Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH

Konsep Dasar Proses Keperawatan


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Gadar PPDT Ebola dan
Mers
Dosen Pengampu:

Disusun Oleh:
Kelompok 9
Diella Mirabel Amanda (P07220118062)
Dhevi Kharisma (P07220118077)
Inafatulhamidah (P07220118087)
Najla Nuwairah (P07220118095)
Tiara Aprillia Putri (P07220118106)

PRODI D-III KEPERAWATAN KELAS BALIKPAPAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
KALIMANTAN TIMUR
TAHUN AJARAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat nikmat,
rahmat Nya lah kami dapatmenyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.Harapan
kami sebagai penyusun yaitu agar para pembaca memahami tentangPenerapan
pendekatan proses keperawatan dalam melaksanakan asuhan keperawatan dengan
berfikir kritis.

Kami pun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu
kami dalam menyusun makalah ini menjadi lebih baik lagi.Kami juga mengharapkan
saran yang membangun demi tersusunnya makalah ini menjadi lebih baik lagi.

Balikpapan, 12 Januari 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN EBOLA
A. Definisi Penyebaran Ebola ................................................................................. 3
B. Etiologi dan penyebaran Ebola ........................................................................... 3
C. Pathofisiologi Ebola ........................................................................................... 4
D. Manifestasi Klinis............................................................................................... 6
E. Stadium Demam. ................................................................................................ 6
F. Komplikasi Ebola ............................................................................................... 7
G. Pemeriksaan Penunjang ...................................................................................... 7
H. Penatalaksanaan dan Pencegahan. ...................................................................... 8
I. Pengkajian Keperawatan .................................................................................... 10
J. Diagnosa Keperawatan ...................................................................................... 16
PEMBAHASAN MERS
A. Definisi Penyebarana Mers ................................................................................... 23
B. Etiologi dan Penyebaran Mers .............................................................................. 23
C. Manifestasi Klinis ................................................................................................. 24
D. Pathofisiologi Mers ............................................................................................... 24
E. Pemeriksaan Diagnostik ........................................................................................ 25
F. Penatalaksanaan .................................................................................................... 26
G. Komplokasi Mers ................................................................................................. 27
H. Pengkajian Keperawatan ...................................................................................... 28
I. Diagnosa Keperawatan .......................................................................................... 29
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................................ 30
B. Saran ................................................................................................................... 31
Daftar Pustaka

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbagai penyakit menular pada manusia yang bersumber dari hewan telah
banyak mewabah di dunia. Istilah zoonosis telah dikenal untuk menggambarkan
suatu kejadian penyakit infeksi pada manusia yang ditularkan dari hewan
vertebrata. Hal inilah yang dewasa ini menjadi sorotan publik dan menjadi objek
berbagai studi untuk mengkaji segala aspek yang berkaitan dengan wabah
tersebut yang diharapkan nantinya akan diperoleh suatu sistem terpadu untuk
pemberantasan dan penanggulangannya. Kemunculan dari suatu penyakit
zoonosis tidak dapat diprediksi dan dapat membawa dampak yang menakutkan
bagi dunia, terutama bagi komunitas yang bergerak di bidang kesehatan
masyarakat dan veteriner.

Pada negara yang berkembang seperti Indonesia, zoonosis belum


mendapatkan perhatian yang cukup baik pemerintahnya maupun rakyatnya.
Bukti konkritnya adalah kasus emerging zoonosis Avian Influenza di Indonesia
dimana sejak Agustus 2003, sebanyak 4,7 juta ayam mati akibat wabah ini.
Sejumlah 62 orang positif terinfeksi AI dan 47 orang diantaranya meninggal
dunia. Di samping itu, masih banyak kasus-kasus zoonosis lainnya yang
mewabah di Indonesia seperti antraks dan rabies. Kesuksesan penanggulangan
penyakit zoonosis di negara lain menjadi tantangan bagi Indonesia untuk keluar
dari kungkungan penyakit zoonosis.

Middle East Respiratory Syndrome atau disingkat MERS adalah penyakit


virus pada pernapasan yang disebabkan oleh corona virus yang disebut MERS-
Cov. Virus ini pertama kali dilaporkan mewabah di Arab Saudi pada tahun 2012.
MERS- CoV (Middle East Respiratory Syndrome-Coronavirus) adalah virus
yang termasuk dalam spesies coronavirus dan terletak dalam sub-family yang

1
sama dengan SARS- coronavirus.Corona virus adalah keluarga besar virus yang
menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Secara genetik kerabat paling
dekat dari MERS-CoV yang telah ditemukan sampai saat ini merupakan
coronavirus yang berasal dari kelelawar, sehingga menimbulkan kecurigaan
bahwa MERS-CoV juga berasal dari kelelawar. Ada juga bukti-bukti yang
mengarahkan bahwa virus MERS-CoV ditransmisikan melalui kontak dengan
unta atau kambing, namun sampai sekarang belum ada data pasti yang
mendukung teori tersebut.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana tinjauan umum atau definisi penyakit ebola dan mers
2. Bagaimana epidemiologi dari ebola dan mers
3. Bagaimana etiologi virus ebola dan mers
4. Bagaimana ciri dan struktur virus ebola dan mers
5. Bagaimana tanda dan gejala virus ebola dan mers
6. Bagaimana patofisiologi virus ebola dan mers
7. Bagaimana pencegahan virus ebola dan mers
8. Bagaimana pemeriksaan penunjang virus ebola dan mers
9. Bagaimana penetalaksanaan medis pada penderita ebola dan mers

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

PEMBAHASAN EBOLA

A. Definisi Ebola

Ebola adalah sejenis virus dari genus Ebolavirus, familia Filoviridae, dan juga
nama dari penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut. Penyakit Ebola sangat
mematikan. Gejala-gejalanya antara lain muntah, diare, sakit badan, pendarahan
dalam dan luar, dan demam. Tingkat kematian berkisar antara 50% sampai 90%.
Asal katanya adalah dari sungai Ebola di Kongo. Penyakit Ebola dapat ditularkan
lewat kontak langsung dengan cairan tubuh atau kulit. Masa inkubasinya dari 2
sampai 21 hari, umumnya antara 5 sampai 10 hari. Saat ini telah dikembangkan
vaksin untuk Ebola yang 100% efektif dalam monyet, namun vaksin untuk
manusia belum ditemukan.

B. Etiologi dan penyebaran

etiologi

Penyakit ini disebabkan oleh sejenis virus Genus Ebolavirus Familia filoviridae
yang terdiri dari 5 spesies yang berbeda:
1. Bundibugyo Ebolavirus (BDBV)
2. Reston ebolavirus (RESTV)
3. Zaire Ebolavirus (EBOV)
4. Sudan ebolavirus (SUDV)
5. TAIForest ( TAFV)

Penyebaran

Virus Ebola bisa ditemukan pada monyet, simpanse, dan primata lainnya.
Strain Ebola yang lebih ringan telah ditemukan pada monyet dan babi di Filipina.

3
Penularan dari hewan ke manusia

Para ahli menduga bahwa virus ebola berpindah ke manusia melalui cairan
tubuh hewan yang terinfeksi, seperti:

1. Darah. Memotong atau mengonsumsi hewan yang terinfeksi dapat


menyebarkan virus. Para ilmuwan yang pernah mengoperasi hewan yang
terinfeksi untuk penelitian juga terkena virus ini.

2. Produk pembuangan.

Turis di beberapa gua di Afrika serta beberapa pekerja tambang bawah tanah
telah terinfeksi dengan virus ini. Kemungkinan dikarenakan adanya kontak
dengan kotoran atau urin kelelawar yang terinfeksi.

3. Penularan dari orang ke orang

Orang-orang yang terinfeksi biasanya tidak menularkan penyakit ini sampai


nantinya mereka mengalami gejala-gejalanya. Anggota keluarga sering kali
tertular karena biasanya mereka merawat kerabat yang sakit atau
mempersiapkan jasad untuk penguburan.

Personel medis juga dapat tertular jika tidak menggunakan perlengkapan


pelindung, seperti masker dan sarung tangan saat menangani pasien. Beberapa
penularan Ebola juga bisa terjadi akibat pemakaian ulang jarum dan alat suntik
yang tidak steril karena sudah terkontaminasi.

Tidak ditemukan bukti bahwa virus Ebola dapat disebarkan oleh gigitan serangga.

C. Pathofisiologi

Penyakit ebola menyebar dan masuk ke dalam tubuh host melalui berbagai
macam cara antara lain melalui jarum suntik , donor darah , dan melalui kontak
langsung tangan.

Virus Ebola adalah virus yang dapat menyebar dengan sangat cepat dan dapat
menyebar melalui penggunaan jarum suntik yang tidak disterilkan atau melakukan

4
kontak dengan seseorang yang terkena infeksi atau mayat orang yang sudah
meningggal karena terserang Virus Ebola.

Cara infeksi virus Ebola dalam tubuh manusia adalah sebagai berikut.
Pertama, sekitar satu minggu setelah infeksi atau peradangan, virus mulai
menyerang darah dan sel hati. Kedua, penyakit akan menyebar secara cepat
keseluruh tubuh, virus akan menghancurkan organ atau bagian tubuh yang penting
seperti hati dan ginjal. Ketiga, infeksi virus Ebola akan menyebabkan atau
mendorong terjadinya pendarahan internal secara besar-besaran (masive).
Keempat, Virus Ebola akan menghambat kerja sistem pernapasan, yang dapat
menyebabkan kematian seketika pada pasien.

D. Pathway

5
E. Manifestasi klinis

Masa inkubasi 2-21 hari dan manusia tidak dapat menularkan virus ini sampai
timbul gejala. Gejalanya diantaranya:

1. Kelelahan
2. Demam
3. Nyeri otot
4. Sakit kepala
5. Mual dan muntah
6. Sakit tenggorokan
7. Diare
8. Gangguan fungsi ginjal dan hati
9. Ruam terisi nanah dan darah yang menyakitkan
10. Perdarahan gusi, hidung, mata, sekitar kuku jari
11. Temuan lab: penurunan leukosit dan trombosit dan peningkatan enzim pada
hepar

F. Stadium demam

Onset penyakit ini setelah terjadi inkubasi ialah 2-21 hari.

Gejala klinis dapat dibagi dalam 4 fase, yaitu:

Fase A:

Influenza like syndrome. Terjadi gejala atau tanda nonspesifik


seperti panas tinggi, sakit kepala, artralgia, mialgia, nyeri tenggorokan,
lemah badan,dan malaise.

Fase B:

Bersifat akut (hari ke 1-6). Terjadi demam persistenyangtidak


berespon terhadap obat anti malaria atau antibiotik, sakitkepala, lemah
badan yang terus menerus,dan diikuti oleh diare, nyeriperut, anoreksia,dan
muntah

6
Fase C:

Pseudo-remisi(harike 7-8).

Selama periode ini penderita merasa sehat dengan konsumsi


makanan yang baik. Sebagian penderita dapat sembuh
dalam periode ini dan selamat dari penyakit.

Fase D:

Terjadi agregasi (hari ke 9). Pada beberapa kasus terjadi penurunan


kondisi kesehatan yang drastis diikuti oleh gangguan respirasi dapat terjadi
gangguan hemostasis berupa perdarah-an pada kulit (petekia) serta gangguan
neuropsikiatrik seperti delirium, koma, gangguan kardiovaskular,dan syok
hipovolemik.

G. Komplikasi Ebola

Setiap penderita memiliki respons sistem kekebalan tubuh yang berbeda


terhadap virus Ebola. Sebagian penderita dapat pulih dari Ebola tanpa disertai
komplikasi, namun sebagian lagi dapat mengalami kondisi yang mengancam
nyawa, seperti:

1. Kejang

2. Koma

3. Perdarahan hebat

4. Syok

5. Gagal berfungsinya organ-organ tubuh

H. Pemeriksaan Penunjang

1. Tes polimerase chin reaction ( pcr)


2. ELISA
3. Deteksi antigen
4. Uji netralisasi serum

7
5. Mikroskop electron
6. Isolasi virus dengan kultur sel

I. Penatalaksanaan dan pencegahan

Penatalaksanaan

Belum ada pengobatan khusus untuk penyakit ini, upaya untuk membantu
orang yang terjangkit meliputi pemberian terapi rehidrasi oral (air yang sedikit
manis dan asin untuk diminum) atau cairan intravena. Penyakit ini memiliki
tingkat kematian yang tinggi: seringkali menewaskan antara 50% hingga 90%
orang yang terinfeksi virus.EVD pertama kali diidentifikasi di Sudan dan Republik
Demokratik Kongo. Penyakit ini biasanya mewabah di wilayah tropis Afrika Sub-
Sahara. Sejak tahun 1976 (ketika pertama kali diidentifikasi) hingga 2013, kurang
dari 1.000 orang per tahun telah terinfeksi.Wabah terbesar hingga saat ini adalah
wabah Ebola Afrika Barat 2014 yang sedang terjadi, dan melanda Guyana, Sierra
Leone, Liberia dan kemungkinan Nigeria.Hingga bulan Agustus 2014, lebih dari
1600 kasus telah diidentifikasi.Upaya sedang dilakukan untuk mengembangkan
vaksin, namun belum membuahkan hasil

Pencegahan

5 Tahapan pencegahan untuk individu, antara lain:

1. Menghindari area yang terkena serangan virus Ebola


2. Tidak melakukan kontak dengan pasien atau mayat yang terjangkit virus
Ebola
3. Menggunakan perlengkapan khusus seperti baju yang bisa digunakan di
Laboratorium
4. Korban yang meninggal akibat virus Ebola harus dimusnahkan karena
penyebaran utama virus ini melalui darah, yang menyebabkan para dokter
yang terkena darah dari pasien yang terinfeksi, akan mengalami kematian
seperti yang terjadi di Afrika.

8
5. Menon-aktifkan virus Ebola dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara
yang bisa dilakukan yaitu dengan penggunaan sinar Ultra violet dan radiasi
sinar gama, penyemprotan formalin dengan konsentrasi 1%, beta-
propiolactone, dan disinfektan phenolic dan pelarut lipid-deoxycholate.

5 Tahapan pencegahan dilingkungan masyarakat, antara lain:

a. Health Promotion

Pendidikan kesehatan pada masyarakat untuk melakukan perubahan


prilaku untuk hidup bersih dan sehat serta meningkatkan higien pribadi dan
sanitasi lingkungan dalam lingkungan masyarakat dan sekitarnya

b. Early Diagnosis

Program penemuan penderita melalui survey pada kelompok – kelompok


yang berisiko atau pada populasi umum dan peda pelaporan kasus.

c. Spesifik protection

Menghindari diri dari gigitan serangga ,berusahauntuk tidak pergi ke


daerah yang kurang penyinaran matahari dan terdapat binatang ataupun
serangga yang menjadi sumber penularan penyakit tersebut untuk
menghindari terjadinya komplikasi penyakit dan penyebar luasnya penyakit
tersebut dalam masyarakat.

d. Disability limitation

Terapi kompleks pada penderita ebola agar tidak terjadi kematian dengan
menambah konsentrasi minum penderita agar tidak terjadi dehidrasi serta
upaya peningkatan kekebalan tubuh kelompok.

e. Rehabilitation

Pendidikan kesehatan kepada para penderita beserta keluarga serta


dilakukannya rehabilitasi fisik dan psikologis pada kasus dan penderita
penyakit ebola.

9
J.PENGKAJIAN

Tgl pengkajian : 27 jan 2014


Tgl MRS : 25 jan 2014
Ruang : marwah 3
Jam : 09.15
No. rekam medis : 162127
Diagnosa masuk : Gastroenteritis
1. IDENTITAS KLIEN

Nama : Ny.K
Umur : 65 Tahun
Jenis kelamin : perempuan
Agama : islam
Pendidikan :SD
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Suku/bangsa : WNI
Alamat : jl.K No.5 T Madiun
Status perkawinan : Kawin
PENANGGUNG JAWAB KLIEN

Nama :S
Umur : 44 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan : SPD
Pekerjaan : Karyawan
Hubungan dengan pasien : Anak
Alamat : Jl.K no.5 t Madiun

10
2. PENGKAJIAN RIWAYAT KESEHATAN

Keluhan Utama :

Klien mengatakan badannya terasa lemas saat aktivitas maupun istirahat.

Riwayat Penyakit Sekarang :

Klien mengatakan 2 hari sebelum MRS badannya lemas,diare2x, muntah 1x,


pusing berputar, tidak mau makan. Saat pengkajian klien masih merasakan saaat
aktivitas tiba’’ seluruh badannya terasa lemas terutamaa dibagian
kaki dan tangan,klien istirahat bila capek dan aktivitas dibantu oleh keluarga.hal
ini disebabkan karena intake cairan yang menurun.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Klien mengatakan pernah menderita penyakit maag selama 2 tahun sampai


sekarang, pengobatan dilakukan dengan minum obat yang biasanya di beli warung
terdekatnya dengan nama obat obatnya yaitu promag.

Riwayat Kesehatan Keluarga :

Keluarga klien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit yang dialami


klien sekarang.

3. PEMERIKSAAN FISIK

a. Tanda-tanda Vital

S: 360C N:70 x/mnt T: 130/90 mmHg RR: 20 x/mnt


Keadaan Umum : lemah
Kesadaran Pasien : composmentis
b. Pengkajian pernapasan (B1)

1) Saat pengkajian tidak mengeluh sesak


2) Irama jantung teratur
3) Jenis pernapasan normal
4) Suara napas vesikuler
MK : tidak muncul masalah keperawatan

11
c. Pengkajian sirkulasi/ kardiovaskular (B2)

1) Irama jantung regular dan mengeluh nyeri dada


2) Suara jantung normal
3) CRT : 3 detik
4) Akral : hangat
MK : Tidak ada
d. Pengkajian neurosensori/persyarafan (B3)

1) GCS : 456
2) Saat pengkajian klien mengatakan pusing.
3) Sclera anemis
4) Konjungtiva anemis
5) Tidak ada masalah gangguan pandangan,pendengaran dan penciuman
6) Klien istirahat /tidut >8 jam/hari
MK : kekurangan volume cairan
e. Pengkajian eliminasi/perkemihan (B4)

1) Saat pengkajian klien mengatakan BAK normal 3-4x/hari


2) Produksi urin <1000/hari
3) Warna kuning jernih
4) Bau amoniak
MK : Tidak ada masalah keperawatan
f. Pengkajian makanan dan cairan /pencernaan (B5)

1) Mulut kotor
2) Mukosa kering
3) Saat di pengkajian klien mengatakan tidak ada masalah dengan
tenggorokan dan abdomen tetapi klien belum BAB terakhir tanggal 25-
01-2014
4) Nafsu makan menurun
5) Makan hannya 3 sendok
MK : ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan masukan makanan tak adekuat.

12
g. Pengkajian musculoskeletal dan integument (B6)

1) Pergerakan sendi bebas


2) Kekuatan otot 5 5
5 5
3) Turgor kulit kurang elastic
4) Kulit kering
MK : resiko kekurangan volume cairan.
h. Pengkajian system endokrin

1) Tidak pembesaran kelenjar thyroid dan kelenjar getah bening

MK : Tidak ada masalah keperawatan

i. Personal Hygine dan Kebesaran

1) Klien hannya disiplin 2x/hari


2) Ganti pakain 1x/hari
3) Tidak keramas maupun gosok gigi
MK : Defisit perawatan diri,hygine
j. Pengkajian psikososial

1) Klien mengatakan bahwa sakit yang diderita hukuman karena sakitnya


dibuat oleh ulah klien sendiri
2) Perilaku klien terhadap penyakit yang diderita cenderung murung/diam
3) Klien sangat kooperatif saat berinteraksi
MK : Tidak ada masalah keperawatan.
k. Pengkajian spiritual

1) Kebiasaan beribadah
2) Selama sakit klien tidak pernah beribadah
3) Sebelum sakit klien rajin beribadah
MK : Hambatan religious b.d kurangnya interaksi sosikultural.

13
l. Terapi Obat

1) Infuse RL 30 tpm
2) Cefotaxim 3x1
3) Vomcerun 3x1
4) Per oral : - unalium 2x5 mg
5) lanzoprazo 2x1
6) Biodiar 3x1 tab
m. Pemeriksaan Penunjang (28-01-2014)
1) Hematologi
BBS/LED : 38 ( L: 0-15/p : 0-20 mm/jam)
2) Kadar gula
BSN : 70 (70-110 mg/dl)
2JPP : 140 (<125 mg/dl)
3) Profil lemak
Cholesterol : 131 (<200 mg/dl)
HDL : 34 (>35mg/dl)
LDL : 85 (<150 mg/dl)
Triglicerid : 140 (<150 mg/dl)
4) Elektrolit
Natrium : 149 (135-155 m mol/L)
Kalium : 4,1 (3,5- 5,5 m mol/L)
klorida : 101 ( 98-107 m mol/L)
calcium : 2,37 (2,3 – 2,8 mmol/L)
5) LFT
Bill D : 0,14 (<0,25 mg/dl)
Bill T : 0,35 (<1,0 mg/dl)
SGOT : 31,6 ( L:36/P: 31 n/L)
SGPT : 20,7 ( L:40/P:31 n/l)
tot prot : 6,67 (6,6-8,79 g/dl)
albumin : 3,84 (3,6-5,2 g/d)
globulin : 2,83 (2,6 – 3,6 g/d)

14
6) RFT
creatinin : 0,98 (L :0,8-1,5 / P: 0,7 -1,2)
Bun : 9,9 (Bun :4,7 – 23,4 / urea : 10- 50 dl)
uric acid : 3,8 (L : 3,1 -7,0 /P: 2,4 – 7 mg/dl)

K. ANALISA DATA

TGL DATA ETIOLOGI MASALAH

27 jan Ds : klien mengeluh badannya Menurunnya intake Kekurangan volume


2014 terasa lemas cairan secara oral cairan

Do :

- KU lemah

- turgor kulit kurang elastic

- kulit kering

-sclera anemis

TTV

-T : 130/90 mmHg

-N : 70 x/mnt

-RR: 20 x/mnt

-S:360C

-mukosa kering

-penurunan haluaran urine

27 jan Ds : klien mengatakan tidak Asupan makanan Gangguan nutrisi


2014 mau makan,makan hannya 3 tidak adekuat kurang dari
sendok kebutuhan

15
Do :

-mulut berbau busuk

-mukosa kering

-TTV

T : 130/90 mmHg

N: 70 x/mnt

R : 20 x/mnt

S : 36 0C

Prioritas Diagnosa keperawatan

1. Resikoa kekurangan volume cairan b.d menurunnya intake cairan secara oral

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d asupan makanan tak


adekuat

L. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO HR/ Diagnosa Tujuan/crit Interven rasional


TGL Keperawatan eria hasil si

1 Senin Resiko Setelah 1.monitor 1.hipotensi takikardial,dem


.27 kekurangan diberikan TTV amdpat menunjukkan
jan volume cairan asuhan 2.tingkat respon terhadap dadn efek
2014 b.d keperawatan kan kehilangan cairan
menurunnya selama 3x30 cairan per 2.catatan masukan
intake cairan menit klien oral 1-2 membantu mendeteksi
secara oral mampu gelas tanda dini
memnuhi setiap 24 ketidakseimbangan bcairan
kebutuhan jam 3.mengetahui keadaan
volume

16
cairan yang 3.observa klien untuk mempermudah
adekuat si tanda’’ tindakan selanjutnya
dengan dehidrasi 4.mengganti cairan dan
criteria hasil
4.kolabor elektrolit secara adekuat.
-KU baik asi
-Turgor kulit dengan
kurang tim medis
elastic dalam

-sclera tdk pemberia


anemis n terapi
cairan
-TTVdalam
infuse
batas normal

-mukosa
lembab

-kulit
lembab

2 Senin Ketidakseimba Setelah 1.anjurka 1.menjaga kebersihan


,27 ngan nutrisi diberikan n klien mulut dapat meningkatkan
jan kurang dari asuhan untuk nafsu makan
2014 kebutuhan b.d keperawatan menjaga 2.dapat terrpenuhnya
asupan selama 1x24 kebersiha nutrisi sesuai kebutuhan
makanan tak jam klien n mulut metabolism
adekuat dapat 2.jelaska 3.makanan yang bervariasi
memnuhi n dapat meningkatkan nafsu
kebutuhan pentingn makan
nutrisi ya
dengan 4.memberikan asupan
konsumsi
criteria hasil diet/nutrisi yang tepat

17
: nutrisi

-ku baik dan


cairan
-mukosa
yang
lembab
adekuat
-TTV dalam
3.motivas
batas normal
i keluarga
untuk
member
makanan
yang
bervariasi

4.kolabor
asi
dengan
ahli gizi
untuk
kebutuha
n nutrisi
yang
dibutuhk
an

18
M. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Shift HR/TG Diagnosa Jam IMPLEMENTA Jam EVALUA PARA


L Keperawatan SI SI F

pagi 27 jan Resiko 08.0 1.memonitor 14.0 S : klien


2014 kekurangan 0 TTV 0 mengataka
volume cairan S: n
b.d menurunnya 36 0 c N:70x/m badannya
intake cairan nt cukup
secara oral membalik
T:130/90 mmH
g O:

Rr : 20x/mnt -Ku cukup

2.meningkatkan -turgor

cairan per oral kulit

1-2 gelas setiap kurang

24 jam elastic

Respon : klien -sclera

akan berusaha anemis

meningkatkan -TTV
cairan sedikit Td :130/85
demi sedikit mmHg
3.mengobservas N : 72
i tanda-tanda x/mnt
dehidrasi
R : 20
-turgor kulit x/mnt
kurang elastis
S : 360 C
-sclera anemis
A
-ku lemah

19
4.berkolaborasi : Masalah

dengan tim teratasi

medis dalam sebagian

pemberian P
terapi cairan :lanjutkan
infuse intervensi

Respon : klien 1,2 dan 4

tegang saat di
injeksi.

pagi 27 jan Ketidakseimbang 08.0 1.menganjurkan 14.0 S: klien


2014 an nutrisi dari 0 klien untuk 0 mengataka
kebutuhan b.d menjaga n nafsu
asupan makanan kebersihan makan
tak adekuat mulut meningkat

Respon: klien O:
gosok gigi -mulut
1x/hri cukup
2.menjelaskan berbau
pentingnya -mukosa
konsumsi nutrisi kering
dan cairan yang
-TTV
adekuat
T:120/80
Respon:klienaka
mm Hg
n berusaha
menghabiskan N:75

porsi makan,dan x/mnt

makan sedikit RR:20


tapi sering x/mnt

20
3.memotivasi S:36 0C
keluarga untuk A:
member masalah
makanan yang teratasi
bervariasi sebagian
Respon : klien P:intervens
mau makan i di
makanan yang lanjutkan 1
bervariasi sprit dan 4
bubur kedelai

4.berkolaborasi
dengan ahli gizi
untuk kebutuhan
nutrisi yang
dibutuhkan

Diet ml b1 1900
kal

CATATAN PERKEMBANGAN

Shift Hari/tgl Diagnosa keperawatan jam Catatan paraf


perkembangan

sore Selasa,28 Resikoa kekurangan 19.0 S: klien mengatakan


jan 2014 volume cairan b.d 0 badannya
menurunnya intake sudah baik,tdak lemas
secara oral O:

-KU baik

21
-turgor kulit elastic

-sclera tdk anemis

A:masalah tertasi

P: hentikan intervensi

SORE Selasa,28 Ketidakseimbangan 16.0 S: klien mengatakan


jan 2014 nutrisi kurang dari 0 porsi makan dihabiskan
kbutuhan b.d asupan O:
makanan tidak adekuat
-mukosa lembab

-mulut tdk kotor

-TVV

T: 120/80 mm Hg

N: 75x/mnt

RR: 20x/mnt

S: 360 C

A: masalah teratasi

P: intevensi dihentikan
klien dibolehkan pulang

22
PEMBAHASAN MERS

A. Definisi

MERS-CoV adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome


Corona Virus. Virus ini merupakan jenis baru dari kelompok Coronavirus. Virus
ini pertama kali dilaporkan pada bulan Maret 2012 di Arab Saudi. (Depkes RI,
2013)

B. Etiologi

Middle East Respiratory Syndrome atau disingkat MERS adalah penyakit


virus pada pernapasan yang disebabkan oleh corona virus yang disebut MERS-
Cov. Virus ini pertama kali dilaporkan mewabah di Arab Saudi pada tahun 2012.
MERS- CoV (Middle East Respiratory Syndrome-Coronavirus) adalah virus yang
termasuk dalam spesies coronavirus dan terletak dalam sub-family yang sama
dengan SARS- coronavirus.

Corona virus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada
manusia dan hewan. Secara genetik kerabat paling dekat dari MERS-CoV yang
telah ditemukan sampai saat ini merupakan coronavirus yang berasal dari
kelelawar, sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa MERS-CoV juga berasal
dari kelelawar. Ada juga bukti-bukti yang mengarahkan bahwa virus MERS-CoV
ditransmisikan melalui kontak dengan unta atau kambing, namun sampai
sekarang belum ada data pasti yang mendukung teori tersebut.

Pada orang, corona virus dapat menyebabkan penyakit mulai dalam tingkat
keparahan seperti flu biasa hingga Sindroma Pernapasan Akut atau SARS (Severe
Acute Respiratory Syndrome). MERS Coronaviruses pertama kali terdeteksi pada
bulan April 2012, ini merupakan virus baru (novel coronaviruses) yang belum
pernah terlihat pada manusia sebelumnya. Pada kebanyakan kasus,virus ini telah
menyebabkan penyakit yang parah, bahkan setengah dari kasus yang tercatat
mengalami kematian. Hingga kemudian, corona virus ini dikenal sebagai Middle

23
East Respiratory Syndrome Coronaviruses (MERS-Cov) ). Nama itu diberikan
Coronavirus Study Group of the International Committee di Taxonomy of
Viruses pada May 2013. Karena penyebarannya yang semakin meluas sejak April
2012 hingga awal tahun 2013, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah
mengeluarkan.

C. Manifestasi Klinis

Kebanyakan orang yang terinfeksi dengan MERS-COV mengalami penyakit


pernapasan akut parah dengan gejala demam, batuk, sesak napas. Beberapa orang
juga memiliki gejala gastriintestinal seperti diare, mual, atau muntah. Bagi
banyak orang dengan MERS, komplikasi yang lebih parah diikuti seperti
pneumonia dan gagal ginjal. Sekitar 30% dari orang dengan MERS meninggal.

D. Patofisiologi

Coronavirus (CoVs) virus RNA yang menginfeksi burung dan berbagai


mamalia, termasuk manusia. Virus ini terdiri dari protein struktural beberapa
yang memegang relative panjang (sekitar 30 kb) positif-terdampar genom.
Mereka terjadi di seluruh dunia dan dapat menyebabkan penyakit signifikansi
medis dan kedokteran hewan. Umumnya, infeksi terlokalisasi pada pernapasan,
dan/ atau sistem saraf. Saat ini, terdapat jenis CoVs yang dapat menginfeksi
manusia antara lain:

a. Human CoVs HKU1,


b. NL63,
c. 229E dan
d. OC43
Virus ini dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan ringan, ditandai
dengan penyakit saluran pernapasan atas yang mencakup: coryza, batuk dan sakit
tenggorokan. Virus ini hanya sesekali menginduksi penyakit saluran pernapasan
bawah, seperti: bronkitis, bronkiolitis dan pneumonia.

24
Selain sebagai penyebab penyakit MERS, virus ini juga dapat menyebabkan
penyakit SARS di Negara China tahun 2002. Sejauh ini, laporan yang
menjelaskan otopsi fatal MERSCoV kasus belum banyak dipublikasikan. Oleh
karena itu, pada tahap satu ini hanya bisa berspekulasi tentang patologi dari Mers-
CoV pada manusia.

Dikarenakan etiologi dari penyakit MERS dan SARS adalah sama


memungkinkan bahwa histologi dari penyakitnya juga sama, yaitu fase eksudatif,
proliferatif sebuah fase dan fase fibrosis.

a. Fase eksudatif adalah terlihat pada pasien di awal 10 hari dari penyakit, dan
ditandai dengan nekrosis alveolar, bronchiolar dan sel epitel bronkus, edema
intraluminal, fibrin eksudasi, pembentukan membran hialin, perdarahan dan
infiltrasi sel-sel inflamasi, seperti monosit atau makrofag, limfosit dan
neutrofil, ke dinding alveolar dan lumina.
b. Fase proliferasi, setelah 10-14 hari, menunjukkan interstitial dan fibrosis
alveolar, obliterans bronchiolitis mengorganisir pneumonia (Boop),
regenerasi dengan tipe II Pneumosit hiperplasia dan sel raksasa berinti.
c. Tahap fibrosis, setelah 14 hari, menunjukkan penebalan interstitial, dengan
fibrosis dan Boop-seperti sel inflamasi pola dan beberapa (terutama histiosit
dan limfosit).

E. Pemeriksaan Diagnostik

1. Spesimen Klinis Rutin

Kultur mikroorganisme sputum dan darah pada pasien dengan pneumonia

2. Spesimen dari saluran napas atas dan bawah

Dilakukan pemeriksaan Virus Influenza A dan B, virus influenza A subtype


H1 dan H3 dan H5, dan H5N1

25
3. Pemeriksaan Spesimen Corona Virus Baru ( Pemeriksaan Untuk Konfirmasi
Diagnosa)
Dilakukan dengan menggunakan Reverse Transcriptase Polymerase Chain
Reaction (RT-PCR)
Bahan Pemeriksaan :
a. Spesimen dari saluran napas atas (hidung/nasofaring/dan atau swab
tenggorokan
b. Spesimen saluran nafas bawah ( Sputum , aspirat endotracheal, kurasan
bronkoalveolar)
c. Tempat Pemeriksaan : Laboratorium Badan Litbangkes RI Jakarta
d. Pengambilan specimen serial dari beberapa tempat dalam waktu
beberapa hari (setiap 2-3 hari) untuk melihat Viral Sheeding

Hasil laboratorium inkonklusif Adalah apabila di dapatkan :

a. Hasil positif pada pemeriksaan skrining yang tidak diikuti dengan


pemeriksaan konfirmasi molekuler.
b. Hasil pemeriksaan serologis dinyatakan positif pada pemeriksaan
laboratorium
c. Harus mendapat pemeriksaan virologis dan serologis tambahan untuk
dapat menetapkan konfirmasi kasus MERS-CoV

G. Penatalaksanaan

Sampai saat ini belum ada pengobatan yang bersifat spesifik, pengobatan
hanya bersifat suportif tergantung kondisi/ gejala yang timbul pada pasien, seperti
demam, batuk, hingga sesak. WHO tidak merekomendasikan pemberian steroid
dosis tinggi. Belum ada vaksin tersedia untuk MERS-CoV.

Pengendalian Infeksi:

Transmisi penularan virus MERS-CoV belum jelas, dapat terjadi melalui :

26
a. Langsung : melalui percikan dahak (droplet) pada saat pasien batuk atau
bersin.
b. Tidak Langsung : melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi virus.

Langkah pencegahan infeksi MERS-CoV sama dengan pencegahan infeksi pada


penyakit flu burung dan infeksi saluran nafas lainnya.

Hal yang harus dilakukan dalam pengendalian infeksi MERS-CoV :

a. Tindakan pencegahan transmisi droplet.


b. Tindakan pencegahan standar diterapkan pada setiap pasien yang diketahui
atau dicurigai memiliki infeksi pernafasan akut, termasuk pasien dengan
dicurigai, probable atau terkonfirmasi MERS-CoV.
c. Pencegahan infeksi dan tindakan pengendalian harus dimulai ketika pasien
masuk triase dengan gejala infeksi pernapasan akut yang disertai demam.
d. Pengaturan ruangan dan pemisahan tempat tidur minimal 1 meter antara setiap
pasien ISPA dan pasien lainnya yang tidak menggunakan APD.
e. Pastikan triase dan ruang tunggu berventilasi cukup.
f. Terapkan etika batuk.

H. Komplikasi

Berdasarkan data WHO, kasus MERS-CoV sebagian besar menunjukkan tanda


dan gejala pneumonia. Hanya satu kasus dengan gangguan kekebalan tubuh
(immunocompromised) yang gejala awalnya demam dan diare, berlanjut
pneumonia. Komplikasi kasus MERS-CoV adalah pneumonia berat dengan gagal
napas yang membutuhkan alat bantu napas non invasif atau invasif, Acute
Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dengan kegagalan multi-organ yaitu
gagal ginjal, Disseminated Intravascular Coagulopathy (DIC) dan perikarditis.
Beberapa kasus juga memiliki gejala gangguan gastrointestinal seperti diare. Dari
seluruh kasus konfirmasi, separuh diantaranya meninggal dunia.

27
Komplikasi MERS Menurut Kemenkes RI tahun 2013 :

1. Pneumonia berat dengan gagal napas yang membutuhkan alat bantu napas
non invasive atau invasive
2. Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dengan kegagalan multi
organ yaitu gagal ginjal, Disseminated Intravascular Coagulopathy (DIC)
3. Perikarditis

I. Asuhan Kepeawatan

1. Pengkajian

a. Anamnesa

Nama

Umur

Jenis Kelamin

Agama

Suku Bangsa

Pendidikan

Pekerjaan

b. Keluhan Utama

c. Riwayat kesehatan sekarang

Keluhan utama masuk RS, faktor pencetus, lamanya keluhan,


timbulnya keluhan, faktor yang memperberat, upaya yang dilakukan untuk
mengatasi, dan diagnosis medik.

28
d. Riwayat kesehatan masa lalu

Penyakit yang pernah dialami, riwayat alergi, imunisasi, kebiasaan


merokok,minum kopi, obat-obatan dan alkohol

e. Riwayat kesehatan keluarga

f. Pemeriksaan umum

g. Pemeriksaan Fisik : Untuk pasien denganMERS, pemeriksaan fisik dan


pengkajian keluhan lebih spesifik ke arah pengkajian sistem imun dan
hematologi

h. Pemeriksaan Penunjang

2. Diagnosa Keperawatan

a. Ketididakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan


sekret.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan O2 dalam udara
inspirasi.
c. Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidaksembangan
antara suplai dan kebutuhan O2
e. Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan hipoksia jaringan

29
Bab III
Penutup
A. KESIMPULAN

Demam Berdarah Ebola (Demam Hemorrhagic) adalah penyakit disebabkan


oleh suatu virus yang termasuk kedalam keluarga Filoviridae. Virus-virus ini telah
menyebabkan penyakit pada manusia di negara-negara Afrika. Penyebaran virus
Ebola dalam skala global masih terbatas. Hal ini berkaitan dengan transmisinya
yang tidak melalui udara dan juga jarak waktu yang diperlukan virus Ebola untuk
menginfeksi satu individu ke individu lainnya.

Selain itu, onset virus yang relatif cepat dapat mempercepat diagnosa terhadap
penderita sehingga dapat mengurangi penyebaran penyakit melalui penderita yang
bepergian dari satu wilayah ke wilayah lainnya dan tidak ada pengobatan standar
untuk demam Ebola.

Virus MERS salah satu virus yang sedang ditanggulangi penyebarannya oleh
Arab Saudi agar tidak meluas ke banyak negara adalah virus MERS. MERS-CoV
(Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus) adalah penyakit sindrom
pernapasan yang disebabkan oleh virus Corona yang menyerang saluran
pernapasan mulai dari yang ringan sampai berat.

Sebelum MERS menyebar dan masuk ke Indonesia, pemerintah Indonesia telah


menghadapi kasus sebelunya yaitu virus flu burung dan virus flu babi. Karena dari
pengelaman menghadapi virus flu burung dan flu babi pemerintah Indonesia telah
mempersiapkan berbagai cara untuk meghadapi virus MERS, yang di akan
menjangkiti oleh warga negara Indonesia yang tinggal di Arab Saudi dan yang
akan pergi haji atau umrah, dan juga guna melindungi warganya yang tingal di
negara lainnya yang kemungkinan besar dapat terjangkiti oleh virus MERS.

30
B. SARAN

Dalam penulisan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan baik dalam
teknik penulisan maupun materi. untuk itu diharapkan krotik dan saran yang
bersifat membangun bagi kami untuk membuat makalah dalam bentuk yang baik
lagi.Upaya Indonesia telah dilakukan tetapi dengan interaksi global tidak menutup
kemungkinan akan menyebar lagi , jadi penelitian ini dibutuhkan penelitian
selanjutnya yang lebih dalam lagi karena virus MERS di Arab Saudi belum
berakhir.

31
Daftar Pustaka
EmirzanurWicaksono. (2014, 08 01). ebola. Diambil kembali dari
Http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2014/08/01/ebola/

kompas, H. (2014, 10 06). Bagaimana cara dokter mendeteksi infeksi ebola. Diambil
kembali dari http://Health.kompas.com

Pedoman tata laksana klinis infeksi saluran pernafasan akut berat suspek middle east
respiratory syndrome . (t.thn.). Dipetik 2014, dari
Http://www.depkes.go.id/downloads/merscov/manajemen%20Klinis%Mers_A5_Finall201
4-1.Pdf

WHO. (t.thn.). Infection prevention and conttrol during health care for probable or
confirmed cases of novel coronavirus . Diambil kembali dari
Http://www.depkes.go.id/pedoman-pencegahan-dan-pengendalian-infeksi-mers-cov_pdf

32