Anda di halaman 1dari 43

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teknik sipil adalah ilmu pengetahuan yang melayani kebutuhan masyarakat


dalam bidang sarana dan prasarana. Salah satu lingkup bidang ilmu teknik sipil
adalah pekerjaan manajerial pembangunan dimana didalamnya mempertimbangkan aspek
kelayakan teknis serta aspek kelayakan sosial dan ekonomis. Sementara dari sisi
lain, peran seorang engineer adalah sebagai pemecah masalah. Hal ini
menunjukkan bahwa seorang engineer teknik sipil tidak hanya dituntut sebagai
perekayasa dalam hal desain, namun juga sebagai pelopor, pengorganisir,
pelaksana, bahkan meliputi pengontrol kualitas dan pemberi solusi dalam suatu
permasalahan.
Perguruan tinggi sebagai instansi pendidikan dimasyarakat berusaha mendidik
mahasiswanya agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, tidak hanya
dengan pemberian konsep dan teori, tetapi juga memahami konsep dan teori melalui
kegiatan kerja praktek. Kerja praktek sebagai salah satu metode yang dianggap
representif, dimana mahasiswa yang berbekal ilmu teoritis didapat di bangku
perkuliahan bisa mengimplementasikan ilmu yang diperoleh pada kondisi yang
nyata.
Kerja praktek merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh
mahasiswa teknik sipil Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara sebagai salah
satu syarat untuk menyelesaikan studi S1. Oleh karena itu kerja praktek merupakan
media bagi mahasiswa untuk mengetahui kondisi lapangan di bidang teknik sipil
yang sesungguhnya. Dalam kerja praktek ini mahasiswa diharapkan benar-benar
memahami mengenai metode pelaksanaan pembangunan secara langsung dan dapat
membandingkannya dengan teori yang didapatkan di bangku perkuliahan.
Syarat untuk mengikuti kerja praktek ialah mahasiswa yang bersangkutan telah
mencapai kredit kumulatif, serta tercantum dalam kurikulum mata kuliah yang
dijadwalkan pada semester yang bersangkutan. Waktu efektif mahasiswa dalam

1
aktivitas kerja praktek di lapangan dengan beban 2 sks adalah 2 bulan (minimal 8
jam per hari).
Melalui kegiatan ini mahasiswa memiliki wawasan yang luas terhadap
perkembangan pembangunan di bidang konstruksi serta dapat melihat dan
mempelajari kebijakan cara kontraktor utama sebagai pembangun dalam
menghadapi permasalahan yang timbul secara tidak terduga. Sehingga pada
akhirnya setelah selesai menyelesaikan pendidikan di bangku perkuliahan, lulus,
dan mendapat gelar, mahasiswa tidak hanya memiliki teori literatur saja namun,
telah memiliki pengalaman dan gambaran tentang pembangunan dan pelaksanaan
kegiatan di proyek yang dapat dijadikan bekal untuk kedepannya.
Laporan kerja praktek ini disusun berdasarkan data serta pengamatan langsung
selama 2 bulan yang dilakukan pada Proyek Suzuya Jl. Karya Wisata Medan yang
dikerjakan oleh PT. PRIMA ABADI JAYA MEDAN.

1.2 Tujuan Pelaksanaan Kerja Praktek


Adapun tujuan dari diadakannya Kerja Praktek bagi para mahasiswa-
mahasiswi adalah sebagai berikut:
1. Salah satu syarat yang harus dilaksanakan mahasiswa - mahasiswi dalam
rangka yang wajib dilaksanakan dan sebagai salah satu persyaratan untuk
menyusun Laporan dari Kerja Praktik ini dilakukan pada PT. Prima Abadi
Jaya Medan
2. Sebagai aplikasi langsung dari teori dan praktik yang diperoleh dari bangku
kuliah.
3. Meningkatkan kematangan berfikir dan bertindak.
4. Agar mahasiswa - mahasiswi tahu dunia kerja yang sebenarnya.

2
1.3 Manfaat Pelaksanaan Kerja Praktek
Adapun manfaat dari Kerja Praktik yang selama ini dilaksanakan adalah
sebagai berikut:
1. Melalui kerja praktek ini diharapkan mahasiswa-mahasiswi mampu menguasai
dan mengkoreksi diri terhadap kemampuan mahasiswa-mahasiswi itu sendiri.
2. Menambah wawasan dan melatih pikiran dalam mengaplikasikan pengetahuan
yang dimiliki mahasiswa-mahasiswi.
3. Dengan melakukan kerja praktek diharapkan nantinya sumberdaya manusia
yang dihasilkan lebih baik dari yang sebelumnya.
4. Dengan melaksanakan kerja praktek diharapkan nantinya dapat menghasilkan
putra-putri daerah yang dapat membangun daerahnya.
5. Dengan melakukan praktik kerja lapangan di harapkan mahasiswa-mahasiswi
yang bersangkutan dapat menyelesaikan perkuliahan tepat waktu.
6. Dapat meningkatkan kompetensi sosial, intensitas komunikasi, maupun
interaksi.
7. Melatih agar mahasiswa-mahasiswi dapat berkompetensi secara profesional.
8. Memahami penguasaan tugas, kemampuan kerja dan loyalitas kerja.
9. Meningkatkan disiplin, antusias terhadap pekerjaan, dan kejujuran dalam
bekerja.
10. Dapat membentuk jati dari yang bertanggung jawab.

1.4 Ruang Lingkup Pembahasan


Menyesuaikan waktu Kerja Praktek yang ditentukan, maka ruang lingkup
pembahasan Laporan Kerja Praktek ini adalah mencakup gambaran umum tahapan
pengerjaan pile cap pada proyek Suzuya Jl. Karya Wisata Medan dan kendala apa
saja yang terjadi dalam proses pengerjaan pile cap pada proyek Suzuya Jl. Karya
Wisata Medan.

1.5 Jadwal Pelaksanaa Kerja Praktek


Sesuai dengan ketentuan dari Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, setiap mahasiswa semester 5
diharuskan melaksanakan Kerja Praktik selama 2 bulan. Dimulai pada tanggal 05

3
Agustus 2019 dan berakhir pada tanggal 05 Oktober 2019. Selama melaksanakan
Kerja Praktek mahasiswa diharuskan mengikuti ketentuan sesuai dengan
kesepakatan yang dibuat perusahaan tempat pelaksanaan Kerja Praktek yaitu PT
Prima Abadi Jaya Medan.

1.6 Pengumpulan Data


Laporan Kerja Praktik ini menggunakan beberapa metode untuk memperoleh
data–data yang dibutuhkan dalam penyusunannya. Adapun metode–metode yang
digunakan untuk memperoleh data antara lain:
1. Metode observasi (pengamatan)
Dalam metode observasi, dilakukan pengamatan secara langsung terhadap
pembangunan Proyek Suzuya Jl. Karya Wisata Medan mengenai cara
pelaksanaan pekerjaan yang sedang berlangsung dan masalah–masalah yang
sekiranya dapat menghambat aktivitas kerja.
2. Metode interview (wawancara langsung)
Dalam metode ini dilakukannya wawancara secara langsung kepada semua
pihak yang terlibat dalam proses pembangunan baik dari kontraktor sampai
tukang. Dengan mengajukan pertanyaan mengenai hal–hal yang belum
diketahui atau menanyakan berbagai masalah yang dijumpai di lapangan
dengan tujuan agar mendapatkan masukan dalam kerja praktek ini.
3. Metode pustaka (literatur)
Melalui metode pustaka, kami mencari informasi, mengumpulkan data dan
mempelajari hal–hal yang berhubungan dengan pekerjaan pembangunan
selama kerja praktek melalui buku dan internet.
4. Metode instrumen
Metode instrumen adalah metode pengumpulan data–data proyek dengan
menggunaakn instrumen seperti kamera dan alat tulis. Dengan metode ini maka
dapat mengambil data berupa foto dokumentasi maupun catatan–catatan kecil.

4
BAB 2

INFORMASI PROYEK

2.1. Struktur Organisasi Proyek


Struktur organisasi merupakan susunan yang terdiri dari fungsi–fungsi dan
hubungan–hubungan yang menyatakan keseluruhan kegiatan untuk mencapai
suatu. Secara fisik, struktur organisasi dapat dinyatakan dalam bentuk gambar
bagan yang memperlihatkan hubungan unit–unit organisasi dan garis–garis
wewenang yang ada. Dengan demikian, struktur organisasi dapat di definisikan
sebagai ciri organisasi yang dapat dipergunakan untuk mengendalikan dan
membedakan bagian–bagian organisasi, sehingga perilaku organisasi dapat secara
efektif dan efisien tersalurkan dan terkendali arahnya untuk menuju tercapainya
tujuan organisasi.
Fungsi organisasi secara umum yang erat kaitannya dengan kegiatan proyek
adalah sebagai berikut :
1. Organisasi merupakan sarana, di mana para anggota/peserta bekerja
sama untuk mencapai tujuan bersama.
2. Di dalam organisasi terdapat pengaturan tentang bagaimana kerja sama
itu dilaksanakan.
3. Adanya suatu pembagian wewenang dan tanggung jawab.

Orang/badan yang membiayai, merencanakan, dan melaksanakan bangunan


tersebut disebut unsur-unsur pelaksana pembangunan. Masing-masing unsur
tersebut mempunyai tugas, kewajiban, tanggung jawab dan wewenang sesuai
dengan posisinya masing-masing. Dalam melaksanakan kegiatan perwujudan
bangunan, masing-masing pihak sesuai dengan posisinya saling berinteraksi satu
sama lain sesuai dengan hubungan kerja yang telah ditetapkan.

5
a. Pemilik Proyek (Owner)

Pemilik proyek adalah pemberi tugas atau pengguna jasa yaitu orang/badan
yang memiliki proyek dan memberikan pekerjaan atau menyuruh memberikan
pekerjaan kepada pihak penyedia jasa dan yang membayar biaya pekerjaan tersebut.
Pengguna jasa dapat berupa perseorangan, badan/lembaga/instansi pemerintah
maupun swasta.

Hak dan kewajiban pengguna jasa adalah:

- Menunjuk penyedia jasa (konsultan dan kontaktor).

- Meminta laporan secara periodik mengenai pelaksanaan pekerjaan


yang telah dilakukan oleh penyedia jasa.

- Memberikan fasilitas baik berupa sarana dan prasarana yang


dibutuhkan oleh pihak penyedia jasa untuk kelancaran pekerjaan.

- Menyediakan lahan untuk tempat pelaksanaan pekerjaan.

- Menyediakan dana dan kemudian membayar kepada pihak penyedia


jasa sejumlah biaya yang diperlukan untuk mewujudkan sebuah
bangunan.

- Ikut mengawasi jalannya pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan


dengan cara menempatkan atau menunjuk suatu badan atau orang
untuk bertindak atas nama pemilik.

- Mengesahkan perubahan dalam pekerjaan (bila terjadi).

- Menerima dan mengesahkan pekerjaan yang telah selesai


dilaksanakan oleh penyedia jasa jika produknya telah sesuai dengan
apa yang dikehendakinya.

Wewenang pemberi tugas adalah :

- Memberikan hasil lelang secara tertulis kepada masing-masing


kontraktor.

- Dapat mengambil alih pekerjaan secara sepihak dengan cara


memberitahukan secara tertulis kepada kontraktor jika telah terjadi

6
hal-hal di luar kontrak yang ditetapkan.

b. Konsultan Perencana
Konsultan perencana adalah suatu badan hukum atau perorangan yang diberi
tugas oleh pemberi tugas untuk merencanakan dan mendesain bangunan sesuai
dengan keinginan pemilik proyek. Selain itu juga memberikan saran dan
pertimbangan akan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkembangan proyek
tersebut. Perencana juga bertugas untuk memberikan jawaban dan penjelasan atas
hal-hal yang kurang jelas terhadap gambar rencana dan rencana kerja dan syarat-
syarat. Perencana juga harus membuat gambar revisi bila terjadi perubahan-
perubahan rencana dalam proyek. Pekerjaan perencanaan meliputi perencanaan
arsitektur, struktur, mekanikal dan elektrikal, anggaran biaya serta memberikan
saran yang diperlukan dalam pelaksanaan pembangunan.
Hak dan kewajiban perencana adalah :
- Membuat perencanaan secara lengkap yang terdiri dari gambar rencana,
rencana kerja dan syarat-syarat, hitungan struktur, rencana anggaran
biaya.
- Memberikan usulan serta pertimbangan kepada pengguna jasa dan pihak
kontraktor tentang pelaksanaan pekerjaan.
- Memberikan pekerjaan dan penjelasan kepada kontraktor tentang hal-
hal yang kurang jelas dalam gambar rencana, rencana kerja, dan syarat-
syarat.
- Membuat gambar revisi bila terjadi perubahan pekerjaan.
- Menghadiri rapat koordinasi pengelolaan proyek

c. Konsultan Pengawas
Konsultan pengawas adalah suatu badan hukum atau perorangan baik swasta
atau instansi pemerintah yang berfungsi sebagai badan yang bertugas mengawasi
dan mengontrol jalannya proyek agar mencapai hasil kerja yang optimal menurut
persyaratan yang ada.
Hak dan kewajiban konsultan pengawas :
- Menyelesaikan pelaksanaan pekerjaan dalam waktu yang telah
ditetapkan.

7
- Membimbing dan mengadakan pengawasan secara periodik dalam
pelaksanaan pekerjaan.
- Melakukan perhitungan prestasi pekerjaan.
- Mengkoordinasikan dan mengendalikan pekerjaan konstruksi serta
aliran informasi antar berbagai bidang agar pelaksanaan pekerjaan
berjalan lancar.
- Menghindari kesalahan yang mungkin terjadi sedini mungkin serta
menghindari pembengkakan biaya.
- Mengatasi dan memecahkan persoalan yang timbul di lapangan agar
dicapai hasil akhir sesuai dengan yang diharapkan dengan kualitas,
kuantitas serta pelaksanaan waktu yang telah ditetapkan.
- Menerima atau menolak material/peralatan yang didatangkan
kontraktor.
- Menghentikan sementara bila terjadi penyimpangan dari peraturan yang
berlaku.
- Menyusun laporan kemajuan pekerjaan (harian, mingguan, dan
bulanan)
- Menyiapkan dan menghitung adanya kemungkinan bertambah atau
berkurangnya pekerjaan.

d. Kontraktor
Kontraktor adalah orang atau badan hukum yang menerima pekerjaan dan
menyelenggarakan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan biaya yang telah
ditetapkan berdasarkan gambar rencana, peraturan, dan syarat-syarat yang telah
ditetapkan.
Tugas dan tanggung jawab kontraktor adalah :
- Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar rencana, peraturan, dan
syarat-syarat, risalah penjelasan pekerjaan dan syarat-syarat tambahan
yang telah ditetapkan oleh pengguna jasa.
- Membuat gambar-gambar pelaksanaan yang disahkan oleh konsultan
pengawas sebagai wakil dari pengguna jasa.

8
- Menyediakan alat keselamatan kerja seperti yang diwajibkan dalam
peraturan untuk menjaga keselamatan pekerja dan masyarakat.
- Membuat laporan hasil pekerjaan berupa laporan harian, mingguan, dan
bulanan.
- Menyerahkan seluruh atau sebagian pekerjaan yang telah diselesaikan
sesuai dengan ketetapan yang berlaku.

e. Manajer Proyek (Project Manager)


Manajer Proyek (Project Manager) adalah orang yang diberi wewenang dan
tanggung jawab oleh kontraktor untuk memimpin, mengatur dan mengawasi serta
membuat keputusan yang terbaik dalam pelaksanaan proyek secara keseluruhan.
Manager proyek adalah pemegang kekuasaan tertinggi pada organisasi di lapangan
pada suatu proyek, adapun tugas–tugasnya adalah:
- Menguasai detail kontrak dan spesifikasi teknis kontrak
- Menyusun Rencana Mutu Proyek termasuk jadwal serta metode kerja
bersama-sama dengan Site Manager pada awal proyek
- Menyusun Rencana Anggaran Pelaksana (RAP) berdasarkan RAP
awal dari estimate manager dan mempresentasikan pada Direksi
hingga diperoleh persetujuan
- Mengidentifikasikan dan menyelesaikan masalah yang timbul selama
proses kegiatan konstruksi di proyek.

f. Manajer Lapangan (Site Manager)


Tugas-tugas manajer lapangan (site manager) adalah:
- Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan metode konstruksi untuk
memenuhi persyaratan mutu, waktu dan biaya yang telah disepakati
- Memberikan pengarahan dan pembinaan staf yang ada di bawahnya
- Membuat keputusan dalam batasan yang telah digariskan oleh manager
proyek
- Mengarahkan, mengkoordinasi dan mengawasi tenaga kerja agar efisien
terhadap pemakaian tenaga, alat dan material serta target kemajuan
proyek agar tercapai sesuai dengan time schedule yang telah ditetapkan

9
- Memeriksa bobot pekerjaan setiap akhir bulan dan jika terjadi
kemunduran dari time schedule maka site manager memutuskan untuk
melaksanakan pekerjaan lembur
- Mempelajari kemungkinan–kemungkinan perubahan metode konstruksi
yang menguntungkan
- Memeriksa laporan pemakaian alat dan membuat surat permohonan
pemindahan alat dan bahan bila diperlukan
- Dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab atas segala sesuatu
yang bersangkutan dengan masalah teknis atau pengelola proyek
- Bertanggung jawab atas surat masuk dan surat keluar dari proyek
tersebut
- Menjamin:
a. Tersedianya tenaga kerja, material dan alat yang memadai.
b. Tersedianya gambar kerja untuk dilaksanakan oleh mandor/sub
kontraktor.
c. Tersedianya dana pembayaran upah Mandor.

g. Quality Control
Quality control adalah orang/badan yang berfungsi untuk mengontrol proses
dan pencapaian hasil kerja di lapangan.
Tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut :
- Memberikan saran–saran perbaikan apabila terjadi penurunan kemajuan
atas proses dan pencapaian hasil sesuai dengan volume pekerjaan yang
dikerjakan oleh kontraktor dan mengacu kepada time schedule.
- Bertanggung jawab terhadap kualitas pelaksanaan baik tenaga kerja,
material, maupun material.

h. Pengadaan (Logistic)
Tugas logistic antara lain:
- Bertanggung jawab kepada manajer proyek
- Bertanggung jawab terhadap pengadaan jumlah dan mutu material yang
diperlukan dalam pelaksanaan proyek tepat pada waktunya

10
- Menjaga keamanan material dan alat-alat yang disimpan di dalam
gudang penyimpanan
- Mengurus dan bertanggung jawab terhadap semua surat-surat transaksi
peralatan maupun material sebagai arsip
- Membuat laporan keuangan, absensi pegawai dan tenaga kerja
- Mengawasi pengadaan, pemakaian dan penempatan material di gudang
- Mengadakan pengecekan atas kebenaran barang yang datang dari
rekanan harus sesuai dengan yang diminta
- Menerima dan mengeluarkan barang.

i. Surveyor
Fungsi dari surveyor adalah untuk membantu site manager dalam urusan
pengukuran di lapangan.
Adapun tugas surveyor adalah :
- Membuat rencana dan mengusulkan kepada site manager mengenai
kebutuhan alat–alat ukur sesuai dengan besarnya areal dan schedule
master kerja.
- Memastikan pengadaan alat–alat ukur yang telah disetujui site manager
perihal jumlah, jenis, dan kelayakan pakai
- Memastikan bahwa hasil survei di lapangan sesuai dengan persyaratan
teknis yang ditentukan.
- Melaporkan dan berkomunikasi langsung dengan site manager, bila
terjadi ketidak sesuaikan gambar dengan keadaan di lapangan.

11
2.1.1. Data Umum Proyek
A. Data Informasi Proyek
Site Manager (SM) : Morris E. Tamba
Pelaksana : Budi Moko Prabowo
Engineering : Rachmat Syahriza
Surveyor : Kanif
Ass. Surveyor : Atin
Mekanik : Norman
Ass. Mekanik : Amri
Administrasi, Logistik, & keuangan : Giordany

B. Data Teknis Proyek


1. Luas Lahan : 1 Hektar
2. Struktur Bangunan : Beton
3. Jumlah Tingkat Gedung : 5 tingkat.

12
2.2. Lokasi Proyek

Pekerjaan Pembangunan Proyek Suzuya Jl. Karya Wisata lokasi kerja praktek
ini dilakukan di Proyek Mall suzuya karya wisata di Jl. Karya Wisata Medan

Gambar 2.1: Lokasi Pembangunan proyek suzuya Jl. Karya Wisata Medan
melalui satelit google maps.

13
BAB 3

STUDI PUSTAKA

3.1 Pile Cap


Pile cap merupakan suatu cara untuk mengikat pondasi sebelum didirikan
kolom di bab atasnya. Pile cap tersusun atas tulangan baja berdiameter 16 mm, 19
mm dan 25mm yang membentuk suatu bidang dengan ketebalan 50 mm dan lebar
yang berbeda-beda tergantung dari jumlah tiang yang tertanam.
Fungsi dari pile cap yaitu untuk mendapatkan beban dari kolom yang lalu akan
terus disebarkan ke tiang pancang dimana masing-masing pile mendapatkan 1/N
dari beban oleh kolom dan harus ≤ daya dukung yang diijinkan (Y ton) (N= jumlah
kelompok pile). Makara beban maksimum yang sanggup diterima oleh pile cap dari
suatu kolom yaitu sebesar N x (Y ton).

Gambar 3.1: Bentuk umum Pile Cap.

3.2 Tujuan Pile Cap


Agar lokasi kolom benar-benar berada dititik sentra pondasi sehingga tidak
menyebabkan eksentrisitas yang sanggup menyebabkan beban embel-embel pada
pondasi. Selain itu, menyerupai halnya kepala kolom, pile cap juga berfungsi untuk
menahan gaya geser dari pembebanan yang ada. Bentuk dari pile cap juga
bervariasi dengan bentuk segitiga dan persegi panjang. Jumlah kolom yang diikat
pada tiap pile cap pun berbeda tergantung kebutuhan atas beban yang akan
diterimanya. Terdapat pile cap dengan pondasi tunggal, ada yang mengikat 2 dan 4
buah pondasi yang diikat menjadi satu.

14
3.3 Pengerjaan Pile Cap (dengan bekisiting)
3.3.1 Metode kerja untuk pengerjaan pemasangan papan Multiplek
a) Setelah lantai kerja terpasang dan pembesian pile cap diletakkan, langsung
papan Multiplek dipasang mengelilingi tulangan pile cap dengan meletakan
tahu beton (decking) sebagai pengganjal denga tebal yang ditentukan dan
diikat erat menggunakan kawat besi.
b) Sebelum papan Multiplek dipasang, pada sisi luar papan tersebut di lapisi
cairan anti rayap, karena untuk pekerjaan anti rayap tidak bisa dikerjakan jika
permukaannya tergenang oleh air.
c) Bagian luar pada bekisting papan Multiplek diurug dengan tanah dan
sambungan pada papan Multiplek ditutup menggunakan acian pada pile cap
dan sudah bisa langsung di lakukan pengecoran.

Gambar 3.2: Pengerjaan Bekisting Multiplek Pile Cap (konvensional).

15
Pengerjaan Tie Beam (dengan bekisting multiplek )

Gambar 3.3: Pengerjaan Tie Beam dengan bekisting multiplek.

3.3.2 Metode kerja untuk pengerjaan pemasangan papan GRC


a) Setelah lantai kerja terpasang dan pembesian pile cap diletakkan, langsung
papan GRC dipasang mengelilingi tulangan pile cap dengan meletakan tahu
beton (decking) sebagai pengganjal dengan tebal yang ditentukan dan diikat
erat menggunakan kawat.
b) Bagian luar pada bekisting papan GRC diurug dengan tanah dan sambungan
pada papan GRC ditutup menggunakan acian pada pile cap dan sudah bisa
langsung di lakukan pengecoran.
c) Papan GRC ditinggal didalam tanah karena bukan meterial kayu sehingga
tidak akan mengundang rayap.

Gambar 3.4: Pengerjaan Pile cap menggunakan bekisting GRC.

16
Pengerjaan Tie Beam (dengan bekisting GRC)

Gambar 3.5: Pengerjaan Tie Beam menggunakan Bekisting GRC.

3.4 Alat Pelaksanaan Pile Cap

a. Excavator
Excavator adalah suatu alat berat yang diperuntukkan memindahkan suatu
material sehingga, dapat meringankan pekerjaan yang berat apabila dilakukan
dengan tenaga manusia dan juga mempercepat waktu pengerjaan untuk menghemat
waktu. Excavator (Hydraulic Excavator) adalah peralatan konstruksi berat yang
terdiri dari booming, gayung, ember dan taksi pada platform berputar dikenal
sebagai “rumah”.

Gambar 3.6: Excavator (Hydraulic Excavator).

17
Gambar 3.7: Spesifikasi Excavator.

b. Truk Mixer
Mixer truck adalah kendaraan pengakut adukan beton ready mix dari tempat
pembuatannya ke lokasi proyek (Gambar 3.7). Selama proses pengangkutan tabung
truk mixer harus selalu berputar agar tidak terjadi pengerasan ataupun pemisahan
agregat, sehingga mutu beton yang dibawa tidak berubah dari mutu yang
dikehendaki. Kapasitas adonan yang dibawa oleh alat ini berkapasitas 7.5 m3.

Gambar 3.8: Truck Mixer.

18
c. Pompa Air
Pompa air digunakan untuk membuang air dari lokasi pengerjaan pile cap,
sehingga mempermudah pengerjaan pile cap (Gambar 3.9).

Gambar 3.9: Pompa air.

d. Bar Bender
Bar bender merupakan alat yang digunakan untuk membengkokkan tulangan
baja dengan ukuran yang dikehendaki (Gambar 3.10).

Gambar 3.10: Bar bender.

19
e. Bar Cutter
Bar cutter merupakan alat yang digunakan untuk memotong tulangan baja
dengan ukuran yang dikehendaki (Gambar 3.11).

Gambar 3.11: Bar cutter.

f. Mesin Las
Mesin las digunakan untuk mengelas rangka tulangan baja yang telah dirakit
dalam sebuah lubang pile cap (Gambar 3.12-3.13). Mesin las juga digunakan untuk
mengelas spiral pada bagian ujung-ujung tulangan baja.

Gambar 3.12: Tabung gas untuk pengelasan.

20
Gambar 3.13: Kepala las.

g. Waterpass
Waterpass digunakan untuk menetukan elevasi untuk lantai, balok, dan lain-
lain yang membutuhkan elevasi berdasarkan ketinggian titik yang diketahui. Alat
ini digunakan untuk mengecek ketebalan lantai saat pengecoran, sehingga lantai
yang dihasilkan datar.

Gambar 3.14: Waterpass.

21
h. Concrete Vibrator
Concrete vibrator adalah alat yang digunakan saat pengecoran dimana alat
ini berfungsi untuk pemadatan beton yang dituangkan dalam bekisting, dimana hal
ini ditujukan untuk mengeluarkan kandungan udara yang terjebak dalam
air campuran beton sehingga dengan getaran yang dihasilkan oleh vibrator maka
beton akan mengeluarkan gelembung udara dari beton sehingga beton yang dihasilkan
akan mendapatkan kekuatan yang merata dan juga untuk menghindari adanya
keropos atau sarang labah pada beton.

Gambar 3.15: Mesin vibrator.

Gambar 3.16: Kepala vibrator.

22
3.4.1. Bahan bahan yang digunakan untuk pile cap
a. Campuran Beton
Beton adalah campuran antara semen, aggregate kasar (kerikil atau split),
aggregate halus (pasir), dan air (Gambar 3.17). Biasa juga ditambah dengan
addictive sebagai komponen ke 5, yaitu bahan tambah berupa cairan kimia yang
memiliki fungsi yang bermacam-macam, seperti mempercepat pengerasan beton,
memperlambat dan lainnya.

Gambar 3.17: Campuran beton.

Keempat komponen dasar ini dicampur sedemikian rupa dengan


perbandingan yang bermacam-macam, disesuaikan dengan target mutu kekuatan
beton yang diinginkan. Mutu beton ini maksudnya kekuatan beton dalam menerima
gaya tekan sampai beton tersebut mengalami pecah (crash). Pengukuran mutu
beton ini dapat diketahui dengan beberapa macam alat seperti, mesin Penetration
Test (di laboratorium) atau dengan alat sederhana Hammer Test.
Komposisi bahan baku yang berbeda-beda akan mempengaruhi sifat beton
yang dihasilkan nantinya (Tabel 3.2). Pada proyek ini mutu beton yang digunakan
adalah K-350 untuk beton pile cap dengan slump 12 dan K-175 untuk plat lantai.

23
Tabel 3.1: Perhitungan harga satuan pekerjaan beton (SNI DT-91-0008-2007).

Semen Pasir Kerikil Air w/c


Mutu Beton
(kg) (kg) (kg) (liter) ratio
7.4 MPa (K 100) 247 869 999 215 0.87
9.8 MPa (K 125) 276 828 1012 215 0.78
12.2 MPa (K 150) 299 799 1017 215 0.72
14.5 MPa (K 175) 326 760 1029 215 0.66
16.9 MPa (K 200) 352 731 1031 215 0.61
19.3 MPa (K 225) 371 698 1047 215 0.58
21.7 MPa (K 250) 384 692 1039 215 0.56
24.0 MPa (K 275) 406 684 1026 215 0.53
26.4 MPa (K 300) 413 681 1021 215 0.52
28.8 MPa (K 325) 439 670 1006 215 0.49
31.2 MPa (K 350) 448 667 1000 215 0.48

b. Air
Air yang digunakan untuk membuat beton harus bersih, tidak boleh
mengandung minyak, asam, alkali, garam, zat organik, atau bahan lain yang bersifat
merusak beton dan baja tulangan. Sebaiknya menggunakan air tawar yang dapat
diminum (Istimawan, 1993).
Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen, serta utuk menjadi bahan
pelumas antara butir-butir aggregate agar dapat dengan mudah dikerjakan dan
dipadatkan. Untuk bereaksi dengan semen, air yang dibutuhkan hanya sekitar 25%
berat semen saja, namun kenyataannya nilai faktor air semen yang dipakai sulit
kurang dari 0,35.

c. Baja Tulangan
Baja tulangan dalam beton berfungsi untuk menahan gaya tarik. Tetapi untuk
mencapai tujuan yang diharapkan, batang tulangan tidak boleh dipasang
sembarangan melainkan harus dibentuk menjadi suatu jaringan tulangan yang
masing-masing batang tulangan saling dikaitkan.
Baja tulangan yang dapat digunakan adalah jenis baja yang terkenal dan
mempunyai standart mutu tertentu. Pada proyek ini digunakan batang deformasian
(BJTD), yaitu batang tulangan baja yang permukaannya dikasarkan secara khusus
dan diberi sirip teratur dengan pola tertentu (Gambar 3.18).

24
Gambar 3.18: Batang tulangan baja.

Pemotongan dan pembengkokkan batang tulangan dilakukan dengan


menggunakan mesin Bar Cutter dan Bar Bender. Batang tulangan harus dipotong
sesuai dengan gambar kerja.
1) Kait Standar
Pembengkokkan tulangan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1. Bengkokan 180° ditambah perpanjangan 4db, tetapi tidak kurang dari 60
mm, pada ujung bebas kait (Gambar 3.19).
2. Bengkokan 135° ditambah perpanjangan 6 db, tetapi tidak kurang dari 75
mm, pada ujung bebas kait (Gambar 3.19).
3. Bengkokan 90° ditambahkan 12 db pada ujung bebas kait (Gambar 3.20)

Gambar 3.19: Kait standar untuk tulangan utama (SNI-03-2847-2002)

25
2) Kait pengikat dan sengkang
Ketentuan untuk sengkang dan kait pengikat adalah sebagai berikut:
1. Batang D-8 sampai D-25 bengkokan 135° ditambah perpanjangan 6 ds atau
tidak kurang dari 75 mm pada ujung bebas kait (Gambar 3.20).
2. Batang D-16 dan yang lebih kecil, bengkokan 90° ditambah perpanjangan
6 ds pada ujung bebas kait (Gambar 3.20).
3. Batang D-19, D-22, dan D-25 bengkokan 90° ditambah perpanjangan 12
ds pada ujung bebas kait (Gambar 3.20).

Gambar 3.20: Kait standar untuk sengkang dan kait pengikat (SNI-03-2847
2002).

3) Diameter bengkokan minimum


Diameter bengkokan minimum tulangan harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
1) Diameter bengkokan yang diukur pada bagian dalam batang tulangan tidak
boleh kurang dari nilai dalam (Tabel 3.4). Ketentuan ini tidak berlaku untuk
sengkang dan sengkang ikat dengan ukura D-10 sampai D-16.
2) Diameter dalam dari bengkokan untuk sengkang dan sengkang ikat tidak
boleh kurand dari 4 db untuk batang D-16 dan yang lebih kecil. Untuk
batang yang lebih besar daripada D-16, diameter bengkokan harus
memenuhi (Tabel 3.4).

26
3) Diameter dalam untuk bengkokan jaring kawat baja las (polos atau ulir)
yang digunakan untuk sengkang ikat tidak boleh kurang dari 4 db untuk
kawat ulir yang lebih besar dari D-7 dan 2 db untuk kawat lainnya.

Tabel 3.4: Diameter bengkokan minimum (SNI 03-2847-2002).

Ukuran tulangan Diameter minimum


D-10 sampai D-25 6db
D-29, D-32, dan D-36 8db
D-44 dan D-56 10db

4) Kawat baja
Kawat baja pengikat yang dimaksud disini adalah kawat baja yang
digunakan untuk mengikat atau merangkai tulangan pada beton bertulang. Kawat
baja pengikat ini digunakan untuk mengikat tulangan dengan sengkang pada balok
maupun kolom dan juga mengikat pada pelat lantai agar jarak tulangan dapat diatur
sesuai gambar kerja. Kawat pengikat ini terbuat dari besi lunak yang lebih dahulu
dipijarkan dan biasanya berukuran 1 mm (Gambar 3.18).

Gambar 3.21: Kawat pengikat.

27
3.5 Tipe-tipe Sambungan Las
Mengelas merupakan teknik penyambungan besi dan logam yang biasa
dilakukan dalam konstruksi bangunan, kerangka kendaraan baik laut, udara dan
darat. Teknik mengelas yang baik memang perlu keahlian khusus dengan
pengalaman yang baik dalam bidangnya. Pengelasan menggunakan las listrik atau
las karbit harus tahu teknik dasar cara membuat sambungan las yang kuat, sehingga
kualitas sambungan besi atau baja yang disambung akan menjadi kuat dan tahan
lama.
a. Jenis-jenis sambungan las, antara lain adalah:
1) Sambungan sebidang (Butt Joint)
2) Sambungan lewatan (Lap Joint)
3) Sambungan tegak (Tie Joint)
4) Sambungan sudut (CornerJoint)
5) Sambungan sisi (Edge Joint)

Gambar 3.22: Tipe-tipe sambungan las.

b. Jenis-jenis las
1) Las tumpul (groove welds), las ini dipakai untuk menyambungkan batang-
batang sebidang.
2) Las sudut (fillet welds), las ini paling banyak dijumpai pada proyek ini.
3) Las baji dan pasak (slot and plug welds), jenis las ini biasa digunakan
bersamaan dengan las sudut.

28
Gambar 3.23: Jenis-jenis las.

c. Pembatasan ukuran pada las sudut yaitu:


1) Untuk komponen kurang dari 6,4 mm diambil setebal komponen tersebut.
2) Untuk komponen dengan tebal 6,4 mm atau lebih diambil 1,6 mm kurang
dari tebal komponen
3) Panjang efektif las sudut adalah seluruh panjang las sudut berukuran penuh
dan paling tidak harus 4 kali ukuran las, jika kurang maka dianggap sebesar
¼ kali panjang efektif.

Gambar 3.24: Ukuran maksimum las.

29
3.6 Kesehatan Keselamat Kerja (K3)

Penerapan sistem keselamatan dan kesehatan kerja pada proyek Pembangunan


Suzuya Jl. Karya Wisata berjalan cukup baik, tidak ada kecelakaan yang
menghambat proyek atau bahkan yang membuat proyek menjadi terhenti.
Perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan pada proyek
Pembangunan Suzuya Jl. Karya Wisata antara lain helm safety, rompi safety, sepatu
safety, kacamata pelindung, sarung tangan dan masker. Selain alat pelindung diri
terdapat juga sarana informasi K3 Proyek yang menerangkan mengenai slogan–
slogan K3.

3.6.1. Promosi Program K3


Promosi program K3 adalah pemasangan sign board K3 yang berisi mengenai
slogan–slogan yang mengingatkan akan perlunya bekerja dengan selamat, selain itu
bisa berisi gambar–gambar atau plamfet tentang bahaya kecelakaan yang mungkin
dapat terjadi di lokasi pekerjaan.
Pada proyek Pembangunan Suzuya Jl. Karya Wisata terdapat beberapa plamfet
mengenai pesan K3L, slogan K3L, serta peringatan mengenai penggunaan APD
yang baik dan benar pada lokasi proyek.

Gambar 3.25: Pesan K3L.

30
Gambar 3.26: Slogan K3L.

Gambar 3.27: Peringatan penggunaan APD yang baik & benar.

Gambar 3.28: Peringatan memasuki area wajib safety.

31
Gambar 3.29: Slogan utamakan keselamatan dan kesehatan kerja.

3.6.2. Alat Pelindung Diri (APD)


Alat Pelindung Diri (APD) adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan
untuk melindungi seseorang yang fungsinya menutupi sebagian atau seluruh tubuh
dari potensi bahaya di tempat kerja.
Berdasarkan fungsinya, ada beberapa macam APD yang digunakan oleh tenaga
kerja antara lain:

1. Alat Pelindung Kepala (Helm Safety)

Gambar 3.30: Helm safety.

Helm safety berfungsi untuk mencegah dan melindungi rambut terjerat


oleh mesin yang berputar dan untuk melindungi kepala dari bahaya
terbentur benda tajam atau keras, bahaya kejatuhan benda atau terpukul
benda yang melayang, sinar matahari, dan lain-lain.

32
2. Rompi Kerja (safety)

Gambar 3.31: Rompi Kerja (safety).

Rompi safety digunakan untuk mencegah terjadinya kontak kecelakaan


pada pekerja, mengurangi resiko kecelakaan kerja, selain itu agar dapat
dilihat oleh pekerja lain saat bekerja di malam hari karena terbuat dari bahan
polyester yang dirancang khusus yang dilengkapi oleh reflector atau
pemantul cahaya

3. Sepatu Safety

Gambar 3.32: Sepatu safety.

33
Sepatu safety merupakan salah satu APD yang wajib digunakan oleh
pekerja yang memungkinkan pekerja untuk tidak terkena pecahan kaca, besi
ataupun serpihan lainnya yang sangat membahayakan telapak kaki. Selain
itu sepatu safety juga dipadukan dengan metal, dibagian bawahnya terbuat
dari karet yang tebal sehingga akan membuat penggunanya dapat berjalan
di atas permukaan yang licin.

4. Sarung Tangan Kerja

Gambar 3.33: Sarung Tangan Kerja.

Sarung tangan kerja digunakan untuk melindungi tangan pekerja dari


benda–benda tajam yang berbahaya, melindungi dari benda panas, serta
melindungi dari cairan kimia yang berbahaya.

5. Kacamata Safety

Gambar 3.34: Kacamata Safety.

34
Kacamata safety merupakan pelindung yang menutupi area sekitar
mata. Kacamata safety dapat melindungi mata dari debu, radiasi dan
percikan bahan kimia cair, melindungi mata dari sinar yang menyilaukan
seperti pada mengelas, dan lain-lain.

3.6.3. Sarana Peralatan K3


Sarana peralatan K3 yang tersedia pada proyek Pembangunan Suzuya Jl. Karya
Wisata adalah alat pemadan (fire extinguisher) yang terdapat pada direksi keet serta
kotak P3K yang berisi kasa steril, perban, plester, kapas, gunting, peniti, sarung
tangan, masker, pinset, povidon lodin, alkohol 70%, dan lain-lain.

Gambar 3.35: Kotak P3K.

Gambar 3.36: Fire Extinguishe.

35
BAB 4

PELAKSANAAN PEKERJAAN

4.1. Gambaran Umum Proyek

Aktivitas yang dilakukan oleh para pengunjung dalam pusat perbelanjaan


sangat beragam. Mulai dari berbelanja, menikmati makanan di restoran favorit atau
sekedar berjalan-jalan dan sekedar melihat-lihat saja (berwindow-shopping), semua
dapat dinikmati di pusat perbelanjaan tersebut. Disamping fungsi utama sebagai
tempat berbelanja, pusat perbelanjaan pada umumnya menyedikan sarana hiburan
dalam misinya menawarkan suasana yang kondusif bagi para pengunjung untuk
menghabiskan waktunya dengan bersantai. Salah satunya adalah pembangunan
proyek Suzuya di Jl. Karya Wisata Kota Medan. Hal ini dilatar belakangi karena
banyaknya persaingan bisnis.
Suzuya ini dibangun tepat berada di Jl. Karya Wisata Kota Medan. Lokasi
proyek yang penulis amati berada di Jl. Karya Wisata No.66.

Gambar 4.1: Denah lokasi proyek.

Pelaksanaan pembangunan dimulai dengan melakukan pembebasan lahan yang


ditempati masyarakat disekitar lokasi proyek, setelah pembebasan lahan selesai
maka pihak kontraktor melakukan netralisasi lahan agar menjadi lahan yang siap
untuk memulai proses awal dari pembangunan itu sendiri seperti melakukan

36
pengujian terhadap sampel tanah serta analisis struktur tanah di dalam permukaan
tanah untuk mengetahui daya dukung tanah sebagai acuan dalam merencanakan
struktur pondasi dari pembangunan suzuya tersebut.

4.2. Tahapan Pengerjaan Pile Cap

Pada proyek ini penulis memilih berfokus kepada pengerjaan pile cap saat
melakukan kerja pratek di lapangan. Ini adalah proses lanjutan dari pengerjaan
pancang yang sebelumnya telah selesai dilakukan. Pile cap yang direncanakan
memiliki dimensi 1.35 meter x 1.35 meter dengan tebal 0.75 meter disokong oleh 6
bored pile.
Pile cap merupakan konstruksi penggabung antara tiang-tiang pancang
sehingga menjadi tiang kelompok (pile group) dan penghubung antara tiang
pancang dengan kolom. Pile cap mempunyai fungsi untuk menyebarkan beban ke
pile grup. Pile cap digunakan sebagai pondasi untuk mengikat tiang pancang yang
sudah terpasang dengan struktur di atasnya yaitu tie beam dan slab. Setelah
pekerjaan pile yang meliputi pemancangan dan pemotongan pile yang tersisa di
permukaan tanah, maka dilakukan penulangan untuk membuat pile cap.
Pile cap tersusun atas tulangan baja berdiameter 10 mm, 16 mm dan 19 mm
yang membentuk suatu bidang dengan ketebalan 10 mm dan lebar yang berbeda-
beda tergantung dari jumlah tiang yang tertanam. Fungsi dari pile cap adalah untuk
menerima beban dari kolom yang kemudian akan terus disebarkan ke tiang pancang
dimana masing-masing pile menerima 1/N dari beban oleh kolom dan harus ≤ daya
dukung yang diijinkan (Y ton) (N= jumlah kelompok pile). Jadi beban maksimum
yang bisa diterima oleh pile cap dari suatu kolom adalah sebesar N x (Y ton).
Pile cap ini bertujuan agar lokasi kolom benar-benar berada dititik pusat
pondasi sehingga tidak menyebabkan eksentrisitas yang dapat menyebabkan beban
tambahan pada pondasi. Selain itu, seperti halnya kepala kolom, pile cap juga
berfungsi untuk menahan gaya geser dari pembebanan yang ada.
Adapun tahapan pengerjaan pile cap yang penulis amati di lapangan adalah
sebagai berikut :

37
d. Penggalian tanah
Penggalian tanah ini merupakan tahap awal pengerjaan pile cap, dimana
sebelumnya lokasi tanah tersebut merupakan titik pengerjaan pemancangan
sebelumnya telah selesai. Penggalian dilakukan mengunakan alat berat yaitu
Excavator yang dioperasikan oleh operator. Dalam satu titik lokasi, operator
mampu menyelesaikan penggalian selama 1 hari. Adapun kendala yang dihadapi
adalah lahan yang sempit sehingga terjadi penumpukan tanah galian menyebabkan
terhambatnya mobilitas alat berat itu sendiri sepertipada Gambar 4.2.

Gambar 4.2: Proses penggalian tanah.

e. Pembobokan pada bagian beton bored pile


Pada tahap ini, para pekerja melakukan pembobokan pada beton mengunakan
alat manual seperti palu dan besi pahat yang telah dimodifikasi untuk memudahkan
pekerjaan. Tidak digunakannya jack hammer dalam proses ini karna dalam
penggunaanya memerlukan tenaga yang besar untuk memegang alat tersebut,
sehingga pekerja lebih memilih memakai alat manual. Adapun pembobokan
dilakukan hingga tersisa tulangan besi yang nantinya akan digunakan sebagai stek
pondasi sebagai pengikat pile cap. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
pembobokan adalah 3 hari pengerjaan.

38
Gambar 4.3: Proses pembobokan.

f. Pembuatan Bekisting
Bekisting ialah struktur non permanen yang berfungsi untuk menahan beban
beton dan beban hidup bangunan. Bekisting juga berguna sebagai cetakan untuk
membentuk beton dengan model dan ukuran tertentu. Bisa dibilang bekisting
berperan penting dalam mendukung kelancaran proses pekerjaan pengecoran beton.
Pada proyek ini bekisting langsung dibuat di lokasi proyek pembangunan
mengunakan material kayu dan plat besi.

Gambar 4.4: Pemasangan bekisting.

39
g. Pembuatan Lantai Kerja (Lean Concrete)
Pembuatan Lantai Kerja (LC) bertujuan antara lain:
1) untuk memudahkan pekerja berdiri diatas lahan datar,
2) merupakan dudukan besi lapis bawah (untuk pondasi rakit atau pile cap).
3) Menahan gaya angkat (up-lift force) tanah di bawahnya.
4) Untuk memisahkan air tanah dan tulangan besi agar tidak terjadi
pengeroposan.
Pada pembuatan lantai kerja di proyek ini direncanakan memiliki ketebalan 5
cm dan menggunakan semen portland dengan mutu K-175 sebanyak 4 kubik beton
menggunakan truk molen. Adapun waktu yang dibutuhkan untuk pengerjaan lantai
kerja ini adalah 1 jam pengerjaan menggunakan 3 orang pekerja yang diawasi
langsung oleh pelaksana. Kendala yang dihadapi adalah banyaknya lumpur
menyebabkan pekerja kesulitan meratakan beton.

Gambar 4.5: Proses pengerjaan pelat lantai.

h. Pemasangan Tulangan Pile Cap


Proses pemasangan tulangan pile cap dilakukan oleh para pekerja selama 4
hari. Kendala yang dihadapi pekerja adalah meluruskan besi stek yang bengkok
agar tulangan dapat diposisikan sesuai dengan rencana. Kendala lain yaitu cuaca
apabila turun hujan maka pekerjaan menjadi terhenti. Adapun keterangan mengenai
detail tulangan telah terlampir dalam lembar kerja penulangan pile cap.

40
Gambar 4.6: Proses perakitan tulangan pile cap.

i. Pengecoran Beton Pile Cap


Proses pengecoran dilakukan menggunakan beton mutu K-350 sebanyak 80
kubik. Sebelum melakukan proses pengecoran perlu dilakukan uji slump yang
bertujuan untuk mengetahui workability beton segar sebelum diterima dan
diaplikasikan dalam pekerjaan pengecoran. Workability beton segar pada umumnya
diasosiasikan dengan :
1) Homogenitas atau kerataan campuran adukan beton segar (homogenity)
2) Kelekatan adukan pasta semen (cohesiveness)
3) Kemampuan alir beton segar (flowability)
4) Kemampuan beton segar mempertahankan kerataan dan kelekatan jika dipindah
dengan alat angkut (mobility)
5) Mengindikasikan apakah beton segar masih dalam kondisi plastis (plasticity)

41
Gambar 4.7: Slump test.

Adapun proses berikutnya adalah pembuatan sampel silinder beton yang


bertujuan sebagai sampling pada saat tes uji tekan (compression test) seperti pada
Gambar 4.11. Kendala yang dihadapi saat proses pengecoran adalah meratakan
campuran beton diantara tulangan baja. Selain itu proses pemadatan beton juga
merupakan hal yang perlu diperhatikan.
Pemadatan cor beton adalah kegiatan menghilangkan udara yang terjebak
dalam cor-coran beton yang dapat mengakibatkan keropos beton dengan cara
pengetaran atau penusuk-nusukan cor-coran beton. Pemadatan dilakukan segera
setelah campuran beton dituang, dimana pada keadaan tersebut sifat beton masih
plastis. Selain untuk menghasilkan beton yang kuat dan tahan lama, pemadatan
beton juga akan memberikan hasil permukaan beton halus. Pemadatan beton
seharusnya dilakukan dengan mengunakan alat vibrator beton (concrete vibrator).

Gambar 4.8: Sampel silinder beton.

42
BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Setelah menulis, dan membaca laporan ini, penulis mengambil beberapa


kesimpulan:
1. Tujuan pile cap pada proyek pembangunan Suzuya adalah untuk menerima
beban dari kolom dan kemudian akan terus disebarkan ke pondasi yang ada
di bawahnya.
2. Pekerjaan pile cap harus tepat di pusat pondasi agar tidak menyebabkan
aksentisitas yang menyebabkan beban tambahan pada pondasi.
3. Sebelum melakukan pekerjaan pile cap dilakukan beberapa tes uji antara lain
PDA Test (Pile Driving Analyzer) dan PIT (Pile Integrity Test) yang bertujuan
untuk mengetahui kekuatan pondasi sebelum dibebani dengan beban kolom.
4. Pada proyek ini manajemen proyek sangat penting berguna untuk mencapai
target dan waktu yang telah ditentukan dan disepakati kedua belah pihak di
dalam kontrak kerja.

5.2. Saran

Pelaksanaan kerja praktek ini merupakan bagian penting dari perkuliahan di


jurusan teknik sipil. Dengan adanya kerja praktek, mahasiswa mampu
mengaplikasikan ilmu teori dan praktek langsung di lapangan. Kami selaku
mahasiswa menyarankan agar, waktu dari kerja praktek dapat diperpanjang guna
untuk menambah ilmu yang ada di lapangan serta pengalaman kerja di lapangan.
Kami juga menyarankan agar pihak fakultas lebih peduli kepada mahasiswa yang
sedang melakukan kerja praktek di lapangan.

43

Anda mungkin juga menyukai