Anda di halaman 1dari 5

Nama : Marzhya Azalea Vhilliany

NIM : 03031381621065

Perbedaan RBD Oil dan VCO

1.1. RBD Oil


Minyak kelapa pada umumnya dibagi menjadi dua kategori utama yaitu
RBD dan Virgin. Penyebabnya adalah proses pembuatan dan pemilihan buahnya,
yang mempengaruhi kualitas, penampakan, rasa, bau dan khasiatnya. Perbedaan
pada proses pembuatan ini sangat mencolok dan berbeda nyata. RBD merupakan
singkatan dari Refined, Bleached and Deodorized atau minyak yang disuling, di-
kelantang, dan dihilangkan baunya. Refined coconut oil atau biasa dikenal dengan
RBD coconut oil adalah jenis minyak olahan pabrikan yang populer dan memiliki
banyak manfaat. RBD coconut oil sendiri dibuat dengan bahan dasar kopra atau
kelapa yang telah di keringkan terlebih dahulu. RBD tidak memiliki rasa alami
kelapa karena sebelumnya telah dilakukan proses pemurnian dari kopra. Proses
pembuatan RBD memerlukan panas dan bahan kimia yang cukup banyak (seperti
solven). Minyak RBD juga sering terhidrogenasi parsial, minyak terhidrogenasi
telah terbukti meningkatkan kadar kolesterol yang menyebabkan penyakit jantung.
RBD terbuat dari kopra (daging kelapa yang dijemur matahari atau di-
asapi). Sesuai kondisinya, bahan ini relatif kotor dan mengandung bahan asing
yang mempengaruhi hasil akhirnya. Bahan asing ini dapat berupa jamur, tanah,
sampah, dan kotoran lainnya. Proses penjemuran dan pengasapan dalam pem-
buatan RBD diketahui memberikan pengaruh yang cukup besar pada hasil akhir.
Banyaknya jamur dari proses penjemuran ini sangat mempengaruhi warna dan
bau minyak. Minyak mentah (crude oil) yang dihasilkan bisa berwarna coklat tua
sampai warna keabuan dan memiliki bau tengik yang sangat menyengat.
Produksi minyak goreng dan minyak-minyak komersial lainnya, industri
minyak umumnya memproses lebih lanjut dengan penyulingan menggunakan
pelarut kimia dan menghilangkan baunya, dan untuk maksud ini ditambahkan
bahan kimia seperti beberapa jenis soda yaitu NaOH atau KOH. Bau dihilangkan
dengan cara penyaringan menggunakan karbon aktif. Hal ini mempengaruhi
viskositas (tingkat kekentalan), BD (berat jenis), titik beku, rasa, bau dan lain-lain.
Perbedaan yang paling signifikan antara RBD oil dan VCO adalah baunya yang
telah dihilangkan dan rasanya hambar. Minyak RBD masih layak digunakan un-
tuk keperluan pembuatan makanan baik di rumah tangga maupun di industri,
karena RBD oil memiliki rasa yang mudah menyatu dan aroma yang tak berbau.
RBD dapat dibedakan kedalam beberapa jenis yaitu RBD palm oil, RBD
olein, dan RBD stearin. Crude Palm Oil (CPO) merupakan minyak kasar yang
diperoleh dengan cara ekstraksi daging buah sawit dan biasanya masih mengan-
dung kotoran terlarut dan tidak terlarut dalam minyak. Refining atau permurnian
pada CPO dilakukan dengan cara degumming atau penghilangan gum/getah,
bleaching atau pemucatan dan deodirization atau penghilangan bau yang tidak
diinginkan kemudian hasil akhir dari proses-proses ini berupa RBD palm oil.
Proses refining pada pembuatan RBD palm oil adalah physical refining,
proses pertama pada proses pemurnian ini adalah proses degumming, tujuan dari
proses degumming adalah mengilangkan getah dengan penambahan asam, asam
yang digunakan biasanya asam format dan asam sitrat. Degumming dilakukan
dengan temperatur 90-130°C. Prinsip dari degumming itu sendiri adalah meng-
konversi fosfatida menjadi gum terhidrasi yang tidak larut dalam minyak, pada
minyak terdapat dua jenis fosfatida yaitu jenis hydratable dan non hydratable.
Fosfatida hydratable mudah dipisahkan dengan penambahan air pada suhu rendah
sekitar 40°C. Penambahan air ini mengakibatkan fosfolipid akan kehilangan sifat
lipofiliknya dan menjadi lipofobik sehingga mudah dipisahkan dari minyak.
Fosfatida non hydratable harus dikonversi terlebih dahulu menjadi fosfatida
hydratable dengan penambahan larutan asam dan dilanjutkan dengan netralisasi.
Proses selanjutnya adalah proses bleaching (pemucatan) yang dimaksud-
kan untuk mengurangi atau menghilangkan zat-zat warna (pigmen) dalam minyak
mentah, pigmen yang biasa terdapat di dalam suatu minyak sawit kasar ialah
karotenoid yang berwarna merah atau kuning, chlorophillida dan phaephytin yang
berwarna hijau. Proses ini menggunakan adsorben atau zat penyerap berupa arang
dan bleaching earth. Arang sangat efektif dalam penghilangan pigmen warna
merah, hijau dan biru, tetapi karena harganya terlalu mahal, dalam pemakaiannya
biasanya dicampur dengan tanah pemucat dengan jumlah yang telah disesuaikan
terhadap jenis minyak sawit kasar yang akan di bleaching. Prinsip dari proses
bleaching pada dasarnya adalah reaksi oksidasi zat warna oleh suatu zat kimia,
sehingga terbentuk senyawa tanpa warna. Minyak yang akan dipucatkan tersebut
dipanaskan dalam suhu 105°C selama 1 jam. Penambahan adsorben dilakukan
pada saat temperatur minyak mencapai 70-80°C dan jumlah adsorben yang
ditambahkan kurang lebih sebanyak 1,0-2,5 % dari berat minyak sawit kasar.
Proses deodorisasi bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa
dan bau yang tidak dikehendaki dalam minyak sawit kasar untuk bahan makanan.
Prinsip proses deodorisasi adalah penyulingan minyak dengan uap panas dalam
tekanan atmosfer atau keadaan vakum, penyulingan berdasarkan perbedaan nilai
volatilitas minyak dengan senyawa-senyawa penyebab bau. Pada proses ini juga
menghilangkan fatty acid karena nilai volatilnya yang lebih tinggi daripada tri-
gliserida di proses deodorization inilah Free Fatty Acid (FFA) dibuang karena
proses ini tidak memiliki tahap netralisasi seperti di chemical refining. Proses ini
berupa distillation dengan kondisi vakum (1-6 mmHg, 230-260°C). Kondisi
vakum diperlukan untuk menurunkan boiling temperature dari FFA pada minyak.
RBDPO (RBD Palm Oil), akan mengalami fraksinasi dan menghasilkan
RBD Olein dan Stearin. Fraksinasi adalah proses pemisahan fraksi cair (olein) dan
fraksi padat (stearin). Proses fraksinasi meliputi kristalisasi dan fitrasi. Kristalisasi
adalah pembentukan kristal melalui pendinginan dan pengadulan sehingga fase
olein dan stearin dapat terpisah. RBD Olein adalah minyak yang berwarna
kekuning-kuningan berbentuk cair yang diperoleh dari hasil fraksinasi minyak
kelapa sawit RBD (RBD palm oil). Olein kelapa sawit dapat digunakan sebagai
minyak yang dapat dimakan biasanya untuk minyak masak untuk digunakan oleh
pabrik makanan, restoran dan penggunaan di rumah tangga. Kadar FFAnya sekitar
0,15%. RBD Stearin adalah fraksi padat dari hasil fraksinasi RBDPO, yang di-
gunakan utnuk pembuatan margarin, shortening, dan kadar FFAnya sekitar 0,2%.

1.2. Virgin Coconut Oil


Virgin Coconut Oil (VCO) merupakan minyak kelapa yang berasal dari
daging buah kelapa segar yang diproses tanpa melalui pemanasan atau dengan
pemanasan terbatas sehingga di harapkan bergizi tinggi. Proses dari pengolahan
ini dimaksudkan agar semua senyawa-senyawa yang bermanfaat tidak termutasi
serta tidak terkontaminasi oleh bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan. VCO
me-ngandung 93% asam lemak jenuh tetapi 47-53% berupa minyak jenuh
berantai sedang atau Medium Chain Fatty Acid (MCFA). Senyawa utama dari
VCO adalah asam laurat, dan pada VCO kandungannya mencapai 50-53%.
Secara umum ada 2 cara atau proses pembuatan VCO yaitu proses Direct
Micro Expeller (DME) dan proses wet milling. Proses DME disebut juga proses
kering. Pada proses ini daging kelapa yang masih segar dikeringkan dengan cara
perlakuan berupa panas yang rendah (60°C) dan waktu pengeringan yang seben-
tar. Setelah itu daging kelapa yang segar tadi dilanjutkan dengan ditekan secara
mekanis sehingga menghasilkan sebuah minyak. Selanjutnya adalah proses wet
milling, untuk proses wet milling ini banyak dilakukan oleh masyarakat, dan pada
proses ini bedanya tidak dilakukan pengeringan terhadap daging kelapa seperti
pada proses DME. Proses ini diawali dengan memarut daging kelapa segar dan
memerasnya sehingga dihasilkan sebuah santan kelapa, proses pemisahan minyak
dari air dan ampas kelapanya dengan penyaringan menggunakan ayakan.
Komponen utama VCO (Virgin Coconut Oil) adalah asam lemak jenuh
sekitar 90% dan asam lemak tak jenuh sekitar 10%. Asam lemak jenuh VCO
didominasi oleh asam laurat. Virgin Coconut Oil mengandung kurang lebih 53%
asam laurat dan sekitar 7% asam kaprilat. Keduanya merupakan asam lemak
dengan rantai sedang yang bisa disebut dengan medium chain fatty acid. Selain
itu, Virgin Coconut Oil juga mengandung sebanyak 92% lemak jenuh, 6% lemak
mono yang tidak jenuh dan sisanya 2% lemak poli yang bersifat tidak jenuh.
Ciri VCO yang baik diantaranya berwarna jernih, tidak mengandung
endapan, dan tidak berbau tengik. Warna jernih menunjukkan bahwa kadar VCO
yang diproduksi benar-benar merupakan minyak kelapa murni yang asli, tanpa ada
campuran dengan bahan lain didalamnya. Endapan dalam VCO yang diproduksi
menunjukkan proses pembuatan yang tidak sempurna, proses pemisahan VCO
dari lapisan lain dalam proses pembuatan masih tidak sempurna. Bau tengik dan
menyengat menunjukkan terbentuknya proses hidrogenasi dalam proses pem-
buatan VCO yang membuat minyak yang terbentuk bukanlah minyak kelapa
murni karena rantai asam lemak sedang telah berubah menjadi rantai panjang.
DAFTAR PUSTAKA

Aselberg, A. E. 1986. Microbiology Edisi 16. California: EGC.


Black, J. G. 2012. Microbiology: Principles and Exploration. New York: Wiley
and Sons.
Nevin, K. G., Rajamohan T. 2010. Effect of Topical Application of Virgin
Coconut Oil on Skin Components and Antioxidant Status During Dermal
Wound Healing in Young Rats. Skin Pharmacol Physiol. 23 (6): 290-297.
Silaban, R. 2014. Pembuatan Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil, VCO)
Melalui Kombinasi Teknik Fermentasi dan Enzimatis Menggunakan
Getah Pepaya. Jurnal Pendidikan Kimia Universitas Negeri Medan.
6(12): 1-20.
Susilowati. 2009. Pembuatan Virgin Coconut Oil dengan Metode Penggaraman.
Jurnal Teknik Kimia. 3(2): 246-251.
Yeap S. K., dkk. 2015. Antistress And Antioxidant Effects of Virgin Coconut Oil
In Vivo. Explore Theory Medical. 9(1): 39-46.