Anda di halaman 1dari 11

J. Agrotan 3(2) : 1 - 11, September 2017 ISSN : 2442-9015.

e-ISSN : 2460-0075

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN BAWANG


MERAH (Allium ascalonicum L.) SECARA HIDROPONIK
PADA BERBAGAI MEDIA DAN KONSENTRASI AIR
KELAPA SEBAGAI ZAT PENGATUR TUMBUH
Growth and Production of Red Onion Plants (Allium ascalonicum L.)
Hydroponically in Various Media and Coconut Water Concentration
as Growth Regulator

ARJUNA1), SYATRIANTY A. SYAIFUL1), FACHIRAH ULFA1)


E-mail : arjunaagrotek2@gmail.com
1)
Program Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar, 90245.

ABSTRACT

This study aims to determine the effect of media type and concentration of
coconut water on the growth and production of onion crops (Allium ascalonicum
L.) grown hydroponically. The research was conducted in green house located on
altitude of ± 127 m above sea level (asl) using a factorial design consisting of two
factors. The growth media (M) was set as first factor ie. charcoal husk, cocopeat
and sawdust. The second factor was the concentration of coconut water (K) ie.
0%, 10%, 20%, 30% and 40%. The experimental results show that there is no
significant interaction between media type and coconut water concentration.
Nevertheless, charcoal media and 30% of coconut water concentration gave the
best effect on plant height observation (26.74 cm), bulb weight (15.13 gram) and
bulb dry weight (12.36 gram).

Keywords: onion, hydroponics, media, coconut water.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis media dan konsentrasi
air kelapa pada pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah (Allium
ascalonicum L.) secara hidroponik. Penelitian ini dilaksanakan di green house
BTN Tompo Tobani, Kelurahan Lalabata Rilau, Kecamatan Lalabata, Kabupaten
Soppeng dengan ketinggian ±127 m dpl. Penelitian berlangsung mulai bulan April
sampai Juli 2017. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan faktorial yang
terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah media (M) yaitu arang sekam,
cocopeat dan serbuk gergaji. Faktor kedua adalah konsentrasi air kelapa (K) yaitu
0%, 10%, 20%, 30% dan 40%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak
terdapat interaksi antara jenis media dengan konsentrasi air kelapa. Namun
demikian, media arang sekam dan konsentrasi air kelapa 30% memberikan

1
J. Agrotan 3(2) : 1 - 11, September 2017 ISSN : 2442-9015. e-ISSN : 2460-0075

pengaruh dan hasil terbaik pada pengamatan tinggi tanaman (26,74 cm), bobot
basah umbi (15.13 gram) dan bobot kering umbi (12.36 gram).

Kata kunci : bawang merah, hidroponik, media, air kelapa.

PENDAHULUAN bawang merah yang kita konsumsi.


Permasalahannya, lahan di perkotaan
Bawang merah (Allium
sekarang ini semakin sempit, sehingga
ascalonicum L.) termasuk dalam salah
butuh penerapan teknologi budidaya
satu komoditas hortikultura yang
yang dapat dilakukan pada lahan
memiliki potensi baik untuk
pekarangan dengan luasan lahan
dikembangkan di Indonesia. Bawang
terbatas. Salah satunya adalah
merah mengandung senyawa yang
budidaya tanaman secara hidroponik.
tergolong zat non gizi dan enzim yang
Hidroponik merupakan salah satu
sangat bermanfaat untuk terapi
kesehatan serta dapat meningkatkan inovasi teknologi budidaya untuk
dan mempertahankan kesehatan tubuh memproduksi suatu komoditas secara
manusia (Hamdani, 2008). maksimum pada luasan lahan yang
Bawang merah merupakan terbatas dan merupakan teknologi
komoditas sayuran yang termasuk budidaya yang intensif. Hidroponik
dalam kelompok rempah tidak adalah metode yang menumbuhkan
bersubstitusi, yang berfungsi sebagai
tanaman tanpa menggunakan media
bumbu penyedap makanan serta obat
tradisonal (Balitbang Pertanian, 2012). tanah sebagai media tumbuh tanaman.
Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Prinsip dasar budidaya secara
Informasi Pertanian (2015), konsumsi hidoponik adalah upaya merekayasa
bawang merah nasional pada tahun alam dengan menciptakan dan
2015 mencapai 2,71 kg per kapita atau mengatur suatu kondisi lingkungan
setara dengan 691.421 ton dan
yang ideal bagi pertumbuhan dan
mengalami peningkatan pada tahun
2016 yaitu 2,83 kg per kapita atau perkembangan tanaman (Sulistyono,
setara dengan 728.580 ton. 2014).
Sekarang ini, terdapat Salah satu faktor penting dalam
kecenderungan bagi masyarakat di budidaya tanaman secara hidroponik
perkotaan untuk mengkonsumsi adalah jenis media. Rukmini (2011)
sayuran dengan mengutamakan aspek menyatakan bahwa media berfungsi
kesehatan. Sementara di pasaran,
untuk menyokong tanaman, menahan
banyak sayuran khususnya bawang
merah yang menggunakan bahan kimia air dan pupuk untuk sementara waktu.
sebagai pengawet yang bisa Bahan media harus memiliki
membahayakan kesehatan. Maka dari kemampuan untuk mempertahankan
itu, perlu dilakukan sosialisasi kepada kelembaban yang cukup tinggi bagi
masyarakat bahwa dengan akar dan tidak berlebihan serta
membudidayakan bawang merah memiliki ruang makro yang cukup
secara langsung, kita akan lebih
untuk respirasi. media yang digunakan
menjamin kebersihan dan kualitas

2
J. Agrotan 3(2) : 1 - 11, September 2017 ISSN : 2442-9015. e-ISSN : 2460-0075

bersifat porous, seperti pasir, arang mengandung difenil urea yang


sekam, cocopeat, batu apung, serbuk mempunyai aktifitas sebagai sitokinin,
gergaji, rockwool, perlit dan zeolit. kalium, gula serta protein yang dapat
menstimulasi pertumbuhan dan
Bawang merah merupakan
produksi tanaman. Yusnida (2006)
tanaman yang membutuhkan air yang menyatakan bahwa air kelapa
cukup dan tidak tahan terhadap mengandung zat pengatur tumbuh
genangan. Bawang merah seperti sitokinin 5,8 mg L-1, auksin
membutuhkan media yang mampu 0,07 mg L-1 dan giberelin sangat
mengikat air dan memiliki kemampuan sedikit serta senyawa lain yang dapat
aerasi yang baik untuk pembentukan menstimulasi perkecambahan dan
pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian
dan perkembangan umbinya.
Metusala (2012) menunjukkan bahwa
Berdasarkan sifat tersebut, maka jenis air kelapa kaya akan potasium (kalium)
media yang dapat digunakan dalam hingga 17%, juga mengandung gula
budidaya bawang merah secara antara 1,7 sampai 2,6 % dan protein
hidroponik yaitu arang sekam, 0,07 hingga 0,55%. Hasil penelitian
cocopeat dan serbuk gergaji. Ketiga lain juga manyatakan bahwa zat
media ini merupakan limbah organik pengatur tumbuh dalam air kelapa
mampu meningkatkan hasil kedelai
yang mudah diperoleh karena
hingga 64% dan kacang tanah hingga
ketersediaannya cukup melimpah 15%.
dengan harga yang relatif murah. Dalam penggunaan zat pengatur
Selain media, faktor lain yang tumbuh alami, yang perlu diperhatikan
perlu diperhatikan dalam adalah konsentrasinya. Konsentrasi zat
meningkatkan pertumbuhan dan pengatur tumbuh yang sesuai dosis
produksi bawang merah adalah akan berpengaruh baik terhadap
penggunaan zat pengatur tumbuh. Zat pertumbuhan dan produksi tanaman.
pengatur tumbuh yang biasa digunakan Sedangkan konsentrasi zat pengatur
saat ini adalah zat pengatur tumbuh tumbuh yang berlebihan justru akan
sintetik yang harganya relatif mahal menghambat pertumbuhan tanaman.
dan kadang langka ketersediaannya. Hasil penelitian Dhamayanti (2000),
Untuk mengatasi hal ini, perlu menunjukkan bahwa penggunaan taraf
dipikirkan zat pengatur tumbuh alami air kelapa 10% - 30% dapat
yang dapat diperoleh dengan mudah meningkatkan produksi umbi mini
dan murah, namun memiliki kentang. Hasil penelitian lain
kemampuan yang sama atau melebihi menunjukkan penggunaan air kelapa
dari zat pengatur tumbuh sintetik dengan intensitas penyiraman 1 x 4
dalam memacu pertumbuhan tanaman hari dengan takaran 200 ml
(Ulfa, 2013). memberikan pengaruh terhadap
Air kelapa muda merupakan pertumbuhan tanaman cabai keriting
salah satu produk tanaman yang dapat yang paling optimal.
dimanfaatkan sebagai zat pengatur
tumbuh alami. Air kelapa muda

3
J. Agrotan 3(2) : 1 - 11, September 2017 ISSN : 2442-9015. e-ISSN : 2460-0075

Berdasarkan uraian di atas, maka Metode Penelitian


perlu dilakukan penelitian tentang
pengaruh jenis media dan konsentrasi Penelitian ini menggunakan
air kelapa sebagai zat pengatur tumbuh rancangan faktorial dalam kelompok,
terhadap pertumbuhan dan produksi yang terdiri dari dua faktor. Media (M)
bawang merah secara hidroponik. sebagai faktor pertama yang terdiri dari
Penelitian ini bertujuan untuk tiga taraf, yaitu: arang sekam (M1),
mengetahui pengaruh jenis media dan cocopeat (M2) dan serbuk gergaji
konsentrasi air kelapa sebagai zat (M3). Konsentrasi air kelapa (K)
pengatur tumbuh dalam meningkatkan sebagai faktor kedua yang terdiri dari
pertumbuhan dan produksi tanaman lima taraf, yaitu: 0% (K0), 10% (K1),
20% (K2), 30% (K3) dan 40% (K4).
bawang merah secara hidroponik.
Pelaksanaan Penelitian
METODOLOGI
Pelaksanaan penelitian meliputi
Tempat dan Waktu pemilihan umbi bawang merah,
Penelitian ini dilaksanakan di ekstraksi air kelapa muda sebagai
green house BTN Tompo Tobani, sumber zat pengatur tumbuh, persiapan
Kelurahan Lalabata Rilau, Kecamatan media tanam, penanaman, aplikasi zat
Lalabata, Kabupaten Soppeng dengan pengatur tumbuh, penyiraman dan
ketinggian ±127 m dpl. Penelitian pemupukan, penyulaman dan
berlangsung mulai bulan April sampai penyiangan, pengendalian hama dan
Juli 2017. penyakit dan panen.

Parameter Pengamatan
Bahan dan Alat
Parameter pertumbuhan dan
Bahan yang digunakan pada
produksi yang diamati meliputi tinggi
penelitian ini adalah umbi bawang
tanaman (cm), jumlah daun (helai),
merah varietas Bima, arang sekam,
jumlah anakan, jumlah umbi (suing),
serbuk gergaji, cocopeat, air kelapa
diameter umbi (mm), bobot basah umbi
muda, aquades, gula pasir, pupuk
(gram) dan bobot kering umbi (gram).
NPK, air, insektisida dan fungisida.
Alat yang digunakan pada penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN
ini adalah timbangan, botol, saringan,
Hasil
polybag ukuran 20 x 25 cm, pisau,
centrifuge, gelas ukur, mistar, hand Perlakuan media berpengaruh
sprayer, papan nama atau label dan nyata terhadap parameter tinggi
alat tulis. tanaman, diameter umbi, bobot basah
umbi dan bobot kering umbi,
sedangkan perlakuan konsentrasi air
kelapa berpengaruh nyata terhadap

4
J. Agrotan 3(2) : 1 - 11, September 2017 ISSN : 2442-9015. e-ISSN : 2460-0075

parameter tinggi tanaman. Data memberikan diameter umbi terendah


pengukuran rata-rata terhadap yaitu 8,72 mm.
parameter yang diamati setelah uji
3. Bobot Basah Umbi
BNJα0,05 disajikan pada Tabel berikut :

1. Tinggi tanaman umur 35 HST

Uji BNJ taraf 0,05 (Tabel 3)


menunjukkan rata-rata bobot basah
umbi tertinggi pada media arang sekam
(M1) yaitu 11.43 gram, tidak berbeda
Uji BNJ taraf 0,05 (Tabel 1) nyata dengan media cocopeat (M2).
menunjukkan rata-rata tinggi tanaman Perlakuan media serbuk gergaji (M3)
tertinggi pada media arang sekam (M1) memberikan bobot basah umbi
yaitu 23,89 cm, tidak berbeda nyata terendah yaitu 6,09 gram.
dengan media cocopeat (M2).
4. Bobot Kering Umbi
Perlakuan media serbuk gergaji (M3)
memberikan tinggi tanaman terendah
yaitu 19,17 cm. konsentrasi air kelapa
30% (K3) memberikan tinggi tanaman
tertinggi yaitu 24,16cm, tidak berbeda
nyata dengan konsentrasi 20% (K2)
dan berbeda nyata dengan konsentrasi
0%, 10% dan 40%. Uji BNJ taraf 0,05 (Tabel 4)
menunjukkan rata-rata bobot kering
2. Diameter Umbi umbi tertinggi pada media arang sekam
(M1) yaitu 9,39 gram, tidak berbeda
nyata dengan media cocopeat (M2).
Perlakuan media serbuk gergaji (M3)
memberikan bobot basah umbi
terendah yaitu 4,43 gram.

Uji BNJ taraf 0,05 (Tabel 2)


menunjukkan rata-rata diameter umbi
tertinggi pada media arang sekam (M1)
yaitu 12,99 mm, tidak berbeda nyata
dengan media cocopeat (M2).
Perlakuan media serbuk gergaji (M3)

5
J. Agrotan 3(2) : 1 - 11, September 2017 ISSN : 2442-9015. e-ISSN : 2460-0075

Pembahasan berkembang secara optimal dan


1. Interaksi tentunya akan berpengaruh baik pada
Hasil analisis sidik ragam pertumbuhan dan produksi tanaman.
menunjukkan bahwa tidak terdapat Hal ini sesuai dengan pendapat
interaksi antara perlakuan media
Susanto (2002), yang manyatakan
dengan konsentrasi air kelapa.
bahwa arang sekam mempunyai
Meskipun hasil uji statistik tidak
sirkulasi udara yang tinggi, mudah
menunjukkan adanya interaksi antara
perlakuan media dengan konsentrasi mengikat air, tidak mudah lapuk,
air kelapa, dapat diketahui bahwa ringan dan merupakan sumber kalium.
perlakuan (M1K3) media arang sekam Arang sekam dapat menahan air lebih
dengan konsentrasi air kelapa 30% lama dan membawa zat – zat organik
cenderung memberikan interaksi pada yang dibutuhkan oleh tanaman.
pengamatan tinggi tanaman, jumlah Agustin et.al.(2014) menambahkan
daun, jumlah anakan, bobot basah bahwa karakteristik arang sekam padi
umbi dan bobot kering umbi. adalah memiliki sifat remah dibanding
media tanam lainnya. Sifat inilah yang
2. Media
diduga memudahkan akar menembus
Perlakuan berbagai jenis media media dan mempercepat
berpengaruh sangat nyata pada perkembangan akar.
pengamatan tinggi tanaman, diameter Arang sekam juga memberikan
umbi, bobot basah umbi dan bobot pengaruh terbaik pada parameter
kering umbi. diameter umbi, bobot basah dan bobot
Dari semua perlakuan media, kering umbi. Dimana, bawang merah
diperoleh hasil terbaik yaitu perlakuan mebutuhkan air yang cukup dan tidak
media arang sekam. Media arang tahan terhadap genangan untuk
sekam memberikan pengaruh terbaik pertumbuhan dan pembentukan
pada parameter tinggi tanaman, jumlah umbinya. Hal ini sesuai dengan
daun, jumlah anakan, diameter umbi, pendapat Sukaryorini dan Arifin
bobot basah umbi dan bobot kering (2007) yang mengemukakan bahwa
umbi. Hal ini disebabkan karena arang arang sekam mampu memberikan
sekam merupakan hasil pembakaran respons yang lebih baik terhadap berat
tidak sempurna dari sekam padi (kulit basah maupun berat kering buah
gabah) yang berbentuk butiran kasar, karena arang sekam memiliki
ringan dan berwarna hitam. kemampuan aerase yang baik sehingga
Arang sekam mampu mengikat akar lebih mudah menembus media
air yang dibutuhkan tanaman serta dan pengangkutan hara berjalan secara
mempunyai sirkulasi udara yang lebih optimal.
tinggi karena terdapat banyak pori-pori Karsono et. al. (2002),
yang ada pada media tersebut. menyatakan bahwa bobot buah erat
Sehingga, akar bawang merah dapat hubungannya dengan jumlah sel,

6
J. Agrotan 3(2) : 1 - 11, September 2017 ISSN : 2442-9015. e-ISSN : 2460-0075

peningkatan pengendapan atau lebih besar sehingga menyebabkan


penimbunan zat makanan, serta ketersediaan air lebih tinggi. Pada saat
perkembangan ruang-ruang inter tertentu, kondisi tersebut menyebabkan
seluler. Unsur hara yang berperan pertukaran gas pada media mengalami
penting dalam pembentukan buah hambatan karena media mulai jenuh
adalah kalium (K). Kalium berguna oleh air.
untuk memacu translokasi karbohidrat Media serbuk gergaji
dari daun ke organ tanaman yang lain memberikan pengaruh terendah dari
terutama organ tanaman penyimpan semua parameter yang diamati. Hal ini
karbohidrat dan mengatur diduga karena proses sterilisasi pada
pembentukan protein dan buah. media serbuk gergaji tidak maksimal
Media cocopeat memberikan sehingga masih ada zat tanin yang
hasil terbaik pada parameter jumlah terkandung pada media yang dapat
umbi, karena media cocopeat memiliki menghambat pertumbuhan dan
kemampuan mengikat nutrisi yang perkembangan tanaman. Selain itu,
sangat kuat, dimana yang media serbuk gergaji memiliki
mempengaruhi pembentukan umbi kelembaban yang tinggi dan nilai pH
yaitu ketersediaan kalium pada media. yang masam sehingga akan
Hal ini sejalan dengan pendapat menghambat proses pengangkutan hara
Wardhani et al. (2010), yang dari akar. Hal ini sesuai dengan
menyatakan bahwa cocopeat pendapat Fahmi (2013) yang
mengandung unsur hara antara lain menyatakan bahwa pada media tanam
nitrogen (N) 0.32%, posfor (P) 0.15%, serbuk kayu mengandung zat toksik
kalium (K) 0.31%, calcium (Ca) atau zat tanin yang dapat menghambat
0.96%, Fe 180 ppm, Mn 80.4 ppm dan pertumbuhan tanaman. Serbuk gergaji
Zn 14.10 ppm. mempunyai nilai pH 4,33 (masam)
Media cocopeat menghasilkan yang akan menghambat penyerapan
jumlah umbi yang lebih banyak tetapi akar terhadap udara dan nutrisi.
ukuran dan bobotnya masih rendah
dibandingkan dengan arang sekam. Hal 3. Air Kelapa
ini diduga karena cocopeat memiliki
kemampuan mengikat dan meniyimpan Perlakuan berbagai berbagai
air yang sangat kuat sehingga ruang konsentrasi air kelapa berpengaruh
udara yang ada pada media terisi oleh nyata pada pengamatan tinggi tanaman
air sehingga respirasi akar terganggu dan berpengaruh tidak nyata pada
dan pengangkutan hara dari akar parameter jumlah daun, jumlah anakan,
terhambat pula. Hal ini sesuai dengan jumlah umbi, diameter umbi, bobot
pendapat Margiwiyatno (2007) bahwa basah umbi dan bobot kering umbi.
media cocopeat memiliki pori mikro Walaupun secara statistik tidak
yang mampu menghambat gerakan air berpengaruh nyata, namun pada

7
J. Agrotan 3(2) : 1 - 11, September 2017 ISSN : 2442-9015. e-ISSN : 2460-0075

pengaplikasian di lapangan terlihat dan perkembangan umbi bawang


pengaruh konsentrasi air kelapa merah. Hal ini sesuai dengan pendapat
terhadap pertumbuhan dan produksi Metusala (2012) yang menyatakan
tanaman. Dari semua perlakuan bahwa air kelapa kaya akan potasium
konsentrasi, diperoleh konsentrasi air (kalium) hingga 17%. Selain itu air
kelapa 30% yang cenderung kelapa juga mengandung gula antara
memberikan pengaruh terhadap 1,7 sampai 2,6 % dan protein 0,07
parameter tinggi tanaman, jumlah hingga 0,55%. Mineral yang
daun, jumlah anakan, bobot basah dikandung antara lain natrium (Na),
umbi dan bobot kering umbi. Hal ini kalsium (Ca), magnesium (Mg), ferum
diduga karena air kelapa mengandung (Fe), cuprum (Cu), fosfor (P) dan
zat pengatur tumbuh yang dapat sulfur (S). Disamping kaya mineral, air
memicu pertumbuhan dan produksi kelapa juga mengandung berbagai
tanaman. Zat pengatur tumbuh dalam macam vitamin seperti asam sitrat,
air kelapa muda yang paling banyak asam nikotinat, asam pantotenal, asam
adalah sitokinin yang berfungsi dalam folat, niacin, riboflavin, dan thiamin.
memacu pembelahan sel pada Perlakuan konsentrasi air kelapa
tanaman. Hal ini sesuai dengan 40% cenderung memberikan pengaruh
pendapat Yusnida (2006) yang terendah pada parameter yang diamati.
menyatakan bahwa air kelapa adalah Hal ini diduga karena konsentrasi yang
salah satu bahan alami, didalamnya diberikan pada tanaman terlalu tinggi
terkandung hormon seperti sitokinin sehingga memberikan pengaruh negatif
5,8 mg L-1, auksin 0,07 mg L-1 dan terhadap pertumbuhan dan produksi
giberelin sedikit sekali serta senyawa tanaman. Pada pengaplikasiannya,
lain yang dapat menstimulasi tampak daun menguning dan seperti
perkecambahan dan pertumbuhan terbakar. Sesuai dengan pendapat
tanaman. Netty dan Donowati (2007) Salisbury dan Ross (2005), yang
menambahkan bahwa zat pengatur menyatakan bahwa zat pengatur
tumbuh sitokinin berfungsi tumbuh merupakan suatu zat
mempengaruhi pertumbuhan dan pendorong pertumbuhan apabila
diferensiasi akar, mendorong diberikan dalam konsentrasi yang
pembelahan sel dan pertumbuhan tepat. Sebaliknya bila diberikan dalam
secara umum, mendorong konsentrasi yang tinggi dari yang
perkecambahan dan penuaan. dibutuhkan tanaman maka akan
Selain mengandung zat pengatur menghambat dan menyebabkan kurang
tumbuh, air kelapa juga mengandung aktifnya proses metabolisme tanaman.
unsur hara yaitu unsur P dan K yang Suryanto (2009) menambahkan bahwa
mempengaruhi pertumbuhan dan pemberian air kelapa muda pada
produksi tanaman. Dimana kalium ini tanaman dengan konsentrasi yang tepat
sangat berperan dalam pembentukan dapat menambah unsur hara bagi

8
J. Agrotan 3(2) : 1 - 11, September 2017 ISSN : 2442-9015. e-ISSN : 2460-0075

tanaman, sehingga akan mampu DAFTAR PUSTAKA


mempercepat pertumbuhan dan
perkembangan organ tanaman. Agustin DA, Riniarti M, Duryat. 2014.
Pemanfaatan limbah serbuk
KESIMPULAN DAN SARAN gergaji dan arang sekam
sebagai media sapih untuk
Kesimpulan
cempaka kuning (Michelia
1. Kombinasi jenis media dengan champaca). Jurnal Sylva
konsentrasi air kelapa tidak Lestari 2 (3): 49-58.
menunjukkan adanya interaksi.
Namun, kombinasi media arang Badan Penelitian dan Pengembang
Departemen Pertanian. 2012.
sekam dengan konsentrasi air Teknologi Hortikultura
kelapa 30% cenderung Mendukung Prima Tani (Cabai,
memberikan hasil tertinggi pada Bawang Merah, Kentang,
tinggi tanaman (26,74 cm), Jeruk, Pisang, Mawar Mini,
jumlah daun (19,67 helai), dan Krisan). Jakarta (ID): Pusat
jumlah anakan (5,50), bobot Penelitian dan Pengembahan
Hortikultura.
basah umbi (15,13 gram) dan
bobot kering umbi (12,36 gram). Badan Pusat Statistik. 2016. Luas
2. Media arang sekam memberikan Panen, Produksi dan
hasil tertinggi pada tinggi Produktivitas Bawang Merah
tanaman (23.89 cm), diameter Tahun 2010-2014 [Internet].
umbi (12.99 mm), bobot basah [diunduh pada April 2016].
umbi (11.43 gram) dan bobot Tersedia pada: http://bps.go.id/.
kering umbi (9.39 gram).
Dhamayanti, Ratna. 2000. Pengaruh
3. Konsentrasi air kelapa 30% Taraf Air Kelapa dan
memberikan hasil tertinggi pada Konsentrasi SADH terhadap
tinggi Pertumbuhan dan Produksi
tanaman (24.16 cm). Umbi Mini Kentang (Solanum
tuberosum L.) Kultivar
Saran Granola dalam Rumah Kaca.
Dalam budidaya bawang merah Skripsi. Bogor : Institut
secara hidropnik, disarankan untuk Pertanian Bogor.
menggunakan media arang sekam dan
Direktorat Jenderal Hortikultura. 2016.
air kelapa dengan konsentrasi 30%. Produktivitas bawang merah
Selain itu, perlu dilakukan penelitian [Internet]. [diunduh pada Mei
lanjut terkait kombinasi jenis media 2017]. Tersedia pada:
untuk memperkaya jenis media yang http://www.pertanian.go.id/.
dapat digunakan dalam hidroponik.
Fahmi, Z. I. 2013. Media tanam
sebagai faktor eksternal yang
mempengaruhi pertumbuhan

9
J. Agrotan 3(2) : 1 - 11, September 2017 ISSN : 2442-9015. e-ISSN : 2460-0075

tanaman. Balai besar Rukmini K. dan Sri Erni. 2011.


perbenihan dan proteksi Pengaruh Media Tumbuh dan
tanaman perkebunan. Surabaya. Pupuk Organik Cair Terhadap
Pertumbuhan dan Hasil
Hamdani, J. S. 2008. Pertumbuhan dan Tanaman Seledri (Apium
Hasil Bawang Merah Kultivar Graveolens L.). Crop Agro Vol.
Bauji pada Status Hara P Total 4 No.2.
dan Dosis Pupuk Fosfat yang
berbeda. Jurnal arikultura, 19: Salisbury, B. F. Dan Ross, W. C. 2005.
285-293. Fisiologi Tumbuhan. ITB.
Bandung.
Karsono, S., Sudarmodjo, dan Y.
Sutiyoso. 2002. Hidroponik: Sukaryorini P, Arifin. 2007. Kajian
Skala Rumah Tangga. PT pembentukan caudex Adenium
AgroMedia Pustaka. Jakarta. 64 obesum pada diversifikasi
hal. media tanam.Jurnal Pertanian
Mapeta 10 (1): 31-41.
Margiwiyatno, A. 2007. Pengaruh
Pendinginan Larutan Hara Sulistyono E, Juliana AE. 2014.
Terhadap Pertumbuhan dan Irrigation Volume Based on
Hasil Tanaman Bawang Merah Pan Evaporation and Their
pada Sistem Hidroponik Effects on Water Use Efficiency
dengan Empat Macam Media and Yield of Hydroponically
Tanam. Fakultas Pertanian Grown Chilli. Journal of
Unsoed. Tropical Crop Science 1(1): 9-
12.
Metusala, D. 2012. Air Kelapa Pemacu
Pertumbuhan dan Pembungaan Suryanto, E. 2009. Air Kelapa Dalam
Anggrek. Diakses dari Media Kultur Anggrek.
http://www.anggrek.org/air-
kelapa-pemacu-pertumbuhan- Susanto, S. 2002. Budidaya Tanaman
dan-pembungaan-anggrek.html, Hidroponik. Modul Pelatihan
diakses 25 Juli 2017. Aplikasi TeknologiHidroponik
untuk Pengembangan
Netty, W. dan Donowati, T. 2007. Agribisnis Perkotaan. Bogor.
Peranan Beberapa Zat Kerjasama CREATA-IPB dan
Pengatur Tumbuh (ZPT) Depdiknas.
Tanaman Pada Kultur In Vitro.
Jurnal Sains dan Teknologi . Ulfa F. 2013. Peran Senyawa Bioaktif
Indonesia. Vol 3(5): 55-63. Tanaman Sebagai Zat Pengatur
Dalam Memacu Produksi Umbi
Pusat Data dan Sistem Informasi Mini Kentang (Solanum
Pertanian. 2015. Outlook Tuberosum L.) Pada System
Komoditas Pertanian Subsektor Budidaya Aeroponik. Disertasi.
Hortikultura. Jakarta : Program Studi Ilmu Pertanian.
Kementerian Pertanian. Universitas Hasanuddin.

10
J. Agrotan 3(2) : 1 - 11, September 2017 ISSN : 2442-9015. e-ISSN : 2460-0075

http://repository.unh as.ac.id
[April 2016].

Wardhani, T., Toto, S., dan Ruly, B. H.


2010. Kajian Pengaruh Media
Tanam terhadap Pertumbuhan
Vegetatif Awal Kamboja
Jepang (Adenium obesum)
Varietas White Pink Silk. Jurnal
Biologi, 2: 38-40.

Yusnida, 2006. Pengantar Untuk


Mengenal dan Menanam
Jamur. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.

11