Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

Persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik


perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal
atau barang-barang yang masih dalam proses produksi ataupun persediaan bahan
baku yang masih menunggu untuk digunakan dalam suatu proses produksi.

Persediaan itu perlu diawasi sehingga diperlukan pengawasan persediaan.


Secara fungsional, pengawasan persediaan adalah suatu kegiatan untuk menentukan
tingkat atau komposisi dari pada persediaan part, bahan baku, dan barang hasil/
produk, sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi serta
kebutuhan kebutuhan pembelanjaan perusahaan dengan efektif dan efisien. Tujuan
pengawasan persediaan pada intinya adalah menjaga jangan sampai perusahaan
kehabisan persediaan, menjaga supaya pembentukan persediaan oleh perusahaan
tidak terlalu besar sehingga biaya yang timbul tidak terlalu besar dan menjaga agar
pembelian secara keci-kecilan dapat dihindari karena ini akan berakibat biaya
pemesanan menjadi besar

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan manajemen persediaan?

2. Apa saja jenis-jenis persediaan

3. Bagaimana sistim persediaan

1.3 Tujuan Penulisan


1. Apa yang dimaksud dengan manajemen persediaan?

2. Apa saja jenis-jenis persediaan

3. Bagaimana sistim persediaan


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Persediaan


Persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan
dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal atau barang-
barang yang masih dalam proses produksi ataupun persediaan bahan baku yang
masih menunggu untuk digunakan dalam suatu proses produksi.

Dari defenisi di atas, dapat dikatakan bahwa persediaan itu merupakan aktiva
dari suatu perusahaan, apakah dalam bentuk mentah (bahan baku), atau dalam
bentuk sedang diproses, atau dalam bentuk barang jadi. Oleh karena itu, dari sini
dapat diambil kesimpulan bahwa ada 3 jenis persediaan yang berlaku umum di
perusahaan, yaitu:

a. Persediaan Bahan Mentah/Baku (Raw Material: Direct Material dan Indirect


Material) yang akan dibahas detail dalam bab ini
b. Persediaan dalam Proses (Work in Process).
c. Persediaan Bahan Jadi (Finished Good).
A. Kegunaan Persediaan
a. Menghilangkan risiko keterlambatan datangnya barang. Jika barang yang
dipesan terlambat datang sedangkan proses produksi berjalan terus, maka
persediaan akan dikeluarkan dan dipakai untuk keperluan produksi. Hal ini akan
terus berlangsung sampai barang yang dipesan datang. Untuk pemasok yang
nakal dalam arti tidak menepati waktu pengiriman pesanan barang, maka dapat
digunakan taktik "memperpanjang masa perkiraan datangnya barang" sehingga
persediaan yang dilakukan lebih besar daripada yang dilakukan terhadap
pemasok yang baik.
b. Menghilangkan risiko dari material yang dipesan tidak baik. Jika barang yang
dipesan cacat, rusak atau ditolak (reject), maka persediaan dapat digunakan
sambil menunggu barang yang baik dikirimkan. Barang yang dipesan
hendaknya mencapai kualitas yang dinginkan. Jika tidak sesuai dengan kualitas
yang disepakati, maka perusahaan dapat me-"reject barang dengan alasan tidak
sesuai dengan spesifikasi yang ada dalam kontrak.
c. Untuk menumpuK Darang-Darang yang dihasilkan secara musiman. Ini berlaku
bagi produk-produk pertanian. Karena sifatnya musiman, maka ketika musim
panen, persediaan dilakukan dalam jumlah besar. Sedangkan jika tidak musim,
maka persediaan yang besar tadi dikeluarkan.
d. Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan. Pada akhirnya,persediaan
memiliki kegunaan untuk mempertahankan agar produksi terus berjalan. Jika
produksi berhenti, maka stabilitas operasi perusahaan akan terganggu,
e. Mencapai penggunaan mesin yang optimal. Persediaan pun diperlukan untuk
mencapai penggunaan mesin agar optimal. Karena jika tidak ada barang, maka
mesin akan idle. Dalam kondisi tidak ada barang yang masuk, maka persediaan
menjadi wajib hukumnya untuk dikeluarkan.
f. Memberikan jaminan tetap tersedianya barang jadi. Jaminan perusahaan ini
menjadi penting, disebabkan karena image konsumen terhadap perusahaan. Jika
tidak ada jaminan barang jadi selalu tersedia, maka konsumen tidak akan pernah
loyal dengan barang kita tersebut.

Persediaan itu perlu diawasi sehingga diperlukan pengawasan persediaan.


Secara fungsional, pengawasan persediaan adalah suatu kegiatan untuk menentukan
tingkat atau komposisi dari pada persediaan part, bahan baku, dan barang hasil/
produk, sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi serta
kebutuhan kebutuhan pembelanjaan perusahaan dengan efektif dan efisien. Tujuan
pengawasan persediaan pada intinya adalah menjaga jangan sampai perusahaan
kehabisan persediaan, menjaga supaya pembentukan persediaan oleh perusahaan
tidak terlalu besar sehingga biaya yang timbul tidak terlalu besar dan menjaga agar
pembelian secara keci-kecilan dapat dihindari karena ini akan berakibat biaya
pemesanan menjadi besar

B. Aliran Material

Inventori adalah persediaan material yang digunakan sebagai sarana produksi


atau untuk memuaskan dan memenuhi permintaan pelanggan. Termasuk dalam
inventori adalah:
a. Bahan baku atau bahan mentah atau raw materials.
b. Barang dalam proses atau barang setengah jadi atau work in process.
c. Barang jadi atau finished good.

Ada pendapat lain bahwa inventori itu adalah suatu sumber daya yang
menganggur dan mempunyai nilai kemampuan ekonomi. Hal ini berarti semua
peralatan dan sumber daya manusia merupakan inventori, tetapi sesungguhnya
semua sumber daya selain material bukan merupakan inventori tetapi merupakan
kapasitas. Sehingga dengan demikian manajemen harus membedakan antara
inventori dan kapasitas.

a. Kapasitas adalah merupakan kemampuan untuk menghasilkan produk.

b. Inventori adalah semua persediaan material yang ditempatkan di sepanjang


jaringan proses produksi dan jalur distribusi.

Maka persediaan akan diletakkan di beberapa tempat sepanjang proses produksi


yang mana proses ini akan menghubungi satu tempat persediaan dengan tempat
persediaan yang lain. Berdasarkan pendekatan sebuah sistem maka ada dua
pengertian yaitu:

a. Kemampuan untuk mengisi sebuah persediaan dinamakan kapasitas penawaran


atau supply copacity.

b. Jumlah pengurangan persediaan dinamakan permintaan atau demand.

Inventori berfungsi menjaga keseimbangan antara besar kapasitas penawaran


dengan jumlah permintaan.

C. Tujuan Inventori

Tujuan utama dari persediaan bahan baku adalah menghubungkarn pemasok


dengan pabrik. Demikian juga persediaan barang dalam proses dan persediaan
barang jadi. Ada tiga alasan mengapa inventori diperlukan:

1. Menghilangkan pengaruh ketidakpastian

Untuk menghadapi ketidakpastian maka pada sisterm inventori ditetapkan


persediaan darurat yang dinamakan safety stock.
a. Apabila permintaan telah diketahui maka persediaan barang dalanm proses
dan barang jadi akan disesuaikan dengan permintaan, dalam hal ini tidak perlu
ada persediaan dan apabila ada gejolak pemintaan akan diteruskan kebagian
produksi dan bagian produksi akan berusaha mengatasi gejolak pemintaan ini.
Tetapi sesungguhnya safety stock dapat mengatasi hal seperti ini tanpa ikut
campur bagian produksi. Demikian juga dengan persediaan bahan baku yang
akan menyerap seandainya ada gejolak dari pemasok. Sedangkan inventori
barang setengah jadi digunakan untuk mengatasi gejolak pada proses
produksi, yang antara lain disebabkan karena:
 Kerusakan mesin produksi ataupun peralatan
 Pekerja yang tidak patuh
 Perubahan jadwal yang sangat cepat.

Jika sumber dari ketidakpastian dapat dihilangkan maka jumlah inventori


maupun safety stock dapat dikurangi.

2. Memberi waktu luang untuk pengelolaan produksi dan pembelian

Kadang-kadang lebih ekonomis memproduksi barang dalam proses atau


barang jadi dalam jumlah besar atau dalam jumlah paket yang kemudian
disimpan sebagai persediaan. Selama persediaan masih ada maka proses
produksi dihentikan dan akan dimulai lagi bila diketahui persediaan bampir
habis. Pertimbangan ini memberikan beberapa kemudahan sebagai berikut :

 Memberikan kemungkinan untuk menyebarkan dan meratakan beban biaya


investasi pada sejumlah besar produk.
 Memungkin kan penggunaan satu peralatan untuk menghasilkan bermacam-
macam jenis produk.

Seperti halnya pada waktu membeli bahan baku, dengan pertimbangan pada
biaya pemesanan, biaya angkut dan pengurangan harga karena pembelian dalam
jumlah yang banyak, maka lebih murah membeli dalam partai besar atau dalam
lot. Pembelian bahan baku dalam partai besar atau lot akan lebih ekonomis dan
dilakukan pada periode tertentu yang dinamakan "cycle inventori". Karena
pembelian dalam jumlah banyak maka sebagian digunakan untuk produk
sebagian lagi disimpan sebagai persediaan bahan baku di gudang.

3. Untuk mengantisipasi perubahan pada demand dan supply

Inventori disiapkan untuk menghadapi beberapa kondisi yang menunjukkan


perubahan demand dan supply.

a. Bila ada perkiraan perubahan harga dan persediaan bahan baku.


b. Sebagai persiapan menghadapi promosi pasar di mana sejumlah besar barang
jadi disimpan menunggu penjualan tersebut.
c. Perusahaan yang melakukan produksi dengan jumlah output tetap akan
mengalami kelebihan produk pada kondisi permintaan yang rendah atau pada
kondisi musim lesu atau low season. Kelebihan produk, ini akan disimpan
sebagai persediaan yang akan digunakan nanti apabila produksi output tidak
dapat memenuhi lonjakan permintaan yaitu pada musim ramai atau pada
"peak season".

Contoh:

Perusahaan pembuat AC akan melakukan produksi yang merata sepanjang tahun


walaupun permintaan sangat besar pada musim panas.

2.2 Jenis Persediaan


Sedangkan persediaan dilihat dari jenis atau posisi menurut Sofjan Assauri
(2004:171) dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Persediaan bahan baku (Raw Material stock) yaitu persediaan dari barang-
barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi, barang mana
dapat diperoleh dari sumber-sumber alam ataupun dibeli dari suplier atau
perusahaan yang menghasilkan bahan baku bagi perusahaan pabrik yang
menggunakan nya.
2. Persediaan bagian produk (Purchased part) yaitu persediaan barang-barang
yang terdiri dari part atau bagian yang diterima dari perusahaan lain, yang
dapat secara langsung diassembling dengan part lain, tanpa melalui proses
produksi sebelumnya.
3. Persediaan bahan-bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan
(Supplies stock) yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang
diperlikan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi
atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusaahan, tetapi tidak
merupakan bagian atau komponen dari barang jadi.
4. Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (work in
process/progress stock) yaitu persediaan barang-barang yang keluar dari
tiap-tiap bagian dalam satu pabrik atau bahan-bahan yang telah diolah
menjadi suatu bentuk, tetapi lebih perlu diproses kembali untuk kemudian
menjadi barang jadi.
5. Persediaan barang jadi (Finished goods stock)yaitu barang-barang yang
telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada
pelanggan atau perusahaan lain.

A. Faktor – faktor yang mempengaruhi Persediaan bahan baku


Meskipun persediaan akan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan,
namun perusahaaan tetap hati-hati dalam menentukan kebijakan persediaan.
Persediaan membutuhkan biaya investasi dan dalam hal ini menjadi tugas bagi
manajemen untuk menentukan investasi yang optimal dalam persediaan. Masalah
persediaan merupakan masalah pembelanjaan aktif, dimana perusahaan
menemukan dana yang dimiliki dalam persediaaan dengan cara yang seefektif
mungkin. Untuk melangsungkan usahanya dengan lancar maka kebanyakan
perusahaan merasakan perlunya persediaan. Menurut Bambang Riyanto (2001:74)
Besar kecilnya persediaan yang dimiliki oleh perusahaan ditentukan oleh beberapa
factor antara lain:

1. Volume yang dibutuhkan untuk melindungi jalannya perusahaan terhadap


gangguan kehabisan persediaan yang akan menghambat atau mengganggu
jalannya produksi.
2. Volume produksi yang direncanakan, dimana volume produksi yang
direncanakan itu sendiri sangat tergantung kepada volume sales yang
direncanakan.
3. Besar pembelian bahan mentah setiap kali pembelian untuk mendapatkan
biaya pembelian yang minimal.
4. Estimasi tentang fluktuasi harga bahan mentah yang bersangkutan diwaktu-
waktu yang akan datang
5. Peraturan-peraturan pemerintah yang menyangkut persediaan material
6. Harga pembelian bahan mentah
7. Biaya penyimpanan dan resiko penyimpanan di gudang.
8. Tingkat kecepatan material menjadi rusak atau turun kualitasnya

B. Peranan Perencanaan dan Pengendalian Persediaan


Perencanaan dan pengendalian merupakan bagian dari manajemen
persediaan. Pengendalian adalah suatu tindakan agar aktifitas dilakukan dengan
sebaik-baiknya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pengendalian tanpa
perencanaan adalah sia-sia dan perencanaan tanpa pengendalian merupakan
tindakan yang tidak efektif.
Secara umum dapat diformulasikan disini bahwa arti dari perencanaan dan
pengendalian bahan baku menurut Suyadi Prawirosentono(2001:79) adalah suatu
kegiatan memperkirakan kebutuhan persediaan bahan baku, baik secara kulitatif
maupun kuantitatif. Agar perusahaan dapat beroperasi seperti yang direncanakan,
jai singkatnya bahwa arti dari perencanaan dan pengendalian persediaan bahan
baku, persediaan bahan setengah jadi dan persediaan barang jadi. Secara
keseluruhan diartikan sebagai upaya menentukan besarnya tingkat perseiaan dan
mengendalikannya dengan efisien dan efektif.

Untuk menentukan pengendalian persediaan bahan baku yang efektif maka


diperlukan tujuan perencanaan yang efektif pula dan merupakan kegiatan
pengendalian (Controlling). Adapun tujuan perencanaan bahan baku adalah:

a. Agar jumlah persediaan bahan yang disediakan tidak terlalu sedikit juga
terlalu banyak, artinya dalam jumlah yang cukup efisien dan efektif.
b. Operasi perusahaan khususnya proses produksi dapat berjalan secara efisien
dan efektif.
c. Implikasi penyediaan bahan yang efisien demi untu kelancaran proses
produksi , berarti harus disediakan investasi sejumlah modal dalam jumlah
yang memadai.

Untuk mengatur tingkat persediaan dalam jumlah, mutu, dan waktu yang
tepat. Maka diperlukan pengendalian persediaan bahan yang efektif dan efisien,
untuk itu penulis menyajikan pengertian pengendalian persediaan bahan baku.

C. Faktor-faktor dalam Penerapan Manajemen Persediaan


Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam manajemen persediaan
antara lain :
1. Biaya
Ada beberapa unsur biaya yang perlu diperhatikan dalam manajemen
persediaan, seperti yang ditulis oleh Freddy Rangkuti dalam Manajemen Persediaan
(halaman 16-17) :
a. Biaya penyimpanan (holding cost atau carrying cost) yaitu terdiri atas
biayabiaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan.
b. Biaya pemesanan atau pembelian (ordering cost atau procurement cost).
c. Biaya penyiapan (manufacturing) atau set-up cost. Perusahaan menghadapi
biaya penyiapan (set-up cost) untuk memproduksi komponen tertentu.
d. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage costs) adalah biaya yang
timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan.

2. Sumber Daya Manusia (SDM)


Dalam menerapkan sistem manajemen persediaan maka diperlukan sumber
daya manusia yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan manajemen
persediaan yang berperngaruh pada kontinuitas proses produksi. Seperti yang
dikutip oleh Sri Mulyani dari Sistem Akuntansi (Mulyadi, 2001) “mendefinisikan
sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode, ukuran-ukuran
yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan
keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya
kebijakan manajemen. Berdasarkan pengamatan dilapangan maka ada beberapa hal
tentang sumber daya manusia yang perlu diperhatikan dalam penerapan manajemen
persediaan, antara lain :
a. SDM yang bertanggung jawab selama masa pemeliharaan.
b. SDM yang bertanggung jawab untuk menghitung dan mengestimasi
kebutuhan stock.
c. SDM yang bertanggung jawab atas administrasi keluar-masuknya barang.
d. SDM yang bertanggung jawab terhadap pengecekan kualitas barang.
e. SDM yang bertanggung jawab atas penerimaan dan pemeriksaan
pembelian.
Kebutuhan sumber daya manusia disesuaikan dengan banyaknya tugas dan
tanggungjawab yang ada dalam perusahaan. Kebutuhan sumber daya manusia
merupakan kebijakan pembuat keputusan (direktur). Untuk setiap perusahaan
kebijakan tugas dan tanggungjawab sumber daya manusia biasanya berbeda.
3. Pola Manajemen
Menurut Agus Ristono, 2008 dalam Manajemen Persediaan : Pola
manajemen, merupakan cerminan dari kebijakan manajemen perusahaan yang
direalisasikan pada kebijakan delivery, cara pembayaran, pencatatan biaya, dan
sebagainya.
Ada beberapa hal pola manajemen yang berkaitan dengan penerapan
manajemen persediaan antara lain :
a. Perhitungan data kebutuhan di masa yang akan datang.
b. Penjadwalan proyek.
c. Kebijakan menentukan stock dan buffer.
d. Menentukan penjadwalan dalam pemesanan barang.
e. Koordinasi antar divisi
4. Teknologi Pendukung
Peranan teknologi merupakan suatu strategi kompetitif dalam dunia industri
seperti yang dikutip dalam Jurnal Akuntansi Biaya, Michael Porter dalam
Watanabe, 2001 : “A leading scholar of competitive strategy, assert that the power
of technology as competitive variables lies in its ability to altercompetition throught
changing industry structure”. Teknologi pendukung digunakan untuk mendukung
suatu sistem kerja yang dapat menguntungkan penggunanya.
Dalam usaha baja ringan ada beberapa hal yang berkaitan dengan teknologi
pendukung, antara lain :
a. Teknologi pendukung dalam perhitungan estimasi kebutuhan.
b. Teknologi pendukung dalam sistem pengadaan barang.
c. Teknologi pendukung dalam pengecekan mutasi barang.
d. Teknologi pendukung dalam pengecekan kualitas barang.
e. Teknologi pendukung dalam mendeteksi kebutuhan barang.
5. Survei dan kajian pasar
Dalam menerapkan manajemen persediaan perusahaan harus bekerjasama
dengan pihak luar (pemasok/supplier). Hal ini berkaitan dengan kemampuan
supplier dalam menyediakan barang saat order dilakukan.

2.3 Sistem Persediaan


1. Sistem Pemeriksaan Terus Menerus atau (Continous Inventary System)

Continous Inventary System disebut juga “Q” sistem atau sistem jumlah
pemesanan teta p atau fixed order quantity system. Pada metode EOQ diasumsikan
laju perubahan permintaan adalah tetap, tetapi bagaimana kalau kenudian laju
permintaan menjadi acak. Untuk itu diperlukan suatu model yang fleksibel dan
digunakan untuk pengelolaan independent-demand inventory.

Metode ini mengutamakan pengawasan yang terus-menerus pada tingkat


persediaan atau pada stock level. Posisi stock atau tingkat persediaan adalah total
inventory yang tersedia atau on-hand inventory ditambah dengan jumlah material
yang sedang dlam pesanan. Pada metode ini, posisi stock diawasi sesudah setiap
kali transaksi dilakukan atau terus-menerus.

Apabila posisi stock berkurang sampai ke tingkat persediaan yang telah


ditentukan atau re-order point (R) maka sejumlah tetap material akan dipesan.
Karena jumlah yang dipesan tetap, maka waktu antara pemesanan tergantung pada
laju perubahan permintaan.

Gambar 1.1 Continous Inventary System


Pemesanan akan datang setelah tenggang waktu atau lead time “L”. Dengan
demikian metode sistem “Q” ditentukan oleh hanya dua parameter Q dan R dan
kedua parameter ini, harus ditetapkan terlebih dahulu :

a. Q ditetapkan dengan metode EOQ


b. R berdasasarkan biaya yang timbul karena persediaan habis atau stock out
cost tetapi karena perkiraan tidak mudah maka digunakan stock out
probability.
A. Tingkat Pelayanan atau Service Level
Service level merupakan istilah yang banyak digunakan dalam manajemen
persediaan yang merupakan besar persentase dan permintaan pelanggan yang dapat
terpenuhi dari persediaan. Maka 100% service level berarti semua permintaan
pelanggan dapat dipenuhi dari persediaan.
Stock Out = 100 – Service Level
Ada beberapa cara untuk mengartikan service level yaitu :
1. Service level adalah sebuah kemungkinan dimana suatu permintaan pelanggan
dapat dipenuhi dari persediaan selama tenggang waktu pemesnan atau lead
timeI dalam satu siklus pemesanan.
2. Service level adalah besar persentase permintaan yang dapat dipenuhi dari
persediaan dalam periode waktu tertentu.
3. Service level adalah besar persentase dan waktu berapa lama inventori
mempunyai persediaan.
Pada setiap pembahasan akan selalu digunakan definisi pertama. Re-order
point ditentukan berdasarkan kemungkinan laju perubahan permintaan pada saat
pemesanan sedang berjalan. Selama tenggang waktu pemesanan ini persediaan
dalam kondisi sedang menghadapi kemungkinan kehabisan stock. Sehingga besar
safety stock tergantung pada service level persediaan dan standar deviasi
permintaan selama tenggang waktu pemesanan.

Rumus :

Safety Stock S = zs

z = Ditentukan oleh service level

s = Standar deviasi permintaan selama lead time

Tabel 1.1 Persentase Permintaan Nominal

Persentase Permintaan Nominal


Service Level Steackout
Z
Percent Percent
0 50 50
0,5 69,1 30,9
1 84,1 15,9
1,1 86,1 13,6
1,2 88,5 11,5
1,3 90,5 9,7
1,4 91,5 8,1
1,5 93,5 6,7
1,6 94,5 5,5
1,7 95,5 4,5
1,8 96,4 3,6
1,9 97,1 2,9
2 97,7 2,3
2,1 98,2 1,8
2,2 98,6 1,4
2,3 98,9 1,1
2,4 99,3 0,8
2,5 99,4 0,6
2,6 99,5 0,5
2,7 99,6 0,4
2,8 99,7 0,3
2,9 99,8 0,2
3 99,9 0,1
B. Penerapan Batas untuk Pemesanan Ulang
Re-order Point adalah posisi yang ditentukan sebagai batas untuk melakukan
pemesanan ulang. Re-order point ditetapkan pada tingkat persediaan yang cukup
tinggi untuk mengurangi risiko kemungkinan persediaan. Habis dan untuk
menghitung kemungkinan ini, perlu diketahui data statistik tentang pola penyebaran
permintaan selama tenggang waktu pemesanan atau lead time tersebut.
Perhitungan re-order point adalah sebagai berikut :

R = m + St

R = Re-Order point

m = Jumlah permintaan selama tenggang waktu pemesanan atau expected


demand ober the lead time.

St = Persediaan penahan atau safety stock atau buffer stock

St = zs

z = Faktor yang merupakan jumlah deviasi kepercayaan terhadap


pelayanan atau safety factor yang besarnya ditentukan oleh tingkat
service level.

s = Standar deviasi permintaan selama tenggang waktu pemesanan atau


standar deviation of demand over the lead time.

R = m + zs

Maka dengan menetapkan besar z dan s maka dapat dihitung safety stock dan re-
order point.

Gambar 1.2 Distribusi Permintaan Selama Lead Time


Contoh :

Perusahaan “A” adalah pengelola gudang bahan makanan yang memasok tepung
terigu ke para pengecer dengan karakteristik sebagai berikut :

Service Level = 95%

S adalah biaya pemesanan atau ordering cost = $20 setiap pesanan

i adalah biaya pengelolaan atau carrying cost = 20% per tahun

C adalah harga per unit = $10 per unit

Gudang dibuka selama 5 hari dalam seminggu atau 50 minggu dalam setahun atau
250 hari dalan setahun.

Rata-rata permintaan = 200 unit per hari

L adalah waktu tenggang selama pemesanan atau lead time = 4 hari

Standar deviasi dari permintaan = 150 unit per hari.

Rumus :

EOQ = 2SD
iC

EOQ = 2(20)(250)(200)
20 (10)

= 106
= 1000 unit
Jadi pesanan dalam satu paket atau satu lot akan berisi 1000 unit.
Lead Time = 4 hari
Rata-rata permintaan = 200 unit per hari
m adalah total permintaan selama lead time = 4 x 200 = 800 unit
Standar deviasi setiap hari = 150 unit maka standar deviasi permintaan selama lead
time 4 hari adalah s2 = 4 x 1502. Atau s 4 (150)2 = 300 unit.
95% service lead maka z = 1,65
R = m + zs = 800 + 1,65 (300) = 1.295
Maka re-order point = 1295 unit, sedangkan besar pesanan dalam lot adalah 1.000
unit.
Setiap tahun ada 50 kali pemesanan
2. Sitem Pemeriksaan Periodik atau Periodic review System
Persediaan barang jadi diperiksa secara periodik dan hal ini sudah cukup dan
lebih baik daripada diperiksa secara terus-menerus. Misalkan pemasok menerima
pesanan dan harus mengirim material pesanan pada suatu jangka waktu tertentu
atau pada periode waktu tertentu, contoh setiap dua minggu sekali.
Dalam hal ini posisi persediaan akan diperiksa setiap dua minggu dan pemesanan
akan dilakukan tergantung pada hasil pemeriksaan. Jika pemeriksaan setiap dua
minggu sekali dan pola permintaan diasumsikan tidak beraturan atau acak.
Pada setiap pemeriksaan akan diketahui selisih persediaan yang ada dengan
tingkat target persediaan yang telah ditentukan. Target persediaan ditetapkan
berdasarkan laju perubahan permintaan selama tenggang waktu pemesanan
ditambah dengan laju perubahan permintaan pada tenggang waktu pemeriksaan.
Pemesanan dilakukan sebesar selisih persediaan tersebut yang mana jumlah
pesanan dari satu periode ke periode yang lain akan berbeda-beda tergantung pada
beberapa besar laju perubahan permintaan atau laju pemakaiaan persediaan.
Metode ini dinamakan sistem “P” pengendalian persediaan atau “P” inventory
system atau disebut juga sistem pemesanan periode tetap. Jadi definisi “P” adalah :
a. Pemeriksaan stock persediaan atau posisi persediaan pada setiap periode
waktu yang tetap yaitu pada periode “P”.
b. Selisih persediaan terget “T” dengan stok persediaan sama dengan jumlah
yang dipesan.
Gambar 2.1 Periodic Review System Inventory

Perbedaan dengan metode sistem “Q” adalah :


1. Pada metode siste, “P”, tidak ada re-order point sebagai batas waktu untuk
melaksanakan pemesanan. Pemesanan pada metode sistem “P” dilakukan
pada periode waktu yang tetap.
2. Pada metode sistem “P” tidak ada EOQ yang merupakan jumlah pesanan
tetap, sedangkan pada metode sistem “P” jumlah pesanan tergantung pada
laju perubahan permintaan.
3. Pada metode “P” parameter adalah P dan T sedangkan pada metode sistem
“Q” parameter adalah Q dan R.
a. P dihitung dengan cara EOQ dimana waktu perodik P
Q
P=
D

1
P= 2SD = 2S
D iC iCD

Rumus :
T = m` + S`t
m` = Jumlah prmintaan selama periode waktu P dan lead time L
S`t = Safety Stock
S`t = zs`
s` = Standar deviasi selama periode waktu P dan lead time L
z = Safety factor ditentukan oleh besar service level.
Dengan menggunakan z, maka akan dapat ditetapkan besar target inventori.
Dengan menggunakan data pada contoh sebelum ini maka didapat perhitungan
sebagai berikut :
EOQ = 1000 unit
Permintaan = 200 per hari
Optimal waktu periodik pemeriksaan.
P = Q/D = 1000/200 = 5 hari
T = m` + zs`
Jangka waktu P + L = 5 + 4 = 9
m`= 9(200) = 1800
s` untuk 9 hari = 9 (150)2 = 450
Maka T = 1800 + z(450)
Untuk service level 95% dan berdasarkan tabel maka z = 1.65
Dengan metode sistem “P” Perhitungan :
a. Target persediaan T = 1800 + 1.65 (450) = 2542 unit
b. Periodik pemeriksaan setiap 5 hari sekali
c. Safety stock 1.65(450) = 742 unit
Apabila dibandingkan dengan safety stock metode sistem “Q” sebesar 1.65(300)
= 495 unit, maka sistem “P” mempunyai safety stock lebih besar karena harus siap
melayani permintaan untuk periode P dan lead time L sedangkan pada metode
sistem Q hanya melayani permintaan pada lead time L saja.
Penggunaan Metoe Sistem “P” dan “Q”
Ada beberapa kondisi dimana sistem P lebih disukai dari pada sistem Q
1. Sistem P digunakan bila pemesanan dilakukan pada setiap periode tertentu
2. Sistem P memungkinkan pemesanan beberapa macam item dari satu
pemasok
3. Sistem P tidak untuk inventori barang mahal karena tidak memerlukan
pencatatan terus-menerus dan jumlah safety stock yang lebih banyak dari
pada sistem Q.
Jadi pilihan antara sistem P dan Q tergantung pada :
a. Waktu pemesanan
b. Pencatatan posisi persediaan
c. Biaya inventori
3. Sistem Klasifikasi ABC dalam Persediaan
Pengendalian persediaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain
dengan menggunakan analisis nilai persediaan. Dalam analisis ini, persediaan
dibedakan berdasarkan nilai investasi yang terpakai dalam satu periode. Biasanya,
persediaan dibedakan dalam tiga kelas, yaitu A, B, dan C sehingga analisis ini
dikenal sebagai klasifikasi ABC.
Klasifikasi ABC diperkenalkan oleh HF Dickie pada tahun 1950-an. Klasifikasi
ABC merupakan aplikasi persediaan yang menggunakan prinsip Pareto : the
critical few and the trivia; many. Idenya untuk memfokuskan pengendalian
persediaan kepada item (jenis) persediaan yang bernilai tinggi (critical) dari pada
yang bernilai rendah (trivial). Klasifikasi ABC membagi persediaan dalam tiga
kelas berdasarkan atas nilai persediaan. Dengan mengetahui kelas-kelas itu, dapat
diketahui item persediaan tertentu yang harus mendapat perhatian lebih
intensif/serius dibanding item yang lain.
Yang dimaksud dengan nilai dalam klasifikasi ABC bukan harga persediaan per
unit, melainkan volume persediaan yang dibutuhkan dalam satu periode (biasanya
satu tahun) dikali dengan harga per unit. Jadi nilali investasi adalah jumlah nilai
seluruh item pada satu periode, atau dikenal dengan istilahvolume tahunan rupiah.
Suatu item tertentu dikatakan lebi penting dari item lain, karena item itu memiliki
nilai investasi yang lebih tinggi. Konsekuensinya, item itu mendapat perhatian lebih
besar dibandingkan item lain yang memiliki nilai invenstasi rendah. Namun, tidak
berarti item yang memiliki nilai investasi rendah tidak perlu diperhatikan, hanya
saja pengendaliannya tidak seketat yang memiliki nilai investasi yang tinggi.
Kriteria masing-masing kelas dalam klasifikasi ABC, sebagai berikut :
a. Kelas – A persediaan yang memiliki nilai volume tahunan rupiah yang
tinggi. Kelas ini mewakili sekitar 70% dari total nilai persediaan, meskipun
jumlahnya hanya sedikit, bisa hanya 20% dari seluruh item. Persediaan yang
termasuk dalam kelas ini memerlukan perhatian yang tinggi dalam
pengadaannya karena berdampak biaya yang tinggi. Pengawasan harus
dilakukan secara intensif.
b. Kelas – B persediaan dengan nilai volume tahunan rupiah yang menengah.
Kelompok ini mewakili sekitar 20% dari total nilai persediaan tahunan, dan
sekitar 30% dari jumlah item. Disini diperlukan teknik pengendalian yang
moderat
c. Kelas – C barang yang nilai volume tahunan rupiahnya rendah, yang hanya
mewakili sekitar 10% dari total nilai persediaan, tetapi terdiri dari sekitar
50% dari jumlah item persediaan. Disini diperlukan teknik pengendalian
yang sederhana, pengendalian hanya dilakukan sesekali saja.
Nilai persentase diatas tidak mutlak, namun tergantung dari kebijakan
perusahaan. Demikianpula jumlah kelas, tidak terbatas pada tiga kelas tetapi dapat
dilakukan untuk lebih dari tiga kelas atau kurang.
CONTOH 1 :
Suatu perusahaan dalam proses produksi menggunakan 10 item bahan baku
kebutuhan persediaan selama satu tahun dan harga bahan baku per unit seperti
dalam table berikut :
Tabel 3.1 Data Item Persediaan

Untuk membagi kesepuluh jenis persediaan tersebut dalam tiga kelas A,B,C dapat
dilakukan sebagai berikut
Tabel 3.2 Klasifikasi ABC dalam Persediaan
1. Hitung volume tahunan rupiah (kolom 4) dengan cara meninggalkan volume
tahunan (kolom 2) dengan harga per unit (kolom 3)
2. Susun urutan item persediaan berdasarkan volume tahunan rupiah dari yang
terbesar nilainya ke yang terkecil.
3. Jumlahkan volume tahunan rupiah secara kumulatif (kolom 5)
4. Hitung nilai persentase kumulatifnya (kolom 6)
5. Klasifikasikan ke dalam kelas A, B dan C secara berturut-turut masing-
masing sebesar sekitar 70%,20%, dan 10% dari atas.
Berdasarkan perhitungan diatas, dapat diketahui bahwa :
a. Kelas A memiliki nilai volume tahunan rupiah sebesar 70,0% dari total
persediaan, yang terdiri dari 2 item (20%), yaitu H-109 dan H-107.
b. Kelas B memiliki nilai volume tahunan rupiah sebesar 19,9% dari total
persediaan, yang terdiri dari 3 item (30%) persediaan.
c. Kelas C memiliki nilai volume tahunan rupiah sebesar 10,1% dari total
persediaan, yang terdiri dari 5 item (50%) persediaan.
Apabila digambarkan dalam bentuk diagram pareto, dapat dilihat lebih jelas lagi
bagaimana besarnya proporsi kelas A dibandingkan kelas B dan C, seperti pada
Tabel 3.1. Dengan demikian, dapat dimengerti mengapa kelas A harus mendapat
perhatian lebih intensif dibandingkan dengan kelas yang lain.
Dalam pengendalian persediaan dengan klasifikasi ABC perlu untuk melihat
karakteristik fisik dari persediaan itu, apa terdapat persediaan yang cepat rusak,
berbau, mudah terbakar dan semacamnya. Untuk item ini perlu ada perhatian
tersendiri meskipun mereka masuk dalam kelas C misalnya.
Dalam penerapannya, klasifikasi ABC hanya dilakukan sesekali saja, terutama
bila terjadi perubahan volume produksi atau penambahan item persediaan lain,
sehingga relative tidak menyita waktu manajemen, sebaliknya banyak , manfaatnya
dalam proses pengendalian persediaan.
Gambar 3.2 Grafik Distribusi Persediaan

2. Model Persediaan Kuantitas Pesanan Ekonomis


Kuantitas pesanan ekonomis (economic order quantity EOQ) merupakan salah
satu model klasik, diperkenalkan oleh FW Harris pada tahun 1914, tetapi paling
banyak dikenal dalam teknik pengendalian persediaan. EOQ banyak dipergunakan
sampai saat ini karena mudah dalam penggunaannya, meskipun dalam
penerapannya harus memperhatikan asumsi yang dipakai. Asumsi tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Barang yang dipesan dan disimpan hanya satu macam
b. Kebutuhan/permintaan barang diketahui dan konstan
c. Biaya pemesanan dan biaya penyimpanan diketahui dan konstan
d. Barang yang dipesan diterima dalam satu kelompok (batch)
e. Harga barang tetap dan tidak tergantung dari jumlah yang dibeli
f. Waktu tenggang (lead time) diketahui dan konstan
Grafik persediaan dalam model ini berbentuk gigi gergaji, karena permintaan
dianggap konstan, persediaan berkurang dalam jumlah yang sama (linier) dari
waktu ke waktu. Pada saat tingkat persediaan mencapai nol, pesanan untuk
kelompok baru tepat diterima, sehingga tingkat persediaan naik kembali sampai Q.
Gambar 4.1 Grafik Persediaan dalam Model EOQ

Nilai Q yang optimal/ekonomis dapat diperoleh dengan menggunakan table dan


grafik atau dengan menggunakan rumus/formula.
Cara Tabel dan Grafik
Cara ini menggunakan pendekatan uji coba (trial and error) mengetahui jumlah
pesanan yang paling ekonomis. Caranya dimulai dengan menghitung biaya-biaya
yang timbul pada setiap kemungkinan frekuensi pesanan, yaitu pemesanan 1 kali
dalam setahun, 2 kali setahun, dan seterusnya. Dengan membandingkan biaya total
dari setiap frekuensi pesanan, dapat diketahui jumlah frekuensi pesanan dan jumlah
pesanan yang paling ekonomis, yaitu yang memberikan biaya total terendah.
Berikut ini merupakan contoh bagaimana menentukan jumlah pesanan yang
ekonomis.
CONTOH :
PT feminism merupakan suatu perusahaan yang memproduksi tas wanita.
Perusahaan ini memerlukan suatu komponen material sebanyak 12.000 unit selama
satu tahun. Biaya pemesanan komponen itu Rp 50.000 untuk setiap kali pemesanan,
tidak tergantung dari jumlah komponen yang dipesan. Biaya penyimpanan (per
unit/tahun) sebesar 10% dari nilai persediaan. Harga komponen Rp 3.000 per unit.
Berdasarkan data tersebut, manajer perusahaan dapat menentukan jumlah
pesanan yang paling ekonomis (EOQ) yang dapat diberikan biaya total persediaan
terendah. Perhitungan untuk memperoleh EOQ pada kasus ini dapat dilihat pada :
Gambar 4.2 Contoh Perhitungan EOQ dengan Cara Tabel

Uji coba dimulai dari frekuensi pengadaan 1 kali dalam satu tahun, 2 kali dalam
setahun, dan seterusnya, sampai diperoleh suatu frekuensi yang memberikan biaya
total terendah. Biaya total terendah diperoleh pada frekuensi pengadaan sebesar 6
kali setahun atau pada jumlah pesanan sebesar 2.000 unit untuk setiap kali pesan.
Angka 2.000 unit ini menunjukan nilai EOQ karena memberikan biaya total
persediaan terkecil dari berbagai alternative jumlah pesanan yang lain.
Apabila data biaya tersebut dituangkan dalam bentuk grafik, dapat diketahui
bahwa semakin besar frekuensi pemesanan maka biaya pemesanan akan meningkat
secara linier, sedangkan biaya penyimpanan akan menurn secara eksponsial. Biaya
total minimum berada pada titik terendah kurva biaya total, yaitu tepat pada garis
biaya pemesanan berpotongan dengan garis biaya penyimpanan
Gambar 4.3 Biaya Total sebagai Fungsi dari Frekuensi Pesanan
Cara Formula :
Cara lain untuk memperoleh EOQ adalah dengan pendekatan matematika, dikenal
dengan istilah cara formula. Dalam metode ini digunakan beberapa notasi sebagai
berikut :
D : Jumlah kebutuhan barang (unit/tahun)
S : Biaya pemesanan atau biaya setup (rupiah/tahun)
h : biaya penyimpanan (% terhadap nilai barang)
C : Harga barang (rupiah/unit)
H : h x C = biaya penyimpanan (rupiah/unit/tahun)
Q : Jumlah penyimpanan (unit/pesanan)
F : Frekuensi pemesanan (kali/tahun)
T : Jarak waktu antar pesanan (tahun,hari)
TC : Biaya total persediaan (rupiah/tahun)

Biaya pemesanan per tahun :


= Frekuensi pesanan x biaya pesanan
D
= xS
Q
Biaya Penyimpanan per tahun :
= Persediaan rata-rata x biaya penyimpanan
Q
= xH
2
EOQ terjadi biaya pemesanan = biaya penyimpanan,
D Q
xS = xH
Q S

2DS = HQ2
2DS
Q2 =
H

Maka, Q* = 2DS
H
Q* adalah EOQ, yaitu jumlah pemesanan yang memberikan biaya total
persediaan terendah. EOQ juga bisa diperoleh dari fungsi biaya total (TC), yaitu
dengan cara membuat turunan pertama fungsi biaya total terhadap Q sama dengan
nol, sebagai berikut :
Biaya tital per tahun = biaya pemesanan + biaya penyimpanan
D Q
TC = xS+ xH
Q 2
dTC DS H
=- + =0
dQ Q2 2

2DS = HQ2

Maka, Q* = 2DS
H
*
Q pada persamaan terakhir merupakan titik biaya terendah atau EOQ, yang
sama dengan Q* pada persamaan sebelumnya.
Dengan menggunakan contoh kasus PT Feminim, kita memperoleh data sebagai
berikut :
D = 12.000 unit
S = Rp 50.000
h = 10%
C = Rp 3.000
H = h x C = Rp 300

EOQ dapat dihitung sebagai berikut :


(2) (12.000)(50.000)
*
EOQ = Q = = 2.000 unit
300
Frekuensi pesanan merupakan permintaan per tahun dibagi dengan jumlah
pesanan dalam satu tahun, sehingga jumlah frekuensi pesanan yang paling
ekonomis ialah :
D
F =
Q*
= 12.000/2.000 = 6 kali/tahun
Jika satu tahun sama dengan 365 hari maka jangka waktu antara tiap pesanan
ialah :

Jumlah hari kerja per tahun


T* =
Frekuensi pesanan
= 365/6 = 61 hari