Anda di halaman 1dari 22

PORTOFOLIO I

KEPERAWATAN KOMUNITAS I

Dosen Pembimbing :
Setho Hadisuyatma, S.Kep., Ns., M.NS (CommHlth&PC)

Kelas A2-2017
Nama Anggota Kelompok 6

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
MARET
SURABAYA
2019
Nama Anggota:

1. Cicilia Wahyu Indah S. (131711133070)


2. Audy Savira Yustanti (131711133144)
3. Nadiya Sahara Annisa (131711133145)
4. Merry Noviyanti (131711133146)
5. Joanka Delaneira (131711133147)
6. Della Yolina (131711133148)
7. Wahidah (131711133149)
8. Yuni Rengen (131711133163)
A. 7 Langkah/Fokus GERMAS

Setidaknya terdapat 7 langkah penting dalam rangka menjalankan Gerakan Masyarakat


Hidup Sehat. Ketujuh langkah tersebut merupakan bagian penting dari pembiasaan pola
hidup sehat dalam masyarakat guna mencegah berbagai masalah kesehatan yang beresiko
dialami oleh masyarakat Indonesia. Berikut ini 7 langkah GERMAS yang dapat menjadi
panduan menjalani pola hidup yang lebih sehat.

1. Melakukan Aktivitas Fisik

Perilaku kehidupan modern seringkali membuat banyak orang minim


melakukan aktivitas fisik; baik itu aktivitas fisik karena bekerja maupun berolah raga.
Kemudahan – kemudahan dalam kehidupan sehari – hari karena bantuan teknologi
dan minimnya waktu karena banyaknya kesibukan telah menjadikan banyak orang
menjalani gaya hidup yang kurang sehat. Bagian germas aktivitas fisik merupakan
salah satu gerakan yang diutamakan untuk meningkatkan kualitas kesehatan
seseorang.

2. Budaya Konsumsi Buah dan Sayur

Keinginan untuk makan makanan praktis dan enak seringkali menjadikan


berkurangnya konsumsi sayur dan buah yang sebenarnya jauh lebih sehat dan
bermanfaat bagi kesehatan. Beberapa jenis makanan dan minuman seperti junk food
dan minuman bersoda sebaiknya dikurangi atau dihentikan konsumsinya. Menambah
jumlah konsumsi buah dan sayur merupakan contoh GERMAS yang dapat dilakukan
oleh siapapun.

3. Tidak Merokok

Merokok merupakan kebiasaan yang banyak memberi dampak buruk bagi


kesehatan. Berhenti merokok menjadi bagian penting dari gerakan hidup sehat dan
akan berdampak tidak pada diri perokok; tetapi juga bagi orang – orang di sekitarnya.
Meminta bantuan ahli melalui hipnosis atau metode bantuan berhenti merokok yang
lain dapat menjadi alternatif untuk menghentikan kebiasaan buruk tersebut.
4. Tidak Mengkonsumsi Minuman Beralkohol

Minuman beralkohol memiliki efek buruk yang serupa dengan merokok; baik
itu efek buruk bagi kesehatan hingga efek sosial pada orang – orang di sekitarnya.

5. Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Secara Berkala

Salah satu bagian dari arti germas sebagai gerakan masyarakat hidup sehat
adalah dengan lebih baik dalam mengelola kesehatan. Salah satunya adalah dengan
melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan tidak hanya datang ke rumah sakit
atau puskesmas ketika sakit saja. Langkah ini dapat memudahkan mendeteksi
penyakit atau masalah kesehatan lebih dini.

6. Menjaga Kebersihan Lingkungan

Bagian penting dari germas hidup sehat juga berkaitan dengan meningkatkan
kualitas lingkungan; salah satunya dengan lebih serius menjaga kebersihan
lingkungan. Menjaga kebersihan lingkungan dalam skala kecil seperti tingkat rumah
tangga dapat dilakukan dengan pengelolaan sampah. Langkah lain yang dapat
dilakukan adalah menjaga kebersihan guna mengurangi resiko kesehatan seperti
mencegah perkembangan vektor penyakit yang ada di lingkungan sekitar.

7. Menggunakan Jamban

Aspek sanitasi menjadi bagian penting dari gerakan masyarakat hidup sehat;
salah satunya dengan menggunakan jamban sebagai sarana pembuangan kotoran.
Aktivitas buang kotoran di luar jamban dapat meningkatkan resiko penularan berbagai
jenis penyakit sekaligus menurunkan kualitas lingkungan.

B. GERMAS Melibatkan Pendekatan Keluarga, Serta 12 Indikator Utama Penanda


Kesehatan Keluarga

Keluarga sebagai fokus dalam pendekatan pelaksanaan program Indonesia Sehat karena
menurut Friedman (1998), terdapat Lima fungsi keluarga, yaitu:

1. Fungsi afektif (The Affective Function) adalah fungsi keluarga yang utama untuk
mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan
dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan
psikososial anggota keluarga.
2. Fungsi sosialisasi yaitu proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu
yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan
sosialnya. Sosialisasi dimulai sejak lahir. Fungsi ini berguna untuk membina
sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat
perkembangan anak dan dan meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.
3. Fungsi reproduksi (The Reproduction Function) adalah fungsi untuk
mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.
4. Fungsi ekonomi (The Economic Function) yaitu keluarga berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan
kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga.
5. Fungsi perawatan atau pemeliharaan kesehatan (The Health Care Function) adalah
untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki
produktivitas yang tinggi.

12 indikator utama untuk penanda status kesehatan sebuah keluarga.

Kedua belas indikator utama tersebut adalah sebagai berikut :


1. Keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB)
2. Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan
3. Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap
4. Bayi mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif
5. Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan
6. Penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar
7. Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur
8. Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan
9. Anggota keluarga tidak ada yang merokok
10. Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
11. Keluarga mempunyai akses sarana air bersih
12. Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat

C. Peran yang Perawat Komunitas dalam Mendukung Program GERMAS


Peran yang diemban perawat komunitas dalam mendukung Program GERMAS sebagai
pendidik dan penyuluh kesehatan sertapelaksana konseling keperawatan kepada individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat.
Peran perawat dalam pembangunan kesehatan nasional :
1. Perawat sebagai care provider
Perawat komunitas sebagai care provider, memberikan asuhan keperawatan
kepada individu, keluarga, kelompo dan komunitas. Proses pelayanan kepada
masyarakat meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi masalah
kesehatan dan pemecahan masalah. Selain itu perawat komunitas mencari dan
mengidentifikasi masalah kesehatan yang lain di masyarakat atau komunitas.
2. Edukator
Perawat dalam pembanguanan kesehatan sebagai educator, perawat
memberikan pengajaran atau informasi mengenai kesehatan kepada klien atau
komunitas yang sakit maupun sehat. Dalam pemberian edukasi kesehatan perawat
harus signifikan dalam menjangkau populasi yang lebih luas sehingga dapat
meningkatakan kesehatan lebih luas. Selain itu memberikan edukasi kepada kader-
kader kesehatan.
3. Advocator
Peran perawat komunitas sebagai advocator, perawat komunitas memastikan
hak setiap individu, kelompok, dan masyarakat mendapat pelayanan kesehatan.
Namun tidak semua masyarakat mampu mendapat pelayanan kesehatan yang
sederajat karena faktor ekonomi, tidak memiliki asuransi kesehatan, sehingga
diperlukan perawat komunitas memberikan arahan dan penjelasan mengenai
system pelayanan kesehatan sehingga masayarakat atau klien mendapatkan
pelayanan kesehatan yang sesuai.
4. Manajer Kasus
Perawat komunitas sebagai manajer kasus, perawat mengidentifikasi masalah
kesehatan yang terjadi di masyarakat kemudian membuat perencanaan mengenai
program atau tindakan yang akan dilakukan untuk mngatasi masalah dan
mengkoordinasikan dengan multidisiplin yang lain selanjutnya dipantai dan
dievaluasi.
5. Kolaborator
Dalam membangun kesehatan nasional, perawat komunitas berperan sebagai
kolaborataor karena tidak dapat bekerja sendiri. Dalam membangun kesehatan
perawat bekerjasama dengan dokter, LSM, ahli lingkungan, kesehatan masyaraka,
dll.
6. Agent of Change
Perawat komunitas sebagai agent of change, perawat komunitas memulai
perubahan-perubahan kecil yang positif di masyarakat. Perawat mengajak klien
atau komunitas untuk melakukan perabahan-perubahan tersebut.
7. Peneliti
Perawat komunitas sebagai peneliti dalam membanngun kesehatan nasional.
Dengan membuat suatu program-program kesehatan yang sesuai dengan angka
masalah kesehatan nasional dan dapat diterapkan.

Bersadarkan peran tersebut, perawat komunitas diharapkan dapat mendukung individu,


keluarga, kelompok, dan masyarakat dalam mencapai tujuan perubahan perilaku untuk
hidup bersih dan sehat yang merupakan visi dari GERMAS.
D. Hubungan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat dengan GERMAS
Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) adalah indikator komposit
yang menggambarkan kemajuan pembangunan kesehatan. Tujuan dari IPKM adalah
dapat dirumuskan indikator komposit dari berbagai indikator kesehatan berbasis data
yang menggambarkan keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat tiap wilayah
kecamatan. Untuk menaikkan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM)
adalah dengan menjalankan atau menggerakkan GERMAS. GERMAS dapat dilakukan
dengan cara: Melakukan aktifitas fisik, Mengonsumsi sayur dan buah, Tidak merokok,
Tidak mengonsumsi alkohol, Memeriksa kesehatan secara rutin, Membersihkan
lingkungan, dan Menggunakan jamban.
Pada tahap awal, GERMAS secara nasional dimulai dengan berfokus pada tiga
kegiatan, yaitu: 1) Melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, 2) Mengonsumsi buah
dan sayur; dan 3) Memeriksakan kesehatan secara rutin. Tiga kegiatan tersebut dapat
dimulai dari diri sendiri dan keluarga, dilakukan saat ini juga, dan tidak membutuhkan
biaya yang besar, tutur Menkes. Dengan menggerakkan GERMAS oleh seluruh
komponen bangsa dengan begitu bisa menaikkan Indeks Kesehatan bagi seluruh
masyarakat Indonesia.
E. Hubungan IPKM dengan Riskesdas, Susenas, dan Survei Potensi Desa
1. Riset Kesehatan Dasar
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) merupakan survei yang dirancang untuk
mengumpulkan data-data dasar dalam bidang kesehatan. Riskesdas 2007 merupakan
salah satu wujud pengejawantahan dari 4 (empat) grand strategy Kementerian
Kesehatan, yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based
melalui pengumpulan data dasar dan indikator kesehatan. Indikator yang dihasilkan
dapat merepresentasikan gambaran wilayah nasional, provinsi dan Kabupaten/ Kota,
antara lain berupa status kesehatan dan faktor penentu kesehatan yang bertumpu pada
konsep Hendrik L. Blum yang terdiri dari empat determinan seperti perilaku,
keturunan, lingkungan, dan pelayanan kesehatan.
Disain Riskesdas 2007 merupakan survei cross sectional yang bersifat
deskriptif. Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh
wilayah Republik Indonesia. Sampel Rumah Tangga dan Anggota Rumah Tangga
dalam Riskesdas 2007 dirancang identik dengan daftar sampel Rumah Tangga dan
Anggota Rumah Tangga Susenas 2007 (menggunakan rancangan sampel yang sama).
Seluruh RT dan ART pada sampel Susenas 2007 menjadi sampel Riskesdas 2007.
Sampel Susenas yang berhasil dikunjungi ulang oleh Riskesdas di 440 Kab/ Kota
sebanyak 258.446 RT dan individu yang berhasil diwawancarai kembali sebanyak
973.657 orang. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error,
relative standard error, confidence interval, design effect dan jumlah sampel
tertimbang menyertai setiap estimasi variabel.
Data Riskesdas cukup kaya dengan informasi karena dikumpulkan dengan tiga
cara yaitu wawancara menggunakan kuesioner, pengukuran fisik (berat badan, tinggi
badan, tekanan darah), dan pemeriksaan biokimia. Pengumpulan data Riskesdas
dilakukan melalui wawancara tatap muka antara pencacah dengan responden.
Ada dua jenis kuesioner yaitu kuesioner yang ditujukan kepada individu dan
kuesioner yang ditujukan kepada kepala rumah tangga. Pertanyaan-pertanyaan yang
ditujukan kepada individu harus dengan mewawancarai langsung individu yang
bersangkutan (tidak boleh diwakilkan). Sedangkan pertanyaan tentang keterangan
rumah tangga dapat dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala rumah tangga
atau anggota rumah tangga yang mengetahui karakteristik rumah tangga yang
ditanyakan.
Seluruh hasil Riskesdas ini bermanfaat sebagai asupan (evidence based
information) dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan program kesehatan.
Dengan 900 variabel yang telah berhasil dikumpulkan yang terkait dengan informasi
mengenai kesehatan masyarakat dan biomedis, maka hasil Riskesdas 2007 sangat
bermanfaat dan dapat digunakan antara lain untuk pengembangan riset dan analisis
lanjut, pengembangan nilai standar baru berbagai indikator kesehatan, penelusuran
hubungan kausal- efek, dan pemodelan statistik.
2. Survei Sosial Ekonomi Nasional
Survei Sosial Ekonomi (Susenas) adalah survei yang dikumpulkan oleh Badan
Pusat Statistik (BPS). Data yang dikumpulkan yaitu mengenai pengeluaran rumah
tangga, karakteristik sosial, dan beberapa yang terkait dengan kesehatan. Data
Susenas yang dikumpulkan pada tahun 2007 mencakup sampel 1.167.019 individu
dan 285.186 rumah tangga pada 33 provinsi di Indonesia.
Pendataan dilakukan untuk mendapatkan data pada tingkat individu dan rumah
tangga berdasarkan wawancara dengan individu. Sampel Susenas 2007 representative
tingkat Kabupaten/ Kota.
Hubungan antara riskesdas, susenas dan survey potensi desa adalah agar IPKM dapat
dimanfaatkan sebagai :
1) Sebagai Indikator untuk menentukan peringkat Provinsi dan Kabupaten/ Kota
dalam keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat.
2) Sebagai bahan advokasi ke Pemerintah Daerah, baik Provinsi maupun
Kabupaten/ Kota agar terpacu menaikkan peringkatnya, sehingga sumber daya
dan program kesehatan diprioritaskan.
3) Sebagai salah satu kriteria penentuan alokasi dana bantuan kesehatan dari pusat
ke daerah (Provinsi maupun Kabupaten/Kota) dan dari Provinsi ke Kabupaten/
Kota.
3. Survey Potensi Desa
Badan Pusat Statistik (BPS) juga melakukan survei Potensi Desa (Podes),
pendataannya dilakukan untuk seluruh desa/ kelurahan. Data yang dikumpulkan
termasuk data tentang SDM dan fasilitas kesehatan. Survei Podes bertujuan
menyediakan data tentang potensi dan kinerja pembangunan di desa/ kelurahan dan
perkembangannya yang meliputi keadaan sosial, ekonomi, sarana dan prasarana, serta
potensi yang ada di desa/kelurahan.
Analisis IPKM menggunakan data Potensi Desa (Podes) 2008 yang telah
dikumpulkan oleh BPS pada bulan April-Mei 2008. Data Podes dikumpulkan dari
semua desa/kelurahan atau wilayah administrasi setingkat lainnya yang ada di
Indonesia, seperti nagari. Data Podes tahun 2008 dikumpulkan dari 75.410
desa/kelurahan (menurut kondisi bulan Nopember 2007) yang tersebar di 465
kabupaten/kota. Pengumpulan data Podes 2008 dilakukan secara sensus (complete
enumeration). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung oleh petugas
pencacah dengan kepala desa/ lurah atau staf yang ditunjuk atau narasumber lain yang
relevan. Variabel yang digunakan untuk kepentingan kajian pembangunan kesehatan
di tingkat desa cukup banyak, diantaranya adalah fasilitas (Rumah Sakit, Puskesmas,
Pos Kesehatan Desa Pondok Bersalin Desa, (Posyandu, dll) dan SDM kesehatan
(dokter, bidan, tenaga kesehatan lainnya).
F. 5 Prinsip Mendasar yang Menyeimbangkan Dimensi Ekonomi, Sosial dan
Lingkungan (5P) dalam SDGs
SDGs membawa 5 prinsip-prinsip mendasar yang menyeimbangkan dimensi
ekonomi, sosial dan lingkungan, yaitu 1. People (manusia), 2. Planet (bumi) 3. Prosperity
(kemakmuran) 4. Peace (Kedamaian) 5. Partnership (Kerjasama). Kelima prinsip dasar
ini dikenal dengan istilah 5 P dan menaungi 17 tujuan dan 168 sasaran yang tidak dapat
dipisahkan, saling terhubung dan terintegrasi satu sama lain guna mencapai kehidupan
manusia yang lebih baik (Nations, 2015).
Dengan 5 prinsip dasar dan 168 sasaran maka 17 tujuan tersebut diantaranya yaitu :
1. Tanpa kemiskinan, Mengentaskan segala bentuk kemiskinan di seluruh tempat.
2. Tanpa kelaparan, Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan
perbaikan nutrisi dan menggalakkan pertanian yang berkelanjutan
3. Kehidupan sehat dan sejahtera, Menjamin hidup sehat dan menggalakkan
kesejahteraan untuk semua usia;
4. Pendidikan berkualitas, Menjamin kualitas pendidikan yang layak dan inklusif
serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang;
5. Keseteraan gender, Mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan;
6. Air bersih dan sanitasi layak, Menjamin ketersediaan dan pengelolaan air dan
sanitasi yang berkelanjutan untuk semua;
7. Energi bersih dan terjangkau, Memastikan akses energi yang terjangkau, dapat
diandalkan, berkelanjutan dan modern untuk semua;
8. Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, Mempromosikan pertumbuhan
ekonomi yang kuat, inklusif dan berkelanjutan, lapangan pekerjaan yang lapang
dan produktif dan layak untuk semua;
9. Industri, inovasi dan infrastruktur, Membangun infrastruktur yang kuat,
menggalakkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan dan mendorong
inovasi;
10. Berkurangnya kesenjangan, Mengurangi ketidaksamaan dalam negara dan di antara
negara- negara;
11. Kota dan pemukiman yang berkelanjutan, Membuat kota dan pemukiman manusia
yang inklusif, aman, kuat dan berkelanjutan;
12. Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, Memastikan konsumsi dan pola
produksi yang berkelanjutan;
13. Penanganan perubahan iklim, Mengambil langkah mendesak untuk melawan
perubahan iklim dan dampaknya;
14. Ekosistem lautan, Melindungi dan menggunakan samudra, laut dan sumber daya
laut secara berkelanjutan untuk pembangunan berkelanjutan;
15. Ekosistem daratan, Melindungi, memulihkan dan menggalakkan penggunaan
ekosistem darat (terrestrial), pengelolaan hutan- hutan yang berkelanjutan,
melawan penggurunan, dan menghentikan dan merehabilitasi degradasi lahan serta
menghentikan kepunahan keanekaragaman hayati;
16. Perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh, Menggalakkan masyarakat
yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses
keadilan bagi semua dan membangun institusi- institusi yang efektif, bertanggung
jawab dan inklusif di semua tingkatan;
17. Kemitraan untuk mencapai tujuan. memperkuat cara implemenstasi dan revitalisasi
kerjasama global untuk pembangunan berkelanjutan. (Nations, 2015)
Berbagai dukungan terkait pelaksanaan agenda pembangunan banyak dikemukakan
oleh berbagai pihak. Mereka meyakini bahwa SDGs mempu mengurangi angka
kemiskinan dan menciptkan kesejahteraan dengan pembangunan yang
berkesinambungan dan berkelajutan. Antonio Guterres seketaris jendral PBB periode
2017-2021 mendukung penuh pelaksanaan SDGs yang telah menguraikan secara
universal, mengintegrasikan dan mentransformasikan cita-cita dunia menuju sebuah
kehidupan yang lebih baik (Hammill, 2009).
Agenda tersebut menjadi sebuah sebuah pijakan dari sebuah agenda pembangunan
baru yang dapat menata dunia ke dalam sebuah aksi untuk mengentaskan kemiskinan dan
menyejahterakan bumi dan planet. Tujuan-tujuan tersebut menjelaskan SDGs melibatkan
negara-negara unuk saling berkerja sama dalam mempromosikan martabat,
kesejahteraan, keadilan, kemakmuran bersama dan kesejahteraan agi semua orang serta
melindungi lingkungan (Pedersen, 2015).
G. Implikasi SDGs dengan Piagam Ottawa
a. Didalam SGDs pilar ke-1 yaitu People: SDGs hadir untuk memastikan bahwa semua
manusia terbebas dari kemiskinan, kelaparan, memiliki kedudukan yang setara dan
mendapatkan hak untuk hidup secara bermartabat. Kepala negara dan pemerintahan
yang menyepakati SDGs telah meneguhkan komitmen bersama untuk menghapuskan
kemiskinan, menghilangkan kelaparan, memperbaiki kualitas kesehatan,
meningkatkan pendidikan, dan mengurangi ketimpangan. Hal ini sesuai dengan
piagam Ottawa pilar ke-1 yaitu kebijakan berwawasan kesehatan (Health Public
Policy). Di Indonesia sendiri sudah terdapat undang-undang yang mengatur mengenai
kebijakan tersebut, contohnya saja adanya Peraturan Presiden Nomor 59 tahun 2017.
b. Dalam SGDs pilar ke-2 yaitu Planet, SDGs memiliki visi bahwa proses pembangunan
harus dapat menyejahterakan semua orang tanpa terkecuali, dengan tetap
memperhatikan kelestarian dan daya dukung lingkungan. Hal ini sesuai dengan pilar
ke 2 dari piagam Ottawa yaitu Lingkungan yang Mendukung (Supportive
Environment). Sehingga didalam SGDs itu sendiri terdapat indikator-indikator
penilaian mengenai lingkungan, yang mana indikator tersebut dapat digunakan dalam
penilaian mengenai kondisi lingkungan. Dengan adanya hasil penilaian tersebut dapat
digunakan dalam perencanaan pembangunan Negara. SDGs berupaya untuk
melindungi bumi dari dampak buruk akibat kegiatan manusia, seperti perubahan
lingkungan dan penggunaan sumber daya alam yang tak bertanggung jawab, sehingga
dapat memenuhi kebutuhan masa depan. Upaya pencapaian SDGs di Indonesia di
poin linkungan adalah tersedianya infrastruktur dasar secara penuh, yakni jalan, air
bersih, sanitasi layak dan permukiman yang terjangkau serta layak huni, merupakan
sebuah keharusan untuk mendukung kehidupan yang layak di daerah perdesaan dan
perkotaan.
c. Pada SDGs pilar ke-3 yaitu Prosperity: SDGs hadir untuk memastikan semua umat
manusia memiliki kehidupan yang sejahtera, berkecukupan dan dapat hidup secara
harmonis berdampingan dengan alam. Salah satu isu strategis yaitu terobosan untuk
menciptakan kesempatan kerja yang berkualitas bagi kaum muda. Dikarenakan
banyaknya penduduk usia muda (bonus demografi), pemanfaatan ICT harus
ditingkatkan, misalnya bisnis-bisnis berbasis aplikasi teknologi. Harapan dari
kesempatan kerja ini adalah terciptanya kesempatan kerja yang layak, peningkatan
pendapatan yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan. (Contoh pemanfaatan
ICT dalam berbagai kegiatan bisnis, sehingga masyarakat miskin dan yang
termarjinalkan juga mendapatkan manfaat). Dengan meningkatkan kesejahteraan
rakyat melalui penurunan tingkat kemiskinan akan membantu meningkatkan tingkat
kesehatan. Hal ini sesuai dengan pilar ke-3 piagam Ottawa yaitu reorientasi pelayanan
kesehatan (Reorient Health Service).
d. Pilar ke-4 SDGs yaitu Peace: tidak ada pembangunan berkelanjutan tanpa perdamaian
dan keamanan sosial, dan sebaliknya, tidak ada perdamaian dan keamanan sosial
tanpa pembangunan berkelanjutan. Masyarakat memiliki peran penting dalam
membentuk perdamaian tersebut. Sehingga, jika perdamaian tercapai maka
pembangunan akan berjalan. Sama hal-nya dengan piagam Ottawa pilar ke-4, yaitu
keterampilan individu (Personnel Skill), kesehatan masyarakat akan terwujud apabila
kesehatan individu, keluarga dan kelompok tersebut terwujud.
e. Dalam pilar ke-5 SDGs yaitu Partnership: keberhasilan pembangunan berkelanjutan
hanya dapat dicapai melalui kerja sama global yang erat dengan asas solidaritas yang
tinggi. Jadi, terdapat kerja sama antar Negara dalam pelaksanaannya, dan untuk
terwujudnya tujuan SDGs secara global. SDGs menjadi prinsip runutan yang sangat
strategis dalam pembangunan setiap negara-negara di dunia, termasuk Indonesia yang
merupakan negara dengan penduduk terbesar ke 4 dan ke 10 ekonomi terbesar di
dunia. Tugas berat ini tentunya tidak dapat dicapai tanpa adanya partnership global,
nasional, lokal dan juga akademisi. Hal ini sesuai dengan pilar ke-5 dari piagam
Ottawa yaitu Gerakan Masyarakat (Community Action). Adanya gerakan-gerakan
atau kegiatan-kegiatan di masyarakat yang mendukung kesehatan agar terwujud
perilaku yang kondusif dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.
H. Implikasi Ottawa Charter, SDGs dan RJPM/KN Kesehatan di Indonesia
a. Implikasi Ottawa Charter di Indonesia
Implikasi atau bentuk keterlibatan dari Ottawa Charter di Indonesia yaitu berupa
bentuk dukungan dalam bentuk kebijakan mengenai promosi kesehatan dengan tujuan
yaitu masyarakat mau dan mampu dalam meningkatkan derajat kesehatannya. Sebuah
langkah strategis yang tercantum pada piagam Ottawa Charter mampu berperan dalam
meningkatkan promosi kesehatan di Indonesia yaitu :
1) Membangun kebijakan publik yang sehat
2) menciptakan lingkungan yang mendukung
3) Memperkuat aksi masyarakat
4) mengembangkan keterampilan pribadi
5) reorientasi Layanan Kesehatan
b. Implikasi SDGs di Indoensia
Implikasi atau bentuk keterlibatan SDGs bagi kesehatan di Indonesia yaitu suatu
program yang dibuat oleh PBB yang didalamnya ada Indonesia yang merupakan
bagian negara yang aktif di PBB yang sangat mendukung SDGs. Program ini
memiliki tujuan yaitu pembangunan negara dalam jangka waktu panjang maupun
menengah. SDGs memiliki 17 tujuan yang salah satunya yaitu memastikan kehidupan
yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia. Pada tujuan
tersebut dapat dijadikan oleh Indonesia sebagai target pengembangan negara dalam
bidang kesehatan.
c. Implikasi RJPM/KN di Indonesia
Bentuk implikasi dari RJPM/KN bagi kesehatan di Indonesia yaitu merupakan
sebuah penjabaran dari visi misi program pembangunan kesehatan Indonesia.
RJPM/KN dapat diartikan sebagai tujuan dalam pembangunan kesehatan Indonesia
sehingga kedepannya untuk program kesehatan memiliki gerakan yang jelas dan
bertujuan baik untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia. Karena sudah
terbukti dengan berjalannya program ini tingkat kesehatan di Indonesia memiliki
kemajuan seperti mengecilnya jumlah tingkat penyakit menular.
I. Kesimpulan Tentang Situasi Kesehatan di Indonesia, dan Peran Perawat Dalam
Mendukung Kondisi Tersebut
a. Situasi Kesehatan di Indonesia
Sehat merupakan hak asasi setiap warga negara yang diatur dalam konstitusi
Indonesia. Tidak hanya sebagai hak, "sehat" menjadi kewajiban negara karena
sejatinya komponen tersebut merupakan investasi penting bagi suatu bangsa. Rakyat
yang sehat bukan hanya sehat fisik, melainkan juga sehat secara mental, sehat dalam
pergaulan sosial, dan tak lepas dari pembinaan aspek spiritual. Kini rakyat Indonesia
mengalami empat transisi masalah kesehatan yang memberikan dampak "double
burden" alias beban ganda. Keempat transisi tersebut adalah transisi demografi,
epidemiologi, gizi, dan transisi perilaku.
Transisi demografi ditandai dengan usia harapan hidup yang meningkat,
berakibat penduduk usia lanjut bertambah dan menjadi tantangan tersendiri bagi
sektor kesehatan karena meningkatnya kasus-kasus geriatri. Sementara itu, masalah
kesehatan klasik dari populasi penduduk yang bayi, balita, remaja, dan ibu hamil tetap
saja belum berkurang. Transisi epidemiologi datang dengan dua kelompok kasus
penyakit, yaitu penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit menular
seperti tuberkulosis, malaria, demam berdarah, diare, cacingan, hepatitis virus, dan
HIV tetap eksis dari tahun ke tahun. Di sisi lain, penyakit tidak menular yang
berlangsung kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, kencing manis, gagal ginjal,
stroke dan kanker, kasusnya makin banyak dan menyerap dana kesehatan dalam
jumlah yang tidak sedikit. Transisi ketiga terjadi pada sektor gizi. Di satu sisi kita
berhadapan dengan kasus penduduk gizi lebih (kegemukan/ obesitas), sementara
kasus gizi kurang masih tetap terjadi. Transisi keempat adalah pada pola perilaku
(gaya hidup). Perilaku hidup "modern", atau lebih tepatnya "sedentary" mulai menjadi
kebiasaan baru bagi masyarakat. Gaya hidup serba instan, termasuk dalam memilih
bahan pangan, dan kurang peduli aspek kesehatan, sementara sebagian yang lain
masih percaya mitos-mitos yang diwariskan berkaitan dengan sakit-sehatnya
seseorang. Dari keempat transisi tersebut, yang paling berat membebani kita saat ini
adalah peningkatan prevalensi penyakit tidak menular. Dulu, penyakit jantung,
pembuluh darah, gagal ginjal, stroke, hipertensi, kencing manis, kanker, dan lainlain
penyakit kronis akrab dengan populasi penduduk kaya. Kini, penduduk dengan
penghasilan menengah ke bawah juga sudah banyak yang mengalami sakit serupa.
Jika dirunut di mana masalahnya, akan kita temukan bahwa penyelamatan dan
pengelolaan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dimulai dari pembuahan
hingga anak berusia dua tahun, memiliki peran yang sangat besar. Setelah fase HPK
tersebut, akar penyebab ikutan yang makin memberatkan kita adalah "sedentary life
style" pola hidup yang tidak sehat akibat penerapan diet yang keliru dan rendahnya
aktivitas fisik. Langkah pencegahan dan penanggulangan masalah ini bisa kita mulai
sesegera mungkin. Adapun langkah-langkahnya adalah selamatkan 1.000 Hari
Pertama Kehidupan dan penerapan diet sehat serta aktivitas fisik yang teratur. Karena
itu, perlu ada gerakan bersama untuk dua hal ini, gerakan masyarakat sadar gizi dan
gerakan masyarakat sadar olahraga.
Guru besar administrasi kesehatan dari Universitas Berkeley Henrik L Blum
menyatakan bahwa ada empat faktor yang memengaruhi status kesehatan
manusia/rakyat, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan
genetik/keturunan. Secara sederhana, Hodgetts dan Cascio membagi dua pelayanan
kesehatan, yaitu pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan
perorangan. Pelayanan kesehatan masyarakat dilaksanakan oleh ahli kesehatan
masyarakat, dengan perhatian utama pada upaya memelihara kesehatan rakyat dan
mencegah penyakit. Sasaran utama layanan kesehatan masyarakat adalah kelompok
atau masyarakat secara keseluruhan dan selalu berupaya mencari cara yang efisien.
Pelayanan kesehatan berikutnya adalah layanan kesehatan perorangan yang
tenaga pelaksana utamanya adalah dokter, dengan perhatian utama pada
penyembuhan dan pemulihan penyakit. Sasaran utama adalah perorangan dan
keluarga. Jenis layanan ini menurut Hodgetts dan Cascio kurang memperhatikan
aspek efisiensi. Untuk Indonesia, pelayanan kedokteran (kesehatan perorangan)
masuk dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dari segi kuantitas, dokter umum
per 17 November 2015 (Data KKI) sebanyak 108.028 dokter umum yang memiliki
STR saat ini mestinya cukup untuk melayani 152.721.329 peserta JKN. Faktor
distribusi dokter yang kurang baik kemudian menjadi catatan tersendiri sehingga
sebagian peserta JKN terutama di daerah pedalaman, kepulauan, dan perbatasan,
menjadi sulit mendapatkan akses ke dokter. Terjadi penumpukan dokter di kota dan
daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi karena pendapatan dokter sekitar 80%
dari praktik pribadi. Sekalipun memang dalam era JKN pendapatan dari praktik
pribadi pelan-pelan berkurang/menghilang. Aspek ini tidak bisa tidak harus
diperhitungkan bila ingin menata persebaran dokter. Jumlah dan kondisi puskesmas
saat ini ada 9.799. Persebarannya tidak seimbang dengan jumlah dokter umum dan
pertambahan dokter sekitar 5.000 orang per tahun profesional dokter per tahun.
Akibatnya, BPJS sebagai pelaksana JKN belum dapat mengandalkan seluruh
puskesmas tersebut sebagai ujung tombak pelayanan.
Saat ini, setelah hampir dua tahun JKN berjalan, dokter umum yang
ditempatkan pada garda terdepan pelayanan kesehatan masih dibayar lebih rendah
dari kepantasan dan beban kerja, serta tidak mempunyai kepastian pendapatan. Model
pembayaran kapitasi yang besarannya kurang layak menjadikan dokter (terutama
yang bukan PNS) berada dalam kekhawatiran beban finansial yang cukup
mengganggu. Hal ini secara tidak langsung berpotensi menyebabkan berkurangnya
kualitas pelayanan yang dapat merugikan pasien. Tahun 2015 ini Ikatan Dokter
Indonesia (IDI) kembali bermuktamar dan menawarkan konsep pelayanan kesehatan
terstruktur yang merata dan berkeadilan untuk mengurai sebagian dari masalah
kesehatan dalam era JKN sekarang ini. Disebutkan bahwa pelayanan kesehatan baik
kesehatan masyarakat maupun kesehatan per orangan (kedokteran) hanyalah memiliki
kontribusi 15% dalam meningkatkan derajat kesehatan penduduk. Memang boleh
dikatakan sangat kecil, namun bila tanggung jawab ini dilaksanakan dengan
sebaikbaiknya tentu memiliki makna yang sangat berarti. Bagian yang lebih besar lagi
merupakan tanggung jawab sektor di luar pelayanan kesehatan dan pelayanan
kedokteran. Karena itu ke depan Indonesia perlu merumuskan sistem kesehatan
nasional (SKN) yang mengintegrasikan sektor-sektor lain di luar kesehatan, yang
diyakini mempunyai pengaruh besar dalam meningkatkan derajat kesehatan rakyat
Indonesia.
b. Peran Perawat Dalam Mendukung Kondisi Kesehatan di Indonesia
Perawat merupakan armada terbesar dalam pelayanan keperawatan namun
besarnya kuantitas ini belum di imbangi dengan kualitas pelayanan keperawatan yang
baik, potensi dan SDM perawat tidak begitu terlihat, standarisasi kewenangan perawat
yang belum tertata rapi, lemahnya regulasi yang mengikat, belum adanyasistem
penghargaaan dan pengembangan bagi keperawatan yang jelas, minimnya pengakuan
terhadap keperawatan baik dari profesi lain maupun masyarakat. Profesionalisme
perawat di Indonesia belum terbangun, padahal di negara lain penghargaan terhadap
profesi ini sangat tinggi. Apabila potensi ini dimanfaatkan dengan baik maka perawat
akan menjadi garda terdepan dalam peningkatan derajat kesehatan di indonesia.
Terlalu banyak permasalahan di dalam keperawatan yang harus dibenahi segera oleh
bangsa ini. Artikel ini akan mencoba menganalisis mengapa potensi besar perawat ini
tidak bisa di manfaatkan dengan baik dan bagaimana penyelesaiannya melalui
pendekatan kebijakan publik. Dengan harapan kompleksitas masalah keperawatan
dapat di atasi.
Situasi yang berlangsung saat ini, kompetensi perawat masih diragukan oleh
beberapa pihak. Banyak perawat yang belum kompeten melakukan tugasnya,
misalnya saja hanya sedikit sekali perawat yang mampu menghafal sedikitnya 8
asuhan keperawatan di luar kepala apalagi menerapkannya, padahal asuhan
keperawatan merupakan inti dari pelayanan keperawatan. Untuk meningkatkan
kompetensi perawat ini maka perlu adanya koordinasi antara pendidikan dengan
praktik di pelayanan, sehingga ada sinkronisasi antara pendidikan dengan kebutuhan
tenaga yang dibutuhkan saat ini, kemudian Proses penarikan perawat dari fresh
graduate perlu dipertimbangkan kualitasnya. sehingga kualifikasinya sesuai dengan
tenaga yang dibutuhkan. Selain itu standar kompetensi wajib untuk menjamin lulusan
agar mempunyai kemampuan yang tepat, maka diperlukan uji kompetensi bagi
perawat. Uji kompetensi ini akan menyeleksi perawat-perawat yang kompeten dan
yang tidak kompeten, sehingga perawat yang tidak kompeten akan meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilannya. Standar kompetensi ini akan menjadi tanggung
jawab bagi konsil maupun asosiasi yang ada karena itu di perlukan adanya konsil
keperawatan. Kompetensi ini akan menjadi landasan/pondasi bagi lulusan untuk
memberikan pelayanan yang baik.
Peningkatan kualitas pelayanan keperawatan juga harus sejalan dengan adanya
sistem pendidikan berkelanjutan yaitu pendidikan berlanjut setelah pendidikan
profesional pra pelayanan. Perawat profesional harus melanjutkan pendidikan dengan
sasaran menjadi mampu memberikan asuhan keperawatan efektif yang paling baru
sehingga nantinya yang paling banyak mendominasi di pelayanan adalah perawat
lulusan SI. Selain itu perawat jugadiharapkan mempunyai skill mix kompetensi
(kombinasi dengan tim kesehatan lain).Apilkasinya adalah adanya kerja sama antara
dokter, perawat, tenaga kesehatan lain dan tenaga penunjang lainnya. Skill mix
kompetensi ini belum berjalan maksimal di indonesia sehingga perlu adanya prosedur
dan peraturan yang jelas mengatur kewenangan dan kompetensi yang dibutuhkan
untuk efektifnya skill mix.
Perawat adalah suatu profesi yang sangat mulia, sebuah profesi yang di tuntut
harus bekerja semaksimal mungkin untuk bangsa ini dengan regulasi seadanya alias
belum adanya regulasi/peraturan yang mengatur dengan jelas tentang profesi tersebut,
padahal ciri-ciri sebuah profesi adalah berhak mengatur profesinya sendiri. Yang
terjadi di indonesia saat ini, profesi keperawatan di atur oleh pihak-pihak yang tidak
mengerti tentang keperawatan itu sendiri, sehingga apa yang di atur tidak sesuai
dengan profesi keperawatan. Selain itu kesejahteraan perawat perlu di tingkatkan
untuk memberikan pelayanan yang memuaskan bagi masyarakat, salah satu contoh
dari tidak adanya regulasi yang jelas terhadap profesi perawat adalah banyak perawat
yang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan wewenangnya, sehingga menjadi
terlupakan dengan asuhan keperawatan yang seharusnya dilakukan sehingga dampak
dari asuhan keperawatan tidak di rasakan langsung oleh masyarakat dan hal ini ber
imbas kepada minimnya pengakuan dari masyarakat terhadap keperawatan. Disisi lain
perawat yang melakukan tindakan yang bukan menjadi wewenangnya akan sangat
berbahaya bagi masyarakat maupun perawat itu sendiri, karena itu perlu adanya
regulasi yang jelas bagi profesi tersebut. Regulasi tersebut akan mengatur dan
memacu perkembangan keperawatan (pendidikan, penelitian dan pelayanan
keperawatan) yang sangat pesat.
Pengembangan pelayanan kesehatan sangat di tentukan oleh kebijakan
kesehatan yang dibuat oleh pemerintah. Pada kenyataannya belum ada produk
kebijakan kesehatan untuk tenaga keperawatan dan perawat tidak ikut terlibat dalam
membuat kebijakan tersebut padahal jumlah perawat yang sangat besar merupakan
potensi yang besar dalam pengembangan pelayanan kesehatan di indonesia.
Keterlibatan perawat dalam perumusan kebijakan dan perencanaan program kesehatan
secara nasional sangat penting karena semua kebijakan kesehatan dan program
sumber daya manusia kesehatan secara langsung akan mempengaruhi perawat,
keterlibatan perawat membantu percepatan perkembangan profesi keperawatan,
termasuk kapasitas dalam bekerjasama secara konstruktif dalam sistem kesehatan
nasional. Upaya peningkatan pelayanan kesehatan akan dimulai dari bagaimana
perawat dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan baik secara nasional maupun
di Rumah Sakit.
Inti dari semua permasalahan diatas adalah di perlukannya suatu kebijakan dan
peraturan. untuk membuat kebijakan maka yang di perlukan pertama sekali adalah
data/bukti (evidence base). Bukti akan menjadi alat yang penting untuk melakukan
atau mengambil sebuah keputusan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah,
selanjutnya agar kebijakan ini semakin mudah untuk di realisasikan maka perlu
adanya pendekatan elit yang merujuk kepada suatu kenyataan bahwa kelompok atas
yang relatif sedikit akan selalu memiliki kekuasaan lebih untuk mengatur kelompok
bawah yang relatif banyak yang akan mencerminkan kehendak dan nilai-nilai,
misalnya nilai politik, kelompok, golongan, partai, nilai-nilai organisasi,birokrat,nilai-
nilai pribadi dan lain-lain. selanjutnya pendekatan kelembagaan dimana dalam model
kelembagaan sebuah kebijakan publik diambil, dilaksanakan, dan dipaksakan secara
otoritatif oleh lembaga yang ada dalam pemerintahan, misalnya parlemen,
kepresidenan, pemerintah daerah dan sebagainya yang memiliki beberapa
karakteristik yaitu pemerintah mampu memberikan legitimasi atas kebijakan yang
dikeluarkan, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah mampu bersifat universal
terakhir adalah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah mampu memonopoli paksa
semua masyarakat dalam artian mampu menjatuhkan sanksi bagi pelanggar kebijakan.
Hal lain yang perlu dilakukan adalah membangun jejaring kebijakan dengan
melakukan pendekatan advokasi agar kebijakan publik dapat di terima dan di dukung
kuat oleh berbagai pihak caranya dengan melakukan pemahaman dan pengetahuan
yang mendalam tentang pihak-pihak yang berkaitan, kemudian pendekatan negosiasi
dimana pengambilan kebijakan publik harus mampu berkomunikasi dan melakukan
bergaining dengan aktor-aktor lain dalam proses pembuatan keputusan, pendekatan
deliberasi publik, pendekatan ini meyakini dan menyarankan perlunya perlibatan
publik yang lebih luas baik struktur formal maupun di luar struktur formal.
Keperawatan adalah sebuah profesi yang apabila di optimalkan maka akan
membawa pengaruh yang besar terhadap peningkatan derajat kesehatan bangsa. untuk
mengoptimalkan tenaga keperawatan ini di perlukan suatu peraturan ataupun
kebijakan yang jelas tentang profesi keperawatan dan perlu melibatkan perawat dalam
membuat kebijakan itu sendiri. sehingga kebijakan itu sendiri dapat di jadikan sebagai
dasar dalam pengembangan keperawatan yang akan berdampak pada perkembangan
kesehatan di indonesia. karena itu pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap
kebijakan sejauh mana kebijakan tersebut dapat membawa perubahan terhadap
masyarakat dan keperawatan, melibatkan perawat dalam membuat kebijakan
kesehatan dan segera mengesahkan UU keperawatan dimana UU keperawatan ini
tidak hanya penting bagi perawat tetapi juga bagi masyarakat banyak.
DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Donny., H. Santono. Peraturan Presiden 59/2017: Apresiasi dan Beberapa Catatan.
Diakses pada 23 Maret 2019 dari Sustainable Development Goals
https://www.sdg2030indonesia.org/an-component/media/upload-book/Perpres_59-
2017_-_Sebuah_Apresiasi_dan_Beberapa_Catatan.pdf

Effendi, F., Makhfudli., 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Indeks Pembanguna Kesehatan


Masyarakat.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. GERMAS Wujudkan Indonesia Sehat.


Dikutip 23 Maret 2019 dari
http://www.depkes.go.id/article/view/16111500002/germas-wujudkan-indonesia-
sehat.html

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Keterkaitan SPM Bidang Kesehatan,


Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga dan Gerakan Masyarakat
Hidup Sehat. Diakses pada 23 Maret 2019 dari
http://www.depkes.go.id/resources/download/info-
terkini/rakerkesnas2017/materi_paparan_pembahasan_isu_strategis_rakerkesnas_20
17

Kementerian Kesehatan RI Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.


2017. GERMAS - Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Jakarta Selatan

Kementerian Kesehatan RI. 2017. Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga.
Diakses pada 22 Maret 2019 dari
http://www.depkes.go.id/article/view/17070700004/program-indonesia-sehat-
dengan-pendekatan-keluarga.html

Kementerian Kesehatan RI. 2018. Bersama Selesaikan Masalah Kesehatan. Diakses pada 23
Maret 2019 dari http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=18012900004

Panuluh, Sekar., R. Fitri. 2016. Perkembangan Pelaksanaan Sustainable Development Goals


(SDGs) di IndonesiaSeptember 2015-September 2016. Diakses pada 23 Maret 2019
dari Infid https://www.sdg2030indonesia.org/an-component/media/upload-
book/Briefing_paper_No_1_SDGS_-2016-Meila_Sekar.pdf

Peraturan Presiden Republik Indonesia No 59 Tahun 2017 Tentang Pelaksanan Pencapaian


Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Diakses pada 23 Maret 2019 dari Sustainable
Development Goals https://www.sdg2030indonesia.org/an-component/media/upload-
book/A_Perpres_Nomor_59_Tahun_2017.pdf
Thompson, S.R, dkk. 2018. The Ottawa Charter 30 years on: still an important standard for
health promotion. International Journal of Health Promotion and Education, 56:2,
73-84, DOI: 10.1080/14635240.2017.1415765.
Universitas Indonesia. 2017. Menkes Jelaskan Kondisi Dunia Kesehatan Indonesia kepada
Mahasiswa Baru UI. Diakses pada 23 Maret 2019 dari
http://www.ui.ac.id/berita/menkes-jelaskan-kondisi-dunia-kesehatan-indonesia-
kepada-mahasiswa-baru-ui.html

Z, Arianto. 2018. Intregasi Nawacita dan Sustainable Development Goals dalam


Perencanaan Pembangunan. Makalah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.