Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN
A. Mempersiapkan Ide Dasar Karya Tulis Ilmiah
Tulisan bisa lahir karena adanya ide. Ide dapat diperoleh melalui berbagai
cara. Kita bisa mendapatkan ide melalui mata dengan cara mengamati dan melihat.
Telinga dapat digunakan untuk mendengarkan sesuatu yang nantinya dapat menjadi
ide. Demikian pula ketika kita merenung dan berpikir nanti akan memunculkan ide.
Ide yang baik diharapkan menjadi tulisan yang baik.
Untuk itu, perlu diketahui kriteria ide yang dapat menjadikan tulisan yang
baik. Kriteria tersebut adalah:
1. Ide itu bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya. Ide yang bermanfaat itu
antara lain mampu memberikan pencerahan kepada sebagian besar masyarakat
dan syukur bisa menjadi solusi atas masalah yang dihadapi masyarakat.
2. Objek yang ditulis itu benar-benar dikuasai penulis. Penguasaan materi
seseorang pada bidang tertentu dapat diketahui pada kedalaman dan ketajaman
analisis yang ditulis.
3. Ide yang akan dituangkan dalam tulisan itu memiliki kelebihan dari tulisan lain
meskipun tema dan objeknya sama. Kelebihan-kelebihan itu bisa dalam gaya
bahasa, system penulisan, format buku, cara pengungkapan ide, ketenaran
nama, dan lain-lain.
4. Gagasan itu merupakan sesuatu yang aktual. Aktualitas naskah tulisan juga
menjadi pertimbangan tersendiri bagi penulis. Untuk itu, disini penulis harus
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan fenomena masyarakat dari
hari ke hari.
5. Penulis memiliki kemauan dan kemampuan. Kemauan merupakan modal
utama bagi seseorang untuk melakukan kegiatan tulis menulis. Selain
kemauan, untuk menulis buku diperlukan kemampuan. Kemampuan menulis
disini tidak berarti bahwa menulis itu bakat. Sebab bakat itu sendiri baru
diketahui apabila seseorang berani mencoba dan berlatih terus menerus. Maka
bisa dikatakan bahwa menulis itu “bisa karena biasa”.1[1]

3
Untuk memulai sebuah tulisan ilmiah, kita memerlukan sebuah ide, topik, dan
judul sebagai pokok bahasan yang membatasi fokus tulisan kita. Batasan bahasan
diperlukan agar kita dapat fokus pada suatu topik tertentu saja. Dengan begitu kita
akan dapat menyajikan pembahasan yang padat, tetapi berisi, singkat, namun
tajam, spesifik, tetapi berkualitas.2[2]

B. Merumuskan Masalah
Sebelum merumuskan masalah ada beberapa langkah yang harus ditempuh ada
tiga, yaitu:
1. Identifikasi masalah
Masalah yang harus dipecahkan atau dijawab melalui penelitian selalu ada
tersedia dan cukup banyak, tinggallah si peneliti mengidentifikasina,
memilihnya, dan merumuskannya. Hal-hal yang dapat menjadi sumber
masalah adalah:
a. Bacaan
b. Seminar, diskusi, pertemuan ilmiah
c. Pengamatan spintas
d. Pengalaman pribadi
e. Perasaan intuitif
2. Pemilihan masalah
Setelah masalah di identifikasi belum merupakan jaminan bahwa
masalah tersebut layak dan sesuai untuk diteliti. Biasanya, dalam usaha
mengidentifikasikan atau menemukan masalah penelitian diketemukan lebih
dari satu masalah. Pertimbangan untuk memilih atau menentukan apakah suatu
masalah layak dan sesuai untuk diteliti. Pada dasarnya dilakukan dari dua arah,
yaitu: dari arah masalahnya dan dari arah si calon peneliti.
3. Perumusan masalah
Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, maka perlu dirumuskan. Perumusan ini
penting, karena hasilnya akan menjadi penuntun bagi langkah-langkah

4
selanjutnya. Tidak ada aturan umum mengenai cara merusmuskan masalah itu,
namun disarankanhal-hal berikut ini:
a. Masalah hendaklah dirumuskan dalam bentuk kalimat Tanya.
b. Rumusan itu hendaklah padat dan jelas.
c. Rumusan itu hendaklah memberi petunjuk tentang mungkinnya
mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan yang terkandung dalam
rumusan itu.3[3]

Menurut Jonathan Sarwono dalam bukunya pintar menulis karangan ilmiah


memaparkan cara menemukan masalah yang akan dikaji dapat dilakukan dengan
menggunakan teknik-teknik sebagai berikut:
1. Kita dapat melihat hasil kesimpulan dan rekomendasi hasil tulisan atau riset
yang pernah dilakukan oleh orang lain.
2. Kita dapat menemukan masalah dengan cara membaca teori yang berkaitan
dengan topik yang akan dikaji.
3. Teknik lain ialah dengan melihat masalah yang sudah dikaji oleh orang
lain4[4].
Agar kita data menrumuskan masalah dengan baik maka ada beberapa cara
untuk dipelajari diantanya sebaggai berikut :
1. Tulis judul masalah: judul ini hendaknya cukup singkat tetapi mencakup inti
masalah pokok.
2. Tulis alasan dan tujuan mengapa kita memilih untuk memcahkan masalah itu.
3. Perkataan-perkataan inti atau istilah- istilah pokok yang terdapat didalam judul
masalh perlu kita berikan perumusannya agar tidak terdapa kesimpang siuran
tentang kesimpangsiuran tentang pengertian-pengertian tersebut
4. Cantumkan pokok pikiran kita yang menjadi landasan atau yang dijadikan titik
tolak dalam mendkati masalah itu.5[5]

5
Setelah kita memahami konteks lingkungan masalah yang akan dikaji,
selanjutnya adalah proses spesifikasi masalah. Untuk melakukan proses
spesifikasi masalah, dapat dimulai dari pernyataan yang bersifat umum, kemudian
menuju komponen-komponen yang lebih spesifik.
Masalah umum: Kita ingin mengkaji masalah produk HP Nokia
Communicator. Komponen-komponen yang spesifik, antara lain masalah fitur,
harga, kualitas, target pasar, layanan purna jual, dan lainnya. Oleh karena itu,
rumusan masalah yang layak untuk diteliti adalah:
1. Apa saja fitur-fitur baru yang terdapat dalam HP Nokia Communicator?
2. Apakah kualitas produk menjadi pertimbangan utama bagi calon pembeli dari
kalangan atas?
3. Siapa saja target pasar untuk produk tersebut?
4. Bagaimana agar produk tersebut mampu menarik minat konsumen di
pasaran?6[6]

C. Mengkaji Teori
Teori dan hipotesa adalah dua pengertian yang terlebih dahulu harus
dipahami sebaik-baiknya di dalam mempelajari dasar-dasar penelitian suatu karya
ilmiah. Teori dibutuhkan sebagai pegangan-pegangan pokok secara umum,
sedangkan hipotesa dibutuhkan sebagai penjelasan problematika yang dicarikan
pemecahan.
Seorang ahli ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan menemukan fakta,
tetapi menemukan prinsip-prinsip yang terletak dibalik fakta prinsip utama yang
dicari ialah dalil, yakni generalisasi atau kesimpulan yang berlaku umum. Dengan
dalil ini ahli tersebut melanjutkan penyelidikannya untuk meramalkan rangkaian
peristiwa berikutnya. Tentu saja diperlukan sejumlah data untuk dipakai sebagai
pertimbangan penyimpulan sebuah dalil. Akan tetapi sekumpulan data saja belum

6
memberi jalan yang lapang pada penyelidik, karena data baru mempunyai arti dan
guna bila tersusun dalam satu sistem pemikiran yang disebut teori.7[7]

D. Menggali Data Lapangan


Metode pengumpulan data adalah bagian instrument pengumpulan data yang
menentukan berhasil atau tidaknya suatu penelitian. Macam-macam metode
pengumpulan data antara lain:
1. Metode angket
Metode angket merupakan serangkaian atau daftar oertanyaan yang disusun
secara sistematis kemudian dikirim untuk diisi oleh responden. Setelah diisi,
angket dikirim kembali kepada pemiliknya. Dari bentuk isi angket dibedakan
menjadi beberapa bentuk, yaitu:
a. Angket langsung tertutup adalah angket yang dirancang sedemikian rupa
untuk merekam data tentang keadaan yang dialami oleh responden sendiri
kemudian alternative jawaban yang harus dijawab responden telah tertera
dalam angket tersebut.
b. Angket langsung terbuka adalah daftar pertanyaan yang dibuat
sepenuhnnya memberikan kebebasan pada responden untuk menjawab
tentang keadaan yan dialami sendiri, tanpa ada alaternatif jawaban dari
peneliti.
c. Angket tak langsung tertutup. Bentuk angket tak langsung tertutup
dikonstruksi dengan maksud untuk menggai atau merekam data mengenai
apa yang diketahui responden perihal objek dan subjek tertentu, serta data
tersebut tidak dimaksud perihal mengenai diri responden bersangkutan.
Disamping itu, alternative jawaban tela disiapkan sehingga responden
tinggal memilih jawaban yang sesuai untuk dipilih.

7
d. Angket tak langsung terbuka. Bentuk angket dikondtruksi dengan ciri-ciri
yang sama dengan angket langsung terbuka, serta disediakan
kemungkinan atau alternative jawaban sehingga responden harus
memformulasikan sendiri jawaban yang dipandang sesuai.
2. Metode wawancara
Wawancara adalah sebuah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara
dengan responden. Bentuk-bentuk wawancara antara lain:
a. Wawancara sistematik adalah wawancara yang dilakukan dengan terlebih
dahulu pewawancara mempersiapkan pedoman tertulis tentang apa yang
hendak ditanyakan kepada responden.
b. Wawancara terarah. Wawancara terarah sedikit lebih formal dan
sistematik bila dibandingkan dengan wawancara mendalam, etapi masih
jauh tidak formal dan tidak sistematik bila dibndingkan dengan
wawancara sistematik
3. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan
menggunkan panca indra sebagai alat bantu utamanya selain pancaindra
lainnya seperti telinga, penciuman, mulut, dan kulit. Bentuk-bentuk obseervasi
antara lain:
a. Observasi langsung adalah pengamatan yang dilakukan secara langsung
pada objek yang diobservasikan.
b. Observasi berstruktur. Observasi berstruktur biasanya disebut juga denga
pengamatan sistematik, dimana peneliti secara lebih leluasa dapat
menentukan perilaku apa yang akan diamatipada awal kegiatan
pengamatan, agar permasalahan dapat dipecahkan.
c. Observasi tidak berstruktur. Observasi yang dilakukan tanpa
menggunakan guide observasi, dengan demikian pengamat harus mampu
secara pribadi mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati
suatu objek.8[8]

8
E. Mengolah Data
Pengolahan data adalah kegiatan lanjutan setelah pengumpulan data
dilaksanakan. Pengolahan data secara umum dilaksanakan dengan melalui
beberapa tahap, yaitu: memeriksa (editing), proses pemberian identitas (coding),
dan proses pembeberan (tabulating).
1. Editing
Editing adalah kegiatan yang dilaksanakan setelah peneliti selesai
menghimpun data dilapangan. proses editing dimulai dengan memberi
identitas pada instrumen penelitian yangtelah terjawab. Kemudian memeriksa
satu persatu lembaran instrument pengumpulan data, kemudian memeriksa
poin-poin serta jawaban yang tersedia.
2. Pengkodean
Pengkodean ini mengunakan dua cara, pengkodean frekuensi dan
pengkodean lambang. Pengkodean frekuensi digunakan apabila jawaban pada
poin tertentu memilikibobot atau arti frekuensi tertentu. Sedangkan
pengkodean lambang digunakan pada poin yang tidak memiliki bobot tetentu.
3. Tabulasi
Tabulasi adalah bagian terakhir daripengolahn data. Maksud tabulasi
adalah memasukkan data pada tabel-tabel tertentu dan mengatur angka-angka
serta menghitungnya. Ada dua jenis tabel yang bisa dipakai dalam penelitian
social, yaitu tabel data dan tabel kerja. Tabel data adalah tabel yang dipakai
untuk mendiskripsikan data sehingga peneliti mudah untu memahami struktur
dari sebuah data, sedangkan tabel kerja adalah tabel yang dipakai untuk
manganalisis data yang tertuang dalam tabel.9[9]

F. Menarik Kesimpulan
Dalam menarik kesimpulan tidaklah dibenarkan bila kita menarik sesuatu
kesimpulan yang sebenarnya merupakan barang “baru”, yaitu dalam arti bahwa
yang tadinya dibahas dalam penguraian lalu muncul sebagai kesimpulan, apalagi

9
kesimpulan utama. Memang ada suatu kesempatan dimana penulis
mengungkapkan tanggapan atau pendapatnya sendiri terhadap suatu yang
dirumuskan, tetapi kita juga harus cermat dalam mengemukakan pendapat
tersebut sebab banyak sedikitnya karangan itu mencerminkan hasil pemikiran dan
kematangan penulis.
Untuk menulis bab kesimpulan ini, kita dapat memulai dengan lebih dahulu
menguraikan secara garis besar problematik karangan dan membuat ikhtisar
tentang segala yang kita uraikan. Kemudian barulah kita menghubungkan setiap
kelompok data dengan problematik. Untuk pada kesimpilan tertentu. 10[10]
Bagian pokok yang merupakan pengarah kegiatan penelitian adalah perumusan
problematika atau rumusan masalah. Di dalam problematika ini peneliti
mengajukan pertanyaan terhadap dirinya tentang hal-hal yang akan dicari
jawabnya melalui kegiatan penelitian. Sehubungan dengan pertanyaan inilah
maka peneliti mencoba mencari jawaban sementara yang disebut hipotesis.
Sedangkan kesimpulan yang ditarik berdasarkan data yang telah dikumpulkan,
adalah merupakan jawaban, benar-benar jawaban yang dicari, walaupun tidak
selalu menyenangkan hatinya.
Simpulan atau konklusi merupakan rangkuman dari ide-ide yang telah disajikan
dalam semua tulisan. Simpulan atau konklusi ini merupakan pemikiran prespektif
akhir penulis kepada pembaca.11[11]

10
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Karya ilmiah merupakan suatu karya atau tulisan yang berasal dari hasil
pengamatan, penelitian, dan pemikiran seseorang yang ditulis secara sistematis
yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Langkah-langkah penyusunan karya tulis ilmiah, adalah sebagai berikut:
1. Mempersiapkan ide dasar karya tulis ilmiah.
2. Merumuskan masalah.
3. Mengkaji teori.
4. Menggali data lapangan.
5. Mengolah data.
6. Menarik kesimpulan.

B. SARAN
Demikianlah makalah Langkah-langkah Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang
kami susun. Semoga dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita tentang
Langkah-langkah Penulisan Karya Tulis Ilmiah dalam mata kuliah Karya Tulis
Ilmiah. Kritik dan saran yang membangun dari pihak pembaca sangat kami
harapkan demi perbaikan makalah ini.

11