Anda di halaman 1dari 7

STATISTIKA

Pengenalan Statistika
Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan
secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah, statistika membantu kita untuk
melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan
bukan terjadi secara kebetulan.
Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam suatu
populasi tertentu. Abraham Demoivre (1667-1754) mengembangkan teori galat atau
kekeliruan (theory of error). Pada tahun 1757 Thomas Simpson menyimpulkan bahwa terdapat
suatu distribusi yang berlanjut (continuous distribution) dari sutau variabel dalam suatu
frekuensi yang cukup banyak. Pierre Simpson de Laplace (1749-1827) mengembangkan
konsep Demoivre dan Simpson lebih lanjut dan menemukan distribusi normal. Distribusi lain,
yang tidak berupa kurva normal, kemudian ditemukan oleh Francis Galton (1822-1911) dan
Karl Pearson (1857-1936).
Teknik kuadrat terkecil (least squares) simpangan baku dan galat baku untuk rata-rata
dikembangkan oleh Karl Friedrich Gauss (1777-1855). Pearson melanjutkan konsep-konsep
Galton dan mengembangkan konsep regresi, korelasi, distribusi chi-kuadrat dan analisis
statistika untuk data kualitatif. William Searly Gosset (nama samarannya “Student”)
mengembangkan konsep tentang pengambilan contoh. Desain eksperimen dikembangkan oleh
Ronald Alylmer Fisher (1890-1962) disamping alnalisis varians dan kovarians, distribusi-z,
distribusi-t, uji signifikan dan teori tentang perkiraan (theory of estimation).
Demikianlah, statistika yang relatif sangat muda dibandingkan dengan matematika,
berkembang dengan sangat cepat terutama dalam dasawarsa lima puluh tahun belakangan ini.

Statistika dan Cara Berpikir Induktif


Ilmu secara sederhana merupakan pengetahuan yang telah teruji kebenarannya.
Pengujian mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus
yang bersifat individual. Sebagai contoh, jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak
umur 10 tahun di sebuah tempat maka nilai tinggi rata-rata yang dimaksudkan itu merupakan
sebuah kesimpulan umum yang ditarik dalam kasus-kasus ank umur 10 tahun di tempat itu. Jadi
dalam hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika induktif. Di pihak lain maka
penyusunan hipotesis merukana penarikan kesimpulan yang mempergunakan deduksi. Kedua
penarikan kesimpulan ini tidak sama dan tidak boleh dicampuradukkan. Logika deduktif
berpaling kepada matematika sebagai sarana penalaran kesimpulan sedangkan logika induktif
berpaling kepada statistika.
Penarikan kesimpulan induktif pada hakekatnya berbeda dengan penarikan kesimpulan
secara induktif. Dalam penalaran deduktif maka kesimpulan yang ditarik adalah benar
sekiranya premis-premis yang digunakan benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah
sah. Sedangkan dalam penalaran induktif meskipun premis-premisnya adalah benar dan
prosedur penarikannya sah maka kesimpulan itu belum tentu benar. Yang dapat kita katakan
adalah bahwa kesimpulan itu memiliki peluang untuk benar.
Jika kita ingin mengamati tinggi rata-rata anak usia 10 tahun diseluruh indonesia
maka,apakah kita akan mengukur tinggi badan anak-anak tersebut satu per satu walaupun
keakuratan nya sangat tinggi?

Untungnya dalam masalah ini statistika memberikan kita jalan keluar. Dalam
penyelesaiannya kita hanya perlu mengamati sebagian (sampel) yang bisa dianggap mewakili
seluruh populasi yang ada. Selain itu statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat
ketelitian dari kesimpulan yang ditarik. Semakin banyak sampel yang diambil maka
keakuratannya pun semakin tinggi dan sebaliknya.setiap permasalahan tentunya memiliki
penyelesaian dengan tingkat ketelitian yang berbeda-beda . Misalkan tingkat ketelitian dalam
bidang kedokteran tentunya berbeda dengan tingkat ketelitian pengukuran tinggi rata-rata
anak usia 10 tahun tersebut .

Statistika juga memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu
hubungan kausalita antara dua faktor atau lebih itu terjadi karena kebetulan atau memang
terkait pada suatu hubungan. Misalkan pertambahan tinggi tanaman padi, berdasarkan
hipotesisnya padi yang dipupuk tentunya akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan yang tidak,
tapi kenyataannya bisa berbeda dengan hipotesis tersebut karena adanya faktor-faktor lainnya
atau memang kebetulan. Jadi dalam hal ini statistika berfungsi meningkatkan ketelitian
pengamatan kita dalam menarik kesimpulan dengan jalan menghindarkan hubungan semu yang
bersifat kebetulan.

Karakteristik Berpikir Induktif


Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan
induktif berdasarkan teori peluang, sebagaimana merupakan dasar dari teori statistika.
Menurut bidang pengkajiannya statistika dapat kita bedakan sebagai statistika teoritis dan
statistika terapan. Statistika teoritis merupakan pengetahuan yang mengkaji dasar-dasar
statistika, sedangkan statistika terapan menerapkan teknik-teknik penarikan kesimpulan.
Untuk mempercepat perkembangan kegiatan keilmuan di negara kita maka penguasaan
berpikir induktif dengan statisika seagai alat berpikir harus mendapat perhatian yang sungguh-
sungguh. Statistika sebagai suatu disiplin keilmuan sering dikacaukan dengan data yang
dikumpulkan. Statistika harus mendapat tempat yang sejajar dengan matematika agar
keseimbangan berpikir deduktif dan induktif yang merupakan ciri dan cara berpikir ilmiah
dapat dilakukan dengan baik.

Penerapan Statistika

1. Statistika diterapkan secara luas dalam hampir semua pengambilan keputusan dalam
bidang manajemen.
2. Statistika diterapkan dalam penelitian pasar, penelitian produksi, kebijaksanaan
penanaman modal, kontrol kualitas, seleksi pegawai, kerangka percobaan industri,
ramalan ekonomi, auditing, pemilihan risiko dalam pemberian kredit, dll.
3. Penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial semakin mendasarkan diri kepada statistika.
Survei yang berdasarkan pengambilan contoh (sample) mampu memberikan informasi
tentang berbagai hal dengan ongkos yang cukup murah, seperti besarnya penghasilan
dan tabungan, sikap masyarakat terhadap nuklir, pengaruh televisi terhadap kehidupan
keluarga, dll.
4. Ahli purbakala telah menggunakan statistika dalam menggabungkan gambar dari
pecahan periuk yang digali dari dalam tanah

Singkatnya, statistika adalah alat yang dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah yang
timbul dalam penelaahan secara empiris hampir di semua bidang.
ILMU DAN MORAL
Penalaran otak manusia itu luar biasa dan benarkah semakin cerdas maka semakin
mudah menemukan kebenaran? Apakah semakin benar maka semakin baik perbuatan kita?
Apakah manusia yang penalarannya tinggi semakin berbudi? Ataukah sebaliknya makin cerdas
makin pandai pula kita berdusta ? Peradaban manusia tak dapat dipungkiri memang tidak dapat
lepas dari teknologi dan ilmu yang memberi segala kemudahan, namun kenyataannya apakah
ilmu itu adalah selalu berkah, terbebas dari segala kutukan yang membawa malapetaka dan
kesengsaraan ?
Sejak tahap-tahap pertama pertumbuhannya ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan
perang, perang untuk menguasai manusia lainnya, menyiksa , bahkan membunuh dan pada
zaman sekarang teknologi tidak berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan, tapi
lebih kepada eksistensi diri. Ilmu bukan lagi sarana untuk membantu manusia mencapai tujuan
hidupnya,tapi kini telah mengubah hakikat kemanusian. Menghadapi kenyataan ini, ilmu yang
pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya, mulai mempertanyakan, untuk apa
apa ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Dan
kemana perkembangan ilmu itu harus diarahkan?
Sebenarnya antara ilmu dan moral sudah saling berkaitan, namun dalam perspektif
yang berbeda . Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang “Bumi yang
Berputar Mengelilingi Matahari” dan bukan seperti ajaran-ajaran yang lainnya, maka timbullah
interaksi antara ilmu dan moral, dalam kata lain ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana
adanya, sedangkan pihak lain menginginkan agar ilmu didasarkan pada ajaran diluar bidang
keilmuan diantaranya agama. Kemudian timbullah konflik yang berujung pada pengadilan
inkuisisi galileo yang memaksa mencabut pendapat tersebut.
Pengadilan inkuisisi Galileo berlangsung selama kurang lebih dua setengah abad yang
mencerminkan pertarungan antara ilmu yang ingin bebas dari nilai dan ajaran-ajaran yang
mengekang bidang keilmuan. Setelah pertarungan itu akhirnya para ilmuwan mendapatkan
kemenangan . Sejak saat itu ilmu mendapatkan kebebasan untuk mengembangkan konsep-
konsep ilmiah dengan tujuan tidak lagi menjelaskan teori semata, tapi lebih ke arah
memanipulasi gejala-gejala yang terjadi untuk mengontrol dan mengarahkan proses yang akan
terjadi. Bertrand Russell menyebut ini sebagai peralihan dari “kontemplasi ke manipulasi”.
Dalam tahap manipulasi muncullah proses dehumanisasi (kemerosotan tata nilai) yang
seharusnya lebih kepada masalah kebudayaan dari pada masalah moral, artinya masyarakatlah
yang menentukan penggunaaan teknologi mana yang baik atau tidak dan perlu strategi dalam
hal ini.Buku Erich Schumacher yang berjudul “Small is Beautiful” adalah salah satu buku yang
berusaha untuk mencari penerapan teknologi yang lebih bersifat manusiawi.
Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapi teknologi yang bersifat merusak
ini para ilmuwan terbagi kedalam dua golongan:
1. Golongan pertama menginginkan ilmu harus bersifat netral terhadap nilai –nilai .
Dalam hal ini ilmuwan bertugas menemukan pengetahuan dan terserah kepada
orang yang mempergunakannya
2. Golongan kedua berpendapat bahwa netralitas ilmu hanyalah terbatas yang wajib
dilandasi oleh asas-asas moral. Golongan kedua mendasarkan pendapatnya pada
beberapa hal yakni:
a. Ilmu secara faktual telah digunakan secara destruktif oleh manusia
b. Ilmu telah berkembang dengan pesat sehingga banyak terjadinya
penyalahgunaan
c. Ilmu telah berkembang sedemikian rupa,dimana terdapat kemungkinan untuk
mengubah manusia dan kemanusiaan seperti kasus revolusi genetika
Berdasarkan tiga hal tersebut maka, golongan kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral
harus ditujukan demi kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat
kemanusiaan dan perlu diingat bahwa masalah moral tidak dapat dilepaskan dari tekad
manusia untuk menemukan kebenaran, sebab untuk menemukan kebenaran dan terlebih lagi
mempertahankan kebenaran, diperlukan keberanian moral. Tanpa landasan moral maka
ilmuwan mudah sekali “tergelincir” dalam prostitusi intelektual.
TANGGUNG JAWAB SOSIAL ILMUWAN
Ilmu adalah hasil karya perseorangan yang perlu dikomunikasikan secara terbuka dan
bila ilmu tersebut memenuhi syarat-syarat keilmuan ,maka ilmu tersebut diterima,digunakan
dan dipelajari oleh masyarakat.seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial, bukan
hanya karena dia adalah bagian dari masyarakat,tapi karena dia mempunyai fungsi yang lebih
penting yakni; bertanggung jawab agar produk keilmuan dapat sampai dan dimanfaatkan oleh
masyarakat.
Untuk membahas ruang lingkup yang menjadi tanggung jawab seorang ilmuwan
maka,hal ini dikembalikan kepada hakikat ilmu itu sendiri .ilmu itu netral dan ilmuwanlah yang
memberi nilai.semua penelaah ilmiah dimulai dengan menentukan masalah dan demikian pula
dengan pengambilan keputusan dalam masyarakat.apakah mungkin suatu masalah dapat
diselesaikan sekiranya masyarakat itu sendiri tidak sadar akan pentingnya penyelesaian
masalah tersebut ? misalkan saja masalah tentang bahayanya pembangkit listrik tenaga nuklir
,orang awam akan sulit menyadari apa bahayanya nuklir?,apa saja zat yang terkandung
didalamnya?,apa efek yang akan ditimbulkan dari penggunaan nuklir jika dimanfaatkan secara
berlebihan?dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Pada masalah inilah,peranan ilmuwan menjadi sangat penting,dialah yang dapat
menjelaskan kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dicerna oleh
logika mereka karena ilmuwan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai itu.selain
menjelaskan ,seorang ilmuwan juga sebaiknya memberikan pandangan yang menurutnya benar
seperti, untung dan rugi, bsik dan buruknya sehingga masalah tersebut dapat diselesaikan
dengan seobjektif mungkin .mungkin pula pada kejadian lainnya,masyarakat merasakan adanya
masalah yang perlu dipecahkan ,namun karena suatu hal masalah itu belum muncul
kepermukaandan belum mendapat dukungan untuk penyelesaiannya.dalam hal ini ilmuwan
harus tampil kedepan dan berusaha mempengaruhi opini masyarakat dengan ilmu yang
dimilikinya .pada bidang lain misalnya masalah yang timbul karena proses yang terjadi
sekarang. Ilmuwan dapat meramalkan hal tersebut berdasarkan pengetahaun yang dimilikinya
.contohnya;apa yang akan terjadi pada ilmu dan teknologi kita pada masa depan yang ditinjau
dari segi pendidikan kita sekarang?apakah pendidikan kita sudah mampu untuk menghasilkan
SDM yang berkualitas yang nantikan akan dapat menciptakan produk-produk yang berkualitas
tinggi atau pendidikan kita belum mampu untuk menciptakan SDM yg berkualitas tinggi? Kalau
belu apa yang harus dilakukan?
Lalu,bagaimana dengan ilmuwan? Apakah mereka akan mudah percaya dan menerima
sesuatu tanpa pikir panjang lebar?,jawabannya tidak,seorang ilmuwan tidak menolak dan
menerima sesuatu begitu saja tanpa alasan yang kuat dan pemikiran yang cermat terlebih
dahulu.disinilah kelebihan ilmuwan orang awam.orang awam akan mudah menerima sesuatu
yang sepintas masuk akal.mereka akan mudah terpukau oleh pemikiran-pemikiran yang brilian
dengan materi yang salah.kelebihan ilmuwan dalam menganalisis kenyataan-kenyataan
tersebut membuat ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial untuk berbicara kepada
masyarakat mengenai kekeliruan mereka .dia harus menjelaskan dimana kekeliruannya?
Penyebab kekeliruan tersebut? Dan yang paling penting adalah menjelaskan akibat yang akan
diterimanya jika kekeliruan tersebut tetap berjalan.
Dibidang etika tanggung jawab sosial seorang ilmuwan bukan lagi hanya memberikan
informasi namun memberi contoh.dia harus tampil kedepan dan menerapkan sifat
objektif,terbuka,menerima kriti,menerima pendapat orang lain ,kukuh dengan pendirian yang
dianggapnya benar dan juga harus berani mengakui kesalahannya.pada zaman sekarang,aspek
etika dari hakikat keilmuan kurang mendapat perhatian baik dari pendidik dan ilmuwan itu
sendiri.kita cenderung untuk mendidik anak-anak kita menjadi cerdas tanpa mempersiapkan
mereka dengan sakama agar kecerdasan itu dilengkapi dengan nilai-nilai moral yang
luhur.jikalau pendidik dan ilmuwan konsekuen dengan dengan pandangan hidupnya baik
secara intelelektual dan moral maka,akan berdiri dengan kukuh penyangga dan penopang
masyarakat yang akan membawa suatu bangsa pada peradaban yang besar