Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

AKUNTANSI KEPRILAKUAN
“Konsep Keprilakuan Dan Psikologi Dan Psikologi Social Dan
Akuntansi Keprilakuan Dalam Bingkai Retrospektif Dan
Prospektif”

DI SUSUN

Kelompok 2

Anggota :
M. ISHARUL (90400114127)

RIKA DWI YANTI (90400116002)

WAHYUNI (90400116009)

ANDI YUSTIKA M.B (90400116031)

NUR HUSNUL K (90400116032)

ISMAYUNI (90400116033)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASAR

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

AKUNTANSI

2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada tahun 1930, di Amerika Serikat telah di kembangkan psikologi yang


secara khusus mempelajari hubungan antar manusia. Akhirnya muncul cabang
ilmu baru dari ilmu jiwa ini yang kemudian dikenal dengan istilah psikologi
social. Masalah-masalah yang menjadi focus bahasannya adalah kegiatan manusia
dalam hubungannya dengan konteks social. Diantara kegiatan tersebut adalah
kelompok organisasi,kepemimpinannya, anggota atau pengikutnya, perilaku
moralnya, kekuasaannya, komunikasinya, dan kebudayaannya. Secara sederhana,
objek material dari psikologi social adalah fakta, gejala, serta kejadian dalam
kehidupan social manusia.
Psikologi merupakan disiplin yang telah ada sejak lama. Namun, secara
resmi, disiplin ini baru menjadi satu ilmu yang mandiri sejak tahun 1908. Pada
tahun itu, terdapat dua buku teks yang terkenal, yaitu introduction to social
psychology yang ditulis oleh William McDougal, seorang psikolog dan social
psychology : an outline and source book yang ditulis oleh E.A.Ross, seorang
sosiolog. Berdasarkan latar belakng penulisnya, dapat dipahami bahwa psikologi
social bias di klaim sebagai bagian dari psikologi maupun sosiologi.
Akuntansi telah diakui sebagai sebuah fenomena yang membentuk dan
berfungsi sebagai konsekuensi interdependen dari konteks dimana akuntansi
beroperasi. Dari perspektif ekonomi, peranan dan fungsi akuntansi sekarang
berdampak penting pada organisasi pemerintahan dan operasi pasar keuangan.
Dengan cara yang sama, dari perspektif keperilakuan dan organisasi, akuntansi
sekarang diakui sebagai praktik yang konsekuensinya dimediasi oleh konteks
sosial dan manusia dimana akuntansi beroperasi dan cara akuntansi bersinggungan
dengan fenomena sosial dan organisasional lainnya.
B. Rumusan Masalah
1) Bagaimana konsep keprilakuan dari psikologi dan psikologi sosial?
2) Bagaimana akuntansi keprilakuan dalam bingkai retrospektif dan
prospektif?

C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui konsep keprilakuan dari psikologi dan psikologi


social.
2. Untuk mengetahui akuntansi keprilakuan dalam bingkai retrospektif
dan prospektif.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Keprilakuan Dari Psikologi Dan Psikologi Sosial


 Konspep Diri
Istilah diri berarti bagian dari individu yang terpisah dari bagian yang
lainnya. Konsep diri dapat di artikan sebagai gambaran seseorang mengenai
dirinya sendiri atau penilaian terhadap dirinya sendiri (KBBI, 2008). Konsep diri
merupakan suatu konstruk psikologis yang telah lama menjadi pembahasan dalam
rana ilmu-ilmu social (Marsh dan Craven, 2008). Shafelson, hubner, dan Stanton
(1976) menyatakan bahwa konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap
dirinya sendiri, dimana persepsi ini di bentuk melalui pengalaman dan
interprestasi terhadap dirinya sendiri.
Menurut sosiawan, ada dua kommponen dalam konsep diri, yaitu
komponen kognitif dan komponen afektif. Komponen kognitif disebut sebagai
citra diri (self Image). Sedangkan komponen afektif adalah harga diri (Self
Esteem). Konsep diri terbentuk akibat pengalaman interaksi dengan orang lain,
yaitu dengan menemukan apa yang orang lain pikirkan tentang diri individu
tersebut. Ini yang disebut dengan penaksiran yang di refleksikan dan ini
merupakan hal penting daam pembentukan konsep diri. Penaksira diri (Reflected
Apprasial) menunjuk pada ide bahwa manusia menaksir dirinya sendiri dengan
merefleksikan atau bercermin dari bagaimana orang menaksir dirinya “looking
glass self)”. Jadi, hakikat konsep diri sesungguhnya merupakan membayangkan
apa yang orang lain pikirkan tentang diri sendiri.

 Konsep Sikap
Sikap adalah suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi
tindakan, baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan
manusia, objek, gagasan, atau situasi. Istilah objek dalam sikap digunakan untuk
memasukkan semua objek yang mengarah pada reaksi seseorang. Ketiga
komponen sikap: pengertian (cognition), pengaruh (affect), dan perilaku
(behavior). Penting untuk dicatat bahwa definisi sikap adalah suatu tendensi atau
kecenderungan dalam menjawab atau merespon dan bukan dalam menanggapi
dirinya sendiri. Sikap bukanlah perilaku, tapi sikap mennghadirkan suatu
kesiapsiagaan untuk tindakan yang mengarah pada perilaku.
Menurut allport (1954),prasangka (prejudice),merupakan sikap
(etitude)negatif yang diarahkan suatu kelompok ataun kepada seseorang yang
didahului adanya suatu streotip atau prapenilaian terhadap kelompok
tersebut.stereotip adalah suatu kepercayaan yang didasari oleh informasi yang
tidak akurat,yang diterapkan terhadap anggota kelompok tertentu tanpa
pengecualian (Myers,2005)

 Komponen Sikap
Sikap disusun oleh komponen teori, emosional, dan perilaku. Komponen teori
terdiri atas gagasan, persepsi, dan kepercayaan seseorang mengenai penolakan
sikap. Komponen emosional atau afektif mengacu pada perasaan seseorang yang
mengarah pada objek sikap. Komponen perilaku mengacu pada bagaimana satu
kekuatan bereaksi terhadap objek/sikap.
 Konsep Terdekat Sikap
Konsep terdekat sikap merupakan :
- Kepercayaan : merupakan modal dalam menjalin hubungan baik
dengan orang lain.
- Opini : merupakan respons yang diberikan seseorang, yaitu
komunikasi terhadap komunikator yang sebelumnya telah memberi
stimulasi berupa pertanyaan.
- Nilai : merupakan tujuan hidup yang penting sekaligus standar
perilaku.
- Kebiasaan : merupakan ketidakbimbangan, respons otomatis dan
pengulangan pola dari respons perilaku.
 Fungsi Sikap
Sikap memiliki empat fungsi utama: pemahaman,kebutuhan akan
kepuasan, defensif ego, dan ungkapan nilai. Pemahaman atau pengetahuan
berfungsi untuk membantu seseorang dalam memberikan maksud atau
memahami situasi atau peristiwa baru. Sikap juga melayani suatu hal yang
bermanfaat atau fungsi kebutuhan yang memuaskan. Sikap juga melayani
fungsi defensif ego dengan melakukan pengembangan guna melindungi
manusia dari pengetahuan yang berlandaskan kebenaran mengenai dasar
manusia itu sendiri atau dunianya. Sikap juga melayani fungsi nilai ekspresi.
 Sikap dan Konsistensi
Orang-orang mengusahakan konsistensi antara sikap-sikapnya serta antara
sikap dan perilakunya. Ini berarti bahwa individu-individu berusaha untuk
menghubungkan sikap-sikap mereka yang terpisah dan menyelaraskan sikap
dengan perilaku mereka sehingga mereka kelihatan rasional dan konsisten.
Sikap
Sikap atau attitude oleh Kreitner dan kiniki di kutip oleh Wibowo (2014:90)
didefinisikan sebagai suatu kecenderungan yang dipelajari untuk merespon
dengan cara
menyenangkan atau tidak menyenangkan secara konsisten berkenan dengan objek
tertentu.
Emosi
Lubis (2010:103) mengatakan bahwa setiap orang memiliki karakteristik
kepribadian,
tetapi karakteristik kepribadian itu sering kita campur adukkan dengan sikap
emosi kita.
Motivasi
Menurut Newston yang dikutip oleh Wibowo (2010:110), motivasi kerja adalah
hasil
dari kumpulan kekuatan internal dan eksternal yang menyebabkan pekerja
memilih
jalan bertindak yang sesuai dan menggunakan perilaku tertentu.
Persepsi
Persepsi merupakan proses menerima informasi dan membuat pengertian tentang
dunia
di sekitar kita menurut McShane dan Von glinow dikutip oleh Wibowo (2014:59),
hal
tersebut memerlukan pertimbangan informasi mana perlu diperhatikan bagaiman
Jurnal Riset Akuntansi Going Concern 12(2), 2017, 1055-1062
1057
mengkategorikan informasi dan bagaimana menginterpretasikan dalam kerangka
kerja
pengetahuan kita yang telah ada. (Wibowo 2016:60).
(Jurnal Riset Akuntansi Going Concern 12(2), 2017, 1055-1062)

 Formasi Sikap dan Perubahan


Formasi sikap mengacu pada pengembangan suatu sikap yang mengarah
pada suatu objek yang tidak ada sebelumnya. Perubahan sikap mengacu pada
substitusi sikap baru untuk seseorang yang telah ditangani sebelumnya. Sikap
dibentuk berdasarkan karakter faktor psikologis, pribadi dan sosial. Hal
pokok yang paling fundamental mengenai cara sikap dibentuk sepenuhnya
berhubungan langsung dengan pengalaman pribadi terhadap suatu objek,
yaitu pengalaman yang menyenangka maupun tidak, traumatis, frekuensi
kejadian, dan pengembangan sikap tertentu yang mengarah pada gambaran
hidup baru.

 Beberappa Teori Terkait Dengan Sikap


 Teori Perubahan Sikap
Teori perubahan sikap dapat membantu untuk memprediksikan pendekatan
yang paling efektif. Sikap, mungkin dapat berubah sebagai hasil pendekatan dan
keadaan.
Menurut Notoadmojo, 2005 ,sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam
hubungannya dengan objek-objek tertentu,yaitu melalui proses persepsi terhadap
objek tersebut.Bila seorang mempunyai sikap yang negatif pada seseorang,orang
tersebut akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan sikap yang negatif
pula.sikap seseorang terhadap objek sikap akan dipengaruhi oleh usia dan tingkat
pendidikan akseptor.(Jurnal KESMA Volume 9 Nomor 1 Maret 2013)

 Teori Pertimbangan Sosial


Teori pertimbangan sosial ini merupakan suatu hasil perubahan mengenai
bagaimana orang-orang merasa menjadi suatu objek dan bukannya hasil
perubahan dalam memercayai suatu objek. Teori ini menjelaskan bahwa manusia
dapat menciptakan perubahan dalam sikap individu jika mau memahami struktur
yang menyangkut sikap orang laindan membuat pendekatan setidaknya untuk
dapat mengubah ancaman.
 Konsistensi dan Teori Perselisihan
Teori konsistensi menjaga hubungan antara sikap dan perilaku dalam
ketidakstabilan, walaupun tidak ada tekanan teori dalam sistem. Teori perselisihan
adalah suatu variasi dari teori konsistensi.
 Teori Disonansi Kognitif
Leon Festinger pada tahun 1950-an mengemukakan teori Disonansi Kognitif.
Teori ini menjelaskan hubungan antara sikap dan perilaku. Disonansi dalam hal
ini berarti adanya suatu inkonsistensi. Festinger mengatakan bahwa hasrat untuk
mengurangi disonansi akan ditentukan oleh pentingnya unsur-unsur yang
menciptakan disonansi itu, derajat pengaruh yang diyakini dimiliki oleh individu
terhadap unsur-unsur itu, dan ganjaran yang mungkin terlibat dalam disonansi.
Teori ini dapat membantu kecenderungan untuk mengambil bagian dalam
perubahan sikap dan perilaku.

 Teori Persepsi Diri


Teori persepsi diri menganggap bahwa orang-orang mengembangkan sikap
berdasarkan bagaimana mereka mengamati dan menginterpretasikan perilaku
mereka sendiri. Teori ini mengusulkan fakta bahwa sikap tidak menentukan
perilaku, tetapi sikap itu dibentuk setelah perilaku terjadi guna menawarkan sikap
yang konsisten dengan perilaku.
 Teori Motivasi dan Aplikasinya
Terdapat keyakinan bahwa perilaku manusia ditimbulkan oleh adanya
motivasi. Dengan demikian, ada sesuatu yang mendorong (memotivasi) seseorang
untuk berbuat sesuatu.
 Teori Motivasi Awal
Tiga teori spesifik dirumuskan selama kurun waktu tahu 1950-an. Ketiga teori
ini adalah teori hierarki kebutuhan,teori X dan Y, dan teori motivasi higiene.
Teori-teori ini bersifat awal karena: 1) teori-teori ini mewakili suatu dasar dari
mana teori-teori kontemporer berkembang, dan 2) para manajer mempraktikkan
penggunaan teori dan istilah-istilah ini untuk menjelaskan motivasi karyawan
secara teratur.
 Motivasi
Motivasi adalah suatu konsep penting untuk perilaku akuntan karena
efektifitas organisasional tergantung pada orang yang membentuk sebagaimana
karyawan mengharapkan untuk dibentuk.
 Teori Motivasi dan Aplikasinya

Terdapat keyakinan bahwa perilaku manusia ditimbulkan oleh adanya


motivasi. Dengan demikian, ada sesuatu yang mendorong (memotivasi) seseorang
untuk berbuat sesuatu.

 Teori Motivasi Awal


Tiga teori spesifik dirumuskan selama kurun waktu tahu 1950-an. Ketiga
teori ini adalah teori hierarki kebutuhan, teori X dan Y, dan teori motivasi higiene.
Teori-teori ini bersifat awal karena: 1) teori-teori ini mewakili suatu dasar dari
mana teori-teori kontemporer berkembang, dan 2) para manajer mempraktikkan
penggunaan teori dan istilah-istilah ini untuk menjelaskan motivasi karyawan
secara teratur.

 Teori Kebutuhan dan Kepuasan


Maslow menjelaskan suatu bentuk teori kelas. Teorinya menjelaskan bahwa
masing-masing individu mempunyai beraneka ragam kebutuhan yang dapat
mempengaruhi perilaku mereka. Hierarki kebutuhan manusia oleh Moslow, yaitu :
o Kebutuhan fisiologis (physiologis needs ), yaitu kebutuhan fisik , seperti
rasa lapar, rasa haus, kebutuhan akan perumahan, pakaian, dan lain
sebagainya.
o Kebutuhan akan keamanan (safety needs ), yaitu akan kebutuhan
keselamatan dan perlindungan dari bahaya, ancaman, perampasan atau
pemecatan.
o Kebutuhan sosial (social needs ), yaitu kebutuhan akan rasa cinta dan
kepuasan dalam menjalin hubunnga dengan orang lain, kebutuhan akan
kepuasan dan perasaan memiliki serta diterima dalam suatu kelompok,
rasa kekeluargaan, persahabatan, dan kasih sayang.
o Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs ), yaitu kebutuhan akan status
atau kedudukan, kehormatan diri, reputasi, dan prestasi.
o Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization needs ), yaitu
kebutuhan pemenuhan diri untuk mempergunakan potensi ekspresi diri
dan melakukan apa yang paling sesuai dengan dirinya.

 Teori X dan Y
o Pada dasarnya terdapat dua pandangan berbeda mengenai manusia
o Yang negatif disebut teori X dan yang positif disebut teori Y

 Teori Kebutuhan Mcclelland


o Kebutuhan akan prestasi (Need of Achievement): dorongan untuk
unggul, berprestasi, berupaya keras untuk meraih sukses
o Kebutuhan akan Kekuasaan (Need of Power): kebutuhan untuk
membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara yang sedemikian
rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya
o Kebutuhan akan Pertemanan (Need of Affiliation): Hasrat untuk
hubungan antarpribadi yang ramah dan akrab

 Teori Dua Faktor


o Hubungan antara individu dan pekerjaan merupakan hubungan dasar
dan sikap seseorang terhadap kerja dapat menentukan kesuksesan
atau kegagalan individu
o Lawan dari “kepuasan” adalah “tidak ada kepuasan” dan lawan dari
“ketidakpuasan” adalah “tidak ada ketidakpuasan”
o Faktor-faktor yang menentukan kepuasan kerja terpisah dan berbeda
dari faktor yang menimbulkan ketidakpuasan

 Proses Teori-Teori Motivasi


 Teori ERG
Teori ERG (existence, relatedness, growth ) menganggap bahwa kebutuhan
akan manusia memilki tiga hierarki kebutuahan, yaitu kebutuhan akan eksistensi (
existence needs), kebutuhan akan keterikatan ( relatedness needs ) dan kebutuhan
akan pertumbuhan (growth needs ).
 Teori Harapan
Teori ini dikembangkan sejak tahun 1930-an oleh Kurt Levin dan Edward
Tolman. Teori harapan disebut juga teori valensi atau teori instrumentalis. Ide
dasar teori ini adalah bahwa Motivasi ditentukan oleh hasil yang diharapkan akan
diperoleh seseorang sebagai akibat dari tindakannya. Variabel-variabel kunci
dalam teori harapan adalah: usaha (effort), hasil (income),harapan (expectancy),
instrumen-instrumen yang berkaitan dengan hubungan antara hasil tingkat
pertama dengan hasil tingkat kedua,hubungan antara prestasi dan imbalan atas
pencapaian prestasi, serta valensi yang berkaitan dengan kader kekuatan dan
keinginan seseorang terhadap hasil tertentu.
 Teori Penguatan
Teori penguatan memiliki konsep dasar yaitu :
1. Pusat perhatian adalah pada perilaku yang dapat diukur, seperti jumlah yang
dapat diproduksi, kualitas produksi, ketepatan pelaksanaan jadwal produksi,
dan sebagainya.
2. Kontinjensi penguatan (contingencies of reinforcement), yaitu berkaitan
dengan urutan-urutan antara stimulus, tanggapan, dan konsekuensi dari
perilaku yang ditimbulkan.
3. Semakin pendek interval waktu antara tanggapan atau respon karyawan
(misalnya prestasi kerja) dengan pemberian penguatan (imbalan), maka
semakin besar pengaruhya terhadap perilaku.

 Teori Penetapan Tujuan


Teori ini dikembangkan oleh Edwin Loceke(1986) konsep dasar dari teori ini
adalah bahwa karyawan yang memahami tujuan (apa yang diharapkan organisasi
terhadapnya) akan terpengaruh perilaku kerjanya.

 Teori Atribusi

Teori ini dikembangkan oleh Fritz Heider yang berargumentasi bahwa


perilaku seseorang ditentukan oleh kombinasi antara kekuatan internal(internal
forces), yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti
kemampuan atau usaha, dan kekuatan eksternal (eksternal forces), yaitu factor-
faktor yang berasal dari luar seperti kesulitan dalam pekerjaan atau
keberuntungan.
 Teori Agensi
Teori ini mengasumsikan kinerja yang efisien dan bahwa kinerja organisasi
ditentukan oleh usaha dan pengaruh kondisi lingkunngan. Teori ini secara umum
mengasumsikan bahwa principal bersikap netral terdadap risiko sementara agen
bersikap menolak usaha dan risiko.
 Pendekatan Dyadic
Pendekatan Dyadic menyatakan bahwa ada dua pihak, yaitu atasan (superior)
dan bawahan (subordinate), yang berperan dalam [proses evaluasi kinerja.
Pendekatan ini dikembangkan oleh Danserau et al. pada tahun 1975. Danserau
menyatakan bahwa pendekatan ini tepat untuk menganalisis hubungan antara
atasan dan bawahan karena mencerminkan proses yang menghubungkan
keduanya.
 Tanggapan Terhadap Sistem Baru
Dari ruang lingkup yang luas, teori motivasi berkaitan dengan reward
(Imbalan). Dalam teori dijelaskan bahwa setiap individu yang memiliki kebutuhan
akan menggunakan usaha untuk memiliki seluruh kebutuhan yang ia temukan.
Teori ini mengatakan bahwa kebutuhan akan mengidentifikasi seluruh kebutuhan
yang diinginkan. Ada tiga teori yang mengharuskan kita untuk
mempertimbangkan bagaimana setiap individu menerima reward. Adapun teoti itu
diantaranya:
1. Teori Ekuitas
John Stacey Adams, menerbitkan teoti ekuitas tentang motivasi kerja. JC
Adams menekankan lebih jauh tentang kesadaran dan tanggung jawab. Teori
Ekuitas Adams menjadi model motivasi yang jauh lebih kompleks dan model
yang canggih dibandingkan dengan sekedar melalui upaya (input) dan reward
(output).
2. Teori Ekuitas di Tempat Kerja
Teori ekuitas menunjukkan bahwa banyak karyawan, motivasi dipengaruhi
secara signifikan oleh reward.
3. Teori Evaluasi Kognitif
Pada tahun 1980-an, konsep kognisi sebgaian besarnya mewarnai konsep
sikap. Istilah “kognisi” digunakan untuk menunjukkan adanya proses mental
dalam diri seseorang sebelum melakukan tindakan. Teori kognisi
kontemporer memandang manusia sebagai agenn yang secara aktif
menerima, menggunakan, memanipulasi dan mengalihkan informasi. Jadi,
struktur kognisi bias membantu kita mencapai keterpaduan dengan
lingkungan, dan membantu kita untuk menyusun realitas social
4. Reward Ekstrinsik Vs Intrinsik
Teori motivasi umumnya telah mengasumsikan bahwa motivasi intrinsic
disebabkan oleh motivator ekstrinsik. Oleh karena itu rangsangan dari sesuatu
tidak akan memengaruhi yang lain. Pernyataan bahwa ketika reward
ekstrinsik digunakan oleh Organisasi seperti pemberian imbalan untuk kinerja
atasan. Reward intrinsic, yaitu memperoleh dari individu yang melakukan apa
yang diinginkan, dikurangi. Dengan kata lain, reward ekstrinsik diberikan
kepada seseorang untuk melaksanakan satu tugas yang menarik, ini
menyebabkan kepentingan intrinsic dalam tugas sendiri menurun.
5. Meningkatkan Motivasi Instrinsik
Kenneth W. Thomas mengidentifikasi empat kunci reward yang
meningkatkan motivasi intrinsic seseorang.
1. Rasa memilih. Kesempatan untuk memilih apa seseorang akan lakukan,
dan melaksanakan cara seseorang berpikir terbaik.
2. Rasa kompetensi. Perasaan dari pemenuhan untuk melakukan satu
pekerjaan yang baik.
3. Rasa yang penuh arti. Kesempatan untuk mengejar tugas yang
bermanfaat. Perasaan seseorang yang baik tentanng apa yang sedang
mereka lakukan, dan meyakini tentang apa yang sedang mereka lakukan.
4. Rasa maju. Perasaan terhadap pemenuhan bahwa seorang membuat
kemajuan pada satu tugas, dan bahwa ini terus bergerak maju.

 Persepsi
Persepsi adalah Bagaimana orang-orang melihat atau menginterprestasikan
peristiwa, objek, serta manusia. Menurur kamus Bahasa Indonesia Persepsi adalah
sebagai tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu atau proses seseorang
mengetahui beberapa hal melalui panca indra. Sedang dalam lingkup yang lebih
luas Persepsi merupakan suatu proses yang melibatkan pengetahuan sebelumnya
dalam memperoleh dan menginterprestasikan stimulus yang ditunjukkan oleh
panca indra.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi:

o Faktor Dalam Situasi

Yang terdiri dari waktu, keadan (tempat kerja), keadan social.

o Faktor Pada Pemersepsian

Yang terdiri dari sikap, motif, kepentingan, pengalaman dan pengharapan.

o Faktor Pada Target

Yang terdiri dari hal baru, gerakan, bunyi, ukuran, latar belakang, kedekatan.
 Rangsangan Fisik Versus Kecenderungan Individu
Rangsangan Fisik adalah input yang berhubungan dengan perasaan, seperti
pegelihatan dan sentuhan. Sedang Kecenderungan Individu meliputi alas an,
kebutuhan, sikap, pelajaran dari masa lalu dan harapan. Perbedaan persepsi antar
orang-orang disebabkan karena perasaan individu yang menerimanya berbeda
fungsi dan hal ini terutama disebabkanoleh kecenderungan perbedaan. Empat
factor lain yang berhubungan dengan kecenderungan individu adalah kekerabatan,
perasaan, arti penting dan emosi.
 Pilihan, Organisasi dan Penafsiran Rangsangan
Adalah proses dalam pemilihan, pengorganisasian, dan penginterprestasian
rangsangan. Manusia hanya mampu merasakan sesuatu yang kecil dan membagi
semua rangsangan tersebut ke arah yang diarahkan olehnya. Demikian, manusia
bias merasa bimbang atau tidak bimbang dalam memilih persepsinya.
 Keterkaitan Persepsi Bagi Para Akuntan
Perilaku para akuntan dapat menerapkan pengetahuan persepsi terhadap
banyak aktifitas organisasi. Misalnya dalam evaluasi kinerja, cara penilaian atas
seseorang mungkin dipengaruhi oleh ketelitian persepsi penyeia. Kesalahan atau
bias penilaian mungkin diakibatkan oleh sandiwara yang mencoba untuk
menakut-nakuti sehingga karyawan mrasa tidak puas dan meninggalkan
perusahaan. Oleh karena itu para penyelia perlu mengenali perasaan mereka
terhadap bawahannya. Bawahan tertentu dapat mempengaruh evaluasi mereka,
dan harus waspada terhadap sumber penyimpangan persepsi ini. Kesalahan
persepsi dapat juga mendorong kearah ketegangan hubungan antar pribadi
karyawan. Ketika sesuatu dilihat sebagai sesuatu yang menegangkan seorang
penyelia perlu menentukan penyebab terjadinya peristiwa bisnis yang dipandang
berbeda oleh orang-orang yang berbeda.
 Keterkaitan Persepsi Bagi Para Manajer
Para manajer dapat menerapkan pengetahuan persepsi terhadap banyak aktivitas
organisasi. Misalnya, alam evaluasi kinerja, cara penilaian atas seseorang
mungkin dipengaruhi oleh ketelitian persepsi penyelia.
 Persepsi Orang : Membuat Penilaian Mengenai Orang Lain
Dalam bahasan mengenai persepsi orang dalam membuat penilaian terhadap
orang lain, hal ini akan dikaitkan dengan teori atribusi. Teori atribusi merupakan
dari penjelasan cara-cara manusia menilai orang secara berlainan,bergantung pada
makna apa yang dihubungkan ke suatu prilaku tertentu. Pada dasarnya teori ini
menyarankan bahwa jika seseorang mengamati prilaku seorang individu, orang
tersebut berusaha menentukan apakah prilaku itu disebabkan oleh factor internal
atau eksternal, tetapi penentan tersebut sebagian besarbergantung pada tiga factor
berikut:
· Kekususan (ketersendirian) merujuk pada apakah seorang individu
memperlihatkan prilaku-prilaku yang berlainan dalam situasi yang berlainan.
· Konsesus yaitu jika semua orang yang menghadapi suatu situasi yang serupa
bereaksi dengan cara yang sama. Contoh perilaku karyawan yang terlambat akan
memenuhi criteria ini jika semua karyawan yang mengambil rute yang sama ke
tempat kerja juga terlambat.
· Konsistensi. Disini dicari konsistensi dari tindakan seseorang apakah orang
tersebut memberikan reaksi yang sama dari waktu kewaktu.Contoh Apabila
seorang karyawan datang terlambat beberapa menit saja tidak dipersepsikan
dengan cara yang sama oleh karyawan yang baginya keterlambatan itu kasus yang
luarbiasa (karena tidak pernah terlambat).

 Nilai
Dalam mempelajari perilaku dalam organisasi, nilai dinyatakan penting
karena nilai meletakkan dasar untuk memahami sikap serta motivasi dan karena
nilai memengaruhi sikap manusia.seseorang memasuki organisasi dengan gagasan
yang dikonsepkan sebelumnya mengenai apa yang seharusnya dan apa yang tidak
seharusnya. Adapun beberapa sifat nilai adalah sebagai berikut:
1. Nilai mempunyai sifat bertahan (Enduring)
2. Nilai sebagai keyakinan
3. Nilai sebagai alat (instrumental) dan sebagai tujuan akhir (terminal)
4. Nilai bersifat eksplisit dan emmplisit
Rokeach dan Schwartz menjelaskan fungsi nilai sebagai berikut :
1. Nilai sebagai standar
2. Nilai sebagai rencana umum dalam memecahkan konflik
3. Nilai sebagai motivasi
4. Nilai sebagai ego desentif

 Nilai dan Dilema Etika


Permasalahan profesi akuntansi sekarang ini banyak dipengaruhi masalah
kemerosotan standar etika dan krisis kepercayaan. Krisis kepercayaan ini
seharusnya menjadi pelajaran bagi para akuntan untuk lebih berbenah diri,
memperkuat kedisiplinan mengatur dirinya dengan benar, serta menjalin
hubungan yang lebih baik dengan para klien atau masyarakat luas. Misal: skandal
Enron yang melibatkan Arthur Anderson, serta skndal Worldcom, Merck, dan
Xerox, profesi akuntan menjadi gempar.
Ihksan menambahkan cara yang lebih baik dan ideal dalan mengatasi dilema
ini adalah dengan mempertimbangkan kecukupan dari kesempatan yang ada
selanjutnya memberikan reaksi terhadap apa yng menjadi kekawatiran di
dalamnya.
 Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses dimana perilaku baru diperlukan. pembelajaran
terjadi sebagai hasil dari motivasi, pengalaman, dan pengulangaan dalam
merespon situasi. Kombinasi dari motivasi, pengalaman dan pengulangan dalam
merespons situasi ini terjadi dalam tiga bentuk: pengaruh keadaan klasik,
pengaruh keadaan operant, dan pembelajaran sosial.

1. Pengondisian Keadaan klasik


Dapat diringkaskan bahwa pengondisian klasik pada hakikatnya merupakan
proses pembelajaran suatu respons dan suatu rangsangan yang tidak terkondisi.
Dengan menggunakan rangsangan yang berpasangan, yang satu memaksa yang
lain netral, rangsangan yang netral menjadi suatu rangsangan terkondisi yang
kemudian meneruskan sifat-sifat dari rangsangan tidak terkondisi. Pengondisian
klasik bersifat pasif. Sesuatu terjadi dan orang harus bereaksi dengan cara yang
khusus. Hal itu dihasilkan sebagai respons terhadap peristiwa khusus yang dapat
dikenali. Tetapi, kebanyakan perilaku, terutama perilaku rumit dari individu-
invdividu dalam organisasi dipancarkan bukan secara refleks. Missal saja, para
karyawan memilih untuk sampai di tempat kerja pada waktunya, meminta atasan
membantu ketika ada masalah, atau membuang waktu bila tidak ada orang yang
mengamati.

2. Pengondisian Operant
Pengondisian operant menyatakan bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dari
konsekuensi-konsekuensi. Perilaku operant berarti perilaku yang bersifat sukarela
atau perilaku yang dipelajari sebagai kontras terhadap perilaku semacam itu, yang
dipengaruhi oleh ada atau tidak adanya pungutan yang ditrimbulkan oleh
konsekuensi-konsekuensi dari perilaku tersebut.

3. Pembelajaran Sosial
Individu-individu juga dapat belajar dengan mengamati apa yang terjadi pada
orang lain, dengan diberitahu maupun dengan mengalami secara langsung. Jadi,
banyak dari apa yang telah dipelajari manusia berasal dari observasi atas
karakteristik-karakteristik orang tua, guru, teman sekerja, atasan, dan seterusnya.
Pandangan bahwa manusia dapat belajar baik lewat pengamatan maupun
pengalaman langsung ini disebut sebagai teori pembelajaran social.
Walaupun teori pembelajaran sosial merupakan suatu perpanjangan dari
pengondisian operant, di mana teori tersebut mengandalkan perilaku sebagai
suatu fungsi dari konsekuensi-konsekuensi, teori itu juga mengakui eksistensi
pembelajaran observasional(lewat pengamatan) dan pentingya persepsi dalam
belajar.
 Kepribadiaan
Kepribadian mengacu pada bagian karakteristik psikologi dalam diri
seseorang yang menentukan dan mencerminkan bagaimana orang tersebut
merespons lingkungannya. Kepribadian adalah inti sari dari perbedaan individu.
Kepribadian cenderung bersifat konsisten dan kronsi. Konsep kepribadian dan
pengetahuan tentang komponennya adalah penting karena memungkinkan untuk
memprediksikan perilaku. Para akuntan perilaku dapat menghadapi efektivitas
orang-orang jika mereka memahami bagaimana kepribadian dikembangkan dan
bagaimana kepribadian tersebut dapat diubah.
Aplikasi utama dari teori kepribadian dalam organisasi adalah
memprediksikan perilaku.Pengujian terhadap perilaku ditentukan oleh banyaknya
efektivitas dalam tekanan pekerjaan, siapa yang akan menanggapi kritikan dengan
baik, siapa yng pertama harus dipuji dahulu sebelum berbicara mengenai perilaku
tidak diinginkan, siapa yang menjadi seorang pemimpin potensial. Semuanya itu
merupakan bentuk-bentuk pemahamaan atau kepribadian.

 Penentu Kepribadian
Suatu argumen dini dalam riset kepribadian adalah apakah kepribadian
seseorang merupakan hasil keturunan atau lingkungan. Kepribadian tampaknya
merupakan hasil dari kedua pengaruh tersebut. Selain itu, dewasa ini dikenal
faktor ketiga, yaitu faktor situasi

a.Keturunan
Pendekatan keturunan beragumentasi bahwa penjelasan paling akhir dari
kepribadian seseorang individu adalah struktur molekul dari gen yang terletak
dalam kromosom.
b.Lingkungan
Di antara faktor-faktor yang menekankan pada pembentukan kepribadian adalah
budaya dimana seseorang dibesarkan, pengondisian dini, norma-norma di antara
keluarga, temam-teman, dan kelompok-kelompok social, serta pengaruh lain yang
dialmi.
c.Situasi
Faktor ini mempengaruhi dampak keturunan dan lingkungan terhadap
kepribadian. Kepribadian seseorang walaupun kelihatannya mantap dan konsisten,
dapat berubah pada kondisi yang berbeda.
B. Akuntansi Keprilakuan Dalam Bingkai Retrospektif Dan Prosfektif
 Pergeseran Konsep
Munculnya pergeseran konsepsi diawali dari keterkaitan ilmuwan terhadap
studi ekonomi dan studi keprilakuan serta … akuntansi organisasi bergeser ini
mengakibatkan pergeseran konsepsi secara radikal yang merupakan pekerjaan dari
riset akuntansi itu sendiri. Pandangan yang mengatakan dari pada menggunakan
akuntansi untuk tujuan akuntansi semata,alangkah baiknya jika pandangan
tersebut mengarah pada pengembangan presfektif yang lebih problematic tentang
masalah akuntansi. Mereka menyampaikan pertanyaan tentang kebenaran
informasi akuntansi yang digunakan, yang terkadang menghasilkan konsekuensi
yang tidak diinginkan dan tidak terduga. Dari pada hanya menerima status quo
atas kebijakan akuntansi atau kebijakan konvensional yang berhubungan dengan
pertanyaan tersebut, riset akuntansi keprilakuan memberikan dari bagi perilaku
modern dan analisis akuntansi ekonomi dan mulai mencerminkannya secara lebih
analitis dan terkadang mengkhawatirkan.
 Berpijak Pada Tradisi Ekonomi
Tradisi ekonomi baru pada awalnya muncul sebagai usaha untuk membangun
beberapa institusi,kemunculan ini sebagian besar dikarenakan kebutuhan untuk
mengonfigurasi intelektualitas pasar modal efisien yang berlandaskan pada riset
dimana keberagaman riset akan hal itu masih relative jarang . Kemunculan
institusi baru tersebut diharapkan mampu memengaruhi alur piker komunitas
akademis akuntansi. Selain itu, kemunculan ini juga disebabkan kepada paradigm
tradisi riset yang masih terfokus pada kajian tertentu sehingga menjadikan riset
tersebut semakin rentan terhadap rasionalitas ekonomi.
 Bidang Yang Kompleks,Kaya dan Terus Bergerak
Dalam meninjau literatur akuntansi secara sistematis dan hati-hati, Birnberg
dan Shields menggambarkan area riset yang begitu kaya. Lima aliran riset
akuntansi keperilakuan (1989) tersebut adalah:
1) Pengendalian manajemen (manajemen control).
2) Pemrosesan informasi akuntansi (accounting information processing).
3) Desain sistem informasi (information system design).
4) Riset audit (audit research).
5) Sosiologi organizational (organizatioanl sociology)

Walaupun tidak diragukan lagi bahwa riset tersebut diatas terlalu berbeda
dalam hal kualitas, Birnberg dan Shields membenarkan penekanan terhadap sifat
observasional dari perbandingan dan variasi keperilakuan, serta peningkatan sifat
orientasi teoritis dalam proses riset tersebut. Dalam banyak area masih tidak ada
tingkat kesadaran teoritis yang memadai. Dengan demikian, riset yang dilakukan
masih jauh dari kemampuan memberikan dasar interpretasi yang menarik dan
bermanfaat guna memahami dan mengubah akuntansi dalam aksi.

Dalam konteks manajemen akuntansi atau auditing pada tingkat individu,


sekarang, kita berada dalam posisi untuk memahami dan memanfaatkan komentar
tentang fungsi sitem informasi akuntansi. Fenomena seperti penganggaran,
penetapan standar, dan interpretasi informasi akuntansi manajemen dipahami
secara integratif dengan konteks manusia dan organisasional dimana mereka
berada.

 Sudut pandang Dari Luar


Berbeda dari Birnberg dan Shields, Burgstahler dan Sundem menunjukan
perbedaan yang besar (sudut pandang non-akuntansi). Riset akuntansi
keperilakuan menurut mereka telah diperhatikan di masa lalu oleh anggota
komunitas sosial berbeda. Tugas yang diambil oleh Burgstahler dan Sundem
adalah sulit. Kekayaan dan kompleksitas dari bidang yang muncul menciptakan
kesulitan besar bagi pihak luar (outsider). Hal ini membutuhkan investasi waktu
yang besar untuk memahami aliran proses riset, strategi kumulatif yang diadopsi,
cara bidang tersebut distruktur dan dikarakteristikkan, serta implikasi penuh dari
keragaman perspektif konseptual yang digunakan.
Survei atas seluruh bidang riset-yang berorientasi ekonomi dalam akuntansi
mulai dari teori biaya dan laba yang menekankan pada studi pasar modal yang
efisien, teori agensi, ekonomi informasi dan organisasi, dan seterusnya akan
menjadi tugas yang cukup berat bagi peneliti organisasioanal atau keperilakuan.
Secara eksplisit, Burgstahler dan Sundem menyatakan pendekatan mereka
terhadap tinjauan didasarkan pada perspektif pandangan ekonomi informasi dunia,
yang merupakan salah satu dari rentang perspektif ekonomi yang mungkin. Hal
ini sama seperti peneliti keperilakuan lain yang menggunakan sosiologi ekonomi
untuk memahami masalah yang melekat pada rasionalitas ekonomi implisit dalam
riset ekonomi dalam riset ekonomi yang berorientasi pada penelitian akuntansi
dan sejarah intelektual yang didasarkan pada konsep perilaku dalam dunia sosial-
politik dan lingkungan ekonomi.
 Menggerakkan Agenda Riset Ke Depan
Komentar pribadi Caplan tentang kemunculan akuntansi keperilakuan
memberikan beberapa pemahaman lebih lanjut tentang kekuatan mobilisasi
perkembangan dari area tersebut dan apa yang dicapai sekarang. Bukan hanya
pengaruh tekanan peranan yang dimainkan oleh restrukturisasi intelektual bisnis
Amerika terhadap pendidikan dan riset, melainkan juga kemunculan srudi
akuntansi keperilakuan yang perlu dipandang dalam konteks kemunculan
ketertarikan organisasioanal terhadap ilmu pengetahuan sosial dan keperilakuan.
Caplan memuji perkembangan dan konstribusi riset akuntansi
keprilakuan.sebagai bidang yang relatif baru khasana teori dan metedologi terus
mengalami perkembangan yang pesat.caplang menengarai bahwa riset akuntansi
keprilakuan masih dalam proses pencarian model (atau model-model)yang baku
dengan rerangka berfikir yang lebih kuat (Jurnal Pedidikan Akuntansi Indonesia,
vol. XIV, No, 2,TAHUN 2016)
Kita kembali pada analisis kondisi (state of the art) saat ini. Caplan
menawarkan sebuah pandangan yang lebih berhati-hati dibandingkan dengan
pandangan Burgstahler dan Sundem walaupun ia merupakan orang dalam
(insider) dibidang akuntansi keperilakuan. Menurut Caplan, akuntansi
keperilakuan memberikan penekanan yang adil terhadap pemahaman sempit,
dikendalikan metode, dan cepat melakukan studi yang s ebagian tampaknya
dihasilkan oleh budaya akademis Amerika. Seperti disampaikan oleh Burgstahler
dan Sundem serta ditinjau oleh Lord, kemajuan dalam satu bidang lebih sering
ditentukan oleh sejumlah kecil studi inovatif. Sama seperti lainnya, area akuntansi
keperilakuan cenderung menerminkan pembelajaran, proses kumulatif riset, dan
interdependensi sehat dengan disiplin ilmu lain dalam ilmu pengetahuan manusia.
Perluasan domain penyelidikan organisasional dan keperilakuan tersebut
bukannya mudah dan tidak problematis. Seperti disampaikan oleh Caplan, studi
kasus dan barangkali tempat serupa untuk penyelidikan lebih kompleks tidak
hanya membutuhkan keahlian baru tetapi juga keahlian yang besar dalam
mengidentifikasi konsep keperilakuan yang tepat dan mengaplikasikan konsep ini
pada situasi yang spesifik.
 Pasang Surut Aliran Kemajuan
Tinjauan Lord tentang perkembangan pemikiran keperilakuan dalam
akuntansi memperkuat dari banyak temuan dari riset lain. Meskipun demikian,
pendekatan khusus ini juga menghasilkan observasi tentang cara bidang tersebut
dapat bermanfaat bagi pengembangan berikutnya. Hal yang menarik adalah
kualitas dan keaslian riset semata tampaknya tidak memadai untuk memasukan
dorongan khusus untuk riset organisasional dan keperilakuan kejalur kemajuan
kumulatif.
Sebaliknya, tinjauan Lord bermanfaat untuk menyampaikan pertimbangan
tentang skala pengembangan komparatif dan studi yang berorientasi akuntansi di
Amerika Serikat, khususnya yang mencerminkan pendekatan pemrosesan
informasi manusia dan kognitif. Lord juga menekankan cara riset akuntansi
keperilakuan muncul dalam konteks peningkatan ketertarikan yang lenih umum
terhadap peranan akuntansi dalam pengambilan keputusan.
Hal yang tidak signifikan dalam riset akuntansi keperilakuan adalah observasi
Lord tentang peranan signifikan yang dimainkan oleh struktur institusional dunia
akademis akuntansi. Dia menekankan pentingnya pengembangan riset pemrosesan
informasi manusia yang pada awalnya diterima oleh Journal Of Accounting
Researchdan dimasukan dalam konferensi riset empiris Chicago yang sangat
berpengaruh. Baik Lord, Burgstahler maupun Sundem mengomentari signifikansi
intelektual dan konferensi sebagai kunci untuk area pengembangan lebih luas.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Becker merupakan orang pertama yang memperkenalkan istilah akuntansi


keperilakuan pada 1967. Kehadiran jurnal spesialis baru benar-benar sesuai untuk
merayakan kelahiran bidang baru ini. Selama masa intervensi bertahun-tahun,
banyak kemajuan yang dicapai daripada yang disadari. Meskipun demikian, tidak
ada alasan untuk berpuas diri. Kesulitan dan masalah, sebagaimana halnya
tantangan, tetap banyak dan sangat signifikan. Dalam menghadapi masa depan,
riset dalam area ini, perlu terus belajar dari pengalaman masa lalu, diperbaiki, dan
didasarkan pada pemahaman terhadap kemungkinan baru untuk memperkaya
apresiasi kita tentang bagaimana akuntansi berfungsi dalam konteks
organisasional dan keperilakuan.

Ketika riset organisasional dan keperilakuan bergerak kearah mayoritas


selama bertahun-tahun, hal ini bukan hanya akan terus memperbaiki keahlian dan
perspektif yang dikembangkan selama bertahun-tahun, melainkan juga
mengadopsi pendirian intelektual yang lebih matang dan penuh percaya diri dalam
proses tersebut. Hopwood mengatakan keduanya sma-sama memungkinkan dan
dapat diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan. 2016. Akuntansi Multiparadigma, Jakarta : Salemba Empat