah
diberikan serangkaian bekal agar mengimplementasikan gerakan cuci
tangan 6 langkah di setiap aktivitas dengan benar dan tepat, hasil
monitoring diolah dengan sajian data berupa grafik. Dengan dilakukannya
pengawasan atau monitoring ini maka diharapkan adanya peningkatan
angka kesehatan pada siswa TK untuk terhindar dari infeksi.

d. Evaluasi Program Cuci Tangan 6 Langkah


Evaluasi program cuci tangan 6 langkah bertujuan untuk meninjau
seberapa jauh keberhasilan dari program ini. Evaluasi dilakukan secara 2
tahap yaitu tahap kuantitatif dan kualitatif. Tahap kuantitatif dilakukan
dengan kompilasi data dari tahap pelaksanaan dan tahap monitoring siswa.
Hasil dari mereka akan menjadi pertimbangan pertama selain dari hasil
ulasan guru siswa tersebut tentang materi apa yang akan diberikan kepada
mereka agar mereka lebih bisa terhindar dari kemungkinan-kemungkinan
terinfeksi. Tahap kualitatif dilakukan dengan upaya melakukan sosialisasi
terhadap guru sebagai pendamping siswa.

2.3 Pembahasan

Tangan adalah bagian tubuh kita yang paling banyak tercemar kotoran
dan bibit penyakit. Ketika memegang sesuatu, dan berjabat tangan, tentu ada bibit
penyakit yang melekat pada kulit tangan kita. Sehabis memegang pintu kamar
kecil (sumber penyakit yang berasal dari tinja manusia), saat mengeringkan
tangan dengan lap di dapur, memegang uang, lewat pegangan kursi kendaraan
umum, gagang telepon umum, dan bagian-bagian di tempat umum, tangan hampir
pasti tercemar bibit penyakit jenis apa saja. Kebiasaan mencuci tangan dengan
sabun, adalah bagian dari perilaku hidup sehat. Cuci tangan dengan betul tidak
hanya dipengaruhi oleh cara mencucinya, tetapi juga oleh air yang digunakan dan
lap tangan yang digunakan. Berdasarkan studi Basic Human Services (BHS) di
Indonesia tahun 2006, perilaku masyarakat dalam mencuci tangan adalah : setelah
buang air besar 12%, setelah membersihkan tinja bayi dan balita 9%, sebelum
makan 14%, sebelum memberi makan bayi 7%, dan sebelum menyiapkan
makanan 6 % (Depkes, 2008). Cuci tangan pakai sabun (CTPS) merupakan
tindakan pencegahan terhadap penyakit yang ditularkan melalui tangan, misalnya
diare dan infeksi saluran nafas atas. Kondisi ini didukung oleh penelitian Burton,
Cobb, Donachie, Judah, Curtis, dan Schmidit (2011) dan Pickering, Boehm,
Mwanjali, dan Davis, (2010) menunjukkan bahwa cuci tangan dengan
menggunakan sabun lebih efektif dalam memindahkan kuman dibandingkan
dengan cuci tangan hanya dengan mengggunakan air. Penelitian ini juga
menunjukkan bahwa penyediaan sarana air bersih baik itu di Sekolah Dasar
maupun rumah sebagai sarana untuk cuci tangan juga sudah baik. Anak-anak SD
sebagaian besar mempunyai kebiasaan cuci tangan menggunakan kran dan kamar
mandi. Beberapa hasil riset menunjukkan bahwa promosi perilaku cuci tangan,
peningkatan kualitas air bersih dan sanitasi lingkungan telah terbukti mengurangi
kejadian penyakit gastrointestinal, penyakit pernafasan dan menurunkan absensi
murid pada negara berkembang (Chittleborough, Nicholson, Young, Bell &
Campbell, 2013). Tindakan pemeliharaan kebiasaan cuci tangan perlu
dipertahankan dengan dilakukan evaluasi apakah cuci tangan masih dilakukan.
Schmidt, et al (2009) mengatakan bahwa kendala struktural (penyediaan sarana air
bersih) dapat mempengaruhi perilaku cuci tangan. Media masa mempunyai peran
yang penting dalam promosi kebersihan diri termasuk cuci tangan, sehingga perlu
dimanfaatkan dengan baik di era teknologi yang serba canggih ini.

Program pemerintah dalam mencanangkan Sanitasi Total Berbasis


Masyarakat (STBM) sejak tahun 2008 menunjukkan kejadian diare menurun 32%
dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar, 45% dengan
perilaku mencuci tangan pakai sabun, dan 39% perilaku pengelolaan air minum
yang aman di rumah tangga. Sedangkan dengan mengintegrasikan ketiga perilaku
intervensi tersebut, kejadian diare menurun sebesar 94%. Hal ini sejalan dengan
komitmen pemerintah dalam mencapai target Millennium Development Goals
(MDGs) tahun 2015, yaitu meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar
secara berkesinambungan kepada separuh dari proporsi penduduk yang belum
mendapatkan akses (Depkes, 2008). Penelitian oleh SDKI (2007) mengatakan
bahwa prevalensi diare paling tinggi pada tempat yang tidak difasilitasi dengan
sarana air bersih dan jamban (Kemenkes, 2011). Penelitian serupa juga
mengatakan bahwa diare dapat dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor
lingkungan (sarana air bersih dan jamban); faktor risiko ibu (kurang pengetahuan,
perilaku dan hygiene ibu) dan faktor risiko anak (faktor gizi dan pemberian ASI
ekslusif) (Adisasmito, 2007). Perilaku mencuci tangan dilakukan bukan hanya
pada saat tangan kita tampak kotor, namun cuci tangan dianjurkan pada saat
menyiapkan makanan, sebelum makan, sebelum memberi makan pada anak,
setelah buang air besar dan setelah membersihkan anus anak (Luby, Halder,
Tronchet, Akhter, Bhuiya, & Johnston, 2009). Praktik cuci tangan dipengaruhi
oleh sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan akses media televisi (Rabbi & Dey,
2013).
DAFTAR PUSTAKA

1. Boky Harvani.2017.Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Mencuci


Tangan dengan Kejadian Diare pada Siswa Sdn Peta Kabupaten
Kepulauan Sangihe.
https://ejournalhealth.com/index.php/kesmas/article/download/425/413.
Diakses pada 14 April 2019