Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

Disejumlah negara berkembang HIV/AIDS merupakan penyebab utama


kematian perempuan usia reproduksi. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak
(PPIA) atau Prevention Mother to Child Transmission (PMTCT) merupakan
program pemerintah untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS dari ibu ke bayi
yang dikandungnya. Program tersebut mencegah terjadinya penularan HIV/AIDS
pada perempuan usia produktif kehamilan dengan HIV positif, penularan HIV/AIDS
dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya. Sesuai dengan Millennium Development
Goals (MDG) untuk kesehatan ibu dan anak, yaitu menurunkan angka kematian
anak dan meningkatkan kesehatan ibu, dan mencegah penyebaran HIV/AIDS pada
tahun 2015 (Luo, 2007). Pada pertemuan United Nation General Assembly Special
Session on HIV/AIDS (UNGASS) (2007) berkomitmen untuk menurunkan 20% bayi
yang terinfeksi HIV/AIDS pada tahun 2005, dan 50% sampai dengan tahun 2010,
serta menjamin 80% ibu hamil yang berkunjung ke pelayanan antenatal care (ANC)
untuk mendapat konseling dan pelayanan pencegahan HIV/AIDS (Philippe, 2009).
Kecenderungan infeksi HIV pada perempuan dan anak meningkat, oleh
sebab itu diperlukan berbagai upaya untuk mencegah penularan HIV dari ibu hamil
ke bayi yaitu PMTCT (prevention of mother to child transmision). Program PMTCT
dapat dilaksanakan pada perempuan usia produktif, melibatkan para remaja pranikah
dengan jalan menyebarkan informasi tentang HIV/AIDS, meningkatkan kesadaran
perempuan tentang bagaimana cara menghindari penularan HIV/AIDS dan infeksi
menular seksual (IMS), menjelaskan manfaat dari konseling dan tes HIV/AIDS
secara sukarela, melibatkan kelompok yang beresiko, petugas lapangan kader PKK,
dan bidan (WHO, 2009).
Pada tahun 2005 kebijakan program PMTCT mulai dilaksanakan di
beberapa daerah di Indonesia. Target yang harus di capai adalah 100% setiap
wanita pada fasilitas ANC menerima informasi mengenai Safe Motherhood, cara
berhubungan seks yang aman, pencegahan dan penanganan Infeksi
MenularSeksual (IMS), PMTCT, konseling pasca tes dan pelayanan lanjutan
(Hardon, 2009).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah pada tahun
1993 sampai dengan Desember 2010 Kumulatif HIV/AIDS sebanyak 3555 kasus,
sedangkan estimasi ODHA 10.815 kasus. Kondisi yang meninggal sebanyak 500
(31,43%). Faktor resiko perinatal adalah sebesar 4,81%, dengan usia penderita 0-4
tahun sebesar 3,36% dan sebagian dari mereka terpapar virus HIV saat dilahirkan
(Dinkes Propinsi Jawa Tengah, 2011). Taufik Kurniawan mengatakan, semester
pertama tahun 2017 ditemukan 42 orang yang terindikasi HIV/AIDS. Dari jumlah itu, 6
orang atau 14 persen menderita AIDS, sementara 36 orang atau 86 persen lainnya
menderita HIV. hingga tahun 2016 ada 492 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Semarang.
Saat itu, dari 19 kecamatan, hanya kecamatan Kaliwungu dan Pabelan yang zero kasus
HIV/AIDS. Hal ini menunjukan masih tingginya angka kejadian HIV di kota Semarang.
Pelayanan PMTCT dapat dilakukan diberbagai sarana kesehatan (rumah
sakit dan puskesmas) dengan proporsi pelayanan yang sesuai dengan keadaan sarana
tersebut. Hal ini penting untuk menekan terjadinya penularan HIV dari ibu ke bayi.
Dari latar belakang tersebut, maka kami tertarik untuk menulis laporan kegiatan
yang ada pada klinik bidan di salah satu daerah di Semarang.