Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Mengamati distribusi tekanan sekeliling permukaan silinder.
2. Mengamati separasi boundary layer pada pipa silinder.
3. Mengukur form drag coefficient pada pipa silinder.

I.2. Dasar teori

Fluida adalah suatu zat yang mempunyai kemampuan berubah secara kontinyu apabila
mengalami geseran, atau mempunyai reaksi terhadap tegangan geser sekecil apapun, dalam
keadaan diam atau dalam keadaan keseimbangan, fluida tidak mampu menahan gaya geser
yang bekerja padanya, dan oleh sebab itu fluida mudah berubah bentuk tanpa pemisahan
massa (McCabe, 1985).
Setiap benda yang berada di dalam aliran udara akan mengalami gaya-gaya udara. Gaya-gaya
udara ini biasanya dibagi menjadi dua komponen, yaitu komponen yang bekerja tegak lurus
terhadap aliran udara dinamakan gaya angkat (lift), dan komponen yang bekerja berlawanan
dengan aliran udara dinamakan tahanan (drag). Di dalam suatu aliran yang berkecepatan lebih
rendah dari kecepatan perambatan suara, maka tahanan yang terjadi timbul karena dua hal,
yaitu tahanan gesek dan tahanan tekanan.
Drag force merupakan komponen gaya resistansi yang bekerja pada suatu body yang
sejajar dengan arah gerakan.. Drag Force ini sebenarnya terjadi karena dua fenomena, yaitu
frictional drag pada permukaan body dan form drag akibat kenaikan tekanan yang terjadi di
depan body.

Bagian depan Bagian belakang

Gambar I.2.1 Profil Aliran Fluida di Sekitar Silinder


(R.P. King, 55)

Laboratorium Teknik Kimia FTI-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-2

Fenomena gerakan aliran fluida melintasi suatu benda (bluff body) memegang peranan
penting dalam aplikasi engineering seperti pada penukar kalor, pembakaran, dan alat
transportasi. Sebagai contoh, dalam dunia transportasi seperti pesawat udara, mobil atau kapal
laut. Apabila drag yang besar dapat dikurangi maka energi yang dibutuhkan untuk bergerak
dapat diperkecil, sehingga banyak sekali bahan bakar dapat dihemat.
Aliran eksternal viscous yang mengalir melalui silinder akan mengalami stagnasi,
lapisan batas, separasi (pemisahan) dan wake di belakang silinder. Untuk benda yang bergerak
dalam fluida viscous, gaya drag (gaya hambat) dan gaya lift (gaya angkat) erat hubungannya
dengan separasi aliran. Adanya separasi aliran akan menyebabkan timbulnya wake di
belakang silinder yang mengakibatkan drag (hambatan). Semakin cepat terjadinya separasi
aliran, wake akan semakin lebar sehingga drag semakin besar (Tista, 2009).
Arah aliran fluida yang melewati bagian badan pada benda menunjukkan bahwa aliran
fluida terbelah menjadi dua bagian, satu bagian melewati bagian atas badan benda dan arah
lainnya melewati bagian bawah benda. Titik B merupakan titik dimana arah aliran terbagi
menjadi dua dan arah aliran berakhir. Titik ini dinamakan stagnation point di mana pada titik
ini nilai kecepatannya adalah nol sehingga tekanan pada titik tersebut bernilai paling besar.
Tekanan tersebut dinamakan stagnation pressure (Mc Cabe, 1985).
Untuk partikel yang memiliki bentuk selain bentuk bulat akan lebih baik jika di
spesifikkan berdasarkan ukuran serta bentuk geomatik bendanya serta diorientasikan terhadap
arah aliran fluida. Dimensi utama yang dipilih adalah panjang karakteristiknya dan untuk
dimensi penting lainnya diberikan sebagai rasio terhadap dimensi utama. Rasio yang lain
dinamakan shape factor. Dengan demikian untuk silinder pendek biasanya diameter akan
dipilih sebagai dimensi utama dan rasio dari panjang terhadap diameter akan dipilih sebagai
shape factor. Orientasi antara partikel dan arus juga akan dispesifikkan. Untuk silinder, sudut
yang tebentuk terhadap sumbu-y dan arah aliran terhadap silinder sudah mencukupi (Mc
Cabe, 1985).

Laboratorium Teknik Kimia FTI-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-3

Keterangan Gambar:
B = Titik stagnasi
C = Titik separasi

(a) Aliran Laminer


dalam boundary
layer.

(b) Aliran turbulen


dalam boundary
layer

Gambar I.2.1 Efek Turbulence pada Separation Point

Aliran boundary layer adalah aliran yang di mana aliran tersebut mengalir jauh dari
permukaan objek dan untuk efek dari viskositas hanya ditunjukkan di bagian tipis dekat
dengan permukaan di mana gradien kecepatan turun dengan curam. Bagian tipis di mana
kecepatan menurun dan kecepatan arus potensial menjadi nol pada permukaan solid
dinamakan boundary layer (Perry, 1997).

Gambar I.2.2 Gaya yang Timbul oleh Tekanan


Jika aliran simetris dengan menetapkan gaya yang timbul oleh tekanan dalam arah
mendekati aliran, form drag per satuan panjang silinder diberikan persamaan berikut :
 d 
FD  2 P cos  . d  d  P cos  d
0 2 0

Laboratorium Teknik Kimia FTI-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-4

di mana P adalah tekanan di sekitar permukaan silinder dan fungsi θ. Selama percobaan,
manometer membaca nilai Ps yang diperoleh pada dinding tunnel saat belum ada aliran fluida
dari turbo fan yang dipakai sebagai reference. Nilai P diperoleh pada pembacaan manometer
saat sudut θ (θ≠0), di mana Ps adalah gaya statis pada dinding tunnel dan berupa konstanta.

FD  d  ( P  Ps )Cos d
0

di mana Ps adalah gaya statis pada dinding tunnel dan berupa konstanta. Persamaan drag force
didapatkan dalam bentuk :

v 2
FD  C D A
2
di mana: CD = drag coefficient
v = velocity (kecepatan fluida)
 = massa jenis fluida
A= area yang terkena aliran fluida, yaitu outside diameter silinder
(Geankoplis, 2003)
Drag coefficient didefinisikan sebagai berikut:
total drag
CD 
1 2
v (area )
2
1 2
v
di mana 2 adalah tekanan dinamis pada aliran fluida dan area adalah daerah yang
diproyeksikan pada benda dalam arah mendekati aliran. Untuk silinder melingkar, drag
coefficient dituliskan dalam rumus:
FD
CD 
1 2
v d
2
Form drag (drag coefficient) pada silinder dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut:
( P  Ps )

CD   cos  d
0 1 2
v
2
Dengan mengaplikasikan Hukum Bernoulli di antara titik pada dinding dan titik 0o pada
silinder, diberikan persamaan berikut:
1
V 2  P0  Ps
2

Laboratorium Teknik Kimia FTI-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-5

Akhirnya form drag dapat ditulis sebagai berikut:


 ( P  Ps )
CD   cos  d
0 Po  Ps
Sedangkan untuk mencari skin coefficient digunakan persamaan:
0, 5
C f  4 N Re
Dan untuk total drag dihitung dari CD dan Cf:
Total Drag = CD + Cf
Drag coefficient dipengaruhi juga oleh hubungan geometri dan karakteristik aliran.
Untuk benda solid mempunyai prinsip yang sama dengan hubungan friction factor-Reynold
Number aliran dalam fluida. Reynold Number dapat dituliskan dengan persamaan:
D P v
N Re 

(Geankoplis, 2003)

Untuk setiap bentuk objek dan orientasi objek terhadap arah aliran, perbedaan hubungan
antara CD dengan NRe terjadi. Korelasi antara drag coefficient dan Reynold Number
ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar I.2.3 Grafik Hubungan antara CD dan NRe


Gambar I.2.3 Grafik Koefisien Tahanan vs NRe pada literatur
(Mc Cabe, 1985)
Variasi nilai CD sedikit kompleks karena interaksi dari faktor yang mengontrol
permukaan drag dan form drag. Untuk bentuk bulat, semakin tinggi nilai Reynold Number

Laboratorium Teknik Kimia FTI-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-6

dibanding panjang Hukum Stoke, maka separasi akan terjadi dan wake terbentuk (Geankoplis,
2003).
Manometer Miring
Manometer pipa-U kurang peka untuk mendeteksi perbedaan tekanan yang sangat
kecil, karena perbedaan ketinggian pada kedua kaki juga sangat kecil, maka manometer ini
dimodifikasi dengan cara memiringkan salah satu kaki pipa-U agar kenaikan tinggi cairan
yang kecil tetap dapat terlihat, dengan memiringkan salah satu kaki manometer pipa-U maka
panjang jarak yang ditempuh cairan semakin panjang dan memungkinkan penggunaan skala
yang teliti.

Gambar I.2.4 Manometer Miring


Keseimbangan statis menunjukkan :

Dimana:
L=Panjang skala yang sesuai dengan tinggi
α=sudut kenaikan
(Akbar, 2018)

Laboratorium Teknik Kimia FTI-ITS