Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

KONSEP MEDIS GENERAL WEAKNESS

A. Defenisi
General weakness adalah kelemahan yang merupakan suatu keluhan
yang paling sering diutarakan oleh pasien. Kelemahan adalah penurunan
fungsi normal dari satu atau lebit otot manusia, tingkat tenaga yang rendah
dan perasaan mudah letih setelah melakukan aktivitas.

B. Etiologi

1. Penurunan kesadaran pada awalnya dapat menyebabkan kelemahan


dikarenakan faktor asupan nutrisi yang menjadi berkurang, metabolisme
yang meningkat,
2. Infeksi merupakan salah satu penyebab munculnya kelemahan pada
pasien terutama pasien berusia lanjut. Infeksi memiliki penyebab, mulai
dari bakteri, virus, parasit, jamur, hingga penurunan system imun tubuh
yang menyebabkan agen-agen oportunistik dapat menimbulkan gejala
infeksi.
3. Penurunan intake makanan, kelemahan merupakan keadaan dimana
tubuh memiliki tingkat tenaga yang rendah. Pada pasien lanjut usia hal
ini dapat terjadi dikarenakan penurunan intake makanan yang
seharusnya dikonsumsi
4. Obat-obatan yang menyebabkan kelemahan, beberapa obat memiliki
efek samping menimbulkan kelemahan apabila dikonsumsi dalam
jangka waktu lama. Diantaranya : obat penurun tekanan darah, obat
antidepressan
C. Patofisiologi
Sel-sel otot bekerja mendeteksi aliran impuls listrik dari otak, yang
memberi sinyal mereka berkontraksi melalui pelepasan kalsium oleh
retikulum sarkoplasma. Kalsium yang keluar dari sel otot menyebabkan
kelemahan dikarenakan kalsium yang tersedia dalam otot menjadi sedikit
sehingga otot sulit untuk berkontraksi.
Substrat dalam ototnya umumnya berfungsi memicu kontraksi otot,
namun akibat dari creatine fosfat yang menyimpan energy sehingga dapat
memungkinkan kontraksi kuat otot habis atau berkurang menyebabkan
kurangnya sumber energy intraseluler untuk memicu kontraksi menyebabkan
otot berhenti berkontraksi dan terjadilah general weakness.

D.
E. Manifestasi Klinik
1. Rasa lelah yang sulit hilang
2. Sulit berkonsentrasi
3. Pingsan
4. Kualitas tidur yang tidak baik
5. Nyeri otot,sendi atau punggung
6. Pembesaran kelenjar pada daerah leher dan ketiak
7. Sakit kepala, pusing atau vertigo
8. Nyeri tenggorokan
9. Berdebar-debar
F. Komplikasi
1. Sindrom kelemahan kronis
2. Gagal ginjal kronis
3. Penyakit paru obstruktif kronik
4. Penyakit jantung
5. Anemia
6. Diabetes
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah lengkap
2. Gula darah
3. Serum elektrolit
4. Ureum kreatinin
5. Kalsium
H. Penatalaksanaan
1. Tatalaksana pengobatan
Pengobatan didasarkan dengan diagnosa, apabila diketahui.
Kondisi-kondisi kelainan metabolic, nutrisi, dan endokrin, dapat
dikoreksi dengan mengobati faktor penyebab, pengobatan spesifik
diperlukan untuk infeksi seperti TB, pneumonia, atau sinusitis. Pada
pasien dengan keganasan, kelemahan dapat timbul karena faktor
kemoterapi atau radioterapi. Pengobatan pada pasien tua memerlukan
perhitungan dosis yang disesuaikan (biasanya dengan penurunan
dosis) dan pembatasan regimen obat yang diberikan karena perubahan
fungsi tubuh pada pasien yang lanjut usia.
2. Tatalaksanan monitoring
Pengawasan terhadap perkembangan kondisi pasien geriatric
memiliki peran penting dalam rangkaian pengobatan penyakit yang
dihadapi. Pengawasan dapat berupa observasi perbaikan keadaan
umum, tanda-tanda vital, keluhan subjektif, produksi urine,
keseimbangan cairan, hingga pemeriksaan penunjang berkala untuk
melihat perjalanan kondisi pasien selama mendapat perawatan
3. Tatalaksana edukasi
Edukasi membantu rencana pengobatan dokter dapat berjalan
dengan baik, dikarenakan diperlukan kerja sama antara pasien,
keluarga, atau pendamping pasien, dan juga dari pihak tenaga
kesehatan yang terkait. Informasi yang dapat diberikan antara lain
penyakit yang diderita pasien, rencana pengobatan yang akan
diberikan, efek samping pengobatan yang mungkin terjadi.
I. Pencegahan
Pencegahannya yaitu:
1. Meingkatkan aktivitas fisik
2. Mengelolah stress dengan baik
3. Minum air lebih banyak
4. Tidak merokok.
5. Tidur sekurang-kurangnya 7 jam
6. Berendam dalam air hangat
7. Memilih makanan yang sehat
8. Berhati-hati dalam mengkonsumsi obat-obatan
BAB II

ASKEP GENERAL WEAKNESS

A. Pengkajian
1. Aktivitas/istirahat
Gejala: insomnia, sensitivitas meningkat, otot lemah, gangguan
koordinasi, kelelahan berat. Tanda: Atrofi otot.
2. Sirkulasi Gejala: palpitasi, nyeri dada (angina) Tanda: disritmia (Fibrilasi
atrium), irama gallop, murmur, peningkatan tekanan darah dengan
tekanan nada yang berat, takikardia saat istirahat, sirkulasi kolaps, syok
(krisis tirotoksikosis).
3. Eliminasi Gejala: urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam feses
(diare)
4. Integritas ego Gejala: Mengalami stres yang berat baik emosional maupun
fisik Tanda: Emosi labil (euforia sedang sampai delirium), depresi .
5. Makanan / cairan Gejala: Kehilangan berat badan yang mendadak,
nafsumakan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual
dan muntah Tanda: Pembesaran tiroid, goiter, edema non pitting terutama
daerah pretibial
6. Neurosensori Tanda: Bicaranya cepat dan parau, gangguan status mental
dan perilaku, seperti: bingung, disorientasi, gelisah, peka rangsang,
delirium, psikosis, stupor, koma, tremor halus pada tangan,
tanpa tujuan, beberapa bagian tersentak-sentak, hiperaktif
reflekstendon dalam (RTD)
7. Nyeri / kenyamanan Gejala: nyeri orbital, fotofobia
8. Pernafasan Tanda: frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea,
edema paru (pada krisis tirotoksikosis)
9. Keamanan Gejala: tidak toleransi teradap panas, keringat yang
berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada
pemeriksaan) Tanda: suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit
halus, hangat dan emerahan, rambut tipis, mengkilat, lurus, eksoftalmus:
retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi
eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat
parah.
10. Seksualitas Tanda: penurunan libido, hipomenore, amenore dan impoten
11. Penyuluhan / pembelajaran Gejala: adanya riwayat keluarga yang
mengalami masalah tiroid, riwayat hipotiroidisme, terapi hormon toroid
atau pengobatan antitiroid, dihentikan terhadappengobatan antitiroid,
dilakukan pembedahan tiroidektomi sebagian, riwayat pemberian insulin
yang menyebabkan hipoglikemia, gangguan jantung atau pembedahan
jantung, penyakit yang baru terjadi (pneumonia), trauma, pemeriksaan
rontgen foto dengan kontras.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Intoleransi aktivitas
2. Penurunan curah jantung
3. Ansietas
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
C. Rencana Intervensi Keperawatan
1. Intoleransi aktivitas
NIC:
a. Pantau vital sign pasien
2. Penurunan curah jantung
NIC:
a. Kaji adanya alergi makanan
3. Ansietas
NIC:
1. Kaji tingkat kecemasan pasien
2. Lakukan pendekatan yang menenangkan pasien
3. Berikan informasi yang akurat tentang penyakit pasien
4. Anjurkan keluarga untuk menemani pasien pada saat merasa cemas.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
NIC:
1. Monitor TTV
2. Anjurkan kompres air hangat
3. Anjurkan minum sedikit-sedikit tapi sering
4. Kolaborasi dengan dokter pemberian antipiretik

DAFTAR PUSTAKA

Buku saku Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014 – NANDA


International.

Bunner & Suddart. 2014, Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta : EGC
Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahern. 2012, Buku Saku Diagnosis Keperawatan:
Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC (Edisi 9). Jakarta:
ECG

Nurarif A. Huda, Kusuma H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta : MediAction

Sudoyo, Aru W. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1, Edisi 4. Jakarta :
Interna Publishing