Anda di halaman 1dari 6

1.

1 MERENCANAKAN AUDIT ATAS SIKLUS PRODUKSI


Siklus produksi berkaitan dengan tiga siklus berikut ini, yaitu:
a. Siklus pengeluaran dalam pembelian bahan baku dan pembayaran berbagai biaya
overhead
b. Siklus jasa personalia dalam pembayaran biaya tenaga kerja pabrik
c. Siklus pendapatan dalam penjualan barang jadi
1.2 AKTIVITAS PENGENDALIAN – TRANSAKSI PABRIKASI
Komponen aktivitas pengendalian dalam pengendalian internal terdiri atas empat
kategori aktivitas:
a. Pemisahan tugas, pengendalian umum, dan pengendalian aplikasi
b. Pengendalian pemrosesan informasi yang mencakup otorisasi yang tepat
c. Pengendalian fisik
d. Penelaah kinerja dan akuntabilitas.
Dokumen dan catatan yang umum beberapa dokumen, catatan dan file komputer
yang lazim digunakan dalam memproses transaksi pablikasi:
a. Production order (Perintah produksi)
b. Material requirement report (Laporan kebutuhan bahan)
c. Materials issue slip (Slip pengeluaran bahan)
d. Time ticket (catatan waktu kerja)
e. Move ticket (catatan perpindahan fisik barang)
f. Daily production activity report (Laporan aktivitas produksi harian)
g. Completed production report (Laporan produksi yang sudah selesai)
h. Catatan persediaan perpetual (buku besar pembantu atau file induk persediaan)
i. Standard cost master (file induk biaya standar).
j. Raw materials inventory master file (File induk persediaan bahan baku)
k. Work-in- process inventory master file (File induk persediaan barang dalam proses)
l. Finished goods inventory master file (File induk persediaan barang jadi).
Fungsi-Fungsi dan Pengendalian Terkait
Pelaksanaan dan pencatatan transaksi pabrikasi serta pengamanan persediaan
melibatkan fungsi-fungsi pabrikasi berikut ini
1. Memulai produksi:
a. Merencanakan dan mengendalikan produksi
b. Mengeluarkan bahan baku
2. Memindahkan barang:
1
a. Memroses barang dalam produksi
b. Memindahkan pekerjaan yang sudah selesai ke barang jadi
c. Melindungi persediaan
3. Mencatat transaksi pabrikasi dan persediaan :
a. Menentukan dan mencatat biaya-biaya pabrikasi
b. Menjaga kebenaran saldo-saldo persediaan
Mendapatkan Pemahaman dan Menilai Risiko Pengendalian
Prosedur ini meliputi review atas pengalaman sebelumnya dengan klien bersangkutan, jika
ada, pengajuan pertanyaan kepada manajemen serta personil produksi lainnya, pemeriksaan
dokumen dan catatan produksi, serta pengamatan atas aktivitas dan kondisi produksi.
Prosedur ini juga mencakup penggunaan kuesioner pengendalian internal, bagan arus, dan
memorandum naratif.
Pengujian Substantif Atas Saldo Persediaan
Bagian ini berhubungan dengan pengujian substatntif atas presediaan barang dagang
yang dibeli dan disimpan oleh pedagang grosir serta eceran dan juga persediaan bahan baku,
barang dalam proses, serta barang jadi yang dimiliki pabrikan. Audit atas saldo persediaan
memerlukan perencanaan yang cermat dan investasi waktu, biaya , dan upaya audit yang
sangat substansi. Guna memastikan bahwa pemeriksaan ini efisien dan efektif dalam
mendapatkan bukti kompeten yang mencukupi , harus dipertimbangkan secara cermat
penentuan tingkat risiko deteksi yang dapat diterima dan perancangan pengujian substantif
yang sesuai untuk asersi-asersi persediaan.
Menentukan Risiko Deteksi Untuk Pengujian Rincian
Sesuai dengan model audit yang telah diuraikan dan diterapkan, spesifikasi auditor
mengenai tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk pengujian rincian atas asersi-asersi
persediaan akan mencerminkan suatu hubungan terbalik dengan penilaian risiko inheren,
risiko pengendalian, dan risiko prosedur analitis yang relevan yang berkaitan dengan asersi-
asersi.
Karena gabungan antara penilaian risiko inheren dan pengendalian seringkali paling
tinggi untuk asersi keberadaan atau keterjadian dan penilaian atau alokasi atas saldo
persediaan, maka tingkat risiko deteksi keseluruhannya yang dapat diterima mungkin harus
diperkecil untuk asersi-asersi ini dibandingkan untu yang lainnya.
Jasa-Jasa Bernilai Tambah Dalam Siklus Produksi

2
Manajemen persediaan merupakan proses inti yang harus dikelola dengan baik oleh
setiap perusahaan pabrikasi, pedagang grosir, serta pengecer agar dapat mencapai tujuan
profitabilitas dan arus kas.
Lebih jauh lagi, prosedur analitis yang ditempuh auditor akan membahas efektivitas
proses manajemen persediaan. Biasanya auditor akan mengevaluasi perputaran persediaan
suatu usaha entitas. Jika peringkat klien mendekati tingkat paling bawah dalam industrinya,
maka akuntan publik biasanya akan coba membahas masalah bagaiman klien dapat
memperbaiki proses manajemen persediaannya.

1.3 MERENCANAKAN AUDIT ATAS SIKLUS JASA PERSONALIA


Siklus personalia suatu perusahaan meliputi kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan
yang bersangkutan dengan pemberian kompensasi kepada pimpinan dan pegawai perusahaan.
Jenis-jenis kompensasi ini meliputi gaji, upah per jam, dan insetif, komisi, bonus, opsi saham,
dan tunjangan karyawan. Transaksi utama siklus ini adalah transaksi-transaksi penggajian
dan pengupahan. Pembayaran kompensasi kepada karyawan dan pembayaran pajak
penghasilan karyawan yang dipotong perusahaan dari penghasilan karyawan berhubungan
dengan transaksi pengeluaran kas dalam siklus pengeluaran. Kemudian, pendistribusian biaya
tenaga kerja pabrik ke barang dalam proses berkaitan dengan siklus produksi. Adapun hal-hal
yang penting untuk dipahami auditor sebelum mengaudit siklus jasa personalia, yaitu:
a. Pentingnya jasa personalia bagi keseluruhan entitas.
b. Sifat kompensasi, karena kompensasi per jam memerlukan sistem pengendalian yang
berbeda dengan kompensasi gaji.
c. Pentingnya berbagai paket kompensasi seperti bonus, opsi saham dan hak apresiasi
saham serta perjanjian pensiun.

Jika kompensasi suatu entitas terutama didasarkan atas gaji dan menunjukkan
hubungan yang dapat diprediksi dengan pemberian jasa, maka auditor dapat menekankan
pada prosedur analitis dalam pengembangan strategi audit. Jika beban kompensasi didasarkan
atas upah per jam dan menunjukkan tingkat variabilitas yang tinggi sepanjang periode
berjalan, maka auditor dapat menekankan pendekatan penilaian tingkat risiko pengendalian
yang lebih rendah.

Mempertimbangkan Komponen Pengendalian Internal


Seperti untuk kelompok transaksi utama lainnya, kelima komponen pengendalian
internal dianggap relevan dengan siklus jasa personalia. Beberapa faktor lingkungan

3
pengendalian mempunyai relevansi yang bersifat langsung. Keseluruhan tanggung jawab atas
masalah personalia seringkali diserahkan kepada wakil direktur hubungan industrial atau
tenaga kerja, atau kepada manajer SDM atau personalia. Departemen SDM biasanya
bertanggung jawab atas otorisasi pengangkatan personel dan mengotorisasi pembayaran gaji,
upah, serta tunjangan. Dewan direktur biasanya menetapkan gaji pejabat dan bentuk-bentuk
kompensasi pejabat lainnya.

1.4 AKTIVITAS PENGENDALIAN – TRANSAKSI PENGGAJIAN


a) Dokumen dan Catatan
Adapun dokumen dan catatan yang penting dalam pelaksanaan dan pencatatan
transaksi-transaksi penggajian/pengupahan, yaitu:
1. Otorisasi personalia. Memo yang diterbitkan oleh departemen personalia tentang
pengangkatan pegawai beserta semua perubahan status pegawai untuk pembuatan daftar
gaji dan upah.
2. Kartu waktu hadir. Kartu yang digunakan bagi setiap pegawai untuk mencatat jam
kerja yang telah dilakukan pegawai yang bersangkutan.
3. Catatan waktu kerja. Formulir yang digunakan untuk mencatat waktu kerja seorang
pegawai pada suatu pekerjaan tertentu.
4. Daftar gaji dan upah. Daftar yang menunjukkan nama pegawai, pendapatan kotor,
potongan-potongan, dan pembayaran bersih untuk suatu periode.
5. Rekening bank untuk gaji dan upah. Rekening giro yang dibuka di bank, khusus untuk
keperluan pembayaran gaji dan upah.
6. Cek gaji/upah. Perintah tertulis kepada bank untuk membayar sejumlah tertentu kepada
pegawai yang menunjukkan cek tersebut di bank.
7. Ikhtisar distribusi biaya tenaga kerja. Laporan yang menunjukkan pengklasifikasian
rekening dari pendapatn kotor para pegawai pabrik untuk setiap periode pembayaran.
8. Formulir pajak penghasilan karyawan. Formulir-formulir yang disediakan oleh
Direktorat Jenderal Pajak untuk pembayaran pajak atas gaji & upah pegawai yang telah
dipotong.
9. Arsip pegawai. Berisi data kepegawaian untuk setiap pegawai yang meliputi informasi
pengangkatan pegawai yang bersangkutan, evaluasi jabatan, dll.
10. File induk data personalia. File komputer yang berisi data terkini semua karyawan
yang diperlukan untuk menghitung gaji dan upah.

4
11. File induk pendapatan karyawan. File komputer yang berisi pendapatan kotor,
potongan-potongan, dan pendapatan bersih setiap pegawai.

Fungsi-Fungsi dan Pengendalian yang Terkait


Pemrosesan transaksi penggajian melibatkan fungsi-fungsi penggajian berikut ini, yaitu:
1) Memulai transaksi penggajian yang mencakup:
a. Mengangkat karyawan
b. Mengotorisasi perubahan gaji dan upah
2) Penerimaan jasa yang mencakup:
a. Menyiapkan data kehadiran dan pencatatan waktu kerja
3) Pencatatan transaksi penggajian yang mencakup:
a Menyiapkan serta mencatat daftar gaji dan upah
4) Pembayaran gaji dan upah yang mencakup:
a. Membayar gaji dan upah serta menjaga upah yang belum atau tidak diambil
b. Menyerahkan SPT pajak gaji dan upah

Memperoleh Pemahaman dan Menilai Risiko Pengendalian


Proses penilaian risiko pengendalian untuk transaksi penggajian dimulai dengan
mengidentifikasi potensi salah saji serta pengendalian yang diperlukan. Pengujian atas
pengendalian yang terprogram untuk mendukung penilaian risiko pengendalian yang rendah
biasanya akan mencakup suatu pengujian langsung atas program tersebut, pengujian atas
pengendalian umum untuk memastikan bahwa program itu tidak dapat diubah tanpa otorisasi
dan pengujian atas prosedur yang menindaklanjuti penyimpangan/pengecualian.

5
DAFTAR PUSTAKA
Listyana, Ann. 2012. Audit Siklus Personalia. Diakses pada 29 September 2019.
(https://annlistyana.wordpress.com/2012/04/04/audit-siklus-personalia/).
Aziz, Wahyu. 2018. Audit Siklus Jasa Personalia. Diakses pada 29 September 2019.
(https://id.scribd.com/document/391590453/Audit-Siklus-Jasa-Personalia).