Anda di halaman 1dari 15

BENIGNA PROSTAT HYPERTROPI

A. PENGERTIAN
Benigna prostat hypertopi adalah suatu pembersaran dari kelenjar prostat yang
disebabkan eleh bertambahnya sel-sel glanduler dan interstisial, sehingga sebenernya
lebih tepat disebut hyperplasia atau adenoma prostat, namun istilah ini sudah umum
dipakai. (Rumoharbo, et all, 2000:70).
Hipertrophy prostatik jinak adalah suatu kondisi patologi yang secara umum terjadi
pada lansia usia 50 tahun, dimana kelenjar prostatnya mengalami pembesaran,
memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urine dengan
menutupi orifisium uretra. (Brunner dan Suddart, 2002:1625).
Benigna prostatic hipertrophy (BPH) adalah pembesaran progresif dari kelenjar
prostat yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran
urinarius yang secara umum terjadi pada pria lebih dari 50 tahun. (Doengoes, 2000:671).
B. ANATOMI FISIOLOGI
1. Anatomi Kelenjar Prostat
Pada pria, beberapa organ berfungsi sebagai bagian dari sistem urinaria maupun
sistem refroduksi, kelainan pada sistem refroduktif pria dapat mengganggu salah satu
atau keduanya. Struktur dari traktus urinarius yaitu gimjal, ureter, vesika urinaria dan
uretra. Sedangkan yang termasuk sistem reproduktif yaitu testis, vas deferen, vesika
seminalis, penis dan kelenjar asesori, seperti kelenjar prostat. (Brunner dan Suddart,
2002:1619)
Kelenjar prostat mengelilingi leher vesika urinaria dan uretra proksimalis.
Kelenjar ini terdiri dari lima lobus, yang dipisahkan oleh uretra dan duktus
ejakulatorius. Dua lobus lateralis dan lobus anterior menutupi uretra. Kedua lobus
lateralis ditandai oleh cekungan garis tengah posterior dan teraba pada pemeriksaan
rectal. Lobus tengah terletak diantara uretra dan duktus ejakulatorius dan lobus
posterior terletak dibelakang duktus ejakulatorius. Kelenjar yang normal mempunyai
berat sekitar 20 gram dan ditutupi oleh kapsula jaringan ikat. Untuk lebih jelasnya
mengenai pembesaran prostat benigna dapat dilihat pada gambar di bawah ini.:

1
2

Gambar Pembesaran Prostat


(Sumber: www.urologi.co.id)

2. Fisiologi Kelenjar Prostat


Kelenjar prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen
dari cairan ejakulasi. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di
uretra posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada saat
ejakulasi. Volume cairan prostat ± 25 % dari seluruh volume ejakulasi.
Kelenjar prostat mendapatkan inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari
pleksus prostatikus. Pleksus prostatikus (pleksus pelvikus) menerima masukan serabut
parasimpatis dari korda spinalis S 2-4 dan simpatik dari nervus hipogastrikus (T10-
L2). Stimulan parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat,
sedangkan rangsangan simpatis menyebabkan pengeluaran cairan prostat kedalam
uretra posterior seperti pada saat ejakulasi. Sistem simpatik memberikan invasi pada
otot polos prostat, kapsul prostat dan leher buli-buli. Di tempat-tempat itu banyak
reseptor adrenergic α. Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankan tonus otot
polos tersebut. Jika kelenjar ini mengalami hiperplasia jinak atau berubah menjadi
kanker ganas, dapat mengganggu uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya
obstruksi saluran kemih. (Mansjoer, 2000:329)
3

C. ETIOLOGI
Penyebab BPH secara pasti belum diketahui, akan tetapi pada umumnya merupakan
konsekuensi dari gangguan endokrin. Hormon testoteron dapat mempengaruhi
pertumbuhan prostat sehingga dengan bertambahnya umur maka jumlah hormon
testoteron berkurang. Berdasarkan penelitian bagian yang peka terhadap hormon estrogen
adalah bagian tengah dan yang peka terhadap hormon hormon androgen bagian tepi,
dengan demikian pada orang tua, bagian tengahlah yang mengalami pembesaran hai ini
disebabkan hormon androgen berkurang sedangkan estrogen bertambah relatif.
Hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya BPH adalah :
1. Teori Dihidrotestoteron (DHT)
Telah disepakati bahwa aksis hipofisis testis dan reduksi testoteron menjadi DHT
dalam sel prostat menjadi faktor terjadinya penetrasi DHT ke dalam inti sel yang
dapat menyebabkan inskripsi pada RNA sehingga menyebabkan terjadinya sintesis
protein. Proses reduksi ini difasilitasi oleh enzim 5-a-reduktase.
2. Teori Hormon
Adanya ketikseimbangan antara estrogen dan testoteron. Estrogen berperan pada
inisiasi dan maintenance pada prostat manusia.
3. Interaksi Stroma-Epitel
Hal ini banyak dipengaruhi growth factor. Basic Fibroblast Growth Factor (ß-FGF)
dapat menstimulasi sel stroma dan ditemukan dengan konsentrasi yang lebih besar
pada mikrotrauma kerena miksi, ejakulasi atau infeksi.
4. Teori Kebangkitan Kembali (reawakening) atau reduksi dari kemampuan mesenkim
sinus urogenital untuk berfoliferasi dan membentuk jaringan prostat.
(Mansjoer, 2000:329).
D. TANDA DAN GEJALA
Gejala-gejala pembesaran prostat jinak dikenal sebagai Lower Urinary Tract Symtoms
(LUTS) yang dibedakan menjadi gejala iritatif dan obstruktif.
1. Gejala iritatif yaitu sering miksi (frekuensi), terbangun untuk miksi pada malam hari
(nokturia), perasaan ingin miksi yang sangat mendesak (urgensi), dan rasa nyeri pada
saat miksi (disuria).
2. Gejala obstruktif yaitu pancaran melemah, rasa tidak lampias sehabis miksi, kalau mau
miksi harus menunggu waktu lama (hesitancy), harus mengedan (straining), kencing
terputus-putus (internittency), waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensi
urine dan inkontinen karena overflow. (Mansjoer, et all, 2000:330)
tatangsukmapurba_ners2019@KMB
4

Selain itu ada beberapa jenis klasifikasi yang dapat digunakan untuk membantu

diagnosis dan menentukan tingkat beratnya penyakit, diantaranya adalah skor

internasional gejala-gejala prostat WHO (International Prostate Symptom Score,IPSS)

dan skor Madsen Iversen.

Tabel 1.1
Skor Internasional gejala-gejala prostat WHO ( Internasional Prostate Symptom Score, IPSS )
Pertanyaan Jawaban dan Skor
Keluhan pada bulan terakhir Tidak <1 >5 15 kali Lebih Hampir
sama sampai sampai dari 15 selalu
sekali 5 kali < 15 kali
kali
Adakah anda merasa buli-buli tidak 0 1 2 3 4 5
kosong setelah buang air kcil
Berapa kali terjadi air kencing 0 1 2 3 4 5
berhenti sewaktu buang air kecil
Berapa kali anda tidak dapat 0 1 2 3 4 5
menahan keinginan buang air kecil
Berapa kali arus air seni lemah sekali 0 1 2 3 4 5
sewaktu buang air kecil
Berapa kali terjadi anda 0mengalami 0 1 2 3 4 5
kesulitan memulai buang air kecil
(harus mengejan)
Berapa kali anda bangun untuk buang 0 1x 2x 3x 4x 5x
air kecil di waktu malam
Andaikata hal yang anda alami Sangat Cukup Biasa Agak Tidak Sangat
sekarang akan tetap brlangsung senang senang saja tidak menyen tidak
seumur hidup, bagaimana perasaaan senang angkan menyena
anda. ngkan

Tabel 1.2
Skor Madsen-Iversen Dalam Bahasa Indonesia
Pertanyaan 0 1 2 3 4
Pancaran Normal Berubah- Lemah Menetes
ubah
Mengedan pada saat Tidak Ya
berkemih
Harus menuggu saat Tidak Ya
akan kencing
BAK terputus-putus Tidak Ya
Kencing tidak lampias Tidak Berubah- Tidak 1 kali retensi > 1 kali retensi
tahu ubah lampias
Inkontinensia Ya
Kencing sulit ditunda Tidak Ringan Sedang Great
ada
Kencing malam hari 0-1 2 3-4 >4
Kencing siang hari > 3 jam Setiap 2-3 Setiap 1-2 <1 jam sekali
sekali jam sekali jam sekali
Jumlah nilai :
0 = Baik sekali 3 = Kurang
1 = Baik 4 = Buruk
2 = Kurang baik 5 = Buruk sekali
(Mansjoe, et.al, 2000, hal 330 – 331 )
5

E. PATOFISIOLOGI
Pembesaran prostat beniga tejadi karena peningkatan abnormal sejumlah sel-sel
(hyperplasia) dalam prostat, dari pada peningkatan dalam ukuran sel (hypertrophy).
Dengan proses menua, kelenjar periuretral mengalami hyperplasia. Secara berangsur-
angsur, sel-sel tesebut tumbuh dan menekan sekeliling jaringan prostat normal,
mendorongnya ke kelenjar perifer, membentuk kapsul palsu atau kapsul surgikal.
Jaringan di dalam kapsul dilepaskan saat pembedahan.
Risiko komplikasi pembesaran prostat mencakup :
1. Terhalangnya aliran urine
2. Refluks urine (aliran balik) karena dekompensasi ureterovesical junction.
Dekompensasi akibat dari tekanan bladder yang meningkat dan dalam waktu yang lama.
Penebalan, trabekulasi (kelompok fibromuskulaar), dan divertikular dinding bladder bisa
terjadi. Divertikulasi bladder dapat menahan urine, menyebabkan infeksi dan batu kalkuli
terus berkembang. Bentuk mata kail dari ureter yang masuk ke bladder merupakan hal
yang sering (ureter memutar ke bawah seperti mata kail saat masuk bladder). Ureter bisa
tertekan dan tersumbat oleh ketebalan dinding bladder, menyebabkan hydroureter
(keabnormalan ureter karena teregang oleh urine). Keadaannya hidronefrosis bisa
berkembang, karena aliran urine terobstruksi di ureter dan urine kembali ke atas. Pada
situasi ini, siklus distensi urine pelvis dan renal dan parekhim renal atrofi. Akhirnya,
obstruksi urine berlangsung lama atau refluks menyebabkan insufisiensi renal.

tatangsukmapurba_ners2019@KMB
6

F. PATHWAYS

Penuaan, penurunan hormon anrogen

Pembesaran prostat

Reflux urine ke
Sumbatan parsial vesika urinaria
uretra
Pembuluh darah
merentang Otot destrusor menebal dan meregang
Residu urine

Pecahnya pembuluh Dekompensasi destrusor


Urine statis
darah
Pemasangan
Retensi Urine kateter
Hematuri Urine alkali

Distensi kandung kemih Media tumbuh


Penurunan cardiac output
bakteri
Merangsang reseptor nyeri
Suplai darah menurun
Pengeluaran neurotransmiter Resiko infeksi
Pembentukan energi Bradikinin, Serotinin, histamin dan
menurun prostagladin

Klien lemah hipotalamus Perubahan status kesehatan,prosedur


pembedahan, pemanjaan alat
Aktivitas terganggu Persepsi nyeri genitalia, masalah seksual

Intoleransi aktivitas Cemas


Nyeri

Merangsang sistem syaraf otonom untuk


mengaktifasi norepinefrin
Reflux urine ke ureter
Syaraf simpatis terangsang untuk
mengaktifasi RAS
Kerusakan jaringan ginjal
Aktivitas REM menurun
Gagal ginjal
Klien terjaga
GFR menurun
Perubahan pola istirahat tidur
Akumulasi sisa metabolisme

Ketidakseimbangan cairan
dan elektrolit

Resiko kelebihan
volume cairan

Sumber : Long B,C hal 311. Price and Wilson, Rumoharbo hal 70
5

G. KEMUNGKINAN DATA FOKUS HASIL PEMERIKSAAN FISIK


Melakukan pemeriksaan fisik kepada klien untuk menentukan masalah kesehatan,
yang meliputi review of system yaitu :
1. Sistem Respirasi
a. Preoperasi : Pola napas normal, napas yang cepat dipengaruhi oleh adanya rasa
nyeri.
b. Intra operasi : -
c. Post operasi : Dapat ditemukan perubahan frekuensi pernapasan akibat anestesi
umum yang mempengaruhi pusat pernapasan dan akibat nyeri.
2. Sistem Kardiovaskuler
a. Preoperasi : Nadi cepat akibat nyeri bak akibat retensi urin
b. Intra operasi :-
c. Post operasi : Biasanya ditemukan nadi cepat lemah dan bergetar, penurunan
tekanan darah dan penurunan tekanan nadi.
3. Sistem Gastrointestinal
a. Pre operasi : Adanya nyeri tekan pada perut bagian bawah akibat distensi kandung
kemih.
b. Intra operasi :-
c. Post operasi : Adanya luka operasi pada abdomen. Bising usus klien tidak terdengar
akibat adanya pengaruh anestesi umum, adanya nyeri tekan pada abdomen, juga
akan ditemukan mual akibat pengaruh obat anestesi. Mukosa bibir tampak kering
karena pada hasil pertama post operasi biasanya klien masih dipuasakan.
4. Sistem Muskuloskeletal
a. Preoperasi : Kemungkinan dijumpai otot lemah, kelelahan atau keletihan, sehingga
akan terjadi penurunan toleransi terhadap aktivitas.
b. Intra operatif :-
c. Post operasi : Pada klien Post Operasi keterbatasan gerak terjadi karena adanya
nyeri luka operasi.
5. Sistem Genitourinaria
a. Preoperasi : Akan ditemukan perubahan pola eliminasi urine akibat retensi urin,
terpasangnya kateter, kaji frekunsi buang air kecil, nyeri waktu bak, warna urine.
b. Intra operatif :-
c. Post operatif : prosedur pembedahan, bekuan darah, iritasi kateter balon.
Terpasangnya drain, terpasangnya kateter, palpasi daerah ginjal, auskultasi terhadap

tatangsukmapurba_ners2019@KMB
6

desiran aorta dan arteri renalis, perkusi ginjal. Kaji frekuensi buang air kecil (BAK)
berapa kali/ hari, kondisi alat genetalia ada kelainan atau tidak , nyeri waktu BAK/
tidak, warna urine.
6. Sistem Integumen
a. Pre operasi : Kaji suhu, turgor kulit, tekstur kulit, bersisik atu tidak, adakah luka
memar,ada lesi atau tidak.
b. Intra operatif : -
c. Post operatif :- Tampak adanya sayatan atau luka bekas operasi, kaji suhu berapa
derajat, adakah luka memar atau tidak, ada lesi atau tidak.
7. Sistem Endokrin
a. Preoperasi : Kaji apakah ada pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar getah bening,
apakah mempunyai penyakit diabetes. Kaji adanya neuropati diabetik yang akan
mengakibatkan klien mengalami kesulitan miksi.
b. Intra operasi :-
c. Post operasi : Kaji penyembuhan luka operasi.
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan urinalisa, dapat ditemukan warna urine kuning, cokelat gelap (berdarah
atau bening), tampak keruh.
2. Kultur urine dapat menunjukkan adanya staphilococcus aureus, proteus, pseudomonas,
E.Colli.
3. Pemeriksaan analisa gas darah untuk mengetahui keseimbangan asam dan basa
(bikarbonat flasma), witsserum dan nitrogen ureum darah (Blood Urea Nitrogen) yang
biasanya meningkat bila fungsi ginjal terganggu.
4. Sistogram dapat dilakukan untuk megukur tekanan dan volume dalam kandung kemih
yang berfungi untuk mengidentifikasi disfungsi ginjal yang tidak berhubungan dengan
BPH, sistouretroskopi dilakukan untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat
dan perubahan dinding kandung kemih.
5. Sistrometri dan ultrasound transactal dilakukan untruk mengevaluasi fungsi otot
destrusor dan mengukur ukuran prostat
I. PENATALAKSANAAN MEDIK
Menurut Brunner dan Suddart (2002), beberapa prosedur yang dapat digunakan untuk
mengangkat kelenjar bagian prostat yang mengalami hipertropi diantaranya adalah :
1. Transuretra resection
2. Suprapupik prostatectomy
7

3. Retrosuprapubik prosratectomy
4. Perineal prostatectomy
J. KEMUNGKINAN MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
Menurut Doengoes (2001); Carpenito (2000), dan Rumahorbo (2000), Wilkinson
Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC (2002),, diagnosa keperawatan yang mungkin
muncul pada klien perioperatif akibat BPH adalah sebagai berikut :
1. Pre operasi
a. Nyeri akut berhubungan dengan retensi urin
b. Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan Retensi urin akibat
pembesaran kelernjar prostat
c. Kurang pengetahuan klien tentang proses penyakit gejala dan tanda-tanda penyakit
d. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan retensi urin, pemasangan dower kateter
e. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit.
2. Intra operatif
a. Potensial infeksi berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
b. Potensial kehilangan/berkurangnya harga diri berhubungan dengan tindakan
preparasi kulit (non narkose umum)
c. Potensial terganggunya integritas kulit berhubungan dengan penekanan pada bagian
tubuh/tonjolan
d. Potensial terjadinya injury berhubungan dengan keadaan dibawah pengaruh
narkose/tidak sadar
e. Potensial terjadinya gangguangn keseimbangan cairan berhubungan dengan
prosedur pembedahan/perdarahan
f. Potensial terjadinya injury berhubungan dengan penggunaan peralatan
penunjang/elektronik
g. Potensial tertinggal benda asing dalam tubuh berhubungan dengan prosedur operasi
(membuka rongga)
h. Cemas berhubungan dengan lingkungan asing/baru
3. Post operasi
a. Nyeri akut berhubungan dengan retensi urin
b. Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan retensi urin obstruksi
mekanik, bekuan darah, edema dan trauma akibat prosedur bedah.
c. Kurang pengetahuan klien tentang proses penyakit gejala dan tanda-tanda penyakit,
perawatan prostatektomi.

tatangsukmapurba_ners2019@KMB
8

d. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pemasangan dower kateter, adanya luka
operasi.
a. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan area bedah vaskuler,
kesulitan mengontrol pendarahan.
b. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan situasi kritis (inkontinensia,
kebocoran urine setelah pengangkatan kateter, keterlibatan area genital).
c. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang tindakan
operasi, disfungsi seksual.
K. RENCANA ASUHANKEPERAWATAN
Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi
atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifakasi pada diagnosa
keperawatan.(Nursallam,2001,hal.51).
Berikut ini perencanaan intervensi pada klien Perioperatif ;
a. Nyeri akut berhubungan dengan retensi urin, terputusnya kontinuitas jaringan akibat
tindakan prostatektomi dan efek anestesi
Tujuan : - Menunjukan tingkat nyeri
Kriteria hasil : - Klien mengatakan nyeri dirasakan berkurang
- Ekspresi wajah tampak rileks
- Klien tidak tampak memegangi perutnya
- Skala nyeri 0 dari skala nilai (0-5)
Perencanaan :

No Intervensi Rasional
1 2 3
1 Kaji nyeri, perhatikan lokasi, Nyeri tajam, intermitten dengan dorongan berkemih/ pasase
intensitas (skala 0-5) urine sekitar kateter menunjukkan spasme kandung kemih,
yang cenderung lebih berat pada pendekatan suprapubik atau
TUR (biasanya menurun setelah 48 jam).
2 Pertahankan patensi kateter dan Mempertahankan fungsi kateter dan drainage sistem,
sistem drainase. Pertahankan menurunkan risiko distensi/spasme kandung kemih.
selang bebas dari lekukan dan
bekuan
3 Tingkatkan pemasukan sampai Menurunkan iritasi dengan mempertahankan aliran cairan
3000 ml/hari sesuai toleransi konstan ke mukosa kandung kemih
4 Berikan informasi akurat tentang Menghilangkan ansietas dan meningkatkan kerja sama dengan
kateter, drainase, dan spasme prosedur trertentu.
kandung kemih.
5 Berikan tindakan kenyamanan Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian
(sentuhan terapeutik, pengubahan dan meningkatkan kerja sama dengan prosedur tertentu
posisi, pijatan punggung)
6 Breikan rendam duduk atau lampu Meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan edema, dan
penghangat bila diinginkan meningkatkan penyembuhan (pendekatan perineal)
9

1 2 3
7 Berikan antispasmodik seperti : Merilekskan otot polos untuk memberikan penurunan spasme
Oksibutinin kionida Propantein dan nyeri.
bromdia (Probantanin) Menghilangkan spasme kandung kemih oleh kerja
antikolinergik. Biasanya dihentikkan 24-48 jam sebelum
perkiraan pengangkatan kateter untuk meningkatkan kontrol
kontraksi kandung kemih.

b. Perubahan Pola Eliminasi Urin Berhubungan dengan retensi urin akibat pembesaran
kelenjar prostat, obstruksi mekanik, bekuan darah, edema dan trauma akibat prosedur
bedah
Tujuan : Pola eliminasi lancar
Kriteria hasil : Menunjukan kontinesia urin :
- Berkemih dengan jumlah normal tanpa retensi
- Meningkatkan perilaku yang dapat mengontrol
kandung kemih/ urinaria
- Tidak adanya infeksi saluran kemih
Perencanaan :

No Intervensi Rasional
1 2 3
1 Kaji keluaran urin dan sistem Retensi dapat terjadi karena pembesaran kelenjar prostat,
kateter/drainase khususnya selama edema area bedah, bekuan darah, dan spasme kandung kemih
irigasi kandung kemih
2 Bantu pasien memilih posisi Mendorong pasase urine dan meningkatkan rasa abnormalitas
normal untuk berkemih, contoh
berdiri, berjalan ke kamar mandi,
dengan frekuensi sering setelah
kateter dilepas.
3 Perhatikan waktu, jumlah Kateter biasanya dilepas 2-5 hari setelah bedah, berkemih
berkemih, dan ukuran setelah dapat berlanjut menjadi masalah untuk waktu karena edema
kateter dilepas. uretral dan kehilangan tonus
4 Dorong pasien untuk berkemih Berkemih dengan dorongan mencegah retensi urine, batasan
bila terasa dorongan tetapi tidak berkemih untuk tiap 4 jam
lebih dari 2-4 jam protokol.
5 Ukur volume residu bila ada Mengawasi keefektifan pengosongan kandung kemih. Residu
kateter suprapubik lebih dan 50 ml menunjukkan perlunya kontinuitas kateter
sampai tonus kandung kemih membaik.
6 Dorong pemasukan cairan 3000 ml Mempertahankan hidrasi adekuat dan perfusi ginjal untuk
sesuai toleransi. Batasi cairan pada aliran urine.Penjadwalan masukan cairan menurunkan
malam setelah kateter dilepas. kebutuhan berkemih/ gangguan tidur selama malam.
7 Instruksikan pasien untuk latihan Membantu meningkatkan kontrol kandung kemih/ sfingter
perineal seperti mengencangkan urine, meminimalkan inkontinensia.
bokong, menghentikan dan
memulai aliran urine
8 Anjurkan pasien bahwa Informasi membantu pasien untuk menerima masalah.
“penetesan” diharapkan setelah Fungsi normal dapat kembali dalam 2-3 minggu tetapi
kateter dilepas dan harus teratasi memerlukan samapi 8 bulan setelah pendekatan perineal.
sesuai kateter dilepas dan harus
teratasi sesuai kemajuan.

tatangsukmapurba_ners2019@KMB
10

c. Kurang pengetahuan klien tentang proses penyakit gejala dan tanda-tanda penyakit,
perawatan post prostatektomi.
Tujuan : - Pengetahuan meningkat
Kriteria hasil : - Menuturkan pemahaman kondisi, efek, prosedur
penyakit, perawatan dan pengobatan
- Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan
ikut serta dalam program perawatan
Perencanaan :
No Intervensi Rasional
1 2 3
1 Kaji implikasi prosedur dan Memberikan dasar pengetahuan dimana klien dapat membuat
harapan masa depan pilihan informasi
2 Menjalin hubungan yang baik Meningkatkan penyembuhan dan mencegah komplikasi,
dengan klien dan Tekankan menurukan resiko perdarahan dan mencegah komplikasi,
perlunya nutrisi yang baik; dorong menurunkan resiko perdarahan pasca operasi
konsumsi buah, meningkatkan diet
tinggi serat
3 Diskusikan pembatasan aktivitas Peningkatan tekanan abdominal/ meregangkan yang
awal, contoh menghindari angkat menempatkan stress pada kandung kemih dan prostat.
berat, latihan keras, duduk terlalu Menimbulkan resiko perdarahan
lama, memanjat lebih dari 2
tingkat tangga sekaligus
4 Dorong kesinambungan latihan Membantu kontrol urinaria dan menghilangkan inkontinensia
perineal
5 Diskusikan perawatan kateter Meningkatkan kemandirian dan kompetensi dalam perawatan
urine bila ada. Identifikasi sumber diri
alat/ dukungan
6 Kaji tanda /gejala yang Intervensi cepat dapat mencegah komplikasi serius.Catatan:
memerlukan evaluasi medik Urine tampak keruh beberapa minggu sampai penyembuhan
contoh eritema, drainase purulen pasca operasi terjadi dampak dan tampak keruh setelah koitus
dri luka, perubahan jumlah urine, karena ejakulasi retrograd.
adanya dorongan/ frekuensi,
perdarahan hebat, demam atau
menggigil

d. Risiko infeksi berhubungan dengan retensi urin, pemasangan dower kateter,


prosedur invasi alat selama pembedahan, irigasi kandung kemih, trauma jaringan
insisi bedah.
Tujuan : - Infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil : - Leukosit 5000-10.000 gr/dl
- Mempertahankan lingkungan aseptik yang aman
- Intervensi untuk mengurangi potensi infeksi
- Tidak terdapat tanda atau gejala infeksi

Perencanaan :
11

No Intervensi Rasional
1 2 3
1 Pertahankan sistem kateter steril; Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi atau sepsis lanjut.
berikan perawatan kateter regular
dengan sabun dan air. Berikan
salep antibiotik disekitar sisi
kateter.
2 Ambulasi dengan kantung Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukan
drainase dependen bakteri ke dalam kandung kemih.
3 Awasi tanda vital,perhatikan Pasien yang mengalami sistoskopi dan/ atau TUR berisiko
demam ringan,menggigil, nadi untuk syok bedah/septik sehubungan dengan manipulasi/
danpernafasan,gelisah,disorientasi instrumentasi.
4 Observasi drainase dan luka, Adanya drain, insisi suprapubik meningkatkan risiko infeksi,
sekitar kateter suprapubik. yang diindikasikan dengan eritema,drainase purulen.

5 Ganti balutan dengan sering (insisi Balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan memberikan
supraretropubik dan pengeringan media untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko infeksi
kulit sepanjang waktu. luka
6 Gunakan pelindung kulit tipe Memberikan perlindungan untuk kulit sekitar, mencegah
ostomi ekskoriasi dan menurunkan risiko infeksi.
7 Berikan antibiotik sesuai indikasi Mungkin diberikan secara protilaktik sehubungan dengan
[
peningkatan risiko infeksi pada prostatektomi.

e. Resiko Kekurangan volume cairan berhubungan dengan area bedah vaskuler,


kesulitan mengontrol perdarahan
Tujuan : - Keseimbangan cairan adekuat
Kriteria hasil : - Tanda-tanda vital yang stabil
- Turgor kulit normal
- Palpasi denyut nadi dengan kualitas yang baik.
- Membran mukosa lembab
[

Perencanaan :

No Intervensi Rasional
1 2 3
1 Benamkan kateter, hindari Gerakan/ penarikan kateter dapat menyebabkan perdarahan
manipulasi berlebihan. atau pembentukan bekuan dan pembenaman kateter pada
distensi kandung kemih.
2 Awasi pemasukkan dan Indikator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantian.
pengeluaran Pada irigasi kandung kemih, awasi pentingnya perkiraaan
kehilangan darah dan secara akurat mengkaji haluaran urine.

3 Observasi drainase kateter, Perdarahan tidak umum terjadi selama 34 jam pertama tetapi
perhatikan perdarahan berlebih perlu pendekatan perineal. Perdarahan kontinu/ berat atau
an/ berlanjut berulangnya perdarahan aktif memerlukan intervansi evaluasi
4 Evaluasi warna, konsistensi
urine,contoh :
- Merah terang dengan bekuan Biasanya mengindikasikan perdarahan arterial dan
merah memerlukan terafi cepat.
- Peningkatan viskositas, warna Menunjukkan perdarahan dan vena (perdarahan yang paling
keruh gelap dengan bekuan umum) biasanya berkurang sendiri.
gelap.
- Perdarahan dengan tak ada Dapat mengindikasikan diskrasia darah atau masalah
beku pembekuan sistemik

tatangsukmapurba_ners2019@KMB
12

1 2 3
5 Inspeksi balutan/ luka drain. Perdarahan dapat dibuktikan aatau disingkirkan dalam
Timbang balutan bila jaringan perineum
diindikasikan. Perhatikan
pembentukan hematoma.
6 Awasi tanda vital, perhatikan Dehidrasi/hipovolemia memerlukan intervensi cepat untuk
peningkatan nadi dan pernafasan, mencegah berlanjut ke syok.
penurunan Catatan : Hipertensi, bradikardia, mual/muntah menunjukkan
TD,diaforesis,pucat,perlambatan “sindrom TURP”
pengisian kapiler dan membran
mukosa kering.
7 Selidiki kegelisahan, kacau Dapat menunjukkan penurunan perfusi serebral
mental, perubahan perilaku (hipovolemia) atau indikasi edema serebral karena kelebihan
cairan selama prosedur TUR (sindrom TURF)
8 Dorong pemasukan cairan 3000 Membilas ginjal/ kandung kemih dan bakteri dan debris tetapi
ml/hari kecuali kontra indikasi dapat mengakibatkan intoksikasi cairan/ kelebihan cairan bila
tidak diawasi dengan ketat.
9 Hindari pengukuran suhu rektal Dapat mengakibatkan penyebaran iritasi terhadap dasar
dan menggunakan selang prostat dan peningkatan tekanan kapsul prostat dengan resiko
rektal/enema perdarahan
10 Awasi pemeriksaan laboratorium Berguna dalam evaluasi kehilangan darah dan kebutuhan
sesuai indikasi, contoh : Rb/ Ht, penggantian.
jumlah sel darah merah

e. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan situasi krisis (inkontinensia,


kebocoran urine setelah pengangkatan kateter, keterlibatan area genital).
Tujuan : - Memahami perubahan pasca operasi
Kriteria hasil : - Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan
menurun
- Menyatakan pemahaman situasi individual
- Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah
[

Perencanaan :

No Intervensi Rasional
1 Berikan keterbukaan pada klien Dapat mengalami ansietas tentang efek bedah dan dapat
dan orang terdekat untuk menyembuhkan pertanyaan yang diperlukan. Ansietas dapat
membicarakan tentang masalah mempengaruhi kemampuan untuk menerima informasi yang
inkontinensia dan fungsi seksual diberikan sebelumnya.
2 Berikan informasi akurat tentang Impotensi fisiologis terjadi bila saraf perineal dipotong
harapan kembalinya fungsi seksual selama prosedur radikal; pada pendekatan lain, aktivitas
seksual dapat dilakukan seperti biasa dalam 0-8 minggu.
3 Diskusikan dasar anatomi. Jujur Saraf picksus mengontrol aliran secara posterior kedalam
dalam menjawab pertanyaaan melalui kapsul. Pada prosedur yang tidak melibatkan kapsul
klien prostat, impoten dan sterilitas biasanya tidak menjadi
konsekuensi.
4 Diskusikan ejakulasi retrograd bila Cairan seminal mengalir kedalam kandung kemih dan
pendekatan transuretral/ disekresikan melalui urine. Ini tidak mempengaruhi fungsi
suprapubik digunakan seksual tetapi akan menurunkan kesuburan dan menyebabkan
urine keruh
5 Instruksikan latihan perineal dan Meningkatkan peningkatan kontrol otot kontinentia urinaria
interupsi/ kontinu aliran urine dan fungsi seksual
13

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (2004). Perawatan Penyakit Dalam dan Bedah,Pusat Pendidikan Tenaga
Kesehatan, Jakarta.
Engram, Barabara. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jilid III. Alih
Bahasa. Jakarta : EGC.
Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah, jilid II, Alih Bahasa Indonesia, Yayasan
Ikatan Alumni Pendidikan, Akper Padjadjaran, Bandung
Media, Hardy. (2012). Panduan Penyusunan Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan
NANDA dengan Intervensi NIC dan NOC. Jakarta : EGC.
Pooter & Perry. (2005).Fundamental Keperawatan, Jilid I dan II. Jakarta : EGC.
Prof.dr.Arjatmo Tjokronegoro,Phd. dan dr.Hendra Utama (2004). Ilmu Penyakit Dalam Edisi
3 FKUI. Jakarta : EGC.
R.Sjamsuhidajat & Wim DE Jong.(2005). Buku Ajar Medikal Bedah, Edisi 2. Jakarta : EGC.
Ruth Johnson & Wendy Taylor. (2004). Praktik Kebidanan. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart Edisi 8
Volume 2. Jakarta. EGC.
Tri Kurnianto,Infeksi Nosokomial. (2002). Grup Pt Kalbe farma. Jakarta.
Wilkinson J.M. (2007) Buku Saku Diagnosis Keperawatan Dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC.

tatangsukmapurba_ners2019@KMB