Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN SATUAN ACARA PENYULUHAN

“PIJAT OKSITOSIN”

OLEH :
KELOMPOK IV
Indra Wijaya, S.Kep
Paska Feronica M, S.Kep
Devi Anggraenie Mambat, S.Kep
Maria Yunita, S.kep
Elfram Herlianus Saptono, S.Kep
Gregorius Gerry, S.Kep
Jefri Anggara, S.Kep

TOTUR :
Sapariah Anggraini S.Kep, Ners, M.Kep

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN
BANJARMASIN
2020
SAP

(SATUAN ACARA PENYULUHAN)

Topik : Pijat oksitosin


Subtopik : Oksitosin (membantu pengeluaran asi)
Sasaran : Ibu menyusui
Hari/Tanggal : Jumat, 7 Febuari 2020
Jam : 09. 00 s.d selesai WITA
Waktu : ± 45 Menit
Tempat : Kamar bayi RSUD Idaman Banjarbaru

A. Tujuan
1. Tujuan Utama
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama ± 45 menit, diharapkan para ibu-ibu
dapat mengerti tentang pijat oksitosin.

2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama ± 45 menit, diharapkan ibu-ibu dapat
mengerti dan memahami tentang pijat oksitosin :

a. Apa itu pijat oksitosin?


b. Mengetahui tujuan pijat oksitosin?
c. Apa manfaat pijat oksitosin?
d. Bagaimana cara pijat oksitosin?
e. Faktor – faktor yang mempengaruhi pijat oksitosin?

B. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab

C. Media
1. Materi SAP
2. Leaflet
3. Demonstrasi
D. Kegiatan

NO WAKTU KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN PESERTA


1. 5 Menit Pembukaan : a) Menjawab salam
a) Memberikan salam b) Mendengarkan
b) Perkenanalan c) Memperhatikan
c) Menjelaskan tujuan penyuluhan
d) Menyebutkan materi/ pokok
bahasan yang akan disampaikan.
2. 20 Menit Pelaksanaan : Peserta mendengarkan
a) Apa pengertian pijat oksitosin? dan memperhatiakan
b) Mengetahui tujuan pijat oksitosin penjelasan materi yang
c) Apa manfaat pijat oksitosin? disampaikan.
d) Apa saja faktor – faktor yang
mempengaruhi pijat oksitosin pada
ibu nifas?
e) Bagaimana cara pijat oksitosin?

3. 10 menit a) Memberikan kesempatan kepada Peserta bertanya


peserta untuk bertanya mengenai masalah yang
b) Memberikan pertanyaan kepada belum dipahami dan
peserta peserta menjawab
pertanyaan.

4. 10 menit Penutup : Peserta menjawab salam


a) Menyimpulkan materi yang telah dan mengucapkan
disampaikan terima kasih.
b) Mengakhiri pertemuan dengan
mengucapkan salam dan terima
kasih.
E. Pengorganisasian Kelompok
1. Moderator : Indra Wijaya, S.kep
Tugas :
a. Membuka kegiatan dengan mengucapkan salam.
b. Memperkenalkan diri (Institusi)
c. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
d. Menyebutkan materi yang akan diberikan
e. Memimpin jalannya penyuluhan dan menjelaskan waktu penyuluhan
f. Menulis pertanyaan yang diajukan peserta penyuluhan.
g. Menjadi penengah komunikasi antara peserta dan pemberi materi.
h. Mengatur waktu kegiatan penyuluhan
2. Presentator : Maria Yunita, S.Kep dan Jefri Anggara, S.Kep
Tugas :
a. Mampu memehami definisi dan tujuan
b. Menjelaskan materi mengenai pijat oksitosin
c. Menjawab pertanyaan peserta
3. Fasilitator : Devi Anggraenie Mambat, S.Kep dan Paska Feronica M, S.Kep
Tugas :
a. Menyiapkan tempat dan media sebelum memulai penyuluhan
b. Mengatur teknik acara sebelum dimulainya penyuluhan
c. Memotivasi keluarga klien agar berpartisipasi dalam penyuluhan
d. Memotivasi masyarakat untuk mengajukan pertanyaan saat moderator memberikan
kesempatan bertanya
e. Membantu pembicara menjawab pertanyaan dari peserta
f. Membagikan leaflet kepada peserta di akhir penyuluhan.
4. Observer : Elfram Herlianus Saptono,S.Kep
Tugas :
a. Mengobservasi jalannya proses kegiatan
b. Mencatat perilaku verbal dan non verbal peserta selama kegiatan penyuluhan
berlangsung
5. Notulen : Gregorius Gerry, S.Kep
Tugas :
a. Mencatat Topik Permasalahn
b. Mencatat waktu (jam) dan tempat diskusi
c. Menyimak dan menulis segala ahal atau proses yang berlangsung dalam diskusi
d. Menuliskan kesimpulan atau hasil diskusi
e. Mendokumentasikan catatan tentang diskusi yang telah di lakukan

f. Setting Tempat

Keterangan : : Moderator
: Presentator
: Peserta penyuluhan
: Fasilitator
: Observer
: Notulen
: Pembimbing

g. Analisis Lingkungan
1. Kondisi Ruangan : Cukup besar dan luas, ada kursi tunggu yang disediakan untuk
setiap pengunjung
2. Peserta : Ibu menyusui di Ruang Bayi
3. Media : Leaflet

h. Rencana Evaluasi
1. Struktur
a. Persiapan Media :
b. Persiapan Alat :
c. Persiapan Materi :
d. Peserta :
2. Proses penyuluhan :
3. Hasil penyuluhan :
.
i. Evaluasi
1. Struktur :
2. Proses penyuluhan
3. Hasil penyuluhan
LAMPIRAN MATERI

A. Pengertian
Salah satu cara yang dilakukan untuk mempelancar produksi ASI adalah
dengan pijat oksitosin. Pijat oksitosin adalah suatu tindakan pemijatan tulang
belakang mulai dari costa ke 5-6 sampai scapula atau tulang belikat akan
mempercepat kerja saraf parasimpatis untuk menyampaikan perintah ke hipofisis
posterior untuk mengeluarkan hormon oksitosin (Suherni, 2010; Hamranani, 2010).
Pijat oksitosin merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ketidaklancaran
produksi ASI. Pijat oksitosin adalah pemijatan pada sepanjang tulang belakang
(vertebrae) sampai tulang costae kelima- keenam dan merupakan usaha untuk
merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan (Yohmi & Roesli,
2012).
Jadi, pijat oksitosin adalah pijat yang dilakukan di punggung, dan pijatan ini
mampu memicu hormin oksitosin yang dilakukan untuk mengeluarkan ASI. Karena
itu pijatan ini dikenal dengan nama pijat oksitosin. Oksitosin adalah hormon yang
bereaksi ketika tubuh mendapat sentuhan. Hormon ini diproduksi oleh hipotalamis di
otak, kemudian dikeluarkan oleh kelenjar yang berada di bagian belakang otak.
Hormon oksitosin dapat membuat seseorang bahagia dan tidak merasa sakit, serta
memberi stimulasi pada puting untuk membantu porses menyusui.

B. Tujuan
Pijat oksitosin dilakukan untuk merangsang refleks oksitosin atau refleks let
down dan bisa dilakukan dengan bantuan keluarga terlebih suami. Secara umum, Pace
(2001) mengatakan bahwa pijat secara signifikan dapat mempengaruhi system saraf
perifer, meningkatkan rangsangan dan konduksi impuls saraf, melemahkan dan
menghentikan rasa sakit serta meningkatkan aliran darah ke jaringan dan organ serta
membuat otot menjadi fleksibel sehingga merasa nyaman dan rileks. Oleh karena itu,
setelah dilakukan pijat oksitosin ini diharapkan ibu akan merasa rileks sehingga ibu
tidak mengalami kondisi stress yang bisa menghambat refleks oksitosin.
C. Manfaat
Manfaat pijat oksitosin bagi ibu nifas dan ibu menyusui, diantaranya :
1. Mempercepat penyembuhan luka bekas implantasi plasenta .
2. Mencegah terjadinya perdarahan post partum.
3. Dapat mempercepat terjadinya proses involusi uterus.
4. Meningkatkan produksi ASI.
5. Meningkatkan rasa nyaman pada ibu menyusui.
6. Meningkatkan hubungan psikologis antar ibu dan keluarga
Efek fisiologis dari pijat oksitosin ini adalah merangsang kontraksi otot polos
uterus baik pada proses saat persalinan maupun setelah persalinan.

D. Langkah-Langkah
Langkah-langkah pijat oksitosin menurut Depkes (2015) adalah sebagai berikut:
1. Posisikan ibu dalam keadaan nyaman.
2. Meminta ibu untuk melepaskan baju bagian atas.
3. Ibu miring kekanan atau kekiri dan memeluk bantal atau ibu duduk dikursi,
kemudian kepala ditundukkan/ meletakkan diatas lengan.
4. Petugas kesehatan memasang handuk dipangkuan ibu.
5. Petugas kesehatan melumuri kedua telapak tangan dengan minyak zaitunatau
baby oil.
6. Kemudian melakukan pijatan sepanjang kedua sisi tulang belakang ibu dengan
menggunakan dua kepalan tangan dengan ibu jari menunjuk kedepan.
7. Menekan kuat-kuat kedua sisi tulang belakang membentuk gerakan-gerakan
melingkar kecil-kecil dengan kedua ibu jari.
8. Pada saat yang bersamaan, memijat kedua sisi tulang belakang ke arah bawah,
dari leher ke arah tulang belikat, selama 2-3 menit.
9. Mengulangi pemijatan hingga 3 kali.
10. Membersihkan punggung ibu dengan waslap yang sudah dibasahi air.

E. Faktor-Fakktor Yang Mempengaruhi Pijat Oksitosin Pada Ibu Nifas


Keberhasilan pijat oksitosin tidak terlepas dari faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Hasil penelitian Purnama (2013) mengatakan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi keberhasilan pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI adalah
sebagai berikut:
1) Faktor Psikologi
Persiapan psikologis ibu sangat menentukan keberhasilan menyusui(IDAI,
2011). Stress, khawatir, ketidakbahagiaan pada periode menyusui sangat berperan
dalam mensukseskan pemberian ASI. Faktor-faktor ini akan diperkirakan dapat
meningkatkan kadar epinefrin dan neroepinefrin yang selanjutnya akan
menghambat transportasi oksitosin ke dalam payudara. Ada beberapa jenis stres
yang umum dialami oleh ibu menyusui. Dari mulai khawatir akan kurangnya
kuantitas produksi ASI, khawatir kualitas ASInya tidak cukup baik untuk sang
bayi, takut bentuk tubuh atau payudaranya berubah, perubahan pola/gaya hidup
(terutama bagi ibu yang menyusui anak pertama), merasa pemberian ASI kurang
praktis bagi ibu yang bekerja, dan stres akibat kurangnya dukungan suami
terhadap pemberian ASI sebagai makanan terbaik untuk bayi.
2) Faktor Kenyaman Ibu
Umumnya, ibu akan mengalami gangguan rasa nyaman segera setelah
memasuki masa nifas. Bagi ibu yang menyusui gangguan rasa nyaman biasanya
adalah rasa nyeri karena puting lecet yang disebabkan oleh posisi menyusui dan
perlekatan bayi yang tidak tepat dan payudara bengkak yang disebabkan oleh air
susu yang melimpah tidak keluar. Puting lecet dan payudara bengkak merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi pengeluaran ASI. Ibu sering berhenti
menyusui karena kondisi ketidaknyamanan yang ibu rasakan (Purnama, 2013).
Rangsangan isapan bayi akan berkurang karena ibu berhenti menyusui sehingga
pengeluaran ASI juga akan menurun (Suradi, 2014).
3) Pelaksanaan Pijat Oksitosin
Pijat oksitosin dilakukan di sepanjang kedua sisi tulang belakang ke arah
bawah, dari leher kearah tulang belikat. Pijatan dilakukan dengan menekan kuat-
kuat ke dua sisi tulang belakang menggunakan kepalan tangan dengan ibu jari
menunjuk ke depan dan membentuk gerakan melingkar kecil-kecil dengan kedua
ibu jari. Frekuensi dilakukannya pijat oksitosin juga dapat mempengaruhi hasil
pengeluaran ASI. Menurut Hockenberry (2002, dalam Purnama, 2013)
menyatakan bahwa produksi ASI dengan menggunakan pijat oksitosin dan
perawatan payudara lebih efektif apabila dilakukan sehari 2 kali, pagi dan sore.
Pijat oksitosin bisa dilakukan dengan bantuan keluarga terlebih suami.
4) Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga (suami dan orang tua) sangat diperlukan untuk
ketentraman ibu menyusui, selain itu nasehat dari mereka yang lebih
berpengalaman akan membantu keberhasilan menyusui (Depkes RI, 2015).
Seorang ayah dan lingkungan yang mengelilingi ibu sangat menentukan
keberhasilan menyusui. Bahkan proses pemberian ASI itu sendiri memiliki aspek
psikologis dan rohaniah antara ibu, bayi, dan seorang ayah, bukan hanya sekedar
tempel dan biarkan menyusui saja (IDAI, 2011). Seorang suami mempunyai
peran yang sangat baik dalam membantu ibu mencapai keberhasilan menyusui
bayinya. Suami dan keluarga memiliki peran penting dalam menciptakan
ketenangan, kenyamanan dan kasih sayang. Kebahagiaan, kenyamanan, dan
ketenangan yang dirasakan ibu akan meningkatkan produksi hormon oksitosin
sehingga ASI dapat mengalir dengan lancar (Permenegpp RI, 2012).

5) Dukungan Petugas Kesehatan


Dukungan petugas kesehatan sangat diperlukan untuk memandirikan dan
memberdayakan ibu dan keluarga dirumah. Petugas kesehatan dalam hal ini
perawat atau bidan memberikan informasi mengenai tentang pijat oksitosin dan
melakukan pijat oksitosin. Selain itu, petugas kesehatan juga perlu memotivasi
ibu untuk melakukan pijat oksitosin secara mandiri. Petugas kesehatan dapat
memberikan dukungan pada ibu dengan cara berkomunikasi, memberikan saran,
dorongan dan penyuluhan untuk memfasilitasi kemampuan ibu dalam
memberikan ASI (Purnama, 2013). Selain itu, motivasi dari petugas kesehatan
juga bisa meningkatkan kepercayaan diri ibu, sehingga ibu bisa memiliki
dorongan untuk melakukan pijat oksitosin dirumah (Tiok, 2015).
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. (2015). Manajemen Laktasi: Buku Pedoman untuk Bidan dan
Petugas Kesehatan di Puskesmas. Jakarta : Depkes RI.
IDAI. (2008). Bedah ASI. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Purnama, R. R. W. (2013). Efektifitas antara pijat oksitosin dan breast care terhadap produksi
ASI pada ibu postpartum dengan sectio caesarea di RSUD Banyumas.
Suherni, dkk. (2010). Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.
Suradi, R. (2014). Manajemen Laktasi Edisi 2. Jakarta: Program Manajemen Laktasi
Perkumpulan Perinatologi Indonesia.
Tiok. (2008). Alasan Mengapa Perawat Dibutuhkan.