Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DIAGNOSA


MEDIS FRAKTUR FEMUR DI RUANG BEDAH GLADIOL
RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

Oleh :
Merry Noviyanti 131711133146

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq serta
hidayahNya, sehingga saya bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “ASUHAN
KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS FRAKTUR FEMUR”.
Dalam penyusunan makalah ini tidak mungkin terselesaikan dengan baik tanpa adanya
dukungan dan bantuan dari beberapa pihak terkait. Untuk itu saya mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna.
Namun, saya berharap makalah ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang
membutuhkannya. Semoga ilmu dalam makalah ini dapat diambil manfaatnya sehingga
dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca.

Surabaya, 11 Juni 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................................. i


Kata Pengantar................................................................................................................ ii
Daftar Isi ........................................................................................................................ iii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Tujuan ....................................................................................................... 2
1.3 Manfaat .................................................................................................... 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 3
2.1 Definisi ..................................................................................................... 3
2.2 Etiologi .................................................................................................... 3
2.3 Klasifikasi ................................................................................................. 4
2.4 Patofisiologi .............................................................................................. 6
2.5 Manifestasi Klinis .................................................................................... 7
2.6 Pemeriksaan Penunjang ........................................................................... 8
2.7 Penataksanaan ........................................................................................ 10
2.8 Komplikasi ............................................................................................ 10
2.9 Web of Caution ...................................................................................... 11
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN .......................................................................... 18
3.1 Asuhan Keperawatan Umum .................................................................... 18
BAB 4 KESIMPULAN .............................................................................................. 24
LAMPIRAN ............................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 26

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat
tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).
Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan
olah-raga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Sedangkan pada orang tua, wanita lebih
sering mengalami fraktur daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait dengan
perubahan hormon pada monopouse.
Fraktur merupakan salah satu cedera yang paling sering terjadi di Indonesia, disebabkan karena kecelakaan lalulintas atau
jatuh dari ketinggian, yang paling banyak menyumbang terjadinya fraktur adalah kecelakaan lalulintas. Kecelakaan lalulintas
merupakan pembunuh nomer 3 di Indonesia, hal ini dapat dibuktikan dari data Menurut National Consultant for Injury dari WHO
Indonesia ( dikutip dari data kepolisian RI) terdapat kecelakaan selama tahun 2007 memakan korban sekitar 16.000 jiwa dan di
tahun 2010 meningkat menjadi 31.234 jiwa di Indonesia. Dampak fraktur yang akan ditimbulkan selain kematian karna
kecelakaan dapat juga menimbulkan dampak lain yaitu terjadinya trauma kepala, dan kecacatan. Tingginya angka kecelakaan
menyebabkan angka kejadian atau fraktur tinggi, dan salah satu fraktur yang paling sering adalah fraktur femur, yang termasuk
dalam kelompok tiga besar kasus fraktur yang disebabkan karena benturan dengan tenaga yang tinggi( kuat) seperti kecelakaan
sepada motor atau mobil (Oktavia, 2010).

1
Menurut Jitowiyono (2010) fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat truma
langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian). Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak,
mengakibatkan penderita jatuh dalam syok.
Penatalaksanaan fraktur femur ini adalah reduksi fraktur yakni mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan
rotasi anatomis. Reduksi femur terbagi menjadi reduksi tertutup, traksi dan reduksi terbuka. Tindakan imobilisasi dilakukan setelah
reduksi dengan tujuan mempertahankan reduksi sampai terjadi penyembuhan. Rehabilitasi dimaksudkan untuk mempertahankan
dan mengembalikan fungsi setelah dilakukan reduksi dan imobilisasi.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Makalah ini menjelaskan secara rinci tentang teori konseptual mengenai Fraktur Femur dan bagaimana cara memberikan
penatalaksaan yang cepat dan tepat, serta pembaca diharapkan memahami dan menerapkan asuhan keperawatan pada kasus
Fraktur Femur secara komprehensif.
1.2.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu
1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi Femur
2. Menjelaskan definisi dari fraktur femur.
3. Menjelaskan etiologi dari fraktur femur.
4. Menjelaskan klasifikasi fraktur femur.
5. Menjelaskan patofisiologi dari fraktur femur.

2
6. Menjelaskan manifestasi klinis dari fraktur femur
7. Menjelaskan pemeriksaan diagnostik dari fraktur femur
8. Menjelaskan penatalaksanaan dari fraktur femur
9. Menjelaskan komplikasi fraktur femur
10. Menjelaskan web of cautation dari fraktur femur

1.3 Manfaat
Mahasiswa mampu mengetahui tentang asuhan keperawatan Fraktur Femur sehingga perawat akan lebih peka dan teliti dalam
mengumpulkan data pengkajian awal dan menganalisa suatu respon tubuh pasien terhadap penyakit, sehingga Fraktur Femur tidak
semakin berat.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang sendi, tulang rawan epifisis, yang bersifat total maupun parsial.
Fraktur adalah patah tulang yang disebakan oleh trauma atau tenaga fisik ( Helmi, Zairin Noor, 2012 ). Fraktur femur atau patah
tulang paha adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan pleh trauma langsung, kelelahan otot, dan
kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang atau osteoporosis.
Menurut Jitowiyono (2010) fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat truma
langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian). Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak,
mengakibatkan penderita jatuh dalam syok.

3
2.2 Etiologi
Secara umum penyebab fraktur dapat dibagi manjadi dua macam:
1. Penyebab Ekstrinsik
a. Gangguan langsung: trauma yang merupakan penyebab utama terjadinya fraktur misalnya tertabrak, jatuh dari ketinggian.
Biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah trokhanter mayor langsung terbentur dengan benda keras
(jalanan).
b. Gangguan tidak langsung: bending, perputaran, kompresi.
2. Penyebab Intrinsik
a. Kontraksi dari otot yang menyebabkan avulsion fraktur.
b. Fraktur patologis: penyakit iskemik seperti neoplasia, cyste tulang, rickettsia, osteoporosis, hiperparatiroid, osteomalacia.
c. Tekanan berulang yang dapat menyebabkan fraktur.
Sedangkan menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh:
a. Cedera langsung yaitu pukulan langsung pada tulang yang menyebabkan tulang patah secara spontan, biasanya dengan
karakteristik fraktur melintang dan terjadi kerusakan kulit yang melapisinya.
b. Cedera tidak langsung yaitu pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan menjulur dan
menyebabkan fraktur klavikula.
c. Fraktur yang disebabkan kontraksi keras secara mendadak dari otot yang kuat.
2. Fraktur Patologik

4
Kerusakan tulang disebabkan oleh proses penyakit dimana trauma minor dapat mengakibatkan fraktur, dapat terjadi pada
berbagai keadaan berikut:
a. Tumor tulang (jinak atau ganas), pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif.
b. Infeksi seperti osteomielitis, dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang
progresif, lambat dan sakit nyeri.
c. Rakhitis, suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh difisiensi vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain,
biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi vitamin D atau oleh
karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
3.Secara spontan
Fraktur tulang disebabkan oleh stress tulang yang terjadi secara terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang
yang bertugas di kemiliteran.

2.3 Klasifikasi Fraktur Femur


a. Fraktur Collum Femur
Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana
daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung
yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah, dibagi dalam :
1. Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur)
2. Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)
b. Fraktur Subtrochanter Femur

5
Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang
lebih sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu :
1. tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor
2. tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor
3. tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor
c. Fraktur Batang Femur (Dewasa)
Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalulintas dikota kota besar atau jatuh dari
ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam
shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang
patah. Dibagi menjadi :
1. Tertutup
2. Terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah dengan dunia luar dibagi dalam tiga
derajat, yaitu ;
- Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari
dalam menembus keluar.
- Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dariluar.
- Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh
darah)
d. Fraktur Supracondyler Femur

6
Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya
tarikan dari otot – otot gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan
tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi.
e. Fraktur Intercondylair
Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umumnyaterjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur.
f. Fraktur Condyler Femur
Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas.

2.4 Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan (Apley, A. Graham,
1993). Fraktur biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan
jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi
apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang. Fraktur terjadi
apabila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang ada 2 faktor yang
mempengaruhi terjadinya frakturnya itu ekstrinsik (meliputi kecepatan, sedangkan durasi trauma yang mengenai tulang, arah, dan
kekuatan), sedangkan intrinsik meliputi kapasitas tulang mengabsorbsi energi trauma, kelenturan, kekuatan adanya densitas tulang-
tulang yang dapat menyebabkan terjadinya patah tulang bermacam-macam, misalnya trauma langsung dan tidak langsung, akibat
keadaan patologi secara spontan (Sylvia, et al., 2005).
Apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan

7
pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang
patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi
plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. ini merupakan dasar penyembuhan tulang (Black, J.M, et al, 1993).

2.5 Manifestasi Klinis


Menurut Black (1993) manifestasi klinis dari fraktur femur yaitu:
1. Deformitas: daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan
kontur terjadi seperti:
a. Rotasi pemendekan tulang
b. Penekanan tulang
2. Bengkak: edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur.
3. Echimosis dari perdarahan Subculaneous.
4. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur.
5. Tenderness/keempukan.
6. Nyeri: kemungkinan disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang
berdekatan.
7. Kehilangan sensasi (matirasa, mungkin terjadi dari rusaknya syaraf/perdarahan).
8. Pergerakan abnormal.
9. Dari hilangnya darah.

8
10. Krepitasi
Menurut Smeltzer & Bare (2002) manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan
ekstremitas, krepitasi, pembengkakan lokal dan perubahan warna.
1. Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur
merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas ekstremitas, yang bisa diketahui dengan
membandingkan dengan ekstremitas yang normal. Ektremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot
bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
3. Pemendekan tulang karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur. Bagian paha yang patah lebih
pendek dan lebih besar dibanding dengan normal serta fragmendistal dalam posisi eksorotasi dan aduksi.
4. Krepitasi (derik tulang) yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.
6. Nyeri hebat di tempat fraktur.
7. Rotasi luar dari kaki lebih pendek.

2.6 Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk
mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA

9
dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan patologi yang
dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan
penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan.
1. Tomografi
Menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini
ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga
mengalaminya.
2. Myelografi
Menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami
kerusakan akibat trauma.
3. Arthrografi
Menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.
4. Computed Tomografi-Scannin
Menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.
b. Pemeriksaan Laboratorium
1. Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
2. Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
3. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang
meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
4. Pemeriksaan lain-lain

10
a. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.
b. Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila
terjadi infeksi.
c. Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.
d. Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan.
e. Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.
f. MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur

2.7 Penatalaksanaan
2.7.1 Reduksi fraktur, berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis
a. Reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya dengan manipulasi dan traksi manual.
b. Traksi digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot
yang terjadi.
c. Reduksi terbuka, dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat,
sekrup, plat, paku atau batangan logam yang dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya
sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.
2.7.2 Imobilisasi fraktur, mempertahankan reduksi sampai terjadi penyembuhan. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus
diimobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai trejadi penyatuan. Metode fiksasi
eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin, dan teknik gips atau fiksator eksterna. Sedangkan fiksasi
interna dapat digunakan implant logam yang dapat berperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur.

11
2.7.3 Rehabilitasi, mempertahankan dan mengembalikan fungsi setelah dilakukan reduksi dan imobilisasi.

2.8 Komplikasi
Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok yang berakibat fatal dalam beberapa jam setelah cedera, emboli lemak, yang
dapat terjadi dalam 48 jam atau lebih, dan sindrom kompartemen, yang berakibat kehilangan fungsi ekstremitas permanent jika
tidak ditangani segera.komplikasi lainnya adalah infeksi, tromboemboli yang dapat menyebabkan kematian beberapa minggu
setelah cedera dan koagulopati intravaskuler diseminata (KID).
Syok hipovolemik atau traumatik, akibat pendarahan (baik kehilangan darah eksterna maupun tak kelihatan ) dan kehilangan
cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak dapat terjadi pada fraktur ekstremitas, toraks, pelvis,dan vertebra karena tulang merupakan
organ yang sangat vaskuler, maka dapaler terjadi kehilangan darah dalam jumlah yang besar sebagai akibat trauma,khususnya pada
fraktur femur pelvis.
Penanganan meliputi mempertahankan volume darah,mengurangi nyeri yang diderita pasien, memasang pembebatan yang
memadai, dan melindungi pasien dari cedera lebih lanjut.
Sindrom Emboli Lemak. Setelah terjadi fraktur panjang atau pelvis,fraktur multiple,atau cidera remuk dapat terjadi emboli
lemak, khususnya pada dewasa muda 20-30th pria pada saat terjadi fraktur globula lemat dapat termasuk ke dalam darah karma
tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karma katekolamin yang di lepaskan oleh reaksi setres pasien akan
memobilitasi asam lemak dan memudahkan terjadiya globula lemak dalam aliran darah. Globula lemak akan bergabung
dengan trombosit membentuk emboli, yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil yang memasok otak, paru, ginjal dan
organ lain awitan dan gejalanya, yang sangat cepat, dapat terjadi dari beberapa jam sampai satu minggu setelah cidera gambaran
khansya berupa hipoksia, takipnea, takikardia, dan pireksia.

12
2.9 Web Of Caution (TERLAMPIR)

13
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Asuhan Keperawatan Secara Umum


A. Pengkajian
1. Anamnesa
a. Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan,pekerjaan,
asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
b. Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung
dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
1. Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri.
2. Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau
menusuk.
3. Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit
terjadi.
4. Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien
menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
5. Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakahbertambah buruk pada malam hari atau siang hari.

14
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat
rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan
kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan
bisa diketahui luka kecelakaan yang lain .
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut
akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan raktur
patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya
osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya
fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung
diturunkan secara genetik.
f. Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat
serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat .
2. Pemeriksaan Fisik
a. Gambaran Umum
1. Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:

15
a. Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien.
b. Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
c. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
2. Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
a. Sistem Integumen: Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan.
b. Kepala: Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
c. Leher: Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada.
d. Muka: Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris,
tak oedema.
e. Mata: Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan)
f. Telinga: Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan.
g. Hidung: Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
h. Mulut dan Faring: Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
i. Thoraks: Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
j. Paru
1. Inspeksi: Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang
berhubungan dengan paru.
2. Palpasi: Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
3. Perkusi: Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
4. Auskultasi: Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.

16
k. Jantung
1. Inspeksi: Tidak tampak iktus jantung.
2. Palpasi: Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
3. Auskultasi: Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
l. Abdomen
1. Inspeksi: Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
2. Palpasi: Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
3. Perkusi: Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
4. Auskultasi: Peristaltik usus normal ± 20 kali/menit.
m. Inguinal-Genetalia-Anus: Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.
b. Keadaan Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler (untuk status
neurovaskuler _ 5 P yaitu Pain, Palor, Parestesia, Pulse, Pergerakan). Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah:
1. Look (inspeksi); Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
a. Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).
b. Cape au lait spot (birth mark).
c. Fistulae.
d. Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
e. Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal).
f. Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)

17
g. Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
2. Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada
dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.Yang perlu
dicatat adalah:
a. Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. Capillary refill time Normal 3– 5 “
b. Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian.
c. Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal, tengah, atau distal). Otot: tonus pada
waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga
diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya,
konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.
d. Move (pergerakan terutama lingkup gerak. Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan
menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak
ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran
derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini
menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan
pasif.

B. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang lazim dijumpai pada klien fraktur adalah sebagai berikut.

18
1. Gangguan Mobilitas Fisik b.d gangguan neuromuskular, nyeri d.d rantang gerak (ROM) menurun

C. Intervensi Keperawatan

ASKEP DENGAN MASALAH GANGGUAN MOBILITAS FISIK

No. Diagnosa Tujuan dan Intervensi Implementasi Evaluasi Paraf


Keperawatan Kriteria
Hasil
1. Gangguan Mobilitas Tujuan : setelah Dukungan 11/  Identifikasi S : Klien
dilakukan
Fisik b.d Mobilisasi j adanya mengatakan
tindakan
gangguan keperawat (I.05173) u nyeri atau nyeri saat
an selama
neuromuskular, Observasi: n keluhan bergerak
...x24jam
nyeri d.d rantang diharapka  Identifik i fisik dantidak
n
gerak (ROM) asi / lainnya cemas lagi
kemampu
menurun an adanya 2  Identifikasi O : Klien sudah

19
mobilitas nyeri 0 toleransi dapat duduk
fisik
atau 1 fisik sendiri
meningkat
. keluhan 9 melakukan ditempat
Mobilitas
fisik / pergerakan tidur (tanpa
Fisik
lainnya j  Monitor dibantu)
(L.050
 Identifik a kondisi A : Masalah
42)
asi m umum Teratsi
 Pergeraka
toleransi selama P : Intervensi
n
fisik 1 melakukan dihentikan
ekstremita
melakuk 3 mobilisasi
s
an .  Fasilitasi
meningka
pergerak 0 aktivitas
t (5)
an 0 mobilisasi
 Rentang
 Monitor dengan alat
Gerak
kondisi bantu (mis.
(ROM)
umum Panggar
meningka
selama tempat
t (5)
melakuk tidur)
 Nyeri, an  Fasilitasi
menurun mobilisa melakukan

20
(5) si pergerakan
 KecemasaTerapeutik :  Libatkan
n,  Fasilitasi keluarga
menurun aktivitas untuk
(5) mobilisa membantu
 Gerakan si dengan pasien
terbatas, alat dalam
menurun bantu meningkatk
(5) (mis. an
Panggar pergerakan
tempat  Jelaskan
tidur) tujuan dan
 Fasilitasi prosedur
melakuk mobilisasi
an  Anjurkan
pergerak melakukan
an mobilisasi
 Libatkan dini
keluarga  Ajarkan
untuk mobilisasi

21
membant sederhana
u pasien yang harus
dalam dilakukan
meningk (mis.
atkan Duduk
pergerak ditempat
an tidur)
Edukasi :
 Jelaskan
tujuan
dan
prosedur
mobilisa
si
 Anjurkan
melakuk
an
mobilisa
si dini
 Ajarkan

22
mobilisa
si
sederhan
a yang
harus
dilakuka
n (mis.
Duduk
ditempat
tidur)

23
24
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Menurut Jitowiyono (2010) fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat truma
langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian). Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak,
mengakibatkan penderita jatuh dalam syok.
Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu yang pertama cedera traumatic pada tulang
yang dibedakan menjadi cedera langsung dan tidak langsung serta kontraksi keras secara mendadak dari otot yang kuat. Kedua
disebabkan karena fraktur patologik yakni kerusakan tulang disebabkan oleh proses penyakit dimana trauma minor dapat
mengakibatkan fraktur dan yang ke tiga secara spontan oleh stress tulang yang terjadi secara terus menerus misalnya pada penyakit
polio dan orang yang bertugas di kemiliteran.
Penatalaksanaan fraktur femur ini adalah reduksi fraktur yakni mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan
rotasi anatomis. Reduksi femur terbagi menjadi reduksi tertutup, traksi dan reduksi terbuka. Tindakan imobilisasi dilakukan setelah
reduksi dengan tujuan mempertahankan reduksi sampai terjadi penyembuhan. Rehabilitasi dimaksudkan untuk mempertahankan
dan mengembalikan fungsi setelah dilakukan reduksi dan imobilisasi.

25
LAMPIRAN
WEB OF CAUTION

Etiologi

Trauma (langsung atau tidak langsung),


patologi

Fraktur (terbuka atau


tertutup)

Kehilangan Peubahan fragmen Fraktur terbuka


integritas tulang, kerusakan ujung tulang
tulang pada jaringan, dan menembus otot
pembulu darah dan kulit
Ketidakstabilan
posisi fraktur, Perdarahan Luka
apabila organ lokal
fraktur digerakkan Hematoma MK:
Fragmen tulang pada daerah Gangguan
yang patah fraktur Integritas
menusuk organ MK: Resiko Kulit
Kuman
sekitar Syok mudah masuk
MK: Nyeri Hipovolemik
Akut Aliran darah ke MK:
distal berkurang Resiko
atau terhambat Infeksi 26

Warna jaringan
pucat, nadi
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Muttaqin. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC
Doenges, dkk, (2005). Rencana asuhan keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta
: Penerbit Buku kedokteran EGC
Price & Wilson, (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyaki. Volume 2. Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran
EGC
Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses - proses penyakit Volume 2. Edisi 6. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Smeltzer, S. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner Suddarth. Volume 2 Edisi 8. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran
EGC

27