Anda di halaman 1dari 26

SATUAN ACARA PENYULUHAN PENCEGAHAN DAN PENANGANAN HIPERTENSI

DENGAN JUS MELON PADA KELUARGA TN.KK KHUSUSNYA TN.MS DI BANJAR


PASEKAN, DESA KETEWEL, KECAMATAN SUKAWATI
TANGGAL 17 OKTOBER s/d 05 NOVEMBER 2016

OLEH :

NI KADEK DIAN INLAM SARI

P07120214018

DIV KEPERAWATAN TK.III / SEMESTER V

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2016
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Hipertensi


Sub Pokok Bahasan : Pencegahan dan Penanganan Hipertensi dengan Jus Melon
Sasaran : Keluarga Tn. KK di Br. Pasekan, Sukawati, Gianyar
Hari, Tanggal : Kamis, 04 Oktober 2016
Tempat : Rumah Tn. KK di Br. Pasekan, Sukawati, Gianyar
Pukul : 11.00-11.30 WITA
Penyuluh : Ni Kadek Dian Inlam Sari

A. LATAR BELAKANG

Penduduk di seluruh dunia dengan kelompok lanjut usia (lansia) yang


berumur 60 tahun keatas mengalami pertumbuhan dengan cepat dibandingkan
dengan kelompok usia lainnya. Indonesia adalah salah satu negara yang
terletak di Asia Tenggara yang memasuki era penduduk berstruktur lansia
(aging structured population) karena jumlah penduduk yang berusia di atas
60 tahun sekitar 7,18 persen. Peningkatan jumlah penduduk lansia ini
disebabkan antara lain karena tingkat sosial ekonomi masyarakat yang
meningkat, kemajuan di bidang pelayanan kesehatan, dan tingkat
pengetahuan masyarakat yang meningkat (Ponorogo, 2010).
Pada tahun 2011 provinsi Bali memiliki jumlah penduduk mencapai
1,5 juta jiwa dan memiliki lansia yang tidak kalah banyak yaitu mencapai
angka sekitar 300 ribu jiwa. Provinsi Bali merupakan peringkat ke empat dari
lima provinsi yang memiliki jumlah lansia terbanyak di Indonesia yaitu
sekitar 8,77 persen. Diperkirakan pada tahun 2015 akan mengalami
peningkatan hampir dua kali lipat dibandingkan pada tahun 2011 menjadi
lebih dari 432 ribu orang atau 11,4 persen dari jumlah penduduk (BPS, 2011).
Lansia cenderung mengalami masalah kesehatan yang disebabkan
oleh penurunan fungsi tubuh akibat proses penuaan. Proses penuaan
merupakan proses yang mengakibatkan perubahan-perubahan meliputi
perubahan fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Pada perubahan fisiologis
terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi gangguan dari
dalam maupun luar tubuh. Salah satu gangguan kesehatan yang paling banyak
dialami oleh lansia adalah pada sistem kardiovaskuler (Teguh, 2009). Secara
alamiah lansia akan mengalami penurunan fungsi organ dan mengalami
labilitas tekanan darah (Mubarak dkk, 2006). Oleh sebab itu, lansia
dianjurkan untuk selalu memeriksakan tekanan darah secara teratur agar dapat
mencegah penyakit kardiovaskuler khususnya hipertensi (Martono &
Pranaka, 2009).
Hipertensi menjadi salah satu fokus. Kematian yang ditimbulkan
perhatian kesehatan di dunia, terutama di merupakan akibat dari komplikasi
negara berkembang dan merupakan hipertensi yang tidak terkontrol. Angka
penyebab kesakitan serta kematian yang proportional mortality rate akibat
tinggi di seluruh dunia. Hipertensi adalah hipertensi di seluruh dunia
mencapai 13% suatu keadaan dimana terjadi peningkatan atau 8 juta kematian
setiap tahunnya. tekanan darah sistolik ≥ 140 mm Hg atau Selain itu,
hipertensi juga merupakan tekanan darah diastolik ≥ 90 mm Hg penyebab
terbanyak kunjungan ke pusat sesuai dengan kriteria The Seventh Report
pelayanan kesehatan primer, yakni sebanyak 13,1% dari total kunjungan.
Hipertensi merupakan faktor resiko dari penyakit kardiovaskuler.
Hipertensi dapat meningkatkan lima kali resiko terkena penyakit jantung
koroner. Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali penderita
hipertensi di Bali pada tahun 2010 berjumlah 8837 orang. Puskesmas Gianyar
I merupakan Puskesmas induk yang terdapat di Kecamatan Gianyar,
Kabupaten Gianyar. Hipertensi juga menjadi masalah kesehatan utama di
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Gianyar I dimana penyakit
hipertensi berada di urutan keempat dari sepuluh penyakit terbesar pada
lansia pada tahun 2012. Jumlah kunjungan lansia yang menderita hipertensi
pada tahun 2012 yaitu sebesar 1.032, dimana jumlah tersebut mengalami
peningkatan dari tahun 2011 yaitu dengan jumlah 1.013 kasus. Pada tahun
2013 jumlah kunjungan dari bulan Januari hingga bulan Oktober mencapai
1.072 kunjungan dari total jumlah lansia di wilayah kerja Puskesmas Gianyar
I yang mencapai 5.435 orang. Hal ini menunjukkan peningkatan jumlah
lansia yang menderita hipertensi. Proporsi lansia yang menderita hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas Gianyar I pada bulan Januari hingga Oktober 2013
sebanyak 19,72%.
Tingginya angka kejadian hipertensi pada lansia menuntut peran
tenaga kesehatan untuk melakukan pencegahan dan upaya promosi kesehatan.
Ada beberapa cara pencegahan yang dapat dilakukan oleh lansia agar
terhindar dari penyakit hipertensi dengan semboyan SEHAT yaitu
Seimbangkan gizi, Enyahkan rokok, Hindari stres, Awasi tekanan darah, dan
Teratur berolahraga. Teratur berolahraga dapat dilakukan dengan cara latihan
fisik yang sesuai dengan lansia diantaranya berjalan-jalan, bersepeda,
berenang, melakukan pekerjaan rumah dan senam (Maryam dkk, 2008).

B. TUJUAN
1. Tujuan Intruksional Umum (TIU)
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, lansia dan keluarga
mengetahui tentang penyakit hipertensi dan penatalaksanaannya.
2. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
Setelah dilakukan penyuluhan selama 1 x 30 menit, diharapkan sasaran
penyuluhan dapat mengetahui tentang:
a. Pengertian Hipertensi
b. Penyebab Hipertensi
c. Tanda dan gejala Hipertensi
d. Komplikasi Hipertensi
e. Pencegahan Hipertensi
f. Makanan dan minuman yang diperbolehkan dan tidak
diperbolehkan
g. Contoh obat tradisional untuk menangani hipertensi

C. MATERI PENYULUHAN
1. Pengertian Hipertensi
2. Penyebab Hipertensi
3. Tanda dan gejala Hipertensi
4. Komplikasi Hipertensi
5. Pencegahan Hipertensi
6. Makanan dan minuman yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan
7. Contoh obat tradisional untuk menangani hipertensi.
D. METODE
Ceramah, diskusi, demonstrasi
E. MEDIA
Leaflet dan lembar balik
F. SASARAN
Keluarga Tn. KK khususnya Tn. MS
G. WAKTU DAN TEMPAT
Hari, tanggal : Kamis, 04 Oktober 2016
Jam : Pukul 11.00 – 11.30 WITA
Tempat: Rumah Tn.KK di Br. Pasekan, Ketewel, Sukawati

H. KEGIATAN

LANGKAH- KEGIATAN KEGIATAN


NO. WAKTU
LANGKAH PENYULUH SASARAN
1. Pendahuluan 3 menit a. Salam Pembukaan a. Sasaran antusias
b. Perkenalan Diri
atas kedatangan
c. Penyampaian Tujuan
d. Kontrak Waktu penyuluh
b. Sasaran menjawab
salam penyuluh
2. Penyajian 10 menit Penyampaian materi : a. Sasaran menyimak
a. Apersepsi
dengan cermat apa
b. Menjelaskan
yang disajikan oleh
pengertian hipertensi
c. Menjelaskan penyebab penyuluh
b. Bertanya apabila
hipertensi
d. Menjelaskan tanda dan terdapat hal-hal
gejala hipertensi yang belum jelas
e. Menjelaskan c. Mencatat hal-hal
komplikasi hipertensi penting yang
f. Menjelaskan
dijelaskan oleh
pencegahan hipertensi
penyuluh.
g. Menyebutkan fase
makanan dan minuman
yang boleh dan tidak
boleh untuk penderita
hipertensi
3. Demonstrasi 5 menit Mendemonstrasikan cara a. Sasaran
membuat jus melon memerhatikan
dengan seksama
4. Re-Demonstrasi 5 menit a. Sasaran mempraktikan a. Sasaran dapat
kembali apa yang mengulang
sudah diperagakan demonstrasi
5. Tanya Jawab dan 5 menit a. Sasaran Memberikan a. Memberi respon
Evaluasi pertanyaan mengenai dengan menjawab
hal-hal yang belum pertanyaan
dimengerti penyuluh dengan
b. Penyuluh memberi
antusias.
pertanyaan terkait
materi yang telah
disajikan.
6. Penutup 2 menit a. Menyimpulkan Sasaran berterima kasih
penyampaian materi dan menjawab salam
b. Menyampaikan terima
penutup dari penyuluh.
kasih
c. Mengucapkan salam
penutup

I. RENCANA EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
Tahap persiapan-awal pelaksanaan :
a. Media sudah dipersiapkan, yaitu leaflet mengenai hipertensi
b. Pemateri sudah siap dalam melakukan penyuluhan
c. KewajibanPengorganisasian
Penyaji
1) Mampu menyampaikan tujuan penyuluhan secara jelas
2) Mampu menjelasakan materi secara sistematis
3) Mampu menggunakan bahasa yang sesuai dengan
audien
4) Mampu menjawab pertanyaan dari peserta
5) Fasilitator
6) Mampu memfasilitasi sasaran
7) Observer
8) Mampu mengukur ketepatan waktu
2. Evaluasi Proses
a. Proses penyuluhan dapat berlangsung dengan lancar dan peserta
penyuluhan memahami materi penyuluhan yang diberikan.
b. Peserta penyuluhan memperhatikan materi yang diberikan.
c. Selama proses penyuluhan terjadi interaksi antara penyuluh
dengan sasaran.
d. Kehadiran peserta diharapkan 80% dan tidak ada peserta yang
meninggalkan tempat penyuluhan selama kegiatan berlangsung.
3. Evaluasi Hasil
Tercapai atau tidaknya TIU dan TIK Penyuluhan
Misalnya:
a. Peserta penyuluhan mampu menjelaskan
kembali pengertian, penyebab, dan tanda gejala hipertensi
mencapai 80%.
b. Peserta penyuluhan mampu menjelaskan
kembali perawatan hipertensi mencapai 75%.
c. Peserta penyuluhan mampu menjelaskan
kembali tentang pencegahan dan komplikasi hipertensi mencapai
75%.

J. SUMBER
Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Vol I . Jakarta:
EGC
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
Mansjoer, et al. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media
Aesculapius
Prince A. Silvia. 1995. Pathofisiologi. Edisi 4. Jakarta: EGC
Tim Editor. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Pusat
Penerbitan
UGM. 2014. Faktor – Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kepatuhan
Pengobatan Hipertensi. etd.repository.ugm.ac.id. etd

Yuliantari NW. Perbedaan Pengaruh Ekstrak Mentimun Dan Air Jahe


Terhadap Tekanan Darah Lansia Dengan Hipertensi Di Wilayah
Kerja Puskesmas Ii Denpasar Barat Tahun 2014. ojs.unud.ac.id
Lampiran 1

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


HIPERTENSI

A. PENGERTIAN

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana


tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90
mmHg. Pada populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps,2005).
Hipertensi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah secara terus
menerus sehingga melebihi batas normal. Tekanan darah normal adalah
110/90 mmHg. Hipertensi merupakan produk dari resistensi pembuluh
darah perifer dan kardiak output (Wexler, 2002)

B. PENYEBAB
1. Faktor yang tidak dapat diubah/dikontrol
a. Umur
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua
seseorang semakin besar risiko terserang hipertensi. Umur lebih
dari 40 tahun mempunyai risiko terkena hipertensi. Dengan
bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih besar sehingga
prevalensi hipertensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu
sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 % diatas umur 60 tahun.
Arteri kehilangan elastisitasnya atau kelenturannya dan tekanan
darah seiring bertambahnya usia, kebanyakan orang hipertensinya
meningkat ketika berumur lima puluhan dan enam puluhan.
Dengan bertambahnya umur, risiko terjadinya hipertensi
meningkat.
b. Jenis Kelamin
Bila ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata
terdapat angka yang cukup bervariasi. Dari laporan Sugiri di Jawa
Tengah didapatkan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6%
untuk wanita. Prevalensi di Sumatera Barat 18,6% pria dan 17,4%
perempuan, sedangkan daerah perkotaan di Jakarta (Petukangan)
didapatkan 14,6% pria dan 13,7% wanita. Ahli lain mengatakan
pria lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan wanita
dengan rasio sekitar 2,29 mmHg untuk peningkatan darah sistolik.
Sedangkan menurut Arif Mansjoer, dkk, pria dan wanita
menapouse mempunyai pengaruh yang sama untuk terjadinya
hipertensi. Menurut MN. Bustan bahwa wanita lebih banyak yang
menderita hipertensi dibanding pria, hal ini disebabkan karena
terdapatnya hormon estrogen pada wanita.
c. Riwayat Keluarga
Menurut Nurkhalida, orang-orang dengan sejarah keluarga
yang mempunyai hipertensi lebih sering menderita hipertensi.
Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor
keturunan) juga mempertinggi risiko terkena hipertensi terutama
pada hipertensi primer. Keluarga yang memiliki hipertensi dan
penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2-5 kali lipat. Dari
data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang
tuanya menderita hipertensi. Menurut Sheps, hipertensi cenderung
merupakan penyakit keturunan. Jika seorang dari orang tua kita
mempunyai hipertensi maka sepanjang hidup kita mempunyai 25%
kemungkinan mendapatkannya pula. Jika kedua orang tua kita
mempunyai hipertensi, kemungkunan kita mendapatkan penyakit
tersebut 60%.

d. Genetik
Peran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti
dengan ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada
kembar monozigot (satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel
telur). Seorang penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi
primer (esensial) apabila dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi
terapi, bersama lingkungannya akan menyebabkan hipertensinya
berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul
tanda dan gejala.

2. Faktor yang dapat diubah/dikontrol


a. Kebiasaan Merokok
Rokok juga dihubungkan dengan hipertensi. Hubungan
antara rokok dengan peningkatan risiko kardiovaskuler telah
banyak dibuktikan. Selain dari lamanya, risiko merokok terbesar
tergantung pada jumlah rokok yang dihisap perhari. Seseorang
lebih dari satu pak rokok sehari menjadi 2 kali lebih rentan
hipertensi dari pada mereka yang tidak merokok. Zat-zat kimia
beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida yang diisap melalui
rokok, yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan
endotel pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses
aterosklerosis dan hipertensi. Nikotin dalam tembakau merupakan
penyebab meningkatnya tekanan darah segara setelah isapan
pertama. Seperti zat-zat kimia lain dalam asap rokok, nikotin
diserap oleh pembuluh-pembuluh darah amat kecil didalam paru-
paru dan diedarkan ke aliran darah. Hanya dalam beberapa detik
nikotin sudah mencapai otak. Otak bereaksi terhadap nikotin
dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas
epinefrin (adrenalin). Hormon yang kuat ini akan menyempitkan
pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat
karena tekanan yang lebih tinggi. Setelah merokok dua batang saja
maka baik tekanan sistolik maupun diastolik akan meningkat 10
mmHg. Tekanan darah akan tetap pada ketinggian ini sampai 30
menit setelah berhenti mengisap rokok. Sementara efek nikotin
perlahan-lahan menghilang, tekanan darah juga akan menurun
dengan perlahan. Namun pada perokok berat tekanan darah akan
berada pada level tinggi sepanjang hari.

b. Konsumsi Asin/Garam
Secara umum masyarakat sering menghubungkan antara
konsumsi garam dengan hipertensi. Garam merupakan hal yang
sangat penting pada mekanisme timbulnya hipertensi. Pengaruh
asupan garam terhadap hipertensi melalui peningkatan volume
plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah. Keadaan ini akan diikuti
oleh peningkatan ekskresi kelebihan garam sehingga kembali pada
keadaan hemodinamik (sistem pendarahan) yang normal. Pada
hipertensi esensial mekanisme ini terganggu, di samping ada faktor
lain yang berpengaruh. Reaksi orang terhadap natrium berbeda-
beda. Pada beberapa orang, baik yang sehat maupun yang
mempunyai hipertensi, walaupun mereka mengkonsumsi natrium
tanpa batas, pengaruhnya terhadap tekanan darah sedikit sekali atau
bahkan tidak ada. Pada kelompok lain, terlalu banyak natrium
menyebabkan kenaikan darah yang juga memicu terjadinya
hipertensi. Garam merupakan faktor yang sangat penting dalam
patogenesis hipertensi. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan
pada suku bangsa dengan asupan garam yang minimal. Asupan
garam kurang dari 3 gram tiap hari menyebabkan prevalensi
hipertensi yang rendah, sedangkan jika asupan garam antara 5-15
gram perhari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20 %.
Pengaruh asupan terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui
peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah.
Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, karena
menarik cairan diluar sel agar tidak keluar, sehingga akan
meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada manusia yang
mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang ditemukan tekanan
darah rata-rata rendah, sedangkan asupan garam sekitar 7-8 gram
tekanan darahnya rata-rata lebih tinggi. Konsumsi garam yang
dianjurkan tidak lebih dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol
natrium atau 2400 mg/hari.
c. Konsumsi Lemak Jenuh
Kebiasaan konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan
peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi.
Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko aterosklerosis
yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Penurunan
konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam makanan yang
bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak tidak
jenuh secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan
makanan lain yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan
tekanan darah.
d. Penggunaan Jelantah
Jelantah adalah minyak goreng yang sudah lebih dari satu
kali dipakai untuk menggoreng, dan minyak goreng ini merupakan
minyak yang telah rusak. Bahan dasar minyak goreng bisa
bermacam-macam seperti kelapa, sawit, kedelai, jagung dan lain-
lain. Meskipun beragam, secara kimia isi kendungannya sebetulnya
tidak jauh berbeda, yakni terdiri dari beraneka asam lemak jenuh
(ALJ) dan asam lemak tidak jenuh (ALTJ). Dalam jumlah kecil
terdapat lesitin, cephalin, fosfatida, sterol, asam lemak bebas, lilin,
pigmen larut lemak, karbohidrat dan protein. Hal yang
menyebabkan berbeda adalah komposisinya, minyak sawit
mengandung sekitar 45,5% ALJ yang didominasi oleh lemak
palmitat dan 54,1% ALTJ yang didominasi asam lemak oleat sering
juga disebut omega-9. minyak kelapa mengadung 80% ALJ dan
20% ALTJ, sementara minyak zaitun dan minyak biji bunga
matahari hampir 90% komposisinya adalah ALTJ. Penggunaan
minyak goreng sebagai media penggorengan bisa menjadi rusak
karena minyak goreng tidak tahan terhadap panas. Minyak goreng
yang tinggi kandungan ALTJ-nya pun memiliki nilai tambah hanya
pada gorengan pertama saja, selebihnya minyak tersebut menjadi
rusak. Bahan makanan kaya omega-3 yang diketahui dapat
menurunkan kadar kolesterol darah, akan tidak berkasiat bila
dipanaskan dan diberi kesempatan untuk dingin kemudian dipakai
untuk menggoreng kembali, karena komposisi ikatan rangkapnya
telah rusak.
Minyak goreng terutama yang dipakai oleh pedagang
goreng-gorengan pinggir jalan, dipakai berulang kali, tidak peduli
apakah warnanya sudah berubah menjadi coklat tua sampai
kehitaman. Alasan yang dikemukakan cukup sederhana yaitu demi
mengirit biaya produksi. Dianjurkan oleh Ali Komsan, bagi mereka
yang tidak menginginkan menderita hiperkolesterolemi dianjurkan
untuk membatasi penggunaan minyak goreng terutama jelantah
karena akan meningkatkan pembentukan kolesterol yang
berlebihan yang dapat menyebabkan aterosklerosis dan hal ini
dapat memicu terjadinya penyakit tertentu, seperti penyakit
jantung, darah tinggi dan lain-lain.
e. Kebiasaan Konsumsi Minum Minuman Beralkohol
Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Peminum
alkohol berat cenderung hipertensi meskipun mekanisme
timbulnya hipertensi belum diketahui secara pasti. Orang-orang
yang minum alkohol terlalu sering atau yang terlalu banyak
memiliki tekanan yang lebih tinggi dari pada individu yang tidak
minum atau minum sedikit. Mekanisme peningkatan tekanan darah
akibat alkohol masih belum jelas. Namun diduga, peningkatan
kadar kortisol dan peningkatan volume sel darah merah serta
kekentalan darah merah berperan dalam menaikkan tekanan darah.
Diperkirakan konsumsi alkohol berlebihan menjadi penyebab
sekitar 5-20% dari semua kasus hipertensi. Mengkonsumsi tiga
gelas atau lebih minuman berakohol per hari meningkatkan risiko
mendapat hipertensi sebesar dua kali. Bagaimana dan mengapa
alkohol meningkatkan tekanan darah belum diketahui dengan jelas.
Namun sudah menjadi kenyataan bahwa dalam jangka panjang,
minum-minuman beralkohol berlebihan akan merusak jantung dan
organ-organ lain.
f. Obesitas
Obesitas atau kegemukan dimana berat badan mencapai
indeks massa tubuh > 25 (berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi
badan (m)) juga merupakan salah satu faktor risiko terhadap
timbulnya hipertensi. Obesitas merupakan ciri dari populasi
penderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah
penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita
hipertensi yang tidak obesitas. Pada obesitas tahanan perifer
berkurang atau normal, sedangkan aktivitas saraf simpatis
meninggi dengan aktivitas renin plasma yang rendah. Olah raga
ternyata juga dihubungkan dengan pengobatan terhadap hipertensi.
Melalui olah raga yang isotonik dan teratur (aktivitas fisik aerobik
selama 30-45 menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang
akan menurunkan tekanan darah. Selain itu dengan kurangnya olah
raga maka risiko timbulnya obesitas akan bertambah, dan apabila
asupan garam bertambah maka risiko timbulnya hipertensi juga
akan bertambah. Obesitas erat kaitannya dengan kegemaran
mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi lemak. Obesitas
meningkatkan risiko terjadinya hipertensi karena beberapa sebab.
Makin besar massa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan
untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Ini berarti
volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi
meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding
arteri. Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut
jantung dan kadar insulin dalam darah. Peningkatan insulin
menyebabkan tubuh menahan natrium dan air. Menurut Alison
Hull dalam penelitiannya menunjukkan adanya hubungan antara
berat badan dan hipertensi, bila berat badan meningkat diatas berat
badan ideal maka risiko hipertensi juga meningkat. Pada penelitian
lain dibuktikan bahwa curah jantung dan volume darah sirkulasi
lansia obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan
penderita yang mempunyai berat badan normal dengan tekanan
darah yang setara. Obesitas mempunyai korelasi positif dengan
hipertensi. Anak-anak remaja yang mengalami kegemukan
cenderung mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi). Ada
dugaan bahwa meningkatnya berat badan normal relatif sebesar 10
% mengakibatkan kenaikan tekanan darah 7 mmHg. Oleh karena
itu, penurunan berat badan dengan membatasi kalori bagi orang-
orang yang obes bisa dijadikan langkah positif untuk mencegah
terjadinya hipertensi. Berat badan dan indeks Massa Tubuh (IMT)
berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan
darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang
obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat
badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-
30 % memiliki berat badan lebih.
g. Olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan
hipertensi, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan
tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga
juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Kurang
melakukan olahraga akan meningkatkan kemungkinan timbulnya
obesitas dan jika asupan garam juga bertambah akan memudahkan
timbulnya hipertensi. Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan
risiko menderita hipertensi karena meningkatkan risiko kelebihan
berat badan. Orang yang tidak aktif juga cenderung mempunyai
frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot
jantungnya harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin
keras dan sering otot jantung harus memompa, makin besar
tekanan yang dibebankan pada arteri.

h. Stres
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui
aktivitas saraf simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah
secara bertahap. Apabila stress menjadi berkepanjangan dapat
berakibat tekanan darah menjadi tetap tinggi. Hal ini secara pasti
belum terbukti, akan tetapi pada binatang percobaan yang
diberikan pemaparan tehadap stress ternyata membuat binatang
tersebut menjadi hipertensi. Stres adalah suatu kondisi disebabkan
oleh transaksi antara individu dengan lingkungan yang
menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal
dari situasi dengan sumber daya sistem biologis, psikologis dan
sosial dari seseorang. Stres adalah yang kita rasakan saat tuntutan
emosi, fisik atau lingkungan tak mudah diatasi atau melebihi daya
dan kemampuan kita untuk mengatasinya dengan efektif. Namun
harus dipahami bahwa stres bukanlah pengaruh-pengaruh yang
datang dari luar itu. Stres adalah respon kita terhadap pengaruh-
pengaruh dari luar itu. Stres atau ketegangan jiwa (rasa tertekan,
murung, bingung, cemas, berdebar-debar, rasa marah, dendam, rasa
takut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal
melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut
lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan
meningkat. Jika stres berlangsung cukup lama, tubuh berusaha
mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau
perubahan patologis. Gejala yang muncul dapat berupa hipertensi
atau penyakit maag. Menurut Slamet Suyono stres juga memiliki
hubungan dengan hipertensi. Hal ini diduga melalui saraf simpatis
yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Apabila
stress berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan
darah yang menetap. Stres dapat meningkatkan tekanan darah
untuk sementara waktu dan bila stres sudah hilang tekanan darah
bisa normal kembali. Peristiwa mendadak menyebabkan stres dapat
meningkatkan tekanan darah, namun akibat stress berkelanjutan
yang dapat menimbulkan hipertensi belum dapat dipastikan.

C. TANDA DAN GEJALA


Sebagian besar tanpa disertai gejala yang mencolok dan
manifestasi klinis timbul setelah mengetahui hipertensi bertahun-tahun
berupa:
1. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah
2. Rasa berkunang-kunang
3. Rasa pegal di bahu dan perasaan panas / gelisah
4. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.
5. Kurang tidur
6. Ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan syaraf.
7. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerolus.

D. KOMPLIKASI
Menurut Elisabeth J Corwin komplikasi hipertensi terdiri dari stroke,
infark miokard, gagal ginjal, ensefalopati (kerusakan otak) dan pregnancy-
included hypertension (PIH).
1. Stroke
Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun global akut,
lebih dari 24 jam yang berasal dari gangguan aliran darah otak dan
bukan disebabkan oleh gangguan peredaran darah.
Stroke dengan defisit neurologik yang terjadi tiba-tiba dapat
disebabkan oleh iskemia atau perdarahan otak. Stroke iskemik
disebabkan oleh oklusi fokal pembuluh darah yang menyebabkan
turunnya suplai oksigen dan glukosa ke bagian otak yang mengalami
oklusi.
Stroke dapat timbul akibat pendarahan tekanan tinggi di otak atau
akibat embolus yang terlepas dari pembuluh otak yang terpajan
tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila
arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan
menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahi
berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami arterosklerosis dapat
melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya
anurisma.
2. Infarkmiokardium
Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang
arterosklerotik tidak dapat mensuplai cukup oksigen ke miokardium
atau apabila terbentuk trombus yang menyumbat aliran darah melalui
pembuluh tersebut. Akibat hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel,
maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi
dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian
juga, hipertrofi dapat menimbulkan perubahaan-perubahan waktu
hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi distritmia, hipoksia
jantung dan peningkatan risiko pembentukan bekuan.
3. Gagal ginjal
Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang
progresif dan irreversible dari berbagai penyebab, salah satunya
padabagian yang menuju ke kardiovaskular. Mekanisme terjadinya
hipertensi pada gagal ginjal kronik oleh karena penimbunan garam
dan air atau sistem renin angiotensin aldosteron (RAA).
4. Ensefalopati (kerusakan otak)
Ensefalopati (Kerusakan otak) dapat terjadi terutama pada
hipertensi maligna (hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang
sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan
kapiler dan mendorong ke dalam ruang intersitium diseluruh susunan
saraf pusat. Neuron-neuron disekitarnya kolaps yang dapat
menyebabkan ketulian, kebutaan dan tak jarang juga koma serta
kematian mendadak. Keterikatan antara kerusakan otak dengan
hipertensi, bahwa hipertensi berisiko 4 kali terhadap kerusakan otak
dibandingkan dengan orang yang tidak menderita hipertensi.

E. PENCEGAHAN
1. Pencegahan Primer.
a. Mengatur diet agar berat badan tetap ideal, juga untuk menjaga
agar tidak terjadi hypertensi kolesterolemia, DM, dsb.
b. Dilarang merokok.
c. Mengubah kebiasaan makan sehari-hari dan mengkonsumsi rendah
garam.
d. Melakukan exercise untuk mengendalikan dari perasaan well
being.
2. Pencegahan Lain
a. Menurunkan berat badan pada penderita gemuk.
b. Diet rendah garam dan diet lunak.
c. Mengubah kebiasaan hidup.
d. Olahraga secara teratur.
e. Kontrol tekanan darah secara teratur.
f. Obat-obatan anti hypertensi.

F. MAKANAN DAN MINUMAN YANG BOLEH DAN TIDAK BOLEH


DIKONSUMSI
1. Makanan dan Minuman yang Tidak Boleh Dikonsumsi
a. Garam
Ini adalah pantangan darah tinggi yang utama. Kandungan
garam yang banyak di dalam darah penderita darah tinggi akan
menyebabkan kenaikkan tekanan darah yang disebabkan oleh sifat
garam yang dapat menarik air. Namun bukan berarti Anda tidak
boleh makan garam sama sekali. Institusi terkenal Amerika yang
meneliti banyak mengenai penyakit darah tinggi mengatakan
bahwa asupan garam dapur maksimal yang dapat dikonsumsi oleh
penderita darah tinggi adalah 6 gram atau setara dengan satu
sendok teh. Bila dapat lebih sedikit, efeknya lebih bagus.
Jadi, lebih baik makan makanan yang dibuat sendiri di
rumah daripada beli makanan di luar, karena kita dapat mengontrol
jumlah garam yang kita konsumsi.
b. Makanan Kaleng
Pengawet yang dipakai untuk megawetkan makanan kaleng
terbuat dari substansi yang membentuk garam. Alasan inilah yang
membuat makanan kaleng menjadi pantangan darah tinggi.
Mungkin rasa makanan kaleng tidak begitu asin, namun hati-hati
karena kadar garam yang dikandungnya tetao tinggi.
c. Produk Daging Olahan
Sama seperti makanan kaleng, produk daging olahan
banyak mengandung garam untuk mengawetkan daging tersebut.
Hindari makanan seperti dendeng, sosis, nugget, kornet, daging
ham dan daging olahan lainnya. Sama seperti makanan kaleng,
meski rasa daging olahan ini tidak terlalu asin namun garam yang
dikandungnya tetap saja tinggi.
d. Mie Instan
Jenis makanan ini tentu menjadi teman sejati Anda dikala
lapar, tidak punya uang dan tidak mau masak makanan yang ribet.
Namun hati-hati terhadap mie instan yang mengandung kadar
garam yang tinggi. Selain garam, mie instan juga mengandung
banyak lemak dan kalori yang dapat menaikkan berat badan.
Padahal berat badan yang ideal merupakan salah satu dari program
menurunkan berat badan. Satu bungkus mie instan saja dapat
membahayakan, apalagi bila dimakan dalam jumlah yang lebih.
Mie instan merupakan pantangan darah tinggi yang wajib
dihindari.
e. Makanan Berlemak Jenuh
Apa itu makanan yang mengandung lemak jenuh? Banyak
sekali makanan enak yang mengandung lemak jenuh. Namun
secara prinsip, semua makanan yang digoreng menggunakan
minyak kelapa atau minyak sayur merupakan makanan dengan
lemak jenuh. Lemak dari sapi pun mengandung banyak lemak
jenuh. Termasuk juga susu full cream, keju, kuning telur, donat,
dan kulit ayam. Jangan lupakan mentega pada popcorn atau roti
Anda yang juga mengandung lemak tidak baik ini.
Makanan dengan lemak jenuh dapat menaikkan tekanan
darah dengan cara meningkatkan kadar kolesterol yang akan
mempersempit lubang pembuluh darah Anda. Menurunkan kadar
kolesterol dan berat badan merupakan salah satu program terapi
darah tinggi. Jadi, pantangan darah tinggi yang satu ini tidak bisa
Anda maklumi begitu saja.
f. Asinan dan Acar
Ya, asinan dan acar boleh saja terbuat dari buah atau
mentimun. Namun, jangan lupakan kuah dan proses pembuatannya
yang melibatkan banyak garam. Makanan menyegarkan ini
seringkali kita anggap sebagai makanan sehat sebagai
pendamping chinesse food, sate atau makanan lainnya. Namun
ternyata karena garam yang dikandungnya, makanan ini menjadi
pantangan darah tinggi.
g. Makanan dan Minuman Manis
Tidak punya kencing manis bukan berarti Anda aman
mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis. Gula dan
karbohidrat sederhana (seperti gula pasir, kue, permen dan
minuman manis) merupakan salah satu hal yang malah dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah. Lebih jauh lagi,
makanan dan minuman manis dapat meningkatkan risiko
terjadinya komplikasi penyakit jantung pada penderita tekanan
darah tinggi. Pantangan darah tinggi ini jangan Anda remehkan.
Jadi, jauhilah makanan manis dan terutama minuman manis yang
banyak mengandung gula.
h. Daging Merah
Mungkin Anda berpikir bahwa makan daging sapi tanpa
lemak adalah salah satu jenis makanan yang sehat. Namun ternyata
daging sapi yang termasuk dalam kelompok daging merah
mengandung banyak lemak jenuh yang tidak baik untuk jantung
dan pembuluh darah Anda. Jenis daging yang termasuk dalam
kategori ini adalah daging sapi, daging kambing dan hampir
seluruh daging mamalia lainnya. Pantangan darah tinggi yang satu
ini juga tidak dapat Anda sepelekan begitu saja, dan cobalah
mencoba menghindarinya.
i. Kafein
Kopi dan teh yang mengandung kafein disarankan agara
dikurangi konsumsinya oleh mereka yang menderita darah tinggi.
Kafein mempunyai efek menaikkan tekanan darah dalam waktu
yang singkat untuk waktu yang singkat pula. Karena alasan ini,
konsumsi kafein sebaiknya dibatasi untuk menjaga tekanan darah.
Minuman dengan kafein contohnya ialah kopi, teh, cokelat,
minuman penambah energi dan minuman soda.

2. Makanan dan Minuman yang Boleh Dikonsumsi


a. Timun
Pada sebuah penelitian yang baru saja dilakukan baru-baru, yang
menunjukkan bahwa makanan tinggi kalium, magnesium dan serat
dapat mengurangi tekanan darah. Dengan dikombinasikan dengan
diet yang sehat, makanan tersebut akan mampu menurunkan
tekanan darah sistolik sebesar 5 poin, serta tekanan darah diastolik
sebesar 3,5 poin. Mentimun tidak hanya mengandung tinggi tiga
nutrisi yang disebutkan diatas, ia juga merupakan sumber vitamin a
dan k, folat, asam caffeic, dan silika. Selain itu juga mengandung
vitamin c, yaitu antioksidan kuat yang juga dapat membantu untuk
menurunkan tekanan darah. \
b. Melon
Melon adalah sumber yang sangat baik dari vitamin a, vitamin c,
thiamin dan kalium. Satu cangkir melon (173 g) mengandung 484
mg kalium, ini setara dengan 14 persen dari nilai kebutuhan harian
yang direkomendasikan. Melon juga merupakan sumber yang baik
dari magnesium, asam folat dan vitamin b6.
c. Seledri
Seledri sejak zaman dahulu sudah menjadi obat tradisional di
negara China karena bisa mengobati tekanan darah tinggi. Sesuai
penelitian baru-baru ini seledri bisa diolah menjadi jus dan dapat
menurunkan tekanan darah tinggi dengan cara mengkonsumsi
setiap hari. Karena kandungan kalium, antioksidan dan mineral
pada seledri dapat meregangkan otot-otot yang ada pada dinding
arteri sehingga darah bisa mengalir lancar. Berguna untuk
mengurangi hormon yang menimbulkan stres karena pembuluh
darah yang semakin lama semakin mengerut.
d. Bawang putih
Bawang putih berguna untuk menurunkan tekanan darah tinggi
karena kandungan alisin yang ada di dalamnya mampu melebarkan
pembekuan darah dan menghindarkan terjadinya hipertensi. Selain
itu bawang putih menghasilkan kolesterol HDL yang baik untuk
menurunkan tekanan darah tinggi dalam tubuh.
e. Tomat
Tomat merupakan makanan hipertensi yang tepat untuk
dikomsumsi orang-orang yang mengalami tekanan darah tinggi.
Sebaiknya jika anda mempunyai tekanan darah tinggi atau
hipertensi anda mengkomsumsi tomat setiap harinya karena tomat
sangat baik untuk penderita hipertensi.
f. Gandum
Salah satu makanan hipertensi yang bisa anda komsumsi adalah
gandum, selain bisa menurunkan lemak ditubuh gandum juga bisa
menurunkan takanan darah ditubuh secara efektif jadi sangat cocok
untuk dikomsumsi bagi anda yang mempunyai masalah dalam
tekanan darah.

g. Kentang
Kentang merupakan makanan yang banyak dikomsumsi orang dan
bisa dijadikan sebagai menu makanan yang sehat dan baik untuk
kesehatan. Untuk menurunkan tekanan darah tinggi sebaiknya anda
mengkomsumsi kentang dengan rutin.
h. Pisang
Tentunya anda semua sudah tidak asing lagi dengan buah pisang,
ternyata buah pisang adalah salah satu makanan hipertensi yang
tepat untuk dikomsumsi bagi penderita darah tinggi. Pisang
mempunyai banyak kandungan vitamin yang baik untuk
menurunkan tekanan darah tinggi yang anda alami.
i. Kedelai
Kedelai juga termasuk kedalam makanan hipertensi yang tepat
yang bisa anda komsumsi, keledai mempunyai kandungan
magnesium dan juga kalium yang sangat baik untuk menurunkan
tekanan darah tinggi, anda bisa mengkomsumsi susu kedelai secara
rutin jika ingin mendapatkan tekanan darah yang normal.
j. Sayuran Hijau
Makanan hipertensi yang bisa anda komsumsi adalah sayuran hijau
seperti bayam. Bayam merupakan sayuran yang banyak
mengandung serat, potasium, magnesium, dan nutrisi yang ampuh
untuk menurunkan tekanan darah didalam tubuh jadi anda
komsumsi bayam secara rutin dengan memasukan bayam kedalam
menu makanan anda.
G. OBAT TRADISIONAL HIPERTENSI
1. Bahan
a. Melon/timun
b. Air putih
2. Alat
a. Mangkok
b. Saringan
c. Serutan/ blender
d. Pisau
e. Gelas
f. Sendok
3. Cara membuat
1) Cuci bersih buah melon/timun
2) Kupas buah melon/mentimun
3) Serut melon/mentimun, jika memiliki blander dapat langsung
dimasukkan kedalam blender.
4) Masukan hasil parutan ke saringan lalu saring
5) Air hasil saringan dapat dikonsumsi untuk menurunkan tekanan
darah dengan meminum pada pagi dan sore hari.
Lampiran 2

EVALUASI

1. Apa yang dimaksud dengan hipertensi?


2. Apa sajakah penyebab hipertensi?
3. Bagaimana tanda dan gejala seseorang terkena hipertensi?

Kunci jawaban
1. Menurut WHO yang dikutip oleh Slamet Suyono (2001:253) batas tekanan
darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg dan tekanan
darah sama dengan atau lebih dari 160/95 mmHg dinyatakan sebagai
hipertensi. Secara umum seseorang dikatakan menderita hipertensi jika
tekanan darah sistolik/diastolik 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg).
2. Penyebab hipertensi :
a. Usia
b. Jenis Kelamin
c. Genetik
d. Kebiasaan Merokok
e. Konsumsi Asin/Garam
f. Konsumsi Lemak Jenuh
g. Penggunaan Jelantah
h. Kebiasaan Konsumsi Minum Minuman Beralkohol
i. Obesitas
j. Olahraga
k. Stres
3. Tanda dan gejala
Sebagian besar tanpa disertai gejala yang mencolok dan manifestasi klinis
timbul setelah mengetahui hipertensi bertahun-tahun berupa:
a. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah
b. Rasa berkunang-kunang
c. Rasa pegal di bahu dan perasaan panas / gelisah
d. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.
e. Kurang tidur
f. Ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan syaraf.
g. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerolus.
Mengetahui, Gianyar, Oktober 2016
Pembimbing Praktik/CI Mahasiswa

……………………………… Ni Kadek Dian Inlam Sari


NIP. NIM. P07120214018

Pembimbing Akademik/CT

…………………………………….
NIP.