Anda di halaman 1dari 1

Bidang keperawatan dengan suatu focus

pada penyakit yang kritis atau pasien tidak


stabil. ILMU PERAWATAN KRITIS

Suatu bidang yang memerlukan perawatan


pasien yang berkualitas tinggi dan
komprehensif. KEPERAWATAN KRITIS

Perawat professional yang resmi


bertanggung jawab untuk memastikan
pasien dengan sakit kritis dan keluarga-
FILOSOFI KEPERAWATAN KRITIS
keluarga mereka menerima kepedulian
optimal. PERAWAT KRITIS

Pelayanan dan evelauasi secara cermat dan


hati-hati terhadap suatu kondisi krusial
dalam rangka mencari penyelesaian/jalan
keluar.
KRITIS

AACN menyatakan bahwa pasien yang sakit


kritis merupakan pasien yang memiliki
masalah kesehatan aktual maupun potensial
dan masalah tersebut mengancam jiwa. PASIEN

Perawat keperawatan kritis merupakan Menurut American Association of Critical Care


perawat yang mempunyai izin praktik dan Nurses (AACN) menyatakan bahwa asuhan
bertanggung jawab untuk memastikan keperawatan kritis mencakup diagnosis dan
bahwa semua pasien kritis mendapatkan penatalaksanaan respon manusia terhadap
perawatan yang optimal. PERAWAT penyakit yang aktual atau potensial yang Kerja sama multidisipliner dalam masalah
mengancam kehidupan ( AACN, 2012). medik kompleks
RUANG LINGKUP PRAKTIK
Praktik keperawatan kritis merupakan KEPERAWATAN KRITIS a. Sebelum masuk ICU, dokter yang merawat
tempat dimana pasien membutuhkan pasien melakukan evaluasi pasien sesuai
pengkajian dan intervensi yang kompleks. bidangnya dan memberi pandangan atau
Dalam lingkungan keperawatan kritis terjadi usulan terapi
interaksi antara perawat perawatan kritis dan
pasien yang sakit kritis. Lingkungan harus b. Kepala ICU melakukan evaluasi
mengandung sumber daya yang secara Menurut UU No 177B/MENKES/SK/XII/2010 menyelurugh, mengambil kesimpulan,
konstan mendukung interaksi ini, misalnya indikasi pasien yang dirawat di ICU adalah Peran koordinasi dan integrasi dalam kerja memberi instruksi terapi dan tindakan
peralatan dan persediaan darurat LINGKUNGAN pasien yang memerlukan intervensi medis sama tim secara tertulis dengan mempertimbangkan
segera oleh tim intensive care unit, pasien usulan anggota tim lainnya
yang memerlukan pengelolaan fungsi sistem
organ tubuh secara terkoordinasi dan c. Kepala ICU berkonsultasi pada konsultan
1. Pasien yang memerlukan intervensi medis berkelanjutan sehingga dapat dilakukan lain dengan mempertimbangkan usulan-
segera oleh tim intensive care pengawasan yang konstan dan metode usulan anggota tim
terapi titrasi, pasien sakit kritis yang
2. Pasien yang memerlukan pengelolaan memerlukan pemantauan kontinyu dan
Menerapkan prioritas masuk pada pasien
fungsi system organ tubuh secara tindakan segera untuk mencegah timbulnya
ICU sesuai indikasi
terkoordinasi dan berkelanjutan Pasien yang dirawat di ICU dekompensasi fisiologis.
a. Triage, alokasi tempat tidur dan rencana
3. Pasien sakit kritis yang memerlukan pengeluaran pasien
pemantauan kontinyu dan tindakan segera
untuk mencegah timbulnya dekompensasi b. Supervisi terhadap pelaksanaan kebijakan-
fisiologis kebijakan unit

a. Pasien prioritas 1: Pasien sakit kritis, tidak c. Partisipasi pada kegiatan-kegiatan


stabil yang memerlukan terapi intensif dan Manajemen unit
perbaikan kualitas yang berkelanjutan
tertitrasi. termasuk supervise koleksi data

b. Pasien prioritas 2: Pasien ini memerlykan d. Berinteraksi seperlunya dengan bagian-


pelayanan pemantauan canggih di ICU, bagian lain untuk menjamin kelancaran
sebab sangat berisiko bila tidak pelayanan di ICU
mendapatkan terapi intensif.
a.Perbamdingan perawat dengan pasien
c. Prioritas 3: pasien sakit kritsi, yang tidak PRINSIP ASUHAN KEPERAWATAN yang menggunakan ventilasi mekanik adalah 1
Kriteria Masuk
stabil status kesehatan sebelumnya, penyakit Jumlah perawat ICU berdasarkan jumlah :1
yang mendasarinya, atau penyakit akut,
YANG HOLISTIK DI ICU
tempat tidur dan ketersediaan ventilasi
secara sendirian/kombinasi. mekanik b.P erbandingan perawat dengan pasien yang
tidak menggunakan ventilasi mekanik adalah 1
d. Pengecualian: Dengan pertimbangan luar :2
biasa, dan atas persetujuan Kepala ICU,
indikasi masuk pada beberapa golongan Indikasi masuk dan keluar ICU
1. Data akan dikumpulkan secara terus

pasien bisa dikecualikan. menerus pada semua pasien yang sakit kritis
dimanapun tempatnya
Setiap ICU hendaknya membuat peraturan
dan prosedur-prosedur masuk dan keluar, Asuhan Keperawatan Intensif adalah 2.Identifikasi masalah/kebutuhan pasien dan
standar perawatan pasien, dan kriteria kegiatan praktek keperawatan intensif yang prioritas harus didasarkan pada data yang
outcome yang spesifik. Kriteria Keluar diberikan pada pasien/keluarga. dikumpulkan
Keperawatan Kritis harus menggunakan
a.Resusitasi jantung paru proses keperawatan dalam memberikan 3.Rencana asuhan keperawatan yang tepat
asuhan keperawatan. harus diformulasikan
b.Pengelolaan jalan naas, termasuk intubasi
trakeal dan ventilasi mekanik 4.Rencana asuhan keperawatan harus
Menurut Kemenkes no 1778 tahun 201
diimplementasikan menurut prioritas dari
tentang pedoman pelayanan ICU di Rumah
c.Terapi oksigen identifikasi masalah/kebutuhan
Sakit.
STANDAR PELAYANAN ICU
d.Pemasangan kateter vena sentral 5. Hasil dari asuhan keperawatan harus

dievaluasi secara terus menerus


e.Pemantauan EKG, pulsoksimetri dan
tekanan darah non invasive Pelayanan ICU primer (pada rumah sakit
kelas C), kemampuan pelayanan: Ruang perawatan harus memiliki system
f.Pelaksanaan terapi secara titrasi ventilasi alami dan/atau mekanik/buatan
sesuai dengan fungsinya dan tingkat
g.Pemberian nutrisi enteral dan parental kontaminasi oleh lingkungan sekitar
bangunan ruang perawatan intensif.
h.Pemeriksaan laboratorium khusus dengan
cepat dan menyeluruh
KONSEP Ventilasi mekanik/buatan harus disediakan

i. Memberikan tunjangan fungsi vital dengan


KEPERAWATAN jika ventilasi alami tidak memenuhi syarat.

alat-alat portable selama transportasi


pasienn gawat
KRITIS Bila memakai system ventilasi mekanik/
buatan maka instalasinya harus dilakukan
System ventilasi pembersihan/penggantian filter secara
j.Kemampuan melakukan fisioterapi dada berkala untuk mengurangi kandungan debu
dan bakteri/kuman.
a.Resusitasi jantung paru
Penerapan system ventilasi harus dilakukan
b.Pengelolaan jalan naas, termasuk intubasi dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip
trakeal dan ventilasi mekanik penghematan energy dalam bangunan
Ruang Perawatan Intensif.
c.Terapi oksigen
Harus memiliki pencahayaan alami dan/atau
buatan , termasuk pencahayaan darurat
d.Pemasangan kateter vena sentral dan arteri
sesuai dengan fungsinya.
e.Pemantauan EKG, pulsoksimetri dan
Pencahayaan harus optimal.
tekanan darah non invasive dan invasif

Pencahayaan buatan harus direncanakan


f.Pelaksanaan terapi secara titrasi
berdasarkan tingkat iluminasi yang
Pelayanan ICU sekunder (pada rumah sakit
dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam
g.Pemberian nutrisi enteral dan parental kelas B), kemampuan pelayanan:
bangunan Ruang Perawatan Intensif dengan
Kasifikasi pelayanan ICU di Rumah Sakit mempertimbangkan efisiensi, penghematan
h.Pemeriksaan laboratorium khusus dengan energy, dan penempatannya tidak
cepat dan menyeluruh menimbulkan efek silau atau pantulan.

i.Memberikan tunjangan fungsi vital dengan Pencahayaan buatan yang digunakan untuk
alat-alat portable selama transportasi pencahayaan darurat harus dipasang pada
pasienn gawat bangunan ruang perawatan intensif dengan
fungsi tertentu, serta dapat bekerja secara
j.Kemampuan melakukan fisioterapi dada otomatis dan mempunyai tingkat
pencahayaan yang cukup untuk evakuasi
k.Melakukan prosedur isolasi Melakukan LINGKUNGAN KERJA ICU YANG yang aman.
SEHAT DAN SESUAI STANDAR
hemodialysis intermiten dan System pencahayaan Semua system pencahayaan buaan, kecuali
kontinyu yang diperlukan untuk pencahayaan darurat,
harus dilengkapi dengan pengendali manual,
a.Resusitasi jantung paru dan/atau otomatis, serta ditempatkan pada
tempat yang mudah dibaca dan dicapai oleh
b.Pengelolaan jalan naas, termasuk intubasi pengguna ruang.
trakeal dan ventilasi mekanik
Pencahayaan umum disediakan dengan
c.Terapi oksigen lampu yang dipasang di langit langit.

d.Pemasangan kateter vena sentral, arteri, Pencahayaan ruangan dapat menggunakan


Swan Ganz dan ICP monitor lampu fluorescent, penggunaan lampu-
lampu recessed disarankan karena tidak
e.Pemantauan EKG, pulsoksimetri dan mengumpulkan debu.
tekanan darah non invasive dan invasive,
Swan Ganz dan ICP serta ECHO monitor Pencahayaan harus didistribusikan rata
dalam ruangan.
f.Pelaksanaan terapi secara titrasi Pelayanan ICU tersier (pada rumah sakit
kelas A), kemampuan pelayanan: Penggunaan lampu yang mempunyai efikasi
g.Pemberian nutrisi enteral dan parental lebih tinggi dan menghindari pemakaian
lampu dengan efikasi rendah.
h.Pemeriksaan laboratorium khusus dengan
cepat dan menyeluruh 1. System air bersih

i.Memberikan tunjangan fungsi vital dengan 2. System pembuangan air kotor dan/atau air

alat-alat portable selama transportasi limbah


pasienn gawat Sanitasi
3. System pembuangan limbah padat medis

j.Kemampuan melakukan fisioterapi dada dan non medis

k.Melakukan prosedur isolasi 4. System penyaluran air hujan

l.Melakukan hemodialysis intermiten dan


kontinyu

-Standar asuhan keperawatan intensif adalah


acuan minimal asuhan keperawatan yang
harus diberikan oleh perawat di Unit/
Instalasi Perawatan Intensif.

-Asuhan Keperawatan Intensif adalah


kegiatan praktik keperawatan intensif yang
diberikan pada pasien/keluarga.

-Asuhan keperawatan dilakukan dengan


menngunakan pendekatan proses
Standar asuhan keperawatan intensif
keperawatan yang merupakan metode
ilmiah dan panduan dalam memberikan
asuhan keperawatan yang berkualitas guna
mengatasi masalah pasien.

-Langkah-langkah yang yang harus dilakukan


meliputi pengkajian, masalah/diagnosa
keperawatan, rencana tindakan dan evaluasi
STANDAR PERAWATAN ICU
Level I, perawatnya merupakan perawat
terlatih yang bersetifikat bantuan hidup Tiga tugas utama perawat yang bertugas di
dasar dan bantuan lanjut. ICU: Life support, Memonitor keadaan pasien
Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik dan perubahan akibat pengobatan,
Level II, diperlukan minimal 50% dari jumlah Indonesia Nomor 1778/MENKES/SK/ XII/2010 Mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.
seluruh perawat di ICU merupakan perawat tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan
terlatih dan bersertifikat ICU. ICU di Rumah Sakit:

Level III, diperlukan minimal 75% dari jumlah


seluruh perawat di ICU merupakan perawat
terlatih dan bersertifikat ICU.