Anda di halaman 1dari 11

Dosen : Nurafriani, S.Kep.Ns.,M.

kes

Tugas : Keperatawatan Bencana

PERBERDAYAAN MASYAKARAKAT SAAT

BENCANA DAN SESUDAH BENCANA

KELOMPOK 7 KELAS A3 2016

1. NUR INDAH LESTARI (NH0116115)


2. RISMA ARIS (NH0116148)
3. RONAL MARNANDO (NH0116149)
4. NOFRIANTI DATU TAMBING (NH0116111)
5. RAHMA BOY (NH0116135)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

NANI HASANUDDIN

MAKASSAR

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Indonesia menjadi negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia berdasar
data yang dikeluarkan oleh badan perserikatan bangsa-bangsa untuk strategi internasional
pengurangan risiko bencana (un-isdr). Tingginya posisi indonesia ini dihitung dari
jumlah manusia yang terancam risiko kehilangan nyawa bila bencana alam terjadi.
Indonesia menduduki peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor,
gunung berapi. Dan menduduki peringkat tiga untuk ancaman gempa serta enam untuk
banjir.
Badan nasional penanggulangan bencana (bnpb) selama januari 2013 mencatat
ada 119 kejadian bencana yang terjadi di indonesia. Bnpb juga mencatat akibatnya ada
sekitar 126 orang meninggal akibat kejadian tersebut. Kejadian bencana belum semua
dilaporkan ke bnpb. Dari 119 kejadian bencana menyebabkan 126 orang meninggal,
113.747 orang menderita dan mengungsi, 940 rumah rusak berat, 2.717 rumah rusak
sedang, 10.945 rumah rusak ringan. Untuk mengatasi bencana tersebut, bnpb telah
melakukan penanggulangan bencana baik kesiapsiagaan maupun penanganan tanggap
darurat. Untuk siaga darurat dan tanggap darurat banjir dan longsor sejak akhir desember
2012 hingga sekarang, bnpb telah mendistribusikan dana siap pakai sekitar rp 180 milyar
ke berbagai daerah di indonesia yang terkena bencana.
Namun, penerapan manajemen bencana di indonesia masih terkendala berbagai
masalah, antara lain kurangnya data dan informasi kebencanaan, baik di tingkat
masyarakat umum maupun di tingkat pengambil kebijakan. Keterbatasan data dan
informasi spasial kebencanaan merupakan salah satu permasalahan yang menyebabkan
manajemen bencana di indonesia berjalan kurang optimal. Pengambilan keputusan ketika
terjadi bencana sulit dilakukankarena data yang beredar memiliki banyak versi dan sulit
divalidasi kebenarannya.
Dari uraian diatas, terlihat bahwa masih terdapat kelemahan dalam sistem
manajemen bencana di indonesia sehingga perlu diperbaiki dan ditingkatkan untuk
menghindari atau meminimalisasi dampak bencana yang terjadi.
B. RUMUSAN MASALAH
a. Apa yang di maksud dengan bencana dan apa saja jenis bencana?
b. Apa saja prinsip-prinsip penanggulangan bencana?
c. Apa saja kegiatan dan tahapan manajemen bencana?
d. Langkah-langkah pemberdayaan masyarakat setelah bencana
BAB II
PEMBAHASAN
A. Apa yang dimaksud dengan bencana dan apa saja jenis bencana
Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana
menyebutkan bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor
alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan
dampak psikologis. Definisi tersebut menyebutkan bahwa bencana disebabkan oleh
faktor alam, non alam, dan manusia. Oleh karena itu, undang-undang nomor 24 tahun
2007 tersebut juga mendefinisikan mengenai bencana alam, bencana nonalam, dan
bencana sosial.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana non alam adalah
bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara
lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi. Dan wabah penyakit. Bencana
sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atauserangkaian peristiwa yang
diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar
komunitas masyarakat, dan teror.
B. Prinsip – prinsip penanggulangan bencana
Prinsip-prinsip dalam penanggulangan bencana berdasarkan pasal 3 uu no. 24 tahun
2007, yaitu:
1. Cepat dan tepat. Yang dimaksud dengan “prinsip cepat dan tepat” adalah bahwa
dalam penanggulangan bencana harus dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai
dengan tuntutan keadaan.
2. Prioritas. Yang dimaksud dengan “prinsip prioritas” adalah bahwa apabila terjadi
bencana, kegiatan penanggulangan harus mendapat prioritas dan diutamakan pada
kegiatan penyelamatan jiwa manusia.
3. Koordinasi dan keterpaduan. Yang dimaksud dengan “prinsip koordinasi” adalah
bahwa penanggulangan bencana didasarkan pada koordinasi yang baik dan saling
mendukung. Yang dimaksud dengan “prinsip keterpaduan” adalah bahwa
penanggulangan bencana dilakukan oleh berbagai sektor secara terpadu yang
didasarkan pada kerja sama yang baik dan saling mendukung.
4. Berdaya guna dan berhasil guna. Yang dimaksud dengan “prinsip berdaya guna”
adalah bahwa dalam mengatasi kesulitan masyarakat dilakukan dengan tidak
membuang waktu, tenaga, dan biaya yang berlebihan. Yang dimaksud dengan
“prinsip berhasil guna” adalah bahwa kegiatan penanggulangan bencana harus
berhasil guna, khususnya dalam mengatasi kesulitan masyarakat dengan tidak
membuang waktu, tenaga, dan biaya yang berlebihan.
5. Transparansi dan akuntabilitas. Yang dimaksud dengan “prinsip transparansi” adalah
bahwa penanggulangan bencana dilakukan secara terbuka dan dapat
dipertanggungjawabkan. Yang dimaksud dengan “prinsip akuntabilitas” adalah
bahwa penanggulangan bencana dilakukan secara terbuka dan dapat
dipertanggungjawabkan secara etik dan hukum.
6. Kemitraan.
7. Pemberdayaan
8. Nondiskriminatif. Yang dimaksud dengan “prinsip nondiskriminasi” adalah bahwa
negara dalam penanggulangan bencana tidak memberikan perlakuan yang berbeda
terhadap jenis kelamin, suku, agama, ras, dan aliran politik apa pun.
9. Nonproletisi. Yang dimaksud dengan ”nonproletisi” adalah bahwa dilarang
menyebarkan agama atau keyakinan pada saat keadaan darurat bencana, terutama
melalui pemberian bantuan dan pelayanan darurat bencana.
C. Kegiatan dan tahapan manajemen bencana
1. Pencegahan (prevention)
Upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana (jika mungkin dengan
meniadakan bahaya).
Misalnya :
 Melarang pembakaran hutan dalam perladangan
 Melarang penambangan batu di daerah yang curam
 Melarang membuang sampah sembarangan
2. Mitigasi Bencana (Mitigation)
Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan
fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bencana (UU 24/2007) atau upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang
ditimbulkan oleh bencana.
Bentuk mitigasi :
 Mitigasi struktural (membuat chekdam, bendungan, tanggul sungai, rumah
tahan gempa, dll.)
 Mitigasi non-struktural (peraturan perundang-undangan, pelatihan, dll.)
3. Kesiapsiagaan (Preparedness)
Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui
pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna (UU
24/2007) Misalnya:Penyiapan sarana komunikasi, pos komando, penyiapan lokasi
evakuasi, Rencana Kontinjensi, dan sosialisasi peraturan / pedoman penanggulangan
bencana.
4. Peringatan Dini (Early Warning)
Serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat
tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang
berwenang (UU 24/2007) atau Upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa
bencana kemungkinan akan segera terjadi.
Pemberian peringatan dini harus :
 Menjangkau masyarakat (accesible)
 Segera (immediate)
 Tegas tidak membingungkan (coherent)
 Bersifat resmi (official)
5. Tanggap Darurat (response)
Upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi
dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda,
evakuasi dan pengungsian.
6. Bantuan Darurat (relief)
Merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan dasar berupa :
 Pangan
 Sandang
 Tempat tinggal sementara
 kesehatan, sanitasi dan air bersih
7. Pemulihan (recovery)
Proses pemulihan darurat kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan
memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada keadaan semula. Upaya yang
dilakukan adalah memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air
bersih, pasar puskesmas, dll).
8. Rehabilitasi (rehabilitation)
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau
masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran
utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan
dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana.Upaya langkah yang diambil
setelah kejadian bencana untuk membantu masyarakat memperbaiki rumahnya,
fasilitas umum dan fasilitas sosial penting, dan menghidupkan kembali roda
perekonomian.
9. Rekonstruksi (reconstruction)
Program jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan fisik, sosial dan
ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau
lebih baik dari sebelumnya. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua
prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat
pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya
kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan
bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada
wilayah pascabencana.
Dengan melihat manajemen bencana sebagai sebuah kepentingan masyarakat kita
berharap berkurangnya korban nyawa dan kerugian harta benda. Dan yang terpenting dari
manajemen bencana ini adalah adanya suatu langkah konkrit dalam mengendalikan
bencana sehingga korban yang tidak kita harapan dapat terselamatkan dengan cepat dan
tepat dan upaya untuk pemulihan pasca bencana dapat dilakukan dengan secepatnya.
Pengendalian itu dimulai dengan membangun kesadaran kritis masyarakat dan
pemerintah atas masalah bencana alam, menciptakan proses perbaikan total atas
pengelolaan bencana, penegasan untuk lahirnya kebijakan lokal yang bertumpu pada
kearifan lokal yang berbentuk peraturan nagari dan peraturan daerah atas menejemen
bencana. Yang tak kalah pentingnya dalam manajemen bencana ini adalah sosialisasi
kehatian-hatian terutama pada daerah rawan bencana.
D. Langkah-langkah Pemberdayaan masyarakat setelah Bencana
Langka-langkah pemberdayaan terhadap pranata social/lembaga social local secara
kolaborasi ini memilki beberapa tahapan, dan ini berlangsung berkesinambungan antara 2
tahun sampai 3 tahun. Tahapan dimaksud adalah
1. Tahapan persiapan
Melakukan kajian/penelitian awal untuk mengetahui permasalahan social ekonomi
pasca bencana jumlah korban yang masih memerlukan bantuan mengetahui
keberadaan pranata social/lembaga social local yang ada dan peduli, dan upaya yang
perlu dilakukan, mengetahui potensi dan sumber daya yang dapat dikembangkan
memprediksi hambatan/kendala dan kemudahan dalam upaya pemberdayakab
mengetahui upaya yang pernah dilakukan pemda setempat terhadap korban bencana
dan kesiapan aparat terkait bila dilakukan upaya pemberdayaan dan mencari dan
mempersiapkan tenaga fasilitator (yang dianggap pakar/ahli, 2 orang) dan tenaga
pendamping (2orang) yang dianggap mampu danmau bekerjasama dengan
masyarakat korban, mendampingi kegiatan sampai dengan dilakukan terminasi
2. Pra pemberdayaan
a. Membentuk tim peneliti
b. Membuat rancangan pemberdayaan, modul fasilitator dan modul pendampingan,
yang didasarkan dari hasil kajian/penelitian lapangan, menetapkan pranata
social/lembaga social local untuk diberdayakan, menetapkan lokasi peberdayaan
dan menetapkan stimulasi untuk mendukung program kegiatan
c. Surat menyurat, izin penelitian dan waktu pemberdayaan
3. Tahap pemberdayaan
a. Sosialisasi atau penyuluhan pada aparat pemda terkait, pengurus beberapa pranata
social/lembaga social local (4-6 pranata/lembaga) dan tokoh masyarakat
b. Menetapkan tenaga fasilitator dan tenaga pendamping, menjelaskan maksud dan
tujuan pemberdayaan pasca bencana
c. Menetapkan lokasi pemberdayaan, menetapkan pranta social/lembaga social yang
dalam hal ini pengurus inti yang ditunjuk untuk mewakili (masing-masing 2
orang), tokoh masyarakat (format dan informal), aparat pemda (provinsi dan
kab/kota) masing-masing 2 orang dan tokoh informal 2 orang, sehingga jumlah
peserta kolaborasi ini berjumlah 20 orang
d. Pelakasanaan pemberdayaan dengan alokasi waktu 6-8 bulan, dapat mengadopsi
kep.Men.Sos RI No.12HUK/2006, tentang model pemberdayaan pranata social
dalam mewujudkan masyakarakat berketahanan social, yang telah di
implementasikan pada beberapa daerah
e. Memberikan stimulasi kepada kelompok/forum yang telah diberdayakan sebagai
dukungan kegiatan dan program yang telah dibuat untuk perbaikan social
ekonomi para korban bencana
f. Monitoring dan evaluasi oleh tim peneliti untuk penyempurnaan kegiatan
pemberdayaan
4. Tahap Akhir
a. Membuat laporan hasil pemberdayaan oleh tim peneliti, sebagai pertanggung
jawaban administrasi dan ilmiah
b. Penyempurnaan model untuk replikasi di tempat lain
c. Terminasi, pemutusan kegiatan pemberdayaan.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Indonesia merupakan salah satu yang rawan bencana sehingga diperlukan
manajemen atau penanggulangan bencana yang tepat dan terencana. Manajemen bencana
merupakan serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang
berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan
rehabilitasi. Manajemen bencana di mulai dari tahap pra-bencana, tahap tanggap darurat,
dan tahap pasca-bencana. Pertolongan pertama dalam bencana sangat diperlukan untuk
meminimalkan kerugian dan korban jiwa. Pertolongan pertama pada keadaan bencana
menggunakan prinsip triage.
B. SARAN
Masalah penanggulangan bencana tidak hanya menjadi beban pemerintah atau
lembaga-lembaga yang terkait. Tetapi juga diperlukan dukungan dari masyarakat umum.
Diharapkan masyarakat dari tiap lapisan dapat ikut berpartisipasi dalam upaya
penanggulangan bencana.
DAFTAR PUSTAKA

Pusat Data, Informasi dan Humas. 2010. Sistem Penangulangan Bencana.


http://bnpb.go.id/page/read/7/sistem-penanggulangan-bencana. Diakses tanggal 18
September 2017
Pasal 1 Undang-Undang No. 24 Tahun 2007. Jakarta: DPR RI dan Presiden RI

Sudiharto. 2011. Manajemen Disaster. http://bppsdmk.depkes.go.id/bbpkjakarta/wp-content


/uploads/ 2011/06/ Manajemen Disaster .pdf. Di akses tanggal 18 September 2017