Anda di halaman 1dari 13

Oleh: Siti Bachrotus Recha Nur Fa’ida (17032615509)

Oleh: Siti Bachrotus Recha Nur Fa’ida (17032615509)


PRO PERNIKAHAN DINI

Menikah bagi para lelaki yang sudah mencapai usia baligh tetapi belum
mencapai usia dewasa hukumnya menurut syara’ialah sunnah (mandub). “Wahai
para pemuda, barangsiapa yang telah mampu, hendaknya kawin, sebab kawin itu
akan lebih menundukkan pandangan dan akan lebih menjaga kemaluan. Kalau
belum mampu, hendaknya berpuasa, sebab puasa akan menjadi perisai bagimu.”
(HR. Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut mengandung seruan untuk menikah
bagi “para pemuda” (asy syabab), bukan orang dewasa (ar rijal) atau orang tua (asy
syuyukh). Hanya saja seruan itu tidak disertai indikasi (qarinah) ke arah hukum
wajib, sehingga tidak bersifat harus (thalab ghairu jazim), alias mandub (sunnah).
Sementara itu, pernikahan bagi perempuan yang masih kecil (belum haid)
hukumnya juga diperbolehkan(mubah). Mustahil Allah SWT memerintahkan
(wajib, sunah, mubah) yang membahayakan kesehatan manusia. Faktanya menikah
efektif mencegah HIV/AIDS-kanker cervix, mental sehat, cegah aborsi, kehamilan
yang diinginkan, lebih dari itu menikah syar’i mendapat ridho Allah SWT. Seks
bebas merupakan pemenuhan seksual yang menyalahi syari’at (haram) maka akan
mendatangkan keburukan (penyakit, musibah).
A. Perkawinan Usia Dini Dalam Perspektif Psikologi
Sesungguhnya kekhaatiran dan kecemasan timbulnya beberapa persoalan
psikis dan sosial telah dijawab dengan logis dan ilmiah oleh M. Fauzil Adhim
dalam bukunya “Indahnya Pernikahan Dini” dan juga oleh Clarke-Stewart &
Koch lewat bukunya “Children Development Through”: bahwa pernikahan di
usia remaja dan masih di bangku sekolah bukan sebuah penghalang untuk meraih
prestasi yang lebih baik, usia bukan ukuran utama untuk menentukan kesiapan
mental dan kedewasaan seseorang. Pada dasarnya menikah bisa menjadi solusi
alternatif untuk mengatasi kenakalan kaum remaja yang kian tak terkendali.
Di kedua buku itu (dan juga di sekitar kita) ada banyak bukti empiris dan
tidak perlu dipaparkan disini bahwa menikah di usia dini tidak menghambat
studi, bahkan justru bisa menjadi motivasi untuk meraih puncak prestasi yang
lebih cemerlang (seperti tertera sederet nama orang sukses yang melakukan
pernikahan dini). Selain itu menurut bukti psikologis pernikahan dini juga sangat
baik untuk pertumbuhan emosi dan mental. Sehingga akan lebih mungkin
mencapai kematangan yang puncak. Menurut Abraham M. Maslow yang
menikah di usia 20 tahun, orang yang menikah dini lebih mungkin mencapai
taraf aktualisasi diri lebih cepat dan lebih sempurna dibanding dengan mereka
yang selalu menunda pernikahan. Pernikahan yang sebenarnya, menurut
Abraham M. Maslow, dimulai dari saat menikah. Pernikahan akan mematangkan
seseorang sekaligus memenuhi separuh dari kebutuhan-kebutuhan psikologis
manusia, yang pada gilirannya akan menjadikan manusia, mampu mencapai
puncak pertumbuhan kepribadian yang mengesankan.
Hasil penelitian di salah satu kota di Yogya bahwa angka perceraian
meningkat signifikan karena pernikahan dini? Ternyata, setelah diteliti,
pernikahan dini yang rentan perceraian itu adalah pernikahan yang diakibatkan
“kecelakaan” (yang disengaja). Hal ini bisa dimaklumi, sebab pernikahan karena
kecelakaan lebih karena keterpaksaan, bukan kesadaran dan kesiapan serta
orientasi nikah yang kuat. Adapun urgensi pernikahan terhadap upaya
menanggulangi kenakalan remaja barangkali tidak bisa dibantah. Ngeri rasanya
ketika kita mendengar hasil sebuah penelitian bahwa 90% mahasiswi di salah
satu kota besar di negara muslim ini sudah tidak perawan lagi. Pergaulan bebas
atau free sex sama sekali bukan nama yang asing di telinga kaum remaja saat ini.
Akhirnya, kata Fauzil Adhim, kita akan menyaksikan kehancuran yang
berlangsung pelan-pelan, tapi sangat mengerikan, para gadis (yang sudah tidak
gadis lagi) hamil di luar nikah. Na‘udzubillah! Untuk menanggulangi musibah
kaum remaja ini hanya satu jawabnya: nikah.
B. Perkawinan Usia Dini Dalam Perspektif Agama
Jika menurut psikologis, usia terbaik untuk menikah adalah usia antara 19
sampai 25, maka bagaimana dengan agama? Rasulullah SAW. bersabda,
“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mencapai ba’ah,
maka kawinlah. Karena sesungguhnya kawin lebih bisa menjaga pada
pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan. Bila tidak mampu
melaksanakannya maka berpuasalah karena puasa baginya adalah kendali
(dari gairah seksual)” (HR. Imam yang lima).
Hadits di atas dengan jelas dialamatkan kepada syabab (pemuda).
Siapakah syabab itu? Mengapa kepada syabab? Menurut mayoritas ulama,
syabab adalah orang yang telah mencai aqil baligh dan usianya belum mencapai
tiga puluh tahun. Aqil baligh bisa ditandai dengan mimpi basah (ihtilam) atau
masturbasi (haid bagi wanita) atau telah mencapai usia lima belas tahun. Ada
apa dengan syabab? Sebelumnya, menarik diperhatikan sabda Rasulullah SAW,
“perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur
tujuh tahun, dan pukullah mereka karena tidak mengerjakannya setelah berusia
sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidurnya (Ahmad dan Abu Dawud).
Pesan Nabi di atas, selain bermakna sebagai pendidikan bagi anak juga
menyimpan sebuah isyarat bahwa pada usia sepuluh tahun, seorang anak telah
memiliki potensi menuju kematangan seksual. Sebuah isyarat dari Rasulullah
SAW, 19 abad yang silam. Kini, dengan kemajuan teknologi yang kian canggih,
media informasi (baik cetak atau elektronik) yang terus menyajikan tantangan
seksual bagi kaum remaja, maka tak heran apabila sering terjadi pelecehan
seksual yang dilakukan oleh anak ingusan yang masih di bangku sekolah dasar.
Karenanya, Sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, selalu membangun orientasi
menikah kepada para pemuda yang masih single dengan mengajak mereka
berdoa agar segera diberi isteri yang shalihah. Salah satu faktor dominan yang
sering membuat kita terkadang takut melangkah adalah kesiapan dari sisi
ekonomi. Ini memang wajar. Tapi sebagai hamba yang beriman, sebenarnya, tak
perlu risih dengan yang urusan yang begitu krusial dalam sebuah rumah tangga
ini. Bukankah Allah telah menjamin rezeki hamba-Nya yang mau menikah,
seperti yang tersirat dalam surat al-Nur ayat 32 yang artinya, “dan jika mereka
miskin maka Allah akan membuatnya kaya dengan karunia-Nya”. Bukankah
Rasul-Nya juga menjamin kita dengan sabdanya, “Barang siapa yang ingin kaya,
maka kawinlah”.
C. Hukum Menikah Dini Masih Menuntut Ilmu

Untuk seseorang yang ingin melakukan pernikahan dini seperti saat masih
bersekolah atau kuliah, maka ini mengartikan orang tersebut masih menjalani
sebuah kewajiban yakni menuntut ilmu. Sementara hukum menikah adalah tetap
sunnah untuknya, tidak wajib selama masih bisa menjaga kesucian jiwa dan
akhlaqnya serta tidak menjurus pada perbuatan haram meski tidak menikah.
Oleh karena itu, hal tersebut harus ditetapkan dalam kaidah aulawiyat atau
prioritas hukum yakni wajib harus didahulukan dibandingkan dengan sunnah.
ini mengartikan menuntut ilmu masih menjadi prioritas utama dibandingkan
menikah. Namun, apabila tetap ingin melangsungkan pernikahan, maka
hukumnya tetap sunnah, tidak wajib akan tetapi orang tersebut dituntut untuk
bisa menjalani dua hukum yakni menuntut ilmu dan menikah dalam waktu yang
bersamaan dan dilakukan dengan baik serta tidak mengabaikan salah satunya.
Selain itu, harus juga diikuti dengan pemenuhan kesiapan pernikahan seperti
ilmu, fisik dan harta.
D. Hukum Pernikahan Dini untuk Menghindari Maksiat

Sebagai seorang muda yang mungkin tidak bisa menjaga dirinya dan
dikhawatirkan bisa terjerumus kedalam perbuatan maksiat yakni zina. maka
pernikahan dini hukumnya berubah dari sunnah menjadi wajib untuk
menghindarkan orang tersebut dari perbuatan dosa sesuai dengan kaidah syariat.
Hukum pernikahan yang menjadi wajib ini berarti orang tersebut harus sanggup
melakukan dua kewajiban yakni menuntut ilmu dan menikah meskipun terasa
sulit dilakukan secara bersamaan.“Dan (orang-orang beriman) adalah orang-
orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” [TQS
Al Mu`minun: 8]. Hindun pernah berkata kepda Rasulullah,”Wahai Rasulullah,
Abu Sufyan (suaminya) adalah seorang lelaki bakhil, dia tidak mencukupi
nafkah untukku dan anakku, kecuali aku mengambil hartanya sedang dia tidak
tahu.” Nabi SAW bersabda,”Ambillah apa yang mencukupi untukmu dan
anakmu secara ma’ruf.” [Abdurrahman Al Maliki, 1963, As Siyasah Al
Iqtishadiyah Al Mutsla, hal. 166].

Kontroversi terhadap pernikahan Syekh Pujiono dan Luthfiana Ulfa adalah


gambaran ketakutan terhadap pernikahan dini melebihi ketakutan terhadap
maraknya perzinahan dini. Ada apa dibalik ketakutan pernikahan dini ? Berbagai
stigma negatif nikah dini bermunculan, namun tidak sesuai dengan fakta,
diantaranya:

1. Penyebab kanker cervix karena gesekan benda asing, padahal faktanya


Ca-cervix adalah akibat terserang kuman HPV secara persisten dan
akibat suka berganti-gant pasangan (seks bebas).
2. Penyebab terjadinya komplikasi kehamilan, sehingga menyebabkan
kematian ibu dan bayi, padahal banyak bukti di masyarakat nikah dini
dapat hamil dan melahirkan sehat.
3. Rahim belum siap untuk hamil, padahal bila sudah haidh (baligh)
berarti sistem reproduksi matang dan siap hamil (walaupun mis: ibu
berumur 9 tahun).
4. Bahayakan mental dan hak anak, padahal nikah dini dapat disiapkan
sebelum masuk baligh, Syara’ telah menetapkan mukallaf setelah
baligh, sehingga dapat dikatakan dengan logika syar’i bahwa
seseorang yang telah baligh itu siap bertanggungjawab. Justru bahagia
menikah dini.
5. Rawan perceraian, padahal perceraian tinggi terjadi pada pernikahan
pasca usia dini. Sebagian besar nikah dini ditolak dengan alasan
psikologi. Alasan ini merupakan alasan yang dibuat-buat karena ada
ketidak-konsistenan antara upaya penyelamatan psikologi anak bila
menjalani pernikahan dini dengan keresahan yang dialami anak
menghadapi maraknya pergaulan bebas (berupa fakta-fakta dan
pemikiran-pemikiran yang merangsang bangkitnya naluri seksual yang
menuntut pemenuhan.
E. Sisi indah pernikahan dini antara lain:
1. Di usia muda, wanita lebih enerjik. Mengurusi pekerjaan, urusan rumah
tangga, suami dan anak-anak bisa dilakukan dengan penuh semangat.
2. Wanita muda belum terlalu banyak pengalaman hidup dan pemikirannya
juga masih polos sehingga secara psikologis lebih tidak terbeban. Segala
tanggung jawab rumah tangga bisa dilakukannya tanpa berpikir macam-
macam.
3. Kondisi kesehatan wanita biasanya paling baik saat dia berada di usia muda
sehingga lebih tidak berisiko untuk melahirkan. Selain itu, interval kelahiran
anak juga lebih bisa diatur karena tidak terbatas oleh umur.
4. Wanita muda memiliki lebih banyak orang di sekelilingnya. Teman-
temannya masih segar dalam ingatan, orang tuanya juga masih belum lanjut
usia, apalagi jika nenek dan kakeknya masih sehat. Semakin banyak orang
yang mendampingi, semakin banyak orang yang bisa dijadikan konsultan
dalam pernikahannya.
KONTRA PERNIKAHAN DINI

Menurut Ibnu Syubromah bahwa agama melarang pernikahan dini


(pernikahan sebelum usia baligh). Menurutnya, nilai esensial pernikahan adalah
memenuhi kebutuhan biologis, dan melanggengkan keturunan. Sementara dua hal
ini tidak terdapat pada anak yang belum baligh. Ia lebih menekankan pada tujuan
pokok pernikahan. Ibnu Syubromah mencoba melepaskan diri dari kungkungan
teks. Memahami masalah ini dari aspek historis, sosiologis, dan kultural yang ada.
Sehingga dalam menyikapi pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu
berusia usia 6 tahun), Ibnu Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus bagi
Nabi Saw yang tidak bisa ditiru umatnya.

Pernikahan Rasulullah Muhammad SAW adalah semata-mata karena


kepentingan kedua yakni persahabatan yang telah terbangun lama yang di dasarkan
atas prinsip agama. Abu Bakar ra adalah orang pertama yang masuk Islam dari
golongan laki-laki dewasa, bahkan ialah satu-satunya yang menemani Rasulullah
saw ketika melakukan perjalanan hijrah menuju Madinah. Dan tingkat kecintaan
Abu Bakar kepada Rasulullah mengalahkan segala-galanya, sehingga ia dijuluki al-
bakr yakni orang yang selalu membenarkan apa yang datang dari Rasulullah saw,
termasuk ketika banyak orang tidak percaya ketika Rasulullah saw menceritakan
tentang perjalanan isra` dan mi’raj-nya yang hanya dilakukan dalam satu malam
saja.

Pemikiran dan praktek di atas saat ini di dunia telah memiliki perubahan
akibat mulai terbukanya pikiran warga dunia tentang hak-hak mereka sebagai
manusia. Konstruksi berpikir tentang kesetaraan gender, human rigths, di
kedepankan sebagai bukti modernitas. Artinya, jika semua orang berpendidikan dan
memiliki pemahaman ke depan maka tidak akan ada lagi yang mau untuk
melakukan praktek nikah di bawah umur. Orang tua pasti berkeinginan agar
anaknya dapat menjadi orang yang sukses dunia dan akhiratnya. Oleh karenanya
melalui penjelasan di atas, sudah sangat mendesesak rasanya saat ini untuk
melakukan telaah ulang di dalam Islam mengenai pernikahan dini melalui
kontekstualisasi nash (teks) dengan modernitas.
Pernikahan Rasulullah saw (jika benar) dengan Aisyah ra sebaiknya hanya
dijadikan sebagai lembaran-lembaran sejarah yang pernah terjadi. Ia adalah hadits
yang dapat diterima keberadaannya tapi tidak dijadikan sebagai legitimasi hukum
pembenaraan nikah di bawah umur di masyarakat (maqbul-ghair ma’mul). Karena
jika dilihat dari unsur primer (al-kulliyat al-khamsah) di dalam maqashid al-
syari’ah, menjaga keturunan (hifzh al-nasl) adalah hal penting di dalam agama.
Karena secara alamiah, pernikahan dibentuk oleh unsur-unsur alami dari kehidupan
manusia itu sendiri yang meliputi kebutuhan dan fungsi biologis, melahirkan
keturunan, kebutuhan akan kasih sayang dan persaudaraan, memelihara anak-anak
tersebut menjadi anggota-anggota masyarakat yang sempurna (volwaardig). Selain
dari pada itu, pernikahan di bawah umur secara tidak langsung menghambat bahkan
menutup berkembangnya pola pikir unntuk menjadi manusia yang mumpuni (hifz
al-‘aql), hal tersebut karena mereka telah dipaksa untuk segera dewasa (biasanya
pola pikir yang terbangun dengan kasus seperti ini hanyalah dapur, kasur dan
sumur) dan menghilangkan sifat-sifat naluriah sebagai seorang anak dan kemudian
menciptakan bangunan keluarga baru yang hampir tidak jauh berbeda dengan
keadaannya terdahulua. Dengan demikian, jika pernikahan dilakukan oleh anak-
anak di bawah umur, maka apakah fungsi bilogis untuk melakukan usaha
melanjutkan keturunan dapat terlaksana ? tentu tidak. Untuk itu, secara tidak
langsung Islam sendiri pada dasarnya telah melarang praktek pernikahan dini jika
kita mau mengkajinya kembali secara mendalam. Dan pernikahan Nabi adalah sifat
khushushiyah yang tidak bisa diikuti begitu saja oleh orang lain.

Ungkapan di atas memiliki hubungan (manasabah) dengan hadits lain yang


menyebutkan bahwa pernikahan Nabi Muhammad saw dengan Aisyah ra semata-
mata karena petunjuk Allah swt yang didatangkan melalui wasilah malaikat Jibril
as :“Dari Aisyah berkata; Jibril as datang menemui Rasulullah saw untuk
menjelaskan mengenai aku melalui sepotong sutra, seraya berkata; inilah istrimu
di dunia dan akhirat.” [HR. Ibn Hibban]

Dengan demikian maka dapat ditarik konklusibahwa pernikahan yang


dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bukanlah atas kehendaknya, akan tetapi
semata-mata karena perintah Allah swt. Dan karena sifatnya adalah perintah, maka
sebagai seorang utusan-Nya harus melaksanakan perintah tersebut, meskipun
belakangan akan terasa asing di hadapan masyarakat. Untuk itu, penekanan
kekhususan Nabi Muhammad saw di atas harus dikedepankan agar tidak begitu saja
menjadi legitimasi baru dalam melakukan praktek nikah di bawah umur
Kerugian dan akibat buruk yang biasa terjadi pada pasangan yang menikah muda:

1. Para wanita muda yang tidak bisa mengatasi urusan rumah tangga dan
pekerjaannya akan lebih mudah mengalami depresi sehingga banyak yang
berakhir dengan pernikahan tidak bahagia, depresi bahkan bunuh diri.
2. Menikah muda membuat wanita memiliki waktu yang tidak banyak untuk
mengenal dirinya sendiri dan orang lain, sehingga kemungkinan bersama
'pria yang salah' akan semakin besar. Pengalaman di usia 20-an tahun akan
membentuk wanita untuk lebih dewasa dan lebih tahu mana yang paling
baik untuk dirinya.
3. Kehidupan berkeluarga membuat seseorang harus bekerja keras
mengumpulkan uang. Wanita muda harus mengorbankan masa mudanya
untuk bekerja keras sementara teman-temannya mungkin masih sibuk
bersenang-senang.
4. Memiliki anak di usia muda membuat wanita harus mengorbankan karirnya
untuk mengurus anak. Seringkali hal ini membuat wanita merasa menyesal
dan tidak puas.
5. Beberapa wanita juga merasa bahwa sedari muda mereka telah
mengorbankan banyak hal untuk keluarga, dan tidak berhenti hingga
mereka beranjak tua. Waktu berlalu dan gairah asmara menjadi pudar
sehingga suami cenderung selingkuh dan akhirnya wanita lagi yang harus
mengorbankan kebahagiaan mereka demi anak-anaknya.
6. Kehilangan masa remaja; ketika teman sebaya anda menikmati liburan dan pergi
kumpul ke berbagai daerah mungkin anda harus gigit jari ketika suami atau istri anda
tidak menginginkan atau anda telah memiliki bayi yang tidak mungkin di ajak pergi
jauh.
7. Dari sisi kesehatan; terutama untuk wanita sangat berisiko, hamil di saat usia masih
muda sangat berbahaya untuk persalinan dan kesehatan rahim.
8. Pendidikan; tentunya jika anda menikah di usia dini akan mengorbankan
pendidikan, dimana di usia anda mungkin belum sepenuhnya lulus SMA yang
menyebabkan berdampak pada rendahnya tingkat pengetahuan dan akses informasi
pada anak
9. Kemiskinan; dua orang anak yang menikah dini cenderung belum memiliki
penghasilan yang cukup atau bahkan belum bekerja hal ini yang menyebabkan
pernikahan dini rentan dengan kemiskinan
10. Kekerasan dalam rumah tangga; dominasi pasangan akibat kondisi psikis yang
masih labil menyebabkan emosi sehingga berdampak pada Kekerasan Dalam
Rumah Tangga.
11. Kesehatan biologis dan psikologis anak; Secara biologis, organ-organ reproduksi
anak yang baru menginjak akil baligh masih berada pada proses menuju
kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan
jenisnya, apalagi jika sampai hamil dan melahirkan. Jika dipaksakan yang terjadi
justru malah sebuah trauma, perobekan yang luas dan infeksi yang akan
membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak. Patut
dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam
hak reproduksi antara istri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan
pemaksaan terhadap seorang anak. Secara psikis anak belum siap dan belum
mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan menimbulkan trauma psikis
berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan.ibu yang mengandung di
usia dini akan mengalami trauma berkepanjangan kurang sosialisasi dan juga
mengslami krisis percaya diri
12. Anak yang dilahirkan; saat anak yang masih bertumbuh mengalami proses
kehamilan terjadi persaingan nutrisi dengan janin yang dikandungnya sehingga
berat badan ibu hamil seringkali sulit naik dapat disertai dengan anemi karena
defisiensi nutrisi serta berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.
Didapatkan bahwa sekitar 10< bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah 14
tahun adalah prematur. Anak berisiko mengalami perlakuan salah dan atau
penelantaran. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan dari
pernikahan usia dini berisiko mengalami keterlambatan perkembangan, kesulitan
belajar, gangguan perilaku, dan cenderung menjadi orangtua pula di usia dini
1. Kesehatan Reproduksi ; kehamilan pada usia kurang dari 14 tahun meningkatkan
risiko komplikasi medis, baik pada ibu maupun pada anak. Kehamilan di usia yang
sangat muda ini ternyata berkorelasi dengan angka kematian dan kesakitan ibu.
Disebutkan bahwa anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat
meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun,
sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun. Hal
ini disebabkan organ reproduksi anak belum berkembang dengan baik dan panggul
juga belum siap untuk melahirkan.